Disclaimer : Semua karakter punya Masashi Kishimoto-sensei, saya cuma punya plotnya.

Warning : OOC, bahasa tidak baku, setting AU, typo, mengandung umpatan kasar, dan sebagainya

.

.

.

.

.

daifukuwmochi presents:

Trapped with the Ex : Bad Luck or Good Luck?

Chapter 12 : Epilog—Sasuke's POV

A Sasusaku Fanfiction

.

.

.

.

.

Sebentar lagi lelaki itu menginjak semester tujuh, dimana semua mahasiswa yang telah memenuhi syarat wajib mengambil mata kuliah KKN. Sebenarnya banyak kawan yang menawarinya untuk bergabung dengan kelompok mereka dalam rangka mengikuti KKN alternatif, namun ia menolak. Males amat harus ajuin proposal segala, mendingan ikut KKN lokasi, tinggal terima jadi. Lagipula iya kalau proposalnya di-acc, kalau tidak kan ujung-ujungnya ikut KKN lokasi juga.

Hari ini ialah hari pengumuman kelompok KKN, sehingga lelaki berambut hitam itu sudah siap sedia berhadapan dengan laptopnya untuk melihat hasil pengumuman itu. Sebenarnya ia tak terlalu peduli dengan siapa yang akan menjadi kawannya saat KKN nanti, toh sama saja, sama-sama manusia. Tetapi dirinya tetap harus melihat pengumuman ini karena ingin tahu di desa mana ia akan ditempatkan nanti.

Lokasi KKN : Desa Oto

Oh, desa di pegunungan yang kepala desanya tidak diketahui gendernya itu. Sasuke mengenal Pak Orochimaru karena dahulu ia pernah memiliki hubungan bisnis dengannya—Pak Orochimaru mempunyai toko online terbesar di negaranya. Yah, tidak masalah sih sebenarnya.

Lelaki itu mengamati nama teman satu kelompoknya, barangkali ada yang ia kenal. Dilihatnya nama si Dobe—Uzumaki Naruto—ada dalam daftar itu. Tumben sekali bisa satu kelompok KKN dengan orang dekat. Lelaki itu terkejut ketika melihat sebuah nama yang sangat familiar, Haruno Sakura. Spontan ia menge-klik nama itu, dan terpampanglah foto seorang gadis cantik bersurai merah muda tengah tersenyum manis. Tidak salah lagi, gadis itu adalah mantan kekasihnya saat SMA dulu. Siapa lagi di dunia ini yang memiliki rambut merah muda sepertinya?

Sudut bibir lelaki itu terangkat sedikit. Sepertinya KKN ini akan menarik.

.

.

.

Lelaki itu membuka ponselnya yang terus-menerus berdering. Dilihatnya bahwa seseorang telah memasukkannya ke dalam sebuah grup baru, KKN Desa Oto Uwuu. Apa-apaan nama itu? Menggelikan sekali. Kawan-kawan grupnya sedang membahas kapan akan diadakan pertemuan KKN. Terserahlah, dirinya tinggal mengikuti rencana mereka saja.

.

.

.

Lelaki itu baru saja memarkirkan motornya di halaman kedai Pak Teuchi. Dilihatnya seorang gadis bersurai merah muda tengah turun dari motor yang dikendarai seorang pemuda berambut merah dengan tato 'ai' di dahinya. Apa-apaan tato itu? Memangnya dia sangat haus akan cinta sampai harus menato dahinya sendiri dengan tulisan cinta dalam huruf kanji? Lagipula mengapa mantan kekasihnya itu harus berpacaran dengan orang seaneh itu sih? Sudah punya tato aneh, tak punya alis, matanya hitam seperti kelunturan eyeliner pula. Menggelikan.

