note. ceritanya diambil ketika len pulang dari double date-nya bersama ryou, kaho, dan sakamoto


11. perempuan

Telinga tajam Tsukimori menangkap suara alunan piano dari satu-satunya ruangan berisi grand piano. Sebuah pertanda bahwa ibunya ada di rumah. Tak heran salam tadaima yang ia ucapkan tidak mendapat balasan. Rupanya, sang ibu masih tenggelam dalam sesi latihan sehingga perempuan tersebut tidak mendengar suara pintu rumah dibuka dan ditutup.

Boneka beruang yang ia menangkan dari permainan claw machine merupakan cendera mata dari acara jalan-jalannya hari ini. Tsukimori sebenarnya tidak ingin membawa pulang boneka itu. Tapi mau bagaimana lagi? Tsuchiura, Hino, dan mantannya Tsuchiura (Sakamichi? Oh, Sakamoto) dengan kompak memutuskan bahwa pemenang claw machine—yakni Tsukimori Len—mau tidak mau harus membawa pulang hasil tangkapan.

Padahal, yang memulai permainan kekanak-kanakan itu Hino. Perempuan tersebut melabuhkan perhatian pada alat claw machine dan (entah kesurupan apa) menanyakan apakah Tsukimori pernah memainkan alat itu. Sembari matanya menatap boneka beruang yang terbenam di bawah gunungan boneka beragam hewan dengan tatapan penuh ingin.

Kedua tangannya langsung menggenggam konsol claw machine. Tanpa ia sadari, tentu saja. Seperti tersihir oleh guna-guna.

Belum Tsukimori menjawab pertanyaan konyol Hino, Tsuchiura langsung mengompornya dengan kata-kata Hino, orang ini hidupnya cuma main biola terus. Mana mungkin dia bisa main claw machine. Hanya orang yang sabar dan gigih yang bisa main game ini.

Mohon maaf Tsuchiura, sabar dan gigih adalah dua hal yang Tsukimori banggakan. Tanpa keduanya, kemampuan bermusiknya tidak akan sampai tahap menguasai karya maestro macam Paganini dan Wienawski. Beraninya manusia jurusan kelas umum macam dia mengejeknya sebagai pribadi yang tidak sabar dan gigih.

Api emosi yang membara dalam jiwanya memaksanya untuk bertahan memainkan alat ini. Anehnya, permainan yang digadang-gadang susah justru membuktikan yang sebaliknya; dalam sekali cengkram, boneka buruan Tsukimori langsung terangkat dengan mudah.

Cuma gini saja, Hino?

Tsukimori tidak akan melupakan bibir Hino yang terbuka karena kagum. Serta sepasang mata coklat terangnya yang berbinar bagai pasir murni di pantai.

Tak sampai setengah menit, boneka tersebut sudah berada di tangannya. Tawa pun pecah di antara trio Hino-Tsuchiura-Sakamoto.

Tsukimori… tak tahu harus bersikap apa.

Konsolidasi pun terjadi di antara pemuda itu dan Hino. Boneka tersebut dibawa oleh perempuan itu selama jalan-jalan. Namun ketika saatnya mereka pisah jalan, boneka itu tetap akan dibawa Tsukimori pulang.

Sebagai teman di rumah, kata Hino, dan kenang-kenangan.

"Len? Ternyata kamu sudah sampai rumah."

Lamunan Tsukimori pecah. Ibunya keluar dari studio latihan, menyambutnya. Perempuan tersebut melihat boneka yang diapit di lengan putranya, lalu tersenyum. "Senang dengan jalan-jalanmu hari ini?"

Tsukimori menemukan dirinya tak bisa memberi jawaban lugas. Maka, jawaban yang bisa ia berikan hanyalah dalam bentuk gestur anggukan.

Kepalanya yang mengangguk kecil cukup memuaskan ibunya.

"Terakhir kali kamu pegang boneka, usiamu 31 bulan," ucap ibunya berganti topik. Ekspresinya yang bijak mendadak menjadi jenaka.

Oh, tidak. Firasatnya tidak enak.

"Bu."

"Jangan kemana-mana, Len. Ibu mau ambil gawaiku dulu."

"Bu."

Sekian jeda kemudian, ibunya muncul kembali dengan benda yang dicari. Gawainya langsung terangkat dalam pose membidik anak tunggalnya.

"Astaga, Ibu. Buat apa aku difoto—"

"Kapan lagi anakku akan membawa boneka lucu seperti itu lagi? Harus dijadikan kenang-kenangan. Nanti Ibu akan kirim juga ke ayahmu."

Perempuan yang Tsukimori panggil ibu membidiknya dengan ekspresi jenaka nan ceria. Wajah yang cukup jarang pemuda itu lihat akhir-akhir ini. Entah karena jadwal konser yang padat atau sesi latihan yang tidak lancar—Tsukimori menemukan dirinya tidak bisa mengelak untuk menyenangkan hati ibunya.

Sama seperti apa yang ia lakukan sekian jam yang lalu. Dengan Hino, tentu saja.