Stage 18

Interchange


Rui termangu dalam perjalanannya menggnnakan kereta cepat menuju tempat Mizuki.

"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, Rui!"

Sulit mengusir kata-kata itu dari benaknya. Pada saat itu jantung Rui berdetak melawan. Kalau Sawamura mencintainya, apa itu artinya dia bisa kembali padanya? Apa itu artinya dia akan melakukan sesuatu pada Mia untuk mempertahankan dirinya?

Kalau Sawamura mencintainya, apa perasaan itu cukup untuk membuatnya menerima resiko apapun agar Rui bisa tetap berada di sisinya?

Kenapa dia tidak pernah mengatakannya ketika mereka berada dalam kehidupan yang sebelumnya damai?

Rui mengelus perutnya dengan gemetar, "Bahkan dia tidak akan pernah tahu ada kau di dunia ini."

--HFSmile--

Sawamura kurang cepat memberikan penjelasan, sehingga Hiroyuki memergoki sendiri betapa kacaunya dunia anaknya sekarang ini.

Dia berkunjung ke tempat Sawamura setelah lama tidak menemuinya, hal itu disengajakan karena dia ingin memberi kejutan. Rupanya dial ah yang lebih terkejut.

Awal keterkejutannya adalah seorang wanita tidak dikenal membukakan pintu baginya. Pada saat itu Sawamura masih berada di kantor.

Hiroyuki tidak bisa menemukan apa korelasi antara wanita baru ini dengan putranya. Terlalu anggun untuk seorang pembantu rumah tangga, namun prilakunya seperti nyonya rumah.

Sementara Mia mengenalinya, karena pernah melihat foto Sawamura yang sedang memancing bersama Hiroyuki.

Wanita itu menghidangkan teh untuk Hiroyuki, "Silakan."

"Terima kasih," Hiroyuki memandangi permukaan coklat keemasan pekat cairan itu. Karena dia tidak bisa berhenti bertanya-tanya, maka dia akhirnya mengungkapkan keheranannya, "Permisi. Kalau boleh tahu, siapa sebenarnya Anda?"

"Apa Anda belum mendengar cerita apapun tentang aku?" Mia bertanya balik bukan karena dia keheranan. Dia sudah menduga Sawamura pasti berusaha menyembunyikan kejutan baru ini serapat dia bisa. "Ceritanya panjang, tapi aku akan langsung ke kesimpulannya, aku adalah calon ibu dari anak Sawamura-sama dan calon istrinya yang baru."

--HFSmile--

Sawamura pulang dengan wajah tegang, melihat ayahnya duduk kaku di sofa ruang tamunya, ditemani Mia yang berwajah kalem. Dia tidak ingat kapan pernah mengizinkan Mia mulai mondar-mandir seenaknya di rumahnya, tapi kali ini ayahnya menjadi masalah terbesar.

"Okaerinasai, Sawamura-sama," Mia menyapa Sawamura seolah tidak tahu dia adalah dalang dari bencana besar.

Tatapan Sawamura hanya tertuju pada Hiroyuki. Mereka berdiam dalam suasana tegang.

Mia melihat jam tangannya, "Sayang sekali aku tidak bisa ikut mengobrol lebih lama. Ayahku memintaku pulang cepat hari ini." Dia menyandang tali tasnya, menyentuh lengan Sawamura ketika dia melewati pria itu, dan berbicara setengah suara, "Bicaralah baik-baik dengan ayahmu. Dia perlu tahu segalanya." Lalu dengan suara yang lebih keras dia memberi salam sebelum pergi, "Sampai jumpa, Sawamura-sama dan Hiroyuki-san."

Tepat dengan pintu yang tertutup tanpa suara, Hiroyuki menggeram di balik rahangnya, "Jelaskan sebaik yang kau bisa, Anak Muda."

--HFSmile--

Sawamura berusaha menceritakan sejelas dan sedetail mungkin tanpa mencampurnya dengan sudut pandang orang tertentu. Hasilnya, dia hanya perlu setengah jam untuk memberi 'penjelasan sebaik yang dia bisa' pada ayahnya.

Wajah Hiroyuki bertambah murung. Dia belum menemukan cara lain untuk bertanggung jawab pada Mia. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Rui dikorbankan. Sayangnya tidak ada cara yang bisa mempertemukan kedua masalah ini ke jalan keluar.

Akhirnya dia hanya bisa menyalahkan Sawamura, "Kenapa kau tidak lebih hati-hati? Ini…Ini benar-benar masalah!"

"Aku tahu," gumam Sawamura.

"Apa kau tahu di mana Rui tinggal sekarang?"

"Paling mungkin di tempat Mizuki."

"Apa orang tuanya juga belum kau beri tahu?"

Sawamura mengangguk kaku. Hiroyuki menepuk dahinya, "Kau menimbulkan masalah, Masahiro, masalah besar."

