disclaimer © King
warning mungkin semi-canon, berpotensi OOC, salah genre, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, adanya plothole.
submitted to #NulisRandom2020
catatan author cuman sebuah teori tragis mengapa Milly dan Tiffi bisa-bisanya kembar padahal mereka berdua beda spesies, haha. Enjoy!


"Hei, Milly …."

"Ya, Tiffi?"

"Menurutmu, apa kita memang benar-benar saudara?"

"Tentu saja!" Milly bersyukur dia mampu membaca pikiran saudaranya. "Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Seperti tidak mungkin. Aku manusia, dan Milly itu putri duyung. Bagaimana kita bisa menjadi saudara kembar?"

Ekor Milly mengepak-ngepak lembut. Dia memejamkan matanya agar bisa lebih fokus mendengarkan suara benak Tiffi. Tentu saja Tiffi dapat berbicara, tetapi alat bantu pernapasan di air menutup mulutnya. Tiffi sendiri tak berhenti memandang Milly dengan rasa penasaran. Mereka berdua sama-sama berusia delapan tahun, usia anak-anak yang selalu ingin tahu akan banyak hal.

"Tapi aku percaya kita kembar, wajah kita mirip. Apa Milly tahu di mana orangtua kandung kita? Papa Toffee sangat baik tapi Papa Toffee bukan papa kandungku. Apakah mereka sebenarnya juga duyung?"

Milly membalikkan badannya, membelakangi Tiffi. Sepasang kepangan rambut cokelatnya bergerak-gerak mengikuti aliran air.

"Milly ...? Ah, aku lupa! Aku harus membantu Papa Toffee di tokonya. Aku akan kembali besok dengan membawa banyak permen!"

Mendengar suara Tiffi yang tak tersampaikan, Milly menoleh ke arah Tiffi. Saudara kembarnya sudah mulai berenang ke permukaan, dengan tangan melambai sebagai bentuk ucapan sampai jumpa lagi. Biasanya Milly akan menemani Tiffi sampai ke permukaan, tetapi kali ini Milly bergeming di dasar lautan, menyaksikan kepergian Tiffi hingga tak terlihat bayang-bayangnya.

"Aku minta maaf, Tiffi. Aku tidak bisa menjawabnya."


Candy Town, sesuai dengan namanya, adalah salah satu kota berafilisiasi Candy Kingdom yang sangat terkenal akan beragam jenis permen lezat. Akan tetapi, sekalipun harganya terjangkau, keluarga Milly terlalu miskin untuk membeli ataupun membuat sendiri. Kedua orangtuanya adalah buruh kasar yang selalu bekerja keras namun hanya diberi sedikit uang. Sehebat apa pun kerajaan, tentu saja pasti ada kemiskinan dan kriminalitas yang tak diketahui—dan keluarganya terjebak di sudut dunia yang gelap itu.

"Milly!"

"Astaga, Tiffi! Kamu itu masih sakit!" hardik Milly.

"Maaf, habisnya aku tak mau Milly bekerja sendirian," tanggap Tiffi dengan cengiran.

"Tapi kalau kita ketahuan, kamu akan sulit berlari, Tiffi." Milly menggeleng. "Aku harus mengantarmu pulang. Istirahatlah di rumah, kalau sudah sembuh baru kamu boleh kembali bekerja."

"Aaaahhh, Milly …." Tiffi merengut kecewa, namun tak melancarkan protes. Dia tahu betapa khawatirnya saudara kembarnya sekarang. "Baik, ayo kita pulang."


"Milly, aku sangat ingin pergi ke pantai …," lirih Tiffi. "Bersama Milly, Papa, dan Mama."

Milly mengulas senyum. "Kalau Tiffi sudah sembuh, kita pergi ke pantai bersama, yuk! Kita bisa membuat istana pasir atau bermain dengan ombak!"

"Sungguh?"

"Tentu!"

"Milly …."

"Hm?"

"Itu janji kita, 'kan?"

"Ya, maka dari itu, kamu harus sembuh, Tiffi saudaraku!"


Sekali dalam hidupnya, Milly pernah menerima beberapa bungkus permen dari seorang paman penjual permen, dan itu adalah rasa luar biasa yang tak bisa Milly lupakan saat mencoba satu. Paman itu begitu baik, padahal jelas-jelas Milly sudah berusaha mencuri uang dari tokonya, dan nyaris dihajar orang-orang yang berhasil menangkap si gadis kecil.

"Bagaimana rasanya?" tanya paman itu sembari menuangkan teh ke dalam cangkir di depan Milly.

"Luar biasa, Paman!" Milly mengangguk mantap. Meski begitu, kentara sekali penyesalan di matanya. "Aku ... minta maaf untuk yang tadi."

