Hujan baru saja reda menyisakan bekas-bekas tetesan dibumi, beberapa jalanan telah tergenang oleh air, orang-orang yang semula meneduh mulai keluar dari persembunyiannya, aspal-aspal jalan terlihat sangat licin para pengendarapun menurunkan kecepatan laju kendaranya. Naira berjalan di keramaian bersama dengan orang-orang yang tak dikenal menyusuri jalanan beraspal yang kini menimbulkan bunyi gemerincik air saat sepatunya tanpa sengaja menginjak genangan air yang tak dalam.

"Aiish.." Keluhnya setiap kali pakaian yang ia kenakan terciprat oleh air, entah karena ulahnya sendiri atau terciprat oleh orang lain. Kakinya berhenti melangkah disebuah halte bus, Naira melihat jam yang tertera di smartphone pukul 09.10 matanya menoleh kearah jalur bus yang biasa melintas namun tidak ada tanda-tanda bus tersebut akan datang, sepertinya jalanan yang licin membuat sebagian kendaraan terjebak macet.

Alfian masih berada disebuah cafetaria ditemani dengan segelas coffee panas, dari kepulan asapnya yang terlihat sepertinya itu baru saja disajikan.

"Cake red velvet white chocolate with cheese" Ucap salah seorang pelayan yang membawakan sebuah cake kearahnya. Alfian menatap bingung kearah pelayan tersebut, seingatnya ia tidak memesan sebuah cake

"From me to you" Ucap pelayan itu lagi yang melihat wajah bingung Alfian.

"Gua udah sering bilang kalo gua gak suka kue ini rasanya sangat aneh" Ucap Alfian menjauhkan kue tersebut darinya. Pelayan tersebut menatap pasrah tapi tetap berusaha untuk membuat pria didepannya itu memakan kue tersebut.

"Dan lu lebih aneh dengan buku-buku yang lu baca, mana ada pria jaman sekarang yang membaca buku seperti itu."

"Kate Shut up! Aku datang sebagai pelanggan bukan temanmu, kembalilah bekerja" Balas Alfian dengan tegas kearah pelayan yang ternyata adalah temannya. Kate menghembuskan napas pasrah, ia tahu ini tidak akan berhasil dan akan berakhir dengan pria tersebut yang duduk berjam-jam dengan buku dan coffee tanpa memakan apapun.

"ini free..." Ucap Kate menyodorkan kue itu kembali kearah Alfian.

"... kau tahu kan berapa gajiku disini? Jadi makanlah walau hanya sedikit, jangan membuatku membuang-buang gajiku dengan percuma!" Ucap Kate lagi masih tetap berusaha.

"Baiklah, kue ini akan habis tak bersisa nanti jadi kembalilah bekerja" Balas Alfian pasrah. Kate tahu kalimat itu hanya sebuah penghiburan sementara agar ia tak memaksanya lagi, Kate pun berjalan menjauh dari mejanya saat seorang pelanggan diseberang memanggil.

Bus yang Naira naiki melaju melambat, jalanan yang basah membuat roda bus menjadi licin. Naira berdiri didalam bus tangannya memegang tiang penyangga bus agar ia tetap berdiri seimbang dan tangan yang lainnya fokus mengusap layar smartphone layaknya masyarakat metropolitan pada umumnya. Satu persatu para penumpang turun menyisakan dirinya dengan beberapa remaja dan seorang ibu muda dengan anaknya, Naira akhirnya pun duduk dibangku samping pintu setelah beberapa saat ia berdiri. Matanya memperhatikan pemandangan di luar jendela, beberapa tetes air hujan turun melewati jendela yang ia lihat. Bus kembali berhenti, ibu muda dan anaknya keluar bus digantikan oleh seorang pria berpakaian putih yang sekarang duduk disebelah Naira, ia menatap pria tersebut sekilas lalu kembali dengan dunianya sendiri

"Kau percaya TimeTraveler?" Tanya pria tersebut entah ditujukan kepada siapa. Naira tetap fokus dengan buku yang saat ini dipegangnya ia tak menggubris pertanyaan pria disebelahnya itu

"Bagaimana jika itu terjadi padamu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya pria itu lagi.

"Jika itu ada mungkin dunia akan kacau, atau.." Naira menjeda kalimatnya ia menatap pria tersebut dengan seksama, pakaian putih, kulit putih, rambut coklat, mata biru dan sebuah tas ransel hitam dari ciri-cirinya tersebut terlihat ia bukanlah warga asli sini, mungkin ia seorang turis yang kebetulan bisa berbahasa daerah sini

"... Jangan percaya dengan TimeTravel, mereka tidak pernah ada"

"Jika itu ada mungkin dunia akan kacau atau dunia akan menjadi lebih baik bagi orang yang menginginkannya" Pria tersebut tersenyum kearah Naira, seakan tahu apa yang ada didalam pikirannya

"Bahkan jika Doraemon itu memang ada, aku tetap tidak percaya dengan perjalanan waktu" Balas Naira tersenyum tipis kearah pria tersebut, ia melanjutkan kembali bacaannya yang sempat tertunda.

