RIAK PIKIR DALAM BEKU

Base Character : Higashi no Reishou, Ron.

Time : Ron saat berumur 10 tahun

Note : Bayangkan ia sudah sedewasa Seiya dkk (Umur Kurumada Sensei 'kan selalu githu! Terlalu muda!)

Suatu hari, Ron mengajak Ryoko pergi berjalan-jalan.

"Kau mau kita jalan-jalan ke mana?" Ajak Ron pagi itu.

"Terserah kau saja, kau 'kan lebih tahu daerah ini ketimbang aku!" Ia tertawa.

Ron merenung sejenak. "Aku punya tempat yang lumayan indah. Yah... mungkin memang tak seramai Tokyo! Karena ini memang bukan kota! Tapi pemandangannya bagus! Kau mau?"

"Tentu saja!"

Mereka pun bergandengan tangan pergi ke tempat yang ditunjuk Ron. Sebuah bukit berumput... yah... daun-daun pohon di situ mulai berguguran. Sebagian yang masih bertahan, merubah warnanya menjadi kekuningan, merah juga jingga. Ryoko terpesona!

"Ini indah sekali Ron!"

"Ya... aku suka sekali pergi kemari jika aku merasa bosan! Dan biasanya, pemandangan ini bisa menghiburku!"

Ryoko berjongkok sesaat di rerumputan yang luas itu! Dan tiba-tiba bangkit dan berlari menentang angin menju rimbun pohon di sebelah Barat!

"Kejar aku Rooon!" Ia tertawa...

Ron terperanjat. Namun ia tak menyiakan kesempatan itu dua kali. Ia berlari dan mengejarnya. Sengaja ia tak berlari dengan kemampuannya yang sesunguhnya. Kalau tidak, Ryoko pasti sudah tersusul dari tadi. Mereka berlari mengitari pohon-pohon sampai akhirnya Ryoko menghentikan larinya kala melihat seekor kelinci bersembunyi di balik pohon.

"Lucunya..." Bisiknya lembut!

"Mau kutangkapkan Ryoko?" Ron menawarkan bantuan.

Ryoko menggelang. "Biarkan saja dia di sana Ron! Dia juga makhluk bebas!" Ryoko tersenyum manis dan dengan gerakan tiba-tiba mendorong Ron jatuh ke rerumputan. Ia pun tergelak keras melihat ekspresi Ron yang seperti orang bodoh karena kaget!

Sang kelinci pun lari menghindar. Ryoko masih tertawa dan menjatuhkan dirinya ke rumput yang empuk tepat di sebelah Ron. Ia menelentangkan tubuhnya menghadap rimbunan pohon. Ron mengikuti gerakannya di sampingnya.

"Aku harap hari yang indah ini akan berlangsung selamanya Ron!" Ryoko menatap lurus tanpa ekspresi.

"Tentu saja! Keadaan kita akan terus begini!" Ron membelai rambut panjang Ryoko lembut.

"Apa kau tahu Ron, aku takut kehilangan lagi... Kehilangan orang yang sangat kita sayangi sangat menyakitkan bagiku! Rasanya sesak! Karena itu, aku sangat ketakutan Ron! Sangat! Aku bahkan takut kehilangan kau!"

"Kau tahu kalau aku tak akan meninggalkanmu Ryoko?"

Ryoko memandang Ron lembut namun penuh rasa cemas. "Aku tahu kau tak akan meninggalkan aku. Bukankah sejak kecil kau selalu berkata begitu padaku?" Ia tersenyum.

Ron bersemu mendengarnya. Ya... sejak kecil Ron sudah menyayangi Ryoko. Entah kenapa. Namun cinta tak perlu penjelasan bukan? Dan Ron sendiri tak ambil perduli. Apapun alasan yang telah membuatnya menyukai bidadari kecil dihadapannya, ia akan mempertahankan rasa itu sampai akhir.

Ryoko menatap langit kembali. "Aku ingin kita cepat menikah Ron! Yah... aku tahu kita berdua masih terlalu muda! Tapi aku merasa, jika kita tidak menikah secepatnya, aku selalu merasa aku tak akan sempat..."

"Sstttt..." Ron meletakkan jari telunjuknya ke bibir Ryoko yang merah. "Jangan di teruskan," Ron duduk. "Aku tak ingin kau berpikir macam-macam... Kita akan menikah! Itu pasti! Kau dengar? Aku berjanji padamu, kita akan menikah kelak! Yakinlah!"

