Arc : Ksatria Hitam

Prolog :

.

.

.

.

Namaku Uzumaki Naruto. Teman-teman kuliahku dan orang-orang di tempat kerjaku memanggilku "Naruto". Aku mahasiswa tingkat tiga atau semester tiga di salah satu kampus di Tokyo, yang saat ini masih mengalami kehidupan masa mudanya.

Ada saat ketika aku melewati beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang pernah kulihat beberapa kali, ada juga yang belum pernah kulihat sebelumya mengatakan,

"bukannya itu Naruto ?",

.

.

Jadi aku tak tau seberapa jauh namaku dikenal orang lain.

.

Aku populer, katamu ?

.

Ahhh (menghela napas), jika berpikir demikian maka aku jawab langsung, seratus persen kalian salah ! .

Itu karena Namaku sedikit unik ?, aneh?, terserahlah kalian mau bilang apa, aku sama sekali tak peduli. Dan aku bersyukur diberi nama "Naruto", mungkin kedua orang tuaku sangat menyukai ramen. Mungkin saja namaku adalah sebuah tanda seperti, pengakuan cinta didepan kedai ramen, kencan pertama mereka di kedai ramen, atau saat melamar mereka ada di kedai ramen dengan akting ala-ala drama, lalu menyerahkan cincin dengan berlutut dan berkata, " will you marry me ?".

Sudahlah !, tak penting menceritakan sejarah namaku sekarang apalagi yang kukatakan dari tadi hanya delusiku semata, jadi jangan terlalu percaya dengan apa yang dikatakan orang, tanpa ada bukti.

Sebenarnya masih ada satu lagi, bisa jadi alasan terpercaya kenapa aku bisa dikenal banyak orang, itu adalah masalah masa muda yang pastinya akan dialami oleh semua orang yang pastinya termasuk aku sendiri, itu masalah cinta.

Kalau bicara masalah cinta, pastinya akan bersifat Universal jadi aku agak malas membicarakan ini, tapi aku sedikit bercerita tentang pengalaman cintaku.

Pertama kali aku berpacaran saat dibangku SMP.

Yah kalian tau lah pacaran ala-ala anak SMP, yah mesra-mesraan, pegangan tangan, suap-suapan. Naik tingkat yah ciuman sampai yah, SENSOR aja.

Tapi keperjakaanku bukan diambil oleh pacarku saat SMP, melainkan seorang perempuan yang terang-terangan meyebut dirinya sebagai "Sucubbus".

Setelah kejadian itu aku hanya mengingat bagaimana kami menghabiskan malam bersama, dimana aku yang sudah terbawa nafsu birahiku membuat tubuhku bergerak dengan sendiri memperatekkan apa yang telah kupelajari dari video dibeberapa situs SENSOR.

Aku sama sekali tak ingat bagaimana rupa Sucubbus itu. Dan satu lagi yang tak pernah kulupakan yaitu suaranya yang erotis. Bahkan saat sedang sedang bersama pacarku entah kenapa suara dari Sucubbus itulah yang terdengar di telingaku.

.

Pengalaman Cinta Saat SMA ?

.

Emmmmmm, jika aku ceritakan akan sangat panjang, aku kasih intinya saja, di SMA aku menjalin hubungan dengan gadis dari klan yang berbau spiritual, dan beberapa gadis penyihir dan satu kata yang bisa mewakili kehidupanku saat SMA, yaitu WILD.

.

.

.

.

Kita kembali. Ketopik sebelumya tentang masalah cinta, ya hanya itu masalahnya, PUTUS.

Aku diputusin pacarku yang udah jalan satu tahunan lah, bodo amatlah toh dia juga yang minta putus.

.

Eh !, siapa yang menangis, ini...ini debu, ya..hanya debu.

.

Tapi, untuk orang berpengalaman sepertiku move on itu hal yang mudah.

.

"aku menyukaimu, berpacaranlah denganku."

Seperti yang kali duga, ini pernyataan cinta.

.

Nama pacar baruku adalah Inaba Kuro-Chan (OC). Dia adalah seorang gadis dengan rambut hitam dan tubuh langing.

