Title

Saga of Naruto

Disclaimer

Not mine

Genre

Fantasy, Adventure

Rate

T+

Warning

OOC, AU, Isekai, Etc.

.

.

.

Chap 1 - New World, system game.

Menggerakkan tangannya dengan cepat, menarik tali busurnya hingga batas yang bisa ditariknya kemudian mengimbuhkan mana dengan porsi yang cukup pada anak panah sebelum akhirnya melepaskannya bertepatan dengan target belasan meter yang ditetapkannya menunjukkan celah.

Panahnya melesat menembus semak tinggi dan ranting pohon yang merunduk dan menancap pada tubuh babi hutan besar, binatang itu meronta dan sesekali menyundul pohon terdekatnya menyampaikan rasa sakit yang diterimanya sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dan roboh menimpa bunga tak berdosa yang baru saja mekar di dekatnya.

[Kamu membunuh Wild Boar]

[Kamu mendapatkan Exp 50]

[Skill Archery mendapat peningkatan]

Bunyi 'Ping' terdengar beberapa kali ditelinga si pemuda, dirinya merasakan sesuatu yang hangat masuk kedalam tubuhnya dan dapat dirasakannya kekuatannya meningkat sedikit.

"Status."

Naruto Uzumaki

HP : 190

MP : 190

Level : 9

Next : 250/1000

Coin : 3.000

Strength : 19

Stamina : 19

Agility : 19

Inteligen : 19

Vitality : 19

Skill

Passive

- Archery : low

- Sword mastery : low

- Dagger mastery : low

- Martial art : low

Active

- Throw Dagger : low

- Body strengthening : low

- Mana Arrow : low

"Baiklah cukup untuk hari ini."

Gumam si pemuda setelah puas melihat statistik miliknya. Melanjutkan lebih jauh juga tak mungkin karena hari sudah mendekati sore jika dirinya tak ingin mendapat interogasi dari penjaga gerbang desa dan hukuman sister Azuriya maka kembali sekarang adalah keputusan terbaik.

Tidak lupa dirinya segera menguliti Wild boar yang dibunuhnya tadi, memisahkan dagingnya menjadi beberapa bagian dan meletakkannya pada daun pisang yang sudah dia siapkan sebelumnya.

Satu jam kemudian setelah selesai dengan kegiatannya. Si pemuda segera mengucapkan 'inventory' dan sebuah gerobak kayu muncul dari penyimpanan yang dimilikinya.

Sang pemuda segera meletakkan daging wild boar kedalam gerobak dengan hati-hati kemudian menariknya kearah desa tempatnya tinggal.

.

.

Dua minggu lalu, Naruto Kurogane merasakan yang namanya kematian. Bukan karena faktor usia seperti yang diharapkannya tapi faktor mainstream seperti di novel-novel fantasi, mati tertusuk.

Semua bermula dengan dirinya yang baru pulang dari pesta perayaan ulang tahun teman sekantornya, dalam keadaan setengah mabuk dirinya yang telah berusia 30 tahun itu pulang ke apartemennya.

Dalam perjalanan pulangnya dirinya mendengar teriakan minta tolong seorang gadis yang kemudian dia ketahui adalah tetangganya. Mengingat dari SMP sampai perkuliahan dirinya mengikuti ekskul bela diri Judo, Karate dan Taekwondo Naruto dengan cepat mengenyahkan para berandalan yang berniat memperkosa tetangganya itu.

Namun yang disangkanya semua itu tidak lebih dari jebakan. Saat dirinya masih menghadap kearah larinya para berandalan, sang gadis Kikyou Kushida segera menusuk bagian belakang perutnya dengan sebuah pisau dapur.

Saat dirinya rubuh dan terbaring mencoba menghentikan pendarahannya. Kikyou segera menusuk perut berototnya berkali-kali, tatapan tak percaya dia layangkan pada gadis yang juga teman dari masa SMA itu.

'Apa ini karena aku menolak ajakan kencannya?'

Dan pandangannya menggelap pemuda itu hanya bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah mati.

.

.

Dua minggu lalu saat kesadarannya kembali Naruto Kurogane mendapati dirinya berada dalam wujud bocah berusia 14 tahun tengah berhadapan dengan seekor serigala sebesar sapi.

Ingatan yang bukan miliknya segera memasuki memori di kepalanya, dalam keadaan sakit kepala dirinya masih bisa menghindari terkaman serigala yang dari ingatan yang didapatnya adalah seekor Direwolf yang masuk kategori monster peringkat D.

