Dua orang wanita dewasa disana masih mencoba mendekatkan pendengaran mereka pada dinding pintu yang menjadi pembatas antara posisi mereka saat ini dengan ruangan disana. Ruangan yang tengah tertutup dengan rapat namun terdengar terdapat suara cukup kencang yang menunjukkan adanya komunikasi yang terjadi didalam sana. Bukan suara aneh penuh desahan yang biasa mereka dengarkan setiap kali mencoba menguping seperti biasanya.. kali ini suara lengkingan dan umpatan terdengar—dan inilah alasan dua orang didepan saat ini mencoba mencuri dengar apa yang dilakukan oleh CEO mereka dan juga kekasihnya.

"Kau ingin aku menganggap kepergianmu yang secara tiba – tiba aku ketahui adalah hal biasa?! Park Chanyeol! Kita tinggal bersama dan hampir setiap hari aku berada di area kantormu dan pada kenyataannya aku adalah orang terakhir yang mengetahui bahwa kau akan pergi ke US untuk waktu yang tidak bisa diperkirakan, dan kau memintaku tenang dan tidak memperdulikannya? Begitu?!"

Luhan, salah satu dari dua perempuan yang menguping didepan pintu CEO –nya menutup mata mendengar lengkingan dari kekasih bosnya.

"Aku baru kali ini mendengar suara marahnya." Kali ini Kyungsoo, perempuan lain yang turut serta mencuri dengar.

Luhan mengangguk. "Aku juga.."

"Aku tidak memberi tahumu karena aku memiliki alasan.. kau tengah sibuk bekerja dan bahkan mengurusi beberapa hal dengan pekerjaanmu sebagai penulis.. aku tidak memiliki waktu dan kesempatan yang tepat untuk menjelaskan—

"Tidak memiliki waktu yang tepat? Tapi kau memiliki waktu untuk bercinta denganku setiap malamnya!"

"Itu berbeda Baekhyun.. aku tidak mungkin bisa menahan diri untuk bercinta setiap kali kau mengundangku untuk itu, pada akhirnya kau akan lebih marah padaku dan berakhir dengan perang dunia kesekian untuk kita berdua.."

Park Chanyeol, sosok CEO yang tengah berhadapan dengan kekasihnya dan berusaha meredamkan segala luapan emosi yang terlihat jelas pada wajahnya kekasihnya—atau mungkin lebih tepatnya pada wajah tunangannya, Byun Baekhyun.

Chanyeol memberanikan diri mendekat pada Baekhyun, menggenggam kedua tangan wanita itu dan menariknya untuk lebih dekat pada tubuhnya. "Aku tidak mengatakan apapun padamu karena aku tahu kau tengah disibukkan oleh semuanya dan bila kau mengetahui sejak kemarin – kemarin, aku yakin kau akan lebih marah padaku." Suaranya melembut, keningnya ia tempelkan pada kening Baekhyun dimana wanita itu masih terlihat kesal dan enggan untuk berada didekatnya.

"Aku masih kesal padamu, tidak hanya kesal. Aku marah Chanyeol!" Baekhyun meninggikan suaranya lagi. "Selama ini aku mengetahui setiap jadwal meetingmu disini dan juga jadwal kapan kau akan melakukan perjalanan dinas ke luar negeri dan kita selalu membicarakannya lebih dulu. Mempertimbangkannya semua berdua! Kau dan aku saling membicarakan mengenai hal itu dan juga mencari kesempatan untuk kita berlibur bersama! Dan kini kau akan pergi ke US.. dengan jarak yang cukup jauh, tanpa mempertimbangkannya denganku, tanpa memperdulikan apakah aku akan ikut atau tidak—

"Tentu kau akan ikut denganku." Chanyeol memotong, menjauhkan kening dan wajahnya untuk bisa memandangi dengan jelas wajah tunangannya yang sudah menemani hidupnya hampir dalam waktu tiga tahun belakangan. "Kau akan ikut denganku, Luhan sudah menyiapkan persyaratan visa untumu dan kau hanya tinggal mengajukan resign dari kantormu, aku bahkan sudah mendapatkan Apartemen yang dekat dengan beberapa Mall serta tempat-tempat lainnya yang bisa kita kunjungi bersama." Senyuman lebarnya diberikan berharap tunangan mungilnya ini merubah tatapan kesal penuh amarah menjadi tatapan sendu dan bahagia mendengar apa yang Ia katakan.

"Chanyeol.." Baekhyun berucap. Tangannya menjauhkan kedua tangan Chanyeol yang mengukung badannya, mendorong badan besar pria itu lebih jauh dari tempatnya berdiro. Kedua matanya terpejam dan helaan nafas berat terdengar darinya. "Kau sama sekali tidak memikirkan tentang aku bukan?" dan ucapan yang dikatakan Baekhyun sama sekali bukan apa yang Chanyeol harapkan.

