Bab 2 : Di rumah Izuna

-Bandara Iwagakure-

"Maksudnya apa ini? Main kirim orang aja ke tempat jauh tanpa diantar!" Keluh Sakura sedari tadi, tepatnya sejak dia meninggalkan rumahnya dan menuju Bandara dengan naik taksi.

Ini udah larut malem! Kenapa biarin anak gadis sendirian ke luar malam-malam! Mana ke negeri tetangga, lagi! Mendadak lagi, untung aku pernah buat paspor! Sakura menginjak-injakankan kaki ke lantai keramik Bandara.

"Minimal ke dianterin ke Bandara, kek! Kalau aku diculik atau apa gimana? Mereka santai banget!"

"Kamu sudah besar! Sudah 20 tahun! Kau harus coba apa-apa sendiri, mandirilah! Dasar anak manja!" Sakura mengulang kata-kata ibunya di batinnya saat di rumah tadi ketika ia mengeluarkan keluhannya dengan muka cemberut.

"Hu-uh, tapi ibu, besar sih besar. Tapi kan tetap saja aku khawatir, ini kan pertama kalinya aku naik pesawat terbang." Alasan sama yang dia katakan kepada ibunya.

"Ibu dan ayah gak mau tahu! Pokoknya kamu harus pergi sendirian! Ibu dan ayah sibuk, tahu!"

"Katanya! Sibuk apa sih? Paling juga mesra-mesraan! Hu-uh! Ortu gak inget umur, gini nih!"

"Bla bla bla bla..!" Sakura terus-menerus mengeluh di bibir dan juga batinnya. Tetapi walau begitu tubuhnya tidak diam, Sakura menitipkan koper satu-satunya ke bagasi pesawat, kini dirinya hanya menenteng tas selepang kecil berisi benda-benda penting yang harus dibawa kemana-mana seperti : Ponsel, dompet, obat mabuk kendaraan dan sebagainya. Diapun menunggu pesawat siap di gate khusus yang tertera di boarding pass atau tiket miliknya yang telah ibunya pesan dan berikan padanya. Ia tidak boleh sembarangan menunggu di gate lain, harus menunggu di area gate yang tepat karena nantinya dia akan masuk ke pesawat hanya melalui pintu ini. Itu kata ibunya sewaktu di rumah. Sakura mengikuti intruksi-intruksi dari ibu dan bapaknya untuk naik pesawat dengan patuh, tapi sepanjang menunggu waktu pesawat terbang siap, Sakura terus mengeluh sendirian karena dia kesepian.

Tiba-tiba suara pemberitahuan pesawatnya siap terdengar dari speaker di Bandara.

"YEY! Akhirnya! Udah lelah nunggu, nih!" Dengan girang Sakura bangkit dari duduknya di kursi tunggu dan berjalan memasuki pesawat terbang.

-Bandara Konoha-

"Mana Izuna? Ibu bilang dia akan jemput aku di Bandara?" Sakura celangak-celingukan mencari Izuna.

"Aku gak nemu dia, ah~ Padahal aku lelah. Mana koper ni ruwet lagi, berat pula. Duduk aja dulu ah, istirahat!" Sakura menyeret kopernya menuju sebuah kursi tunggu di Bandara. "Telpon dia aja ah, untung saja ibu memberikanku nomor ponsel Izuna. Aku juga udah pasang kartu SIM baru."

Rrrr! Rrrr!

"Lama sekali, ayo angkat telpon, Izuna! Huammm.." Kata Sakura dengan mulut menguap yang ia tutupi dengan tangan kiri sementara tangan lain menempelkan ponsel di telinga.

-Rumah Izuna-

Bak! Bik! Buk! Taaar!

"Hentikan memukuli samsak di luar halaman, Sasuke! Berisik sekali subuh-subuh begini! Aku tidak bisa tidur dan aku habis begadang tadi malam!" Protes pria 20 tahunan dengan wajah mengantuk di beranda rumah yang pintu geser trandisional jepang telah terbuka, memperlihatkan pria seumurannya sedang sibuk latihan memukul dan menendang tanpa perlengkapan sarung tangan tinju.