Keadaan Direwolf sekalipun tidak terlalu bagus, ditubuhnya terdapat luka cakaran yang cukup dalam. Naruto menebak jika si Direwolf ini terlibat pertarungan dengan monster lain dan karena faktor ketidakberuntungan 'Naruto' bertemu dengan sang Direwolf.

Kembali ke kenyataan, Naruto segera melakukan gerakan tipuan dengan memainkan dagger ditangan kanannya. Dengan mengambil sebuah lompatan kebelakang dagger ditangannya segera dia lemparkan namun hanya bisa menggores kening si serigala cukup membuat sebuah luka dengan darah yang mengalir mengganggu pandangannya sebentar.

Namun seperti sebelumnya itu hanyalah pengalihan, dengan tubuh yang masih tersuntik adrenalin Naruto segera mengambil busurnya yang tergeletak tak jauh darinya, mengambil beberapa anak panah yang segera dia tembakan mengenai dua kaki depan Direwolf.

Melihat Direwolf dihadapannya sudah tak berdaya, Naruto segera mengambil anak panah lainnya dan dengan satu tarikan tali busur sekuat tenaganya, panah yang dilepaskan Naruto mengakhiri hidup Direwolf tepat di kening kepalanya.

PING!

[Kamu membunuh Direwolf]

[200 Exp didapatkan]

[Kamu naik level]

"Hah?"

.

.

"Seperti biasa hasil buruanmu selalu mengesankan, Naruto."

"Ahaha, paman terlalu berlebihan."

Naruto yang dengan seluruh tenaga yang dia miliki berhasil sampai ke desa bertepatan dengan malam yang akan tiba.

Andai bukan karena dirinya ingin menyembunyikan system yang menjadi kemampuannya, pastilah dia akan menyimpan gerobak beserta isinya didalam inventori miliknya.

Saat ini dirinya berada di didepan gudang penyimpanan makanan desa, daging wild boar yang didapatnya kemungkinan akan disimpan untuk diasapi dan baru dikeluarkan saat tertentu seperti perayaan atau dibagikan kepada kepala dan tetua desa.

Sedangkan bagi warga desa lainnya akan mendapat jatah daging dari hasil buruan pemburu lainnya. Memang selain Naruto diangkatannya ada tiga pemburu lain dan mereka lebih terspesialis dalam memburu ular cobra yang memiliki permata dikepalanya. Sedangkan generasi yang lebih senior darinya pun lebih mengkhususkan diri dalam memantau pergerakan para monster yang berada di hutan buas di balik gunung sebelah Utara desa.

Para pemburu juniornya sekalipun sesekali kembali dengan membawa beberapa ekor kelinci dan kelinci inilah yang dagingnya yang dibagikan kepada warga. Karena Naruto tinggal di panti asuhan milik Gereja sehingga makanan yang dikonsumsinya lebih ke sayur-sayuran hasil pemberian desa.

Ladang gandum dan sayuran yang terletak diluar desa sendiri merupakan kepunyaan desa yang dikelola langsung warganyadibawah pengawasan kepala desa. Setiap musim panen sebagian akan disimpan di gudang penyimpanan dan sebagian lainnya akan dijual ke kota terdekat dan hasilnya akan digunakan untuk kas desa.

Naruto segera pamit kepada paman yang merupakan tetua desa yang mengurus gudang, dirinya tak ingin mendapat teguran lagi karena kembali telat ikut makan malam.

Dalam perjalanan pulangnya dia tak sengaja berpapasan dengan dua orang remaja seusianya di pertigaan jalan, Naruto mengenali keduanya sebagai Kirito dan Eugeo. Naruto segera menyapa keduanya mengingat mereka memiliki Task berbeda sehingga mereka jarang bertemu bahkan di hari minggu sekalipun.

Akhirnya Naruto dan Kirito mengambil jalan searah sedangkan Eugeo mengambil jalan berbeda pula.

"Ngomong-ngomong Naruto, setelah upacara kelulusan nanti apakah kau berniat menjadi petualang?"

"Yah begitulah, Kirito. Dengan sertifikat pemburu dari desa masuk sebagai petualang bukanlah hal sulit."

Naruto lalu menanyakan mengenai niat Kirito dan Eugeo untuk menjadi Kesatria kerajaan belum berubah atau tidak. Menjawab pertanyaan tersebut, Kirito dengan mata berapi-api menjawab bahwa impian itu belumlah berubah.

