-9 He is Alfian-

"Siapa dia?"Tanyaku kearah teman yang duduk disebelahku.

"Yang mana?"

"Yang dipojok"

"Cewek atau Cowok?"

"Cowok"

"Yang mana?"Aku mendesah pelan kearah lain mendengar jawaban darinya.

"Lupakan"Ucapku akhirnya, beranjak pergi meninggalkan kelas sembari menunggu bel pulang sekolah.

Bruk

Bel berbunyi bertepatan dengan diriku yang tengah berdiri diambang pintu membuat kumpulan siswa melewatiku tanpa permisi begitu saja, beruntung diriku tidak sampai terjatuh kelantai.

"Kamu tidak apa-apa kan?"Tanya seorang siswa menghampiriku ia mengamatiku yang masih sibuk sendiri

"Santai aja"Balasku akhirnya menoleh kearah pria itu, aku menangkap wajah pria yang sempatku tanyakan namanya beberapa menit yang lalu

"Sorry gak sengaja"Ucapnya menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi. Aku mengangguk sebagai jawaban

"Woi, ayo pergi yang lain udah nungguin"Ajak seorang teman yang ditujukan untuk lelaki didepanku. Ia tersenyum kearahku sebelum akhirnya pergi, tatapanku masih terfokus pada lelaki tersebut meski lelaki itu berjalan semakin menjauh

"Siapa dia?"Tanyaku seorang diri

"Dia Alfian"Ucap seorang dibelakangku

"Aku pernah sekelas dengannya dikelas satu dan sekarang sekelas lagi"Ucapnya lagi kini sembari merangkulku. Aku masih diam ditempat dengan fokus pandangan yang masih sama

"Jangan terlalu dekat dengannya"Ucapnya namun kali ini berhasil membuatku berpaling dari lelaki itu"Maksud kamu?"Tanyaku

"Dia memang tampan tapi bandel. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana temannya"Jelasnya sembari menunjuk kearah teman-teman lelaki yang bernama Alfian. Aku mengikuti arah tatapannya Benar, itu kumpulan anak-anak bandel. Tapi salah jika kita hanya menilainya dari luar.

"Don't judge a book the cover"Ucapku kearahnya, sembari melepaskan rangkulan dan pergi dari tempatku berdiri

"Naira! Aku serius, jika kamu tidak ingin terkena masalah ikuti saranku"Serunya terdengar samar ditelingaku.

"... Jika kamu tidak ingin terkena masalah ikuti saranku"

Alfian berlari dengan sekuat tenaga terlihat dibelakang beberapa pria tengah berusaha mengejarnya, ini masih pukul 10 malam dan ia sudah harus berlari seperti ini anggap saja olahraga malam tapi tidak ada olahraga yang menampilkan wajah babak belur seperti dirinya. Beberapa orang yang ia lewati hanya melihatnya tanpa ada yang bertanya 'kenapa' bahkan sebagian dari mereka menatapnya acuh seakan berkata 'itu bukan urusan gua'

"Ah.. sial"Umpatnya saat ia mulai merasakan nyeri diarea wajah. Larinya mulai perlahan, ia melihat kebelakang pria-pria itu masih mengejarnya meski tertinggal jauh Gua bisa ketangkep kalo kayak gini Ucapnya dalam hati. Matanya mengamati sekitar mencari tempat persembunyian yang cocok namun tidak ada ruang untuknya bersembunyi.

"Sial"Umpatnya lagi, rasa nyeri itu semakin kian terasa dan seakan telah menjalar keseluruh tubuh. Ia menghentikan langkah, mengambil napas dalam-dalam untuk meredakan rasa nyeri tersebut entah itu berhasil atau tidak setidaknya ia harus mencoba

Bugh

Sebuah tendangan tepat mengenai punggungnya membuatnya tersungkur keaspal jalan, ia mengerang kesakitan namun sangat pelan dipaksanya mendongak melihat orang-orang itu.

