Akatsuki no Yona Mizuho Kusanagi

Benang Takdir Nakahara Sakura

.

.

.

.

.

Perjalanan mereka kali ini terasa begitu melelahkan. Mungkin itu karena musim hujan yang tengah melanda wilayah Kai membuat mereka mau tak mau harus berteduh di dalam gua jika tidak ingin pakaian mereka basah kuyup. Yona memeriksa selimut yang ada ditas dan setelah memastikan tidak ada yang basah, ia menghampiri Hak dan yang lainnya yang tengah mengelilingi api unggun.

"Hak, geser sedikit." Ujar Yona. Hak menoleh kemudian bergeser. Yona menggosok telapak tangannya yang dingin lalu menempelkannya pada kedua pipinya. Tak sadar bahwa kegiatannya sejak tadi diperhatikan oleh Hak.

"Kau kedinginan ?" tanya Hak. Dilihatnya wajah tuan puterinya itu sedikit pucat.

"Em, iya. Mungkin karena bajuku basah." Jawab Yona. Hak langsung melirik pakaian Yona dan benar saja, pakaian Yona basah dan sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya. Hak dengan cepat melepas baju luarnya dan memakainnya pada Yona, lalu ia menoleh pada Kija dan Jaeha yang duduk dekat Yona. Mereka menatap Yona tanpa berkedip membuat Hak jengkel.

"Jangan menatapnya seperti itu atau aku akan mencungkil mata kalian." Sinis Hak. Yona menoleh menatap Kija dan Jaeha dan mereka berdua hanya tertawa canggung.

"Hime-sama, gantilah atau kau akan masuk angin." Sahut Hak menyuruh Yona pergi dari situ.

"Tapi Hak, dimana aku harus ganti pakaian ?" tanya Yona lagi. Hak memandang sekitarnya, hujan masih turun dengan deras.

"Di dalam gua saja, sepertinya gua ini cukup dalam." Hak melihat kearah dalam gua yang tampak gelap.

"K-kau yakin ? Kalau begitu, temani aku." Cicit Yona dengan wajah cemas. Hak tersentak kaget mendengarnya.

"Kau tidak bisa sendiri ?" ujar Hak, ia memandang Yona dengan tatapan sedikit tak percaya. Gadis ini benar – benar polos atau bodoh heh.

"Tidak Hak, aku takut, bagaimana jika ada ular atau hewan berbisa lainnya ?" sahut Yona sambil memelas.

"Aku akan menemanimu Yona-chan. Ayo." Ajak Jaeha dengan senyum manis di wajahnya. Hak langsung meninju wajahnya lalu berdiri.

"Baiklah, kutemani." Hak mengambil obor dan Yona berjalan dibelakang Hak menyusuri bagian dalam gua tersebut.

"Hak, pelan – pelan jalannya." Yona memegang baju belakang Hak agar tidak tertinggal. Hak melirik kebelakang dan akhirnya ia memegang tangan Yona agar gadis itu tidak tertinggal. Sudah cukup lama berjalan, tiba – tiba mereka menemukan sebuah batu yang cukup besar.

"Hime-sama, ganti disini saja." Tunjuk Hak pada sebuah batu besar didalam gua.

"Baiklah, kau berbalik." Ucap Yona. Hak langsung memutar tubuhnya dan menunggu Yona berganti pakaian. Selesai berganti pakaian, mereka bermaksud kembali ke teman – teman mereka sebelum mereka dikejutkan sesuatu.

"Hak, lihat lukisan di gua ini !" ucap Yona sambil mengarahkan obornya ke dinding kanan gua. Mereka terpana melihat lukisan itu.

"Kenapa bisa ada lukisan istana Kouka di gua seperti ini ya ?" gumam Yona heran. Hak memandangi lukisan tersebut lalu terlihat sebuah tulisan kuno. Hak mencoba membacanya dengan seksama.

Selalu ada cerita dibalik sebuah peristiwa

Kira – kira begitulah bunyinya. Hak menggelengkan kepalanya tidak paham dengan maksud tulisan itu.