--HFSmile--

Bel tanda selesainya jam istirahat membangunkan Rui dari lamunannya. Dia membereskan buku-buku yang akan dipakainya untuk mengajar dengan lesu.

Hari baru tanpa Sawamura telah berlalu sepanjang dua minggu. Hidupnya jadi kehilangan gairah, dia hanyalah jasad yang melakukan aktivitas harian tanpa menaruh hati, pikiran, dan perhatian pada hal apapun.

Mizuki jadi sering menegurnya karena dia sering melamun. Naruse juga berkali-kali menawarkan bantuan, tapi tidak ada yang bisa menolongnya. Rui tidak tahu bagaimana dia harus merangkak keluar dari masa tergelap ini.

Satu-satunya yang menyita perhatiannya hanyalah kandungannya. Hanya nyawa baru itu yang menjadi penghiburannya. Setidaknya beberapa bulan mendatang, dia akan punya teman untuk mengisi kekosongan karena tidak ada Sawamura. Berhubung tidak ada seorang sahabatnya pun yang bisa, pasti anak yang separuhnya terdiri dari darah dan daging Sawamura bisa sedikit melegakanya.

Rui menaiki tangga dari tepinya, berjalan dengan sangat hati-hati seraya memegangi handrail erat-erat sambil mempertahankan dirinya dari serbuan anak-anak yang berlarian tidak ingin terlambat tiba di kelas untuk memulai pelajaran kembali.

Dia tiba di bordes ketika seorang pemuda berseragam berlari ke arahnya, beradu dengannya.

Rui terguling menuruni anak-anak tangga. Tidak ingat berapa kali kepalanya terantuk. Anak itu panik melihat Rui terhempas, berakhir di lantai di bawahnya.

"Sensei! Sensei! Kau tidak apa-apa?"

Rui memegangi perutnya. Seperti ada yang mencabut paksa janinnya, dia sedang berusaha mempertahankannya, tapi kesakitan luar biasa sebagai ganti usahanya membuatnya menjerit. Darah pelan-pelan menetes dari kakinya.

"Bayiku…Bayiku…," dia menangis memohon sementara kesadaran semakin menipis, mencengkram tangan anak yang menabraknya. Anak itu semakin panik melihat darah, "Rumah sakit! Siapapun tolong telepon rumah sakit!"

Bunyi derapan kaki memenuhi pendengarannya hingga akhirnya ia jatuh pingsan.

--HFSmile--

Telepon genggam Sawamura nyaris terjatuh dari tangannya setelah dia mendapat kabar terbaru dari Naruse.

Demi Tuhan, Dia bahkan nyaris kehilangan nafasnya.

Rui masuk rumah sakit…Bayinya dalam bahaya.

--HFSmile--

Dia melihat gumpalan kecil berbalut warna kulit bergerak-gerak, meronta, dan melawan dengan aktif. Suara detak jantung bergema di telinganya, tepat dari rongga dadanya.

Suara tangis adalah suara yang muncul berpadu dengan suara detakan teratur.

Berkeinginan melindunginya, Rui berusaha meraihnya, tapi tidak pernah sampai. Dia bahkan harus berlari untuk mengejarnya.Tangis dan detak jantung lenyap dalam pusaran warna putih yang sangat terang, hingga tidak ada lagi yang tersisa selain dirinya dan latar belakang hitam pekat.

Rui menjerit histeris, pada saat itulah dia membelalakan matanya, terbangun dari alam bawah sadarnya. Bangun dalam keadaan tercekik seperti benar-benar habis berteriak.

Dadanya bergerak kembang-kempis dengan cepat.

"Anda sudah sadar, Nona? Syukurlah," seorang pria tua berjas putih mengamatinya dengan teliti, memastikan Rui sadar sepenuhnya. "Saya akan keluar dan memberitahukan keluarga Anda."

Rui mengenali pria itu adalah dokter. Dia buru-buru menahan tangan dokter itu. Bayangan tidak menyenangkan menghantuinya, dan apa yang terlintas dalam pikirannya hanyalah bayinya. "Bayiku, Dokter! Bagaimana…?"

Dokter itu tercenung. Menatap Rui dengan padangan kasih sayang dan penyesalan. Dokter itu hanya menggeleng, "Kami sudah berusaha."

Petir menyambar kesadaran Rui. Dia bersedekap.

"Yang penting bagi Anda sekarang adalah memulihkan diri."

"Dok-Dokter," panggilnya terbata, berusaha kuat untuk terakhir kali, "Saya…Saya ingin sendiri….Saya belum ingin menemui siapapun…."

Sekali lagi dokter itu sangat mengerti keadaan mental pasiennya. "Bila itu keinginan Anda. Saya akan permisi dan membiarkan Anda sendiri." Dokter itu pun pergi, meninggalkan Rui sesuai permintaannya.

Pintu tertutup tanpa bunyi apapun, di luar terdengar keramian, namun semua itu tertelan isak pelan Rui.

