Embusan angin dingin menerpanya, meniup pergi mimpi indahnya. Membuatnya dengan reflek menarik selimutnya.

Harusnya ia terbiasa, terbangun pada pagi hari dengan udara dingin memeluknya erat. Ini sudah hampir 5 bulan, waktu yang cukup membuatnya terbiasa dan menetralkan perasaan asingnya.

Mimpinya indah, cukup untuk membuatnya tak ingin terbangun. Tapi perasaan asing itu terus menyelubunginya, memaksanya bangun dan melupakan mimpinya. Menariknya kembali pada kenyataan, pada realita yang harus ia hadapi.

Maka, sel otaknya mulai bekerja, mengingatkannya pada segala tanggung jawab yang harus ia lakukan. Tugas dari tuan Orich yang mulai mendekati tanggal jatuh tempo adalah yang pertama, cucian yang menumpuk, galon yang kosong, debu di perabotan rumah. Perutnya berbunyi, aah, sarapan saja dirinya lupa.

Oke –dirinya harus bangun dan memulai hari.

Saat matanya terbuka, langit kamar yang familiar menyapanya. Familiar –harusnya begitu. Kecuali ada sebuah suara bisikan dan kikikan yang terdengar. Kalau ini di negaranya, mungkin ia akan ketakutan, terbangun dan lari pontang-panting menuju kamar sang ibu. Tapi ia ingat, ini bukan di Negara kesayangannya.

"Lihat dia bangun."

"Diamlah, dia bisa mendengarmu."

"Hehehe, apa kau merekam itu?"

Maka, saat keberanian mendorongnya menghadapi sumber perasaan asing yang menyelimutinya, ia tercekat, hampir terbangun dan berteriak. Melihat jelas wajah full-face Elizaveta yang menatapnya dengan intens. Di belakangnya tentu saja berdiri dengan apik ketiga temannya yang bersengkongkol untuk mempermalukannya, Michelle dengan handphone yang teracung, Bella yang menahan tawa, dan Lily yang tersenyum maaf.

"Pagi nona, apa kau mengingat janji kita hari ini?" Elizaveta berbicara pertama, membuatnya merasakan dengan jelas nafas hangat gadis itu di hidungnya.

Dan Kirana hanya dapat tertawa dalam hati. Janji. Teman-temannya. Janji dengan teman-temannya.

Oke, itu adalah satu hal yang ia lupakan dari tanggung jawabnya.


HETALIA belong to HIDEKAZ SENPAI,

And THIS FIC belong to ME

WARNING: Alur kecepetan, penulisan berantakan,

typo, deskripsi kurang memuaskan,

and…maybe there wil be OOC.

The point is… it will never be perfect

Cause I'm not God.

PAIR: Englang X Soontobecanon!Indonesia..

CATATAN: - Kutip dua" dan italic : Surat.

Italic : Dalam hati.

Kutip satu' : Telepon.

Kutip satu' dan Italic : Omongan

dari masa lalu.

'Dari semua pria Inggris yang tercipta, Kirana berharap tidak mendapat sosok pria sinis, berharga diri tinggi, dan penuh kebanggan seperti Arthur untuk menjadi pendamping. Ia tidak terganggu dengan fakta bahwa lelaki itu 'istimewa', Tapi terganggu dengan betapa menyebalkannya sifat lelaki satu itu. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada orang yang sempurna, kan?'

..

.

"Hey, don't be selfish. It' hard for me too."

.

"Just if, if I never knew you. Maybe all this thing will never happen."

.

Disperfection


Gadis bersurai hitam itu meluruskan kakinya, mengambil satu mangkuk besar keripik kentang dan soda yang telah ia siapkan.

Kirana menganggap ini hadiah –hak setimpal yang pantas ia terima karena telah mengisi galon, membersihkan debu, dan mengeringkan cucian. Maka ia memilih menonton berita infotainment dengan satu mangkuk besar keripik kentang di sofanya yang empuk.

Persetan dengan tugas Pak Orich –ia dapat melakukannya nanti sore saat niatnya terkumpul.

"Tidak jadi pergi dengan teman-temanmu?" Arthur meraih remot di samping Kirana, matanya ia edarkan ke seluruh ruangan. Kalau-kalau sahabat sang istri memperhatikannya sedari tadi.

"Tidak." Kirana menjawab singkat, mulutnya sesekali mengunyah serpihan keripik kentang yang ia ambil. "Mereka kembali pada aktifitas mereka masing-masing setelah sarapan tadi."

Arthur mengangkat satu alisnya, "Bukankah kalian punya janji?"

Kirana menatap Arthur sebentar, "Tentu." gadis itu menegakkan posisi duduknya, menepuk-nepukkan sisa bumbu keripik kentang di tangannya. "Roderich mengajak Elizaveta makan siang secara tiba-tiba."

"Oh." Arthur mendudukkan dirinya di samping Kirana, membuat gadis itu menggeser dirinya reflek.

"Tidak membuat teh? Tumben sekali."

Arthur menganggukan kepalanya.

"Biar kutebak," Kirana membuka sodanya, "Teh mu habis. Kukira memang sudah watunya kita berbelanja sekarang."

"Teh ku tidak habis. Masih cukup untuk satu kali minum."

