RIAK PIKIR DALAM BEKU

Base Character : Higashi no Reishou, Ron.

Time : Ron saat berumur 10 tahun

Note : Bayangkan ia sudah sedewasa Seiya dkk (Umur Kurumada Sensei 'kan selalu githu! Terlalu muda!)

Matahari sudah setinggi kepala kala ia mendengar sebuah suara memanggil namanya. Namun ia masih saja sibuk membelah kayu meski terdengar suara sang bunda memanggil namanya berulang-ulang. Ia acuh tak acuh. "Ah... yang ini juga belum selesai... Masa disuruh kerja yang lain lagi?!" Ia mendengus lirih.

Tok... Brak... Duesh... Suara kapak beradu dengan kayu menimbulkan suara yang cukup keras!

"Roooooon!!!!" Akhirnya sang bunda kehilangan kesabaran. Setengah membentak dan berkacak pinggang ia kini sudah berdiri di hadapan putra satu-satunya.

"Kupingmu ditaruh di mana heh?!"

Ron mengangkat wajahnya sedikit. "Ada di kepala bu..."

"Eh... berani menjawab ya!" Ibu memelototi putranya yang masih berusia 10 tahun itu.

"Iya dech... ada apa?" Ron menghentikan gerakannya dan tersenyum.

"Makan siang sudah siap. Cuci tangan dan makan sana!" Ibu tersenyum manis. Ron pun membalas senyumannya dengan senyuman yang tak kalah manis. Melap ke dua tangannya di celana beberapa kali.

"Menunya?"

"Hush... dilarang tanya menu!" Ibu tertawa. "Masih bersyukur kita masih punya makanan untuk dimakan!"

Ya... memang Ron bukan dari kalangan keluarga yang berada. Namun justru karena itulah ia tumbuh sebagai seorang pemuda yang menghargai apa yang ia miliki, pekerja keras dan tangguh. Mungkin karena itu pulalah ia tumbuh dewasa lebih dahulu dibanding bocah seusianya. Ia sudah memahami apa itu sebuah tanggung jawab untuk melindungi apa yang ia kasihi, tanggung jawab terhadap keluarga dan kesetiaan pada apa yang ia yakini benar!

Pernah ketika ia masih 8 tahun, ia harus berkelahi dengan para berandalan yang sudah berusia 20 tahun hanya karena Ron tidak mau tutup mulut setelah memergoki mereka mencuri buah jeruk di kebun ko' Liu. Baginya itu adalah perbuatan hina dan tercela! Dan adalah kewajiban baginya untuk memberitahukan hal yang sebenarnya pada ko' Liu. Meski ia telah diancam akan dihajar oleh gank berandalan itu, Ron tetap kukuh pada pendiriannya. Akhirnya ia babak belur dikeroyok 5 orang sekaligus.

Sejak saat itu, ia bertekad untuk menjadi pemuda kuat yang tak akan kalah oleh sekelompok berandalan yang sering mengacau kampung mereka. Ayahnya sendirilah yang sejak saat itu melatihnya ilmu bela diri. Keahlian utamanya adalah memainkan tongkat. Kecepatan yang luar biasa! Bahkan sang ayah mengakui keunggulan anaknya itu! Kini, ia maupun warga desanya tak pernah diganggu para berandalan lagi. Karena dengan kejeniusannya, ia sudah mampu menguasai seluruh teknik bela diri ayahnya hanya dalam waktu dua tahun. Tidak ada yang tidak kenal dengan Ron di desa itu! Ia sudah dianggap sebagai pelindung desa itu meski usianya masih sangat muda. Namun Ron bukanlah tipe anak yang cepat besar kepala. Ia tetap Ron yang dulu. Ron yang rendah hati, namun dingin kecuali di lingkungan keluarganya... dan juga...

Seusai mencuci tangannya bersih-bersih, Ron masuk ke ruang makan dan langsung duduk menghadap piring. Sang ayah rupanya sudah menunggunya sejak tadi.

"Kenapa lama sekali?" Ujarnya tenang dan berwibawa.

