Naruto belong to Masashi Kishimoto

His Harem [Guest] belong to Xaxa-sama

.

Tsunade x Naruto x Kushina

.

Tsunade berkunjung ke rumah Naruto dan mereka melakukan seks di sana. Kushina yang mengetahui hal itu justru ikut bergabung alih-alih diam atau memisahkan mereka.

.

Lemon content, explicit language, dirty talk, harem, threesome, incest, implified yuri

.

Enjoy your meal, folks!

.

Ting nong

"Naruuu, tolong buka pintunya, sayang." Panggil Kushina menyuruh putra tunggalnya saat suara bel depan rumahnya berbunyi.

"Baik, bu." Naruto pun buru-buru menuruni tangga sambil memakai kausnya.

"Mou, kebiasaan sekali suka melepas baju." Cibir Kushina mengomentari kebiasaan Naruto. Sedangkan yang disindir hanya cengengesan dan tetap menuju pintu depan.

Pintu dibuka Naruto untuk menyambut tamu yang datang. "Kau...?"

"Siapa? Oh... Tsuna! Kau sudah datang rupanya."

Naruto menatap tak percaya dua wanita di depannya yang sedang asyik cipika-cipiki ternyata dulunya adalah teman dekat.

"Tsunade... sensei?"

Kushina mengerjapkan matanya lalu menatap Naruto dan Tsunade bergantian. "Kalian saling kenal?"

Tsunade hanya cekikikan dan menyenggol bahu Naruto.

"A-anu, Tsunade-sensei ini kepala sekolahku, bu."

"Wah begitukah? Bagus dong, kalian tidak usah saling berkenalan lagi. Tsuna juga sudah kenal Naru kan?" tanya Kushina antusias lalu menyeret keduanya kearah meja makan.

"Tentu aku kenal dia. Naruto adalah murid berprestasi di sekolah yang sangat berbakat dibidang olahraga. Staminanya yang luar biasa tentu membuatnya selalu mendominasi permainan." Jawab Tsunade ambigu lalu menjilat bibir atasnya kearah Naruto.

Manik Naruto memincing kearahnya dan melirik Kushina. Diam-diam membuang napasnya perlahan kala melihat ibunya tidak menaruh curiga sedikit pun.

"Luar biasa? Benarkah itu? Tapi, kenapa Naru malas sekali untuk bersih-bersih rumah? Selalu bilang capek-capek-capek." Keluh Kushina menggembungkan pipinya dan mencubit pinggang Naruto hingga membuatnya mengaduh sakit.

"Kenapa cubitan ibu selalu membuatku gatal sih?" protes Naruto sambil mengelus-ngelus bekas cubitannya.

"Ya ampun, sungguh? Padahal, Naruto itu kuat sekali kalau sedang bermain. Saking kuat dan lincahnya, lawannya pasti selalu tumbang lebih dulu dan dia yang akan terakhir kali berdiri." Jawab Tsunade lagi semakin ambigu. Kali ini jawabannya berhasil membuat alis Kushina berkerut.

Bunyi ketel mendadak nyaring membuat ketiganya terlonjak. "Maaf-maaf. Aku akan mengangkatnya sekarang."

"Aah!"

Baru saja Kushina berbalik arah menuju ruang dapur, teriakan Tsunade membuatnya berbalik. "Tsuna, kau kenapa?"

"O-oh, tidak apa-apa. Tadi aku baru ingat kalau aku tidak bawa charger ponsel." Balas Tsunade agak kikuk kemudian menatap tajam Naruto. Kushina membalas lagi, "Tenanglah, aku punya koleksi beberapa charger yang mungkin akan cocok dengan ponselmu."

"Ah, iya terima kasih."

Selepas kepergian Kushina, gesekkan jempol kaki kanan Naruto pada vagina Tsunade makin kencang. Naruto menumpukan kepalanya dengan satu tangan dan memerhatikan ekspresi Tsunade yang berhadapan dengannya -berada diseberang meja makan- sedang berusaha menahan desah.

