Namaku Yona, tahun ini, usiaku menginjak dua puluh satu tahun. Aku memiliki pacar yang bernama Suwon. Sebenarnya ia adalah sepupuku, tapi ia bukan anak kandung dari pamanku, jadi bisa dibilang kami tidak berhubungan darah. Hubungan kami sudah berjalan sekitar tiga tahun. Selama ini aku merasa hubungan kami baik – baik saja, tapi kenapa sudah seminggu ini ia jarang memberiku kabar, bahkan kadang teleponku tidak diangkat olehnya.

"Yona, sudahlah. Jangan dipikirkan terus." Ujar sahabatku, Lily.

"Apa Suwon juga tidak memberitahumu dia dimana ly ? Kenapa ia seperti menghilang sih ?" sahutku.

"Tidak, aku sudah jarang berkomunikasi dengannya. Mungkin ia sangat sibuk di LA yang membuatnya jarang mengabarimu. Berpikir positiflah Yona sayang." Balas Lily. Aku tersenyum samar lalu berpamitan padanya. Aku memilih berjalan menuju rumahku, rasanya aku ingin menyegarkan pikiranku. Ya, pikiranku sangat kacau sekarang ini. Aku khawatir sekali jika Suwon mengalami masalah atau hal buruk lainnya disana. Tiba tiba ponselku bergetar da nada panggilan masuk dari Hak, sahabatku dan Suwon.

"Ya Hak, ada apa ?" jawabku.

"Kau dimana ?" tanyanya. Kutolehkan kepalaku dan kulihat ternyat aku didepan kafe Midori.

"Depan kafe Midori. Kenapa ?" tanyaku lagi.

"Tunggu aku di kafe itu Yona." Aku menghela napas dan menutup panggilan dari Hak. Kulangkahkan kakiku memasuki kafe dan duduk disalah satu kursi.

"Permisi nona, ingin pesan apa ?" tanya salah satu pelayan kafe yang datang menghampiriku.

"Em, aku pesan orange juice satu." Balasku. Ia mengangguk dan mencatat pesanan kemudian pergi.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Hak masuk dan ia langsung menghampiriku. Aku melihat ia sedikit berkeringat, apa ia berlari kesini ? Aku inisiatif menyodorkan tissue dan ia menerimanya.

"Duduklah Hak." Ia mendudukkan dirinya dihadapanku dan langsung meminum orange juiceku.

"Hey, itu milikku Hak." Aku merebutnya dan ia menyeringai sambil menjulurkan lidahnya.

"Kupikir kau memesankan ini untukku. Segar sekali." Jawabnya.

"Cih, pesan sendiri sana." Ia terkekeh dan akhirnya aku memanggil pelayan untuk memesan orange juice lagi.

"Ohya, ada apa kau meneleponku tadi ? Kupikir ada sesuatu yang penting." Raut mukanya langsung berubah dan aku mengangkat satu alisku.

"Apa kau sudah dapat kabar dari Suwon ?" Aku menggeleng.

"Yona, kau tahu, tadinya sore ini aku ingin menyusulnya ke LA karena sudah tiga hari aku tidak mendapat kabar darinya. Tapi tadi…." Hak menggantungkan kalimatnya membuat jantungku berhenti berdetak rasanya. Aku mengepalkan tanganku dan menatapnya serius.

"Lanjutkan Hak. Tapi kenapa ?" desakku dan ia sedikit enggan berbicara. Ia terdiam sambil menatapku cukup lama membuatku semakin penasaran akan apa yang terjadi.

"Hak, berhenti menatapku dan katakan apa yang terjadi ?!"

"Tadi siang aku habis mengantar client untuk check in di hotel Awashima, dan saat akan pulang aku melihat Suwon keluar dari mobil dan masuk kedalam hotel." Aku melebarkan mataku kaget. Benarkah itu ?

"Kau yakin Hak ? Bukankah seharusnya ia pulang sebulan lagi ?" tanyaku memastikan.

"Iya, aku yakin." Aku langsung berdiri dan membayar minuman kami. Aku menarik tangan Hak keluar.