"Bagus sekali." gadis surai hitam itu menghadapkan dirinya ke arah Arthur, "Sudah memutuskan untuk berhenti minum teh, ya?" Kirana tersenyum menyindir yang kemudian dibalas dengan tatapan tajam oleh lelaki di sampingnya. Konyol, tentu saja Arthur tidak mungkin bisa berhenti minum teh. Lelaki itu menyukai teh sama seperti Kirana yang menyukai kopinya. Minuman yang sama-sama menjadi candu untuk tubuh masing-masing.

Arthur mengambil soda Kirana dan mulai meminumnya, "Dosen Arthur, ku tak tahu kau mentoleransi soda. Ku kira kau hanya menyukai minuman berbau harum yang hangat."

"Konyol sekali, kau membuatku seperti pemuda kolot dengan kata-katamu itu." Arthur memandang Kirana tidak suka, yang mana dibalas kekehan renyah oleh Kirana.

"Maaf jika aku menyinggung pria Ini. Mungkin ia memang harus berhenti menjadi kolot." gadis itu menepuk punggung Arthur pelan, kembali terkekeh saat merasakan tangannya seketika ditepis oleh tangan besar Arthur.

"Sodanya tidak enak," Arthur menaruh minuman hitam itu di atas meja, "Mengingatkanku pada tempat hamburger yang sering di datangi Alfred."

"Aku tidak menyuruhmu meminumnya, kan?" Kirana mengambil sodanya, meminum soda di tangannya dengan sekali teguk.

Arthur menatap Kirana, "Kau monster soda." lelaki itu menunujuk gelas kosong di tangan Kirana. "Si maniak burger itu pasti telah meracunimu, kan?"

Kirana memutar bola matanya acuh, "Hari ini panas sekali. Amelia memberikanku satu botol besar soda. Kenapa tidak manfaatkan saja?"

"Kenapa tidak sekalian memberikan tumpukan hamburger kalau begitu?" Arthur mencebik.

"Awalnya ia mau," Kirana mengangkat bahunya tidak peduli, membuat Arthur dengan cepat melihatnya, "Tapi aku ingat betapa kau akan uring-uringan jika mengetahui makanan kebencianmu itu ada di rumah."

"Tentu saja," Arthur menjawab cepat, "Aku tidak akan membiarkan junk food mengerikan itu ada di rumahku."

Kirana mengangguk-anggukan kepalanya acuh, "Tentu, tentu. Kau memang tak akan biarkan itu terjadi. Aku tahu."

Kirana melihat acara di depannya acuh, saluran infotainment nya telah diganti dengan acara berita oleh Arthur. Ia bukannya tak suka berita –ia senang mengetahui kabar terbaru dari sekelilingnya, tapi terkadang ia butuh sesuatu yang berbeda. Semacam berita, tapi tidak terlalu formal dan membuatnya tertawa hingga merinding sendiri. Dan acara gosip menyediakan itu semua untuknya. Kisah pribadi para selebriti memang selalu menjadi daya tarik utama. Kabar bahagia atau borok, acara itu punya zat adiksi tersendiri bagi para penonton –yang kebanyakan wanita.

Kirana berdecak pada dirinya sendiri, ini adalah apa yang kau dapat ketika dibesarkan oleh acara gosip di tiap saluran televisi, dan obrolan gosip ibu-ibu di pagi hari.

Tapi toh, ia juga tak begitu peduli. Acara infotainment di negaranya jauh lebih seru menurutnya. Entah karena pembawaan sang presenter, atau karena berita yang dibawakan, atau karena lebih banyak zat adiksi yang ditebarkan.

Lama-lama, tak ada bedanya dirinya dan para ibu pecandu acara gosip di negaranya.

Arthur menghela nafasnya, membuat Kirana menoleh dengan spontan "Aku ingin scones."

Kirana mengangguk, "Dan aku ingin hari tenang tanpa kebulan asap hitam dari dapur." Sambar gadis itu cepat.

"Aku akan berpura-pura tidak mendengar kalimat yang aku-tidak-tahu-dan-tidak-mau-tahu-apa-artinya."

Kirana terkekeh arah lelaki di sampingnya, tangannya sesekali menyuapkan serpihan keripik kentang ke dalam mulutnya.

"Tugasmu sudah selesai?" Arthur menyodorkan remot pada Kirana. Gadis itu membasahi tenggorokannya dengan segelas soda sebelum tiba-tiba berhenti.

"Oh? Kau tahu?"

Arthur mengangguk, "Tentu, teman-temanmu memberi tahuku tadi. Mereka bilang kalian akan belajar bersama."

"Oh?" Kirana menyuapkan segenggam keripik kentang lagi ke mulutnya, "Mereka memberi tahumu banyak ternyata." Terlalu banyak, teman sialan.

"Kau tahu?" Arthur meregangkan tangannya, meluruskan sendi-sendi tangannya yang membeku. "Aku bisa membantumu jika kau mau."

Kirana menatap lelaki di sampungnya, "Benarkah?"

"Tentu," Arthur mengangguk.

Jika lelaki itu bersedia membantunya, tentu saja Kirana mau. Bagaimana mungkin ia akan menolak? Ini kesempatan emas. Membuat esai dibantu oleh seorang dosen sastra Inggris. Kirana bahkan dapat mencium harumnya nilai tinggi hanya dari membayangkannya.

"Tapi itu tidak gratis tentu saja."

Tentu saja, Kirana akan sangat bodoh jika berharap lelaki itu dengan sukarela membantunya. Sipir penjaranya akan selamanya menjadi sipir penjaranya.