Kerajaan tempat desa mereka berada bernama 'North Wind' seperti namanya, kerajaan ini terletak di Utara benua Fantasia. Kerajaan di wilayah Utara hanya dua selain North Wind ada Kerajaan Belzerg, walaupun dulu ada beberapa kerajaan lain namun semuanya mengalami kehancuran karena aktivitas monster yang meledak sedangkan yang tersisa berakhir diserap oleh kedua kerajaan ini.

Kirito dan Eugeo sama-sama mengambil Task penjaga, sehingga mereka menerima pelatihan pedang dasar sampai menengah oleh para seniornya berbeda dengan 'Naruto' yang belajar pedang secara otodidak, namun mengingat dirinya diajarkan memanah oleh para seniornya dia merasa itu adil.

Naruto mendengarkan bahwa rencana Kirito dan Eugeo setelah kelulusan Task nanti mereka akan mengikuti perekrutan prajurit di kota besar, meraih prestasi sebanyak mungkin kemudian naik pangkat setinggi mungkin.

Dalam hatinya Naruto tersenyum masam, mimpi Kirito dan Eugeo terdengar luar biasa namun baginya yang dikehidupan lalu bekerja sebagai pegawai kantoran dia menyadari itu adalah impian kosong. Kirito dan Eugeo terlalu berimajinasi tanpa melihat kenyataan.

Namun dirinya tak akan mengomentari hal tersebut karena pengalaman adalah guru yang baik, sehingga dirinya hanya berpesan agar keduanya berhati-hati karena rakyat biasa seperti mereka mendapat prestasi besar selalu mengundang keirian dari orang lain bahkan bangsawan.

.

.

Dua hari kemudian adalah hari minggu, waktu bagi seluruh warga untuk bersantai begitupun dengan Naruto. Remaja itu tengah memetik beberapa apel dari pohonnya yang tumbuh dibelakang gereja, dibawahnya ada Kirito yang memegang keranjang sambil sesekali menangkap buah yang dilemparkan olehnya.

Keduanya diminta oleh seorang sister muda yang merupakan murid dari pengurus gereja dan panti sekaligus teman masa kecil keduanya.

Alice Zuberg, putri sulung kepala desa Rulid, seorang pengguna sihir atau disebut sacred art oleh orang-orang. Yanh menurut Naruto lebih condong sebagai sihir roh, berguna untuk menyerang, bertahan, dan menyembuhkan. Bagaimana Naruto tahu? Terima kasih kepada system yang setiap kali Naruto memperhatikan Alice yang melatih sacred art-nya selalu ada notifikasi yang masuk dan menjelaskan apa yang terjadi.

"Apa sudah cukup, Kirito?"

"Ah, ambil dua lagi, Naruto. Yang itu tuh, sebelah kananmu."

Naruto tersenyum jahil tentu dia sadar maksud Kirito sehingga dia mengambil apel yang diminta kemudian turun dari atas dengan melompat.

Melemparkan satu buah apel kepada Kirito sedangkan satu lagi dia gigit. Rasa manis dapat dia kecap saat mengunyahnya, mengambil satu dua gigitan lagi Naruto menikmati rasa manis apel itu yang menyegarkan. Apalagi angin yang berhembus memberi nilai pada acara makannya.

"Kora kalian berdua."

Naruto maupun Kirito hampir tersedak kunyahannya saat gadis remaja berpakaian seorang Priestess dengan berkacak pinggang memelototi keduanya sambil mendekat.

"Y-Yo Alice. Ah, apel ini harus segera kuantar ke dapur ya. Ahaha"

Mata Naruto melotot kearah remaja berambut hitam yang segera membawa keranjang berisi apel dengan langkah cepat, jelas Kirito tak ingin merasakan omelan dari sang gadis.

Naruto berkeringat dingin mata blue sky milik Alice menatap tajam Naruto yang dengan susah payah melanjutkan kunyahannya.

"Apel yang ini lebih enak, kau mau Alice?"

Naruto menunjukkan apel yang tinggal separuh ditangannya yang dapat dilihat olehnya alis gadis pirang itu berkedut. Dari ingatan 'Naruto' yang dia terima, hubungan keduanya sangat baik bahkan ada 'janji lima tahun' yang dibuat keduanya saat berusia sepuluh tahun.

"Kau menawariku apel bekas gigitanmu, Naruto?"

"Hmm, yah siapa tahu kau makin cinta terhadapku setelah memakannya."