"Hey, aku belum menghabiskan minumanku. Kita mau kemana ?" tanya Hak.

"Kemana lagi kalau bukan Hotel Awashima Hak. Aku harus memastikan ia ada disana dan ingin bertanya kenapa ia pulang tidak memberitahuku." Jawabku masih sambil menarik tangannya. Hak pasrah dan akhirnya membiarkanku menarik tangannya. Ketika tiba didepan hotel tersebut, tiba – tiba Hak menahan tanganku.

"Yona, berhenti." Ujarnya.

"Ada apa ?"

"Aku tidak sempat memberitahumu tadi kalau Suwon masuk kedalam hotel ini bersama seorang wanita berambut pirang." Tubuhku langsung membeku ditempat.

"H-hak, benarkah itu ? Mungkin kau salah lihat." Ucapku agak terbata. Hak terdiam dan saat akan masuk kedalam hotel, kulihat Suwon berjalan keluar hotel dengan merangkul seorang wanita berambut pirang persis seperti apa yang barusan Hak katakan. Hak menarik tanganku untuk bersembunyi dibalik pohon dan saat mereka hampir mendekati posisi kami, Suwon tiba – tiba mencium bibir gadis itu. Aku menutup kedua mulutku dan tak terasa air mataku keluar.

"Suwon, kenapa kau mengkhianatiku ?" Air mataku mengalir dengan deras dan sedetik kemudian Hak memutar tubuhku dan memelukku. Aku menangis terisak dan aku berusaha keras agar tangisku tidak terdengar oleh Suwon. Kurasakan Hak mengelus kepalaku dan memelukku semakin erat membuat tangisku tidak begitu terdengar karena ia membenamkan wajahku di dadanya. Beberapa saat kemudian Hak melepaskan pelukannya dan aku memutar tubuhku, sepertinya Suwon sudah pergi bersama gadis itu. Aku mengusap air mataku dan mengerjapkan mataku berkali – kali untuk menjernihkan mataku.

"Yona, kau harus kuat. Putuslah dengannya dan jangan menangis lagi oke." Hak memegang kedua pundakku dan aku mengangguk pelan.

"Ya, aku akan memutuskannya." Balasku.

"Baiklah, sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Aku akan mengantarmu." Ucapnya.

"Tidak usah Hak, aku bisa pulang sendiri." Jawabku.

"Aku sedang senggang Yona hari ini. Biar kuantar, aku tidak mau kau kenapa kenapa." Sahutnya dan langsung menggandeng tanganku. Aku memperhatikan genggaman tangannya dan membuatku termenung.

"Andai saja yang menggandengku saat ini adalah Suwon, aku akan lebih senang." Ucapku dalam hati. Kami berjalan dalam diam dan sesampainya didepan rumahku, Hak melepaskan genggaman tangannya.

"Masuklah." Ucapnya.

"Kau pergilah dulu baru aku akan masuk." Jawabku. Ia berdecih pelan lalu mencubit pipiku.

"Aku akan pergi setelah melihat kau masuk Yona. Ingatlah, jangan menangis lagi dan jangan ragu untuk memutuskannya. Sekalipun ia adalah sahabatku, aku tetap tidak setuju dengan sikapnya yang seperti ini padamu. Kau berhak menemukan pria yang lebih baik Yona." Aku tersenyum tipis, untunglah tadi Hak ada disampingku. Kalau tidak, mungkin aku akan seperti gadis bodoh yang menangis dipinggir jalan.

"Iya Hak, terima kasih sudah mengantarku. Aku masuk." Aku melambai padanya dan masuk kedalam rumah. Selesai mengganti pakaianku, aku langsung menguatkan diri untuk menelepon Suwon. Tak disangka, ternyata ia mengangkat teleponku.

"Ya ada apa Yona ?" Sudah berhari hari tidak memberi kabar namun ia masih juga bertanya ada apa padaku. Aku mendongakkan kepalaku agar air mataku tidak menetes lagi.