"Maaf ayah, tadinya aku pikir akan disuruh ibu megerjakan hal lain. Makanya aku diam aja... Habisnya, pekerjaan sebelumnya belum selesai. Ternyata malah disuruh makan." Ron menjawab dengan penuh hormat. Tampak jelas ia sangat menghormati ayahnya.

"Kalau begitu, lain kali jangan menarik kesimpulan kalau belum tahu kebenarannya!" Kembali sang ayah memberikan sebuah kalimat bijak untuknya.

"Sudah-sudah... ayo makan!" Ibu akhirnya menyusul duduk di meja.

"Sebelum makan, mari kita berdoa atas rasa syukur kita pada Tuhan..." Pimpin ayah. Dan mereka pun berdoa.

Ron tinggal di sebuah rumah mungil yang terletak di wilayah Pecinan di Utara Jepang. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya. Hanya bertiga. Karena itulah, ia selalu giat membantu seluruh pekerjaan rumah ibunya kala sang ayah pergi bekerja.

Seusai berdoa, keluarga kecil namun bahagia itu mulai menyantap hidangan dengan lahap. Sesekali Ron mendapat teguran dari sang bunda karena mengeluarkan suara mengecap!

"Sepertinya... perang akan segera dihentikan!" Ayah membuka pembicaraan serius.

"Baguslah!" Ibu nampak berseri-seri. "Aku sudah lelah dengan perang!" Ia menghela nafas perlahan. "Ron terpaksa berhenti sekolah sementara karena sekolahnya merupakan daerah rawan perang. Kita sendiri sudah kehilangan banyak akibat perang." Ia tertunduk pelan.

Ayah hanya tersenyum bijak. "Ya... PBB sudah menandatangani perjanjian damai. Jadi kita tak perlu was-was lagi."

Ron menghentikan makannya sejenak. "Sebenarnya perang itu apa gunanya sich?" Dipermainkan sumpitnya pada mangkuk nasinya yang sudah tiga perempat kosong.

"Perang memang tak berguna! Yah... mungkin itu hanya berguna bagi segelintir orang demi memuaskan ego mereka sebagai seorang politikus yang haus akan kekuasaan! Perang hanya membawa kesengsaraan juga kehancuran bagi manusia, juga dunia!"

Ya... perang telah meluluhlantakkan segalanya. Sekolahnya, dojo tempat ayahnya mengajar kung fu, bahkan kampung halaman mereka. Dengan tubuh ayah yang kekar dan tinggi, membuatnya yang sudah kehilangan pekerjaan beralih profesi menjadi seorang buruh bangunan. Sungguh miris!

"Seandainya ada pihak yang benar-benar murni tanpa ditunggangi pihak manapun mau menjaga perdamaian dunia, aku pasti akan ikut serta di dalamnya dan menjadi pengikutnya yang setia!" Ron berkata dengan tegas.

Sang ayah tampak bangga mendengar perkataan putra tunggalnya. Namun sebaliknya, sang bunda nampak cemas. "Jangan bicara macam-macam! Yang harus kau pikirkan sekarang adalah belajar yang giat! Agar saat sekolahmu kembali di buka, kau tidak ketinggalan pelajaran!"

"Kau memang punya sifat yang mirip sepertiku!" Ayah tergelak pelan.

Ron tersipu mendengar kalimat yang dianggapnya sebuah pujian untuknya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Ron sangat mengidolakan ayahnya itu! Sosok yang tegar, kuat namun memiliki sisi lembut yang mempesona. Dengan rambut hitam panjang lurus jatuh dan mata hitam legam yang bersinar, membuat sang ayah terlihat sangat tampan meski usianya hampir 40. Apalagi dengan tinggi yang mencapai 187 cm itu!

Ron akan sangat bangga jika ada yang berkata bahwa ia mirip sang ayah! Ron memiliki tinggi 175 cm diusianya yang masih sangat muda dan pasti masih bisa tumbuh lebih tinggi lagi! Menambah kemiripannya dengan sang ayah. Yah...kecuali rambutnya yang agak naik keatas itu!

Malam itu, Ron dan ayahnya duduk-duduk di beranda dan memandang bintang yang berpijaran indah di angkasa.

"Ron, besok, ayah dan ibu akan ke Tokyo!"

"Untuk apa?"

"Ayah harus menjemput Ryoko. Kau ingat padanya?'