"Hime-sama, ayo kita kembali." Ajak Hak. Saat menoleh, betapa terkejutnya pria itu saat melihat Yona berjalan masuk ke lukisan istana tersebut. Hak dengan cepat meraih tangannya dan saat itu ia merasa dirinya tersedot ke dalam lukisan. Mereka tiba di ruangan yang gelap dan saat berusaha keluar, ternyata ruangan tadi adalah penjara bawah tanah istana Kouka.

"Hime-sama … hime-sama …" Hak berusaha menyadarkan Yona, dan akhirnya gadis itu sadar.

"Hak, dimana kita sekarang ?" Mereka melihat sekeliling.

"Tampaknya kita berada di Istana Kouka hime-sama, tapi kenapa pakaian prajuritnya sangat aneh ?" Hak heran dengan pemandangan sekitarnya. Istana Kouka tampak sedikit berbeda dengan terakhir kali mereka pergi.

"Hak, kita tanya prajurit saja bagaimana ?" ujar Yona. Hak menjitak kepalanya pelan.

"Kita akan ditangkap hime-sama, pasti mereka akan mengira kita penyusup." Akhirnya mereka berjalan secara sembunyi – sembunyi. Saat itulah mereka baru sadar jika orang – orang yang ada disana tidak ada yang bisa melihat mereka berdua.

"Hey, apa kau tahu jika kabarnya istri Raja Hiryuu akan melahirkan hari ini ?" ucap salah seorang prajurit disana.

"Benarkah ? Wah, aku tidak sabar untuk menunggu putra beliau lahir." Hak dan Yona saling bertatapan heran.

"Hak, mungkinkah kita saat ini berada di era masa Raja Hiryuu berkuasa ?" tanya Yona ragu.

"Sepertinya begitu. Ayo kita masuk dan lihat bagaimana suasana istana." Ajak Hak. Mereka berjalan biasa dan masuk ke dalam istana. Mereka berdua bisa melihat Raja Hiryuu yang saat itu sedang duduk bersama keempat naga. Yona menutup mulutnya terharu.

"H-hak, aku tidak percaya ini. A-aku melihat pendahuluku saat ini." Yona terisak kecil dan melihat Raja Hiryuu sedang bersenda gurau dengan keempat naga.

"Aku juga hime-sama, dan keempat naga itu juga sepertinya para pendahulu Kija, Jaeha dan ShinAh." Tak lama mereka melihat Raja Hiryuu pamit hendak menuju kamar istrinya.

"Ayo Hak, kita ikuti." Ujar Yona tak sabar. Hak sedikit enggan mengikutinya. Tentu saja perbuatannya itu sangat tidak sopan sekali.

"Hime-sama, apa kau tidak malu ?" tanya Hak sambil menatap intens Yona. Yona bingung dengan ucapan Hak.

"Apa maksudmu ?" tanya Yona.

"Raja Hiryuu ingin ke kamar istrinya, apakah kita perlu melihat apa yang dilakukan beliau terhadap istrinya ?" Hak menjelaskannya dengan berat hati. Yona langsung bersemu. Ia baru sadar.

"A-ah iya juga. Tapi, bukankah katanya istri Raja Hiryuu akan melahirkan hari ini ? Kita harus melihatnya Hak." Yona kembali bersemangat dan Hak hanya mendesah panjang mendengar gadis itu begitu antusias.

"Benar – benar merepotkan." Mereka berjalan di belakang Raja Hiryuu, saat berada di dalam kamar, ia melihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam sepinggang sedang duduk diranjang. Perutnya tampak besar sekali dan ia tengah mengelusnya.

"Sayang, bagaimana kondisimu ?" tanya Raja Hiryuu pada istrinya. Istrinya tersenyum dan menyuruh Raja Hiryuu duduk di sampingnya.

