Naruto belong to Masashi Kishimoto

His Harem [Come] belong to Xaxa-sama

.

Naruto x Tsunade

.

Tsunade merasa horny hingga akhirnya ia memanggil murid kesayangannya

.

Lemon content, explicit language, dirty talk

.

Enjoy your meal, folks!

.

Naruto memandang coretan di papan tulis kelasnya tak minat. Gambar-gambar ilustrasi pesawat dengan bumi sama sekali tak membuatnya semangat. Justru ia semakin meringis ketika Anko-sensei semakin banyak menulis persamaan rumus dan beberapa angka pecahan yang lebih baik diingat.

Ponselnya bergetar tiga kali tanda pesan masuk. Ia menarik bar notifikasi dan membaca pesan masuk dari gurunya.

From : Tsun

Ke ruanganku. Sekarang!

Naruto kemudian menarik napasnya dalam-dalam. Hari ini ia sedang tidak dalam mood yang baik untuk melakukan apa pun. Tapi, itu lebih baik ia berjalan-jalan keluar kelas daripada terus berada disini.

"Sensei, izin ke toilet."

Setelah diizinkan, Naruto tetap menyempatkan diri ke toilet sebelum pergi ke ruangan gurunya.

Di ruangan lain, Tsunade masih fokus mengelus-ngelus pangkal pahanya. Vaginanya selalu merasa gatal tiap kali tanpa sengaja bergesekkan dengan sesuatu. Entah itu kain, buku, bahkan jemarinya sendiri.

"Fuck, kenapa lama sekali!"

Tsunade dengan bringas membuka kemeja nya sendiri sehingga payudara besar tanpa bra nya terombang-ambing. Masih memakai rok span, ia menurunkan celana dalam merah merona nya yang tipis dan menggoda.

Jari-jari Tsunade mulai menggerayangi bagian bawah tubuhnya sendiri. Saking basahnya, cairannya bahkan sudah menetes membasahi lantai.

Kuku-kuku ber-kuteks merah yang menggores labia mayora nya justru membuatnya merinding dan semakin terangsang. Jemari kirinya meraba dadanya sendiri dan memilin putingnya. Sementara tangan kanannya masih bermain-main di bagian luar vagina nya.

"Aahh~"

Tsunade menengadahkan kepalanya sambil menggigit ujung bawah bibir. Imajinasi nya bermain bahwa dibawahnya ada laki-laki kesukaannya yang senang hati melahap kewanitaannya.

Menggeliatkan lidahnya, menggigit klitorisnya, dan menjilat cairannya.

Tsunade lalu menjilat jari-jarinya sendiri, kemudian ia mencubit klitorisnya keras agar semakin terangsang. Rasa panas menjalar dari bagian bawah tubuhnya. Ia meleguh merasakan jemarinya sendiri menari-nari diatas biji yang mulai membengkak.

Liang basah itu terus berkedut minta diisi. Tsunade pun kemudian mengoleskan cairannya sendiri ke dada raksasanya. Bau manisnya menguar dan dadanya terlihat berkilau membuat pikirannya semakin liar.

Cklek

Suara pintu terbuka pelan. Untung saja itu murid yang tadi ia panggil.

"Wah-wah, sepertinya ada hiburan."

Naruto menyengir dan langsung mengunci pintu dari dalam. Ia mendekati meja dan duduk di depan gurunya.

Manik birunya menatap lamat-lamat Tsunade yang kini tampak sangat seksi. Bibirnya yang dioles lipstik merah, payudaranya yang terlihat berkilau, dan vagina merah muda nya yang sudah membengkak.

"Sialan! Kemari kau nggahh~"

"Teruslah bermain, sensei. Aku akan ikut jikau kau benar-benar memohon padaku."

Naruto menarik kursinya mendekati Tsunade. Ia mengelus selangkangannya yang sudah menggembung minta dibebaskan.

Inilah yang Naruto suka karena sering bermain dengan Tsunade. Ia bisa mendapatkan nilai tinggi dan uang jajan hanya dengan menunggangi wanita itu dengan ganas.