"Tidak apa-apa, jangan sedih. Kamu pasti juga tak mau melakukan itu, 'kan? Paman mengerti." Pria berambut cokelat itu mengusap lembut kepala Milly. "Ambil keranjang ini lalu bawa pulang semua permen yang kamu mau."

"Su-Sungguh? Aku boleh ...?" tanya Milly. Pertanyaannya tak sempurna terucapkan karena tak menyangka.

"Tentu. Kamu bisa membawa apa saja dan sebanyak yang kamu inginkan." Kedua iris Milly memantulkan senyum lawan bicaranya. "Di mana rumahmu?"

"Di sudut kota, Paman. Aku punya orangtua dan adik kembar." Tersadar akan kalimatnya sendiri, Milly buru-buru bangkit dari posisi duduknya setelah melihat jam. "Astaga, sudah malam! Aku harus pulang! Terima kasih, Paman!"

"Tunggu—ah, sampai jumpa lagi, Anak Manis! Kunjungi saja Paman Toffee ini kapan pun kamu mau!"


"TIFFI! TIFFI! AKU MOHON, BANGUNLAH!"

Dengan Tiffi yang berada di atas punggungnya, Milly berlari ke mana saja untuk mencari bantuan. Sudah puluhan dokter yang Milly temui, namun tak ada di antara mereka yang bersedia menolong. Milly meringis, mengapa tidak ada yang mau menolong mereka hanya karena tidak memiliki uang? Adiknya ... adiknya terluka!

"Tiffi ... hiks ... bangun ... banguuuuuuuuuun …."

Sesekali Milly menoleh ke belakang, memastikan Tiffi masih aman dan baik-baik saja. Milly bisa merasakan napas Tiffi yang lemah dan putus-putus. Stamina Milly sudah mencapai batasnya, dia sangat lelah dan benar-benar ingin berhenti, tetapi tidak! Sekalipun orangtua mereka tak meminta, sejak awal Milly sudah bertekad untuk melindungi Tiffi apa pun yang terjadi.

Saat pulang ke rumah, Milly menemukan kedua orangtuanya bersimbah darah. Entah siapa yang melakukan hal keji itu, Milly tak mendapatkan jawaban. Papanya sudah meninggal, sementara mamanya yang memberitahu Milly bahwa Tiffi disembunyikan di dalam lemari, sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Begitu Milly membuka pintu lemari, kondisi Tiffi sama seperti sekarang, tak sadarkan diri dan tak berdaya.

Milly merasa, ini adalah akhirnya.

"Savory ... Shore?" Milly terkejut. Perjalanan Candy Town menuju Savory Shore sangatlah panjang dan memakan banyak waktu, tetapi mengapa dia bisa segera sampai di sini? Ah, Milly tiba-tiba teringat janjinya pada Tiffi dan memilih untuk tak memikirkannya lebih lanjut. "Tiffi! Ini pantai! Kamu mau pergi ke pantai, 'kan?! Ayo kita membuat istana pasir, tapi kamu harus bangun dulu!"

Dunia Milly terasa membeku. Dada Tiffi berhenti naik-turun. Milly tak mampu merasakan apa pun dari Tiffi yang mulai kehilangan kehangatannya.

"Tidak ... tidak ... TIDAK! TIFFI!" Diguncang-guncangnya tubuh rapuh yang masih dalam gendongan itu. Tidak ada reaksi. "JANGAN TINGGALKAN AKU SEPERTI MAMA DAN PAPA, TIFFIIIIIII!"

"Saudaramu dapat kami selamatkan, asalkan kamu mau setuju dengan persyaratan kami."

Milly tidak tahu siapa yang tengah berbicara padanya, tetapi tatapannya lurus ke arah lautan. "Apa pun akan kulakukan untuk saudaraku yang paling kusayangi!"

"Kami akan menyelamatkannya, namun kami akan mengambil ingatannya, lalu kamu harus berpisah dengannya dengan menjadi putri duyung dan tinggal di dalam laut. Dia akan mengingatmu sebagai saudara kembarnya, tetapi tidak lebih dari itu. Bagaimana, Milly?"

Penawaran yang sangat berat dan menyiksa, tetapi Milly tak punya pilihan. Benar-benar kalut, Milly sampai tak mengacuhkan suara asing yang entah bagaimana mengetahui namanya. "Aku mau! Ji-Jika aku ... boleh meminta ... bi-bisakah engkau membawa Tiffi ... pada Paman Toffee?"

"Tentu saja, Milly."

Walau takdir harus memisahkan mereka, Milly bersyukur setidaknya dia mampu menjadi saudara yang baik.

"Semoga kita bisa bertemu lagi, Tiffi kesayanganku …."


tamat


~himmedelweiss 14/06/2020