Lelaki merah itu melaju bersama motornya, sedangkan gadis berambut merah muda mantan kekasihnya itu memasuki halaman kedai. Dihampirinya gadis itu dan mereka memasuki kedai bersama-sama. Sepanjang rapat berlangsung, Sasuke tak terlalu memperhatikan perkataan si ketua. Ia lebih banyak berkonsentrasi pada si gadis merah muda itu. Gilee, kenapa kalau udah jadi mantan malah nambah cakep, sih? Mantannya itu memang sudah cantik sejak masih berpacaran dengannya dulu, namun baru kali ini ia memperhatikan paras gadis itu dengan seksama karena dahulu ia jarang memperhatikannya. Mata emerald teduhnya, hidung mancungnya, bibir berpoles liptint merah cerinya hingga dahinya yang masih lebar seperti landasan pesawat. Cakepnya nggak ngotak, bro!

Terdengar si ketua berkuncir itu membahas mengenai partner membonceng saat akan melakukan survei ke desa Oto. Sasuke sedikit berharap bahwa gadis merah muda itu memilih berboncengan dengannya, namun harapannya pupus. Gadis itu lebih memilih berboncengan dengan lelaki berambut mangkuk yang selalu memamerkan giginya layaknya bintang iklan pasta gigi. Yah, sebenarnya ia tak terkejut juga, sih. Gadis itu pasti memilih menghindarinya dikarenakan sejarah buruk diantara mereka berdua.

Sebenarnya lelaki itu merasa kasihan juga dengan Sakura, sang mantan yang pastinya sudah senam jantung dikarenakan lelaki berambut mangkuk itu mengendarai motornya kesetanan. Salah sendiri, siapa suruh minta diboncengin dia. Kalau gadis itu berboncengan dengan Sasuke sih sudah pasti aman sentosa damai sejahtera.

.

.

.

Malam ini, si ketua menggelar rapat membahas progja. Males banget sebenarnya, baru sampai kok langsung main rapat saja. Didengarnya mantan kekasihnya itu mengajukan diri menjadi PJ sanitasi. Kemudian sahabat kuningnya yang hiperaktif itu menunjuknya menjadi wakil gadis itu, yang artinya mereka satu progja. Wah, makasih Dobe, tumben kau melakukan hal yang berguna. Lalu, salah seorang kawannya yang bercepol dua mengundi nama-nama tim mengajar les tambahan. Kayaknya asik nih kalau ia satu tim dengan Sakura lagi. Tak disangka doanya terkabul. Wah, mancing mania mantap, sepertinya Dewi Fortuna benar-benar berpihak padanya kali ini.

.

.

.

Sasuke mencari gadis merah muda itu. Mau diajak bahas progja kok malah ngilang kayak pulpen yang dipinjam teman. Tak disangka ternyata gadis itu sedang bergosip ria di lapangan. Dasar calon mak-mak rumpi. Lalu, tiba-tiba saja semua kawannya meninggalkan mereka berdua. Bajigur memang mereka, kalau ditinggal berdua ya jadinya malah canggung lah. Ingin ia membuka percakapan dengan Sakura, namun tak tahu apa yang harus dikatakannya. Akhirnya gadis itu yang membuka percakapan terlebih dahulu, mungkin tak tahan dengan suasana canggung yang menyelimuti mereka.

.

.

.

Hari ini giliran mereka berdua untuk mengajar les tambahan di sekolah yang letaknya jauh di puncak bukit. Sasuke yang akan mempercepat laju motornya agar dapat melewati jalan yang sangat curam itu meminta mantan kekasihnya agar berpegangan padanya. Tak disangka gadis itu masih saja memeluknya padahal mereka sudah tiba di tempat tujuan. Suasana canggung pun kembali hadir diantara keduanya.

Sasuke melihat gadis merah muda itu tengah berbincang dengan Kiba, lalu Kiba menyerahkan sesuatu yang nampak seperti kunci motor kepada gadis itu. Mau kemana dia? Diambilnya motornya dan dibuntutinya si gadis. Oh, ternyata gadis itu membeli perlengkapan untuk progja mereka. Mungkin gadis itu terlalu canggung untuk memintanya mengantarnya ke toko. Dibuntutinya gadis itu dalam perjalanan pulang kembali ke posko. Beberapa saat kemudian terlihat gadis itu menabrak tebing dan terjatuh. Salah sendiri, sok-sokan jadi cewek strong. Namun tetap dihampirinya gadis itu dan diantarnya kembali ke posko untuk diobati luka-lukanya.

