Hai-hai! 1st fanfic yang pake bahasa Indonesia nich... (padahal mah baru bikin 2 fanfic, gitu...)

Sebenernya mah pengennya bikin pake Bahasa Inggris, but... fakta bahwa grammarku berantakan dan vocabku terbatas, ya sudahlah... pasrah saja, dan menjadi pencinta bahasa Indonesia...

Begitu deeh... maap nggak jelas, R&R plizzz...

Disclaimer: I didn't own anything...


I. PROLOGUE

Tiba-tiba dunia terasa berhenti berputar.

Hinata terhenyak. A... apa? Lima... belas... hari lagi?

Ia menoleh kepada Tsunade, mencoba menatap mata cokelat sang Hokage. "Tsunade-sama..." ia berkata perlahan. "B... bohong, kan? A... anda cuma bercanda, kan?" Hinata memaksakan dirinya tertawa. "J... jangan bercanda..."

Namun tawanya lenyap saat ia menatap mata sang Hokage. Tidak ada dusta di sana. "Maaf, Hinata..." ucap Tsunade pelan.

"T... tidak..." bisik Hinata pelan, masih dengan ketidakpercayaan. Oh, kumohon, Tsunade-sama... tertawalah, dan katakan kalau Anda hanya bercanda...

Namun sang Godaime Hokage hanya mengangguk, menggumamkan kata 'ya'.

Tangis gadis itupun pecah.

oOoOo

Hinata mengedarkan pandangannya. Dilihatnya Kiba, berdarah di seluruh tubuhnya, tengah kewalahan melawan beberapa orang berbaju hitam dan bermasker hitam. Tak jauh darinya Shino sedang berusaha melindungi Kurenai-sensei yang sudah tak sadarkan diri, darah di sekujur tubuhnya.

BRUGH! Ia terhenyak saat melihat Kiba, akhirnya terjatuh dengan pakaian yang hampir tidak bisa dikenali lagi. Penuh berlumuran darah. Sementara itu, Sound-nin di sekelilingnya, siap melemparkan puluhan kunai dan shuriken beracun ke sekujur tubuh berdarah teman setimnya.

Oh, tidak... batin Hinata. "Kiba-kun!" teriaknya, namun Kiba sudah terlalu lemah untuk bergerak. Akamaru hanya dapat menggonggong lemah di sisi tuannya.

Ia sudah benar-benar lelah. Chakranya sudah kosong, seluruh badannya sakit, namun Hinata memaksakan dirinya bergerak. Berlari ke depan Kiba yang sudah tak sadarkan diri, menggenggam kunai dan berusaha menangkis semua senjata yang beterbangan.

"Hinata! Jangan ke sana! Terlalu berbahaya!" didengarnya Shino berteriak, namun ia tidak peduli. Hanya satu yang ada di pikirannya, Kiba-kun!

Dengan sisa tenaganya, ia mencoba menghalau semua musuh di sekelilingnya. Tak dipedulikannya luka yang mulai terbuka di sekujur tubuhnya. Ia harus menyelamatkan teman-temannya. Ia harus melindungi Kiba, yang tengah terbaring tak sadarkan diri di belakangnya.

"Hinata! Di belakang!" Ia mencoba menghindar, namun ia tak memiliki cukup kekuatan lagi untuk bergerak. Kunai-kunai beracun menancap di sekujur tubuhnya. Ia terbatuk, berdarah, sebelum akhirnya terjatuh ke tanah.

"Hinata! Hinata!" didengarnya suara seseorang memanggil-manggil namanya, sebelum semuanya menjadi gelap...

oOoOo

Hyuuga Hinata membuka matanya perlahan-lahan. Sekujur tubuhnya sakit. Sudah berapa lama aku terbaring di sini? Ia membatin. Pandangannya masih kabur, namun saat ia berhasil memfokuskan kedua matanya, dilihatnya wajah khawatir seseorang. Mata orang tersebut sembab, dan rambutnya yang digulung terlihat berantakan.

"Hinata-chan!" seru Tenten bahagia, saat ia menyadari bahwa sosok yang berbaring di depannya sudah membuka matanya.

"D... di mana?" tanya Hinata pelan. Tenggorokannya kering, dan ia tidak dapat menggerakkan badannya.

"Rumah sakit, Hinata-chan. Kau aman sekarang. Oh, aku harus memberitahu Hokage-sama!" suara Tenten riang. Ia bangkit dari duduknya, dan bersiap-siap berlari ke luar. Namun didengarnya suara lemah Hinata.