Ryoko memejamkan matanya dan menghela nafas. Ia bangkit duduk dan memeluk lututnya dengan kedua tangannya. "Sejak kecil aku hanya memandangmu Ron. Kau tahu itu?"

Ron diam.

"Sejak kecil, hanya kau yang terbayang di benakku. Apa kau masih ingat kalau kau membelaku mati-matian saat ada anjing herder besar yang menggigit tasku?"

Ron tertawa pelan. "Iya... aku ingat!"

"Kau juga... sudah dibilang mendingan kabur aja, kau malah berusaha merebut tas itu dari mulutnya. Untung kau masih selamat!" Ryoko tergelak. "Kau memang bagai seorang ksatria di depanku. Mungkin kau merasa kalau kalimatku terlalu klise. Namun itulah perasaan yang kurasakan Ron! Kau bagai kstaria di mataku! Pelindungku, yang selalu memberikan kehangatan untukku, yang selalu berada di sisiku saat aku membutuhkanmu! Tak ada pria yang lain Ron!"

Ron tersenyum, "Apapun akan kulakukan asal kau bisa bahagia..."

Mata Ryoko meredup. "Saat kehilangan orang tua dan nenekku, rasanya aku ingin menghilang dari dunia ini. Namun kulihat bayanganmu disana... Kau memberiku semangat agar tetap hidup! Aku berterima kasih atas itu. Karena itu, jangan pergi Ron... Jangan tinggalkan aku... Kalau tidak, aku tak bisa hidup lagi..." Air mata mengambang di pelupuk matanya.

Ron mendekap bidadarinya lembut, "Jangan menangis Ryoko... aku ada disini, aku akan melindungimu sampai kapanpun! Apapun yang terjadi..." Bisiknya lembut di telinganya.

Ron mengecup keningnya... Ryoko mengeluarkan air mata bahagia dan membalas pelukan Ron erat. "Terima kasih..." Bisiknya samar...

Bidadariku akan terus tersenyum... ia akan selalu tersenyum... Senyum indah yang tak akan lepas dari bibirnya. Aku yang akan menjaga senyum itu tetap di sana...

Sudah satu bulan Ryoko tinggal bersamanya. Itu adalah masa masa paling bahagia dalam hidupnya. Hingga suatu hari,

"Ron, kau sudah menguasai semua jurus yang ayah miliki. Sekarang ayah akan memberikamu sesuatu sebagai tanda kelulusanmu." Ayah mengeluarkan sebuah benda panjang yang terbungkus kain putih yang sudah berubah kecoklatan.

"Apa itu ayah?"

"Buka saja. Itu adalah warisan turun temurun dari keluarga kita. Untung itu masih bisa di selamatkan waktu Dojo diserang habis-habisan tempo dulu."

Ron membuka kain yang menyelubungi benda itu pelan. Ryoko pun turut menyaksikan dengan perasaan bergetar.

"Tombak?" Ron terperangah. Sebuah tombak panjang berwarna biru tua dengan ukiran naga di bagian ujungnya.

"Bagus sekali!" Ryoko memandang takjub dan membelai tombak itu lembut.

"Ayah merasa, kau kelak akan mengunakan tombak itu anakku. Entah mengapa. Tapi ayah harap, kau bisa menggunakan tombak itu dengan baik. Untuk membela apa yang kau yakini!"

Ron mengangguk. Di pandangnya tombak itu lekat-lekat. Ia merasakan sesuatu mengalir dalam tubuhnya. Sebuah degup yang tak terjelaskan. Ia merasakan, bahwa ia akan menggunakannya kelak. Perasaan yang sama dengan yang dirasakan sang ayah. Namun Ryoko memandangnya penuh kecemasan.

"Aku tidak akan apa-apa... Percayalah." Ron membelai kepala Ryoko lembut.

"Umh..." Ryoko tersenyum dan mengagguk.

Tiba-tiba terdengar suara ibu berteriak, "Yah, Ron, Ryoko, cepat kita mengungsi! Pasukan musuh bergerak memasuki kota kita! Aku mendengar dari radio bahwa musuh sudah berada 1 km dari rumah kita! CEPAAAAT!" Ibu berteriak panik.

Ayah terperanjat kaget. Dengan kecepatan kilat ia menyambar pedang yang tergantung di dinding rumah mereka. Membawa bungkusan baju yang memang selalu mereka siapakan kalau kalau tiba-tiba harus mengungsi. "CEPAT LARI!" Ayah mendorong Ron juga Ryoko. "JAGA RYOKO! KAU DENGAR?!" Ayah berlari menyusul ibu yang sudah berada di depan rumah.