"Berisik kau, Obito! Jangan ganggu aku latihan! Lagipula itu salahmu kenapa kau memilih main game sampai kelamalaman!" Bentak Sasuke.

"Iya, kau seharusnya menghentikan kebiasaanmu itu, Obito. Hanya buang-buang waktu dan tidak menyehatkan." Sambut suara di belakang Obito, diapun menoleh dan mendapati pria dengan rambut kuncir di bawah leher sedang duduk santai di sofa ruang keluarga dengan meminum kopi. Tangan lainnya memencet remot TV untuk menonton berita pagi.

Lokasi mereka bertiga saat ini sedang berada di ruang keluarga yang mempunyai pintu terhubung ke beranda kecil di luar rumah, di halaman.

"Ugh, Itachi! Jangan ceramah di pagi buta begini!" Keluh Obito dengan menutup kedua telinga. "Lagipula peduli apa, kau? Kau kan hanya peduli pada diri sendiri!"

Itachi meneguk kopi hangatnya dengan elegan. "Kau benar Obito, aku tidak peduli padamu. Hanya mau mengatakan basa-basi di pagi hari." Balas Itachi tenang.

Obito menggeram jengkel. "Grrr! Dasar cowok egois satu ini!" Dia menjatuhkan tangannya dari telinga dan kini terkepal di belakang tubuhnya.

"Ada apa dengan kepalan tanganmu itu, Obito? Apa kau menantangku?" Itachi mengatakannya tanpa melepaskan pandangan dari berita di TV.

"Hah?! Bagaimana kau tahu?! Aku kan menyembunyikan kedua tanganku di belakang punggungku!"

"Oh?! Ternyata kau memang mengepalkan tanganmu kepadaku, ya." Ini sebuah pernyataan. "Beraninya.." Wajah Itachi berubah dingin.

"AKH! Kau menipuku, Itachi!"

"Dasar bodoh!" Ejek Sasuke yang mendengarkan pembicaraan Itachi dan Obito. Dia ingin kembali dengan latihan tinjunya tapi suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya lagi.

Riiiing! Ringgg! Ringgg!

"Ponsel siapa ini ada di atas meja?" Itachi mengangkat ponsel yang berdering dari atas meja kaca kecil di depan ia duduk.

"Mana aku tau!" Balas Obito dengan wajah sedikit lega.

Yes! Perhatian Itachi teralih! Aku tidak mendapat hukuman! Sorak girang Obito di dalam hati.

"Pasti milik Si bodoh sejati itu! Dia memang pelupa!" Hina Sasuke kesal.

"Hm.. dari nomor tidak dikenal. Sejak kapan Izuna punya kenalan baru? Obito?" Itachi penasaran dan melihat ID si pemanggil.

"Aku gak tau!" Balas Obito lagi.

"Kau memang tidak pernah tau apa-apa, Obito." Itachi menghela nafas malu. "Dasar pria tidak berguna."

"Hei!"

"Apa yang bisa kau andalkan dari dia, Itachi? Dia kan memang hanya tau game saja!"

"Berisik kau, Sasuke!"

"Siapa yang berteriak? Siapa yang berisik? Bo~doh."

"Kau benar, Sasuke. Dia memang bodoh gak ketulungan." Itachi setuju.

"Hei, kalian berdua! Jangan seenaknya membicarakan hal buruk di depan muka orangnya! Minimal di belakangku, kek!"

"Aku membicarakanmu di belakangmu." Sasuke yang berada di belakang Obito membenarkan.

"Dan aku bukan di depanmu, tapi di sampingmu dengan kau berdiri menghadapkan pinggang kananmu ke arahku." Itachi melanjutkan.

Kriik! Krikk!

"Ugh! Kalian berdua hanya mengejek aku saja kerjanya! Ah, sudahlah! Masa bodoh! Pusing aku! Aku mau tidur!" dengan langkah frustasi dan kesal Obito melangkah keluar ruang keluarga menuju kamarnya.

"Dasar bodoh." Ejek Sasuke lagi sementara Itachi terkekeh geli atas tingkah Obito.

"Bisakah kalian tenang? Subuh-subuh sudah bertengkar. Ada apa dengan Obito tadi?" Izuna yang baru saja berpapasan dengan Obito muncul di pintu ruang keluarga.