"Aku baik – baik saja. Tadi tabib bilang kalau hari ini aku tidak boleh pergi dari kamar, karena menurut perkiraannya, bayi ini akan lahir hari ini." Ujar istri Raja Hiryuu. Raja Hiryuu mengelus perut istrinya dan mencium kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Yona langsung memutar badannya dan langsung menubruk dada bidang Hak membuat pria itu jadi menatap dirinya.

"H-hak, kenapa kau menatapku ?" tanya Yona pelan. Hak menyeringai.

"Bukankah tadi aku sudah bilang padamu, kenapa kau malah memutar tubuhmu heh ? Bukankah mereka berdua sangat romantis ?" ledek Hak. Yona merengut dan meninju lengan Hak. Saat hendak melihat kearah mereka berdua lagi, tiba – tiba Hak mendorong gadis itu agar menjauh dari ruangan itu. Hak juga menutup kedua mata Yona.

"Hak, apa yang kau lakukan ? Lepaskan aku." Hak menyuruhnya agar diam, namun Yona tak juga paham. Akhirnya Hak menunduk dan berbisik ditelinga Yona.

"Jangan menoleh kearah mereka atau kau akan menyesal hime-sama." Ujar Hak dengan senyuman ganjil. Yona semakin dibuat penasaran. Karena terus memberontak, akhirnya Hak melepaskan gadis itu dan Yona menoleh. Betapa terkejutnya gadis itu saat melihat Raja Hiryuu sedang mencium istrinya dengan posisi yang sungguh intim. Wajah Yona langsung memerah dan dengan segera ia menutup kedua matanya dengan tangan mungilnya.

Hak tertawa kecil melihat reaksi Yona yang imut. Gadis ini benar – benar keras kepala.

"Sebaiknya kita keluar dari sini hime-sama." Hak menarik lengan Yona dan mereka berjalan menuju balkon.

"Hah, bodohnya aku." Ucap Yona kesal sambil memukul kepalanya.

"Kau baru sadar eh ?" Hak meledek.

"Tapi, istri Raja Hiryuu benar – benar cantik Hak, aku bisa membayangkan anak mereka akan setampan apa." Ujar Yona. Hak mengangguk.

"Benar, beliau sangat cantik." Ucap Hak.

"Hak, tapi kenapa aku merasa kalau pakaian yang dipakai oleh istrinya tadi terlihat seperti pakaian dari suku angin ?" gumam Yona. Hak seketika sadar akan sesuatu.

"Aku pernah mendengar rumor kalau katanya istri Raja Hiryuu itu merupakan putri dari pemimpin Suku Angin. Aku sendiri juga tidak tahu kebenarannya." Mereka berdua semakin penasaran. Kemudian adegan memperlihatkan saat istri Raja Hiryuu melahirkan seorang putra tampan dengan rambut hitam pekat.

"Lucunyaa …" ujar Yona gemas. Hak tersenyum, mereka berdua berjalan mendekati istri Raja Hiryuu.

"Sayang, terima kasih sudah melahirkan putra kita dengan sehat. Aku sangat mencintaimu." Ujar Raja Hiryuu sambil menggendong putranya.

"Sama – sama. Akan kita beri nama siapa putra kita sayang ?" tanya istrinya.

"Yak shi. Kurasa itu nama yang bagus." Jawab Raja Hiryuu.

"Baiklah. Aku setuju denganmu." Raja Hiryuu kemudian duduk di samping ranjang dan memberikan putranya itu kepada istrinya.

"Kalian berdua adalah harta yang sangat berharga bagiku." Gumam Raja Hiryuu.

Yona menangis sesenggukan melihatnya. Ia sangat bahagia melihat momen ini. Hak juga ikut merasakan kebahagiaan ini.

"Sayang, setelah aku sehat kembali, apa aku boleh berkunjung ke kampung halamanku ?" tanya istri Raja Hiryuu tiba – tiba.

"Tentu saja boleh. Kau bisa berkunjung ke suku angin kapanpun kau mau." Sahut Raja Hiryuu. Yona menoleh ke Hak dengan kaget.