"Apa? Apa yang kau inginkan?"

"Kau bersedia?'' Arthur tersenyum ke arah Kirana, senang bagaimana respon gadis itu terhadap pernyataannya.

Kirana terlihat menimbang-nimbang perkataannya, "Jika aku bisa, kenapa tidak?"

"Aku sedang rindu masakan Inggris akhir-akhir ini."

"Kalau begitu, pergilah ke restoran Inggris. Di Amerika ini banyak." Kirana menukas perkataan lelaki di depannya cepat.

"Tidak," Arthur menggeleng, "Aku ingin itu masakanmu. Asli buatan rumah."

Kirana mengangkat bahunya acuh, "Untuk sehari, apa salahnya?"

"Seminggu." Arthur menyambar perkataan Kirana, "Pagi, siang, dan malam."

Otak Kirana serasa diketuk keras-keras setelah Arthur menyelesaikan perkataannya. Pagi, siang, malam? Dan semuanya makanan Inggris? Selama 7 hari? Gila, bisa mati kebosanan dia begitu. Sebenarnya tidak, ia hanya melebihkan-lebihkan saja.

"Kau bisa membuat makanan utama. sementara aku akan membuat makanan pembuka dan penutu–"

"Tidak," Kirana memotong perkataan Arthur spontan, membuat lelaki itu menaikkan satu alisnya.

Kirana menutup mulutnya sebentar sebelum akhirnya tertawa renyah, "Maksudku, tenang saja. Aku yang akan memasak semuanya."

"Kau yakin?"

Kirana menganggukan kepalanya. Tentu saja, itu jauh lebih baik daripada kau yang harus memasak.

"Kalau begitu, kita sepakat?"

Kirana tersenyum pada lelaki di depannya, seharusnya ini tidak sulit, kan? Pikirkan hasil yang akan ia dapat. Ia akan mendapat nilai bagus, Arthur dapat memakan makanan Inggris rumahan yang ia inginkan, dan sang ibu pasti akan senang mengetahui putri tertuanya memasakkan makanan Inggris untuk sang suami. Semuanya senang, tak ada yang dirugikan.

Arthur mengulurkan tangannya, "Deal?"

Makanan Inggris tidak seburuk itu juga, kan? Makanan Inggris di kediaman Arthur rasanya enak sekali.

''Deal."

.

.


.

.

"Loaf bread nya enak sekali."

"Kau seharusnya membantuku, bukannya makan loaf bread."

Arthur tersenyum pada gadis di hadapannya. Kirana memanggangkannya beberapa porsi loaf bread segera setelah lelaki itu menyuruhnya. Gadis itu tentu saja tidak mau awalnya, tepatnya sebelum Arthur memasukkan kata-kata 'bagian dari kesepakatan' dalam kalimatnya. Maka, gadis itu pasrah, hanya bisa bangun dan segera membuat roti. Diam-diam Arthur menyukai sifat Kirana satu itu, berpendirian teguh. Tipe yang tidak akan menjilat ludahnya sendiri.

"Aku membantumu. Mengoreksi kesalahan yang kau buat dalam esai dan menyuruhmu memperbaikinya."

Kirana mengacak rambutnya frustasi, "Bukankah akan lebih mudah jika kau membantuku sekarang? Kau tahu, tanpa pengulangan dari awal. Sungguh, dosen Arthur, aku sudah mengulang untuk yang ketiga kalinya sekarang. Ini sungguh melelahkan."

"Lebih teliti dan jangan sembrono jika kau tak ingin mengulang lagi," Arthur mengunyah kembali roti di genggamannya, "Ngomong-ngomong, rotinya enak."

Kirana menggeram tertahan pada lelaki di hadapannya. Memuakkan. Jika begini, memang seharusnya ia mengerjakan dari 4 hari yang lalu. Gadis itu mengindeks, menghabiskan seharian hari liburnya untuk mengindeks 7 buku yang tebalnya tidak kurang dari 400 halaman. Dari pagi hingga pagi lagi. Membiarkan Arthur memesan berbagai makanan Inggris dari tiap restoran yang ia inginkan –ibunya akan marah jika mengetahui hal ini.

Ia tahu, ia tidak seharusnya menunda-nunda. Ketika hal yang jarus ia lakukan hanyalah merangkai kata dan memasukkan informasi selagi otaknya mencair karena terlalu panas, ia tertidur. Meremehkan tugas pak Orich, dan membiarkan 4 hari berlalu. Membiarkan otaknya kembali membeku.

Sialan, di saat-saat seperti ini, ia sangat membenci dirinya sendiri.

"Dosen Arthur, aku meminta istirahat. Ini sudah waktunya makan siang." Kirana menaruh dagunya di atas meja, menatap Arthur dengan pandangan malas.

"Kau lapar?"

Kirana menganggukkan kepalanya dengan mata tertutup.

"Kalau begitu, makanlah." Arthur menyodorkan piring loaf breadnyake arah Kirana. "Kau yang membuatnya, tapi kau tidak memakannya."

Kirana melirik Arthur malas, "Aku kan membuat itu untukmu."

Arthur berdecak, "Dan aku menyuruhmu membuatnya untuk dimakan. Bukan untuk sebuah persembahan."

Kirana menggeleng menanggapi perkataan Arthur, "Aku ingin makanan berat."

"Kalau kau memakan makanan berat, kau akan semakin mengantuk. Lihat saja sekarang, kau bahkan berbicara tanpa menatapku."