Jempolnya membuat gerakan melingkar dan menusuk-nusuk celana dalam Tsunade yang mulai basah. Tsunade menggerak-gerakkan kakinya tak nyaman. Pelan-pelan, ia memajukan kursinya hingga perutnya menyentuh meja dan menarik rok span yang dikenakannya agar kakinya bisa lebih luas bergerak.

"Apa maksudmu bilang tadi, hmm?" tanya Naruto tersenyum sinis menatap Tsunade. Ketika Tsunade hendak menjawab, Naruto menarik kakinya turun dan hal itu membuat Tsunade mendesah kecewa.

"Aku hanya mengatakan kebenarannya. Kau kan memang atlet olahraga berprestasi!" tukas Tsunade masih kesal karena Naruto menarik kakinya saat ia sudah mulai keenakan.

Naruto hanya terkekeh dan kembali menyerang vagina basah Tsunade. Kini, ia mengangkat kedua kakinya dan kedua jempolnya mencari-cari keberadaan klitoris Tsunade.

"Ooohh mmfffhh..." desahan Tsunade tertahan karena ia membekap mulutnya sendiri. Saat ini, tentu ia sebenarnya masih satu ruangan dengan kawannya, gawat kalau sampai Kushina tahu ia punya hubungan dengan putranya.

Hingga akhirnya Naruto merasakan klitoris Tsunade yang membesar. Naruto menggigit bibir bawahnya sendiri dengan gemas ketika dua jempolnya asyik memelintir biji jagung milik Tsunade.

"Naruuhhh... ahh~"

Jemari lentik Tsunade juga tak ingin ketinggalan merangsang. Jari telunjuknya kemudian memutari klitorisnya sendiri kemudian membuka-tutupkan kakinya agar semakin terangsang.

"Nah... ayo kita makan siang dulu."

Kegiatan mereka terhenti saat Kushina datang membawa nampan dan lauk pauk. "Tsuna? Kau sakit? Wajahmu pucat." Tutur Kushina khawatir lalu menempelkan punggung tangannya ke kening Tsunade.

"Maaf, Kushina. Aku tidak bisa ikut makan siang hari ini, bisakah aku ke kamar duluan?" tanya Tsunade sambil memegangi kepalanya yang pusing.

"Tentu. Naru, tolong antarkan sensei-mu ke kamarnya ya..." pinta Kushina sambil menata makan siang ke atas meja makan.

"Baik, bu. Oh iya, Naru juga sepertinya tidak bisa makan siang sekarang. Baru ingat hari ini ada meeting online dengan teman ekskul." Ujar Naruto sebelum akhirnya memimpin langkah mendahului Tsunade.

Kushina meng-iya-kan saja dan mulai makan siang sendiri.

"Kapan ayahmu pulang?" tanya Tsunade membuka percakapan ketika mereka sedang berada di lorong menuju kamar yang sudah disediakan untuk Tsunade.

"Minggu depan. Kau sendiri sampai kapan berada disini?"

"Sampai ayahmu pulang kalau begitu."

Dan Tsunade bisa melihat seringai Naruto yang melebar waktu itu juga. "Dasar bocah mesum." Gumamnya pelan.

Naruto kemudian membuka pintu kamar tujuan dan mendekatkan koper yang dibawanya ke arah lemari kosong. Saat ia hendak keluar kamar, Tsunade menahan lengan Naruto dan menjepitnya menggunakan payudaranya. "Kau mau kemana?"

"Meeting online. Tadi kau tidak dengar?"

"Oh, aku kira itu hanya akal-akalanmu saja." Ujar Tsunade lalu melepaskan lengan Naruto dengan wajah tak rela.

"Hoo... jadi sensei-ku ini mengira tadi aku berbohong supaya bisa bermain denganmu, ya? Bukankah begitu?"

Tsunade tidak menjawab. Ia hanya menggeleng lemah dan menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Haishh, imutnya."

Naruto lalu mengangkat tubuh Tsunade dan menyenderkannya ke tembok sambil beradu lidah dengan ganas. Tsunade melingkarkan kedua tangannya ke leher Naruto dan menjambak rambutnya pelan. Satu kaki ramping Tsunade juga diangkat melingkari pinggang Naruto. Ia juga menggesek-gesekkan kewanitaannya ke selangkangan Naruto yang sudah menggembung.