--HFSmile--

Rui melihat keluar jendela. Tirai menggantung terikat di sisi dua daun jendela yang besar, memberikan pemandangan sore yang sendu. Warna keunguan adalah warna terakhir setelah warna oranye terang dan merah maroon.

Dia sudah cukup tenang, namun masih sulit mempercayai dia telah kehilangan bayinya. Kehilangan penghubung dirinya dengan Sawamura. Di suatu saat dia tidak akan bisa datang kepada Sawamura dan menuntut pertanggungjawabannya sebagai ayah.

Apa gunanya pikiran itu? Siapa yang pertama kali lari dari rumah?

Kegelapan yang nyaman, diinterupsi semburat cahaya dari luar. Seseorang membentangkan pintu, dan tanpa permisi menghampirinya.

Hingga mereka berdua kembali berada di dalam kegelapan, Rui sudah menyadari siapa yang mendatanginya.

"Keluar."

"Kita perlu bicara."

"Sudah tidak ada yang bisa dibicarakan di antara kita."

"Ada."

"Tidak ada, Masahiro!" Rui menukas lelah, "Keluarlah!"

"Ada, semenjak kau tidak memberitahuku bahwa kau sedang mengandung!" kata Sawamura sama keras kepalanya.

"Sekarangpun tidak ada bedanya kau tahu atau tidak!" sesuatu di dalam diri Rui lagi-lagi pecah. Berkeping-keping. Karena rasa sakit itu, nada suaranya naik, "Tidak ada bayi, tidak akan pernah ada!"

Agrumen itu cukup memukul Sawamura hingga tidak sanggup berdiri lagi. Dia seperti berdiri di garis kritis antara dunia nyata dengan dimensi lain.

Kekosongan ganjil mengisi ruangan itu, hingga ketegangan yang telah tercipta kembali mendingin, bahkan terlalu dingin.

Suara tawa Rui lebih menambah suasana ganjil. Tawa yang dipaksakan dan terdengar ironis. "Sekarang kau bisa tenang kan? Kau bisa berkonsentrasi sepenuhnya pada Mia-san dan bayinya."

Meninggalkan ruang kosong di dalam hatinya setelah kepingan-kepingan itu tersapu bersih oleh kesedihan yang tidak mampu lagi diekspresikannya. "Kau bisa mengirimkan surat perceraian padaku...Atau aku sendiri yang akan mengurus dan mengirimnya padamu."

Sawamura terdiam lama sebelum berkomentar. "Aku tidak mengerti pikiranmu. Kau hanya berpikir untuk secepatnya berpisah denganku. Padahal sampai tadi aku masih berpikir kita bisa memperbaikinya, masih ada waktu, masih ada kesempatan. Sampai tadi aku masih ingin bersamamu, kalau kau bisa menerimaku sekali lagi, aku akan memperbaiki kesalahanku. Tapi kalau kau sangat menderita bersamaku yang seperti ini...

...Aku akan membebaskanmu, Rui."

Suara Sawamura yang tenang dan dalam mengguncang Rui. Meskipun dia yang terus meributkan pisah dan cerai, tapi dia seperti anak yang merajuk. Anak pemarah, emosional yang ingin semua keinginannya dipenuhi, tanpa perduli apakah permintaannya baik atau buruk.

Dia sudah terlalu membabi buta.

Ketika dia menerima apa yang diinginkannya dari Sawamura, dan Sawamura mengabulkan permintaannya. Dia ingin menolaknya, mengembalikannya. Sayang, seperti barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan.

"Aku bersungguh-sungguh, kalau itu bisa membuatmu lebih bahagia," Sawamura tersenyum pahit. "kita bercerai."

"Sayonara, Rui." Sawamura tercekat ketika mengucapkan salam perpisahan. Karena ini adalah untuk selamanya. Pria itu berjalan tenang, kedua tangan di sakunya. Bab ini, suka ataupun tidak harus ditutupnya. Seberapa besarpun keinginannya untuk terus bersama Rui, tapi bila itu hanya membuatnya sedih dan merasa sengsara karena dia pernah tidur dengan anak bosnya, maka dia akan dengan rela menebus kesalahan dengan melepaskan wanita itu.

Turbulen kekecewaan dan kesedihan, serta frustasi, Rui ingin menjerit karenanya. Ingin menjerit, memanggil Sawamura kembali, menyatakan betapa menyesalnya dia, betapa dia tidak peduli dengan apapun kesalahan yang dilakukan Sawamura karena dia mencintainya seperti mencintai setiap tetes darah dalam dirinya, membutuhkannya seperti setiap ruas tulangnya untuk bergerak dan berdiri tegak, menginginkannya seolah tidak ada pria lain lagi di dunia ini. Tapi semua itu hanya tertahan dalam kekosongan dirinya. Berputar-putar tanpa bisa terungkap, malah tersedot semakin dalam.

Akhirnya hanya bisa mengeluarkan tangisan dan jeritan tertahan penuh penderitaan.

--HFSmile--