Chapter 01

.

.

.

.

.

Akatsuki no Yona

Matahari pagi yang masuk melalui celah – celah kamar membuatku mengerjapkan mata berkali – kali karena silau. Perlahan kubuka mataku dan melihat ke langit – langit kamarku. Tunggu dulu, dimana ini ? Kenapa bentuk kamarku berubah total ? Tanpa basa – basi aku langsung loncat dari ranjang dan berdiri tegak. Dimana ini ? Kenapa aku disini ? Bukankah seharusnya aku berada di istana ?

"Sebenarnya apa yang terjadi padaku semalam ? Apa ini mimpi ?" Kucubit pipiku dan terasa sakit. Kemudian kulangkahkan kakiku ke sebuah kaca jendela dan kulihat pemandangan yang berbeda.

"Kenapa banyak sekali rumah disini ? Dimana istana Hiryuu ?" Aku masih termenung dengan kejadian yang sedang kualami ini. Apa yang terjadi hingga aku berada di tempat ini ? Saat sedang melamun tiba – tiba kudengar pintu kamar ini terbuka dan tampaklah seseorang yang nampak seperti….ibuku ?!

"I-ibu…" panggilku pelan berusaha memastikan.

"Iya, kenapa kau bengong disitu ? Ini sudah jam enam, cepatlah turun makan dan mandi. Nanti kau terlambat ke sekolah." Ucapnya.

Tak terasa air mataku mengalir. Bagaimana tidak ? Selama ini aku hidup hanya dengan ayah, namun sekarang aku bisa melihat kembali wajah ibuku. Langsung saja aku berlari kearahnya dan memeluknya seerat mungkin.

"Ibu …. Huhu …. Ibu …." tangisku kencang dan beliau mengusap kepalaku dengan lembut.

"Kau ini kenapa tiba – tiba menangis ? Apa kau bermimpi buruk ? Sudahlah, ayo turun. Kau akan terlambat nanti." Aku mengangguk saja dan beliau menuntunku ke bawah menuju ruang makan.

"A-ayah ?!" panggilku saat kusadari pria paruh baya yang sedang duduk di meja makan itu tampak seperti ayahku.

"Ya Yona, ayo duduk. Tempura ini sangat enak, kau tidak akan kebagian jika kau hanya melamun disitu." Aku tersenyum dan berlari memeluknya.

"Aku kangen ayah." Ucapku dan mereka tertawa bersama.

"Kau ini aneh sekali Yona, tadi menangis kemudian memelukku, dan sekarang memeluk ayahmu sambil berkata kangen. Padahal setiap hari kita bertemu, seperti sudah lama saja tidak bertemu." Ibuku dan ayahku tertawa sedangkan aku hanya tersenyum sambil mengelap air mataku.

Rasanya aku beruntung sekali bisa bertemu ayah dan ibuku kembali walaupun mungkin aku saat ini aku sedang berada di zaman yang berbeda denganku. Selesai makan, aku langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi. Walaupun sedikit bingung dan kesulitan dengan berbagai peralatan yang ada, tapi aku mencoba – coba menggunakannya.

"Tahun berapa sekarang ya ?" Aku kembali melamun dan seketika teringat Hak. Dadaku tiba – tiba terasa sakit. Aku ingat bahwa Hak sudah tidak sadarkan diri selama satu minggu semenjak ia kembali dari pertempuran dan bukankah aku seharusnya bersamanya ?

"Hak …. aku merindukanmu."

Selesai mandi aku langsung naik ke kamarku lagi. Selesai berpakaian aku bercermin dan sedikit merias diri. Rambutku yang sudah sangat panjang ini akhirnya kusanggul agar rapi.

"Kenapa ini sangat pendek sih ?" Kuperhatikan rok yang sedang kupakai. Ah sudahlah, mungkin di zaman sekarang hal seperti ini sudah biasa. Langsung kuambil tasku dan berjalan turun ke bawah untuk berpamitan.

"Ibu, ayah aku berangkat dulu. Ittekimasu." Ucapku.

"Hati – hati Yona. Itterasai." Teriak ibuku.

Saat aku keluar rumah, kulihat seseorang berdiri di depan rumhaku. Tunggu dulu, bukankah itu Lily ?!

"Yona, kau lama sekali. Aku sudah menunggumu dari tadi loh." Ucapnya sambil merengut kesal. Aku masih terkejut dengan kehadirannya, ternyata tidak hanya ayah dan ibu yang kutemui di zaman ini, tapi juga Lily. Bukankah itu artinya aku pasti akan bertemu Hak ?

"Lily ?! Sejak kapan ?" tanyaku terkejut.