Dia sangat manis, sampai-sampai aku mengutuk diriku sendiri karena tak tau ada mahasiswi cantik sepertinya dan malah menjalin hubungan dengan gadis yang dengan selebar jidatnya memutuskan hubungan, dan kalau kuingat lagi aku tak pernah merasa puas saat bersamanya malahan dia selalu protes padaku saat betapa lamanya aku Or***me dengan perbandingan, 1:10.

Sebagai LELAKI normal aku langsung bilang "OK" setelah pengakuan cintanya.

Aku ragu dan berpikir apakah ini hanya candaan semata. Mengingat fakta bahwa mantanku lumayan populer, jadi mungkin saja Inaba Kuro merupakan salah satu temannya dan sedang terkena hukuman dari sebuah permainan. Sejenak aku dapat membayangkan bagaimana ekspresi yang menjijikan dari mantanku,

"SIALAN, DASAR BITCH!", raungku dalam benak.

.

.

Tapi setelah kami berpacaran selama satu minggu, aku melupakan pikiran negatifku itu dan hanya fokus pada kehidupanku sekarang. Ada saat dimana aku sedang berjalan mesra, Kuro-Chan dengan erat memelukku dari samping, aku berpapasan dengan mantanku ketika pandangan kami bertemu, yang kulakukan hanyalah tersenyum sombong padanya. Dapat kulihat dari ekspresi wajahnya yang kesal lau mempercepat jalannya meninggalkan kami.

.

.

.

.

Pada kencan pertama kita setelah mulai pacaran selama seminggu-

Aku sedang bersiap-siap, sebagai pria yang sudah memiliki pengalaman ini sangat mudah bahkan aku tak terlalu memikirkannya saat kencan pertamaku di SMA.

Aku tiba di tempat ketemuan kita sepuluh menit lebih cepat sebelum Kuro-Chan. Tak lama ketika Kuro-Chan tiba, dia mengatakan kalimat yang sudah sangat mainstream.

"Maaf, apa kau sudah menunggu lama ?"

"ngak, aku juga baru sampai kok." Jawabku sambil tersenyum.

Lalu kita berjalan sambil berpegangan tangan. Kita menikmati kencan kita dengan pergi ke toko pakaian dan melihat-lihat dekorasi yang terlihat lucu.

Untuk makan siang, kita makan di sebuah restoran keluarga dan menikmati parfait coklat ukuran jumbo dengan keterangan untuk pasangan.

Tak terasa hari sudah sore menjelang malam.

.

.

.

.

Kita berada di taman yang jauh dari kota, tak ada tanda-tanda orang, dan tak ada orang disini selain kita. Berkat itu, otak mesumku langsung terbangun.

Kuro-Chan sudah melepaskan tanganku dan dia berdiri di depan air mancur.

"hari ini sangat meyenangkan."

Kuro-Chan tersenyum saat ada air mancur di belakangnya.

Sialan!, dia manis sekali.

"hei, Naruto-Kun."

"ada apa, Kuro-Chan?"

"ada sesuatu yang ingin kulakukan untuk merayakan kencan pertama kita, maukah kamu mendengarkan keinginanku?"

Ah, ini dia !

...

Aku diam sejenak.

Apa aku boleh minta satu hal padamu dulu ?"

Aku berucap dengan tenangnya, membuah Kuro-Chan nampak bingung.

"tentu saja."

Jawabnya sambil tersenyum manis aku yang Mendengar jawabannya membuat otak mesumku langsung saja mengambil alih tubuhku, dengan cepat menarik Kuro-Chan kedalam pelukanku, yang ditarik merasa terkejut dengan tindakanku dan tetap diam dengan rona merah di pipinya yang menambah keimutannya.

"emmmmph...emmmmphhhhh", aku langsung menyambar bibir kecil pacarku menciuminya dengan intens tinggi.

Yang membuatku terkejut Kuro-Chan membalas ciumanku dengan tempo yang sama.

"emmmpphhh...engggggghh...ahhhhhhh...emmmmppphhhh...", bibir kami saling bergulat tanpa ciuman kami yang penuh nafsu birahi.