"Suwon, kau masih di LA ?" Ia terdiam cukup lama mendengar pertanyaanku.

"Iya. Kenapa ?" tanyanya.

"Aku ingin mengakhiri hubungan ini." Ucapku singkat dan kami terdiam.

"Baiklah, tidak apa – apa. Maaf aku sedang sibuk, aku akan menutup teleponnya." Sahutnya. Aku langsung menutup panggilanku dan merebahkan tubuhku.

"Hubunganku berakhir begitu saja." Aku menutup wajahku dengan bantal dan berguling – guling. Air mataku yang tadi menggenang dalam sekejap langsung hilang.

"Sebaiknya aku ngapain ya sekarang ?" Tiba – tiba aku ingat kalau ayahku menyuruhku untuk mengantar beberapa dokumen ke kantor Hak. Aku langsung bangun dan memakai kemeja dengan rok selutut. Setelah memasukkan dokumen ke dalam tas, aku langsung memakai sepatuku dan berangkat menuju kantornya.

Setibanya disana, aku langsung duduk di salah satu kursi dan mengirim pesan padanya. Tak lama ia membalas pesanku dan berkata bahwa ia sedang diluar dan sebentar lagi akan kembali.

"Sudah lama sekali aku tidak kesini. Apa ayah juga sedang sibuk ya ?" Aku berdiri dan berniat untuk menghampiri ruangan ayahku. Saat sedang berjalan menuju lift tiba – tiba seseorang merangkulku dan saat kutolehkan wajahku, kulihat ia menatapku dengan datar dan mengangkat sebelah tangannya padaku.

"Halo, ayo masuk keruanganku dulu." Sapanya dan aku langsung ditarik masuk kedalam lift.

"Hak, lepaskan. Kau tidak lihat banyak orang melihat kita hey." Aku berusaha melepaskan diri darinya namun sia – sia.

"Aku akan melepaskannya saat kita sudah berada diruanganku. Bersabarlah." Lift berhenti di lantai 30 dan kami keluar. Sepanjang perjalanan menuju ruangan Hak banyak orang yang membungkuk dan memberi hormat pada Hak yang hanya dijawab hm saja olehnya.

Ia membuka pintu ruangannya dan betapa kagetnya aku saat melihat ada teman – teman Hak didalamnya.

"Uwow, aku tidak menyangka Hak kembali bersama pacarnya. Hahaha." Seru Jaeha.

Aku merengut dan melepaskan diri dari Hak.

"Aku bukan pacarnya."

"Yona-san, bagaimana kabarmu ? Sudah lama sekali kau tidak kemari." Seru Kija. Aku tertawa kecil dan sedikit membungkuk untuk menyapa semuanya.

"Halo semuanya. Maaf aku jarang sekali kemari karena aku benar – benar sibuk di kampus. Bagaimana kabar kalian ?" sapaku pada mereka.

"Kami baik. Ayo sini duduk." Ujar Jaeha dan aku mengangguk. Saat akan berjalan menuju sofa, Hak menahan lenganku dan aku menoleh.

"Kenapa Hak ?"

"Kau sudah mengakhiri hubunganmu dengannya ?" Aku menghela napas dan menganggung. Ia langsung tersenyum dan mengelus kepalaku.

"Bagus, sekarang bersantailah." Ada apa dengannya ? Ia benar – benar aneh sekali.

Aku berbincang – bincang dengan Jaeha dan Kija dan itu benar – benar membuatku melupakan masalahku tadi. Sejam kemudian mereka pergi dan kini hanya tinggal aku dan Hak. Kuperhatikan dirinya yang sedang sibuk mengetik dan tampak fokus. Kusangga daguku pada tanganku dan menatap dirinya yang terlihat tampan saat sedang serius.

"Kenapa kau memandangiku seperti itu Yona ?" ujarnya tanpa menoleh kearahku.

"Hak, kenapa kau tidak memiliki pacar padahal kau sangat tampan. Apa kriteriamu terlalu tinggi ?" tanyaku dan ia langsung menghentikan aktifitasnya sejenak. Ia menatapku dan mengangkat bahunya.