Selintas terlintas di benak Ron sebuah wajah imut dengan binar mata ungu gelap dan kilau rambut ungu sebahu. Ryoko teman sepermainannya sejak kecil. Namun sudah satu tahun mereka tidak betemu. Itu dikarenakan saat kota kelahiran mereka terkena imbas peperangan, mereka harus mengungsi ke tempat yang berbeda. Ryoko dan keluarganya mengungsi ke tempat kakek nenek Ryoko di Tokyo. Sedangkan ia dan keluarganya memilih mengungsi di wilayah Pecinan. Ada degup tak terjelaskan di hatinya. Ya...ia menyukai Ryoko. Gadis ceria yang selalu blak-blakan itu telah mencairkan sifatnya yang dingin.

"Mana mungkin aku lupa! Asyikk! Kapan ayah akan berangkat?"

"Besok, pagi-pagi sekali!"

"Apa aku boleh ikut?" Binar mata Ron penuh harap.

Ayah mengacak-ngacak rambut putra kesayanganya pelan. "Ayah tahu kau rindu padanya. Namun kau harus menyiapkan penyambutan untuknya. Dia pasti sedang merasa sedih karena kedua orang tuanya baru saja tiada akibat peluru nyasar saat terjadi konflik di Tokyo. Kini ia sebatang kara. Oleh karena itu, ayah dan ibumu bermaksud membawanya dan merawatnya disini... bersamamu!"

Ron terbelalak mendengar penjelasan sang ayah. Apakah ia masih dapat melihat binar cahaya ceria dari kedua mata ungu kesayangannya? Ah... tidak! yang harus dilakukannya adalah melindungi gadis kecil itu! Melindunginya dari apapun yang akan menyakitinya. Dan akan kubuat dia merasa betah tinggal bersamanya. Diucapkannya janji itu pelan dalam hatinya.

"Buatkanlah Siau Lung Pao untuknya! Ayah ingat betul ia sangat menyukai masakanmu yang satu itu!" Ayah tersenyum bijak.

Ron hanya mengangguk. "Akan kubuatkan Siau Lung Pao yang terenak yang pernah kalian makan!" Ia tersenyum.

"Kami berangkat dulu ya..." Ibu mengecup kening Ron lembut. "Jaga rumah baik-baik ya!"

"Ron, ayah pergi tak akan lama! Nanti menjelang sore ayah dan ibu pasti sudah pulang. Jangan buat keributan di rumah ya!"

"Ah... ayah... mana mungkin aku membuat keributan!" Ron memajukan mulutnya beberapa mili.

Ayah dan ibu tergelak. "Sudah... ibu dan ayah harus berangkat! Jangan lupa masaknya yang enak ya! Ibu malu kalau masakanmu sampai gak enak! Habis... kau kan juga murid ibu!" Ibu mengerling jenaka.

Ron tertawa. "Iya dech buuu! Murid tak akan mengecewakan suhu berdua!"

Tak lama, mereka pergi meninggalkan Ron yang mengiringinya dengan lambaian tangan sampai mereka menghilang di garis horizon.

Di dapur Ron menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang koki. Ibunya yang telah mengajarinya berbagai resep masakan dari yang sederhana sampai rumit. Entah untuk apa. Yang jelas, Ron termasuk suka memasak. Apalagi sejak mendapat pujian dari Ryoko beberapa tahun silam. Ah... benar juga... bagaimana dia sekarang ya? Pikirnya...

Tak sampai sore menjelang, semua sudah beres. Ia sengaja memasak angsa panggang saus kecap, tumis kangkung, tahu cah jamur, kwetiaw goreng dan tak lupa Siau Lung Pao andalannya. Ia merasa puas melihat tatanan meja yang sudah rapi dan di tata indah.

Memang pengeluaran untuk makan ini cukup menguras kantong. Tapi tak apalah... aku rela bekerja sambilan membantu ayah kalau diperlukan. Ini semua demi Ryoko... ia tersenyum kala memikirkannya.

"Tadaimaaa!" Terdengar suara ayah dan ibunya dari luar rumah.

"O-okaerinasai!" Jawabnya gugup. Agak tersandung ia bergegas keluar untuk membuka pintu.