Naruto mengangkat bahunya suasana tegang yang sebelumnya membuat dirinya ketakutan telah menghilang. Tentu saja yang diucapkannya tadi itu bohong, itu cuma mitos yang diceritakan oleh para orangtua di dunianya dulu agar anak-anak mereka tidak sembarangan menerima makanan dari orang tak dikenal.

Krauk

Are, Naruto dapat merasakan hampa pada tangan yang dijulurkan kearah Alice. Matanya menjadi kosong tidak menyangka Alice akan memakan apel yang disodorkan olehnya.

"Aku baru tahu ada yang seperti itu."

Alice mengucapkan itu dengan wajah memerah, kedua matanya berbinar senang. Naruto menahan diri untuk tidak mencubit kedua pipi sang gadis karena tingkahnya yang imut.

Flag. Naruto akan menganggap dirinya telah menaruh flag terhadap gadis pirang didepannya. Entah karena kepolosan yang dia miliki atau memang 'hubungan'nya dengan 'Naruto' disini cukup spesial.

.

.

"Hora, makanlah dengan pelan. Masih banyak pie untuk dimakan."

Alice tersenyum lembut kearah anak kecil berusia tujuh tahun yang terlalu cepat memakan pie apel dipiringnya sampai belepotan.

Apel-apel yang diambil oleh Naruto dan Kirito tadi segera disulap Alice menjadi sebuah pie apel. Gadis itu sengaja membuatnya untuk para anak panti, dirinya ingat saat mengajak anak-anak itu berjalan-jalan di desa, mereka menatap lama pada toko penjual pie cukup lama.

Mengingat uang yang diberikan desa hanya cukup digunakan untuk biaya makan sehari-hari. Alice maupun sister Azuriya tidak bisa menggunakannya sembarangan, sehingga Alice memutuskan untuk berlatih membuat pie dirumahnya sebelum akhirnya membuatnya hari ini.

Mata biru sang gadis menatap remaja pirang jabrik yang memakan pienya dengan pelan. Sejak Naruto pulang beberapa minggu lalu dengan menyeret bangkai Direwolf, Alice merasakan perubahan secara samar. Naruto masih periang seperti biasa hanya saja beberapa kali Alice mendapatinya sendirian menatap langit dengan raut wajah sedih, entah apa yang dia renungkan.

Sebagai teman masa kecil, Alice tentu memiliki rasa sayang terhadap Naruto layaknya saudara. Namun akhir-akhir ini dirinya merasakan perasaan lain, dirinya tak ingin terlalu jauh dari Naruto bahkan hatinya terasa sakit jika si laki-laki pirang itu mengobrol dan bercanda dengan gadis desa lainnya.

Alice pernah menanyakan pendapat ibunya mengenai ini namun dia hanya mendapati sang ibu tersenyum dan tertawa kecil dan mengatakan untuk tidak terlalu memikirkannya.

Sang ayah yang kebetulan mendengarkanpun hanya bergumam-gumam tak jelas seperi 'oh anak ini punya nyali juga pada putriku' atau 'lihat saja besok bocah'.

"Alice, kau tak perlu menatapku seperti itu. Aku tahu aku tampan, saat menikah nanti boleh menatapku sepuasnya, huahaha."

Para anak-anak yang tengah makanpun bersorak gembira, mereka tentu menyayangi Naruto yang sudah seperti kakak begitupun perasaan mereka terhadap Alice, jika benar keduanya menikah maka itu adalah hal yang membahagiakan bagi pikiran mer ka yang polos.

Alice kembali dari lamunannya saat mendengar kalimat tersebut terucap dari mulut Naruto. Wajahnya segera memerah antara malu dan marah ingin dirinya melempar pie apel pada wajah Naruto yang tersenyum mengejek padanya namun dia urungkan karena keberadaan sister Azuriya. Sehingga dirinya hanya memberikan pelototan yang disambut tawa canggung Naruto.

Kirito sekalipun hanya tertawa canggung bersama sister Azuriya. Keduanya sama-sama mengerti jika Alice dan Naruto memiliki perasaan khusus diantara keduanya, bagi remaja desa seperti keduanya menikah diusia 15 tahun terbilang normal dan cukup umum.

Jika Naruto setelah kelulusan melanjutkan Task-nya sebagai pemburu dan Alice tetap menjadi asisten nya maka keduanya tidak perlu khawatir soal makanan dan tempat tinggal.