"Ternyata istrinya dari suku angin Hak."

"Berarti rumor itu benar." Balas Hak.

"Kau tahu, aku sangat terkejut saat itu waktu kau bilang ingin menikahiku padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya." Ujar istrinya tertawa.

"Kata siapa belum pernah ? Kita pernah bertemu saat masih kecil, mungkin kau lupa. Kau adalah cinta pertamaku istriku. Yah, walaupun saat itu aku sangat pengecut karena tidak berani mengungkapkannya. Untung kau tidak jadi menikah dengan mantan kekasihmu saat itu." Ujar Raja Hiryuu dengan raut wajah sedikit kesal.

"Hee benarkah itu ?" Jawab istrinya sambil terkekeh.

"Tentu saja. Mana mungkin aku membiarkan gadis yang kucintai menikah dengan pria lain hm ? Jadi, apa sekarang kau sudah bisa melupakan pria itu dan mencintaiku ?" tanya Raja Hiryuu menggoda istrinya. Hak dan Yona merasa malu mendengarnya. Mereka sama – sama memalingkan wajahnya.

"Tentu saja aku mencintaimu saat ini, kalau tidak bagaimana mungkin kita bisa memiliki putra yang sangat lucu ini hm ?" goda istrinya.

"Hahaha, benar juga ya. Maafkan aku jika dulu sikapku sangat egois padamu sayang. Aku bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana takutnya dirimu saat kita sudah menikah saat itu." Raja Hiryuu tertawa kecil mengingat masa lalunya. Istrinya merengut sebal dan memalingkan wajahnya karena malu. Dan ternyata wajah Hak dan Yona sudah sangat memerah karena mendengar pembicaraan mereka sejak tadi.

"Sudahlah, jangan dibahas sayang. Aku tidak ingin mengingatnya." Sahut istri Raja Hiryuu. Raja Hiryuu semakin gencar menggoda istrinya. Dan itu sukses membuat istrinya malu dan terus – menerus merona dibuatnya. Hak yang sudah tidak tahan akhirnya menjauh dari pasangan itu sambil menarik Yona.

Saat sudah sedikit jauh dengan Raja Hiryuu dan istrinya, Hak melirik kearah Yona. Yona masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Telinganya tampak memerah.

"Kita sudah aman hime-sama." Ucap Hak. Yona mendongak dan mengelus dadanya.

"Aku tidak kuat melihat dan juga mendengar percakapan mereka. Benar – benar pasangan yang romantis sekaligus unik." Ucap Yona. Saat mereka sibuk menenangkan diri, terdengar sayup – sayup suara Raja Hiryuu.

"Sayang, apa kau tahu jika peramal kerajaan dulu pernah mengatakan padaku bahwa jodohku adalah gadis dari suku angin ? Aku sangat terkejut mendengarnya, dan tak lama setelah itu aku bertemu dirimu untuk pertama kalinya saat umurku sepuluh tahun. Entah kenapa saat pertama kali bertemu denganmu, aku merasa bahwa kau adalah wanita yang akan menjadi jodohku kelak dan aku tidak menyangka itu akan terjadi. Aku bahkan pernah bermimpi melihat seseorang sepertiku menikah dengan seseorang dari suku angin, padahal itu bukan diriku. Mungkin itu adalah penerusku atau reinkarnasiku di masa depan. Aku sangat bersyukur bisa memilikimu dan putra kita sekarang. Kuharap kebahagiaan kita akan terus berlanjut begitu juga dengan kerajaan ini." Ujar Raja Hiryuu. Hak dan Yona terdiam berusaha mencerna ucapan Raja Hiryuu barusan. Saat mereka sibuk dengan pikirannya masing – masing, tiba – tiba tubuh mereka seperti tersedot masuk kelubang hitam dan ternyata mereka sudah kembali ke gua tempat mereka berteduh tadi.

"Hak, apa barusan aku bermimpi ?" tanya Yona sambil mencubit lengannya. Terasa sakit, itu artinya bukan mimpi.