"Ck, ayo cepat. Sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup." Ia menarik tanganku dan kami berlari bersama.

Kami tiba di sebuah bangunan besar dan kulihat banyak orang – orang yang memakai baju yang sama seperti kami.

"Lily, ini sekolah ?" tanyaku memastikan.

"Iya Yona, kenapa malah bengong. Apa kau salah makan hari ini ?" Ia memperhatikanku dengan bingung. Aku tersenyum padanya dan mengajaknya masuk.

Setibanya di salah satu ruangan yang disebut kelas, kami duduk di kursi bagian depan.

"Yona, sebenarnya apa yang terjadi padamu ? Kau tampak berbeda hari ini." Tanya Lily padaku. Aku mengangkat alisku bingung dengan pertanyannya. Bukankah aku sama saja sejak dulu.

"Berbeda gimana maksudmu ?" tanyaku balik.

"Pertama, kau tampak asing dengan sekolah ini, seperti baru pertama kali melihatnya. Padahal kita sekolah setiap hari. Kedua, biasanya kau tidak pernah berdandan, tapi kali ini bibirmu tampak merah segar dan rambutmu rapi sekali. Kau jadi terlihat dewasa, tidak seperti gadis berumur enam belas tahun." Ucapnya.

"Oh, ini aku hanya mencobanya. Memangnya kenapa ? Apa menurutmu aneh ?" Ia menggeleng dan menghela napas.

"Kau jadi tampak sangat cantik Yona. Saat kau menggerai rambutmu saja kau sudah cantik apalagi kalau kau berdandan. Sepertiya aku harus memintamu mengajariku cara menyanggul rambut seperti itu." Ucapnya dengan tertawa kecil.

Kuperhatikan Lily yang sedang tertawa, ia sama sekali tidak berubah sejak dulu. Aku benar – benar beruntung bisa bertemu dengannya di zaman ini dan sepertinya kami menjadi sahabat juga di masa ini.

Tak lama, seorang pria paruh baya datang dan kelas dimulai. Entah kenapa setiap materi yang diajarkan kepadaku terasa sangat mudah kuingat.

"Lily, sekarang tahun berapa ya ?" tanyaku berbisik pada Lily dan ia syok mendengarnya.

"2021 Yona. Astaga, kau bahkan lupa tahun berapa saat ini. Memangnya kau ini hidup di zaman apa sih ?" Ia menggeleng – gelengkan kepalanya heran.

Saat pelajaran pertama selesai aku dan Lily pergi ke kamar mandi. Kulihat toilet di sini sama seperti di rumah. Hanya saja di rumah sedikit lebih luas. Saat berjalan menuju kelas kembali, kulihat di sebuah lapangan ada banyak pria yang mengenakan seragam berbeda dengan kami dan sedang memainkan sesuatu.

"Mereka sedang apa ya ?" gumamku.

"Sedang olahraga Yona, wahh .. ada Geuntae – senpai juga. Ayo Yona, kita lihat anak laki – laki main basket sebentar." Tanpa menunggu persetujuan dariku ia langsung menarik lenganku.

Sesampainya di pinggir lapangan, ia tampak antusias melihat para pria itu sedang berolahraga. Bahkan matanya berbinar – binar senang.

"Yona, ayo kita kesana. Kija – senpaiiii, ShinAh – senpaiiii." Lily berteriak kencang sekali kearah mereka dan mereka semua menoleh kearah kami. Oh Dewa, mereka sangat tampan, yah walaupun tidak setampan Hak sih.

"Lily, Yona-chan." Panggil seseorang dengan rambut hijau. Aku melebarkan mataku sedetik kemudian, bukankah mereka Kija, Shin-Ah dan Jaeha ?!

Kami kemudian berlari kearah mereka dan saat itulah aku tiba – tiba seperti menabrak seseorang.

"Aahhh …" Aku terjatuh dan kulihat lututku berdarah karena bergesekan dengan lapangan. Rasa perih langsung menghinggapi lututku.

"Astaga Yonaaa …" Kulihat Lily berlari kearahku disusul beberapa pria dibelakangnya.

"Kau tidak apa – apa Yona ?" tanya seseorang tiba – tiba dari sampingku. Tunggu dulu, suara ini terasa familiar. Kutolehkan kepalaku ke kanan dan kulihat Hak berjongkok di sebelahku.

"A-aku baik – baik saja. K-kau H-hak ?" Aku terkejut melihatnya. Seharusnya aku sudah menduga ini, pada saat aku bisa melihat ayah, ibu, Lily dan yang lainnya. Seketika aku menangis dan memeluk dirinya. Hak, kau tahu aku sangat merindukanmu. Kau sudah tidak sadarkan diri selama satu minggu, bahkan Yoon saja sudah pasrah dengan kondisimu. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi sekarang.