"Sekarang, siapa yang nakal?" lirih Naruto sebelum akhirnya mereka melanjutkan pertarungan lidahnya kembali.

"Mmmhhh..."

Tsunade membalikkan posisi tubuh mereka hingga akhirnya Naruto yang menyender tembok. Ia mengecup-ngecup ringan rahang Naruto dan terus menelusurinya sampai wajahnya tepat di depan Naruto junior yang minta dibebaskan. Dengan kasar, Naruto melepas kausnya dan menyobek kemeja berenda milik Tsunade hingga kancingnya berhamburan, sementara Tsunade sendiri melepas celana dalam miliknya dan membuangnya sembarangan.

Tsunade kemudian menurunkan celana Naruto sekaligus dan kejantanan Naruto langsung menegak sempurna. Mulut basah Tsunade dengan rakus melahap hampir tiga per empat penis besar Naruto. Ia juga menggunakan payudara nya untuk menjepit batang berurat itu supaya menambah rangsangan.

Mulut seksi Tsunade dengan apik menyedot-nyedot penis itu hingga pipinya mengempis. Lidahnya dengan lihai menjilati permukaan penis hingga ke testis. Satu tangan Tsunade dengan lambat menuruni perutnya hingga sampai ke bawah vagina. Disana sudah sangat basah dan cairannya sudah mengotori lantai kamar.

Gemas dengan permainan Tsunade, akhirnya Naruto menggendong gurunya itu dan menidurkannya di ranjang. Tsunade kembali memberikan blowjob dengan siku kanan yang menopang tubuhnya, sementara tangan kirinya masih aktif mengurut kejantanan Naruto agar cepat mengalami pelepasan. Sambil kejantanannya dihisap, Naruto memainkan vagina Tsunade dengan gerakan yang lambat. Saking lambatnya, Tsunade sendiri pun tanpa sadar menggoyangkan pinggulnya.

Tak berlangsung lama, gerakan Naruto yang mengocok vagina Tsunade semakin cepat. Ia juga menarik dan menampar lipatan-lipatan bagian dalam vagina Tsunade tanpa ampun.

"Cepatlah sensei, aku mau keluar..."

Selang tujuh detik Naruto usai berkata, ia berhasil mencapai pelepasan pertamanya. Sperma hangatnya langsung dilahap Tsunade dengan rakus. Bahkan meski sudah tak bersisa lagi, Tsunade masih enggan melepas penis Naruto dari mulutnya.

Tak ingin kalah, akhirnya Naruto melepas paksa penis nya dan kini ia hendak fokus memainkan vagina menggoda di depannya. Masih dengan tiga jarinya yang tertanam dalam lubang ketat itu, Naruto menjepit klitoris bengkak Tsunade dengan giginya. Barisan gigi depan Naruto dengan bringas menggigit klitoris Tsunade lalu menariknya kesana kemari.

"Aaahh mmmffhh..."

Suara becek mendominasi pendengaran Naruto saat ini. Tsunade yang merasakan organ tak bertulang itu menari-nari di dalam vaginya nya membuat tanpa sadar pinggulnya bergerak meminta lebih. "Aahh Narutoo, aahh ahh nggghh~"

Peka bahwa Tsunade semakin didekat pelepasannya, Naruto semakin menenggelamkan lidahnya disana. Ia bahkan memanfaatkan hidung bangirnya untuk menggesek klitoris Tsunade.

"Yess! Uhh uhh mmmhh... Ini enakk sekali Naruto aakhh aahnnn..."

Vagina Tsunade makin becek hingga akhirnya...

Craattt

"Aahh ahhh... oh noo, it feels so good, aahh ahh angghh please stop!"

Cairan itu terus menciprati wajah Naruto, tapi Naruto masih tetap mengocok vagina Tsunade dengan kasar. Tidak memberikannya jeda waktu istirahat barang sebentar.