"Ahhh mmmffhh Naru... ah!"

Panggilan itu membuat Naruto tersadar dari lamunannya. Cairan Tsunade bahkan sudah berwarna putih. Sepertinya gurunya itu benar-benar ingin dimasuki.

"Tell me, what do you want?"

"I need your cock, please!"

Naruto tidak menjawab, ia hanya terus menatap intens Tsunade yang makin cepat menggerakan tangannya didalam liangnya sendiri. "Please please pleaseee!" Hingga akhirnya Tsunade memuncratkan orgasme pertamanya.

Naruto melepas seragamnya dan hanya menyisakan celana dalamnya. Ia berlutut berhadapan dengan vagina Tsunade yang membengkak.

Lidahnya dengan aktif menjilat-jilat klitoris Tsunade dan tiga jarinya sudah bersarang didalam liangnya. Tsunade menjambak rambut Naruto sebagai bentuk lain dari pelampiasannya.

"Ngghh ngghh ssshhh..."

Tsunade menggigit bibir bawahnya sendiri. Kedua kakinya yang mengapit kepala Naruto bergerak-gerak tak nyaman. Rasa panas dan geli bercampur dibagian bawah perutnya. Bunyi kecipak lidah dengan vagina nya bahkan berhasil membuat lubang analnya berkedut.

Tangan kanan Naruto masih setia memainkan vagina Tsunade. Sementara tangan kirinya sudah menggerayang memelintir puncak payudara Tsunade yang mengeras.

Posisi tangan kanan Naruto kini sudah berganti dengan lidahnya. Ia memaju mundurkan kepalanya mengeksplorasi lubang seksi didepannya.

Kedua tangan Naruto lalu dengan aktif meremas kedua payudara raksasa Tsunade. Menamparnya berulang kali hingga menimbulkan jejak kemerahan.

"Ngghhhh... ahh ahh~ aaghhh... Fuck! I am cumming, I am cumming, I am cumming! Ngahhhh!"

Orgasme kedua dilahap rakus oleh Naruto. "Manis seperti biasa, sensei."

Naruto menyeringai dan menarik Tsunade ke arah sofa. "Aku ingin kau diatas."

Karena sudah diselimuti nafsu, Tsunade iya-iya saja dengan suruhan Naruto. Tsunade pun dengan kasar mendorong muridnya hingga hampir membuatnya terjerembab ke belakang sofa. Tsunade kemudian membuka kemeja dan roknya buru-buru. Hingga akhirnya mereka sudah sama-sama telanjang bulat.

Penis sepanjang 8 inch sudah berdiri tegak dengan bangga. Cairan precum nya bahkan sudah mengalir keluar membasahi sofa. Tanpa ba bi bu lagi, Tsunade langsung memasukkan tongkat daging keras ke dalam vagina nya yang dari pagi minta jatah.

"Gghhh... Tsunade, kenapa milikmu selalu sempit?"

Naruto mengerang merasakan adiknya terjepit. Ini adalah seks yang ke sekian kalinya dengan Tsunade, tapi entah kenapa lubang tempat pembuangan benihnya ini selalu sempit.

Tsunade tak menjawab pertanyaan retorik Naruto. Akhirnya, tubuh semok itu mulai menaik turunkan tubuhnya menunggangi Naruto. Kedua tangannya ia tumpu diatas bahu bidang Naruto, sesekali menancapkan kuku-kuku tajamnya disana.

Dadanya berayun kencang seiring gerakannya yang semakin ganas. Satu tangan Tsunade lalu meremas dadanya dan mengangkatnya untuk ia kulum sendiri.

Kedua tangan Naruto menyangga tubuh Tsunade di bokongnya dan sesekali menamparnya gemas yang membuat Tsunade semakin bergairah.

Sofa itu berdecit beberapa kali karena gerakan Tsunade yang semakin brutal. Pikirannya sudah berkabut dan tidak memikirkan apa pun lagi kecuali penis yang kini bersarang di vaginanya.