"A-apa maksudmu? Sweetheart.. aku memikirkan tentangmu, aku tidak mau kita jauh dan berada dalam waktu yang berbeda, aku ingin kau ikut denganku kemanapun aku pergi—

"Yeah.. aku tahu itu." Baekhyun menyahut. "Aku tahu, kau tidak ingin berada jauh dariku dan aku juga tidak ingin begitu.. kau ingin setiap malam menghabiskan waku bersamaku dan mungkin kita bisa bercinta sepanjang malam seperti yang selalu kau inginkan dan juga mungkin menghabiskan waktu weekend hanya diatas ranjang! Aku tahu PARK-CHAN-YEOL! Dan aku tahu kau tidak peduli padaku saat ini, kau tidak peduli bagaimana bisa aku ikut pergi denganmu untuk entah waktu berapa lama meninggalkan Ibu-ku seorang diri dan juga semua tanggung jawab pekerjaanku?! Kau tidak memperdulikan itu semua.. iya kan?"

Chanyeol memejamkan matanya, ikut menghela nafas mendengar apa yang Baekhyun katakan sama sekali bukan apa yang ia maksudkan. "Baby.. dengarkan aku.." suaranya masih ia pertahankan selembut mungkin dengan penuh kasih sayang. "Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak kembali bekerja, aku ingin kau menikmati waktu untuk dirimu tanpa beban, dan Ibu pasti mengerti kenapa kau pergi meninggalkannya disini, kita bukan pergi untuk tak kembali sayang.. kita hanya pergi untuk beberapa bulan kedepan—bahkan ketika kita punya kesempatan kita bisa pulang ke Korea dan mengunjungi Ibu."

Dan penjelasan Chanyeol untuk kesekian kalinya tidak bisa meredakan luapan kekesalan yang Baekhyun rasakan sejak dirinya melangkah masuk kedalam gedung kantor milik Chanyeol. Ia menggeleng, tak berniat untuk melanjutkan sanggahan lainnya terhadap Chanyeol.

"Baby.." Chanyeol memanggil-nya ketika Baekhyun masih terdiam namun tangannya bergerak merapikan beberapa barang yang berada pada sofa disana. "Baby.. please say something.."

Baekhyun tidak membalas dan melenggang keluar ruangan kerja milik Chanyeol. "Sweetheart.."

Dan panggilan sayang itu dibalas dengan suara pintu yang tertutup keras menandakkan sang sweetheart saat ini bukanlah sang pujaan hati yang manis dan penurut seperti biasanya.

Hubungan Chanyeol dan Baekhyun memang bukanlah hubungan romantis-damai-manis-no drama-seperti pasangan yang tengah bertunangan lainnya, mereka sesekali memiliki perselisihan beda pendapat seperti yang lainnya hanya saja tidak pernah seperti saat ini, terlebih ketika Baekhyun berteriak kepada Chanyeol dengan penuh emosi.

Ini pertama kalinya, untuk Baekhyun memiliki perasaan marah dan juga meluapkan secara langsung dan bahkan memaki Chanyeol dihadapannya. Dan itu tentu berdampak pada dirinya.

Setelah mengunci mulutnya rapat – rapat untuk tidak mengumpat kearah Chanyeol, dan juga ia membanting pintu ruangan tunangannya itu dengan cukup keras, tujuan dirinya saat ini adalah toilet. Bukan untuk menyalurkan panggilan alami dari dalam tubuhnya, melainkan menenangkan diri dan bersembunyi dari Chanyeol untuk tidak melihat kedua tangannya yang bergear kencang dan juga nafasnya yang tersegal –segal. Ia bahkan tidak cukup kuat hanya untuk mengunci pintu ruangan bilik toilet sehingga Luhan—salah satu sekretaris Chanyeol—kini berada didalam bersamanya dan melihat dirinya tak berdaya disana.

"Tarik nafasmu pelan – pelan, jangan terburu- buru.. tenang Baekhyun.. tenang..tarik nafas.. hempaskan perlahan.." Luhan berulang kali mengkomando agar Baekhyun tenang, tangannya bahkan mengusap tangan Baekhyun yang masih bergetar. "It's okey.. tidak apa –apa.. tenangkan dirimu sayang.."

"D-dia-men-ye-bal-kan.. Lu.." meskipun ia kesulitan untuk bernafas, Baekhyun masih tetap berusaha untuk melontarkan deretan kalimat pada Luhan.

"Aku tahu. Dia memang menyebalkan." Luhan menyetujui. "Tapi kau harus tenang dulu saat ini.. coba pahami apa yang ia katakan padamu—

"Di-dia.. akan per-gi Lu!" Baekhyun berteriak lagi.

"Kau bisa ikut Baekhyun, aku juga akan ke US. Sementara Kyungsoo akan ke Hong Kong—

Luhan terdiam sesaat karena pandangan kekesalan Baekhyun kini terarah padanya. "—atau aku bisa yang ke Hong Kong sementara Kyungsoo ikut denganmu ke US.. kita bisa mengaturnya—

Baekhyun menghempaskan tangan Luhan yang berada dilengannya dan lagi, tanpa ada ucapan apapun, Baekhyun bangkit berdiri melangkah keluar dari bilik pintu dan berakhir dengan pintu masuk disana yang ia banting hanya untuk menutup.