"Aku tidak berniat berpacaran." Jawabnya singkat lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

"Tapi kau sudah dua puluh empat tahun Hak." Sahutku.

"Tapi aku tidak berminat untuk memiliki pacar." Jawabnya lagi. Aku langsung mengerutkan alisku heran. Jangan – jangan

"Hak, jangan – jangan kau gay." Aku berceletuk dengan pelan tapi ia langsung menatapku dengan kesal.

"Yona, aku masih normal. Aku masih ingin menikah dan memiliki keturunan asal kau tahu." Sahutnya kesal. Aku tertawa terbahak – bahak dan mengusap air mata yang sedikit keluar di sudut mataku.

"Benarkah ? Memang kapan kau berencana menikah ? Kupikir kau tidak suka dengan wanita dan memilih melajang." Sahutku sambil tertawa.

"Tahun depan aku akan menikah." Jawabnya singkat. Aku langsung termenung dan entah kenapa aku merasa tidak terima.

"Dengan siapa ? Memangnya kau sudah memiliki calon ?" tanyaku lagi.

"Sudah. Hanya saja aku belum melamarnya." Aku langsung terdiam mendengar jawabannya. Jika Hak benar – benar akan menikah tahun depan maka itu artinya hubungan persahabatan mereka pasti juga akan berakhir. Tidak mungkin ia akan mengganggu Hak lagi jika ia sudah menikah.

"Sial, kenapa aku jadi badmood begini sih." Kutukku dalam hati. Baru saja putus dengan Suwon dan kini aku mendengar jika Hak akan menikah. Tega sekali mereka berdua padaku.

"Hak, aku pulang dulu." Aku bangkit dan mengambil tasku.

"Sejam lagi aku selesai. Kau tidak mau pulang bersamaku ?" tanyanya.

"Tidak usah Hak. Aku ingin mampir sebentar kerumah Lily." Ia mengangguk dan aku langsung pergi. Aku berjalan dengan gontai menuju rumah Lily dan Lily yang melihatku terlihat tidak bersemangat langsung bertanya.

"Hey kau kenapa Yona sayang ?" tanyanya padaku.

"Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Suwon." Ia melebarkan matanya dan menyuruhku masuk kedalam kamarnya.

"Serius ? Kau meneleponnya ?" Kemudian aku menceritakan kejadian tadi pada Lily.

"Ya ampun, tega sekali Suwon padamu. Sudahlah Yona, jangan menangisinya. Kau pasti akan menemukan pria yang lebih baik darinya. Percaya padaku." Ia memelukku sambil mengusap punggungku.

"Iya ly, terima kasih. Aku merasa sedikit bersemangat hehe."

"Ohya, kau habis darimana ?" Seketika aku langsung badmood.

"Menemui Hak dikantornya."

"Lalu kenapa kau terlihat badmood ?" tanyanya heran.

"Ia berkata padaku bahwa tahun depan akan menikah. Ck menyebalkan sekali." Ia terkejut mendengar perkataanku dan menutup mulutnya .

"Kau serius ?" Aku mengangguk.

"Bukankah ia menyukaimu ya ?" celetuknya yang seketika membuatku terkejut.

"Apa maksudmu ly ?" Lily tampak gugup dan meringis.

"Kau tidak tahu ?" tanyanya dan aku menggeleng.

"Dulu sewaktu ia SMA dia pernah mengatakan padaku bahwa ia menyukaimu. Hanya saja Suwon sudah terlebih dulu menembakmu dan akhirnya kalian jadian."

"Oh begitu. Aku baru tahu." Lily menjitak kepalaku keras membuatku kesakitan.

"Kau sih tidak peka. Padahal dulu aku sangat mendukung kau dan Hak, hanya saja kau sudah menyukai Suwon terlebih dulu. Mungkin jika saat itu pria yang kau pacari adalah Hak, kau akan jadi gadis paling beruntung heh." Aku terkekeh geli mendengarnya.

"Beruntung bagaimana ?"