"Oh, pagi Izuna. Tadi kami-"

Riiing! Riing! Riing!

"Ponsel itu mengganggu sekali, angkat saja panggilannya, Itachi!"

"Ah! Itu ponselku! Kucari-cari dari semalam!" Izuna panik dan berlari ke Itachi. Itachi memberikan ponsel di tangannya ke Izuna.

"Aku lihat tadi itu dari nomor tidak dikenal, kau punya kenalan baru, Izuna?" Itachi penasaran.

"Aku tidak yakin." Izuna menerima panggilan di ponsel dengan bunyi 'tit!'. "Halo? Ini siapa ya?"

"Izuna? Ini kamu? Ini aku, Sakura Haruno! Teman sejak kecilmu dulu!" Ucap suara dari ponsel. "Aku ada di Bandara Konoha sekarang, bisa kau menjemputku, Izuna?"

"EH?!" Setelah mendengar suara di ponsel, Izuna sangat terkejut. Dengan terbata-bata dia mengulang nama teman sejak kecilnya sedari bayi sampai kelas 3 SMP, tetangganya juga dulu.

"Sa.. Sakura.. Haruno..?!" Izuna mengatakannya dengan nada terkejut dan tidak percaya.

Izuna sangat terkejut, karena dia tahu gadis ini bisa membawa dampak besar kepada dirinya. Karena itu pula Sasuke dan Itachi di sekitarnyapun bereaksi.

"Jadi.. 'Wanita itu' benar-benar serius akan pertunangan ini ya? Dan dia bergerak cepat." Komentar Itachi. Dia mengabil cangkir kopinya dan meneguk lagi.

"Cih!" Decih Sasuke. Ia kembali keluar rumah dan menuju samsaknya. Dia menendangnya sekuat tenaga. "Aku akan menghancurkan cewek itu jika dia benar-benar datang ke sini, Izuna!" Ancam Sasuke dengan mendelik tajam kepada Izuna yang bisa ia lihat dari tempat Sasuke berdiri.

"Sasuke!" Izuna berusaha mencegah.

"Diam kau, Si bodoh sejati! Kau sudah menyadarinya.."

BUAKKK!!

Satu pukulan penuh amarah ke samsak dari Sasuke.

"Aku sangat membenci Sakura Haruno!" Raut wajah Sasuke penuh amarah seperti pukulan-pukulannya kini, dari nadanya yang menusuk-nusuk juga dia sebenarnya tidak usah menebak. Sasuke memperlihatkan kebenciannya secara terang-terangan. Lagipula dari segala fakta apapun, Izuna sudah lebih tau tentang Sasuke maupun Itachi, Obito dan 3 orang lainnya. Sangat tau. Seakan mereka adalah dirinya sendiri.

Izuna menarik nafas dan mengeluarkannya untuk menenangkan diri.

Izuna membuka mulut ketika ia sudah tenang. "Apapun itu.. Sasuke." Izuna menatap wajah Sasuke dengan berani. "Aku akan melindungi Sakura darimu," kemudian dia juga menatap Itachi. "Dari kalian semua." Lanjutnya.

Izuna kembali menempelkan ponsel di telinga.

"Hei, Izuna! Kenapa kau diam saja sejak tadi? Kau masih di sana?" Sakura terdengar bingung. "Kapan kau mau menjemputku? Aku sudah ngantuk nih!" Rengek Sakura.

"Ah, Sakura? Aku akan ada di Bandara sebentar lagi, tolong tunggu sebentar."

"Oke, kutunggu. Bye Izuna!"

"Bye!" Izuna menutup panggilan dan keluar ruangan tanpa sepatah katapun untuk bersiap-siap menjemput teman sejak kecil yang merangkap sebagai tunangannya kini.

Keheningan melanda ruang keluarga setelah Izuna pergi.

Sasuke meninju samsak. "Ck! Lihat saja! Akan kuhabisi Si bodoh itu juga!!"

Sementar Sasuke melampiaskan amarahnya ke samsak, Itachi menyeringai secara terang-terangan.

"How interisting. This is gonna be fun." Komentar Itachi.

Bersambung...