Luhan bergeming dengan penuh pemikiran mengenai kesalahan apa yang ia ucapkan salah diartikan oleh seorang Baekhyun.


Long Distance Relationship


Chanyeol dan Baekhyun sudah menjalani pertunangan hampir satu tahun dan sebelum itu mereka sudah menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih hampir dua tahun lamanya, atau bisa dikatakan mereka memiliki hubungan selama tiga tahun terakhir dan itu bukanlah waktu yang sebentar. Tiga tahun bersama, tinggal dalam satu atap seharusnya mendewasakan pribadi masing – masing dari mereka dan juga bisa memahami satu sama lain lebih dalam dibandingkan siapapun. Mereka berdua tentu sudah memahami luar dalam mengenai pasangan masing – masing, tapi apa yang terjadi beberapa hari lalu jelas menunjukkan ketidakdewasaan mereka, terlebih saat ini Baekhyun bahkan baru kembali pada Apartemen miliknya dengan Chanyeol setelah dua hari belakangan ini ia tidak mengabari Chanyeol atau bahkan tidur di ranjang yang sama dengan tunangannya itu.

"Aku merindukanmu.." Chanyeol berucap lebih dulu mendapati Baekhyun memasuki ruangan apartemen mereka dan langsung melenggang masuk menuju kamar dimana mereka tidur. "Luhan mengatakan mungkin kau tidur di apartemen lamamu, aku berkunjung kesana kemarin tapi sepertinya kau tidak ada ditempat—apa kau sudah makan? Aku baru saja akan membuat steak." Chanyeol mengalihkan pembicaraan karena melihat Baekhyun yang terus bergerak mondar – mandir tanpa satu kata pun membalas apa yang ia katakan.

"Kau menyukai masakanku.. khususnya steak.." kali ini suaranya terdengar merajuk, namun Baekhyun masih tidak memperdulikan. Wanita itu sibuk mengeluarkan beberapa baju dari lemari dan melipatnya lalu ia masukkan kedalam koper kecil, serta mengurutkan beberapa perlengkapan make up miliknya, bahkan beberapa pasang sepatu ia atur dengan baik dan disusun apik dalam kantor paper bag.

"Apa ada perjalanan dinas?" Chanyeol melangkah mendekat dan memperhatikan apa saja yang sudah Baekhyun siapkan dan masukkan kedalam koper milik wanita itu yang nyatanya berukuran cukup besar dibandingkan koper yang biasa digunakkan untuk perjalanan dinasnya. "Kau akan pergi berapa hari? Kemana?" Chanyeol bertanya lagi. Ia duduk diatas ranjangnya dan membantu Baekhyun merapikan beberapa pakaian yang hendak dimasukkan oleh Baekhyun—tapi jari – jari lentik milik Baekhyun lebih dulu merebutnya dan dengan kasar memasukkan pada koper. Ia bahkan menutup paksa koper miliknya dan menariknya keluar dari kamar.

Chanyeol menghela nafas. Ia sudah cukup tahu bagaimana adanya Baekhyun ketika merasa kesal atau pun tengah dalam bad mood karena stress, masalah pekerjaan atau pun ketika wanita tengah mengalami masa – masa PMS. Tapi apa yang Baekhyun luapkan kali ini adalah kekesalan karena masalah yang mereka pernah debatkan beberapa hari yang lalu dan ini cukup serius.

Chanyeol bergerak cepat, menyusul langkah Baekhyun yang hendak menggapai pintu apartemen mereka. Ia memeluk Baekhyun dengan paksa dan menahan badan mungil wanita itu yang sekejap memberontak.

"Maafkan aku.. aku yang salah. Aku tahu seharusnya aku tetap mengabari masalah ini padamu sejak lama." Bisiknya lirih terdengar pada bahu Baekhyun, tangannya memeluk perut wanita itu dengan erat seakan – akan tidak akan mudah Ia lepaskan begitu saja.

Tinggi harapannya adalah suara lembut Baekhyun yang memberikan pengampunan atas kesalahan yang ia lakukan dan mungkin beberapa menit kedepan mereka akan mencumbu dengan penuh kerinduan dan tentu saja berakhir dengan desahan gairah panas diatas ranjang seperti apa yang sudah terbiasa mereka lakukan.

"—lepas tanganmu." Namun yang terdengar adalah suara dingin penuh ketegasan disertai dengan badan tegang yang seakan – akan enggan untuk berada lebih lama didekat Chanyeol.

"Baby.." Chanyeol masih menahan tangannya untuk tetap menahan badan Baekhyun menjauh, tapi nyatanya Chanyeol termasuk salah satu pria lemah yang bahkan tak cukup kuat menahan wanitanya untuk melangkah pergi dari dekapannya. Baekhyun bergerak cepat dan kasar, meninggalkan Chanyeol yang mematung tak bergeming mendapati dirinya diabaikan.

