Samurai Champloo

Chapter 9 – The Night

Malam hari...

Pernyataan Mugen terus menghantuiku. Kenapa aku harus menjawabnya besok? Tanpa disadari, aku memberikan janji tidak pasti kepada Mugen. Lampu-lampu kamar telah dimatikan. Suara jangkrik pun terdengar lebih kencang dibanding biasanya. Bayangan pepohonan terlihat jelas dari kamarku. Sambil merenungkan kejadian hari ini, aku bangkit berjalan menuju pekarangan penginapan. Warna hijau di pepohonan terlihat seperti warna hitam. Sambil duduk di samping taman, terlihat bulan sabit yang menerangi dataran gelap ini. Apa yang terjadi dengan Mugen, Jin dan Rai? Mugen mungkin hanya mempermainkanku. Bagaimana bisa ia mengatakan perasaannya sambil mengaitkan perutnya yang kelaparan itu.

''Lebih dari apapun! Dari pertama kali, kita bertemu. Meskipun aku kelaparan, tapi pesonamu memang menarik perhatianku. Tolong pertimbangkan!'' ~ chapter 7

Tidak berbeda dengan Mugen, Jin hanya mengucapkan sepatah kata. Singkat, padat, mungkin sedikit ambigu. 0.0

''Tolong pertimbangan aku,'' kata Jin. ~ chapter 7

Rai yang paling berbeda, dia tidak mengatakan apa pun. Raut muka yang menenangkan dilengkapi dengan karakter yang baik dan sensitif, seakan-akan dia mengerti hati wanita. Dia paling berbeda diantara lingkungan ini. Mugen yang asal-asalan dan Jin yang misterius. Sudah pasti, aku akan memilih Rai. Tapi bagaimana dengan percakapan Jin dan Rai tadi pagi. (chapter 6) Bagaimana perasaan Rai terhadapku? Mungkin hanya sebatas teman.

"Tidak bisa tidur?" Bisikan tenang yang terdengar dari arah kiriku mengagetkanku. Kulihat bayangan hitam yang tinggi dan pantulan cahaya bulan di kacamatanya.

"Jin!" Aku menyadari suaraku yang terlalu keras mungkin akan membangunkan tamu-tamu penginapan. "Apa yang kamu lakukan disini?" bisikku sambil menurunkan kepalaku. Kejadian hari ini membuatku malu melihat mukanya. Kini perasaanku penuh dengan tanda tanya. Mungkin aku bisa menanyakan apa yang dimaksud dia dan Mugen.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku." jawabnya. Ia pun duduk di sampingku. Sikap duduknya yang tegak masih saja belum berubah.

"Ah... Hanya menghirup udara segar. Kamu?" tanyaku sambil mengintip apa yang ia lakukan.

"Hmm," balasnya singkat.

Hening. Suara jangkrik pun makin keras. Ini saatnya! Aku harus menanyakan Jin, apa maksudnya tadi siang!

"Jadi kau dan Mugen..." Sebelum aku melangsungkan pertanyaanku, Jin pun membuat pernyataan yang membuatku terperangah. "Kau dan Mugen bersama?" Muka bengongku mungkin sudah tidak bisa ditutupi.

"Jadi!" Tanpa merespons pernyataan Jin. Suara kerasku yang tidak terkontrol mungkin mengagetkan beberapa tamu-tamu penginapan. "Apa yang terjadi antara kau dan Rai?" Aku harus mengganti topik secepat mungkin.

"Hmm..." balasan Jin seperti biasa. Ia tidak menjawab pertanyaanku.

Sepertinya percakapan ini tidak akan kemana-mana. Tanpa meragukan diri, aku memberanikan diri menanyakan masalah tahi lalat. "Jin, apakah kau punya tahi lalat di bagian punggungmu?" Setelah dipikirkan lagi, pertanyaan apa ini. Siapa yang akan menanyakan tahi lalat di punggung. Jin mungkin akan menganggapku 'pervert'.

"Tidak tahu. Kau mau menceknya?" balasnya tenang. Wajah Jin yang disinari sinar bulan membuatnya semakin menarik sebagai seorang pria. Ia pun berdiri sambil menggenggam pedangnya. "Kau tidak ikut?" Aku hanya terbengong-bengong hingga menyadari apa maksudnya. Apa? Ia mengajakku ke kamarnya? Memang di perjalanan dua tahun lalu, kami bertiga selalu tidur sekamar. Tapi kali ini... Setelah kejadian aneh beberapa hari ini... Apa maksudnya?