Kirana melirik Arthur, "Aku melihatmu sekarang."

Arthur berdecak lagi pada perempuan di depannya. Menyebalkan. Gadis di depannya ini sungguh menjengkelkan. "Ini bukan soal kau melihatku atau tidak. Kau harus menyelesaikan tugas ini sekarang, Mrs. Kirkland."

Kirana mengangkat kepalanya menatap Arthur, "Aku sudah selesai, kok. Lihatlah." Kirana menyodorkan laptopnya ke arah Arthur. "Dan jangan memanggilku begitu."

"Aku akan memesankan makan siang, kalau begitu." mata lelaki itu sibuk menelusuri ribuan kata yang terpampang di laptop Kirana.

"Eh? Pesan? Bukankah aku yang akan memasak?" Kirana menunjuk dirinya sendiri.

Arthur melihat Kirana sekilas, "Anggap saja kau resmi menjalankan tugasmu nanti malam."

"Aku mau pizza kalau begitu."

Arthur mendengus, "Aku tidak tahu bahwa pizza adalah makanan Inggris."

"Kau bilang tugasku dimulai nanti malam.''

Arthur menyentil dahi Kirana, membuat gadis itu dengan spontan mengelus daerah yang disentil Arthur. "Tugasmu dimulai nanti malam, tapi kesepakatan kita dimulai saat kita berjabat tangan, moron.''

"Kau tak perlu menghinaku dan menyentilku. Aku mengerti cukup dengan perkataan saja." Kirana berkata sambil mengelus dahinya perlahan. Rasa ngilunya masih terasa juga. Mengerikan. "Ini masih menyakitkan."

"Kau overreacting sekali."

Kirana menarik wajah Arthur spontan, menyentil dahi pemuda itu dengan keras.

"Sial, Kirana. Kau sudah gila, ya?" Arthur dengan spontan mengelus dahi miliknya.

Kirana menarik satu sudut bibirnya, "Dosen Arthur, kau overreacting sekali."

Arthur baru saja ingin membalas gadis di depannya sebelum mendengar pintunya diketuk. Belnya berdenting berkali-kali tak sabar menunggu sang pemilik rumah untuk keluar.

"Aku saja." Kirana segera berdiri sebelum Arthur sempat merespon. Langkah gadis itu sedikit dipercepat, kentara sekali ingin segera pergi darinya.

Kirana membuka pintunya, melihat seorang lelaki muda memegang berbagai makanan yang ia yakin merupakan pesanan Arthur.

"Kediaman, eumm.." lelaki muda di depannya menyipitkan mata mencoba membaca kertas di genggamannya.

"Kirkland." ucap Kirana sedikit terkekeh, membuat sang lelaki dengan spontan mengangkat wajahnya.

"Ya, ya, kediaman Kirkland." lelaki di depannya tertawa, "Maafkan aku."

Kirana tersenyum, "Tentu, bukan masalah." gadis surai hitam itu dengan cekatan mengambil makanannya dari genggaman lelaki di depannya, "Berapa totalnya?"

"Ah, ya. Total. Semuanya menjadi–"

"Ini uangnya.'' Arthur menyodorkan sejumlah uang ke arah sang lelaki, "Ambil kembaliannya."

"Oh? Oh, ya. Ya. Terima kasih tuan."lelaki itu sedikit membungkuk sebelum akhirnya menegakkan badannya. "silahkan pesan lain kali."

Setelah sang lelaki pergi, Kirana mengambil beberapa piring di dapur dan menyusul Arthur ke ruang tengah.

"Pizza?" Kirana tersenyum pada lelaki di depannya.

Arthur mengangkat bahunya, "Restoran Ingris itu menyediakan pizza dengan daging lobster. Mengapa tidak mencoba pizza bergaya Inggris? Aku juga memesan makanan lain."

Kirana tersenyum penuh makna terhadap Arthur, menyodorkan lelaki itu piring serta peralatan makannya. "Tentu, tentu. Pizza bergaya Inggris. Kurasa aku juga belum pernah mencobanya"

Arthur membasahi tenggorokannya dengan air yang diberikan Kirana, "Jangan membesar-besarkan begitu."

"Tidak, tidak." Kirana menggeleng. "Aku tidak membesar-besarkan, kok."

"Ngomong-ngomong, aku sudah memeriksa esaimu."

Kirana mengambil sendok dan garpunya. Jika ia boleh jujur, ia tidak ingin mendengarkan kabar esainya lagi dari Arthur, "Oh, benarkah?"

Arthur mengangguk, ''Aku rasa, pak Orich siap menerima esai milikmu."

Menggembirakan. Ia senang mendengarnya. Dipastikan mendapat nilai tinggi oleh sang guru sastra.

"Tapi kau dipastikan untuk mendapat nilai di bawah B jika begitu."

–tunggu, apa?

"Kau masih lumayan sering salah mengunakan kata di beberapa bagian, ada beberapa salah ketik, ada paragraf yang kurang rapi."

Kirana menatap Arthur. Mengutuk lelaki itu dalam hati selagi Arthur terus membicarakan kesalahannya. Gadis itu benar-benar siap untuk menimpuk Arthur dengan garpunya jika saja lelaki di depannya tidak berhenti bicara dan menatapnya.

"Kurasa kau perlu ulang sampai beberapa kali lagi." Arthur menatap gadis di hadapannya. Menunggu respon gadis itu atas perkataannya.