Tak mau berlama-lama, Naruto langsung membalikkan tubuh Tsunade dan memasukkan benda kebanggaannya ke dalam vagina dengan mudah. Naruto langsung menggenjot tubuh di depannya dengan kencang hingga suara kulit yang beradu terdengar menyakitkan ditelinga. Kedua tangan Naruto sesekali menampar bokong sintal itu dengan gemas. Sesekali meremasnya lalu menamparnya kembali.

Tsunade sendiri pun semakin merasa bergairah saat tangan-tangan besar Naruto menampar kedua sisi pantatnya. Tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri, Tsunade mengganti tumpuan kedua tangannya hanya dengan siku. Susunya yang besar bergoyang kencang karena gerakan Naruto itu turut mengencang akibat terkena gesekan sprei.

Oohh, betapa jalangnya Tsunade semakin terangsang hanya gara-gara gesekan sprei. Satu tangannya ia gunakan untuk memelintir klitorisnya sendri sementara tangan yang lain memainkan putingnya bergantian. Gerakan kombo itu cukup untuk membuatnya semakin menggila.

"Aaahh ahh mmpphh, lebih kencang AAHH AHHH NGGHH!"

Merasa bosan dengan posisinya, Naruto ikut membaringkan diri di kasur dengan posisi menyamping menghadap punggung Tsunade, sementara tangan kirinya mengangkat kaki kiri Tsunade hingga jalan masuknya lebih terbuka lebar. Posisi mereka berhadapan dengan pintu yang saat ini terbuka, namun karena sudah terbuai nafsu, mereka mengabaikannya.

"Aahh ahh aangghh uuhh..."

Sambil menampari vagina nya, mulut Tsunade terus mengeluarkan desahan kosong. Dibelakangnya, Naruto menggeram tanda sebentar lagi akan mencapai puncak. Dengan kedua tangannya, Tsunade memainkan klitorisnya sendiri dengan kasar.

"Yess yess! Aahh Naruto, you fuck my pussy so good. Uuhh uhh don't you dare to stop or aahh ahh... it's so amazing, or I will punish you ngghh nghh..."

Naruto diam saja tak mengindahkan ucapan kotor Tsunade. Urusan akan dihukum atau tidak, itu lain waktu. Yang penting sekarang ia harus lepas dulu.

Pegal karena pencapaiannya tak kunjung dapat, Naruto mengubah kembali posisinya menjadi doggy style. Disana, genjotannya langsung semakin keras dan kencang hingga membuat ranjang berdecit kencang.

"AAHH AHHH... NIKMAT SEKALI NARUTOO... NGAHH AHH AHHH AAHNNN!"

Sama-sama ingin mencapai puncak, Naruto menjambak rambut Tsunade dan terus menggenjotkan pinggulnya. Saliva Tsunade sendiri pun sudah mengalir ke bagian dadanya dan terus mendesah. Hingga akhirnya sebuah suara yang tak asing menginterupsi kegiatan mereka.

"Naru..."

Panik, keduanya langsung berhambur bersembunyi dibalik selimut, apalagi Tsunade. Ia sangat malu karena ketahuan sedang bercinta dengan putra sahabatnya dirumahnya sendiri. Tenggorokannya tercekat bingung ingin berkata apa.

Sementara Naruto sendiri hanya menutupi bagian perut hingga bawahnya sambil mengatur napas. Wajahnya ia palingkan ke arah yang berlawanan dengan ibunya. Agak malu bertatapan wajah dengan ibunya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ini. Hubungan mereka masih terbilang wajar meskipun status Tsunade sekarang masihlah guru Naruto. Tapi tetap saja, bercinta dengan gurumu sendiri yang notabe nya teman ibumu terlihat agak aneh.

"K-kushina, ma-maafkan aku. Aku bisa jelaskan." Sempurna. Entah kenapa mereka terlihat seperti pasangan yang sedang berselingkuh lalu ditangkap basah oleh orang lain.

"Sejak kapan?"

Naruto dan Tsunade bertatapan sejenak sebelum pertanyaan itu dijawab oleh yang lebih muda. "Setahun yang lalu."