"Aku merindukanmu. Huhuhu, jangan tinggalkan aku sendiri lagi Hak." Isakku padanya.

"Yona ?" panggilnya. Ia memasang raut wajah heran dengan sikapku barusan. Ah, aku lupa bahwa mereka tidak tahu jika aku dari masa lalu.

"A-ano, maafkan aku Hak – senpai." Aku sedikit malu dan memutuskan berdiri untuk mengobati lukaku.

"Tidak apa, sini kubantu." Ia memapahku berdiri dan Lily langsung menghampiriku.

"Yona, ayo kita ke uks. Lihat itu, darahmu sangat banyak." Lily panik melihatku dan aku menenangkannya.

"Aku tidak apa – apa ly, ayo bantu aku berjalan saja ke uks." Ajakku.

"Yona, apa perlu kugendong ? Aku tidak tega melihatmu berjalan dengan kaki seperti itu." Ucap Kija, namun aku menggeleng.

"Tidak usah senpai. Aku bisa kok." Ucapku meyakinkan.

"Ayo ly." Baru beberapa langkah kakiku terasa ngilu dan terbakar. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku.

"Yona, yona kau tidak apa – apa ?" tanya Lily khawatir. Aku mengangguk.

"Pelan – pelan saja ya, kakiku terasa perih sekali." Ucapku. Saat kami hendak berjalan kembali, tiba – tiba kurasakan tubuhku seperti diangkat seseorang. Kulihat Hak menggendongku.

"Ayo kita ke uks." Ujarnya menatapku.

"Hak – senpai, terima kasih." Ucapku dan kulihat dirinya tersenyum tipis. Hak yang sekarang terlihat sedikit dingin sikapnya, tapi wajahnya masih sama seperti dulu.

Sesampainya di uks, ia langsung menurunkanku di ranjang dan mengambil sebuah kotak dari lemari.

"Hak – senpai, biar aku saja yang mengobati Yona." Pinta Lily namun Hak malah menyuruhnya pergi mencari dokter uks. Kini di uks hanya ada kami dan suasana tampak canggung.

"Yona, buka sedikit rokmu." Aku melebarkan mataku dan menatapnya takut. Apa maksudnya barusan ?

"Maksudku naikkan sedikit rokmu, aku ingin mengobati lututmu." Ucapnya lagi saat melihat reaksiku. Ia tampak malu karena ucapannya yang pertama, aku terkekeh kecil melihatnya.

"Tahan sedikit, ini akan perih." Ia meneteskan beberapa obat kepadaku. Selesai membersihkan dan mengobati lukaku, ia mencari perban dan membalutnya di lututku.

"Senpai, terima kasih dan maaf sudah merepotkanmu." Aku mengucapkan terima kasih padanya karena sudah mengobatiku dan ia mengangguk.

"Yona, rambutmu sedikit berantakan." Ujarnya dan aku mencari cermin di ruangan itu. Kulepas sanggulku dan kugerai rambutku. Ia tampak diam melihatku dan aku memandangnya balik.

"Ada apa senpai ?" tanyaku.

"Kau sangat cantik Yona." Ucapnya pelan seperti gumaman dan seketika wajahku memerah. Astaga Hak, kau membuatku gemas. Padahal dulu kau sering sekali mengejekku, tapi sekarang kau tampak berbeda.

"A-ah terima kasih senpai." Ucapku dan ia seketika sadar akan apa yang diucapkannya. Ia tampak menutupi wajahnya dengan satu lengannya dan menghela napas.

Ia kembali membersihkan lukaku yang berada di pergelangan tangan.

Brakkk

"Yona-chan, bagaimana lukamu ?" kulihat kearah pintu uks dan tampak Jaeha, Kija, ShinAh, Lily dan seorang sensei melihat kearah kami.

"Sudah tidak apa – apa." Jawabku sambil tersenyum simpul. Mereka kemudian masuk dan Kija meninju kepala Hak.

"Minggir sana, biar sensei yang mengobati luka Yona." Kija tampak kesal dan seketika aku tertawa melihat tingkahnya. Kija yang dulu dan sekarang ternyata memiliki sifat yang sama persis. Hanya rambutnya saja yang sedikit berbeda, kini rambutnya tidak sepanjang dahulu.

"Ck kau ini. Ingin mengajakku berkelahi hah ? Ayo kita lanjutkan diluar." Ujar Hak menanggapi.

"Sudahlah, kalian ini. Sensei, silahkan mengobati Yona." Seru Lily bosan melihat tingkah keduanya.