Namun Azuriya tahu, bakat Alice dalam sacred art sangat hebat. Akan sangat disayangkan jika dia tetap berdiam di desa kecil seperti ini. Begitupun dengan Naruto, anak itu telah menunjukkan bakat dalam penguasaan senjata terutama busur. Jika dia memutuskan menjadi petualang atau prajurit dalam singkat dapat memiliki posisi yang bagus.

Azuriya akan membiarkan segala keputusan pada keduanya, Azuriya sendiri telah menyiapkan surat rekomendasi agar Alice bisa melanjutkan pendidikannya di ibukota. Tentu saja hal tersebut tidak akan terjadi jika Azuriya tidak mengirimi surat kepada saudirinya yang berada di ibukota.

Pada akhirnya hari minggu berlalu dengan cepat masih ada dua bulan sebelum masa kelulusan yang akan dilakukan bersamaan dengan festival panen.

.

.

Sebulan terlewati Naruto melewati hari-harinya dengan memburu Wild boar di hutan. Kecepatannya dalam berburu membuatnya dapat menemukan Wild boar lebih cepat dari sebelumnya.

Merasa waktunya untuk kembali ke desa masih banyak, dia memutuskan masuk lebih jauh kedalam hutan berharap menemukan satu atau dua serigala untuk beberapa poin exp namun yang dicari tak kunjung ditemukan.

Naruto mengarahkan busurnya kearah semak-semak, dia yakin melihat tumbuhan itu bergoyang padahal tidak ada angin yang berhembus kearahnya.

Saat sesuatu yang menggerakkan semak-semak itu mulai terlihat Naruto hanya terbengong melihatnya.

Apa yang dilihatnya adalah makhluk berkulit hijau, bertubuh pendek, rambut panjang acak-acakan dan membawa gada dari kayu. Jangan lupakan wajahnya yang jelek.

"Krr."

"Hai, apa kau makhluk Mars?" Naruto tersenyum canggung, dikehidupan sebelumnya dia cukup menyenangi manga dan novel fantasi sehingga dirinya mendapat terhadap makhluk jelek didepannya.

"Kraa-"

Sebelum makhluk jelek didepannya mengeluarkan teriakan anak panah pada busur sudah terlepas mengenai keningnya.

[Kamu membunuh 1 Goblin gunung.]

[350 Exp didapatkan.]

[Kamu mendapatkan 'pemukul kayu'.]

Bunyi notifikasi yang familiar segera terdengar ditelinga Naruto. Dia mengelus dagunya merasa aneh saat makhluk jelek alias Goblin itu memberinya exp lebih banyak dari Direwolf yang dibunuhnya saat pertama kali sadar didunia ini.

"Ah sudahlah. Status."

Naruto Uzumaki

HP : 240

MP : 240

Level : 14

Next : 800/1500

Coin : 8.600

Strength : 24

Stamina : 24

Agility : 24

Inteligen : 24

Vitality : 24

Skill

Passive

- Archery : Beginner - Mid

- Sword mastery : Beginner -Low

- Dagger mastery : Beginner - Low

- Martial art : Beginner - Low

Active

- Throw Dagger : Low

- Body strengthening : Low

- Mana Arrow : Low

Selain statistiknya tidak ada perubahan berarti pada skill-skill miliknya bahkan tidak ada skill baru yang didapatnya membuat hatinya sedih. Beranggapan jika sistem yang dimilikinya seperti komik 'Anak Game' atau 'Leveling Sendirian' yang dimana sang player mendapatkan skill melalui gerakan khusus atau berulang ataupun Quest harian untuk menjadi kuat.

Tak ada. Naruto tidak mendapatkan satupun hal seperti itu, padahal setiap harinya setelah bangun dia akan melakukan push-up dan lari mengelilingi gedung Gereja berharap akan notif 'Selamat, kamu mendapat +1 poin pada Strength/Agility' yang tak kunjung muncul.

Bahkan tidak ada 'Bonus poin' yang bisa dia masukkan pada statistik dasarnya, menurutnya sistem terlalu pelit sampai hanya memberi satu poin pada masing-masing statistik setiap kenaikan level.

Selama satu bulan ini Naruto hanya mendapat Exp dari memburu Wild boar dan sesekali membunuh serigala biasa bukan monster. Ingin dirinya pergi ke hutan buas dimana monster didalamnya lebih banyak namun karena kekhawatirannya akan level rendahnya maka Naruto memutuskan untuk pergi setelah levelnya berada diatas 20.

