Atsumu tidak terlalu peduli apa itu takdir, soulmate, dan semacamnya (termasuk dewa-dewi yang selalu disembah keluarganya saat tahun baru).

Terlalu rumit dan terdengar tak masuk akal.

Bukankah jika berusaha, manusia dapat mengubah takdir?

Bukankah jika soulmate sudah ditentukan sedari awal, manusia tak mempunyai kebebasan untuk hidup bersama orang yang dicintainya?

Apa gunanya hak kebebasan jika pasangan hidup kita saja sudah ditentukan oleh takdir?

Sekali lagi, Atsumu menegaskan bahwa ia tak peduli dengan apa itu takdir, soulmate, dan semacamnya.


-Lonceng-

Haikyuu!

©Haruichi Furudate

Tidak ada keuntungan materi dalam penulisan fanfiksi ini
(kecuali jiwa fangirl penulis yang terpuaskan(?))


Saat itu hari senin, Atsumu baru saja selesai dengan kelas olahraganya saat itu.

Lalu berjalan dengan gontai menuju ruang UKS.

Ingin tidur.

Lelah, kantuk.

Ia terlalu bersemangat saat kelas tadi, karena kelas olahraga tadi itu bermain voli yang merupakan olahraga favorite Atsumu.

Menggeser pintu UKS, nampaklah ruang UKS yang harum dan nampak begitu nyaman.

Mengundang rasa kantuk Atsumu semakin menjadi.

Atsumu segera melepas sepatunya, dan menaiki kasur yang berada dalam UKS.

Terlelap tanpa hitungan menit.


Atsumu terbangun, dan mengumpulkan kesadarannya

Matanya mencari-cari letak jam.

Oh, 10 menit lagi sekolah usai.

Clang.

Atsumu sesaat mendengar suara lonceng, membuatnya mengernyitkan dahi.

Suaranya seperti lonceng kuil?

Tapi sekolahnya kan jauh dari kuil?

Atsumu masih mengumpulkan kesadarannya, mungkin saja lonceng tadi hanyalah khayalannya belaka karena masih belum sepenuhnya sadar.

Lalu ia bangkit, dan merapihkan kasurnya.

Mencari gelas guna menghilangkan dahaga akibat tertidur.

Ia membuka laci lemari yang berada di pojok UKS, berdekatan dengan kasur yang digunakannya tadi.

Ia tidak menemukan gelas sih, tapi dalam laci tersebut terdapat beberapa carik kertas yang agak berantakan. Atsumu bukan orang dengan rasa penasaran yang tinggi sebenarnya, tapi ia tetap mengecek isi kertas tersebut.

Sebenarnya itu hanya kertas kosong, atau mungkin struk belanja yang tintanya mulai memudar. Terlihat dari beberapa kertas yang masih terlihat tinta berwarna ungu maupun hitam yang sudah buram.

Mungkin bukti untuk penyusunan anggaran, pikir Atsumu mengingat UKS merupakan tempat untuk ekstrakulikuler PMR.

Namun, ada secarik kertas yang menarik minat Atsumu.

Kertas tersebut bertinta merah.

'Kenapa sulit sekali untuk bersosialisasi?'

Atsumu terkekeh, apakah orang yang menulis ini anaknya pemalu?

Atsumu celingak-celinguk, lalu menemukan pulpen di meja beserta dengan buku absen.

'Awali dengan senyuman lalu sedikit SKSD.'

Tulisan tersebut Atsumu akhiri dengan gambar Nobita sedang tersenyum (ah iya, ada balon percakapan yang ia isi dengan kata 'semangat' pada gambar Nobita yang ia buat).

Kenapa Nobita?

Gak tahu, Atsumu hanya iseng gambar Nobita aja sih.

Ya masa gambar Sasuke yang jarang tersenyum?

Lalu Atsumu memasukan kertas tersebut pada laci, mengisi buku absen, dan meninggalkan UKS.

Clang.

Suara lonceng berbunyi lagi, tapi Atsumu abaikan karena ia pikir itu hanya halusinasinya karena merasa lapar dan haus?