Siapapun yang mengatakan rindu itu menyiksa, Chanyeol akan membenarkan, tanpa pengelakkan sedikit pun karena ia merasakannya. Lucu memang, karena bila diingat – ingat, beberapa tahun sebelum mengenal Baekhyun ia bahkan tidak memperdulikan siapa yang akan menemani tidur malamnya atau pun yang terbangun disampingnya. Tapi setelah hatinya memiliki Baekhyun, ia bahkan tidak bisa tidur lelap jika Baekhyun tidak berada pada ranjang yang sama dengannya.

Dan tanpa Baekhyun selama dua minggu terakhir ini.. itu adalah penyiksaan bagi Chanyeol.

"Dia sudah kembali dari China dua hari yang lalu.. hanya saja sekarang ini ia ikut peninjauan pabrik di Busan." Suara Luhan menjelaskan informasi dimana keberadaan Baekhyun saat ini pada Chanyeol yang tengah terduduk lesu pada kursi kerjanya. "Kyungsoo akan mencoba mendatangi apartemen miliknya nanti setelah pulang kerja, semoga kali ini ia bisa bertemu dengan Baekhyun—"

Perhatian Chanyeol kini sepenuhnya difokuskan pada Luhan.

"—ia tidak membalas semua pesan dan panggilan yang aku lakukan padanya, jadi mungkin akan lebih baik Kyungsoo yang mencoba lagi menunggu di apartemen miliknya."

Chanyeol mengangguk, tak ada satu kata pun yang ingin ia ucapkan pada Luhan karena pikirannya hanya dipenuhi akan ingatan bagaimana wajah Baekhyun tengah marah saat itu.

Semua mengira mungkin hanya Chanyeol-lah yang tersiksa atas apa yang terjadi, namun pada kenyataanya.. Baekhyun juga merasakan hal yang sama. Hatinya bergejolak antara emosi yang masih terpendam dan juga rasa rindu akan kehangatan Chanyeol yang seharusnya bisa ia dapatkan setiap harinya.

Chanyeol tidak mengabaikannya, pria itu tetap menjadi satu – satunya orang yang memenuhi notifikasi pesan di layar ponselnya, dan yang kedua adalah sekretaris Chanyeol yang bisa dibilang adalah teman-nya juga. Tapi Baekhyun adalah wanita keras kepala, mengabaikan kata rindu dalam hatinya dan tetap mengabaikan semuanya karena luapan emosi masih berada disana. Ia bahkan memiliki pemikiran gila yang entah datang darimana ketika pikirannya diingatkan kembali akan kejadian dimana ia dan Chanyeol saling beradu mulut


Long Distance Relationship


"Hey.."

Baekhyun menghentikkan langkahnya mendapati suara yang sangat ia kenal dan rindukan menyapa dirinya sebelum tiba pada pintu apartemennya.

"Aku merindukanmu.." lirihan yang lain terdengar masih berasal dari orang yang sama, Park Chanyeol. "Kau tidak membalas pesan dan panggilanku selama dua minggu terakhir dan itu menyiksaku baby.." Chanyeol menyusulnya. Mengambil langkah panjang untuk berada dihadapannya dan langsung merengkuh badannya untuk merasakan hangatnya dekapan badan besar Chanyeol. "Jangan marah padaku lagi ku mohon.. ini sangat menyiksaku Baek.. semakin lama kau mendiamiku mungkin aku bisa perlahan – lahan mati karenamu nantinya." Rentetan kalimat rayuan yang tidak masuk akal ia ucapkan tapi sama sekali tidak membuat Baekhyun tertawa seperti biasanya, wanita itu masih terdiam kaku tak berkomentar dan bergerak sedikit pun.

"Maafkan aku.. aku salah. Aku tahu—

"Chanyeol.."

Suara Baekhyun terdengar, meskipun sangat pelan tapi itu membuat Chanyeol tersenyum bahagia.

"Aku ingin—

"Apapun baby.."

"—kita putus."

Apa yang terdengar oleh pedengarannya mungkin sama dengan ketika bom meledak menghancurkan kota Nagasaki dan Hiroshima kala itu. Tidak berlebihan, tapi memang seperti itulah yang Ia rasakan. Tidak pernah terpintas dalam benak atau pikirannya untuk melontrakan kata itu pada Baekhyun, karena ia mencintai wanita itu dengan sepenuh jiwa dan raganya dan ia tahu Baekhyun juga merasakan hal yang sama—mungkin.

"Aku ingin kita putus." Chanyeol memejamkan matanya lebih erat mendengar Baekhyun mengucapkan kata jahat itu untuk kedua kalinya.

"Baby.. maafkan aku okey.. aku yang salah tapi jangan pernah menyebutkan kata jahat itu padaku—kita harus membicarakan ini.."

"Aku menginginkan kita putus Chanyeol."

"Sweetheart—

"Akan lebih baik kau fokus pada pekerjaanmu, lagipula kita tengah dalam masa – masa produktif dalam bekerja, aku tidak mau menjadi penghalang dirimu, aku tidak mau kau ikut campur dalam urusan pekerjaanku dan aku juga tidak mau selalu berada dalam bayang – bayang dirimu ketika tengah bekerja—

"Baekhyun.. kau tidak pernah menjadi penghalang apapun bagiku—

"Aku menjadi penghalangmu Chanyeol." Baekhyun menegaskan lagi. "Kalau bukan karena aku, kau sudah melakukan semua pekerjaan di seluruh cabang kantormu yang tersebar di dunia ini bukan? Tapi kau memilih mengerjakkan semuanya disini, itu jelas menunjukkan aku sebagai penghalang untuk pekerjaanmu."

