Chapter 03

.

.

.

.

.

Akatsuki no Yona

"Yona, kamu mempunyai waktu tiga hari lagi di masa depan. Setelah tiga hari kau akan kembali ke masa lalu. Manfaatkanlah waktumu dengan baik." Ujar sebuah suara, aku terus mencari asal suara itu namun tidak menemukannya. Tak lama kemudian aku terbangun dari tidurku.

"Ternyata hanya mimpi." Aku bergegas bangun. Jika benar tiga hari lagi aku kembali ke zamanku, itu artinya hari Jumat adalah hari terakhirku di zaman ini. Tunggu dulu, bukankah hari itu ada pertandingan basket sekolahku ? Ya ampun, kenapa waktunya mepet sekali. Untung saja aku masih bisa menontonnya.

Selesai bersiap – siap aku berpamitan pada ibuku. Ibuku bahkan membawakanku bekal hari ini. Selesai memakai sepatu aku langsung berlari keluar rumah dan berangkat menuju sekolah. Tumben sekali Lily tidak menghampiriku.

Sesampainya disekolah, aku bertemu Kija dan Shin-Ah senpai di gerbang.

"Pagi senpai." Sapaku.

"Hm, pagi juga Yona." Ucap ShinAh – senpai.

"Pagi juga Yona. Kau kelihatan bersemangat hari ini." Ujar Kija – senpai. Aku hanya tersenyum dan kami masuk ke sekolah bersama – sama.

"Senpai, aku ke kelas dulu. Sampai jumpa." Ucapku pada mereka. Saat hendak berbelok ke kelas, kurasakan tanganku di tahan oleh seseorang. Kutolehkan kepalaku dan kulihat sebuah kotak makan dihadapanku.

"Ini kukembalikan. Ohya, tolong ucapkan terima kasih pada ibumu ya, mereka sangat menyukai masakan ibumu." Ujar Hak – senpai. Aku mengangguk dan menerima kotak makan itu.

"Hm, ohya senpai, kapan kau akan mengajakku ke rumahmu ? Aku ingin sekali bertemu kakek dan adikmu." Ucapku. Kulihat Hak – senpai terkejut mendengar ucapanku, kulihat Kija – senpai dan ShinAh – senpai juga terkejut mendengarnya.

"Hey, hey. Sebenarnya kalian ini ada hubungan apa sih ? Apa kalian berpacaran ?" tanya Kija – senpai mendelik tajam pada Hak – senpai.

"Kau ini, jangan menimpali pembicaraan orang Kija." Jawab Hak – senpai.

"Aa, baiklah aku ke kelas dulu." Balasku cepat dan berlalu pergi.

"Yona, maaf tadi pagi aku tidak bisa berangkat bersamamu, aku harus mengantar adikku sekolah karena ibuku sedang tidak enak badan hari ini." Ujar Lily tiba – tiba begitu aku masuk kelas.

"Tidak apa ly, semoga ibumu cepat sembuh ya." Balasku sambil menepuk pundaknya, lalu kami duduk di kursi dan pelajaran di mulai.

Selesai sekolah, kuputuskan untuk pulang dengan jalan kaki. Langkah kakiku terasa berat kali ini. Baru kali ini kurasakan waktu berjalan begitu cepat.

"Hak, aku rindu sekali padamu. Apa kau sudah sadar saat ini ?" gumamku sambil menendang – nendang kerikil.

"Aku rasa dia juga merindukanmu Yona." Tiba – tiba terdengar sebuah suara dari arah belakang membuatku kaget. Segera kuputar tubuhku dan kulihat Hak – senpai berdiri di belakangku.

"Sejak kapan senpai disini ?" tanyaku heran. Ia mengangkat bahunya.

"Sejak tadi, masa kau tidak mendengar langkah kakiku. Apa yang kau pikirkan ?" tanyanya dan aku seketika langsung murung.

"Senpai, aku merindukannya. Aku harap ia segera sadar, semalam aku bermimpi kalau waktuku di dunia ini tinggal tiga hari lagi. Dan saat aku mengingat mimpi itu, entah kenapa langkah kakiku terasa berat. Rasanya aku masih ingin di sini berkumpul bersama kedua orangtuaku, tapi aku juga merindukannya." Ucapku. Pikiranku menerawang jauh, jika aku kembali ke masa lalu, maka aku tidak akan bertemu ayah dan ibuku lagi. Memikirkannya saja sudah membuatku sedih, ditambah lagi dengan kondisi Hak. Tiba – tiba kurasakan tubuhku di tarik dan aku kembali dari lamunanku. Kulihat Hak – senpai mendekapku erat hingga bisa kurasakan detak jantungnya yang cukup kencang.