"T-Tenten-chan... b-bagaimana d-dengan y-yang l-ain?"

Tenten tersenyum menenangkan. "Mereka baik-baik saja. Mereka dirawat di rumahnya masing-masing, cedera mereka tidak terlalu parah, namun mereka masih terlalu lemah untuk keluar dan menengokmu. Kau tidak usah mengkhawatirkan mereka, Hinata-chan. Beristirahatlah, akan kupanggil Hokage-sama."

Hinata tersenyum dan membiarkan Tenten pergi. Syukurlah, mereka baik-baik saja... Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika ia harus kehilangan teman-teman setimnya, sahabat yang sangat memperdulikannya...

Dan ia pun tertidur kembali, dengan pikiran yang lebih tenang.

oOoOo

"Hokage-sama!" teriak Tenten sambil berlari di sepanjang koridor rumah sakit. "Hinata-chan sudah sadar!"

Tsunade langsung berdiri, dan berlari mengikuti Tenten ke ruang di mana Hinata berada. Sang Godaime Hokage tersenyum lega saat melihat wajah Hinata yang sudah lebih berwarna. "Syukurlah..." ucapnya pelan, dan ia mengelus rambut hitam kebiruan gadis yang tengah tertidur itu dengan lembut.

Namun, ia tidak terlihat begitu bahagia. Tenten melihat ada kabut di matanya. "Hokage-sama?" ia memberanikan diri bertanya. "Ada apa?"

Tsunade tersenyum pada gadis yang berusia enam belas tahun itu. "Aku akan memberitahu sesuatu, tapi sebelumnya tolong telepon rumah Hinata, katakan kepada Hiashi kalau putrinya sudah sadar, dan aku menginginkan kehadirannya di rumah sakit secepatnya."

"Baik, Tsunade-sama," kata Tenten, menghormat, sebelum pergi untuk menelepon Hyuuga resident.

oOoOo

Setengah jam kemudian...

Seseorang mengetuk pintu. Tsunade tersadar dari lamunannya, dan ia menyuruh Tenten membuka pintu. Ia mempersiapkan dirinya dan mengatur kata-katanya untuk diucapkan pada Hyuuga Hiashi, pemimpin Hyuuga Clan mengenai keadaan calon penerusnya.

Namun yang datang ternyata bukan Hiashi. Melainkan Neji.

Tsunade merasakan amarah naik ke ubun-ubunnya. Bagaimana mungkin Hiashi menelantarkan anak gadisnya sendiri? Namun, tetap dibiarkannya Neji masuk.

"Sumimasen, Hokage-sama," Neji menghormat. "Hiashi-sama tengah mengadakan pertemuan penting dengan pembesar-pembesar Hyuuga Clan, sehingga ia tidak bisa datang,"

"Baiklah," Tsunade menghembuskan napas. "Duduklah, Neji, Tenten, ada sesuatu yang penting mengenai Hinata yang harus kalian ketahui."

"Hinata-sama?" tanya Neji. Keningnya berkerut, dan instingnya mengatakan itu bukan berita yang baik.

"Ada berita baik, dan berita buruk," kata Tsunade perlahan, agar tidak membangunkan Hinata yang tengah tertidur.

"Berita baiknya, setelah dokter mengadakan pengecekan, besok Hinata sudah boleh kembali ke rumah," ucap Tsunade.

"Berita... buruknya?" tanya Tenten perlahan.

"Racun dari kunai-kunai tersebut sudah menyebar di seluruh tubuhnya. Aku tidak bisa mengobatinya. Ia hanya bisa bertahan... lima belas hari lagi..." suara Tsunade melemah.

Neji dan Tenten terhenyak. "Lima belas hari lagi?" tanya mereka berdua bersamaan, tidak percaya.

Tsunade tersenyum lemah dan mengangguk. "Ya, hanya lima belas hari lagi... sebelum jantungnya berhenti..."

oOoOo


Begitulah... hahahaa aneh yawh? Demo, ne, makasih banget udah mau baca... aku nggak tau, tiba2 aja kepikiran cerita seperti ini, walaupun aku belum kepikiran endingnya mau kayak apa... so, would you give me any suggestion?

Review, pliz!!


Translate:

Sumimasen -- I'm sorry (lebih formal, biasanya ditujukan pada orang yang lebih tinggi kedudukannya)