WARNING: IMPERIAL PAIR AND BL, AND OOC.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Episode 1: Liburan Musim Panas

Liburan musim panas telah tiba. Laki-laki berkacamata itu sedang duduk terdiam di mejanya, menatap buku yang ia baca. Terlalu berkonsetrasi dengan bukunya, sampai ia terbangun kaget karena bunyi dari mesin elektroniknya. Ya, telepon genggamnnya berbunyi. Laki-laki itu mengangkat telepon genggamnya.

"Tezuka di sini"

"Ahn, Tezuka."

Ketika mendengar suara itu, Tezuka dengan spontan sudah mengetahui siapa orang yang meneleponnya.

"...Atobe…untuk apa kamu menelepon kemari?"

"Ah, ore-sama ingin bertamu ke rumahmu. Kapan kau punya waktu?"

"... ha?"

Begitu ceritanya bagaimana Atobe berakhir di rumah Tezuka, lebih tepatnya di kamarnya.

"... untuk apa kau kemari?"
Tezuka bertanya kebingungan mengapa Atobe tiba-tiba saja ingin mengunjunginya. Perasaan tidak enak itu pun mulai muncul.

"ehem... jadi belakangan ini aku ada sedikit masalah... "

"... hnnm?"

Tezuka mengernyitkan dahinya. Tidak biasa bagi Atobe untuk menemui masalah.

Akhirnya Atobe menceritakan masalah yang telah dihadapinya. Ternyata ayah Atobe menyuruhnya untuk mempelajari cara hidup yang sederhana dan menjadikan itu sebagai pelajaran dalam hidupnya.

"... souka... "

"Hanya kau yang bisa membantuku Tezuka, jadi jika keluargamu membutuhkan bantuan, heh... Ore sama siap membantu."

"...ah"

Tezuka hanya menghela napas setelah mendengar masalah temannya. Kemudian Tezuka pun mengajak Atobe ke dapur. Ini pertama kalinya Atobe melihat dapur yang sangat sederhana. Di sana, mereka disambut oleh Seorang wanita, yang tidak lain adalah Ibu Tezuka.

"Ah Kunimitsu, kau membawa temanmu kemari?"

"Ah iya, dia Atobe, dari Hyotei."

"Oh, rivalmu itu ya?"

"Ahn, kita ini teman baik, bukankah begitu, Tezuka?"

"...Atobe, kau harus lebih sopan sedikit."

Wanita itu hanya tersenyum karena merasa anaknya ternyata memiliki seorang teman yang memperhatikannya.

"Tidak perlu sungkan, ibu keluar membeli sesuatu dulu ya. Kamu temanilah temanmu ini ya. Jaga rumah ya Kunimitsu."

"ah."

Kemudian Tezuka pun perlahan melihat ke arah dapur dan melihat kembali ke arah atobe secara bergantian.

"Atobe... katanya kau ingin mempelajari kesederhanaan hidup kan? Kalau begitu, kau bisa mulai dengan menyiapkan makan siang mu sendiri."

"Ahn… kamu pikir aku tidak bisa membuat makanan sendiri ya, Tezuka? Hmm, kalau begitu lihat saja kemampuanku Tezuka. Aku tidak kalah loh dengan koki bintang 5."

Kemudian dengan cepat, Atobe mengambil pisau yang terletak di atas meja dapur itu, dan memotong lobak yang ada di dalam keranjang.

"... "

Tezuka hanya terdiam karena merasa pertanda buruk yang akan datang menghampiri.

Ya, ternyata benar saja. Baru saja ia membuka kompor, kemudian terdengar suara ledakan yang besar di kediaman rumah Tezuka pada saat itu. Dapat dipastikan tidak ada yang tewas di dalam sana.


Laki-laki berambut coklat itu pun sedang berbaring di tempat tidurnya. Ia termenung ketika mengingat kejadian memalukan yang dilakukan oleh temannya itu, sampai akhirnya telepon genggamnya berbunyi.

"Tezuka di sini."

"Ahn Tezuka,"

Belum Tezuka menjawab apa-apa, ia sudah bersiap-siap untuk mematikan teleponnya.

"Hei, jangan dimatikan dulu. Ada hal yang ingin kubicarakan."

Begitu kata temannya. Tezuka pun meladeni 'sahabatnya' itu.

"... apa yang ingin kau bicarakan?"

"Aku ingin mengundangmu ke rumahku, anggap saja sebagai pengganti kerusakan yang terjadi di rumahmu kemarin. Bagaimana?"

"...hah?"

Begitu lah bagaimana Atobe tiba-tiba datang ke rumah Tezuka dengan Limousin miliknya. Tezuka dengan sangat terpaksa harus mengikuti Atobe. Sesampainya di kediaman Atobe, Tezuka melihat sahabatnya itu sedang melihat jadwal yang akan ia lakukan selanjutnya. Ya, bath time.