Naruto pun membantu menaik-turunkan tubuh Tsunade dengan kencang. Ia meleguh dan menggigit leher Tsunade hingga meninggalkan bekas kemerahan.

"Ahhh ahh ughh! Fuck fuck fuck! Narutoo~"

"Keep screaming."

Pelepasan mereka sudah sama-sama diujung. Naruto juga tanpa sadar menggerakkan pinggulnya karena sama-sama tak tahan.

"FUCKING FUCK! YESS AHH AHH~"

Rasa panas menembak ke dalam rahim Tsunade. Tsunade pun mengejang beberapa kali setelah cairannya keluar banyak saling membasahi.

Bunyi 'plop' keluar ketika Naruto menarik penisnya. Ia kemudian menarik kembali Tsunade ke arah jendela dan membukanya.

"N-naruto, kau mau apa?" tanya Tsunade agak takut ketika angin dingin berhembus dari arah jendela.

"Bercinta disini tentu saja."

"Kau gila! Kalau terlihat bagaimana!"

Naruto hanya mengendikkan bahunya tak peduli dan menabrakkan tubuh Tsunade ke bingkai jendela. Tubuh Tsunade dihadapkan ke jendela yang mengarah ke lapangan basket yang sepi, kaki kanannya diangkat agar menyangga di bingkai.

Tanpa aba-aba, Naruto langsung melesakkan dirinya masuk ke dalam lubang yang sudah kelewat licin itu.

"Awwhh ngghh..."

Kedua tangan Tsunade pun menyangga di bingkai dengan gemetar. Tidak berani melihat ke bawah karena ruangannya terlalu tinggi. Tubuhnya digenjot dari belakang dan klitorisnya dimainkan oleh kedua tangan Naruto.

Dadanya bergoyang seiring gerakan maju mundur tubuhnya. Sesekali Naruto berhenti untuk meraup cairan dari lubang Tsunade dan mengolesinya ke payudaranya.

Satu tangan Naruto menggosok kasar klitorisnya yang membengkak, sedangkan tangannya yang lain diemut oleh Tsunade untuk meminimalisir desahannya.

"Mmhh nggghhh... ssshh oohh ohh... ahhh~"

Tidak hanya vaginanya, bokong gemuk Tsunade bahkan ikut menjepit penisnya yang kian membesar.

"AAHH DEEPER! YESS YESS YEAHH! FUCKING ME HARDER!"

Saking bernafsunya, Tsunade bahkan tak bisa lagi mengontrol suaranya. Satu tangannya ia lilitkan ke leher Naruto dan tangan yang lainnya ia gunakan untuk memelintir klitorisnya. Sensasi surga dunia yang membuatnya terus ketagihan dimana pun ia berada.

Tsunade terus mendesis didekat mulut Naruto hingga akhirnya mulut mereka menyatu. Berperang lidah dengan ganas dan itu membuat gerakan mereka sesekali tertunda.

"Keep fucking me, Naruto! Punch me with your monster cock!"

"You're really a cockslut, aren't you?"

"Yess yes, I am your cockslut."

"Only me? What if I offer everyone in this school to fuck you? You would gladly take it, right?"

"Yeaahh~ aahh... ahh mmmhh~ I am a cockslut for everyone. FUCKING ME FASTER AAHHH!"

"Then what If I destroy your pretty pussy right now?"

"DO IT! DO IT! FUCK ME HARDER WITH YOUR MONSTER COCK AAHH AHH AHH! DESTROY MY PUSSY UNTIL I AM DYING AAHH FUCK!"

"Get ready, bitch."

Naruto kemudian memundurkan dirinya dan Tsunade. Membuat jarak antara kaki mereka dengan dinding bawah jendela. Masih dengan satu tangan Tsunade di klitorisnya, Naruto mulai menggenjot dengan kencang.

Suara tamparan antar kulit memenuhi ruangan selain desahan Tsunade. Dua cairan dari sumber yang berbeda sudah menyatu mengaliri pahanya.

Vagina nya terus digempur kuat meninggalkan rasa ngilu yang masih kalah dengan rasa nikmat. Saliva dan air mata Tsunade sudah bercampur diatas ekspresi penuh kenikmatan.