"Senpai .." ucapku.

"Sebentar saja Yona." Balasnya dan akhirnya aku mengalah. Yah, walaupun Hak – senpai adalah reinkarnasi dari Hak kekasihku, tetap saja rasanya sedikit berbeda. Tapi, pelukannya tetap sama, rasanya sangat nyaman saat ia memelukku.

"Yona, mungkin ini akan terdengar aneh olehmu. Tapi aku benar – benar mengatakannya dari hati yang paling dalam. Aku mencintaimu Yona, entah sejak kapan. Rasanya aku tidak ingin jauh darimu. Aku tidak berharap kau akan membalas cintaku, tapi biarkan aku menunjukkan rasa cintaku padamu sebelum kau pergi." Ucapnya. Aku benar – benar kaget. Tak terasa air mataku mengalir, aku bersyukur, baik di masa lalu maupun di masa kini, Hak masih tetap mencintaiku. Kubalas pelukannya erat dan kutahan isakanku.

"Terima kasih senpai, kuharap kau dan Yona di masa kini bisa bahagia selalu. Terima kasih karena kau tetap mencintaiku walaupun kita sudah berbeda zaman." Ucapku dan Hak – senpai mengelus rambutku.

"Yona, saat kau sudah kembali ke masa lalu nanti, sampaikan salamku padanya. Aku penasaran sekali apakah ia benar – benar hebat dalam bertarung." Ujarnya sambil terkekeh.

"Hey, kau tidak percaya rupanya. Asal kau tahu saja, ia bisa menghajar sepuluh orang sekaligus dengan tombaknya. Aku sangat bangga padanya. Dan satu lagi, dia adalah calon suamiku." Balasku dan ia mencubit pipiku.

"Dan asal kau tahu juga, walaupun dia adalah calon suamimu di masa lalu, tapi di masa depan aku yang akan menjadi calon suamimu. Ingat itu Yona." Hak menyeringai padaku dan aku sedikit bergidik melihatnya. Kulepaskan pelukannya dan aku mundur satu langkah.

"Seringaimu itu menakutkan senpai." Ucapku dan ia tertawa melihat ekspresiku.

"Ayo, aku antar pulang. Sudah sore." Ajaknya dan menggandeng tanganku.

Malamnya, saat aku sudah mulai terlelap, kurasakan tubuhku seperti melayang dan ditarik. Aku yang tadinya memejamkan mata akhirnya kubuka mataku perlahan karena merasa sangat silau.

"Yona – san." Panggilnya. Di hadapanku, kulihat sosok seperti diriku sedang tersenyum.

"Yona, ini dimana ?" panggilku balik.

"Ini diperbatasan zaman kita Yona – san. Cepatlah kembali ke zamanmu, Hak sudah menunggumu." Ucapnya lagi dan kemudian tubuhku terasa seperti di dorong kedepan.

Beberapa saat kemudian, kurasakan seseorang memanggil namaku dengan pelan. Kubuka mataku perlahan, dan kulihat Hak yang sedang berbaring sambil menatapku.

"Hime-sama, bangunlah." Panggilnya. Kulebarkan mataku saat sadar bahwa aku sudah kembali ke zamanku dan kulihat Hak sudah sadar. Tanpa aba – aba aku langsung menubruknya.

"Hak, syukurlah kau sudah sadar. Aku sangat merindukanmu. Jangan membuatku takut Hak, jika kau benar – benar mati, aku juga akan menyusulmu ke alam baka." Ujarku dan kurasakan Hak menepuk – nepuk kepalaku.

"Aku tidak akan mati semudah itu hime-sama. Hm benarkah kau sangat merindukanku ? Jadi, boleh aku minta ciumanmu pagi ini ?" ucapnya. Segera saja kutinju perutnya dan ia langsung meringkuk.

"Kau ini, baru juga sadar sudah aneh – aneh." Tanpa sadar, senyumku mengembang dan langsung kuraih kepala Hak lalu mencium bibirnya singkat.

"Sebentar sekali. Sini, biarkan aku yang menciummu." Langsung kujauhkan tubuhku dan ia merengut kesal.

"Hahaha, kau ini. Sejak kapan kau sadar Hak ?" tanyaku.

