From :Rankudai Ninja Rantaro vol 2, hal 128-130

Autor : Soubei Amako
Central character : Sinzaemon Tobe
Title : Kelemahan Guru Tobe

Hari sudah siang, namun aku belum punya kesempatan untuk makan. Huh…walaupun aku, Sinzaemon Tobe, ahli pedang di sekolah ninja, aku punya satu kelemahan fatal. Kalo nggak makan siang, tenagaku nggak akan keluar sedikit pun.

Pedang yang kusandang rasanya semakin berat saja. Padahal jalan untuk menuju kantin sekolah masih lumayan jauh. Peluh sudah mulai membasahi keningku. Yosh… aku harus kuat!

"Itu pak guru Tobe!" Deg…aku mendengar suara yang tidak ingin aku dengar. Sial! Di saat seperti ini aku harus bertemu dengan Rantaro, Kirimaru dan Shinbe yang telah banyak menyusahkan aku dengan ide-ide konyolnya.

"Pak Guru, tunjukkan permainan pedangnya donk!" ujar Rantaro sembari tertawa terbahak-bahak, serasa tak berdosa. Amarahku rasanya sudah di ubun-ubun. Mungkin karena aku sudah sangat lapar.

"Bodoh! Pedang itu bukan barang mainaaaaaaan!" umpatku.

Namun tiba-tiba Rantaro melemparkan sebongkol jagung kearahku. Latahku kumat lagi. Dengan kecepatan kilat kutebas jagung itu menjadi 3 bagian sama rata. Ternyata kelatahanku inilah yang dimanfaatkan oleh ketiga anak itu untuk membagi jagung mereka. Kurang ajar! Aku kini jongkok sembari terengah-engah. HOSH… HOSH… HOSH….

Duh… aku makin tak punya waktu. Aku harus segera makan! Lebih baik cuekin aja. Dengan terseok-seok kuseret pedangku sekuat tenaga. UUUUUUUUUUGGGGGGHHHHH… BERAAAAAAAAAAAAT!

Akan tetapi hal yang lebih gawat muncul. "Guru Tobe! Mau makan bekal makan siang bersama?" Yuki dan Tomomi dari kelas Kunoichi muncul. Aku ragu sejenak. Yah… tapi untuk mengganjal sedikit perutku yang sudah keroncongan, nggak apa-apa dech! Kumakan masakan mereka yang merupakan "Pengujian untuk Makanan Ninja". Kok rasanya lunak dan berlendir. Aneh!

"Apa ini?" tanyaku keheranan.

"Itu siput bakar!" kata mereka.

WHUEEEEEEK! Rasanya mulutku terbakar dan langsung berbusa. Muntah-muntah sejenak sebelum akhirnya segera kutinggalkan mereka dengan tergopoh-gopoh. Memang kelas Kunoichi itu menyeramkan. Yosh… pokoknya kantin sekolah, aku akan datang!

Dengan menggunakan pedangku sebagai alat bantu untuk berjalan, aku mencoba bertahan. Kaki ini rasanya lemas sekali. Gemetar dan tak ada tenaga yang tersisa.

"Guru Tobe!" Rantaro cs memanggil namaku. Aku acuh tak acuh dan berpura-pura tidak melihat mereka. Bisa tambah rumit urusannya.

Tiba-tiba Kirimaru berkata, "Guru! Semua makanan sudah habis terjual!"

GUBRAAK! Aku terjungkal ke depan sebelum semuanya terasa gelap.