"ENAKK! AAHH INI ENAKK SEKALI NARUTOO~ AHH AHH SSHH SO FUCKING GOOD!"

Mereka melakukan seks dengan keras seolah tak ada hari esok yang akan menjumpai. Mengisi hari mereka dengan sahutan desahan tiada henti. Keduanya sama-sama sudah membengkak dan siap melakukan pelepasan lain.

"Keluar, a-akku mau keluar! Ahhh ahh!"

"Bersama, tahanlah sebentar."

Kecepatan Naruto makin menggila saat mereka sama-sama sudah hampir dipuncak. Naruto fokus dengan gerakannya dan Tsunade fokus dengan klitorisnya.

"Aaahh ahhh ahhh ngghh~ AAHH YESSS!"

Semburan sperma Naruto terlalu banyak untuk ditampung didalam rahim kecil Tsunade. Belum lagi cairan miliknya sendiri ikut memenuhi perutnya. Mereka sudah sama-sama lelah, karena tak kuat menahan tubuh Tsunade yang terus mengejang, akhirnya mereka berdua terjatuh.

Vagina Tsunade terus bergetar mengeluarkan cairan bening. Pinggulnya juga ikut bergoyang tak bisa dikontrol. Kedua kakinya terbuka lebar ke atas menendang-nendang udara kosong.

Naruto lalu mendekati laci meja kerja Tsunade dan membukanya dengan pin. Ia lalu mengambil dildo elektrik putih dan menyambungkannya ke soket listrik. Bunyi getar halus terdengar saat sex toy tersebut dinyalakan.

"Ooohhh aahh~"

Getaran itu kemudian ditempelkan ke klitoris Tsunade yang masih kelewat sensitif. Rasa geli menjalar diseluruh bagian tubuhnya. "Dasar anak nakal!"

Naruto hanya terkekeh mendengar segala umpatan yang dikeluarkan Tsunade. Sambil membiarkan Tsunade yang memegang alat tersebut, jari-jari tangan Naruto mencoba membuka lubang anal Tsunade.

"Sensei, apa kau ingat kapan terakhir kali kita melakukan anal?"

"Ngghh... minggu kemarin...?"

"Aku ingin melakukannya lagi."

Ekspresi terkejut muncul diwajah awet muda Tsunade. "Itu menyakitkan!"

"Tidak akan. Aku janji."

Naruto kemudian menggunakan cairan milik Tsunade untuk membasahi lubang analnya. Mengurutnya dan melonggarkannya untuk melebarkan jalan masuk. "Tidak usah lebar-lebar ah."

Masih dengan getaran sex toy di klitorisnya, Naruto mulai melakukan aksinya memasuki anal Tsunade. Namun tampaknya, tubuh Tsunade secara alami menolak karena pinggulnya terus memundur. "Berhentilah menjauh." Gerutunya sebal dan terpaksa menarik pinggang Tsunade.

Naruto merasakan ada cairan hangat di kejantanannya dan ia melihat likuid merah cair membasahinya. Ia menegak ludahnya kasar.

"Na-naruto, apa itu darah?"

"Tidak-tidak, jangan khawatir."

Gerakan dimulai dari kecepatan yang lambat. Analnya tetap berusaha beradaptasi dengan benda asing yang hanya pernah masuk beberapa kali itu. Naruto menyerahkan jari-jari kirinya ke dalam mulut Tsunade yang langsung dilahap dengan rakus.

"Kutebak, kau pasti sedang membayangkan penis lain, heh?"

Tsunade tertawa dan terus menggigit-gigit pelan jari Naruto, sesekali tersedak karena jarinya terlalu dalam. Kedua tangannya pun masih menggerakkan sex toy yang masih bergetar diatas klitorisnya.

Naruto menghembuskan napas beratnya berkali-kali. Ia kemudian mengambil alih sex toy Tsunade dan memasukkan maksa seluruh alatnya ke dalam lubang vaginanya.