"Oh, begitu."

Kushina kemudian memutari ranjang mendekati posisi Naruto saat ini. Naruto yang didekati ibunya bergerak tak nyaman. Bingung ingin melakukan apa. "Pasti menyakitkan kalau ditahan begitu." Lirih Kushina sambil mengelus selangkangan putranya yang masih terbungkus selimut.

"Bu!" Naruto berjengit dan merengsek menjauhi Kushina.

"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu, sayang." Kushina lalu menaiki ranjang dan duduk mengangkang. Ia mengangkat gaun rumahannya dan memperlihatkan vaginanya yang sudah becek. "Kalian terlalu keras tadi, aku sudah tak tahan."

Naruto menelan ludahnya kasar. Jujur ia penasaran, tapi akal sehatnya menolak untuk sekadar menyentuh buah manis didepannya. Bagaimana pun wanita itu adalah orang yang sudah melahirkannya, ibunya!

"Sentuh aku, sayang." Kushina menuntun tangan kiri Naruto ke arah selangkangannya.

Pelan-pelan, jemari kiri Naruto mulai bergerak. Ia memijati seluruh bagian vagina Kushina dengan lembut. Tsunade yang tak ingin perhatiannya direbut langsung meraup bibir Naruto dan mengajaknya berciuman panas. Tangan Naruto yang tadinya menganggur juga memainkan vagina Tsunade yang lengket.

"Aahh sayang... teruskan seperti itu. Aahh ahh ngghh..."

"Buka bajumu, bu." Menuruti keinginan Naruto, Kushina melepaskan gaunnya dan melempar branya sembarangan.

Dengan sensual, Naruto mengangkat tangannya kirinya untuk meremas dada Kushina. Mulutnya juga ikut berpindah dari bibir Tsunade untuk menyedot puting keras Kushina.

Naruto kemudian menindih Kushina dan menghadapkan wajahnya ke vagina beceknya. Ia lalu menggunakan seluruh permukaan lidahnya untuk menjilati liang hangat Kushina. Melihat Naruto yang menungging membuat Tsunade tak hanya ingin diam menganggur. Ia menelusupkan kepalanya diantara dua kaki Naruto yang terbuka dan menghisap penisnya yang menggantung.

"Aahh aahh, ohh god yess! Keep licking, baby, fuckk! Angghh anghh yesss!"

Kushina keluar dengan cepat memuncrati wajah Naruto, tapi pemuda itu tetap memaju mundurkan lidahnya melahap habis seluruh bagian vaginanya. Tsunade yang mendengar desahan Kushina semakin mempercepat gerakan mulutnya menghisap penis Naruto, tak ketinggalan tangannya juga mengocok vaginanya sendiri sampai bergetar beberapa kali.

Naruto kemudian membalikkan tubuhnya menelentangkan diri. Kushina yang masih merasa belum puas mengarahkan vaginanya ke mulut Naruto dan menduduki wajahnya. Sementara ia juga melihat Tsunade didepannya yang pelan-pelan memasuki penis itu ke dalam liang sempitnya.

Dua pasang tangan wanita itu bertumpu pada dada bidang Naruto bersamaan. "Bergeraklah." Ujar Naruto disela-sela kegiatan menjilati vagina Kushina.

Kedua wanita itu mulai menaik-turunkan tubuhnya bersamaan. Dada besar mereka bergoyang seirama satu salam lain. Tangan Tsunade kemudian berpindah memerangkap wajah Kushina. Akhirnya mereka berdua berciuman panas sambil terus menaik-turunkan tubuhnya diatas Naruto.

"Mmhhh mmhh ngghh..."

Desahan mereka sama-sama tertahan karena ciuman. Kehabisan napas, akhirnya ciuman terlepas dan mereka sama-sama bisa mendesah bebas. Kushina terus menggesekkan vaginanya pada lidah Naruto yang menari-nari dibawahnya.

"Bagaimana Kushina? Aah ahh nggh... lidah Naruto hebat bukan? Aakhh akhh!"