Toh bel sekolah barusan berbunyi tanda kegiatan sekolah telah usai.

Tak ada alasan mengapa Atsumu harus berlama-lama di UKS.


Atsumu memasuki UKS. Kali ini untuk mengantarkan Suna, teman tim volinya yang cedera.

Tumben-tumbenan Suna cedera sih, tapi ya sudahlah (Atsumu tak begitu peduli).

Toh niatnya mau numpang ngadem juga di UKS (ga tahu kenapa UKS bisa terasa adem, padahal tidak ada AC dan kipas angin).

Tumbennya lagi, jam sekolah telah usai masih ada sensei yang berjaga di UKS.

Atsumu merasa tertolong, soalnya dia ga bisa diharapkan soal pengobatan cedera.

Bisa jadi persendian kaki Suna yang tadinya terkilir tersebut justru patah karna ulah Atsumu.

Ngeri.

Sensei dengan telaten memberikan sedikit pijitan beserta mengoleskan salep pada kaki Suna yang terkilir.

Atsumu sendiri masih ogah balik ke gym, tapi hanya melihat Suna diobati seperti itu juga terasa membosankan.

"Sensei, boleh numpang minum?" izin Atsumu.

"Ya, silahkan." Ujar sensei, sembari melempar senyum padanya.

Atsumu menuju rak gelas dan mengisi air dari dispenser. Meminum air sembari mengedarkan pandangannya pada penjuru UKS.

Clang.

Atsumu menoleh, suara lonceng itu lagi.

Tapi Suna dan sensei itu terlihat seperti tak mendengarkan suara apapun. Senseinya masih berbincang dengan Suna mengenai cedera pada kaki yang Suna alami.

Mata Atsumu kini tertuju pada lemari di pojok.

Atsumu membuka laci lemari tersebut, dan menemukan carik kertas yang sudah tersusun rapi. Lalu ia melihat carik kertas pada tumpukan teratas.

Ah, Atsumu ingat ia pernah menuliskan sesuatu pada carik kertas tersebut beberapa hari yang lalu.

'harus SKSD banget? -_-'

Waw, tulisannya dibalas.

Atsumu mengambil pulpen terdekat, lalu membalas pesan tersebut.

'Kalau gue sih kayak gitu. Atau mungkin lo beraniin diri memulai percakapan duluan.'

Lalu Atsumu menggambarkan doraemon sekarang, diberi balon percakapan yang berisi 'apa gue harus ngeluarin alat bersosialisasi dari kantong gue buat lo?'

Lalu ia segera memasukan kertas tersebut ke dalam laci, dan menghampiri Suna yang sudah selesai ditangani oleh senseinya itu.

"Mau di sini apa ke gym lagi?" tanya Atsumu.

"Gym, ini UKS udah mau ditutup sama sensei." Balas Suna.

Mereka mengucapkan salam pada sensei mereka, lalu Atsumu memapah Suna keluar dari UKS.

"Tadi di UKS lu denger suara lonceng ga Sun?" tanya Atsumu.

Mereka berjalan menuju gym, tumben sih Atsumu baik mau bantuin memapah Suna yang kakinya cedera.

"Hah? Ga ada suara apa-apa tuh di UKS tadi. Paling suara anak futsal yang kedengaran berisik." Balas Suna.

Logis sih, soalnya ruang UKS letaknya berdekatan dengan lapangan sekolah mereka. Atsumu juga tadi melihat anak futsal sedang bermain dari jendela UKS. Oh iya, ini hari Jumat. Hari Jumat ini kegiatan klub biasanya berbarengan sih mengingat besok sabtu libur sehingga mereka bisa berlatih sepuasnya. Pantas saja sekola terasa ramai dan sensei masih berjaga di UKS.

"Kenapa?" tanya Suna lagi.

Atsumu tak membalas, berusaha mengenyahkan pemikiran bahwa UKS adalah tempat yang seram.

Masa iya cuma dia sendiri yang bisa denger suara loncengnya?