Tanpa disadari, aku sudah beranjak berdiri sambil mengikuti langkahnya. Apa yang harus kulakukan? Dengan cepat, aku menenangkan diri. Ini hanya pengecekan biasa saja. Hanya pengecekan. Aku tidak seharusnya berpikir yang tidak-tidak.

"Silahkan," Jin pun mempersilahkan diriku untuk masuk ke kamarnya. Aku harus tenang. Fiuuh.

Sambil melangkahkan kakiku ke dalam kamarnya, aku memastikan beberapa hal. "Jadi Jin! Kita akan melakukannya dengan cepat. Lagipula ini sudah terlalu malam. Lebih baik kita istirahat lebih awal, sehingga kita bisa bangun pagi. Bangun pagi itu sangat menyegarkan. Istirahat lebih awal juga membuat badan kita lebih segar. Gerakan pedangmu pun bisa lebi cepat dibanding bia-" Dengan cepat, ia menutup pintunya.

"Lebih baik kau berbicara lebih tenang. Ini sudah malam." Tanpa basa-basi, ia pun melepaskan jubahnya. Apa yang ia lakukan? Ini sudah tengah malam dan kami hanya berdua di kamarnya, diremangi cahaya lilin di pojok kamar! Kini pikiranku semakin jelas dan kacau! Apa yang sedang kulakukan? Kenapa aku menyetujui idenya untuk melakukan pengecekan di tengah malam ini? Rasa ingin tahu benar-benar membutakan semua inderaku. Jin pun berjalan mendekatiku perlahan-lahan. Dadanya yang bidang! Aku hanya bisa melihat dadanya yang bidang mendekatiku!

"Aah!" teriakku. Entah karena terlalu bersemangat atau karena pikiranku yang sudah kacau karena berpikir yang tidak-tidak. Teriakanku rupanya membangunkan beberapa tamu. Terlihat bayangan seseorang yang menuju kamar ini.

"Apa yang terjadi?" Dengan waspadanya, Rai bertanya sambil melakukan kuda-kuda.

"Hmm..." balas Jin. Bisa dibilang, ini jawaban khas Jin. Jumlahnya? Tak terhitung!

"Kau tidak apa-apa, Fuuchan?" tanya Rai sambil mendekati kami. Gelengan kepalaku menjawab semuanya. Rai dan Jin pun mulai beradu mulut. Dengan pikiranku yang kosong ini, aku tidak mendengar perdebatan mereka. Tanpa disadari aku melihat punggung Jin yang membelakangiku. Perlahan-lahan kuturunkan penglihatanku, dari pundak yang tegap ke bagian bawah punggung. Lingkar pinggangnya yang terbentuk memperlihatkan otot-otot hasil latihannya bertahun-tahun. Oh, tidak ada tahi lalat!

Kesadaranku mulai hilang. Entah akibat terik matahari musim panas atau kejadian hari ini. Hal terakhir yang kulihat adalah Jin yang mencoba menopangku. Terdengar bisikannya di kuping kananku, "Fuu, sebaiknya kau berhati-hati dengan Rai."

- Side Story -

'P': Cut!

Mugen: "Pfft! Ini terlalu dramatis! Fuu tidak mungkin pingsan! Tidak mungkin!

Fuu: "Apa yang kaubilang? (Mengepalkan tangannya dan merubah raut wajahnya.)

Mugen: "Memang benarkan?"

Mugen dan Fuu saling bertatapan, layaknya kucing dan anjing. Rai datang sambil membawa dua cangkir.

Mugen: "Kopi!" (Menoleh ke arah Rai)

Rai hanya bersiul mengacuhkan Mugen. Mugen mendatangi Rai.

Rai: "Untukmu!" (Memberikan satu cangkir ke arah Mugen)

Mugen: "Terima ka-"

Jin: "Thanks!" (Dengan cepat, mengambil cangkir dan meminumnya)

Mugen: "KOPI…" (Mendekati wajah Jin dan memberikan tatapan liarnya)

Rai mulai menari-nari tidak jelas menjauhi Mugen dan Jin.

Fuu mendatangi penulis.

Fuu: "Penulis, mereka sangat aneh!"

Fuu dan 'P' melihat Rai menari-nari seorang diri (Ada bunyi lagu jazz sebagai latar belakang)

'P': "Baiklah! Sudah kuputuskan! Rai! Kamu pemeran utamanya!"

Fuu, Mugen, Jin: "APA?"

Rai masih saja menari-nari.