"For God's sake Baekhyun! Kau tidak pernah jadi penghalangku! Dan kalau kau menegaskan lagi mengatakan kata jahat itu kepadaku.. aku ingatkan padamu, kita BER-TUNANG-AN! TIDAK ADA KATA PUTUS UNTUK ITU—jangan memotong ucapanku—" Chanyeol memundurkan langkahnya, memberikan isyarat tangan dihadapan wajah Baekhyun yang akan melontarkan sanggahan. "—kau ingin putus dariku? Aku tidak mau! Tidak akan pernah Byun Baekhyun! Dan kalau kau mempermasalahkan jarak? Ingatlah bahwa dalam keadaan apapun aku akan menjadi orang pertama yang ada ketika kau membutuhkan! Sejauh apapun aku pergi, aku akan bisa kembali padamu secepat mungkin! Kita sudah pernah mengalami ini baby.."

"Mau atau tidak darimu aku tetap mengingkan itu Park Chanyeol! Kau kira aku sanggup kau tinggalkan untuk entah waktu berapa lama! Kau berada di negeri yang jauh dan tidak akan mudah untuk aku sambangi kau kira itu mudah?! Ini bukan hanya perbedaan waktu seperti biasanya, ini perbedaan waktu dan jarak yang cukup jauh dan aku tidak mau merasakannya karena itu hanya akan membuatu tersiksa!" Baekhyun meninggikkan suaranya di akhir kalimatnya, badannya bergetar dan ia menundukkan wajahnya agar Chanyeol tak bisa melihat betapa lemah dirinya meskipun ia cukup ingat bahwa pria yang selama ini menghabiskan waktu hampir tiga tahun bersama dirinya jelas sudah hapal akan kebiasaannya.

"Baekhyun—

"Aku ingin putus Chanyeol.. please.."

Mendengar kata please yang mengisyaratkan bahwa Baekhyun benar – benar memohon untuk itu membuat Chanyeol merutuki janji yang pernah ia lontarkan pada Baekhyun beberapa tahun lalu. Janji yang ia ucapkan akan menuruti apapun yang menjadi keinginan Baekhyun—diulangi—apapun. Dan saat ini apapun itu harus lah ia turuti meskipun jelas dalam hatinya sama sekali tidak mau mengiyakan permohonan itu.

Chanyeol masih terdiam disana, memandangi pujaan hatinya yang masih menunduk menahan isak tangis yang berusaha sekuat tenaga dipertahankan, ini menyakiti hatinya. Ia sungguh ingin memeluk Baekhyun dan menenangkan kekasihnya itu tapi jelas Baekhyun akan menolaknya. Chanyeol menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar, mempersiapkan diri memberikan jawaban akan permohonan yang Baekhyun katakan padanya.

Kepalanya menggeleng tanpa diketahuI Baekhyun—tidak percaya akan dirinya mengiyakan apa yang menjadi keinginan Baekhyun. "Aku tidak menginginkan kita putus.. dan kau menginginkannya.." Chanyeol memulai, perlahan – lahan menyampaikan penjelasan dari apa yang ia pertimbangkan. "Kau ingin kita putus.. aku tidak akan memberikannya, tapi aku akan membuatmu merasakan bagaimana hidup tanpaku seolah – olah kita putus.. aku akan menghilang dan tak mengganggu dirimu. Anggap aku tidak ada." Penjelasannya ia singkat, kepalanya masih menggeleng tak percaya ia benar – benar mengatajan semua itu, langkahnya bahkan langsung melangkah lebar meningalkan Baekhyun berdiri di depan pintu apartemennya.

Tanpa ada pelukan selamat tinggal atau pun ciuman terakhir sebagai tanda perpisahan dirinya.


Love Distance


Satu bulan kemudian..

Baekhyun paham betul akan sifat Chanyeol yang selalu melakukan apapun sesuai dengan ucapannya.

"—aku akan membuatmu merasakan bagaimana hidup tanpaku seolah – olah kita putus.. aku akan menghilang dan tak mengganggu dirimu. Anggap aku tidak ada."

Chanyeol benar – benar melakukannya. Pria itu bahkan langsung berangkat pergi ke US sehari setelahnya, dimana sebenarnya belum waktunya dirinya untuk berangkat. Tak hanya itu, Chanyeol bahkan menghapus semua foto Baekhyun dan dirinya pada salah satu aplikasi media social yang dimiliki oleh pria itu. Baekhyun tidak menyalahkan, karena ia juga melakukan yang sama—bahkan lebih parah—ia memblokir semua nomor Chanyeol dan juga akun media social Chanyeol.

