Baekhyun adalah satu-satunya hal terindah yang Chanyeol miliki. Kematian Baekhyun menyisakan luka yang sangat dalam pada dirinya. Bagaimana keajaiban akan menyembuhkan luka di hatinya?

Main cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Genre: Fantasy/Friendship

Scene: Epilog

Sepasang mata sedang mengawasi dua orang anak anak laki-laki yang tengah duduk berdampingan di tempat abu. Yang satu berpostur tinggi dan bertubuh tegap, yang satu lagi lebih pendek dan berkulit pucat. Mereka berdua bersandar pada lemari yang penuh dengan guci berisi abu orang yang telah meninggal lengkap dengan bunga-bunga cantik di kaca lemarinya.

Anak laki-laki bertubuh tinggi itu terlihat sangat menyedihkan. Tubuhnya lesu dan baju seragam sekolahnya berantakan seperti dipakai sekenanya saja. Rambutnya juga tak tersisir rapi. Anak laki-laki itu menekuk kedua lututnya untuk membenamkan kepalanya disana. Bahunya turun naik. Siapapun akan tahu kalau dia sedang menangis.

Anak laki-laki mungil yang duduk di sebelahnya tampak jauh lebih baik. Baju seragam sekolahnya dia kenakan dengan sangat rapi. Tetapi wajahnya yang cerah tidak mampu menutupi rasa khawatirnya pada temannya yang sedang menangis itu. Dia pun berkali-kali menghembuskan napasnya dengan keras.

"Sudahlah, berhenti menangis dan pulanglah. Kau jarang makan dan selalu berada di sini sampai malam setelah pulang sekolah."

Anak laki-laki mungil itu mencoba menenangkan temannya yang dari tadi menangis. Dia tidak tega melihat kondisi sahabatnya seperti itu. Tetapi sahabatnya yang sedang menangis itu diam saja, seolah tidak mendengar apa yang baru saja dikatakannya.

"Park Chanyeol. Kau membuatku sedih dengan keadaanmu. Ayolah, aku yakin semua akan baik-baik saja. Kau bisa hidup dengan baik seperti dulu lagi."

Meski tidak juga mendapatkan respon, anak laki-laki mungil itu tidak ingin menyerah. Dia pun meninggikan suaranya.

"Chanyeol. Kau mendengarku tidak? Pulang sana. Mandi dan makan. Jangan pernah kesini lagi!"

Merasa frustasi anak laki-laki mungil itu mengacak-acak rambutnya sendiri dan berteriak semakin keras.

"HEI. CHANYEOL BRENGSEK. DENGARKAN AKU!"

Tetapi anak laki-laki mungil itu sangat terkejut ketika tiba-tiba saja sahabat yang dipanggilnya Chanyeol itu mengangkat kepalanya dan menoleh padanya. Untung saja keterkejutan itu tidak berlangsung lama karena dia melihat Chanyeol berdiri lalu berbalik dan menatap sedih sebuah guci yang bertuliskan sebuah nama, Byun Baekhyun.

"Kau disini saja. Aku akan kembali lagi besok."

Chanyeol tersenyum sambil mengusap airmata yang masih menggenangi mata bulatnya. Dia lalu melangkah pergi dengan berat hati setelah berjanji pada sahabatnya bahwa dia akan kembali ke tempat ini lagi besok.

"JANGAN KESINI LAGI BRENGSEK!"

Orang yang tadi berada di samping Chanyeol berteriak kesal dengan nada 6 oktaf yang dimilikinya saat melihat punggung Chanyeol yang berjalan menjauh dan meninggalkannya. Tapi percuma saja dia berteriak, karena Chanyeol tidak bisa mendengar suaranya lagi. Tidak akan pernah bisa.

"Baekhyun. Diam kau. Suaramu memecahkan gendang telingaku."

Seseorang yang tadi hanya mengamati keduanya dari jauh, berjalan mendekat dan menghampiri seseorang yang dia sebut Baekhyun itu.

"Sadarlah. Dia tidak bisa mendengarmu. Kenapa kau masih saja berisik bahkan saat kau sudah mati?"

Baekhyun hanya terdiam mendengar seseorang menyadarkan dirinya dari kenyataan pahit bahwa sebenarnya dia sudah meninggal. Dia sekarang hanyalah jiwa tanpa tubuh yang tidak bisa dilihat oleh manusia manapun, termasuk Chanyeol, sahabatnya.