"BANGUN! CUMAN SEGINI KEMAMPUAN LU!"Gertak seorang pria yang menendangnya

Alfian bangkit menatap mereka dengan tajam "Pengecut"Ucapnya memalingkan wajahnya

Bugh

Satu pukulan telak mengenai wajahnya, terlihat sebuah darah keluar dari sudut bibir. Seperti telah hilang rasa sakit Alfian justru tersenyum kearah mereka

"APA? PENGECUT?KAMU PIKIR KAMU HEBAT!"Gertak pria yang lain

"Benar kalian bukan pengecut, tapi PECUNDANG!"Balas Alfian berusaha melepas cengkraman pria itu

"APA KAMU BILANG?!"

"Hanya pecundang yang tidak berani sendiri, seperti kalian"Ucap Alfian sarkas tersenyum meremehkan kearah pria itu yang telah memerah wajahnya

"Kamu salah bermain-main"Balas pria itu, ia menggerakkan tangannya seakan memberikan instruksi kepada temannya yang lain

"Game over"Ucap pria itu menjauh dari Alfian. Sedangkan temannya mulai melakukan serangan demi serangan kepadanya

Ia membolak-balikkan tubuhnya berkali-kali, entah sudah berapa kali gadis itu melakukan aktifitas yang sangat mengganggu tersebut. Diliriknya jam beker miliknya pukul 9 malam seharusnya dirinya telah terbang kealam mimpi namun malam ini entah kenapa ia tidak bisa tidur. Berkali-kali ia berusaha memejamkan mata namun tidak berhasil membuatnya tertidur.

"Ayolah tidur! Aku sangat lelah, apa kamu tidak lelah"Omelnya seorang diri, menarik selimut lebih dalam menutupi seluruh tubuhnya. Detik berikutnya ia membuka selimutnya kembali mengambil napas banyak-banyak

"Aku tidak bisa napas"Ucapnya. Iapun mengambil ponsel yang berada tak jauh dari tempatnya berbaring, membuka aplikasi permainan yang berada didalamnya berusaha membuat matanya lelah agar ia bisa tertidur.

Biib

Sebuah notifikasi masuk tepat saat matanya hampir terpejam "Huft.. hampir aja tidur, ganggu aja"Gumamnya dalam hati. Niat hati ingin mengabaikan pesan tersebut namun matanya yang sempat melihat sang pengirim iapun tanpa sadar membacanya.

Buku sosiologi aku gak ada, sepertinya kebawa sama kamu coba dicek

"Gak ada di aku. Ngapain juga aku bawa-bawa buku sosiologi dia"Ucapnya seakan memberi tahu kepada sang pengirim pesan

Biib

Hanya berselang beberapa menit pesan kedua masuk masih dari pengirim yang sama, gadis itu bangkit dari tempat tidurnya menggerutu kesal kepada pengirim tersebut iapun berjalan kemeja belajarnya mencari buku yang dimaksud oleh si pengirim.

"Gak percaya banget deh, mana mungkin aku bawa-bawa bukunya. Mending kalo ada jawabannya paling isinya kosong"Omelnya sembari mencari buku tersebut.

Kriing..kriiing

Teleponnya berbunyi, seorang dengan nama Senga manis muncul dilayar ponselnya. Ia segera mengangkat telepon tersebut meminimalisir kebisingan terlebih lagi ini sudah hampir pukul 10 malam "Halo"Ucapnya sepelan mungkin

Coba cek buku sosiologi kamu itu atas nama siapa? Tanya orang diseberang telepon

"Hah? Maksudnya ketuker? Mana mungkin"Balas gadis itu masih dengan nada pelan

Cek dulu! Suruh orang diseberang telepon. Gadis itu hanya menghela napas pasrah mengikuti suara bariton lelaki diseberang telepon tersebut, ia mengambil buku yang cukup tebal dari dalam tasnya. Dibukanya sampul dari buku tersebut tertera sebuah nama yang bukan kepunyaanya

"Kok bisa?"Tanyanya heran

Kemarin aku salah ngambil hehe Balas lelaki itu

"Terus gimana? Balikkin besok aja deh"

Jangan! Aku lagi butuh buku itu, kita ketemuan aja Balas lelaki itu segera

"Ini udah malam"Ucapku logis

Atau aku kerumah kamu aja? Tanyanya ragu

"GILA!"Pekikku seketika mendengar pertanyaannya, beruntung kamarku dan orangtua cukup jauh sehingga tidak begitu terdengar jika aku sedikit berteriak