Betapa terkejutnya ia kala melihat sosok yang kini berdiri tepat dihadapannya. Gadis yang terlihat sangat cantik meski terkesan agak kurus dan pucat. Rambut ungunya dikuncir dua dan dikepang rapi. Panjang sampai ke siku tangannya. Ron terkesima.

"Ron... jangan bengong! Bantu Ryoko membawa kopernya masuk ke kamar!" Ayah membuyarkan lamunannya.

"Ah...iya...maaf..." Ron salah tingkah dan bergegas membawa ke dua kopor Ryoko masuk ke kamar yang sudah di sediakan.

Cantik... pikirnya pelan. Namun kenapa binar mata itu terlihat sangat sedih? Ah... wajar saja... dia kini sebatang kara... Apa aku bisa menghiburnya? Apa aku bisa mengembalikan tawa yang dulu selalu terukir di wajahnya? Ron menggelengkan kepalanya berkali-kali. Berusaha mengenyahkan segala pikiran buruk yang mungkin akan terjadi.

Seusai membersihkan diri, keluarga itu mulai duduk di meja makan dan hendak memulai makan malam pertama mereka dengan satu anggota keluarga yang baru... Ryoko!

"Silahkan Ryoko... jangan malu-malu..." Ibu menawarkannya makanan.

Ryoko berusaha tersenyum. Namun tampak jelas kalau dia masih sangat sedih. Itu wajar, kedua orang tuanya tewas di hadapan matanya! Demikian pula neneknya satu-satunya yang tewas di pelukannya setelah melindunginya.

"Paman, bibi, saya merasa sangat berterima kasih atas kebaikan ini. Tapi... saat ini saya belum lapar..." Ryoko berkata lirih dan genangan air mata tampak dipelupuk matanya. Ia menunduk.

Ayah tersenyum bijak, "Ryoko-san, aku mengerti perasaanmu. Namun paling tidak kau harus memasukkan sesuatu ke perutmu. Kalau tidak, kau akan sakit!" Lembut sekali ayah mengatakan itu. Ron pun terlihat cemas.

"Tapi..." Ryoko berusaha menahan tangisnya.

Ibu meletakkan Siau Lung Pao buatanku ke tangannya pelan dengan beralaskan kertas roti. Hangat... "Kalau begitu, bawalah ini... bawalah ini ke kamarmu. Nanti malam kalau kau lapar, makanlah. Ron sudah susah payah membuatkannya spesial untukmu!" Ibu tersenyum lembut.

Ryoko mengangkat wajahnya sedikit dan menatap ibu. "Terima Kasih..." Ujarnya samar. Ia pun menatap Ron dan tersenyum samar padanya dan mengangguk kecil tanda berterima kasih.

Ryoko bangkit dan dengan setengah berlari masuk ke kamarnya.

Malam sudah mulai larut. Namun Ron belum juga bisa memejamkan mata. Pikirannya masih melayang-layang. Tepatnya, ia masih memikirkan Ryoko dan perasaannya. Apa yang bisa kulakukan utuk membuatnya kembali tertawa? Apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya kembali ceria? Ron menghela nafas berat. Ia bangkit dari tempat tidur dan beranjak keluar kamar untuk mengambil air minum.

Betapa terkejutnya ia kala menyadari kalau pintu utama belum tertutup. Dia terkejut kala beranjak ingin menutupnya. Ryoko sedang duduk di teras rumahnya diam dalam bisu yang mencekam. Ron terdiam. Tak sanggup ia berkata apapaun kecuali memandangnya dari balik pintu. Gadis itu tampak sangat rapuh di matanya. Bagaikan kaca tipis yang akan pecah menjadi berkeping-keping saat aku akan menyentuhnya. Ron beku. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya kala Ryoko mendengar helaan nafas panjangnya.

"Ron?" Ryoko berbisik pelan.

Ron salah tingkah dan beranjak keluar dari persembunyiannya. "Iya... ini aku. Maaf kalau aku terkesan memata-mataimu. Tapi sungguh aku tak sengaja. Aku..." Ron gugup.

"Iya... tidak apa-apa." Ryoko tersenyum pelan.

"Kau tidak apa-apa?" Ron bertanya penuh simpati.

"Aku minta maaf telah membuatmu kecewa..." Ryoko tak menjawab pertayaannya.

"Kenapa?"

"Kau telah susah-susah masak untukku. Namun ternyata aku malah tak mau makan masakanmu. Maafkan aku." Ryoko tertunduk sedih.

"Tidak apa-apa... jangan dipikirkan... Aku mengerti kau kehilangan nafsu makanmu!"

"Terima kasih atas pengertianmu."

"Adakah yang bisa kubantu agar membuatmu merasa lebih baik?" Ron akhirnya berani mengeluarkan kata-kata itu setelah dari tadi ragu-ragu ia katakan.

"Tetaplah bersamaku malam ini... Temani aku..."

"Itu pasti Ryoko..." Ron menyungingkan senyum termanis yang pernah ia miliki. Untuk orang yang sangat ingin ia lindungi. Untuk gadis yang paling ia sayangi.

Ron duduk di kursi teras rumahnya. Mereka duduk bersebelahan berbatasan dengan meja kecil. Malam semakin larut. Ryoko pun mulai bercerita. Menceritakan seluruh perasaannya. Sesekali ia menangis pedih. Dan Ron hanya bisa memandangnya dalam bisu. Ia bahkan tak berani memberikan dadanya untuk tempat sang gadis bersandar dalam tangisnya. Ia hanya diam mendengar untaian kata-kata curahan hati dambaan hatinya. Entah berapa lama mereka berbicara, hawa dingin menusuk mulai bertiup di pertengahan musim gugur ini.

"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam. Di luar sudah sangat dingin. Aku khawatir nanti kau akan sakit." Ron merasakan hawa dingin yang menusuk kembali bertiup.

Ryoko mengangguk.

Mereka pun masuk ke dalam. "Terima kasih kau sudah mau mendengarkan ceritaku. Kau pasti bosan ya?" Ryoko tersenyum kala mereka sudah duduk di bangku panjang dan duduk bersebelahan.

"Ti-tidak... Mana mungkin aku bosan!" Ron gugup. Dasar bodoh! Maki Ron pada dirinya sendiri. Tenangkan hatimu! Mana mungkin kau bisa menghiburnya kala kau sendiri begini gugup! Umpatnya dalam hati.

Ryoko merengkuh tangan Ron lembut. "Terima kasih Ron... Kau memang orang sangat pengertian. Sejak dulu... kau memang yang terbaik!"

Ryoko sama sekali tak menyadari betapa merahnya wajah Ron kala itu. "Ah...Tidak...aku hanya tak ingin melihat wajahmu yang cantik itu harus dirundung sedih." Kalimat itu meluncur dengan lancarnya dari mulutnya.

Ryoko kembali tersenyum... "Terima kasih Ron... Terima Kasih... seandainya aku bisa di sisimu selamanya..." Bisiknya lirih...

"Apa?"

Keesokan harinya, Ryoko sudah mulai bisa tertawa lepas. Ayah dan Ibu sangat senang melihat perubahannya. Setengah berbisik pada Ron, ibu berkata, "Kau adalah penghibur yang baik Ron..."

Wajah Ron langsung semerah kepiting rebus. "I-ibu melihatnya semalam?"

"Ya... Termasuk janji kalian untuk selalu bersama..." Ayah ikutan berbisik.

"AAYAAAAAAAH!!!!" Ron bergerak hendak memukul ayahnya. Namun sang ayah lebih gesit dan melompat menghindar.

"Sudah-sudah... ayah dan anak sama saja! Yang penting kamu bahagia, kami sich setuju aja!" Ibu tertawa bijak.

Wajah Ron trelihat berseri-seri. Ya... semalam mereka berjanji untuk menjadi sepasang kekasih. Mungkin cara pengungkapannya tidaklah romantis. Tapi biarlah... sekarang Ryoko adalah miliknya. Setelah ia 20 tahun kelak, mereka akan menikah. Dia berjanji tak akan membiarkan apapun menyakitinya. Tidak satupun! Namun saat itu dia sama sekali tidak menyadari bahwa pasukan Machine Empire sedang berencana menyerang kota dimana mereka tinggal.

BERSAMBUNG...