"Karena ia sangat mencintaimu Yona. Aku yakin ia tidak akan melirik gadis lain." Aku mengangkat bahuku.

"Yah, mungkin benar. Tapi itu kan sudah berlalu ly. Sekarang ia sudah memiliki calon istrinya sendiri dan bahkan akan menikah tahun depan. Aku tidak ingin terlalu dekat dengannya agar saat ia menikah nanti aku sudah terbiasa jauh dengannya." Jelasku.

"Kau benar. Aku akan mendukungmu dengan siapapun Yona, yang penting berhati hatilah saat ingin menjalin hubungan kembali nanti." Ucap Lily. Setelah mengobrol panjang lebar akhirnya aku pamit dan pulang kerumah.

.

.

Tak terasa sudah sebulan sejak aku putus dengan Suwon dan karena aku sedang sibuk dengan kegiatan perkuliahan dan organisasi dikampusku, aku jadi jarang berinteraksi dengan ayahku dan juga Hak. Setiap ia menghubungiku kebetulan aku sedang sibuk jadi tidak bisa mengangkat teleponnya hingga ia mengirimiku pesan dan mengatakan bahwa kenapa aku terlihat seperti menghindarinya.

"Kenapa ia tahu kalau aku sedang menghindarinya sih ?" Aku membalas pesannya dan mengatakan kalau aku sedang ada rapat organisasi dan ia mengerti.

Malamnya, aku pulang kerumah sekitar pukul tujuh malam dan sepertinya ayahku juga belum pulang. Aku langsung mandi dan beristirahat. Kulihat ponselku dan tidak ada satupun pesan.

"Sepertinya film yang kemarin kudownload belum sempat kutonton." Aku membuka laptopku dan menonton film. Kupasang headset ke telingaku dengan volume cukup kencang dan ponselku kusilent agar tidak mengganggu.

Film sudah berjalan selama tiga puluh menit dan kulihat pembunuh yang ada di film itu sedang mengejar korbannya. Saat sedang fokus menonton, tiba – tiba kulihat pintu kamarku terbuka dan jantungku langsung berdetak dengan cepat. Bukankah dirumah ini hanya aku ? Siapa yang membuka pintu kamarku. Aku langsung mengeratkan selimut yang kupakai dan terus melihat kearah pintu. Lampu tiba – tiba dinyalakan dan kulihat Hak berdiri didepan pintuku. Langusng kupause filmku dan melepas headset yang kupakai.

"Hak, kau mengagetkanku."

"Kau sedang apa ? Aku tadi meneleponmu tapi tidak diangkat. Dan apa kau tahu, saat aku kemari aku terkejut melihat pintu rumahmu tidak tertutup dengan benar." Aku melebarkan mataku. Untung saja bukan orang jahat yang masuk. Aku langsung menutup laptopku dan berjalan menghampirinya.

"Benarkah ? Aku tadi sedang menonton film dan ponsel kusilent." Aku mengajaknya keruang tamu dan menyuruhnya duduk.

"Ada apa kau kemari Hak ?"

"Tadi kau pulang jam berapa ?" tanyanya.

"Jam tujuh malam. Kenapa ?" Ia menghela napas panjang.

"Walaupun kau bilang sedang sibuk akhir – akhir ini tapi kenapa aku merasa kau sedang menghindariku ? Jawablah dengan jujur Yona." Aku enggan sekali menjawab pertanyaannya. Ia pasti akan tertawa jika mengetahui alasanku menjauhinya.

"Aku tahu kau pasti akan tertawa mendengar jawabanku." Ia mengernyitkan keningnya dan berdecih pelan.

"Tidak akan. Katakan saja." Kukumpulkan keberanianku dan kuucapkan alasanku yang sebenarnya.

"Aku hanya ingin membiasakan diri jauh denganmu Hak." Jawabku singkat.

"Apa maksudmu ?" tanyanya.