Atsumu melamun sepanjang perjalanan pulang, membuat Osamu bingung.

Biasanya kembarannya ini banyak banget bacotnya, kok sekarang tumben diem.

"Samu, gue belakangan ini sering ngedenger suara lonceng loh. Persis mirip kayak suara lonceng kuil." Atsumu membuka percakapan.

"Mungkin karna lu ga pernah berdoa?" balas Osamu.

"Masa sih, kan pas awal tahun kita udah berdoa ke kuil." Ujar Atsumu.

"Jadi selama mau tidur dan makan lu ga pernah berdoa?" tanya Osamu agak tercengang.

Buset.

Kembarannya emang ga akhlak tapi ga nyangka ternyata emang jarang berdoa, melihat respon Atsumu yang hanya bisa nyengir doang.

"Diingetin buat rajin berdoa dan ke kuil kali." Kata Osamu pada akhirnya.

Osamu ga mau main hakim soal Atsumu yang jarang berdoa sih, soalnya Osamu sendiri kadang suka lupa berdoa kalo makan.

"Emang ga bosen berdoa mulu?" tanya Atsumu.

Osamu nyerah, gamau ngomongin soal ini lagi dengan Atsumu. Bisa-bisa berujung pertengkaran.

"Tapi ...," Atsumu menggantungkan perkataannya, membuat Osamu penasaran.

"suara lonceng itu kedengeran waktu gue di sekolah doang."

Osamu hanya dapat mengernyitkan dahinya.

Bingung.

"Paling sering gue dengernya di UKS atau gerbang sekolah." Kata Atsumu lagi.

Osamu cuma bisa diem. Kalo ini menyangkut kejadian horor, Osamu mau minta pisah kamar aja dari Atsumu ke ibunya. Osamu ga mau ikutan kena kejadian horor seperti Atsumu.

Cukup Atsumu aja, Osamu jangan sampai.


Sudah sebulan berlalu, dan Atsumu mulai terbiasa mendengar suara lonceng itu.

Atsumu mulai jarang ke UKS (biasanya rutin karena suka skip kelas matematika), karena ia selalu mendengar suara lonceng dari UKS. Padahal Atsumu sebenarnya agak penasaran dengan balasannya. Terakhir kegiatan surat-menyuratnya itu justru mengosipi Kazuhara-sensei, guru sains yang galak saat Atsumu masih di bangku 1 SMA.

Oh iya, ternyata teman pena Atsumu ini kouhainya. Tapi tetap saja mereka belum saling bertemu, mengetahui nama masing-masing pun tidak.

Atsumu pikir, dengan dirinya berhenti ke UKS akan melenyapkan suara lonceng yang selalu terdengar olehnya.

Namun nyatanya saat ia menuju kantin, toilet, lapangan, atau pun perpustakaan, terkadang ia mendengar suara lonceng itu lagi.

Atsumu sebenarnya tidak mau ambil pusing, tapi lama-kelamaan ini agak menganggu juga (meski tadi Atsumu mengaku telah terbiasa).

Akhirnya, Atsumu berniat mempertanyakan hal ini pada Kita-senpai.

Saran dari Osamu dan Aran sih untuk bertanya pada Kita-senpai.

Saat itu, klub voli telah usai latihan.

Mereka tinggal sisa berlima di gym.

Osamu, Aran, Kita-senpai, Suna, dan Atsumu.

Karena Atsumu mau bertanya, maka modusnya adalah membantu Kita-senpai mengelap bola voli.

Osamu yang agak kepo juga modus mengepel lantai gym bersama Suna. Padahal biasanya Osamu paling males kalo kebagian mengepel lantai gym, capek. Dan lagi lantai tersebut sudah dipel barusan sama anak voli yang mendapat jadwal mengepel saat itu.

Suna juga bikin heran, kok mau-maunya diajak ngepel lantai sama Osamu. Usut demi usut, kayaknya Suna punya ehem-ehem ke Osamu. Tapi Osamu ga peka, yang peka justru Aran dan Kita-senpai.

Hmm ...

