Yap, ini bab terakhir fic ini! Moga-moga pada seneng.

Thanks to:

itachi4ever dan kerupuk udang yang udah baca dan ngasih review

cera flava atas sumbangan idenya

semuanya yang udah baca fic ini

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Kondisimu sudah pulih Kakashi. Mulai besok sudah bisa pulang ke rumah."

"Ah, terima kasih banyak Tsunade-sama."

"Kalau dipikir-pikir, kalian berdua ini sudah berapa tahun tidak libur? Ya kan Fubuki?"

"Eh, iya juga ya, Tsunade-sama."

"Kalau begitu kalian berdua kuberi libur sebulan, bagaimana?"

"Eh, benar? Terima kasih banyak!"

"Fubuki, nggak nyangka kita bisa libur bersama dua minggu ya. Gi... gimana kalau... kita... pergi... liburan berdua...?"

"Eeeeeeeeehh?"

"Ya, sebenarnya aku sudah bikin persiapan sejak lama... Niatnya sih... buat... buat... bulan madu kita. Tapi... kita kan sibuk terus..."

"Ma... makasih... Aku... aku... senang sekali..."

"Ta...tapi nggak bisa jauh jauh... Kan mahal... Kalau kota di pinggir danau yang tidak jauh dari Konoha gimana?"

"Iya, bagus! Sudah lama aku kepingin ke sana! Kapan kita berangkat?"

"Lusa mau?"

"Tentu! Kita mesti siap-siap nih begitu besok sampai rumah."

Fubuki dan Kakashi seharian mempersiapkan perjalanan mereka karena akan berangkat esok harinya.

"Kakashi kayaknya..."

"Kenapa Fubuki?"

"Kamu nggak mungkin pergi bulan madu dengan muka ketutup kan?"

"Oh... Iya, ya. Ya udah, sementara aku nggak pake, demi... kamu..."

Kakashi sudah memberi tahu murid-muridnya tentang ini.

"Aku mau liburan bareng Fubuki sekitar sebulanan. Sementara Yamato yang menggantikan. Kalian bertiga jangan bikin kehebohan ya selama aku nggak di desa."

"Yeeee, sensei, emangnya kita anak kecil? Kakashi-sensei, oleh-olehnya ya!"

"Dasar si super bego ini!"

"Kamu ngomong apa, Sasuke????!!!!!!!!"

"Kalian berdua ini, brisik tau!!!!!!!!!"

"Beneran kan, kalian ini belum apa-apa sudah bikin heboh."

Selesai beres-beres sorenya, Fubuki merasa lelah dan mengantuk. Diputuskannya untuk tidur sebentar.

Nnngggggg, udah jam berapa nih?

"Kakashi..."

Yang dilihatnya adalah Kakashi yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya terbalut selembar handuk.

Ya Tuhan... Dia begitu... begitu... AKU MALU MENGAKUINYA!!!!!

Fubuki merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir keluar dari hidungnya.

"Fubuki! Kenapa mendadak mimisan? Sakit?" Kakashi langsung menghampirinya

"Nggak, nggak tahu nih, tapi nggak pa-pa kok"

"Kok aneh ya, mendadak begini? Yakin nggak pa-pa?" suaminya mulai terdengar cemas.

"Iya. Udah, kamu pakai baju aja dulu."

Nggak mungkin bilang, kan, kalau aku mimisan gara-gara lihat dia cuma pakai handuk... Aku ini kenapa sih?!! Tadi itu bukan pertama kalinya aku lihat Kakashi cuma pakai handuk kan ya? Tapi kok rasanya... dia... dia... Ya ampun! Kalau dia lagi makai baju... Aduh! Aduh! Jangan liat... jangan liat... Tapi kok kebayang... Udah! Udah! Brenti! Bisa-bisa mimisannya tambah parah!

Kakashi kembali dengan membawa tisu dan es.

"Makasih." Fubuki langsung mengurus mimisannya, Kakashi duduk di sampingnya.

"Udah berhenti, Sayang?"

Sayang, dia bilang...

"Iya, udah kok."

Kok jadi... jadi...

Saat itu tertatap oleh Fubuki dada bidang dan tulang selangka suaminya yang sedikit mengintip.

Seksi...

Aduuuuuh, udah! Nanti mimisan lagi!

Tapii... Mana bisa nglepasin...

Liat aja... Suami sendiri...

Tapi... Nanti mimisan...

Kalo gitu terus kapan bisa punya anak??!!!!

Saat ada perang seru dalam kepalanya, Fubuki merasakan ada yang menariknya. Sekarang kepalanya bersandar di dada Kakashi.

"Eeeh, eeeeh?"

"Nggak suka?"

"Bukan, bukan begitu! Aku... aku... se... sebenarnya se... senang kok." Fubuki sekarang bisa merasakan wajahnya jadi panas.

Enak buat sandaran... Wangi lagi...

"Sayang?"

Kakashi melihat Fubuki, ternyata dia sudah tertidur lagi. Kakashi tertawa kecil dan membelai rambut Fubuki.

Mereka berdua baru sampai di penginapan.

"Capek juga ya."

"Mandi aja dulu, biar enakan."

"Mau bareng, Fubuki?"

"Du...duluan aja."

Kakashi sudah selesai, sekarang melihatnya keluar dari kamar mandi Fubuki bukannya mimisan, tapi sama sekali tidak bisa mengalihkan matanya.

"Sayang, mau berendam di onsen bareng? Aku tunggu ya."

Pesshhhhhh, pipi Fubuki mendadak jadi merah, "I... iya, bo... boleh juga" Fubuki langsung melesat masuk ke kamar mandi.

Sekarang Kakashi benar-benar manjain aku... Makan aja... disuapin... Kok, kok, jadi...

Esok paginya Fubuki bangun dengan menemukan setangkai mawar putih di sebelah bantalnya.

Mereka bedua jadi sangat dekat dan mesra. Orang-orang akan menyangka mereka baru menikah kemarin, bukannya sudah setahun. Fubuki saja sudah tidak malu menggandeng tangannya lagi saat berjalan. Dan Kakashi dengan wajahnya yang tampan selalu menarik perhatian banyak wanita, terutama saat mereka berdua mengunjungi festival musim panas. Tapi mereka selalu patah hati gara-gara Kakashi menggandeng seorang wanita dengan kemesraan pengantin baru.

Kakashi dan Fubuki duduk berdua di tepi danau. Hari itu kebetulan sekali cerah, jadi mereka berdua bisa duduk berdua dan melihat bintang.

"Fubuki, bintangnya bagus ya. Udah lama nggak lihat bintang kayak gini. Indah banget..."

Kilauan di matamu lebih indah buatku Kakashi...

Ya ampun! Kok aku jadi gombal begini?! Keinfeksi virus gombal dari mana?

"Eh, Sa...Sayang, ternyata dikejar-kejar nukenin ada untungnya juga ya."

"Masak ada sih, Fubuki?"

"Ada kok. Ketemu jodoh."

Mendadak sebelum tidur terbersit ide jahil di benak Fubuki. Digelitikinya pinggang Kakashi.

"Fubuki, udah, ha ha ha, berhenti, oi udah, aku mau tidur ini, ha ha ha ha ha! Aduh, ha ha ha! Geli tau."

Mendadak dia kehilangan keseimbangan dan menubruk Kakashi. Akibatnya mereka berdua jatuh ke atas futon. Fubuki jatuh menimpa tubuh suaminya.

Dia gagah ya... Seksi... Sensual...

Fubuki sepertinya lepas kendali...

Tengah malam Fubuki terbangun. Dia mendapati dirinya membaringkan kepala di atas dada Kakashi dan suaminya yang tampan itu memeluknya.

Aku suka sekali rasa sentuhan kulitnya, belaiannya, ciumannya, wanginya, tubuhnya, kehangatannya...

Dan untungnya tadi aku tidak mimisan terus pingsan... Kalo gitu bisa gagal total...

"Sayang, kok udah bangun? Kenapa?"

"Aku cuma agak haus kok Sayang."

"Kuambilin ya."

Fubuki senang sekali dengan bulan madu mereka. Sekarang mereka berdua minus gangguan, nggak kayak waktu di rumah sakit dulu. Mereka berdua sekarang sudah benar-benar jadi suami istri.

Aduh... mual-mual lagi kayak kemarin. Aku nggak bakal sanggup sarapan. Nggak tahan, mau muntah...

Fubuki berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah, parah. Kakashi yang melihatnya jadi khawatir lagi

Sakitnya kambuh lagi? Kemarin pagi juga begitu, tapi siangnya lumayan membaik. Gimana ini, pasti mau makan berat banget.

"Sayang, gimana, udah enakan? Ini minum dulu tehnya, biar mualnya berkurang."

"Makasih, Sayang. Kakashi, aku pengen makan buah persik."

"Kucariin, istirahat aja ya."

Baru separuh persiknya dimakan, "Kakashi, aku jadi pengen minum jus stroberi."

"Iya, iya, beres."

Besoknya hal yang sama terulang lagi.

"Sayang, aku mau makan durian."

"Durian? Makanan apaan?"

"Itu lho, buah yang kayak rambutnya Naruto." (AN: btw, rambutnya si Naruto itu ngingetin aku sama duren sih, padahal aku nggak doyan duren.)

"Hah, emang ada, ya?"

"Ada, kok, aku pernah liat fotonya."

Gawat nih, mesti cari di mana? Tapi kalo nggak, dia kan lagi nggak doyan makan.

Kakashi berusaha mencari seharian. Sayangnya hasilnya nol.

Di Konoha, Naruto, Sakura, Sasuke sedang ada di taman.

"Nggak ada Kakashi-sensei, nggak seru nih. Btw, bulan madunya udah sampe tahap mana ni? Kayaknya yang asyik-asyik udah tuh."

"Nggak deh, Naruto, jangan-jangan Fubuki-sensei malah bosan dan lumutan kayak patung candi. Tau kan Kakashi-sensei nggak ada tampang-tampang romantis gitu."

"Nggak. Pasti bulan madunya super dahsyat, kan dia penggemar setia novelku. Di situ kan banyak tips yang jos!"

"Masak sih, Jiraiya-sama, Icha Icha begitu. Aku nggak lihat Anda punya pacar atau istri." celetuk Sasuke kejam.

"Pasti penuh semangat muda!!!!! Yah, tapi nggak pake semangat muda pun dia udah keren sih, TT."

Melihat Gai, Naruto dan kedua temannya bertukar pandang.

"Harusnya kita ikutin mereka dan bawa kamera video trus semua-muanya direkam." usul Genma.

"Nggak kebayang deh bulan madunya kayak apa." tambah Anko.

"Sakura, Tsunade-sama mana?"

Yang mengatakan itu adalah Kakashi yang berwajah pucat dan panik serta membopong Fubuki .

"Di rumah sakit, Sensei."

"Makasih." Kakashi langsung lenyap dalam gumpalan asap.

"Bukannya bulan madunya masih seminggu lagi?"

"Jangan-jangan mereka bertengkar trus Fubuki jadi luka?"

"Kebalik! Kalo bertengkar mestinya Kakashi yang babak belur."

"Jangan-jangan Kakashi-sensei bikin keteledoran apa gitu..."

"Udah, kita ikutin aja!"

Di kamar rumah sakit, Kakashi dengan cemas menunggui Fubuki yang sedang beristirahat. Pintu terbuka dan Tsunade masuk.

"Tsunade-sama, kenapa Fubuki?"

"Selamat ya, Kakashi."

"Eh?"

"Kamu bakal jadi ayah."

"Maksudnya?"

"Fubuki hamil."

Kakashi mangap bin ndomblong. (AN: jadi inget adegan di Corpse Bride:-D)

BRUKKKKKKKK!!!! Pintu menjeblak terbuka dan segerombolan orang jatuh tersungkur.

"Hyyaaaaaaaaaa, punggungku patah!!!! Sakura-chan, jangan dorong-dorong dong."

"Bukan aku, Sasuke tuh!"

"Enak aja, aku kegencet yang belakang sampai sesak nafas tau!"

Kakashi masih terbengong-bengong.

"Sakura."

"Ada apa Kakashi-sensei?"

"Tolong tampar aku."

PLAKKKKKK!!!!!! BRUKKK!!!! Kakashi terjatuh menghantam lantai.

"Bukan mimpi. BUKAN MIMPI!!!"

Kakashi langsung menubruk Fubuki dan mendekapnya erat.

"Sayang, pelan-pelan. Nanti dia kaget."

Mereka berpandangan, saling tersenyum satu sama lain lalu berciuman dengan mengabaikan berpasang-pasang mata yang melotot melihatnya.

TOMAT, eh, TAMAT, ding.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

AN: hayooooooo, anaknya perempuan apa laki-laki? Tebak dan dapatkan foto Kakashi + tanda tangannya (Dalam mimpi, hwe hwe hwe.)