Kushina tak mampu menjawab pertanyaan menggoda Tsunade. Kini dirinya hanya terus fokus menghujam mulut Naruto dengan vaginanya. Dan apa yang dikatakan Tsunade benar, lidah Naruto sangat lihai memainkan vaginanya. Bahkan gerakan lidah Minato masih kalah dengan Naruto.

Tsunade mendongakkan kepalanya menyesapi dalam-dalam penis yang bersarang di vaginanya. Sesekali pinggulnya memutar untuk menambah sensasi kenikmatan. Dua wanita itu kembali bertatapan intens, penasaran, Kushina akhirnya menggulum satu dada Tsunade dan meremas dada lainnya.

"Oohh ooh it's so amazing. I'm such a whore aahh ahh... I can't help it. Aahh you licking me so good, Kushina. Anghh ahhh...and I really love your boy's cock aahh..."

Kushina menyudahi acara gulumannya. Gantian, kini Tsunade yang menggulum dadanya. "Kalau begitu aku harus mencobanya. AAHH AHH RIGHT THERE NARUTO! EEENGGHHH!" Tubuh Kushina bergetar saat mencapai orgasmenya yang kedua. Tapi wanita itu tak berhenti menghujam mulut Naruto.

Usai pencapaiannya, Kushina menyingkir dari wajah Naruto. Kini ia memperhatikan bagaimana wajah kawannya yang tampak keenakkan. Ohh lihat sekarang bagaimana putranya tumbuh, penis besar itu juga bahkan sudah melebihi ukuran ayahnya sendiri.

Tsunade terus menggenjotkan tubuhnya sendiri diatas penis Naruto. Kedua tangannya yang bertumpu ke belakangnya mencengkram paha Naruto. Baik dirinya maupun Naruto daritadi sama-sama belum mencapai pelepasan mereka.

"Aahh ahh nikmatnya! Oohh ohh penismu makin membesar dalam diriku, sayang. Aahhh ahh ssshhh! AAHH SAMPAIII! AAH AHHH!" Sperma Naruto terus menembak ke dalam tubuh Tsunade dengan keras hingga membuat tubuh wanita itu kejang-kejang karena ia mencapai orgasmenya sendiri. Ia pun akhirnya melepas penis Naruto dan terlentang lemas.

"Naru, ibu juga mau mencobanya..." gumam Kushina malu-malu. Naruto yang dipanggil hanya diam saja dengan wajah yang memerah malu. Ia kemudian melihat Kushina melentangkan tubuhnya dan membuka kedua kakinya.

"Kau yakin? Sekali aku memasukkan ini, hubungan ibu dan anak antara kita akan berakhir." Balas Naruto dengan nada peringatan. Awalnya Kushina tampak ragu, tapi ia sudah memantapkan hatinya ikut menjerumuskan ke dalam lubang dosa bersama putranya. Ia mengangguk dan membuka lubang itu dengan dua jarinya.

Naruto pun bertatapan dengan Tsunade yang dibalas anggukkan olehnya. Tsunade kemudian menempatkan dirinya dibelakang tubuh Kushina lalu meremas kedua dadanya.

Glands milik Naruto mulai menggesek lubang luar Kushina. Pelan-pelan, pemuda itu mendorong tubuhnya masuk. Kushina merintih merasakan batang berurat itu seperti hendak mematahkan vaginanya.

"Ahhh apa ku benar-benar keluar dari sini? Sempitnya... ughh." Omel Naruto kesal karena lubang Kushina yang sudah melahirkan ternyata tak kalah sempit dengan lubang Tsunade saat dulu ia memerawaninya.

Keseluruhan penis Naruto sudah memasuki liang Kushina. "Aku bergerak ya." Kushina mengangguk mendengar ucapan Naruto.

Naruto mulai memompa tubuh Kushina. Hanya dalam hitungan detik setelah penisnya berhasil masuk, ia langsung menggenjot tubuh Kushina dengan keras. Dua putingnya yang mengeras juga dimainkan kasar oleh Tsunade dari belakang. Barisan giginya saling bergelutuk satu sama lain menahan desahan yang akan terlalu keras jika keluar.