Siapa sangka hari ini dia akan bertemu Goblin, ras monster lemah namun memiliki keserakahan dan nafsu yang lebih besar monster-monster lainnya. Walau hutan yang dia jadikan tempat berburu ini bukanlah hutan buas bukan berarti tidak ada monster didalamnya namun keberadaan Goblin didalamnya adalah sesuatu yang berbahaya.

Naruto yang larut dalam pikirannya segera merasakan keberadaan lain disekitarnya. Meramalkan apa yang berikutnya terjadi remaja itu hanya tersenyum senang.

[Kamu merasakan nafsu membunuh.]

[Kamu dikepung oleh Goblin gunung.]

Lihat. Dia sudah menebak jika tak mungkin ada Goblin berkeliaran sendirian di hutan tak diduga olehnya kini dia dikepung oleh kelompok Goblin yang dibunuhnya.

"Oh yang benar saja."

Mencabut belati disimpan di pinggangnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya setelah menyimpan busurnya ke punggungnya, dia segera menyambar pemukul kayu yang merupakan hadiah dari membunuh Goblin tadi.

segera memasang kuda-kuda bertarung matanya memandang awas kesekitar pada sepuluh detik kemudian satu Goblin keluar dari arah kirinya sambil mengangkat pemukul kayu tinggi-tinggi. Goblin lain muncul dari arah kanannya secara bersamaan memutuskan yang mana dulu yang akan dibunuhnya Naruto segera melempar belatinya dengan cepat menusuk tepat kejantung Goblin yang menyerangnya dari kanan.

Untuk Goblin dikirinya Naruto merendahkan sedikit badannya mengatur timing yang tepat dengan pemukul ditangan kirinya, Naruto memberikan tusukan kearah tenggorokan si Goblin membuat makhluk jelek itu mundur kebelakang.

Skill Throw dagger telah aktif, belati yang dilemparnya tadi telah kembali ketangannya yang kemudian dia lemparkan kembali kepada Goblin yang keluar dari arah belakangnya.

Pemukul ditangannya segera Naruto ayunkan mengenai bahu si Goblin yang tadi dia tusuk membuat pemukulnya jatuh kemudian dengan sekuat tenaga dihantamnya kepala si Goblon cukup kuat, cukup kuat untuk menghancurkan batok kepalanya.

Pemukul ditangannya dilempar kearah Goblin yang kembali muncul, pemukul yang dilemparkannya menghantam wajah si Goblin walau tak membunuhnya tapi cukup membuat wajahnya semakin jelek.

Dengan belati yang telah kembali ke tangannya Naruto segera menggorok leher Goblin yang dihantam lemparannya tadi. Kemudian Naruto merebut pemukul milik si Goblin dan kembali melemparkannya kearah Goblin lain yang muncul menjadikan lemparannya itu sebagai pengalihan diikuti lemparan belati miliknya yang menembus kepala si Goblin.

Naruto terus melakukan hal tersebut sampai dia menghitung telah membunuh lima belas Goblin. Bunyi notif dari sistem dia hiraukan dulu, nafasnya memberat keringat membasahi tubuh dan wajahnya warna darah juga mengotori baju uang dikenakannya.

Naruto jatuh terduduk dan menatap sekelilingnya dengan mata setengah terbuka tidak dia sangka akan sebegini payahnya melawan selusin Goblin. Dengan susah payah Naruto mengambil botol minumnya dan meneguknya sampai habis.

Naruto merenung, pada masa jayanya sebagai pelajar sekolahan dirinya sanggup menghadapi puluhan orang secara bersamaan. Namun hal itu menurun seiring bertambahnya usianya dan waktu yang dia habiskan kebanyakan duduk di kursi dengan menghadap komputer bukan berolahraga namun dirinya masih sanggup menghadapi 20an preman berbeda dengan dirinya yang kini kepayahan hanya menghadapi selusin Goblin.

"Aku harus lebih giat leveling mulai besok."

.

.

Oke, saya kembali dengan cerita baru.. shit! Lama gak nulis jadi gini gak yakin bisa deskripsiin action dengan baik (mohon dimaklum)

Masih di fandom yang sama hanya saja di crossover yang berbeda, untuk saat ini saya taruh dulu di crossover NarutoxSao tapi kedepannya akan di fandom X-OVER karena yah ini fict multi. Hehe

Untuk sistem player yang Naruto miliki akan dijelaskan seiringnya waktu..

Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca.