Hai, teman. Lama tak berjumpa. Apakah kalian meridukanku? —dilempar sepeda—

Heu, gomen… baru update sekarang… gomen ne… gomen ne… gomen ne takterhinggakali…

Chapter terakhir ini rada nggak jelas juga. Huff. Kena sindrom bingung-bagaimana-mengakhiri-suatu-cerita nih…

Mm… untuk semua yang masih setia baca Countdown… makasih ya… huhu… makasih… --tears flowing- chapter ini kupersembahkan untuk kalian…

Semua review untuk chapter sebelumnya akan dibalas secara general dan lebih mendetail di bawah cerita ini.

Sekarang, siap-siap baca dulu ya? Sebagai pengiring, silakan siapkan mp3 atau kaset atau apapun yang bisa memutar lagunya Marcell, Semua Yang Terlambat. Tisu merupakan optional. Eh, nggak tau deh butuh apa nggak. Tergantung, tapi kayaknya nggak. Nggak deh. Nggak tahu. Heu…

Disclaimer: All of the characters belong to Masashi Kisihimoto. Semua Yang terlambat belongs to Marcell. And I belongs to My God.

On to the story…


Saat ini,

Aku hanya ingin mengenang…

XVIII. EPILOGUE

Pemuda itu melangkah perlahan, membiarkan pikirannya mengembara bersama dengan langkah-langkahnya menyusuri jalanan yang kini kian memutih. Ekspresinya tidak terlihat, sebab ia menenggelamkan wajahnya di balik kerah tinggi dan membenamkan kedua tangannya ke saku.

Seolah tidak peduli dengan cuaca yang semakin mendingin, ia tetap berjalan. Menyusuri kenangan.

Salju tetap turun hari ini…

Namun semuanya tak lagi sama.

Ya, tak akan lagi sama.

Semenjak kepergian gadis bermata lembut itu…

Langkahnya berhenti di lapangan training tempat mereka biasa berlatih bersama. Ia tersenyum lembut sendiri, ketika memorinya refleks mengulang episode-episode itu, bagaikan sebuah film lama, namun masih tetap cerah di ingatannya.

Gadis itu menundukkan kepalanya, bermain dengan sepasang telunjuk tangannya. Malu-malu. "Mm… na-namaku… H-Hyuuga… Hi-Hinata… Y-yoroshiku o-one-gaimashu…"

Pemalu. Itulah kesan pertamanya saat mengenalnya. Gadis itu begitu polos, dengan wajah yang senantiasa menunduk dan pipi putih yang senantiasa memerah.

"Kumohon! Seranglah aku dengan sungguh-sungguh!"

Awalnya ia tidak pernah memandangnya lebih. Ia cuma gadis biasa, bahkan cenderung tidak terlihat.

Namun ada kesan yang lain… Gadis lembut bermata lavender itu sangat teguh. Kendati sulit, ia terus mencoba… Tanpa putus asa…

"Hati-hati, ya?"

Dan gadis itu memiliki kebaikan yang tulus. Pribadinya unik. Hangat. Seberat apapun, sesulit apapun kondisinya, ia tetap peduli pada lingkungannya. Pada teman-temannya. Bahkan tidak pernah mementingkan dirinya sendiri.

Sepotong perhatian yang diberikan dengan senyum lembut dan gestur malu-malu. Namun entah sejak kapan, lambat laun ia menyadari bahwa peran gadis itu dalam hidupnya semakin besar…

Ah. Hinata-hime.

Gadis itu telah menjadi puteri di hatinya, sekuntum bunga yang mekar dengan malu-malu. Cantik, namun pada saat yang sama rapuh. Dan ia ingin menjaganya…

Maka ia memandangnya. Dengan hati-hati. Mencoba mengertinya, mencari tahu dan mendukung segala yang terbaik baginya, sekalipun merelakan kebahagiaannya sendiri…

Kebahagiaanku yang terbesar adalah bila ia bahagia. Cukup untuk itu.

Namun kini semua berubah.

Pemuda itu membiarkan angin dingin menghembus jubah panjangnya. Ia memejamkan matanya, membiarkan semua kilasan memori itu berdilatasi di pelupuknya… Mengulangnya…

Ia tengah mengenang. Mengenangnya, mengenang keberadaan gadis yang sudah sekian lama terpatri di sudut terindah dalam hatinya…

Hinata…

Sebab ruang hati itu kini hampa.

...aku bagai sinar yang melintas sekedip

bagai kunang-kunang kecil

dan engkau, sayap-sayap yang meranggas

seusai sekepak kau mengudara

membawa hatiku semua...

oOoOo

Pemuda itu berdiri atas bukit, memperhatikan seisi desa yang kini terselimuti putih. Mata biru langitnya menyendu saat ia menyapukan pandangannya.

Ia menggenggam dadanya, menggenggam seuntai liontin di sana. Seuntai liontin yang kini mendingin…

Ia merutuk ketika memandang sekeliling. Semuanya putih… putih…

Dan putih itu selalu membuatnya teringat padanya. Seolah gadis itu menghantuinya. Dengan senyum lembutnya. Dengan tatapan mata lavendernya.

Hinata-chan…

Ia mendesah, kemudian beringsut duduk.

Bukan, bukannya ia ingin melupakan. Namun justru ia tidak bisa. Dan tidak ingin. Semua kenangan itu hanya terlalu nyata untuk dibuang, terlalu indah, sekaligus terlalu menyakitkan, dan terlalu cepat…

Apalah nama yang dapat ia berikan pada rasa yang kini menggerogoti dadanya, jika bukan rindu?

Ia memejamkan matanya, dan bayangan gadis itu kembali hadir di pelupuknya. Membawa perasaan yang campuraduk. Perasaan bersalah, perasaan sayang, perasaan rindu, dan… cinta.

Ah. Bagaimana ia bisa melupakan?

Walau begitu cepat, namun gadis itu sudah mengisi harinya. Entah sejak kapan ia menyadari… sosok pendiam itu, yang selalu tersenyum malu-malu dan berbisik padanya dengan suara kecil… sejak kapan kehadirannya terasa begitu nyata?

Jika… jika saja ia menyadari saat gadis itu yang sangat sempit, mungkin ia akan bersumpah untuk tidak melepasnya. Untuk tetap mendukungnya, untuk tetap menggenggamkan tangannya, untuk tetap mengalirkan kekuatan dalam menghadapi hari-harinya…

Jika saja ia mengerti makna tangisnya. Jika saja ia mampu memandangnya lebih dekat… Jika saja…

...kita ialah kata yang terlambat tercipta

yang semestinya tak terjadi

dan cinta, ialah rasa yang pertama dan terakhir

tuk merangkum kerinduan,

kepasrahan dan maafku...

oOoOo

Kini langkah kaki pemuda itu telah membawanya hingga ke muara peristirahatan sang gadis. Ia menunduk, tangannya menyapu lembut nisan sederhana itu, membersihkan salju yang mengotorinya.

Hime, ikaga desu ka?

Sebelah tangannya kini menggenggam sekuntum mawar berwarna lavender. Mawar itu adalah yang terindah dari kebunnya, mawar yang ia rawat dengan hati-hati.

"Mawar itu indah, namun ia ditakdirkan untuk menjadi rapuh. Dari semenjak mekarnya, ia hanya diberi sedikit waktu hingga semua mahkotanya menutup kembali... ia hanya diberi sangat sedikit waktu untuk menghadapi kerasnya dunia, hanya dibekali duri-duri kecil yang lemah..."

Dan mawar itu selalu mengingatkannya padanya.

Banyak kesamaan mereka…

"Namun, apakah yang dilakukan mawar ini? Ia tidak pernah mengutuk Penciptanya karena ia diciptakan sedemikian rupa... dan ia terus berjuang memberikan warna terindahnya hingga ia harus gugur dan berakhir di dunia..."

Ia tersenyum kecil saat mengenangnya. Mendenger gadis itu bercerita… sadar atau tidak, seperti mendengar gadis itu mendeskripsikan dirinya sendiri.

Mungkin… mawar itu memang perlambang cinta.

Ia sematkan mawar itu di pusara sang gadis. Ungunya memucat, seolah kelopaknya menggigil kedinginan diterpa angin yang menghembus.

Dinginkah di sana?

Kadang ia bertanya-tanya. Mungkinkah semua itu salahnya? Jika saja dulu ia menahannya… jika saja dulu ia mencegahnya… Jika saja ia menepati sumpahnya…

Untuk terus menjaganya…

Jika saja,

Akankah semua berbeda?

...tuk semua yang terlambat kulakukan

tuk semua yang tak sanggup kujanjikan

tuk semua...

oOoOo

Langkah pelan pemuda bermata biru langit itu kini terarah ke pusaranya. Ia masih menunduk, sesekali memainkan salju yang mengotori sepatunya.

Melewati sepanjang jalanan Konoha seolah menjadi siksaan baginya. Sebab kenangan-kenangan itu terus menari dibenaknya…

Ia berhenti sejenak. Menyandarkan tubuhnya ke sebatang pohon di pinggir taman. Lalu tertawa kecil. Ah, bahkan di sinipun kenangan itu tetap ada. Bagaimana mungkin aku bisa lupa kalau dulu di sinilah kami pertama kali bertegur sapa? Ketika tanpa sengaja kujatuhkan semua buku-bukunya…

"A… ah! G-gomen…" dengan gugup ia memunguti buku-bukunya yang berjatuhan.

"Ah! Salahku! Salahku!" anak laki-laki itu pun turut berjongkok dan memunguti buku anak perempuan berambut biru yang berceceran. Dengan cepat tangannya meraih salah satu buku, tidak menyadari bahwa tangan sang anak perempuan juga terarah ke sana.

Tap. Dan wajah anak perempuan itu kontan memerah saat tangan mereka berdua bertemu. Ia menunduk.

"Hei, kenapa?" tanya sang anak laki-laki.

Anak perempuan itu mengangkat kepalanya, pelan. Semburat merah jambu masih di wajahnya.

"Hei! Hei!" seru sang anak laki-laki ribut. "Aku baru sadar kalau kita belum kenalan!" ucapnya, seraya tersenyum lebar. "Namaku Uzumaki Naruto! Siapa namamu?"

"H… Hyuuga… Hi-Hinata…"

I a membuka matanya.

Memori itu… tidak mungkin ia lupa. Begitupun kilasan-kilasan kenangan lainnya.

Ia rela memberikan apapun agar ia bisa kembali ke hari-hari itu. Saat senyum manis sang gadis masih bisa ia pandang. Saat suara lembutnya masih bisa ia dengar. Saat tubuh mungilnya masih bisa ia rengkuh. Saat ia masih bisa mengungkapkan semuanya, bukannya terpenjara dalam rindu dan terpasung dalam sunyi…

Pepatah itu benar. Kita memang tidak pernah menyadari betapa berharganya apa yang telah kita punya, hingga ketika akhirnya ia pergi…

...lama kucoba memandang jejak kaki kita tanpa sesal

menerimamu tanpa aku mengerti

indahnya arti hari ini

tanpa harapan 'tuk kembali...

oOoOo

Naruto berhenti melangkah saat ia menyadari kehadiran sesosok yang lain di kompleks pemakaman itu. Mengenali sosok yang berdiri di sana, ia melambaikan tangannya dan melangkah mendekat.

Ah. Ternyata dia.

Pemuda itu melangkah mendekat ke pusara sang gadis dan mengusapnya dengan sayang. "Hai, Hinata-chan… Apa kabar?" tanyanya lembut. Lalu ia menoleh pada sosok di sebelahnya.

"Yo!" sapanya. "Pagi sekali!"

Yang disapa cuma menganggukkan kepalanya.

Pemuda itu menyaksikannya dalam diam. Di balik keceriaan yang ditunjukkan Naruto, ia dapat melihat bahwa mata biru itu menyendu…

Ia merindu jugakah?

Ia tersenyum kecil sendiri.

Kalau begitu, sama-sama.

Luka ini bukan milikku saja.

Angin menghembuskan kesunyian diantara mereka. Hingga si pemuda angkat bicara.

"Hei, Naruto." panggilnya. Naruto menoleh.

"Tahu tidak? Kadang aku berharap aku bisa memutar waktu agar bisa mengutarakan semuanya padanya…"

...ke semua yang tak sempat kuungkapan

ke semua yang tak tepat kukatakan

yang tak usai kujalani,

yang tak ingin kuingkari

dan semua...

Naruto tertawa kecil.

"Yah. Aku juga." ujarnya. "Aku merindukannya… melebihi apapun yang kurasa selama ini…"

Aku juga.

"Tapi ya… kita nggak mungkin memutar waktu biar Hinata-chan bisa ada di sini lagi. Kita harus bisa merelakan, ne?" lanjut Naruto. "Seperti yang waktu itu kau bilang… Doakan saja, semoga ia baik-baik saja di sana…"

Dan pemuda itu kembali tersenyum simpul.

Tenang saja. Sepucuk doa dariku selalu siap untuknya… Kamu akan mendoakannya juga, kan?

Sunyi terpecah ketika seekor burung pengantar pesan berkepak ribut sebelum akhirnya mendarat di tangan kanan Naruto. Pemuda itu membelai sayap sang burung sebelum membuka pesan yang terikat di kakinya.

"Wah. Ada panggilan dari Tsunade-obaachan untuk kita semua sekarang," ujarnya memberi tahu. Ia menepuk-nepuk sang burung dan binatang itu membubung tinggi ke angkasa.

"Yuk!" ajaknya.

Pemuda itu melemparkan pandangan lembut ke arah pusara sang gadis sebelum menyusul langkah Naruto menuju kantor Hokage. Mereka berdua berjalan beriringan, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Ya, aku harus pergi dulu, Hime. Tapi aku pasti akan datang lagi… Untuk menemanimu di sini…

"Hei, hei," ucap Naruto tiba-tiba. "Aku penasaran, memangnya apa yang ingin kamu katakan pada Hinata-chan?" tanyanya pada pemuda di sebelahnya.

Yang ditanya tidak menjawab.

"Hei, Shinoo… Jawab dong! Jangan bikin penasaraan…"

Aburame Shino tersenyum kecil di balik jaketnya dan melemparkan pandangannya ke angkasa.

"Rahasia."

.

Ini: Bahwa aku mencintainya.

...dan semua...

...dan semua...

Hime,

Kyotsukete, ne?

Aishiteiru…

.

.

.

Itsumo.

.

—owari—


Satu…

Dua…

Tiga…

Uwaaah!! Akhirnya selesai jugaaa!!

Alhamdulillah…

Huff. Saatnya untuk Author Note yang lebih mendetail… Kalau bosen baca silakan diskip, langsung review aja yah. Hehe.

Hmm… Akhirnya pemuda itu jadi Shino. Ada yang protes? Ada yang jawabannya tepat? Ada yang sama sekali nggak menduga? Tolong kasih tahu via review ya… :D

Mungkin bertanya-tanya. Kenapa Shino? Ya… sebenernya sih sederhana aja… soalnya aku suka ShinoHina! Hehe…--dijitak—

Heu… sebenernya mempertimbangkan faktor rasionalitas cerita juga… Sebenernya pengen banget sih, bikin cowok itu jadi Sasuke atau Gaara (maaf ya, saya fans berat SasuHina sama GaaHina juga soalnya…), atau bahkan Itachi, hehe, tapi nanti ceritanya jadi aneh, ah. Kenyataannya kan Hinata nggak deket sama tiga cowok itu…

Jadi Shinolah yang dipilih. Habisnya dia kan bisa jadi so sweet juga, dan selama ini aku membayangkan Shino punya personality yang memang seperti itu di balik kacamata dan jubah tingginya… Jadi cocoklah… Hehe. Jangan protes lagi, ya?

Maaf ya… kalau perkembangan hingga akhir cerita ini tidak sesuai dengan keinginan kalian sebagai pembaca…

Huhu, nggak puaaas! Sebetulnya aku sendiri ngerasa masih banyak banget kekurangan dan kesalahan di sepanjang fanfic ini… mulai dari salah ketik, salah kasih informasi yang penting, sampai kelambatan banget updatenya. Huhu… karena itu makasih banget buat semuanya yang masih setia baca… Maaf ya, kalau sepanjang cerita ini cheesy dan nggak jelas banget, huhu…

Kalau boleh, aku ingin minta pendapat kalian semua tentang cerita ini, plus-minusnya. Ya… hitung-hitung mengoreksi, lah… Boleh nggak?

Oh iya, mengenai review kalian semua di chapter sebelumnya…

Buat Aufa… you got it right, girl. Aku cinta songfic dan akan tetap selamanya. Hehe. Jangan benci-benci amat atuh, sama Hinata… :D

Buat eye-of-blue… heu, gomen baru update sekarang ini…

Buat Panik-kok-di-disko… hehe, sekarang udah nggak penasaran lagi kan, siapa?

Buat Faika Araifa… maaf membuatmu penasaran sekian lama… sekarang udah nggak penasaran lagi, kan?

Buat aburamesora… doakan saja semoga Hinata di terima… --ah, jadi inget Shino. Sepucuk doa akan selalu ia sediakan, akankah kamu bergabung dengannya untuk mendoakan?-- :-)

Buat meL-chan River… maaf sampai sekarang belum baca ficmu…

Buat blackpapillon… hehe, makasih ngingetin kalau aku masih punya utang buat nyelesein nih cerita… btw, aku udah ketinggalan jauh Jejak Bulan-mu nih…

Buat Reku-maku… hehe… Hinata tidak menyesal hidup, kok. Hanya saja… dia merasa punya banyak salah sama orang-orang, dan di saat yang sama merasa perlu untuk menyampaikan rasa terima kasih…

Buat CupCupMuah… wah… ga tau harus komentar apa. Hehe…

Buat Kaizo Eroji… akankah aku menulis lagi akan dibahas setelah ini…

Buat Zerou… sama aja kayak Kaizo Eroji…

Buat Yuuichi93… sebenernya pengen juga sih bikin cowoknya itu Hoshi. Kan keren, benci sekaligus sayang. Lebih complicated nantinya, dan lebih susah bikinnya. Huhu… Tapi Shinolah yang memenangkah hatiku, hehe…

Buat CraZy-AneH-GiRL… heu, tenanglah. Aku tertawa bersamamu. Hehe.

Buat EshtarWind… ah, iya, iya, nih udah diupdate! Kau menyeramkan juga ya. Hehe… akhirnya nih cerita beres juga… Ayo aku nagih Beasts of Souls! Eh, belajar dulu… peer fisika susah lagi…—hiks—

Buat naru-chan… gomen baru update sekarang…

Buat kosuke gege on tree… heu… gomen juga baru update…

Oke. Menjawab beberapa pertanyaan, akankah aku menulis lagi? Dengan sedih akan mengumumkan… Nggak tahu! Duh, gomen ne, minna… hidupku sudah semakin sibuk nih. UAN di depan mata… kalau lulus (ya jangan sampai nggak, deh) dan dapet bangku di PTN (amiin, amiin) terusnya kuliah… dengan semua rencana masa depan itu aku tidak berani menggantung harapan kalian dengan berjanji akan tetap menulis..—kok bahasanya lebay yah—

Jadi… mungkin aku akan tetap menulis. Jika ada ide dan waktu. Heu. Gomen…

Buat semuanya yang udah meluangkan waktu untuk baca… makasih ya… makasih banget… buat yang belum pernah review, ayo review atuh! Hehe. Aku ingin tahu apa yang kalian pikirkan. Jujur aja, nggak apa-apa, kok.

Semua review yang masuk setelah chapter ini diupload akan dibalas secara pribadi, Insya Allah… doakan saja ada waktu dan nggak kelupaan, heu.

Dengan berakhirnya lembar ini… maka aku mengumumkan masa hiatus tak berhingga, yang bisa berakhir kapan saja dan dimulai kapan saja…

Makasih banyak ya, semuanya…

Maaf…

.bulanbiru.


Translate:

Hime—Tuan Putri

Ikaga desu ka—Apa kabar?

Kyotsukete, ne?—Take care, okay?

Aishiteiru… Itsumo—Aku mencintaimu… selamanya.

.

.NB. Ngaco nggak sih? Kalau ngaco tolong kasih tahu ya, heu… harap maklum nggak pernah belajar bahasa Jepang…