Sebulan tanpa kehadiran Chanyeol? awalnya biasa saja. Hatinya masih dipenuhi kekesalan, dan itu membantu membuatnya lebih mudah menjalani hari – hari tanpa Chanyeol. Bekerja seperti biasanya dan juga berkumpul dengan teman – teman lainnya, bahkan Baekhyun dengan mudahnya melepaskan cincin pertunangan mereka dan menyebarkan berita mengenai status dirinya yang berubah menjadi single—tapi hatinya masih diingatkan akan Chanyeol.

Pernah suatu ketika ada beberapa temannya yang menanyakkan kenapa dirinya bisa putus dengan Chanyeol, dan saat itulah Baekhyun tidak bisa menjelaskan. Sebenarnya mudah, ia bisa saja mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai Chanyeol, tapi itu akan membuat ia menjadi pendosa karena berbohong. Lalu bila ia menjawab karena hubungan jarak jauh? Semua orang tahu ia dan Chanyeol sudah terbiasa dalam hubungan seperti itu sejak awal dan tentu akan menjadi pertanyaan besar lainnya bukan? Maka dari itu Baekhyun hanya bisa menjawab—kami sudah tidak merasa cocok. Jawaban yang terdengar sangat asal.

Dan dari mereka semua menganggap semua itu tidak akan bertahan lama, banyak yang mendoakan dirinya akan kembali bersama Chanyeol karena mempercayai bahwa kedua pasangan itu memanglah diciptakan untuk satu sama lain dan tidak akan ada yang bisa menggantikkan. Permasalahannya, bolehkan Baekhyun berharap hal yang sama?

Dua bulan kemudian..

Ini menyiksa.

Itu yang Baekhyun katakan dalam hatinya. Melihat foto – foto dirinya bersama Chanyeol yang mereka ambil ketika berlibur besama, foto – foto kemesraan yang membawa dirinya kembali mengingat dengan jelas semua itu. Mengingat bagaimana mereka menghabiskan waktu selama berlibur bersama dengan kegiatan yang tidak melenceng jauh dari kata bercinta. Tak hanya itu, perasaan kesal yang sebelumnya menyinggapi hatinya kini sirna dan digantikkan dengan perasaan rindu yang mendalam. Merindukkan suara Chanyeol yang selalu memanggil namanya dengan begitu lembut, merindukkan dekapan hangat pria itu ketika mereka tengah tidur bersama, merindukan cumbuan dan rayuan yang Chanyeol lakukan pada seluruh bagian tubuhnya.

Ia merindukkan itu semua.

Distance means nothing when someone means everything.

Baekhyun diingatkan kembali akan kata yang pernah Chanyeol katakan padanya, dulu ketika Chanyeol akan berpergian untuk mengurusi pekerjaan, kata – kata itu selalu ia katakan sebagai pengingat bahwa sejauh apapun ia pergi, Baekhyun adalah alasan dirinya akan kembali pulang. Chanyeol selalu membuktikan apa yang ia katakan, dan selama ini.. Chanyeol selalu kembali. Kapanpun Baekhyun butuhkan. Perbedaan waktu bukanlah masalah bagi mereka, bahkan meskipun dimana Chanyeol seharusnya tertidur, pria itu akan terjaga hanya untuk menghabiskan waktu mengirimkan pesan sayang pada Baekhyun.

Mereka sudah pernah melewatinya.. dan seharusnya kali ini juga bisa dilewati seperti biasanya bukan?


Long Distance Relationship


Terkadang mulut berucap hal yang berbeda dengan apa yang ada didalam lubuk hati, itu benar dan selalu dilakukan oleh siapa saja. Termasuk Baekhyun. Mulutnya berucap baik – baik saja, tapi tidak dengan hatinya yang merasakan siksaan karena genap tiga bulan Chanyeol meninggalkannya, tersiksa karena ia bahkan tidak cukup berani untuk menelepon pria itu atau pun mengirimkan pesan menanyakkan kabar dirinya.

Terlalu sering beringkar kali ini Tuhan menghukumnya dengan cara yang lain, fisiknya yang melemah akibat insomnia yang belakangan melanda dan juga ketidak teraturan dari makanan yang ia santap mengakibatkan dirinya berakhir pada ranjang rumah sakit dan selang infusnya sudah menghiasi tangannya.

Baekhyun hanya bisa terbaring lemah dan berharap ia bisa keluar dari aroma – aroma antiseptic dan juga obat – obatan yang sangat ia benci. Terlalu lama di rumah sakit hanya semakin menyiksa dirinya, itu anggapannya. Biasanya hanya karena bau – bau menyengat, tapi kini ada alasan lain yaitu ingatannya pada Chanyeol .

Baekhyun ingat betul Chanyeol tidak akan pernah membiarkan wanita itu berbaring terlalu lama di atas ranjang rumah sakit dengan alasan ia tidak bisa berada pada ranjang yang sama dan juga tidak bebas memeluk atau mencumbu wanita itu sesuka hatinya—atau dalam kalimat lainnya—ia tidak mau Baekhyun sakit.

"Aku sarankan kau menelepon Chanyeol."

Baekhyun menoleh pada sosok yang berbicara padanya, Luhan—sekretaris Chanyeol yang entah kenapa bisa berada didalam ruangan rumah sakit dimana dirinya berada.

