purnama tunggal

la corda d'oro © kure yuki
saya tidak mengambil keuntungan materiil dari fanfiksi ini


01. partner

Tsukimori mengenal Miyaji dari seminar biola musim panas, sebulan setelah kompetisi musik Seisou berakhir. Miyaji adalah putri kepala sekolah SMA Fujijo dari Akita, katanya. Satu-satunya perwakilan dari prefektur itu yang diundang dalam seminar. Semuanya—benar, semua peserta seminar itu—membicarakan kepandaian perempuan itu dalam memainkan biola. Konon, nyaris sepandai dirinya.

Inilah komunitas yang Tsukimori idam-idamkan sejak dulu. Tempat berkumpulnya musisi beraspirasi besar, dengan mimpi untuk menjadi bintang paling bersinar. Mengundang berbagai guru besar di dunia musik, seminar ini adalah batu loncatan yang tepat bagi sang calon maestro biola.

Tetapi, setiap langkah menuju kesuksesannya tak lagi terasa sama.

Semua orang yang ia temui dalam seminar ini tidak seperti mereka.

Seminar ini memiliki dua tujuan, pertama adalah tempat bertemu calon musisi profesional dan mentor mereka. Kedua adalah tempat mengembangkan relasi. Setiap percakapan bermakna mencari kesempatan; setiap sesi solo bernadakan impian untuk mengesankan dan mungkin, mungkin, mengemis akan uluran tangan menuju janji kejayaan ambisi pribadi.

Termasuk Miyaji.

Dengan gaya modis dan aura percaya diri, perempuan muda itu mendekati Tsukimori. Tangannya menyentuh bahu pemuda itu. Seperti akrab, seperti dekat. Senyumnya lembut tapi penuh keyakinan. Pipinya bersemu merah muda tatkala sepasang matanya bersirobok dengan mata Tsukimori.

Semuanya berbisik-bisik wah Miyaji akrab sekali dengan Tsukimori! Tapi mau bagaimana lagi, mereka 'kan selevel tetapi hal itu tidak mempengaruhi lahir batin Tsukimori.

.

.

Miyaji adalah solois yang baik dan partner duet yang baik.

Entah mengapa Tsukimori hanya bisa menyimpulkan sampai situ, meskipun beberapa orang sudah menanyakan pendapatnya tentang perempuan itu.

Ketika ia mengutarakan pikiran di atas, punuk lehernya serasa memanas. Seperti ada yang mengamatinya bersosialisasi di ruang makan. Padahal setahunya di sana ada Shimizu, yang masih sibuk menghabiskan makan malam.

.

.

Apakah ia akan latihan malam ini?

Tanya Tsukimori dalam diam, tatkala menatap sosok yang duduk di bangku taman. Yang bergaun tipis dan tercenung murung.

Bulan purnama telah tiba di puncaknya, menyinari Hino yang tak segera beranjak dari duduknya.

Dan ia pun turut tak bergerak pula. Seperti terkunci dalam posisinya.

Sampai Tsuchiura datang menghampiri Hino, baru ia bergerak.

Tsukimori tak ingin tahu, tapi ternyata ingin tahu juga.

.

.

(Tsuchiura bercakap ria. Tsuchiura membungkukkan badan. Tsuchiura memberikan seluruh atensinya. Tsuchiura melakukan berbagai hal dengan lancang (menurutmu) tetapi penuh hormat. Tsuchiura menjadi partner).

Ah.

Seandainya ia bisa semudah itu bergerak mendekatinya—