Kalau Aran sendiri kebagian mengangkut bola voli pada keranjang voli. Toh biasanya Aran memang selalu menemani Kita-senpai, sekalian pulang bareng gitu sih.

Karena sepi makanya percakapan Atsumu dan Kita-senpai bisa terdengar oleh Osamu dan Suna yang jaraknya agak lumayan.

"Kita-senpai." Atsumu membuka percakapan.

"Ya?" tanya Kita-senpai masih mengelap bola voli, lalu meletakkannya ke lantai.

Bola voli yang sudah dibersihkan Kita-senpai diangkut Aran dan dimasukkan ke dalam keranjang voli.

"Mau cerita. Belakang ini aku sering mendengar suara lonceng di sekitar sekolah." Kata Atsumu.

Atsumu, Osamu, dan Suna kalo ngomong dengan Kita-senpai sopan bahasanya aku-kamu karna menghormati dan rasa segan juga sih sebenernya. Tapi kalo dengan senpai yang lain bahasanya tetep lo gue.

Kurang ajar.

Hmmm ...

"Kok bisa?" tanya Kita-senpai masih sambil mengelap bola voli.

"Karena aku gak tahu makanya aku cerita sama Kita-senpai?" tanya balik Atsumu.

"Lonceng 'kan sebagai penanda. Mungkin menjadi penanda sesuatu dalam hidupmu?" ujar Kita-senpai.

Bola voli telah selesai di lap semua, dan sudah Aran masukkan pada ruang penyimpan. Osamu dan Suna juga sudah menyimpan alat ngepel mereka, kini duduk dekat Atsumu.

Penasaran.

"Penanda apa ya?" gumam Atsumu.

"Mungkin takdir?" balas Kita-senpai kini berdiri, hendak mencuci lap yang barusan digunakan untuk mengelap bola voli.

"Memang takdir telah diatur hingga ada penandanya?" tanya Atsumu sembari mendongak menatap Kita-senpai yang berdiri.

"Tergantung bagaimana kau mempercayainya." Balas Kita-senpai, kini menuju keluar gym hendak mencuci lap tersebut.

Atsumu, Suna, dan Osamu masih asik duduk di gym.

Memikirkan perkataan Kita-senpai (sebenarnya hanya Atsumu yang berpikir, Osamu dan Suna agak bodo amat).

Beda dengan Aran yang membantu Kita-senpai.

Kelihatan sih mana yang aslinya memang baik dan modus pencitraan doang.

"Takdir, nasib." Suna asal bicara.

"Mana ada." Bantah Atsumu.

"Kalau sering denger di UKS, berarti nasib Tsumu harusnya ikut PMR bukan klub voli." Ceplos Osamu.

"Heh sembarangan." Kata Atsumu agak kesel dan hendak mengeplak Osamu.

Atsumu suka sama voli masa ditakdirkan ngurusin perban dan obat merah?

Suna segera menengahi mereka. Sebenarnya Suna senang ada pertengkaran, tapi ga mau lihat Osamu dikeplak kembarannya.

Hmm ...

"Kalo takdir gituan biasanya jodoh ga sih? Soulmate gitu?" kata Suna.

"Suna kayak cewek aja ngomongin jodoh soulmate." Ceplos Osamu lagi.

Ceplosan Osamu memakan dua korban. Satu korban dibuat jengkel, dan satu lagi merasa tersakiti (author melirik Suna).

"Masa sih ada yang kayak gituan? Ga nyata kali." Kata Atsumu membantah.

"Bisa aja terjadi, contohnya ya elu." Balas Suna, setelah pulih dari rasa sakit akibat ceplosan Osamu.

"Tapi konyol banget kalau beneran ada. Buat apa udah cinta sama seseorang terus menikah kalau ujung-ujungnya dia bukan soulmate kita?" kata Atsumu lagi, mengabaikan perkataan Suna sebelumnya.

"Ya cerai, terus nikah sama soulmate. Gitu aja kok dibuat susah." Kata Osamu.

Mulut Osamu dan Atsumu ini sebelas duabelas. Ga ada filternya.