Hak POV

Aku keluar uks untuk menjernihkan pikiranku. Pikiranku kembali saat kejadian tadi Yona menangis sambil memelukku. Rasanya dadaku sesak sekali melihatnya menangis seperti itu. Kusenderkan tubuhku pada dinding luar uks lalu mengacak rambutku.

"Argh, ada apa denganku sebenarnya ?" Kenapa aku merasa ia sangat familiar, belum lagi saat melihat wajahnya tadi rasanya aku seperti kembali ke masa lalu, tapi kapan dan dimana ?

"Hak, kau aneh sekali hari ini." Shin-Ah menepuk pundakku dan membuatku tersentak.

"Tidak kok. Hanya pikiranmu saja." Ucapku dan berlalu pergi.

Aku berjalan tanpa arah dan tak terasa sudah berada di halaman sekolah. Aku langsung duduk dan menutup mataku sejenak, bayangan wajahnya masih terus berputar di pikiranku.

"Hak – senpai." Aku langsung membuka mataku saat kudengar suara lembut itu yang masuk ke telingaku.

"Yona, kenapa kau kesini ?" Aku menggeser sedikit dudukku dan menyuruhnya duduk.

"Senpai … a-apa k-kau ingat padaku ?" tanyanya kemudian. Aku menatapnya heran.

"Apa maksudmu ?" tanyaku padanya sambil menyipitkan mata.

"Ah tidak apa – apa. Lupakan saja." Ucapnya lagi. Kupegang bahunya dan kutatap tajam dirinya.

"Yona, apa yang sebenarnya terjadi ? Jelaskan padaku sekarang." Tanyaku memaksa. Ia tampak tersenyum dan memegang wajahku.

"Dengarkan apa yang akan kukatakan. Terserah kau mau percaya atau tidak." Aku mengangguk dan ia tiba – tiba menciumku.

"Aku mencintaimu Hak – senpai." Ia tersenyum padaku dan aku terkejut dengan tindakannya barusan. Kenapa jadi begini ?

"Yona, apa maksudmu ? Kau bercanda ?" tanyaku memastikan.

"Tidak senpai. Jika kau ingin mendengar ceritaku kau harus mau jadi kekasihku dulu." Jawabnya sambil tertawa pelan. Aku mendecih kesal, gadis ini menyebalkan sekali. Belum lagi ia sudah mengambil ciuman pertamaku. Ck. Harga diriku serasa jatuh saat ini.

"Baiklah. Jadi, bisakah kau ceritakan sekarang ?" jawabku.

"Sebenarnya, aku tidak berasal dari zaman ini, aku berasal dari masa lalu. Jujur aku terkejut kenapa aku bisa berada disini senpai. Namun aku bersyukur bisa bertemu ayah dan ibuku kembali yang sudah meninggal dan juga dirimu. Kau tahu, dirimu, Kija – senpai, ShinAh – senpai, Jaeha – senpai dan juga Lily, kalian semua ada di kehidupan masa laluku. Bahkan kalian semua adalah sahabatku. Dan asal kau tahu Hak, dulu kita itu sepasang kekasih." Ucapnya.

"Lalu, kenapa kau bisa ada disini sekarang ?" tanyaku lagi.

"Entahlah, seingatku tadi malam aku duduk disampingmu. Kau sudah tidak sadarkan diri selama satu minggu, bahkan Yoon mengatakan jika harapan kau untuk hidup sangat kecil. Seminggu lalu kau kembali dalam keadaan terluka parah karena perang. Setiap malam aku menunggumu sadar dan semalam sepertinya aku bergumam pada diriku andai saja aku bisa bertemu kembali denganmu aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Setelah itu aku tertidur dan saat bangun aku sudah berada di tempat asing ini."

"Rasanya ceritamu itu seperti tidak nyata Yona." Aku menarik napas panjang, pantas saja aku merasa familiar sekali dengannya hari ini. Padahal biasanya jika bertemu dengannya aku tidak pernah merasa seperti ini.

"Hehe, maaf. Kau bisa percaya atau tidak." Jawabnya tersenyum kecut.

"Aku percaya padamu Yona." Balasku dan ia sedikit terkejut dengan ucapanku.

"Terima kasih senpai. Baiklah, aku kembali ke kelas dulu ya, sampai jumpa senpai." Ia melambaikan tangannya padaku dan berlari menjauh.

"Aku percaya padamu Yona. Kau tahu, aku tidak menyangka ternyata kita selalu terhubung dengan benang takdir sejak dulu. Aku juga sangat mencintaimu." Kutatap dirinya yang berlari menuju kelas saat ini. Rambutnya yang panjang tergerai dengan indah sekali.

.

.

.

To be continued