Gadis cantik atau gadis imut. Mana yang kalian pilih? Dua-duanya? Tolong jangan jawab seperti itu. Aku sedang melakukan survey penting jadi, pilih salah satu.

Sangat penting kalian untuk menjawabnya dengan benar, aku perjelas. Karena ini menyangkut situasiku saat ini.

Benar di sini maksudnya sungguh-sungguh.

"Jadi Ketua. Siapa yang anda pilih?'

Ada sesuatu yang sangat bergantung pada keputusanku memilih sekarang. Dan itu tentu saja berhubungan dengan pertanyaanku tadi.

"Ketua?"

Pandangan menuntut keputusan terpancar dari segala arah. Dan untungnya tempat aku berada sekarang mendukung pandangan itu agar terpusat dengan baik.

Aku kini berada di atas panggung, dengan beberapa wanita menatap berharap berdiri di depanku dari balik meja bertuliskan dewan juri di atasnya yang aku tempati sekarang.

"Oke. Tunggu sebentar."

Setelah aku berkata seperti itu. Aku merasa semua orang meneguk ludahnya. Dan.. Apa itu keringat di dahi mereka? Bukanya mereka terlalu berlebihan untuk ini?

"Hah.. "

Situasi yang dari tadi kubicarakan adalah. Penentuan pemenang dari kontes "Wanita paling menarik" begitulah mereka menyebutnya. Dan untuk info pentingnya, aku tidak termasuk dari yang disebut "mereka" meskipun aku adalah pemimpin di tempat ini. Ya aku pemimpin dari orang-orang aneh ini.

Aku adalah ketua Organisasi Siswa di sini. Menjabat terpaksa karena ada orang yang seenaknya mencalonkanku, lalu. Tanpa kampanye dan hal-hal setelah itu, tiba-tiba aku terpilih menjadi ketua. Para kandidat selain diriku di kabarkan mengundurkan diri. Sialnya saat aku ingin mengundurkan diri juga, saat aku pergi ke ruang kepala sekolah aku di beri minuman yang membuatku mengantuk dan setelah bangun sebuah kertas dangan cap jempolku di sana telah di buat.

Sekolah aneh, kepala sekolah aneh, murid-murid yang terjebak dalam keanehan itu, dan sialnya. Hanya aku yang menganggap semua ini aneh. Mungkin karena hanya aku yang mengalami hal aneh di sini, seperti pemilihan itu. Atau memang semua orang juga aneh?

"Tidak perlu pura-pura serius berpikir segala. Kau tinggal memilih yang menurutmu paling cantik saja bukan? Atau kau bisa memilih gadis yang kau sukai? Hm.. Lagipula gadis yang dipilih olehmu tidak akan tiba-tiba menjadi takdir jodohmu. Atau harapanmu memang seperti itu? Maaf kalau begitu karena baru saja menghancurkan harapanmu."

Diam. Kau terlalu banyak bicara.

"Aku tidak serius berpikir. Aku hanya mencoba menambah ketegangan di sini."

"Hah? Kau terlalu banyak menonton acara kuis."

Sakura, orang yang berdebat sekarang ini denganku. Salah satu pelopor yang membuatku menjadi ketua dari ratusan orang aneh di sini.

Pada dasarnya dia adalah orang yang paling dekat denganku, jadi aku tidak curiga saat dia memintaku menandatangani sebuah kertas yang biasa aku tanda tangani saat aku sudah mengerjakan piket kelas, biasanya kertas itu hanya ada satu tapi kuingat saat itu dia memberikan aku dua kertas yang dia bilang satunya untuk salinannya. Alasan bodoh? Benar, akupun berpikir begitu. Tapi sudah kubilang karena dia adalah orang paling dekat denganku aku entah mengapa tidak curiga saat itu. Maaf, kalau di pikir lagi sepertinya memang aku yang terlalu bodoh karena tidak curiga.

Dan kertas itu adalah formulir pendaftaran menjadi calon ketua osis. Saat aku sudah terpilih dia baru memberitahuku kalau aku dan dia akan menjadi ketua osis dan wakilnya, sudah terlambat untuk aku menolak. Sialan, pengkhianatan itu masih teringat sebagai kenangan kelam sampai sekarang.

Lamunanku tentang itu buyar saat aku melihat Sakura yang duduk di sampingku berdiri dan memegang pengeras suara.

"Baiklah untuk membantu ketua berpikir tolong semuanya untuk menatap pada matanya sekarang! Itu akan membuat dia memutuskan dengan cepat!"

"OKEEE!!"

Oi, kau berniat mengacaukan pikiranku kalau begitu. Dan, apa-apaan dengan teriakan semangat itu?