"Chanyeol memintaku pulang sementara waktu, ia mengatakan untuk membantu Kyungsoo yang akan berangkat ke Hong Kong atau lebih jelasnya ia ingin memintaku menengok keadaanmu juga." Luhan menjelaskan lagi dengan senyuman penuh artinya.

Baekhyun masih terdiam dan hanya memperhatikan bagaimana Luhan meletakkan beberapa minuman ion untuk dirinya.

"Pacarmu bahkan memintaku membawakan minuman ini." Luhan membeberkan informasi lagi. "Ia tahu kau masih memblokir nomornya, maka dari itu aku dan Kyungsoo selalu menjadi perantara dalam memberikan informasi padanya."

"A—apa ia baik – baik saja?" Baekhyun mulai memberanikan diri menanyakkan keadaan Chanyeol pada Luhan.

Luhan diam terlihat berpikir dalam menyelami ingatannya mengingat bagaimana keadaan Chanyeol selama beberapa bulan mereka berada di US. "Definisikan kata baik menurutmu.. karena kalau aku melihat fisiknya, ia lebih banyak diam.. terlalu serius bekerja dan terkadang bahkan melamun. Ia bahkan menjadi pria rumahan." Luhan tertawa setelah menyebut kata pria rumahan. "Hotel-kantor-hotel-kantor.. bisa kau percaya itu? Seorang Park Chanyeol hanya mengenal dua tempat padahal semua orang tahu kita tengah berada di US, salah satu kota yang tidak pernah tidur, tapi ia bahkan tidak mau untuk jalan – jalan sekedar menikmati jalanan kota itu."

Baekhyun menekuk bibirnya kedalam, membayangkan apa Chanyeol merasakan siksaan sama seperti yang ia rasakan selama tiga bulan terakhir ini?

"Seandainya kau tidak memblokir nomornya.. aku yakin ia akan meneleponmu lebih dulu sejak tiga hari pertama ia berada di US dan jauh darimu. Aku tahu karena aku melihat tagihan ponselnya dan nomornya menjadi nomor yang selalu ia hubungi setiap jam-nya.." suara Luhan meredup bersamaan dengan wajah Baekhyun yang semakin sendu mendengarkan rentetan panjang cerita mengenai keadaan Chanyeol. "Jangan jadi keras kepala Baek.. kita sama – sama tahu bagaimana perasaan Chanyeol padamu 'kan?" Luhan menepuk tangan Baekhyun pelan dan melangkah pergi dari ruangan dengan alasan ia melupakan untuk membeli cemilan sehat untuk Baekhyun, yang sebenarnya adalah isyarat untuk Baekhyun agar bisa menghubungi Chanyeol saat ini juga.

Meskipun beberapa pernyataan dan bukti nyata ia rasakan mengenai bagaimana tersiksanya hidup tanpa ada Chanyeol disisinya, keraguan dan rasa gundah masih melanda isi hatinya. Entah karena keegoisan dan rasa keras kepala masih mendominasi atau rasa takut membayangkan apakah Chanyeol menginginkan hal yang sama dengannya.

Baekhyun memejamkan matanya sesaat, setelahnya ia mulai mencari nomor ponsel pria itu dan menimang – nimang keputusannya untuk menelpon Chanyeol lebih dulu.

Dua menit berlalu dan ia masih dalam posisi yang sama.

Lima menit..

Hingga hitungan menit ke dua belas berlalu.. ia baru menekan tombol hijau sebagai tanda awal panggilan untuk Chanyeol, dan kini ia hanya perlu menunggu suara berat yang ia rindukan menjawab panggilannya.

Dering keempat sudah terdengar namun belum ada jawaban. Pikirannya kini semakin diliputi rasa takut karena memikirkan apakah mungkin Chanyeol enggan mengangkat panggilannya karena pria itu semakin marah padanya.

Dering berikutnya terdengar dan Baekhyun masih menunggu..

Ia memutuskan akan tetap menunggu panggilannya dijawab hingga sambungan itu terputus dengan sendirinya.. namun ini sudah hitungan dering yang entah keberapa. Wajahnya bahkan semakin sendu dan penyesalan semakin ia rasakan—

"Hai.."—helaan nafasnya terdengar dengan senyuman menghiasi wajahnya. Suara berat ciri khas Chanyeol terdengar membalas panggilannya meskipun Baekhyun belum melakukan sapaan satu kata pun.

"H-ha-hai.." gagap menjawab entah karena apa.

"Hai sweetheart.." Chanyeol mengulang lagi dan bahkan menambahkan panggilan sayang yang selalu ia katakan untuk memanggil Baekhyun, dan hanya karena mendengar hal sekecil itu nyatanya berdampak besar untuk air matanya yang secara tiba – tiba mengalir perlahan turun membasahi pipinya, hatinya bahkan menghangat dan merindukan Chanyeol sepenuhnya untuk berada disampingnya saat ini.

"Bagaimana keadaanmu—

"Chanyeol.."Baekhyun menahan isakan tangisannya supaya tidak terdengar jelas oleh Chanyeol disana.