Kate masih bekerja dan teman lelakinya tersebut masih duduk dengan coolnya sambil sesekali menyesap kopi panasnya tanpa menyentuh sedikitpun kue yang telah ia bawakan, jika saja orang lain melihatnya mungkin mereka akan menganggap dia dan dirinya adalah sebuah pasangan kekasih tapi pada kenyataannya ia hanyalah temannya, Alfian tak pernah menganggapnya sebagai seorang kekasih atau mungkin hatinya telah terpaut oleh wanita lain. Alfian membalikkan halaman selanjutnya dari buku tersebut, sebuah cahaya dari luar menghalangi pandangannya ia berusaha melihat apa yang terjadi tapi yang terlihat hanyalah sebuah tetes hujan yang turun mengalir dari jendela ia menatapnya dengan acuh dan kembali fokus dengan bukunya. Sesaat kemudian bel pintu berbunyi menandakan ada seseorang yang masuk kedalam, seorang pria dengan pakaian putih masuk kedalam dan duduk di belakang meja yang diduduki oleh Alfian.

"Andai kamu bisa mengubahnya mungkin sekarang kamu bersamanya bukan disini duduk sendiri dengan buku-buku itu"

Alfian menoleh sekilas kebelakang tanpa peduli ia kembali melanjutkan bacaannya. Pria tersebut berdiri mengambil kursi disebelah Alfian ia menurunkan sedikit buku yang menutupi wajah Alfian dengan jari telunjuknya

"Aku tahu kau mendengarku, tidakkah kau ingin mencobanya?" Pria tersebut tersenyum manis kearah Alfian seakan mereka adalah teman dekat. Alfian hanya melihatnya acuh tak ada niatan untuk menjawabnya.

"Kuberi kau kesempatan, cobalah dan lihatlah keajaibannya" Ucap pria itu lagi seraya menyodorkan sebuah buku kearah Alfian, ia tersenyum kembali yang disenyumin justru menatapnya dengan aneh.

"Pergilah!" hanya kalimat itu yang keluar dari bibir tebalnya. Pria tersebut berdiri, tersenyum sekali lagi kearah Alfian sebelum akhirnya ia pamit, namun sebelum ia benar-benar pergi ia menghentikan langkahnya menatap pemuda itu kembali.

"Berhentilah menatapku dan pergilah!"

"Kau tahu satu keputusan yang kau ambil akan mengubah sebuah cerita di masa depan, setidaknya makanlah kue itu, mungkin itu akan mengubah ceritamu" Ucap pria tersebut akhirnya, mungkin itu adalah kalimat terakhir yang akan ia sampaikan kepada sahabatnya itu, ia pun pergi meninggalkan cafetaria menunggu sebuah bus namun sebuah siluet cahaya putih menghampirinya hingga tanpa ia sadari dirinya telah berada dijalanan beraspal.

Bus masih melaju meski beberapa jalan telah kering namun nyatanya rintik hujan kembali turun, Naira sesekali melihat pemandangan yang berada diluar jendela lalu kembali fokus dengan bukunya.

"Sepertinya buku ini sangat cocok untukmu" Ucap pria aneh yang ada disebelahnya, ia memberikan sebuah buku mirip dengan buku diary namun sedikit lebih tebal dan sedikit robek dibeberapa sisinya

"Tidak usah, aku sudah tidak menulis diary lagi" Tolak Naira sehalus mungkin

"Kau tidak percaya TimeTravel tapi masih membaca buku dengan cerita tersebut, kurasa kau masih menulis diary meski bukan di buku. Jadi kenapa tidak mencobanya" Ucap pria itu lagi masih dengan buku yang berada digenggamannya

"Baiklah, anggap saja kau sedang berbuat baik padaku. Aku akan menganggap ini sebuah utang, temui aku 3 hari lagi dan aku akan mengembalikan bukumu" Balas Naira mengambil buku tersebut dan menukarnya dengan id card miliknya. Pria tersebut tersenyum tipis, ia menoleh kesebelah kiri matanya fokus ke sebuah cafetaria yang dilewati oleh bus tersebut.

"Kau tahu, keajaiban bisa datang kapanpun. Ku anggap utang mu lunas, jika kau bisa mewujudkan keinginanmu yang sempat tertunda." Ucap pria tersebut tanpa menoleh kearah Naira.

"Apa maksudmu?"

"Setiap pagi pergi menggunakan bus turun didepan universitas, mampir ke sebuah perpustakaan hanya untuk membaca atau meminjam buku setelah itu kembali untuk mengajar. Bukankah itu sangat membosankan?" Ucap pria tersebut dengan smrik muka mengejek. Naira yang mendengar penuturan dari pria aneh disebelahnya tersenyum sinis kearah pria tersebut.