Semua orang di sini benar-benar menatapku sekarang dan aku gugup sambil membalas tatapan tajam mereka. Meski, kuperhatikan lagi ada seseorang yang tidak melihatku sama sekali dan dia malah menguap saat ku fokuskan tatapanku padanya.

Oh? Kau tidak suka hal merepotkan ya? Berada di sini merepotkan? Itukan yang ada di pikiranmu, nomor empat?

Terimalah hal merepotkan ini!

"Aku memilih, nomer empat."

Suaraku terdengar jelas karena semua orang sedang hening sambil menatapku. Namun, setelah aku mengucapkan itu. Semua orang malah saling berbisik, ada yang terkejut, ada yang berpose sambil mengatakan "TIDAK MUNGKIN!" ala anime, ada juga yang menatap marah padaku. Dari samping.

"Ada apa Sakura?"

Aku tidak melakukan kesalahan bukan?

"Lihat papan yang ada di sana."

Aku mengikuti arah kemana Sakura menunjuk Dan yang kulihat di sana ada beberapa nama dengan urutan sesuai nomor urut, dan ada angka juga setelah nama-nama itu.

"Kapan mereka melakukan voting?"

Beberapa nama di papan itu adalah hasil voting, setelah melihatnya juga aku jadi tahu mengapa Sakura marah dan beberapa orang di sini terkejut.

Voting dengan angka terbanyak adalah nomor satu dan juga tujuh, keduanya memiliki perolehan yang sama, sedangkan nomor empat adalah nol untuk angka perolehannya.

Oke, hanya kesalahan kecil bukan? Mereka juga tidak bilang kalau aku hanya tinggal memilih salah satu dari nomor satu dan tujuh bukan? Ya, hanya kesalahan kecil.

"Baiklah, karena pemenangnya sudah diputuskan. Semuanya bubar!"

Woy. Mana acara penghargaannya? Mereka baru saja tidak menghargai pilihanku? Bukankah itu buruk untuk posisiku sebagai ketua ya? Oh, itu bagus untuk kepuasan pribadiku.

Ya lihatlah, inilah akibat kalian menyetujuiku menjadi pemimpin kalian! Rasakanlah!

"Kalian benar-benar bubar?!"

Sialan, tetap saja aku merasa buruk sekarang.

"Ini hadiahnya. Kau serahkan sendiri saja."

"Ya memang biasanya ketua osis yang menyerahkannya bukan?"

"Cih."

"Apa maksud cih itu Sakura!"

Semua orang benar-benar kecewa padaku? Hanya karena acara konyol seperti ini? Bukankah itu aneh? Ah aku lupa sekolah ini tempat hal-hal aneh, bagiku.

Sakura berjalan pergi setelah melemparkan bingkisan padaku. Bentuk persegi dengan ketebalan seperti buku pelajaran sekolah.

Hadiah macam apa ini?

"Ah, Nomor empat. Selamat atas kemenangannya."

Aku tidak tahu alasannya tapi untungnya sang juara yang aku pilih masih berdiri di tempat setelah kekacauan tadi.

Rambut hitam panjang dengan mata polos menatap membayang pada lantai. Aku pikir dia cukup manis untuk memenangkan kontes ini. Ada apa di pikiran orang-orang aneh di sekolah ini hingga membuat perolehan votingnya nol. Ya kurasa aku tidak perlu penasaran, karena orang aneh ya aneh.

"Senpai."

Senpai? Berarti dia anak tahun pertama kalau begitu. Apa karena itu dia tidak ada yang memvoting? Tidak, itu tidak mungkin. Karena impian seluruh rakyat adalah dipanggil dengan sebutan senpai, aku yakin orang anehpun sepemikiran denganku tentang ini.

Jadi kenapa?

"Kau harus bertanggung jawab Senpai."

"Eh? Bertanggung jawab? Apakah aku menghamilimu atau sesuatu?"

"Oh? Senpai suka bercanda rupanya. Jadi, membuatku lebih dibenci semua orang dengan memilihku itu candaanmu juga, Senpai?"

Hah? Masalahnya seserius itu? Orang aneh membenci gadis semanis ini?

Apa yang ada dipikiranmu orang-orang aneh?

"Mereka membencimu? Kenapa?"

Bisa jadi karena tahu alasannya aku juga mungkin akan membencinya. Tapi, sayangnya aku yakin tidak akan membencinya karena aku bukan orang aneh.

"Karena, namaku Hanabi."

"Memangnya kenapa kalau namamu Hanabi?"

Dia terkejut aku berkata seperti itu, membuatku berpikir apa ada sesuatu yang salah lagi di perkataanku? Lagipula akukan memang tidak tahu mengapa sebuah nama membuat mereka sebenci itu.

Dan, menurutku. Nama yang manis, kan?


Hehehehehe.. Fanfic mistery asal-asalan.