"Pagi ini, tapi semalam aku bermimpi aneh. Rasanya aku seperti melihatmu sedang berpelukan dengan sosok yang mirip diriku. Aneh sekali bukan ?" ucapnya dan mulutku menganga. Jangan – jangan yang Hak lihat adalah saat Hak – senpai memelukku dan menyatakan perasaannya.

"Hak, aku ingin menceritakan sesuatu tapi kau janji jangan marah ya." Ia seketika mendelik tajam padaku.

"Aku juga bermimpi seperti berada di masa depan. Dan kau tahu, di masa depan aku bertemu kau, Lily, Kija, ShinAh dan Jaeha. Rasanya seperti kita semua bereinkarnasi di masa depan. Dan Hak di masa depan bahkan menyatakan perasaannya padaku." Ucapku.

"Apa yang ia katakan padamu ?" tanyanya dengan tatapan tajam. Aku sedikit takut melihat tatapannya, namun tetap kuteruskan bercerita.

"Ia bilang bahwa ia mencintaiku. Walaupun kau adalah calon suamiku di masa lalu, tapi di masa depan, ia yang akan menjadi calon suamiku. Begitu katanya." Ujarku dan kulihat Hak merengut kesal, bahkan ia sudah bersiap bangun dan mencari tombaknya.

"Hey, apa yang kau lakukan ?" tahanku. Ia menatapku serius.

"Aku ingin menghabisinya. Berani sekali ia menyatakan cinta pada calon istriku. Walaupun ia adalah reinkarnasiku, tetap saja menyebalkan mendengarnya." Jawabnya dan aku tertawa.

"Sudahlah, aku hanya membalasnya dengan ucapan terima kasih. Aku bersyukur Hak, bahkan di masa depan kita masih tetap bersama. Tenang saja, aku masih tetap akan memilihmu." Ujarku sambil menyeringai dan ia membalasaku dengan seringai pula.

"Hm, begitu kah. Jadi, bagaimana jika kita percepat pernikahan kita Yona – hime ? Lagipula aku sudah sadar sekarang." Usilnya dan aku menatap garang padanya.

"Tanpa kau percepat, pernikahan kita akan terjadi sebulan lagi. Jadi sebaiknya kau memulihkan dirimu Hak, jangan sampai kau tiba – tiba tumbang saat hari pernikahan kita. Aku akan memberitahu Yoon agar ia memberikan obat terbaik untukmu." Kulangkahkan kakiku pergi dari kamar untuk mencari keberadaan Yoon.

.

.

.

Omake

Saat pertandingan basket, tim basket Hak berhasil menang dan masuk ke babak final. Sorak – sorai terdengar sangat riuh dari segala penjuru. Selesai menghabiskan minumannya, Hak langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan gadis pujaan hatinya. Matanya menangkap sosok gadis itu sedang duduk bersama teman – temannya di pinggir lapangan. Hak langsung melangkahkan kakinya menuju gadis itu. Saat sudah berada didekatnya, gadis bersurai merah panjang itu menoleh dan tersenyum. Seketika Hak sadar jika Yona yang ia lihat sekarang adalah Yona dari masa kini, bukan masa lalu. Pria itu tersenyum balik lalu menarik pergelangan tangan gadis itu agar berjalan mengikutinya.

"Okaerinasai Yona." Ujar Hak. Yona terkekeh pelan mendengarnya.

"Tadaima Hak – senpai, bagaimana kau bisa tahu kalau aku Yona dari masa kini ?" tanya gadis itu heran.

"Entahlah, mungkin auramu ?" sahut Hak ragu.

"Memangnya kau bisa melihat aura seseorang hm ?" tanya gadis itu lagi.

"Tidak, aku hanya merasakannya. Apa kau juga bertemu dengan Hak dari masa lalu ?" Yona mengangguk.

"Sebenarnya bukan bertemu sih, hanya melihat. Jiwaku tidak bisa memasuki tubuh Yona dari masa lalu entah kenapa, jadi aku hanya memperhatikannya." Jawab Yona.

"Begitu rupanya. Semoga saja Hak sudah sadar dan mereka berdua bisa hidup bahagia." Sahut pria itu dengan senyum lembutnya.

"Tenang saja senpai, ia sudah sadar kok. Aku juga berharap mereka bahagia selamanya." Balas Yona senyum manis di wajahnya.

Kedua insan manusia dari berbeda zaman itu tampak menyunggingkan senyum dengan begitu cerah. Mereka percaya bahwa setiap peristiwa dan kejadian yang menimpa keduanya akan selalu menjadi kekuatan mereka untuk menjalani kehidupan ini dari masa ke masa.

.

.

.

End