"hahhhhhhh...hahhhhhh...hahhhhhhh..", kedua bibir kami berpisah karena pasokan udara yang membuat napas kami tak teratur.

Kuro-Chan melingkarkan kedua tangannya di leherku dan berkata,

"maukah kau mati untukku ?"

"heh ? apa yang kau katakan?", seketika aku tak bisa mencerna perkataanya tadi.

"maukah kau mati untukku?", ucapnya sekali lagi, sambil tertawa.

FLAP

Sayap hitam muncul dari punggungnya.

Apa itu ? sayap hitam?

Yang ada dipikiran ku kini adalah ingatan saat bersama Sucubbus. Awalnya aku tak mempercayainya namun setelah melihat gadis dengan pakaian erotis dengan sayap mirip kelelawar akhirnya aku menyadari adanya kehidupan atau makhluk selain manusia. Aku juga semakin percaya ketika ikut dalam ritual pembasmian makhluk gaib bersama pacarku saat SMA. Jadi hal seperti sejujurnya tak membuat aku terkejut.

Apa yang membuatku terkejut dan hanya bisa diam membisu justru adalah perubahan sifat dari pacarku yang awalnya manis dan imut kini berubah.

Dari pandanganku pacarku cantikku mengepakkan sayapnya saat matahari terbenam di belakangnya. Ini terlihat seperti sebuah adegan dari cerita fantasy.

Matanya yang tampak manis dan indah berubah menjadi menyeramkan dan dingin.

"Sungguh menyenangkan. Waktu singkat yang kuhabiskan denganmu. Ini seperti bermain rumah-rumahan dengan anak kecil."

Suara Kuro-Chan terdengar sangat dingin. Nadanya seperti orang dewasa, mulutnya membentuk senyum dingin.

BUZZ

Sebuah suara jauh lebih berat daripada suara getaran konsol game ada di udara. Itu membuat banyak suara berdengung dan itu muncul ditangannya.

Seperti tombak.

Tombak yang bersinar ! seperti cahaya yang membentuk sebuah tombak.

HYU

Suara angin, sebuah suara jahat mengikutinya.

Kuro-Chan yang tidak kukenal berjalan pelan sambil membawa tombak bersinar kearahku. Aku masih berdiri diam membisu sampai sebuah suara kecil yang samar-samar menyadarkanku dari apa aku pikirkan sejenak. Itu Kuro-Chan.

"maaf, kau adalah ancaman bagi kami, jadi kami memutuskan untuk menyingkirkanmu sedari awal. Kalau kau ingin menyimpan dendam, maka bencilah Tuhan yang menempatkan Sacred Gear dalam dirimu."

...Sacred, apa...?

Aku pun tak bisa mengajukan pertanyaan karena Kuro-Chan sudah bersiap mengayunkan tangannya, siap melemparkan tombak bersinar itu padaku.

Dengan cepat aku menyilangkan kedua tanganku kedepan. Aku pun menyadarinya tindakanku ini akan berakhir percuma.

"berhenti sampai disitu, kau yang telah gugur."

Sebuah suara lembut namun terdengar tegas sampai kependengaranku dan Kuro-Chan yang lansung berhenti lalu kami berdua mengalihkan pandangan kami kearah langit, dimana seorang gadis dengan pakaian yang tak dapat aku lihat karena sinar sore hari namun dapat kupastikan sendiri, di belakalang punggung gadis yang melayang itu terdapat enam pasang sayap burung sama seperti membedakan hanya warnanya, jika sayap Kuro-Chan berwarna hitam. Gadis melayang tersebut memiliki sayap berwarna putih bersih.

"indah", tak sengaja aku mengeluarkan kalimat singkat namun pelan.

Kuro-Chan nampak tak suka dengan apa yang dia lihat, wajah dinginnya berubah menjadi wajah marah akan sesuatu dan berkata.

"geh...Four Great Seraphs...Gabriel!.'

.

.

.

.

TBC...

.

.

.

.

Next :

Chapter 1 : Bertemu Malaikat