Note from the writer : Sepertinya tidak ada yang berminat membuat fanfiction untuk Harlem Beat, ya? Padahal menurut saya tankuboun nya sangat luar biasa diramu oleh Yuriko Nishiyama-sensei. Ceritanya bergaris besar di petualan anak-anak pembasket SMA ( boleh dibilang adik sealiran Slam Dunk karya Takeshi Inoue-sensei ). Namun ada satu celah yang 'dibiarkan' Nishiyama-sensei supaya para fans 'iseng'nya mencoba memikirkan bagaimana kisah beberapa tokoh yang masih terbilang 'misterius'.

Disclaimer : semuanya milik Yuriko Nishiyama! Tapi saya menciptakan satu tokoh heroine. Maaf ya? Mungkin kurang memuaskan keinginan pembaca yang berharap si ini dipasangkan dengan si itu.

Rating : Untuk awalnya K, tapi seiring dengan berjalannya waktu, ratingnya akan naik. So get ready!

Pairing : ( SawaRui )Karena saya sangat mencintai Masahiro Sawamura, maka dia lah yang akan menjadi tokoh utama pria dalam fanfic ini. Sementara tokoh wanitanya adalah tokoh rekaan saya sendiri. Saya akan mencoba membangun karakter dan tetap konsisten dengan apa yang sudah saya buat. Jadi mohon teguran, kritik, dan omelannya bila suatu saat pembaca merasa kejanggalan. GOMEN NE?

Last word : Awalnya saya sudah pernah membuat kisah awal dari perjumpaan Masahiro Sawamura dengan perempuan yang merebut hatinya. Tapi karena kebodohan saya, file itu lenyap! Jadi saya akan berusaha menyelipkan sedikit demi sedikit flashback yang signifikan untuk mendukung cerita. Akhirnya saya hanya berharap pembaca bisa menikmati fanfiction ini….


Bab 1

Hard Relationship


"CUKUP!"

Tiba-tiba restoran mungil yang didominasi warna pink digemparkan seruan berkelas tenor.-coba bayangkan suara aktor Jepang …-

Berpasang-pasang mata kini memperhatikan mereka. Tidak ada lagi desir-desir percakapan yang mengalir.

Spotlight ada di sepasang muda-mudi itu. Saling berhadapan dengan raut wajah siap mengigit pasangannya.

Sebenarnya yang wanita agak menahan tangis meskipun pelupuk matanya sudah terasa panas. Sementara tatapan pihak lelakinya membara penuh kemarahan. Lelaki berambut hitam legam itu menyambar jaketnya yang tersampir di kursinya yang berbentuk mobil-mobilan. "Jangan bercanda! Sudah kuduga tidak ada yang bisa diharapkan dari pertemuan ini!"

Kemudian lelaki itu meninggalkan wanitanya yang tak sempat mengeluarkan protes maupun pembelaan.

---HFSmile---

Masahiro Sawamura.

Kakinya yang panjang melangkah tak tentu arah di jalanan Shibuya. Sebentar dia meronggoh sakunya, mencari bungkus rokok.

"Sialan!" dia mengutuk. rokok sudah lama ditinggalkannya karena paksaannya. Cih!

"Berhentilah merokok, Bodoh! Kau tidak mau mati muda kan?"

Sawamura mendongakkan kepalanya ketika merasakan butiran salju menyentuh ujung hidung mancungnya. Ya, dia sering memarahiku begitu kalau aku sudah menyulut api di pangkal rokok. Lalu dia akan mengambilnya dariku...

Dasar perempuan, Berisik. Sawamura menyesali dia tidak diam-diam menyelipkan sebatang atau dua batang rokok di sakunya supaya bisa digunakan di saat-saat yang membuatnya depresi.

Karena tidak tahu akan menuju ke mana, Sawamura menyandarkan punggungnya di dinding toko…Dingin, dindingnya. Ulasan balik terjadi di benaknya. Tadi sore, pukul empat, dia menelepon seperti biasa.

Kenapa dia sering sekali menelepon? Tidak heran, Karena kalau dipikirkan kembali, Sawamura tidak pernah meneleponnya!

"Masahiro, boleh aku bertemu denganmu?"

"Aku sibuk."

"Jangan jadi orang yang menyebalkan! Temui aku di…."

Karena dipaksa begitu, mau tidak mau Sawamura meninggalkan pekerjaannya dan berusaha memenuhi paksaannya. Dia tambah merasa keberatan lagi karena mendapati tempat janjian mereka adalah restoran es krim yang selalu dipenuhi perempuan.

Apa di sana tidak ada kursi yang normal? Tidak ada, semuanya berbentuk mobil-mobilan!

"Apa tidak ada tempat lain yang lebih baik dari ini?"

"Eh? Bukankah tempat ini manis? Kau harus coba es krimnya."

"Langsung ke pokok pembicaraan saja."

Hening sejenak. Sawamura jengkel berada di sana sehingga membuatnya malas bicara panjang lebar. Pekerjaan yang ditinggalkannya menumpuk, dan kalau dia masih berminat dipromosikan, dia harus rajin. Serajin-rajinnya. Di pihak lain, wanitanya terdiam karena merasa Sawamura terlalu meremehkan hubungan mereka, terlalu dingin, serta terlalu bertindak egois!

"Begini," Sawamura memperhatikan tangannya yang terpaut dengan erat. Pasti sesuatu yang penting, begitu tebak Sawamura. "Kita kan sudah lama menjalin hubungan. Maksudku, apa tidak terlintas sedikitpun dalam benakmu untuk…."

Ah, komitmen lagi.

"Orang tuaku mulai bertanya-tanya padaku. Aku tidak bisa selalu menghindarinya kan?"

Lagi-lagi menuntut komitmen.

"Aku, sejujurnya tidak keberatan begini! Tapi kupikir aku pun perlu kejelasan. Akan seperti apa nantinya kita?"

Terus-menerus seperti itu, membosankan!

"Jangan diam saja, Masahiro!"

"Kenapa kau harus pedulikan pendapat orang lain? Kau seharusnya mengerti diriku!"

"Ya, aku mengerti dirimu! Makanya aku bertanya, karena apa yang kumengerti dari dirimu adalah kau tidak pernah memperhatikanku!"

"Kau tidak bisa mendaulat seenaknya!"

"Apanya yang seenaknya? Apa kalau aku tidak memintamu menemuiku, kau akan menemuiku? Apa kalau aku tidak meneleponmu, kau akan meneleponku? Tidak…Kurasa tidak."

"Semakin kau memaksa, hubungan ini semakin tidak akan berhasil."

"Aku tidak memaksa, hanya bertanya. Kau tidak mau menjawabnya atau tidak bisa?"

"CUKUP!"

Sawamura memejamkan matanya. Setelah mengatakan itu dia meninggalkannya di kedai es krim banci itu. Sawamura tidak terlalu mempedulikannya, atau seharusnya memang tidak mempedulikannya. Tapi hatinya terus menyalahkannya. Apa memberi apa yang diinginkannya salah? Apa dia juga tidak menginginkannya? Apa dia terlalu takut melepaskan semua kesendiriannya dan mulai membagi dirinya dengan orang lain?

"Sialan!" kakinya menendang kaleng minuman yang tidak dengan sukses masuk ke dalam tempat sampah yang tidak jauh darinya.

---HFSmile---