Mendadak, Suna merasa tersambar petir akibat ucapan Osamu.

"Gampang banget ya lu ngomong." Kata Atsumu masih merasa jengkel.

"Ya terus gimana?" balas Osamu sinis.

Osamu maupun Atsumu udah saling mencengkram kerah masing-masing.

Suna tak menengahi kali ini. Sibuk dengan dunianya sendiri. Efek perkataan Osamu membuat Suna agak shock sehingga mengabaikan Miya bersaudara yang menunjukkan aura perkelahian.

Akhirnya mereka tidak jadi bertengkar, karena Kita-senpai memergoki mereka usai mencuci lap. Mereka diceramahi habis-habisan. Suna juga kena, padahal kan dia ga ikut-ikutan.

Hari ini rasanya Suna mendapatkan 3 kali damage pada hati dan mentalnya.

Suna kuat kok, kuat.


Atsumu pada akhirnya memberanikan diri ke UKS lagi (setelah mogok seminggu ke UKS).

Kali ini bersama Osamu dan Suna, katanya mereka mau bolos pelajaran (Osamu dan Suna satu kelas, tapi beda kelas sama Atsumu, fyi aja nih).

Sungguh tak patut.

Atsumu hanya mengangguk-ngangguk saja, toh mengerti Osamu tak menyukai pelajaran tersebut.

Tapi seingat Atsumu, kemampuan Suna di mapel itu jago kok?

Ya sudahlah, Atsumu males mikirinnya (kapan sih Atsumu ga males mikir? Saat bermain voli tentunya).

Kebetulan juga Atsumu baru selesai jam pelajaran olahraga, ya itung-itung ngadem kan ya ke UKS.

Clang.

Atsumu mendengar suara lonceng itu lagi.

Atsumu berusaha mengabaikannya.

Ia meraih gelas dan menuju dispenser.

"Barusan gw denger suara lonceng." Kata Atsumu.

Osamu hanya diam, ga tahu mau merespon apa. Berbeda dengan Suna yang seolah bertingkah mirip detektif. Aneh memang, tapi Suna menganggap ini mirip kayak game yang pernah ia mainkan.

Apa itu namanya? Criminal Case, nah iya!

"Menurut lu, suara loncengnya bikin takut ga sih? Atau horor gitu?" tanya Suna, membuka sesi wawancara dadakan.

Daripada mirip detektif, Suna malah mirip host setajam kapak.

"Biasa aja sih sebenernya, malah menurut gue suara loncengnya bikin hati tentram gitu?" kata Atsumu menimbang-nimbang.

Mendadak Osamu seperti sekretaris Suna, mencatat pertanyaan dan jawaban mereka.

"Okeh, kalo loncengnya ga bikin suasana horor berarti lu matinya masih lama." Kata Suna kalem, entah hidayah darimana Suna dapat menyimpulkan hal seperti itu.

Atsumu refleks mengeplak punggung Suna berbarengan dengan Osamu.

"Pertama kali mendengar suara loncengnya di mana?" tanya Suna lagi sembari mengabaikan rasa nyut-nyut pada punggungnya.

Osamu masih fokus nulis, meskipun tulisannya udah mirip cakar rubah.

"Di sini, sebulan yang lalu kali ya? Pas gue skip pelajaran matematika. Habis olahraga juga kok, baru bangun tidur." Kata Atsumu.

Kali ini membuat Osamu melotot ke arahnya. Atsumu melotot balik.

"Gue laporin ke ibu ya Tsum." Kata Osamu.

"Terus sekarang lo lagi ngapain di sini? Jemur baju? Spike bola? Ngaca ya Sam." Balas Atsumu.

"Gue baru kali ini ya skip pelajaran, lah lu? Udah berapa kali?" ujar Osamu.

"Okeh stop, kalau mau berantem di lapangan futsal noh luas. Biar ketahuan kalian berdua skip pelajaran." Kata Suna agak sarkas.

"Terus lu juga ketahuan skip bareng gue sama Tsumu." Ujar Osamu.