"Sepertinya tidak." Jawab Hak. Tak lama Jaeha, Kija, Zeno dan ShinAh menghampiri mereka bedua.

"Kalian darimana saja ? Aku panik saat tidak menemukan kalian di gua ini. Bahkan ShinAh sampai mencari di bukit belakang gua." Tanya Jaeha.

"Kami tadi pergi sebentar. Sudahlah, ayo kembali." Ucap Hak menimpali. Mereka akhirnya kembali menuju mulut gua dan makan. Yona masih berkutat dengan pikirannya sendiri, jika ia adalah reinkarnasi Raja Hiryuu, apa itu artinya jodohnya nanti akan berasal dari suku angin ? Yona menatap kearah Hak dan melihat pria itu sedang makan dengan lahap.

"Apa iya kamu jodohku Hak ?" Gumam Yona kecil masih sambil memandang Hak. Hak yang sadar dengan tatapan Yona sejak tadi akhirnya berdehem.

"Hime-sama, makanlah." Sahut Hak membuyarkan pikiran Yona. Gadis itu menatap wajah pria dihadapannya dengan seksama. Ia baru sadar jika Hak sangatlah tampan, dan satu lagi. Ia berasal dari suku angin. Tiba – tiba pipinya bersemu dan Yona dengan cepat memalingkan wajahnya. Hak yang melihatnya langsung menyeringai dan berbisik ditelinga Yona.

"Apa kau masih memikirkan perkataan Raja Hiryuu tadi hime-sama ?" bisik Hak menggodanya.

"T-tidak, aku sedang memikirkan hal lain." Sahut Yona cepat.

"Heh, benarkah ?! Lalu kenapa wajahmu memerah saat menatapku tadi ?" Hak menggodanya dan Yona langsung meninju perut Hak.

"Kau sangat menyebalkan Hak." Balas Yona.

"Cih, mengaku saja hime-sama." Ejek Hak.

"Aku hanya sedang banyak pikiran saat ini Hak. Jangan menggodaku." Ucap Yona kesal.

"Jadi, apa kau percaya jika jodohmu nanti akan berasal dari suku angin seperti yang dikatakan Raja Hiryuu ?" bisik Hak.

"Entahlah, aku tidak tahu. Aku belum siap memikirkan tentang jodoh dan pernikahan Hak." Sahut Yona sambil menyeruput supnya.

"Tapi kau sudah delapan belas tahun hime-sama. Di desaku, gadis berumur delapan belas tahun kebanyakan sudah menikah dan memiliki anak malah." Yona langsung tersedak dan terbatuk – batuk.

"Minumlah perlahan." Hak menyodorkan gelas berisi air dan Yona langsung menenggaknya.

"Hak, tolong jangan berkata yang aneh – aneh. Apa kau senang melihatku tersedak heh ?" sindir Yona. Hak terkekeh kecil.

"Kau lucu sekali." Hak tertawa kecil melihat Yona yang tampak imut dan menggemaskan di matanya.

"Aku akan menikah, tapi setelah kau menikah Hak." Balas Yona kembali menyeruput supnya. Hak terdiam mendengarnya.

"Aku bahkan berharap bisa menikah denganmu hime-sama, yah, walaupun aku tahu itu tidak akan mungkin terjadi mengingat kau sangat menintai pria itu." Gumam Hak dalam hati.

"Jika ramalan Raja Hiryuu benar, itu artinya jodohku nanti pasti dari suku angin." Yona bergumam kecil sambil mengaduk supnya.

"Siapapun pria yang nanti menjadi suamimu, kuharap kau bahagia bersamanya hime-sama. " ucap Hak sambil tersenyum lembut. Yona mengangguk tersenyum.

"Aku juga berharap kau bahagia Hak." Sahut Yona. Mereka tak sadar jika benang takdir sudah mengikat mereka sejak dulu. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Dewa akan menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan. Tak seorangpun tahu jika Hak adalah reinkarnasi dari istri Raja Hiryuu.

.

.

End