"Bukankah waktu itu kau bilang sudah memiliki calon dan akan melamarnya ? Bahkan kau juga bilang akan menikah tahun depan. Jadi aku ingin berusaha menjauh darimu agar saat kau menikah nanti aku tidak lagi bergantung padamu." Ia terdiam menatapku. Aku jadi merasa tidak enak dan bersalah padanya.

"Maafkan aku Hak." Ucapku.

"Kau bodoh sekali Yona." Ucapnya dan aku langsung meringis.

"Ganti pakaianmu, aku ingin mengajakmu makan malam diluar. Cepatlah." Ujarnya dan aku menurut saja. Hak mengajakku pergi ke restoran China di dekat kampusku.

"Kau pesan apa Hak ?" tanyaku.

"Samakan saja denganmu." Setelah pelayan itu pergi, aku mengecek ponselku dan kulihat ayah mengirimiku pesan bahwa ia akan pulang larut.

"Yona, jangan berusaha menjauh dariku lagi." Ujar Hak tiba – tiba.

"Aku hanya ingin membiasakan diri Hak, aku tahu aku selalu bergantung padamu selama ini. Bagaimana reaksi istrimu nanti jika kau sudah menikah ?" jawabku cepat.

"Hahhh, memangnya kau sudah tahu siapa gadis yang akan kunikahi ?" tanyanya. Aku menggeleng.

"Kau saja tidak tahu, kenapa kau tidak bertanya padaku heh ?"

"Aku tidak ingin mengetahuinya saat ini. Kau bisa memberitahuku nanti seminggu sebelum kau menikah." Jawabku lagi. Ia mencubit pipiku dan tersenyum.

"Jika aku memberitahumu seminggu sebelum pernikahan, bagaimana kau akan memesan gaun pernikahanmu nanti Yona ?" sahutnya. Aku langsung terhenyak mendengarnya.

"Maksudmu ?"

"Gadis yang ingin kunikahi adalah dirimu. Jadi jangan berusaha menjauh dariku lagi, mengerti ?" ujarnya.

"Hak, kau bercanda ?" Aku berusaha memastikan pendengaranku tidak salah.

"Tentu saja tidak bodoh, aku sedang melamarmu sekarang. Jadi, apa kau mau menikah denganku ?" tanyanya. Aku terkejut setengah mati mendengarnya. Mataku berkaca – kaca mendengarnya.

"Kau mengagetkanku Hak, kenapa kau memilihku dan sejak kapan kau menyukaiku ?" jawabku.

"Sudah sejak lama, mungkin saat kau SMA. Hanya saja Suwon sudah lebih dulu menembakmu saat itu jadi aku mengurungkan niatku untuk menyatakan perasaanku. Dan entah kenapa perasaanku sampai sekarang tetap sama padamu. Jadi, apa jawabanmu ?" tanyanya. Aku tersenyum dan mengangguk.

"Aku menerimanya Hak." Ia tersenyum dan langsung mencium keningku.

"Terima kasih Yona."

"Jadi, kenapa kau memberitahu Lily dan bukannya memberitahuku kalau kau menyukaiku ?" tanyaku kemudian.

"Lily cerita padamu ?" Aku mengangguk dan ia terlihat malu.

"Dulu aku galau sekali saat tahu kau jadian dengan Suwon dan Lily bertanya ada apa denganku, aku mengatakannya dengan jujur tanpa sadar. Kupikir Lily sudah melupakan ucapanku waktu itu ck." Aku tertawa mendengar jawabannya.

"Benarkah ? Maafkan aku Hak." Ucapku.

"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Itu sudah lama. Ayo makan. Setelah ini kita harus memberitahu ayahmu dan menentukan tanggal pertunangan kita." Aku mengangguk dan kami makan malam bersama. Entah kenapa aku merasa bahagia sekali hari ini. Apa sebenarnya aku juga menyukainya, hanya saja selama ini aku enggan mengakuinya. Tak kusangka pria yang akan menjadi takdirku ternyata selalu berada didekatku. Senyumku terus mengembang dan aku berharap bisa mencintai dan menyayanginya setulus mungkin. Aku tidak ingin menyia – nyiakan perasaannya seperti dulu.