"Terima kasih telah menghancurkan selera makanku, Mr. Kirkland." Kirana tersenyum penuh sindir ke arah Arthur.

"Sama-sama, Mrs. Kirkland. Kau memang perlu menurunkan berat badanmu akhir-akhir ini." Arthur membalas sindiran gadis di depannya.

Gadis itu terkekeh, lelaki di depannya ini boleh juga. "Oh, Tuhan. Betapa aku membencimu."

"Ya, dan Tuhan juga tahu betapa aku juga sama bencinya denganmu."

.

.


.

.

"Aku harus bilang, kau melakukan pekerjaan bagus." Arthur merentangkan tangannya, menghela nafasnya dalam "Pada akhirnya."

"Benarkah?" tangan Kirana sibuk menata piring. Merasa tidak terkejut–tidak mau terkejut lebih tepatnya pada perkataan Arthur. "Atau kau hanya bilang itu untuk mengecohkanku dan berkata lagi namun aku akan dapat nilai di bawah rata-rata jika itu yang aku berikan."

"Tidak, tidak." Arthur menggeleng. Perempuan di depannya ini mengambil pelajaran berharga dari sikapnya ternyata. "Aku dapat menjaminkanmu kau akan dapat nilai di atas B"

"Bagus," Kirana mengangkat tangannya, "Tepat sekali makanan juga sudah jadi."

Kirana menyodorkan garpu dan pisau pada Arthur, "Besok berangkat jam berapa?"

"Pagi."

"Aku ingin sesuatu yang spesifik, jika kau bisa."

"Pagi sebelum teman-temanmu datang menjemput."

Bagus, memang apa yang dia dapat harapkan dari lelaki di sebelahnya.

"Mau pergi bersama?" Arthur berbicara di sela-sela kunyahannya. Hangat, dan enak. Salah satu yang harus ia akui dari gadis di depannya adalah bahwa gadis di depannya ini pintar sekali memanjakan mulut dan indra perasanya.

Kirana menggeleng perlahan, "Oh, tidak-tidak. Pasti terlalu menghebohkan." Arthur mengangguk, "Lagipula, Elizaveta selalu siap menjemput tiap pagi." Gadis di depannya memamerkan senyum lima jari.

Arthur mendengus, "Kenapa mereka tidak muak dengan kau yang selalu terlambat?"

Kirana terkekeh, lelaki di depannya ini memang tidak bisa diam tanpa menyulut suasana panas, ya? "Itu lucu. Aku juga selalu bertanya-tanya bagaimana para sahabatmu bisa tahan dengan orang yang mengaku bisa masak namun pada akhirnya hanya dapat menghanguskan dapur mereka."

Arthur menggeram tertahan, "Gadis bar-bar."

Kirana menatap tajam Arthur, "Lelaki sinis berharga diri tinggi."

"Betapa aku berharap tidak pernah bertemu denganmu." Arthur menghela nafasnya.

Kirana terkekeh perlahan. Bukan kekehan yang biasa Arthur dengar, jika lelaki itu boleh jujur. "Kau benar, " gadis itu terhenti sebentar, suaranya tertahan, "Jika saja, jika saja aku tidak pernah bertemu denganmu semua ini tidak akan terjadi."

Arthur terdiam, menatap gadis di depannya dengan pandangan datar, "Jangan egois begitu," Kirana mengangkat wajahnya, "Ini juga sulit untukku jika kau ingin tahu.''

"Tapi, hey, ingatlah, kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya, kan?" Kirana terkekeh

Arthur mengangguk, mulutnya sibuk mengunyah makanan, "Tentu, memang tidak."

"Aku tidak pernah mengenal–."

"Hanya kau," Arthur memotong perkataan Kirana, "Keluargamu tidak."

"Ah, iya. Kau benar. Aku hampir lupa." Kirana menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Arthur, "Hey, apa ka–"

"Habiskan dulu makananmu," Arthur mengangkat wajahnya "Kau bisa berbicara sebanyak yang kau inginkan setelah makan malam."

"Aku ingin tidur setelah makan malam."

"Tidakkah itu bagus?" Arthur menatap Kirana, "Aku memang butuh ketenangan untuk mengerjakan tugasku."

"Aku tidak menyarankanmu untuk begadang, dosen Arthur." Kirana membalas tatapan Arthur, "Kau punya kelas yang harus diisi besok."

"Teh punya lebih banyak kafein dari kopi."

"Kurasa bukan itu masalahnya," Kirana mengangkat handphone nya. "Ibu mu baru saja memberi tahuku tentang melarangmu untuk begadang lagi malam ini. Kurasa ia benar, kau memang selalu begadang di minggu malam. Sepertinya itu telah menjadi kebiasaanmu."

Arthur berdecak, "Itu karena besok adalah hari pertama untuk sekolah. Banyak yang harus dilakukan."

"Apapun itu, aku rasa adalah hal bijak mengikuti kata-kata ibumu. Lagipula, seingatku, tehmu hanya tersisa untuk satu kali minum." Kirana menyipitkan matanya, "Aku mengira-ngira bagaimana itu bisa terjadi."

Arthur menyuapkan satu potong jamur ke dalam mulutnya, mengacuhkan tatapan yang diberikan Kirana, "Aku akan beli sepulang dari mengajar besok."

"Oh? Bolehkah aku menitip? Persediaan makanan kita telah habis sepertinya."

