A Recantation

Naruto by Masashi Kishimoto

Chapter 1

Menangis

"Saat dewasa nanti, ada saat kita tidak bisa menangis padahal kita membutuhkannya untuk mengungkapkan perasaan ini."

.

.

.

Temari hanya tertunduk ketika para ninja medis membawa sebuah kantung jenazah masuk ke desa Konoha. Dia memegang erat tangan suaminya, Shikamaru, saat mendengar tangis pecah dari keluarga jenazah seorang genin yang baru saja dibawa masuk tersebut. Tubuhnya tanpa sadar bergetar, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dia sudah berjanji pada suaminya untuk tidak menangis saat ini.

Beberapa waktu lalu, Temari mendapat kabar dari seorang ninja Konoha yang mengatakan bahwa misi ke-tiga putranya sebagai seorang chunin mengalami masalah. Awalnya dia berpikir ini adalah hal yang biasa terjadi tetapi ketika ninja itu mengatakan bahwa Sasuke yang langsung datang memberi kabar dan datang langsung ke Konoha meminta bantuan medis. Dia begitu terkejut dan langsung berlari menuju gerbang Konoha. Temari pun begitu kaget ketika melihat seluruh teman akademi putranya, Shikadai, telah berdiri menunggu di depan gerbang bersama dengan suaminya dan Hokage ketujuh.

"Dia, dia akan baik-baik saja 'kan?" tanya Temari pada suaminya, Shikamaru. Pemimpin klan Nara sekaligus penasehat Hokage tersebut tidak menjawab apapun dan hanya membalas genggaman tangan Temari yang gemetar sejak tadi.

Lagi, matanya beralih pada tandu yang dibawa ninja Konoha. Seorang genin yang terlihat lebih tua dari putranya dibawa masuk ke gerbang Konoha. Wajah genin tersebut terlihat pucat dengan perban membalut kepalanya, darah terlihat mengering di bajunya. Dan kembali, suara tangisan keluarganya menyambut genin yang terluka parah itu.

Dua tandu dan satu kantung jenazah, tetapi Temari belum melihat putranya dan itu membuatnya semakin khawatir. "Kemungkinan dia bersama Sasuke," kata Shikamaru seolah menyadari kehawatirannya. Dia hanya mengangguk dan menutup mata, berdoa dalam setiap detiknya bahwa putranya baik-baik saja.

"Itu Shikadai!" Suara Boruto membuatnya membuka mata dan mengalihkan pandangannya ke depan. Dia melihat putranya keluar bersama dengan Sasuke dalam portal jutsu kamui Uchiha.

Temari terdiam. Matanya memandang tidak percaya ketika melihat sang putra. Tentu ini bukan pertama kalinya dia melihat putranya dipenuhi luka dan perban atau pun noda darah dibajunya. Tetapi kali ini berbeda, Shikadai, selama tiga belas tahun dia melihatnya, putranya tidak pernah sekalipun menunjukkan ekspresi seperti saat ini. Dirinya begitu terguncang ketika melihat ekspresi itu. Perasaan bersalah dan marah serta rasa takut, ekspresi yang sama seperti seseorang di masa lalunya.

"Shikadai." Kata Temari yang langsung berlari menghampiri Shikadai. Dia menjatuhkan dirinya dihadapan sang putra, tangannya meraih bahu putranya. Matanya memerhatikan setiap sudut tubuh putranya. Sebuah gips penyangga di tangan kanan dan perban di kepala dan paha kiri, tidak separah para genin yang dibawa tandu sebelumnya. Yang paling menyita perhatiannya selain ekspresi sang putra adalah rompi dan tangan putranya yang berlumuran darah kering, belum lagi wajah putih bersih putranya juga terdapat cipratan darah yang dia tahu, tidak mungkin luka-luka pada putranya itu menjadi penyabab darah yang mengotori tubuhnya.