Tsunade menjerit sakit merasakan rasa ngilu dan perih dibawahnya. "Bastard!" Air matanya yang keluar dari manik hazelnya dijilat lembut oleh Naruto.

"Sorry. Tapi aku janji ini akan enak."

Naruto mulai bergerak lagi dan gerakannya tidak seganas ronde kedua tadi. Tangan Tsunade menuntun tangan Naruto untuk meremas satu payudaranya yang kencang. Mereka berdua sama-sama meleguh nikmat dan menyesapi dalam-dalam kegiatan ini.

"Lebih cepat..." gumam Tsunade hampir tak terdengar.

Kedua lengan Naruto akhirnya bertengger melilit masing-masing paha Tsunade. Bersiap menggenjot dengan cepat.

Tubuh semok itu kemudian tersentak-sentak diatas karpet dan bibirnya terus meracau. Suaranya yang indah dan menggoda bagaikan bahan bakar bagi Naruto untuk bergerak semakin cepat.

"Ah! Ah! Ah! N-naruto! Oohh... good. So good, aahhh!"

Naruto kemudian menjepit klitoris bengkak itu dan menggoyangkannya kasar. Aksinya membuat wanita dibawahnya melolong histeris dan menyentak-nyentakkan kepalanya ke bawah.

Masih dengan sex toy yang alatnya kian memanas, Naruto membuka lagi vagina Tsunade dan menampar bagian klitorisnya.

"AKKKHH! AAHH! N-NARUTO! OOHH OHH MERCY! P-PLEASE! AAHH! AHH! GOOD! SO GOOD AHH!"

Dua lubang bawahnya yang terisi penuh membuat Tsunade makin kehilangan akalnya. Naruto kembali melilitkan lengannya ke paha Tsunade dan kecepatannya semakin bertambah.

"Kau suka itu, Tsunade? Suka saat kedua lubangmu sedang dihancurkan?"

"YESS YESS I LOVE IT. I LIKE IT. MORE! WRECK MY HOLE MORE! NARUTO! NARUTO! OH GOD! YOU FUCK ME SO GOOD! AAHH AHHH!"

Naruto terus menghujam lubang didepannya tanpa ampun sampai akhirnya ia merasa perutnya kosong. Berbalik dengan Tsunade yang merasa perutnya semakin terisi penuh.

"Aahh! Aahhaaa..."

Naruto menarik kejantanannya dan sex toy itu dengan pelan. Usai mematikan alatnya, ia ikut berbaring disebelah Tsunade dan memeluk wanita montoknya yang masih mengejang.

"Kau membuatku izin pada pelajaran Anko-sensei terlalu lama." Tutur Naruto lembut lalu mengecup puncak kepala Tsunade.

"Hal itu akan kuurus." Jawab Tsunade tertawa usil sambil meniup-niup telinga Naruto.

Naruto hanya tersenyum dan menenggelamkan dirinya diperpotongan leher gurunya. Kemudian ia merasakan kejantanannya dimasukkan lagi ke dalam vagina Tsunade.

Hal itu cukup membuat kejantanannya setengah terbangun. "Terserah ingin lagi atau tidak, yang penting aku ingin penismu didalamku saat aku tidur nanti." Ujar Tsunade sambil menggoyangkan pinggulnya.

Ronde selanjutnya kembali dimulai hingga senja berada di ufuk barat.

Tanpa mereka ketahui, seorang wanita sedang mengangkang lemas dibalik pintu ruangan arsip kepala sekolah. Rupanya, Tsunade tak ingat bahwa Shizune masih mengurus sesuatu disana tepat saat Naruto datang.

Keringatnya mengucur dimana-mana dan cairan lengket sudah mengotori lantai. Mendengar suara Tsunade yang kembali digenjot oleh muridnya membuat Shizune kembali terangsang.

"Aahhh... anda curang sekali, Tsunade-sama..."

Akhirnya, Shizune pun kembali mengocok lubangnya sendiri sampai sepasang guru murid disana juga selesai.

.

Tbc

.

This is embarrassing XD

Ada chapter yg berhubungan ada juga yg engga. Seenaknya imajinasi kalian ajalah.