"Tidak. Aku membelinya di tokoh teh langgananku. Aku takkan membeli teh murahan di pasar swalayan."

Kirana menggembungkan pipinya, "Kau tidak harus menghina seperti itu, kau tahu, kan?"

"Kau bisa membelinya besok lusa. Bersamaku." Arthur mengacuhkan perkataan Kirana, "Masih cukup untuk besok, kan?"

"Sepertinya masih." Kirana mengangguk, "Sisa makanan kita malam ini juga masih ada, kan? Aku akan memanaskannya di microwave."

Kirana mengambil piring-piring berisi makanan di depannya, menghangatkan semua makanannya dalam microwave.

"Makananmu tidak dihabiskan?"

Kebetulan Kirana memang tidak lapar sedari tadi, "Aku kenyang rasanya."

"Kau tahu kau harus menghabiskan itu."

Kirana menganggukkan kepalanya pada pernyataan Arthur, "Tentu, tentu. Aku pasti akan habiskan."

"Mau aku buatkan camilan?" tawar Kirana pada lelaki di depannya. Ia punya terigu, telur, gula dan beberapa bahan lain. Ia rasa tak ada salahnya membuatkan Arthur cemilan.

Arthur menggeleng pada Kirana, "Tidak, terima kasih. Itu akan mengotori berkasku."

Kirana mengangkat bahunya acuh. Yasudah jika lelaki itu tidak mau. Ia sudah menawarkan kebaikan. Kirana akan menyeduhkan Arthur teh jika persediaan teh lelaki itu masih banyak.

Arthur diam, mematikan laptop milik Kirana. Gadis itu telah meninggalkan ruang makan beberapa detik yang lalu. Melupakan laptopnya bersama Arthur. Satu hal yang Arthur pahami dari hubungan mereka berdua adalah mereka jarang menghabiskan waktu berdua. Selain dari makan malam bersama, atau makan siang di hari libur–itu juga bila teman-teman mereka tidak menarik mereka keluar. Tentu, momen seperti tadi siang beberapa kali ia rasakan. Tapi mereka jarang bersisian tanpa sebuah alasan. Tanpa sebuah alasan aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu.

Arthur mendengus, Tuhan, apa yang ia pikirkan? Memang apa yang ia harapkan? Sebuah kisah cliché dimana mereka berdua saling jatuh cinta? Sepertinya Kirana sering membaca cerita seperti itu. Gadis itu adalah manusia penyuka cerita cinta. Yang cliché hingga yang aneh. Meski bila sang tokoh pria adalah hewan dan tokoh wanita adalah manusia, Arthur yakin Kirana akan tetap suka. Tapi, ayolah, mereka berdua sama-sama tahu bahwa mereka takkan menjadi seperi itu.

Kirana adalah gadis clueless yang tak ingin repot-repot mencari cinta.

Sementara dirinya sendiri adalah,

Lelaki yang sama tak ingin repotnya mencari cinta.

Dan, ya. Ia tak bisa bohong. Yang terakhir itu, mempengaruhinya terlalu banyak.

.

.


.

.

Setelah Elizaveta mengganggu paginya dengan brutal, Kirana berlari, melakukan semua hal yang ia butuhkan dalam waktu 15 menit. Gadis itu tentu saja tak percaya dengan apa yang ia lakukan. Mandi, memakai baju, dan mengambil tugasnya di kantor Arthur –yang dengan baiknya telah lelaki itu print.

"Lihatlah," suara Bella memaksanya menengok, "Two Amelia in my life." gadis itu membacakan tulisan kecil yang terpampang di telepon genggamnya. "Awww… Tidakkah itu manis?"

"Alfred, ya?" Michelle menyambar acuh pada gadis berbandana itu.

Bella mengangguk, "Sudah kuduga itu akan menjadi jelas."

"Aku harap Roderich memiliki adik bernama Elizaveta." Elizaveta menghela nafasnya.

Kirana mengerutkan keningnya, "Aku tak pernah melihat adik Alfred satu itu."

"Ini, lihatlah" Bella tersenyum padanya, menunjukkan telepon genggamnya pada Kirana. Menampilkan gadis bersutrai pirang pendek yang sedang tersenyum lima jari pada kamera.

"Dia tidak bersekolah di UoH. Dia bersekolah di luar kota, N College." Elizaveta menjelaskan padanya biodata singkat gadis dalam foto yang ia lihat. Jika ia lihat pun, ia takkan menanyakan kebenaran status gadis yang dilihatnya ini. Gadis itu memiliki rambut yang sama pirangnya dengan Alfred, senyum dan keceriaan yang sama.

"Dia," Kirana berbicara perlahan, "Cantik."

"Tentu," Bella mengangguk.

"Dia adalah salah satu anggota keluarga Jones, Kirana." Elizaveta menyambar.

"Ya," Kirana mengangguk perlahan, "Dan dia juga cocok dengan Arthur."

Seluruh penghuni mobil terdiam. Gadis itu menjadi aneh seperti biasa. Tidak ada yang perlu dihebohkan, hanya satu fase yang mereka terus lewati ketika memberikan sebuah foto pada gadis itu. Ide gila untuk menjodohkan seseorang yang tidak ia kenal dengan seseorang lainnya yang juga ia tidak kenal. Atau menjodohkan orang yang ia kenal dengan orang yang ia kenal.