Kedua tangannya beralih menangkup wajah kecil putranya, mencoba menatap dalam mata hijau besarnya itu. Kenapa? Itulah yang ingin Temari tanyakan pada Shikadai, tetapi seakan setiap suaranya telah direnggut bersamaan dengan tatapan mata putranya. Mata yang sama seperti miliknya itu pun mulai menitikkan air mata. Membuat dirinya tercekat dan ikut menitikkan air mata tanpa disadarinya.

Jika biasanya dia akan meledek putranya saat menangis, kali ini tidak. Dia malah ikut menangis. "Kenapa?" tanya dirinya yang seolah mendapat kembali suaranya saat melihat tubuh sang putra mulai bergetar. "Kenapa?" tanyanya sekali lagi dengan suara yang gemetar menahan tangisannya yang tidak berhenti. Oh Kami-sama! Dia telah berjanji pada Shikamaru unttuk tidak menangis di depan putranya. "Shikadai, jawab Ibu, kenapa?" kenapa kau berekspresi seperti 'dia'.

"Aku membunuhnya."

Temari terkesiap. Dengan cepat dia memeluk tubuh putranya, memeluknya erat. Dia mengabaikan suara terkejut setiap orang disekitarnya. "Ti-tidak, bukan salahmu—," kata Temari berusaha meyakinkan putranya yang menangis semakin histeris.

"Aku membunuhnya ibu—."

"—tidak! Dengar Shikadai…"

"Orang itu, dia, dia telah menyerah dan aku mem—."

"TIDAK! Apa kau tidak mendengarkanku, itu bukan salahmu."

"Seharusnya aku berhenti tapi ibu, aku membunuhnya…."

Tidak, cukup, Temari menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa mendengarkan putranya terus menyalahkan dirinya dan dia tidak bisa melihat putranya menangis seperti ini. Melirihkan kata maaf, Temari menotok bahu Shikadai. Tubuh putranya itu mulai terjatuh dipelukannya. Dengan terisak, dia mengelus lembut kepala putranya dan menatap Shikamaru yang telah berdiri disampingnya.

"Apa salahnya Shikamaru, kenapa mereka mengincar Shikadai-ku?"


Adalah hal yang biasa jika setiap siswa di akademi begitu iri dengan pencapaian Shikadai, menjadi satu-satunya genin yang lolos menjadi chunin dalam angkatannya serta pencapaian baiknya dalam memimpin misi sebagai seorang chunin. Boruto sadar, walaupun banyak yang mengatakan dirinya lebih hebat dari Shikadai tetapi dia tetap tidak akan bisa menang jika melawan sahabatnya itu sendirian. Pemikiran yang tenang dan mampu mengendalikan situasi dalam pertarungan, membuat Shikadai lebih unggul, ditambah lagi walaupun sahabatnya itu pemalas, tidak ada satu pun siswa dan guru akademi yang meragukannya dalam memegang tanggungjawab. Sedikit gerutuan darinya bukan berarti sahabatnya itu adalah seorang pecundang yang mudah lari dari tanggungjawab— tidak seperti dirinya, Shikadai tidak perlu memiliki banyak motivasi— baginya setiap tugas yang diberikan ditangannya maka harus selesai juga ditangannya. Maka dari itu, Boruto begitu terkejut ketika mendengar ada masalah terjadi pada misi sahabatnya itu.

Pagi itu, saat Boruto sedang mengantarkan kotak bekal ayahnya yang —seperti biasa, tertinggal. Dia tidak sengaja mendengar berita mengenai perjalanan pulang dari misi sahabatnya itu. Sebuah misi sederhana yang hanya mengawal para pedagang sampai ke perbatasan negara api, seharusnya bukan hal yang sulit bagi para genin yang dipimpin Shikadai. Jadi, saat ayahnya meminta dirinya keluar ruangan, dia menolak. Mengatakan dia berhak tahu mengenai kondisi sahabatnya itu.

"Shikamaru-san mengatakan dia akan menunggu putranya di gerbang Konoha dan tidak bisa datang kesini, tuan Hokage." Kata seorang ninja yang saat ini sedang berdiri di depan meja ayahnya. Boruto ingat, dia adalah ninja yang bertugas menjaga kantor Hokage pagi ini.