Suna hanya dapat mengelus dada. Kapan ya Suna berani ngelawan perkataan Osamu?

Suna hanya dapat mengasihani dirinya sendiri dalam hati.

"Okeh lanjut, lu ngelakuin sesuatu ga di UKS pas kejadian itu?" tanya Suna, mengabaikan Osamu.

"Oh, iya gue surat-suratan cuy. Bentar masih ada ga ya kertasnya." Atsumu segera menuju lemari di pojok, dan membuka laci lemari.

Terdapat banyak carikan kertas di dalam laci tersebut. Atsumu mengambil semuanya, lalu meletakkannya di lantai. Osamu dan Suna ikut duduk dekat Atsumu yang sedang merapikan carikan kertas tersebut.

Eh sebenarnya ga terbilang banyak juga sih, hanya 10 lembar (atau mungkin lebih?) dan itu juga ukuran kertasnya kecil (karena memang kertas yang digunakan kan bekas struk belanjaan).

Atsumu baru mengetahui fakta kertas tersebut adalah hasil beli perban, obat merah, minyak kayu putih, dan lainnya. Iya, diceritakan teman penanya itu dalam surat-suratan mereka.

"Wah aku penasaran siapa teman penanya Tsumu." Kata Osamu setelah membaca beberapa isi surat-suratan Atsumu.

"Kenapa?" tanya Suna.

"Tulisannya bagus, ga kayak tulisan Tsumu jelek. Pasti orangnya rapih dan cantik." Kata Osamu, tidak sadar diri bahwa tulisannya dengan Atsumu sama-sama seperti cakar rubah.

"Udah kayak lagi pedekate isinya." Kata Suna lagi menimpali, agak julid.

"Tapi orangnya laki-laki." Kata Atsumu, menunjukkan kertas di mana isi balasan terakhir teman penanya.

"Wah berarti orangnya rapih dan ganteng." Kata Osamu lagi.

"Tapi masih gantengan gue." Kata Atsumu dan Suna berbarengan.

Osamu menatap mereka heran, tumben kompak.

Atsumu memang memiliki percaya diri yang berlebihan, tapi Suna sepertinya agak cemburu dengan perkataan Osamu.

Hmmm ...

"Bisa jadi lonceng ini menjadi penanda kalo lu sama si teman pena lu itu soulmate." Kata Suna setelah menganalisis data yang ia dapatkan dari hasil mewawancarai Atsumu.

Suna ngerasa jadi detektif beneran setelah berhasil membuat kesimpulan seperti itu.

"Tapi kadang kalo gue ke kantin atau gerbang sekolah juga sering denger suara tuh lonceng?" tanya Atsumu membantah kesimpulan Suna.

"Karena itu tempat umum di sekolah ini, semua siswa pasti pernah ke sana. Mungkin soulmate lu ini tadinya ada di sana makanya lu denger tuh suara lonceng." Kata Suna.

Atsumu masih belum mau mempercayai ini. Dirinya benar-benar tak mempercayai soulmate yang dikatakan Suna. Atsumu mengumpulkan semua kertas yang berisi percakapan tersebut dan hendak membuangnya ke tong sampah.

Hendak memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan soulmatenya ini. Persetan dengan semua itu, Atsumu akan mencari orang yang dicintainya sendiri. Atsumu tidak akan mau langsung bertemu soulmatenya.

Mungkin teman penanya ini adalah orang yang baik, dan menyenangkan bertukar surat dengannya. Terkadang terbersit dalam untuk bertemu dengan teman penanya meski diurungkannya niat tersebut.

Namun sekali lagi, Atsumu bukanlah tipe orang yang akan pasrah karena soulmatenya telah ditentukan dewa-dewi. Atsumu akan mencari orang yang dicintainya sendiri, tanpa bantuan dewa-dewi atau takdir yang menuntunnya.

Atsumu agak sedikit kecewa, karena kesimpulan akhir mereka adalah teman pena Atsumu adalah soulmate Atsumu.