"Perlukah kau mengatakan sesuatu yang hanya membuatku sakit hati?"

Baekhyun hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia menghembuskan napasnya berat, menandakan bahwa perasaannya benar-benar terluka.

"Aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu sebelum mengirimmu ke tempat kau seharusnya berada."

Pria itu merasa bersalah dan ikut terluka melihat persahabatan kedua orang itu. Dia pun akhirnya menawarkan sebuah bantuan.

"Bantuan seperti apa yang kau maksud?"

Baekhyun masih saja menundukkan wepalanya. Dia seperti tidak tertarik dengan ucapan pria itu.

"Aku akan membuat Chanyeol bisa melihat, mendengar, bahkan menyentuhmu. Kalian bisa menghabiskan waktu bersama sama seperti dulu."

Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap pria tinggi itu karena tertarik dengan ucapan itu. Matanya berbinar mendengar dia bisa bersama Chanyeol lagi.

"Tapi hanya dia yang bisa melihatmu. Dan sayangnya, semua ingatanmu akan kembali ke saat sebelum kau mengenal Chanyeol. Kau bahkan tidak akan mengingat pembicaraan kita dan kematianmu."

"Apa? Kau bilang aku bisa bersama dengan Chanyeol lagi? Tapi bagaimana bisa jika aku tidak mengingatnya?"

"Aku akan membawamu ke saat-saat pertemuan pertama kalian. Lalu kalian berdualah yang akan menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya."

Baekhyun tampak berpikir dan menimbang-nimbang apakah ini keputusan yang benar.

"Apa ingatan Chanyeol tentangku juga akan menghilang?"

"Tidak. Jadi percayakan saja pada hatimu dan Chanyeol."

"Kapan aku mendapatkan ingatanku kembali? Dan kapan kau akan mengirimku tempat yang kau sebutkan tadi?"

"Setelah Chanyeol merelakanmu."

"Apa Chanyeol akan menyadari kalau aku hanyalah sebuah roh, atau hantu gentanyangan?"

"Aku akan berusaha keras agar Chanyeol, dan bahkan kau sendiri tidak menyadarinya."

Baekhyun masih berpikir keras. Dia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

"Jika kau tidak bersedia, aku akan mengirimmu sekarang juga. Kau tidak seharusnya berkeliaran seperti ini."

"Baiklah-baiklah. Aku setuju."

Mendengar perkataan dengan nada ancaman itu, Baekhyun pun mengangguk dengan dia bisa menghabiskan waktu bersama Chanyeol lagi. Dia juga yakin seiring perjalanan waktu Chanyeol akan merelakannya dan melanjutkan hidupnya dengan baik. Walaupun tanpanya.

-o-

Chanyeol berjalan dengan pelahan menyusuri jalanan itu lagi sore ini. Jalanan yang membawa banyak kenangan tentang Baekhyun. Tangannya dia sentuhkan pada pagar pembatas saat berjalan. Sentuhan itu membuatnya merasakan gesekan kecil yang membawanya pada sebuah kenangan.

Flashback

Chanyeol berlari karena sedang terburu-buru. Dia sudah terlambat untuk kerja paruh waktunya di kafe. Semua karena guru Kang memanggilnya tadi setelah kelas berakhir, hanya untuk mengomel bahwa dia tidak boleh bolos atau terlambat lagi karena sudah di tingkat akhir Sekolah Menengah Atas. Padahal dia tadi tidak masuk sekolah, tapi dia masih saja datang hanya untuk menemui guru Kang karena guru itu mengancam akan mengeluarkannya dari sekolah jika dia tidak menemui guru itu.

Tanpa sengaja Chanyeol menabrak seorang anak yang juga tengah berlari tergesa-gesa dari arah berlawanan. Tabrakan itu cukup keras hingga membuat anak itu terjatuh dan tali tas ransel milik anak itu putus, lalu isi tasnya jatuh berhamburan.

"Ah, aku sial sekali hari ini."

Anak yang ditabrak Chanyeol itu mengeluh dengan pelan, dan segera berjongkok untuk membereskan tas sekolahnya.

Chanyeol yang mendengarnya segera berjongkok untuk membantu dan mengucapkan permintaan maaf.

"Maaf."

"Tidak apa-apa. Pergilah jika sedang terburu-buru."

Chanyeol pun bingung mendengar perkataan anak itu, disisi lain dia sedang terburu-buru tapi dia juga sungkan untuk pergi tanpa membantu atau pun mendapatkan maaf dari anak itu. Akhirnya dia pun memutuskan untuk membantu sampai isi tas ransel anak itu rapi kembali.

Setelah selesai Chanyeol menundukkan kepalanya dengan pelan lalu melangkah pergi.

"Hei, boleh aku tahu namamu? Aku baru disini, dan ku lihat kita satu sekolah. Mungkin kita bisa berteman."

Teriakan keras anak itu membuat Chanyeol menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Aku?"

Chanyeol merasa heran. Bagaimana bisa seseorang yang baru saja ditemuinya meminta untuk berteman dengannya, padahal dia sendiri saja tidak punya teman di sekolah.

"Tentu saja kau. Memang ada siapa lagi disini? Namaku Baekhyun, Byun Baekhyun."

Chanyeol merasa canggung saat anak yang mengaku bernama Baekhyun itu mendekat padanya dan mengulurkan tangannya. Dia berpikir keras. Apa dia harus menerima uluran tangan itu?

"Kau mengabaikanku?"

Baekhyun menatap tajam pada Chanyeol, membuat Chanyeol merasa tidak enak dan dengan tergesa-gesa menjabat tangan itu.

"Park Chanyeol."

Senyum Baekhyun merekah setelah uluran tangannya mendapat sambutan dari Chanyeol.

Chanyeol tidak pernah tahu. Bahwa perkenalan itu akan membawanya pada sebuah takdir yang membuatnya merasakan kebahagiaan, kesedihan, dan kehilangan yang teramat dalam. Takdir itu jugalah yang akan membawanya pada sebuah keajaiban yang tidak pernah dibayangkan oleh manusia mana pun. Dan takdir itu adalah Baekhyun.

Flashback end

Lamunan Chanyeol buyar saat dia mendengar suara alarm dari smartphonenya yang sangat keras. Alarm yang menunjukkan bahwa dia akan bertemu Baekhyun lagi hari ini. Meski dia tahu bahwa Baekhyun tidak akan muncul lagi, entah kenapa dia tetap datang ke tempat ini.

Chanyeol hanya tersenyum tanpa berniat mematikan alarm yang memekakkan telinganya itu. Hanya satu hal yang dia sadari saat ini. Meski kebahagiaan yang dilewatinya bersama Baekyun sangatlah singkat, dia tidak pernah menyesali pertemuannya dengan Baekhyun sore itu. Meski pun kepergian Baekhyun menyebabkannya terluka sangat dalam, dia tidak pernah membenci Baekhyun sama sekali. Baginya, Baekhyun tetaplah satu-satunya hal terindah yang dimilikinya. Dan keajaiban yang dibawa Baekhyun, mampu menyembuhkan semua luka di hatinya.

-oOo-

For Your Return

The End

-oOo-

Please review . . . . .

Jantung saya berdebar kencang saat memikirkan cerita ini. Saya ingin orang lain juga merasakan apa yang saya rasakan, jadi saya menulisnya. Mungkin perasaan saya ini tidak bisa tersampaikan dengan baik karena kemampuan menulis saya yang sangat kurang, tapi bagaimana pun saya sudah berusaha dengan keras.

Saya akan menulis lagi setelah mendapatkan cerita lain yang juga membuat jantung saya berdebar kencang. Karena saya sendiri tidak tahu kapan hari itu akan datang, jadi saya tidak akan membuat semua orang menunggu dengan mengatakan sampai jumpa.

Jika ada pembaca yang membaca cerita ini di masa depan, mohon berikan review untuk mengingatkan saya tentang cerita ini dan menyemangati saya untuk membuat cerita lain.

Terima kasih sudah menulis review, saya sangat suka membaca review kalian. Terima kasih juga untuk yang sudah memfollow dan memfavoritekan cerita ini.

Oh iya, hampir lupa. Sebentar lagi Baekhyun oppa ulang tahun, tepatnya tanggal 6 Mei, jadi saya meminta maaf secara tulus karena telah membunuh oppa berkali-kali dalam cerita ini. Tapi, jauh dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya berharap semoga oppa panjang umur dan sehat selalu.

-oOo-

Mohon pembaca menginformasikan jika menemukan cerita yang serupa atau sekiranya ada unsur plagiat. Dimohon juga untuk memberikan review yang bersifat membangun untuk memperbaiki cerita selanjutnya. Terima kasih telah menjadi pembaca yang baik. Semoga sehat selalu.