"Keluarkan saja, Kushina. Sayang kalau tidak mendesah, kau tidak akan bisa menikmati nikmatnya penis Naruto." Bisik Tsunade di telinga kirinya. Akhirnya, Kushina pun menuruti ucapan Tsunade dan mulai mengeluarkan desahannya.

"Aahh ahh, sayang, aahhh lebih cepat. uhh uhh ohh ahhh..."

Kedua paha Kushina ditindih menyamping oleh masing-masing kedua tangan Naruto untuk memperlebar jalan masuk. Naruto pun terus mengencangkan kecepatan pinggulnya dan sesekali menampar pipi Kushina gemas karena tak sering mendesah. "Mendesahlah, jalang!"

"Ahhh yess baby. It feels so good. Ahhh! Aahh! Aahhhh!"

Naruto terus menggenjot tubuh Kushina dalam-dalam. Serviks Kushina benar-benar menjepitnya erat semakin ia mendorong masuk penisnya. Kushina terus menangis keenakan merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Kau suka itu?" tanya Naruto yang dibalas anggukan oleh Kushina. Ia menekan bibirnya pada milik Kushina dan mengajaknya untuk berciuman dalam. Melepas pagutannya, Naruto mendengar lagi Kushina menangis. Ia kemudian mulai membisiki kembali Kushina.

"You like that, wench? You like how your womb wants to open up for my cock to enter deeper into you? I'm penetrating the entrance to your baby factory. Fuck, you did so fucking well."

Usai berkata kotor, Naruto kembali menggenjot tubuh Kushina lebih keras. Kushina terus menangis merasakan penis Naruto yang kian membesar didalam serviksnya. Kesepuluh jari tangannya mencengkram udara kosong tanda terangsang.

Merasa bosan, Naruto membalikkan tubuh Kushina hingga membuatnya bertumpu pada kedua lutut dan sikunya. Wajah Kushina langsung dihadapkan pada vagina Tsunade yang hampir mengering. Ia melirik ke atas dan mendapati Tsunade sedang menyeringai.

Pelan-pelan, Kushina menjilati vagina Tsunade. Satu tangannya ia gunakan untuk memainkan klitoris Tsunade agar kembali membesar. Lidahnya terus menari-nari dalam lubang itu hingga membuatnya kembali berkedut. Rasa asam menyapa lidahnya ketika cairan lengket keluar. Ia tak tahan ingin menarik mundur, tapi kepalanya ditarik kembali untuk menjilati vagina didepannya.

"Ahh ahh ayolah Kushina. Jilat milikku ini aah ahh, yesss eat my dirty cunt, bitch. Toungefuck my babyhole till I squirting your face with my pussy juice, oohh ohhh aahhh !"

"Aaahhh aahhh lebih keras sayang. Yeah, yeah, yeah, terus begitu. Eengghh enghhh mmpph!"

Dua wanita terus terus bersahutan dengan desahan khas mereka masing-masing. Hal itu membuat tubuh Naruto semakin panas untuk bergerak.

"Fuck her, Naruto! Fast and hard until she can't remember her own name and who's fucking her!" perintah Tsunade disela-sela desahannya. Satu tangannya terus menahan kepala Kushina agar tetap berada di vaginanya.

"OH GOD, OH GOD!" jerit Kushina sambil menangis. "Aahh ahh terus! Keluarkan di dalam! Keluarkan di dalam! Aaghhh aghh nnnyygghaaaa!"

Bersamaan dengan orgasme Tsunade, rasa hangat juga memenuhi perut Kushina saat likuid putih Naruto terus menembak hingga perutnya terasa berat. Seluruh tubuhnya mengejang karena klimaks yang keras, Kushina terjatuh menghantam kasur merasa lelah. Itu sangat nikmat. Sangat, sangat, sangat nikmat. Pikirannya kosong sambil merasakan dalam-dalam vaginanya yang masih berkedut.

Dibantu Tsunade, Naruto menggeser tubuh Kushina dan memosisikan bantalnya dengan benar. Mereka sudah sama-sama lelah. Kedua tangan Naruto merentang lebar memeluk dua wanita yang kini tertidur mengapitnya. Ia kemudian melirik jam digital diatas nakas.