"Kuanggap utang mu lunas jika kau bisa memperbaikinya. Kesempatan tidak datang 2x Naira Good Luck" Pria tersebut menekan tombol merah yang ada di bus sebagai tanda bahwa dirinya akan turun dari bus tersebut, saat bus berhenti iapun segera bangkit menuju pintu keluar namun langkahnya terhenti sejenak, ia menatap gadis tersebut yang menatapnya dengan aneh

I trust you, Naira Dalam hati ia sangat bahagia meski tatapannya seakan mengisyaratkan kekhawatiran

Siapa pria ini? Bukankah dia terlalu mencampuri urusan orang lain, bagaimana juga dia bisa tahu keseharianku dan...

"Hei.. bagaimana kau tahu nama ku?" Teriak Naira disela-sela jendela

"Takdir"

"Pergilah ke cafe dan minumlah secangkir kopi, kau akan tahu seperti apa takdir itu" Balas pria tersebut, tersenyum sangat manis kearah Naira. Bus pun berjalan kembali menuju halte selanjutnya

"Takdir dia bilang" Naira mengernyit

"Cafe? Kopi? Aiish.. i don't like coffee" Protesnya seorang diri.

Alfian membalikkan kembali halaman bukunya sesekali ia menyesap kopi panasnya yang ketiga, matanya sangat fokus membaca setiap kalimat didalam buku tersebut meski sesekali ia melirik kue dan buku yang diberikan oleh pria tersebut, hatinya memintanya untuk mencobanya sedangkan pikirannya menolak segala hal yang diucapkan pria tersebut. Namun nyatanya ia justru mengambil sedikit potongan kue dan mulai memakannya, keningnya mengernyit kala kue tersebut masuk kedalam mulutnya.

"Coffee ketiga dan buku keempat, haruskah saya menyiapkan coffee kelimamu, tuan? Sindir Kate saat ia menghampiri temannya tersebut. Belum sempat Alfian memprotes rasa kue yang Kate berikan ia sudah mendapat sindiran darinya.

"Good idea, siapkan 10 menit lagi" Balas Alfian akhirnya tanpa melihat wajah kesal Kate.

"Apa kamu tidak punya kerjaan? Jika kamu ingin menunggunya setidaknya tunggulah ditempatnya bukan disini. Dia bahkan tidak pernah ke cafe ini walau hanya sekali" Ucap Kate kesal. Alfian tahu ia tidak akan pernah menemukan wanita itu disini dan iapun tahu dimana wanita tersebut berada, hanya saja sanggupkah ia untuk meminta maaf kepadanya, atau minimal menatap wajahnya.

"Kau tahu sesuatu hal yang mampu membuat kita tetap bertahan?" Tanya Kate, pertanyaan yang sudah tak asing lagi bagi Alfian dan tanpa diminta untuk menjawabnya Kate akan menjawabnya seorang diri.

"Harapan. Namun sayangnya banyak orang yang tidak tahu kalo harapan bukan hanya yang selalu kita ucapkan..." Kate menjeda kalimatnya, ia mengambil bolpoin yang berada ditangan Alfian dan sebuah buku yang berada disebelah kue yang ia berikan kepadanya, iapun mulai menulis sebuah kalimat didalam buku tersebut.

"...Tapi adakalanya harapan tersebut perlu kita tulis untuk melihat seberapa besar kita berusaha untuk menggapainya". Jelas Kate, Alfian hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju ia mengambil bolpoinnya dan menulis sesuatu di sebuah kertas yang ia sobek dari buku tulisnya yang kosong. Kate menunggu apa yang Alfian tulis dan setelahnya ia hanya menatap Alfian tajam wajahnya memerah menahan amarah

"KAU SANGAT MENYEBALKAN ALFIAN!" Teriak Kate akhirnya sebelum ia pergi dari meja temannya tersebut.

I agree but timeout. give me coffee, please . Tulisan Alfian yang membuat Kate berteriak kearahnya, Alfian hanya menggaruk kepalanya bingung, apa ada yang salah dengan tulisannya.

Sebuah kupu-kupu cantik melintas melewati cafe tersebut, kalimat yang barusan Kate tulispun tampak bersinar bersamaan dengan itu suara bel pintu masuk berbunyi, seorang wanita masuk kedalam cafe ia menuju ke meja pesan

"2 Cappucinno" mendengar suara yang tak asing ditelinganya Alfian menghentikan aktifitasnya, secara reflek iapun menoleh kearah sumber suara dan betapa kagetnya saat ia tahu siapa wanita yang ada di meja pesan tak jauh dari tempatnya duduk

Naira gumam Alfian disela-sela keterkejutannya

I wish Alfian met Naira here. –Kate