.

.

.

Gadis merah muda itu memasuki posko dengan wajah sembab dan berjalan memasuki kamar lalu berdiam diri disana. Didengarnya bahwa mantan kekasihnya itu baru saja putus dengan pacarnya karena lelaki itu terpergok sedang berselingkuh dengan teman satu kelompoknya. Ingin ia menghajar lelaki tanpa alis itu, namun diurungkannya niatnya karena hanya akan memperkeruh suasana. Jadi, yang dapat dilakukannya saat ini hanyalah diam.

.

.

.

Gadis itu kini bagaikan zombie. Tak ada emosi yang mengalir dalam dirinya. Kemudian saat terdengar oleh Sasuke suara gedoran di pintu kamar mandi, tanpa pikir panjang lelaki itu segera menuju sumber suara dan mendobrak pintu. Benar saja, mantan kekasihnya itu tengah duduk di lantai memeluk lututnya sendiri. Digendongnya gadis itu kembali ke dalam kamarnya. Perasaannya tak karuan melihat mantan kekasihnya yang seperti hidup enggan mati tak mau. Seperti ini juga kah keadaan gadis itu saat baru saja putus dengannya dahulu? Penyesalan merayapi relung hatinya. Ia harus membuat gadis itu tersenyum kembali, bagaimanapun caranya.

.

.

.

Teman-teman beserta anggota karang taruna desa setempat berencana mendaki gunung yang ada di desa itu. Sasuke sih mau-mau saja, sudah lama ia tak mendaki. Saat mereka sedang dalam perjalanan dilihatnya Sakura yang seperti akan pingsan. Sepertinya gadis itu tak kuat lagi melanjutkan perjalanan. Maka, digendongnya gadis itu menuju pos pemberangkatan. Ia lebih memilih menemani gadis itu dibanding harus melanjutkan pendakiannya.

.

.

.

Satu tahun berlalu semenjak kejadian itu. Sasuke yang minggu lalu sudah melalui sidang skripsi berusaha menemui Sakura untuk memintanya (baca: memaksa) agar menjadi pendamping wisudanya nanti. Ia juga berencana meminta gadis itu untuk kembali ke pelukannya. Dalam hati ia sungguh-sungguh memohon pada Kami-sama agar mengabulkan permohonannya kali ini. Dan ketika doanya itu terkabulkan, lelaki itu berjanji akan menjaga gadis musim semi-nya sepenuh hati layaknya menjaga hidupnya sendiri.

.

.

.

.

.

FIN


Yak akhirnya fic ini selesai juga *tepok tangan. Terima kasih banyak buat yang sudah baca, review, fav, follow fic ini. Maaf kalau alurnya terlalu cepat, soalnya mau fokus ke SasuSakuGaa saja. Oke deh, sampai bertemu di fic selanjutnya!

Arigatou gozaimasu,

daifukuwmochi

.

.

.

scroll ke bawah yaa, ada omake-nya


OMAKE

.

.

.

.

.

Dalam ruangan penuh cahaya lampu itu, seorang lelaki berambut hitam yang mengenakan toga tengah berpose dengan keluarga dan kekasihnya.

"Yak, senyum ya! Satu ... dua ... tiga!"

Cekrek!!!

"Sekarang gantian, Mas wisudawan sama pacarnya berdua. Lebih dekat lagi! Ayo Mbak, lengan pacarnya digandeng. Oke sip! Satu ... dua ... tiga!"

Cekrek!!!

Sesi foto studio berakhir, kini mereka keluar dari tempat itu, bermaksud menuju rumah makan untuk mengisi perut yang mulai bernyanyi merdu. Namun, ibu Sasuke secara tiba-tiba berdiri tepat di depan pintu, menghadang dua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu.

"Jadi, kapan kalian akan memberi Ibu cucu yang lucu?" tanya wanita paruh baya itu.