16.49

Naruto menyeringai. Waktu masih panjang.

.

Malam hari

Tsunade terus mendesah saat ia masih semangat menaik turunkan tubuhnya memunggungi Naruto. Naruto yang sedang duduk di sofa hanya membantu gerakan Tsunade dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sedang mengocok vagina Kushina yang sedang mengangkang lebar.

Televisi yang seharusnya mereka tonton malah berbalik menonton mereka. Acara balap motor di depannya sudah tak menarik perhatian Naruto lagi.

"Aahh ahh ummhh, terus sodok disana, sayang, aanghhh anghh!"

Naruto terus mengocok g-spot Kushina dengan kencang sambil menampari permukaan vaginanya. Tangan kirinya juga ikut menggerakkan pinggul Tsunade yang masih naik-turun memunggunginya.

Ddrrttt

Ddrrttt

Suara ponsel menginterupsi kegiatan panas mereka. Naruto kemudian mengambil ponselnya dan melihat sebuah video call masuk dari ayahnya. Ia kemudian memberi isyarat pada kedua wanitanya untuk diam.

"Hallooo Naruto!"

"Hai ayah. Ada apa?"

"Oh, tidak apa-apa. Ayah hanya kangen saja. Tadi ayah menelpon ibumu tapi dia tak mengangkat panggilanku."

"Tentu saja ayah. Disini sudah jam satu malam. Ibu pasti sudah tidur nyenyak."

"Ya ampun iya ayah lupa! Perbedaan waktu disini ternyata ekstrem sekali dengan Jepang. Kau sendiri, kenapa masih bangun?"

Naruto sekilas menatap pemandangan di depannya. Ia memandang kedua wanitanya sedang berebut menjilati penisnya lalu melihat ke arah televisi. "Aku sedang menonton acara balap motor, seru sekali. Jadi aku belum tidur." Dengan cepat Naruto mengencangkan volume televisi.

"Oh haha. Begitu rupanya. Besok kau tidak sekolah?"

"Tidak, yah. Besok libur. Aahh!"

"Naruto, ada apa?"

"Ngghh itu, aku kaget tadi ada yang jatuh. Jangan khawatir."

Naruto lalu menatap tajam Kushina yang terkikik geli selepas menggigit testisnya. Rasanya ngilu, brengsek! Untung sayang. Kushina lalu menggerakkan mulutnya tanpa suara. 'Jangan lama-lama.'

"Ayah, sudah dulu tak apa-apa kan? Sedang seru nih, tak asik kalau ditunda." Rengek Naruto agar Minato cepat selesai menelpon.

"Oh ya ampun. Maafkan ayah nak. Kudengar teman ibumu datang menginap, titip salam dari ayah ya. Ya sudah selamat menonton, jangan sampai besok bangun siang dan membuat ibumu marah lagi, malu dengan teman ibumu, hahaha..."

Panggilan itu akhirnya diputus sendiri oleh Minato. Tak ketinggalan, Naruto juga langsung me-nonaktifkan ponselnya agar tak ada lagi yang menganggu.

"Heh, dasar nakal! Seenaknya saja menggigit punya orang. Sini kugigit balik kau!"

"AAHHH AAHHH FUCK YES NARUTO. YOUR COCK HITTING MY WOMB SO GOOD. AANGGHH UHHH OHH!"

"YESS YESS YESS KEEP LICKING YOUR MOMMY'S DIRTY PUSSY. YOU SUCH A GOOD BOY OOHHH ENGGHH AANGGHH..."

Lepas itu juga, Naruto langsung menghajar keduanya sampai mereka benar-benar tumbang dan hanya tersisa ia sendirian yang masih tersadar. Stamina seorang atlet memang beda ya.

.

Tbc

.

Request Naruto x Char ditutup dulu ya. Ntar dibuka lagi kalau niat saya udah balik, yang request buat fic sebelah dah mayan nguras otak soalnya wkwk. See you~