"Oh?'' Bella akhirnya merespon "Mungkin saja begitu. Tapi tidakkah itu bukan hal yang bagus untuk menjodohkan seseorang dengan orang lain yang sudah menikah." gadis itu selalu menjadi orang paling wajar dan netral untuk menanggapi perilaku Kirana yang satu ini.

"Biarkan saja dia begitu, Bella." Michelle menatap Kirana datar, "Dia menjodohkan hampir semua orang yang ia kenal."

"Tidak selalu seperti itu!" Kirana berteriak tidak terima.

"Oh, ya?" Michelle berbicara menantang.

"Tentu!"

"Michelle. Kirana. Kumohon hentikan." Lily tiba-tiba bersuara, "Tidak baik berteriak di dalam mobil yang sedang berada di jalanan."

Michelle menyilangkan lengannya, "Salahkan dia dan obsesi anehnya itu dalam menjodohkan seseorang."

"Itu bukan obsesi. Aku hanya berpikir bahwa mereka cocok dan mungkin baik bila berkencan. Aku hanya menyukai itu."

Michelle mendengus, "Terdengar seperti obsesi bagiku."

"Hey, itu bukan–"

"Katakan, dengan siapa kau jodohkan aku?"

Kirana terdiam. Lebih memilih memalingkan wajahnya dan tertawa gugup.

"Hey, Elizaveta bisakah kau ganti saluran radi–"

"Lihat ini," Michelle memotong perkataan Kirana, "Dilihat dari bagaimana reaksimu, kau pasti menjodohkanku dengan seorang lelaki yang dapat Elizaveta ejek dan tertawakan kapan saja."

"Tidak kok."

"Lalu siapa?"

"A-aku menolak memberi tahu."

"Kirana Nesia Citra Maha–"

"Francis. Aku menjodohkanmu dengan Francis."

Michelle terdiam, sang gadis tropis memandang Kirana tidak percaya.

"Gila, Kirana. Aku dengan si mesum itu? Apa yang kau lakukan?" Michelle berteriak secara spontan pada gadis di depannya.

"Aku menjodohkanmu denga–''

"Aku tahu apa yang baru kau katakan dan lakukan." Michelle berteriak tidak terima pada gadis di sampingnya. "Aku hanya tidak percaya kau melakukan itu padaku. Pada sahabatmu."

"Aku salah, oke? Aku tahu. Aku hanya merasa kalian sedikit cocok saat Francis menggodamu–''

"Dia menggoda hampir semua wanita yang ia temui Kirana."

Kirana menggigit bibir bawahnya, "Ia tidak menggodaku, Bella, Elizaveta, dan Lily."

Michelle menghela nafasnya, "Kirana, kau tahu ia telah berpacaran dengan Jeanne. Wanita malang itu."

"Ya, aku tahu. Aku juga menyukai mereka. Aku juga menjodohkan mereka. Mereka adalah salah satu pasangan yang aku amat sukai."

"Kau menjodohkanku dengan Francis, kau menjodohkan Jeanne dengan Francis. Apa kau itu pendukung poligami, Kirana?" Michelle menatap Kirana tidak percaya.

"Tidak, tidak." Kirana menggelengkan kepalanya cepat. "Tentu saja, tidak. Aku hanya sedikit berpikir bahwa kau mungkin sedikit cocok. Tapi aku tak pernah membawa itu serius. Aku selalu suka Jeanne dengan Francis, mereka cocok sekali."

"Tersersah saja." Michelle menghela nafasnya.

"Michelle, tidakkah kau mengira bahwa kau sedikit, " Bella menimbang-nimbang perkataannya, "overreacting?"

"Bella," Elizaveta berkata perlahan, "Memangnya apa yang kau harapkan? Gadis itu memang seorang drama queen, kan?"

Michelle mendengus, "Kau membicarakan dirimu sendiri, huh?"

Elizaveta terkekeh, menahan kekesalan dibalik kekehannya, "Tidak, tidak." Elizaveta menggeleng, "Aku hanya berbicara fakta. Tapi, hey, kau memang bertingkah sedikit berlebihan tadi."

. "Aku hanya tidak menyukainya. Jijik dengan sikap mesum yang lelaki itu punya. Dan saat menggodaku sekali, itu sudah cukup membuatku membencinya."

"Oh, tentu." Elizaveta terkekeh, "Bagaimana tubuhmu saat ini, mon cher? Biarkan aku melihatnya sekarang ohonhonhon." ucap Elizaveta meniru perkataan Francis.

"Tentu," Bella tertawa. "Aku ingat itu yang ia katakan padamu, Michelle."

"Tentu, tertawalah semau kalian. Haha. Lucu sekali." Michelle menyilangkan lengannya.

"Jangan menekuk wajahmu seperti itu, Michelle." Lily terkikik perlahan. "Itu tidak cocok untukmu."

"Kenapa kita belum sampai juga?" Kirana menegakkan posisi duduknya, mengintip dari jendela di sebelahnya, "10 menit sebelum nyonya Anne(1) masuk."

"Tuan Arthur juga hampir masuk." Michelle tiba-tiba menyahut.

"Tuan?" Bella memiringkan kepalanya, melemparkan tatapan tanya "Tumben sekali.''

"Ayolah, kita semua setuju bahwa 23 tahun masih terlalu muda untuk menjadi seorang dosen." Elizaveta menimpali, "Bahkan nona-istri-dosen disana saja mengerti. Bukan begitu, Kirana?"

