Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.


Mungkin, jika berbicara soal asa, hal terbaik untuk dibahas adalah tentang bagaimana meninggikannya kembali, membuat dada kembali penuh akan ia, apalagi jika kita punya lebih banyak waktu daripada yang lain.

Atau, mungkin tentang semangat. Bahaslah hal yang sama.

Sayang sekali, pembahasan bukanlah hal satu arah; monolog. Lawan bicara Erzsi, ia yakini dengan pasti, sedang tidak bisa membantunya. Dari tempat duduknya di sudut agak ke depan, Gilbert yang berada di arah jam delapan darinya, hanya bertiga di meja bundar miliknya, kelihatan lebih benci suasana daripada Erzsi sendiri.

Estetika dari sebuah pertemuan multilateral terletak pada di mana tempatnya berada, serta apapun yang disuguhkan sebagai penghiasnya, namun selebihnya, mengundang sakit kepala. Mulai dari interupsi, ketidaksetujuan, walk out, perdebatan, semuanya membuat seolah pertemuan ini sia-sia.

Dari mana bisa dapat asa dan semangat, kalau begitu?


Erzsi melihat Gilbert memberikan uang tip pada seorang bell boy di persimpangan selasar menuju ke lift. Kemudian, ketika ia mengejar lelaki itu, pintu lift telah tertutup. Ia hampir saja mendesah kesal sebelum sadar bahwa sebenarnya motifnya tak begitu penting, tak ada yang perlu disesali.

Erzsi kembali ke aula utama, hampir-hampir tak ada yang tersisa di dalamnya. Ia hanya mengambil earpiece yang biasa ia gunakan untuk berkomunikasi dengan asistennya atau orang-orang penting di negaranya, yang ia tinggalkan di dalam case untuk komputer tabletnya. Setelah memasangnya kembali di telinga kirinya, ia pergi ke ruang makan.

Perempuan itu mengambil menu seadanya, sosis dengan roti Italia dan beberapa potong onion ring, lalu menaruk sesendok salad di ruang kosong kecil piringnya. Ia bergabung dengan Elena, Sophie, dan Isabeau yang beruntung sekali mendapat tempat tepat di samping dinding kaca besar. Beruntung, obrolan pengisi makan siang mereka berkisar di seputar mode, agenda-agenda baru di rumah Sophie yang melibatkan beberapa orang desainer muda yang baru naik daun dari berbagai penjuru dunia, kemudian Isabeau yang mencoba memasak resep-resep baru, dan kisah Elena yang berhasil memanjat tebing sebuah bukit di tempat yang—entah mengapa—ia rahasiakan di Eropa Timur. Semua itu membuat Erzsi sedikit lebih bergairah. Akhirnya ada hal lain selain politik dan ekonomi!

Saat ia mengambil smoothie untuk hidangan penutupnya, di situlah ia melihat lagi sosok Gilbert, sedang menyeka sudut bibirnya, beranjak dari meja yang sama dengan Matthias, Yao, Berwald, dan Jett. Seolah dipanggil, mata mereka bertemu. Gilbert mengangkat alisnya, dan Erzsi dengan gerakan autopilot melangkah ke sana.

Mereka melakukan salam yang biasa, sebuah hai dengan tinju pada bahu.

"Rasanya sudah lama sekali." Erzsi menyeruput minumannya. Rasa arbei dan susu membasuh bau bawang dari lidahnya dengan cepat. "Aku melihatmu."

"Sepertinya sudah jadi kebiasaanmu, mengamatiku diam-diam." Gilbert sepertinya sedang menahan tawa. "Budapest baik-baik saja?"

"Mengalir seperti legato. Aku masih mencintainya seperti biasa."

"Dan kehidupanku di Berlin seperti staccato." Gilbert mengantongi saputangan kelabunya. "Ah, entahlah. Sedikit berharap Ludwig tak menyeretku ke sini."

"Tapi tempat-tempat seperti inilah yang membuatmu tetap ada." Tak sempat Erzsi selesai bicara, Lovino, Louis, dan Leon berlalu. Kemudian secara spesifik ia mengedikkan dagu ke arah Lovino. Tanpa penjelasan lebih lanjut, saat Gilbert mengikuti pandangannya, ia tahu lelaki itu mengerti.

"Aku masih merasa kagum kau sekarang semakin mampu melihat hal-hal baik di antara segalanya."

"Baiklah, kuanggap itu pujian."

Gilbert mengangkat bahunya.

"Kamarmu di lantai berapa?"

"Sembilan belas." Gilbert lantas menelengkan kepala. "1904."

Mata Erzsi seperti bercahaya tiga kali lipat lebih terang. "Demi Tuhan! Aku di 1903!"

Gilbert tergelak sesaat. "Ha, tipikal orang modern, tidak kenal tetangga sekitar!"

"Hampir tiga hari dan aku baru tahu. Seharusnya aku iseng membuka pintu penghubung sejak hari pertama."

"Aku hanya tidur di hari pertama. Meninggalkan kamar pada pukul empat pagi di hari kedua, baru kembali pukul sebelas malam. Aku punya banyak agenda di luar."

"Tidak sekamar dengan adikmu?"

"Oh, tidak, dia menginap di kedutaan. Ada beberapa hal yang harus ia selesaikan di sana."

Kemudian dunia mereka sunyi sesaat. Sudah semakin menjauh dari hiruk-pikuk ruang makan.

Erzsi menelengkan kepala, kedua bibirnya untuk sesaat begitu rapat. Ia melangkah, dengan sengaja membenturkan bahunya dengan bahu Gilbert, dan di detik itu ia berbisik, "Mungkin dini hari, pintu penghubung."

Saat ia sudah menjauh, ia menoleh lagi, Gilbert memandang ke arahnya, lelaki itu mengangguk.

#

* legato: istilah dalam musik saat not dimainkan atau dinyanyikan secara berurutan dalam satu waktu
* staccato: not yang dimainkan secara 'terpisah-pisah'/berjarak


a/n: so guys, it's another multichap! kalo kalian tanya apakah per chapter itu linimasanya berurutan, i could not answer it exactly tbvh ... so aku ngga bilang bahwa plotnya linear ataukah maju-mundur, itu tergantung interpretasi kalian aja! dan mungkin akan ada beberapa adegan yang sureal, so bear with it please heehee.

aku bikin ini, terinspirasi dari pengalaman perjalanan beberapa waktu lalu. makanya isinya 'cuma' tentang hotel dan jalan-jalan. nanti bakal juga ada puisi di tiap awal chapternya, puisi-puisi itu kutulis saat di sana atau pas perjalanan pulang, so this piece is so memorable for me.

tempat tujuanku waktu itu like a north and south in a package. a hectic urban life; kaca besar yang memperlihatkan traffic tanpa henti dan keramaian, tapi keluar area kota sedikiiiiit aja, bakal nemuin tempat yang 'alam banget'. jadi aku berharap kalian bisa merasakan titik-titik yang kukunjungi, kuamati, kuhayati waktu itu. sekaligus aku juga pengen mengabadikan momen selain dalam bentuk jepretan-jepretan di hp hehehehehehehe