"Oke ketemuan di coffeebreak, aku tunggu disana"Ucapku akhirnya setelah menimang-nimang

Seorang lelaki dengan jaket hitam dan sebuah topi hitam tengah berjalan kearah sebuah coffeebreak tempat dimana biasa orang berkumpul untuk beristirahat atau hanya sekedar mengobrol bersama teman-teman menghabiskan malam. Setelah memesan sebuah kopi iapun duduk disalah satu bangku yang tidak jauh dari pintu, tangannya sibuk dengan benda pipih sesekali ia melihat kearah pintu masuk

"Lama banget. Ini juga kenapa chat gak dibalas"Omelnya seorang diri.

5 menit ia masih menunggu

10 menit

15 menit

Ia akhirnya memutuskan keluar dari coffeebreak, hatinya mengatakan jika ada sesuatu yang salah. Diteleponnya nomor gadis itu namun tidak diangkat membuatnya semakin khawatir ditambah lagi pesannya tidak dibalas bahkan belum dibaca, terakhir kali pesannya memberitahu bahwa ia sedang dijalan tapi sudah 15 menit orang tersebut belum juga tiba. Lelaki itu berlari kencang menuju rumah gadis itu, berharap jika hatinya memberikan sinyal yang salah.

Aku berjalan dengan langkah lebar menelusuri jalanan, ini sudah pukul sepuluh lewat memang masih ada beberapa orang diluar hanya untuk sekedar nongkrong tidak jelas. Bagaimanapun aku tetaplah seorang wanita dan aku takut jika orang-orang itu melakukan hal yang aneh kepadaku.

"Yaampun, Hp aku ketinggalan"Ucapku saat menyadari bahwa aku hanya membawa buku, kuputuskan untuk melewati gang kecil agar cepat sampai tanpa membuat lelaki itu menunggu terlalu lama namun sebuah suara ribut-ribut membuatku berhenti dipertengahan. Ragu, antara tetap melanjutkan atau kembali ke jalan awal

"Brengsek! Aku gak mau ngelakuin itu lagi"Ucap suara seorang lelaki terdengar seakan menahan luka

Aku seperti mengenali suara itu tidak asing ditelinga, kucoba mendekat kearah sumber suara tersebut, kulihat kumpulan lelaki yang tengah berdiri dengan seorang lelaki lain yang tengah terkapar tidak berdaya. Ada banyak luka dan darah ditubuh bahkan bajunya

lelaki itu..

..Dia Alfian

Aku berbalik mencari pertolongan namun belum jauh berlari suara sirene terdengar mendekat kearah lokasiku saat ini, mendengar itu mereka berhambur pergi meninggalkan Alfian sendiri disana. Waktu yang tepat untukku menolongnya namun langkahku kembali terhenti saat kulihat seorang lelaki berjaket hitam dan bertopi hitam mendekati Alfian yang sudah tidak berdaya

Apa dia akan membunuhnya, tidak mungkin. Dimana pihak kepolisian? Sirenenya terdengar sangat dekat tadi Ucapku dalam hati berkecamuk antara mendekat atau tetap diam ditempat. Lelaki berjaket itu mencoba memapah tubuh Alfian sepertinya ia memang ingin membantunya Dia siapa? Kenapa dia membantu Alfian? Tanyaku dalam hati.

Lelaki itu menoleh seakan tahu jika aku memperhatikannya sedari tadi, aku mundur selangkah secara reflek. Ia tak mendekat ataupun berkata hanya menatapku dari balik tudung jaketnya, semenit kemudian iapun kembali memapah Alfian berjalan menjauh dari tempatku

Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa lelaki itu, karena penerangan yang minim dan iapun memakai jaket juga topi aku hanya melihat garis bibirnya yang tidak asing bagiku

Aku terlihat sama seperti kalian?

Tidak. Kalian hanya tidak tahu sisi gelap yang selalu kututupi

Dan kau, bisakah kau menjauh?

Jangan mendekat terlebih lagi masuk kedalamnya

Karena aku tidak ingin kau terlibat masalah karenaku -Alfian-