Osamu tadinya hendak mencegah, namun pada akhirnya membiarkan Atsumu membuang semua kertas itu. Osamu hanya merasa orang yang bertukar pesan dengan Atsumu adalah seseorang yang kesepian(?), dilihat dari sebagaimana orang tersebut selalu meladeni pesan Atsumu yang terkadang ngawur itu.

Namun semua itu pilihan Atsumu untuk kehidupan Atsumu sendiri. Osamu tak berhak campur tangan dalam hidup Atsumu, sekalipun ia kembaran Atsumu. Karna hidup Atsumu adalah milik Atsumu sendiri.

Meskipun Osamu menyadari satu hal, Atsumu selalu gembira saat bertukar pesan dengan teman penanya (Atsumu selalu menceritakan kegiatan surat-menyurat ini pada Osamu, yang Osamu tidak tahu adalah mereka surat-suratan di ruang UKS dengan media kertas struk bekas).

Bisa jadi sebenarnya Atsumu sudah mulai menyukai teman penanya ini, namun Atsumu belum menyadarinya atau bahkan tidak mau mengakuinya karna ketutupan pemikiran takdirnya yang agak kolot menurut Osamu.

Pada akhirnya, Atsumu memutuskan ikatan pada soulmatenya dan seolah itu adalah hal buruk, dentingan suara seperti lonceng terjatuh terdengar menggema dalam pendengaran Atsumu saat ia membuang seluruh kertas surat-menyuratnya mereka selama sebulan lebih ini.

Atsumu mungkin keras kepala, tapi dewa-dewi di langit justru lebih keras kepala daripada yang ia duga.


FIN


AAAAAAKKKKKKKKKKK

Aku gugup pas mau upload ff ini karena ini kayaknya kurang mateng dan mungkin kelihatan ada plot holenya, iya ga sih?

hsjhsjshsjs, oh iya ini ff dalam rangka meramaikan #atsumuweek2020 #atsumuweek day 7: soulmate au!

kerasa ada soulmate soulmatenya gitu ga sih :'D

jadi intinya, Atsumu dan soulmatenya ini dapat mendengar lonceng kalau mereka papasan atau yang berhubungan dengan soulmate mereka, gitu aja sih (aku kebayangnya suara lonceng yang ada di anime 'Your Name" hsjshsjsh)

oh iya, jangan lupa review biar aku tahu di mana aja kesalahan atau masukan buat ff ke depannya heheh

terus juga INI KAN MAU RAYAIN ATSUMU WEEK KOK MALAH LEBIH MENARIK DARI SISI SUNA OSAMU SIH WEYYYY AKU FRUSTASI jshsjshsjh

pssssssstttttt, kayaknya bakal aku buat spin offnya dari sisi sunaosa dan soulmate si Atsumu ini (kalau utang ff sasusaku dah lunas tapi :'D)

okehh, byee sampai jumpa lagi~


OMAKE


Atsumu terkejut menyadari ada tanda pada telapak tangannya. Ia baru sadar sedang sarapan bersama Osamu.

Terlihat seperti tato, bertuliskan angka '20/03'.

Atsumu terkejut, sangat malah.

Segera Atsumu mengusapnya keras, bahkan mencuci tangannya berkali-kali namun angka tersebut tidak hilang.

Bahkan Atsumu menuduh Osamu yang mencoret tangannya dengan spidol permanen dan berakhir dengan Osamu yang tertawa.

Bukan karena Osamu yang mencoret tangannya, tapi karena Osamu memiliki dugaan bahwa takdir akan terus mengejar Atsumu sehingga dewa-dewi di langit memberikan tanda pada telapak tangan Atsumu.

Atsumu mungkin membenci takdir, dan dewa-dewi di langit akan terus membuat Atsumu menerima takdir dan soulmatenya.


FIN beneran.


p.s : jadi ceritanya ini kayak lingkaran setan gitu (hah?!) kalau Atsumu masih terus dan terus menolak takdir, dewa-dewi akan terus memberi tanda yang membawa Atsumu pada soulmatenya (kyaaaa romantisnya /romantis pala kau)