"Apa yang dilakukannya disana, bukankah terlambat datang saat pulang dari misi itu biasa." Boruto ikut membenarkan perkataan ayahnya, memang benar seharusnya tim Shikadai kembali ke desa malam hari mengingat pesan bahwa misi pengawalan berhasil lebih cepat dari yang direncanakan. Tetapi kenapa paman Shikamaru begitu khawatir dan menunggu kedatangan Shikadai di gerbang Konoha, terlebih lagi ninja yang berdiri dihadapan ayahnya terlihat gugup.

"Tuan Hokage, Shikamaru-san sebenarnya telah datang lebih awal. Tetapi dia menerima dan membaca pesan dari Uchiha-san lalu meminta saya segera memberikan ini saat anda datang."

Ninja itu memberikan gulungan pesan paman Sasuke pada ayahnya.

"Saya juga mendengar, sepertinya Sasuke-san meminta beberapa ninja medis untuk segera pergi ke suatu tempat."

Mendengar penuturan itu, Boruto begitu terkejut. Paman Sasuke meminta bantuan ninja medis. "Ayah..." ucapan Boruto terhenti ketika melihat ayahnya menatap horor pada pesan tersebut.

"Boruto, pulanglah." Kata ayahnya sambil mengusap wajahnya, seolah menyegarkan kembali dirinya dari rasa terkejut.

"Tidak, katakan dulu apa yang terjadi dengan misi Shikadai." Tuntut Boruto yang tidak senang dengan perkataan ayahanya yang menyuruhnya pulang.

"Pulanglah, akan ayah ceritakan nanti malam."

"Tidak bisa, aku tidak akan pulang sebelum ayah menjawab pertanyaanku!"

Ayahnya menatapnya sesaat sebelum menarik nafas panjang, dia terlihat pasrah mendengar ucapannya. Tentu saja, sudah dipastikan sang ayah sedang mengingat masa lalunya yang juga keras kepala seperti dirinya— karena ibunya selalu bilang bahwa dirinya sama keras kepalanya dengan sang ayah.

"Kau harus berjanji lebih dulu tidak akan bertanya lagi dan melakukan hal aneh."

Dia mengangguk dan menatap ayahnya meyakinkan.

"Kemungkinan tim Shikadai di serang oleh sekelompok jounin desa lain. Sasuke tidak memberitahu apa yang terjadi, tetapi dia membawa tenaga medis bersamanya."

Dan karena itulah saat ini dia bersama ayahnya sedang mendampingi paman Shikamaru. Boruto sebenarnya heran kenapa sahabat ayahnya itu tidak ikut bersama ninja medis dan malah menunggu disini. Tetapi rasa herannya hilang begitu mengetahui bahwa dia ternyata sengaja tidak ikut untuk membantu menenangkan anggota keluarga dari genin yang juga ikut dalam misi.

Mereka menunggu selama beberapa jam di depan gerbang Konoha. Beberapa teman akademi yang juga mengetahui mengenai misi Shikadai pun berdatangan termasuk Inojin dan Chocho yang merupakan teman setimnya. Mereka semua menunggu dengan cemas, apalagi ketika melihat bibi Sakura keluar dari portal dimensi yang dibuat oleh paman Sasuke. Wajah ibu temannya itu terlihat sedih ketika dia menghampiri salah satu keluarga dari genin salah satu tim Shikadai dalam misi ini. Seketika jeritan tangis yang keras terdengar dari keluarga itu. Hal selanjutnya adalah rasa terkejut dan isak tangis yang terus mengisi sunyi di antara kerumunan di gerbang Konoha. Beberapa kantung jenazah dan tandu satu persatu keluar dari lubang dimensi yang dibuat gurunya. Tidak ada yang berbisik atau bertanya, bahkan dirinya sekalipun.