"Hei, Tezuka, kau boleh mandi dahulu. Aku akan menunggu. Karena habis ini, kita bakalan bersenang-senang."

Tezuka seperti biasa, tidak menjawab dan akhirnya membawa handuk beserta baju ganti ke dalam kamar mandi. Tezuka, tidak dibekali pengetahuan tentang bath tub yang mewah, tidak tahu tombol mana yang harus ditekan.

"... hnnnmm"

Ia hanya melihat bath tub tersebut sudah disediakan air dan sabun mandi. Tezuka, tidak sengaja menekan entah tombol apa, sehingga ketika ia sedang berendam, tiba-tiba arus air bathtub menjadi aneh.

"hmmmm?"

Tezuka berusaha menghentikannya, tetapi malah memperburuk keadaan dengan menekan tombol yang salah.

"... U-uahh!"

Begitulah akhirnya bagaimana laki-laki berambut coklat itu tiba-tiba keluar dari bath tub dengan hanya bermodalkan handuk yang dilapisi di tubuhnya. Sampai akhirnya air sabun meluap dan membasahi lantai kamar sahabatnya itu. Untungnya, orang tua Atobe tidak membesarkan masalah ini. Kabar Tezuka? Ia terlalu larut dalam trauma sehingga ia memutuskan untuk pulang.


"Ne Tezuka, bagaimana kal-"

Beep

Belum selesai lelaki itu berbicara, Tezuka telah mematikan teleponnya. Kemudian telepon itu berdering kembali.

"...Maumu apa Atobe?"

"Oi, beraninya kau memutuskan panggilan ore-sama."

"Bagaimana kalau kita berbicara saja dari telepon?"

"Kau ingin membicarakan apa?"

"Kita rival lama, tapi aku tidak tahu sama sekali tentang keseharianmu. Apa yang biasanya kau lakukan? ceritakan saja tentang dirimu. Aku ingin mendengarnya."

"... mengapa kau ingin mengetahuinya? lagi pula ini akan menjadi cerita yang mem-"

"Tentu saja tidak membosankan."

Sambil menghela napas, Tezuka akhirnya menceritakan kesehariannya yang menurutnya tidak begitu penting kepada sahabatnya itu.

"Baiklah kalau begitu. Kebiasaanku di rumah hanya membaca buku, latihan, dan memberi makan ikan koi milik kakekku. Kemudian aku akan membantu ibuku melakukan pekerjaan rumah dan menulis jurnal setiap harinya. Itu saja."

"Hmmmmm, katakan Tezuka...Kau sudah pernah merasakan apa itu jatuh cinta?"

"Atobe... kenapa kau bertanya tentang itu?"

"Hanya ingin tahu reaksimu saja."

"Bukankah kau lebih expert daripada aku?"

"Hahahaha, kau sungguh tidak asyik. Nee Tezuka... aku ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."

"hmnn?"

"Aku... menyukai seseorang."

"Kemudian?"

"Aku menginginkannya. Tetapi, sepertinya dia tidak menginginkanku."

"... kau sudah bertanya kepadanya?"

"Belum, jika aku bertanya kepadanya..."

Tiba-tiba saja ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ia terdiam, seperti sedang berusaha memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati, sampai ia mendengar suara sahabatnya itu.

"hmmm?"

"Bisa-bisa aku tidak bisa meneleponnya.."

Tezuka terkejut mendengar hal itu. Ia terkejut karena seorang Atobe bisa jatuh cinta juga. Tentu saja ia tidak mengungkapkannya lewat kata-katanya. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.

"Souka..."

Reaksi itu membuat keheningan selama beberapa detik. Dan tetiba Atobe dengan nada cukup kesal, membalas reaksi Tezuka.

"Reaksi macam apa itu?"

"..."

Bukan Tezuka namanya jika ia memberikan reaksi berlebih. Tetapi bukan karena sengaja. Hanya saja, ia tidak tahu harus membalas apa, karena kurangnya pengalaman dalam menghadapi topik cukup serius ini.

"Nee Tezuka... bagaimana kalau kita bertemu besok? Di kafe langgananku? Aku akan menjemputmu."

"Besok aku harus melakukan latihan, bagaimana kalo lu-"

Belum saja perkataannya habis, Atobe telah memotong kalimatnya.

"Aku tidak terima penolakan, Tezuka. Oke sudah kutentukan, besok aku akan menjemputmu, sampai nanti."

"Tungg-"

Atobe telah memutuskan sambungan teleponnya. Tezuka yang kebingungan itu hanya dapat menghela napas lagi. Yang ia bisa lakukan hanyalah setuju kepada rencana besok yang bahkan masih terlihat abu-abu. Ia hanya berharap sahabatnya itu dapat datang menjemputnya dengan kondisi yang normal.


Halo!, Maaf jika agak sedikit pendek dan OOC, :"). Sekiranya ada review, silahkan XD.