"Yes baby.."

"Aku merindukanmu."Kejujuran hatinya terungkapkan secara langsung tanpa harus melakukan pembicaraan tidak penting diawal panggilannya, Baekhyun tersenyum, mengulang lagi untuk kedua kalinya mengatakan kata rindu pada Chanyeol dan tentu saja cukup berhasil membuat Chanyeol diseberang jauh sana terdiam membisu.

"Chanyeol.." Baekhyun memastikan apakah Chanyeol masih mendengarkan apa yang ia ucapkan atau tidak.

"I miss you too Baby.. wait for me." Satu balasan cepat dikatakan oleh Chanyeol dan itu cukup menjawab apapun yang Baekhyun inginkan.


Love Distance


Setelah telepon singkat yang ia lakukan kemarin dengan Chanyeol, sampai saat ini belum ada pesan atau panggilan lainnya lagi yang ia dapatkan. Sudah lebihd dari satu hari, dan Baekhyun sempat berpikir mungkinkah Chanyeol tengah berada dipesawat kembali menuju Korea, atau Chanyeol masih berkutat dengan segala pekerjaannya? Ia kembali berbaring pada ranjang rumah sakit, menikmati tayangan malam pada layar televisi ataupun sesekali memerikan notifikasi pada ponselnya, berharap ada pesan yang masuk dari prianya.

Suster rumah sakit melakukan controlling malam sebelum waktu tidurnya, memberikan obat untuk Baekhyun minum dan kemudian menyarangkan pasien mereka ini untuk terlelap segera agar kesembuhannya semakin membaik, dan Baekhyun hanya bisa mengangguk patuh. Berusaha memejamkan matanya meskipun ia masih ingin terjaga. Tapi pada akhirnya, pengaruh obat – obatan yang Ia konsumsi mendominasi cara kerja tubuhnya, matanya terpejam lelap lebih dulu mengingkari keinginan kuatnya untuk terjaga.

Dan ketika Baekhyun tengah tertidur begitu lelapnya, Chanyeol tiba dan masuk kedalam ruangan dimana ia dirawat. Tidak memperdulikan jam berkunjung yang berlaku di rumah sakit, pria itu langsung melangkah cepat dan bahkan memposisikan badannya untuk bisa berbaring pada ranjang yang sama dimana Baekhyun tengah terlelap. Ia dengan hati – hati bergabung disana, menyampingkan badannya berbaring menghadap Baekhyun dan juga mengukung badan mungil yang telah ia rindukan selama ratusan malam belakangan,

"Aku merindukanmu.. sangat." Chanyeol memberikan ciuman singkat pada bibir Baekhyun sebelum ia ikut memejamkan matanya masuk dalam lelapnya malam.


Long Distance Relationship


Baekhyun terbangun dengan perasaan lebih baik dibandingkan hari – hari dimana ia tengah dalam perasaan gundah merindukan Chanyeol, ataupun ketika ia menghabiskan malam di rumah sakit beberapa waktu lalu. Kali ini ia terbangun dengan pemandangan ruangan kamar yang sangat indah dan juga pemandangan pantai membentang luas terlihat meskipun dirinya masih berada diatas ranjang, dan yang terpenting.. pemandangan sosok yang kini memeluk tubuhnya dengan cukup erat. Park Chanyeol, pria yang berstatus kembali menjadi kekasih dan tunangannya itu masih terlelap pulas dibelakangnya.

Sebuah senyuman terbentuk di wajah Baekhyun, ia membawa tubuhnya memutar perlahan – lahan untuk melihat lebih jelas bagaimana wajah tampan prianya itu. Kecupan singkat ia curi diam – diam pada bibir Chanyeol dan itu tidak membuat pria itu terbangun dengan begitu mudahnya. Baekhyun mencuri lagi untuk kedua kalinya dan ia juga menyurukkan wajahnya pada dada bidang Chanyeol yang nampak disana karena pria itu bahkan masih bertelanjang dada. Baekhyun memeluk Chanyeol dan berpikir mungkin ia akan melanjutkan tidurnya lebih lama—namun ide itu hilang dalam sesaat ketika merasakan tangan besar mengusap rambut dan punggung belakangnya yang tak terhalangi apapun.

Pria besarnya sudah terbangun.

"Kalau kau mau melanjutkan apa yang kita lakukan tadi malam.. aku mungkin bisa melakukannya sekarang sebelum kau berubah pikiran untuk mengajakku berkeliling pantai lagi."

Baekhyun memukul dada Chanyeol dengan pelan serta menggeleng kepalanya. "Tidur Chanyeol.. ini masih pagi." Ia menyarankan.

"Kita bisa tidur setelah ini.." Chanyeol mengubah posisi tidurnya, membawa badan Baekhyun berguling kesamping sisi ranjang yang lainnya dan pria itu dengan cepat dan pasti memulai sebuah ciuman panas pada bibir Baekhyun sebagai awal mula kegiatan mereka selanjutnya..

End.

6104

Happy Chanbaek Day!

Dan Selamat Idul Fitri untuk kalian semua, mohon maaf lahir dan batin!