Hingga akhirnya Boruto melihat Shikadai bersama paman Sasuke keluar dari portal dimensi yang kemudian menghilang setelahnya. "Itu Shikadai!" seru Boruto dan mencoba berlari menghampiri temannya itu. Tetapi ayahnya memegang pundak menahannya, dia melihat sang ayah hanya menggelengkan kepala dan menatap bibi Temari yang lebih dahulu menghampiri Shikadai.

Boruto hanya menatap dengan cemas ketika melihat sahabatnya itu mulai menangis. Shikadai Nara tidak pernah menangis. Tidak untuk misi yang gagal. Dia adalah panutan setiap anak diangkatannya, tidak seharusnya Shikadai menangisi kegagalannya.

Boruto perlahan melepas genggaman ayahnya dipundaknya dan berjalan menuju Shikadai. Dia ingin memarahi Shikadai untuk sikapnya yang kekanakan. Bukankah temannya itu berjanji tidak akah menangis seperti ayahnya jika gagal dalam misi, tetapi kenapa dia mengingkarinya.

"Shikadai, jawab Ibu, kenapa?"

Baruto berjalan perlahan menatap tajam sahabatnya itu.

"Aku membunuhnya."

Kemudian terdiam. Dia mendengarkan suara sahabatnya. Dan air matanya pun ikut terjatuh.


"Papa!"

Sarada begitu terkejut ketika melihat ayahnya yang tiba-tiba muncul menggunakan jutsu kamui miliknya tepat di depan rumah sakit. Bukan hal aneh jika pemimpin klan Uchiha itu datang tiba-tiba ke Konoha. Setelah insiden kesalahpahamannya, ayahnya sering kali berkunjung ke Konoha walau hanya sesaat dan kemudian pergi lagi melanjutkan kembali misinya melindungi Konoha dari luar. Tetapi ini pertama kalinya dia melihat ayahnya muncul di depan rumah sakit.

"Anata! Kenapa kau ada disini?"

Sarada mengalihkan tatapannya pada sang ibu yang berdiri disampingnya. Biasanya ibunya akan terkejut dan tersipu jika melihat ayahnya datang. Tetapi kali ini tidak, seolah ibunya tahu bahwa ada hal penting dari kedatangan ayahnya itu. "Aku butuh beberapa tenaga medis secepatnya," jawab ayahnya dengan cepat.

Ibunya, Uchiha Sakura, hanya mengangguk dan segera memasuki rumah sakit. Memanggil tenaga medis yang sedang tidak bertugas jaga pagi. Tidak lama kemudian, empat tenaga medis yang dua diantaranya adalah ninja yang dilatih ibunya datang. Mereka telah bersiap dengan peralatan medis mereka. "Aku tidak tahu kenapa kau memanggil tenaga medis, tetapi apa kau sudah memberitahu Naruto tentang kedatanganmu?" tanya ibunya kembali.

"Aku sudah mengirim pesan ke kantor Hokage."

Uh, Sarada sangat tidak suka diabaikan. Dia menatap bergantian ibu dan ayahnya itu. "Papa! Sebenarnya ada apa?!" tanyanya kesal.

Ayahnya tidak menjawab apapun dan membuka portal kamui membiarkan para tenaga medis dan ibunya masuk lebih dulu. "Papa," gumam Sarada.

"Dengar Sarada, tunggulah di gerbang Konoha. Siapapun yang datang kesana, Shikamaru atau Naruto. Katakan bahwa semuanya telah ditangani."

Sarada tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk. Dia segra berbalik menuju gerbang Konoha. Tidak butuh penjelasan, ayahnya bukan lah orang yang berkata banyak. Dia mengerti ketika ayahnya memintanya untuk menunggu di gerbang Konoha, maka dia harus melakukannya.

Dia menunggu sesuai perintah ayahnya, memberitahu paman Shikamaru tentang pesanya. Dan menunggu sampai ayahnya tiba. Kemudian bersama dengan temannya yang lain. Untuk alasan yang bahkan dia tidak pahami, Uchiha Sarada— menangis.

"Seharusnya aku berhenti tapi ibu, aku membunuhnya…."

.

.

.

End of Chapter 1