"Tidak usah membawa-bawa namaku."

"Aku rasa kata-kata tuan membuatnya menjadi bertambah tua." Lily menatap Michelle.

"Memang." Michelle mengangguk, "Dia selalu bersikap bagai orang tua kolot. Bukan begitu, Kirana?"

"Sudah kubilang tidak usah membawa-bawa namaku."

Michelle terkekeh, "Gadis itu tahu maksudku." Ucapnya menunjuk Kirana.

"Tapi Kirana, pernahkah kau bertanya-tanya mengapa dia bisa seperti itu? Mengajar di usia muda."

"Elizaveta ku sayang, kumohon. Kita hampir terlambat."

"Tapi jawab aku dulu, my sweet sweet Kirana."

Kirana menggeram tertahan, "Tidak. Dan aku akan tanyakan nanti khusus untukmu."

"Jangan kesal begitu, nona. Ingatlah kita terlambat juga bagian dari kesalahanmu."

"Kita tak akan terlambat jika kau mempercepat laju mobilmu bagai orang gila seperti hal yang wajib kau lakukan tiap pagi."

"Kukira kau tidak mau lagi dihadiahi jari tengah tiap pagi."

"Tentu saja, tidak," Kirana memijat pelipis kepalanya, "Kumohon buat pengecualian saat kita akan terlambat untuk ketiga kalinya minggu ini. Aku telah terlambat 2 kali di pelajaran nyonya Anne minggu ini, dan itu berturut-turut."

"Bagus, kita terlambat bersama."

Brengsek. Satu kata yang Kirana teriakkan dalam hati. Gadis itu menahan dirinya untuk tidak menarik rambut temannya dan meneriakkan kata-katanya.

"Sialan, Elizaveta." tidak, bukan dia yang berbicara. "Kau tidak tahu bagaimana konsekuensi yang aku dapat saat aku terlambat." Michelle yang berbicara.

Sementara Lily hanya tertawa paksa. Gadis di sampingnya benar-benar berniat membuat mereka semua terlambat.

"Aku rasa kau benar-benar harus menaikkan laju mobilmu," Bella melirik jam yang terletak apik pergelangan tangannya, "8 menit sebelum kelas dimulai."

"Apa kau melakukan ini secara sengaja?" Kirana bertanya pada gadis di depannya.

Elizaveta tersenyum. Kirana sudah tahu jawabannya tanpa gadis Hungaria itu repot-repot berbicara.

"Apa karena kami tiap harinya menyindir soal kecepatan gilamu?" Bella dengan cepat menyambar.

Mereka tidak menyindir sebenarnya, hanya berkata pada sang gadis Hungaria untuk menyetir selayaknya gadis kuliahan dan tidak membuat hal pertama yang mereka dengar di pagi hari dari orang asing adalah umpatan. Oh, dan sebuah fakta bahwa mereka telah ditilang setidaknya 4 kali adalah sebuah alasan mengapa mereka menyuruh sang gadis Hungaria berhenti.

"Itu wajar, kan? Kau menyetir bagai orang gi–" Michelle seketika berhenti merasakan tatapan panas dari ketiga temannya, membuat gadis itu dengan spontan membenarkan kalimatnya. "Maksudku, terkadang menjadi cepat itu penting di saat seperti ini."

"Kumohon, Eli." Lily memohon pada gadis di sampingnya, kedua matanya seketika membesar diikuti dengan kedua iris birunya yang juga menjadi mengkilat.

Itu cukup setidaknya untuk Elizaveta untuk menyerah, menekan gasnya kuat-kuat dan dengan lincah menyalip jajaran mobil di depannya. Berbagai umpatan terdengar, jari tengah berbaris dengan apik mengiringi jalan mereka.

Sementara Kirana hanya dapat tertawa dalam hati. Pagi yang tenang nan biasa memang tak pernah ada di kamus miliknya.


Pojokinfo

(1): OC

Kirana jurusan geologi

Elizaveta jurusan matematika

Michelle jurusan sastra Inggris

Lily jurusan ekonomi

Bella jurusan politik


Pojok kata

Halo? Apa itu pantas diucapkan? Atau maaf? Maaf karena bukannya update malah remake. Bagaimana, ya cara saya menjelaskan? Eummm… #garukpipi menurut saya unperfect love yang itu tuh benar-benar buruk. Saat saya baca ulang, saya malu sendiri. Dan saya mikir lagi, saya aja berpikir kaya begini, apalagi para pembaca. Pendeskripsian saya benar benar buruk, saya sadar–dan saya gak tahu apakah ini lebih baik.

Saya memaklumkan aja bagi para pembaca yang bilang kalo saya bukan penulis yang konsisten dan malah mengecewakan pembaca kaya gini, maaaaaaaffff…. Maafin sayaaa…

Saya bahkan gak tahu apakah pas di remake jadi tambah bagus atau sama aja, atau bahkan tambah buruk.

Tapi bagi mereka yang ngerti dan tetep setia, terima kasih banyak. Kalian gak tahu apa yang kalian lakukan itu benar-benar berharga.

Dan untuk menebus semua kesalahan saya, saya membuat fic ini langsung dipublish 3 chapter.

Review?

Follow?

Favorite?

Atau bagi yang mau baca aja juga boleh, kok. Tapi baca chapter-chapter selanjutnya, ya

Muehehehehe

With all sweetnes that Kirana have,

Kai.