Saat Ron sudah hampir menyusul ke depan rumah, terdengar suara letusan senapan berulang-ulang. Suaranya menggelegar membelah angkasa. Ron mempercepat larinya. Kala ia sudah tiba di halaman, betapa terkejutnya ia kala melihat sang bunda telah roboh diterjang peluru timah dari prajurit musuh yang ternyata sudah berada di depan rumah mereka. Banyak mayat berserakan di wilayah pecinan yang tadinya damai itu. Bau anyir darah merebak cepat. Beberapa rumah bahkan mengepulkan asap. Ryoko tampak histeris.

Ron menyuruhnya berdiri di belakangnya. Ia mengambil posisi siaga tempur. Ini untuk yang pertama, ia menggenggam tombaknya untuk bertempur. "I-ibu!" Bibirnya bergetar hebat. Ia menahan emosinya sendiri. Melihat ibunya yang tergeletak tak berdaya bersimbah darah di depannya. Kala ia mau menerjang maju, ayah melompat lebih dulu ke depan. Menerjang prajurit musuh yang jumlahnya puluhan lengkap dengan senjata mesinnya.

"AYAAAAH!" Ron menjerit histeris.

"Lari Ron... LARIIIII!" Ayah turut berteriak sembari menghindari tumpahan peluru panas dari moncong-moncong senapan yang haus darah. "Pergilah dan lindungi Ryoko! Ayah akan menghambat mereka!"

"Tapi..." Ron masih terdiam.

"JANGAN BIARKAN PENGORBANAN IBUMU SIA-SIA! PERGI DARI SINI! AYAH YANG AKAN MENJAGA IBUMU!" Ayah terlihat sangat marah.

Terdiam sejenak sebelum akhirnya, "JANGAN SAMPAI MATI AYAH! Aku akan menunggumu!" Jeritnya.

Masih sempat dilihat ayahnya tersenyum sebelum ia membalikkan badan dan menggandeng tangan Ryoko untuk berlari pergi.

Namun... terdengar suara ledakan yang sangat dasyat. Ledakan di tempat ayahnya bertarung tadi.

"AYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!" Ron menjerit histeris dan berhenti berlari! Air mata menetes dari pelupuk matanya. Ia mengenggam tombaknya erat... Gelegak amarah memuncak dari tubuhnya. Aura kemarahan, aura kebencian, dan aura ingin membunuh.

Ryoko sangat terkejut melihat perubahan emosi kekasihnya itu. Tiba-tiba di dekapnya Ron erat-erat... "Tenangkan dirimu Ron... Aku mohon!!" Bisiknya lembut. "Jangan kembali ke sana. Kau dengar?! Kedua orang tuamu ingin kau tetap hidup! Juga aku! Jaga nyawamu Ron! Jangan biarkan itu lepas dari ragamu!" Ryoko berbisik setengah menangis.

"Maaf..." Kemarahan Ron mulai terkendali meski ia masih mengenggam tombaknya dengan erat. Matanya terpejam.

Tiba-tiba terdengar suara senapan meletus. Disusul jeritan Ryoko yang memilukan. Seorang prajurit musuh mengejar mereka dan menembak Ryoko dari arah belakang. Peluru itu menembus tubuh Ryoko dan mengenai perut kiri Ron. Kedua insan itu roboh bersimbah darah.

Masih sempat Ron mendengar Ryoko membisikan kalimat untuknya, "Teruslah hidup Ron! Teruslah hidup... untukku, untuk kedua orang tuamu..." Ia terbatuk perlahan dan mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya. "Aku mencintaimu Ron... sa-sa-ngat..." Ryoko menghembuskan nafas terakhirnya.

Ron terbelalak kaget. Gelegak emosi itu kembali bergolak dalam hatinya yang kini didera badai. Badai yang sangat dasyat! Badai yang mampu merobohkan seluruh akal sehatnya, seluruh ketenangan hatinya, bahkan sikap lembutnya! Peluru itu memang mengenai perutnya dan bersarang di sana. Namun semua itu seolah tak di rasakannya. Ia menggeram penuh amarah! Ia maju menerjang prajurit musuh yang menembak Ryoko. Memutar tombaknya dan memenggal kepalanya dengan sekali tebas. Darah segar bercipratan di mana-mana. Tak dirasakan darah mengalir deras dari perutnya yang terkoyak. Ia berteriak marah dan menerjang prajurit musuh yang datang membantu.

"KENAPAAAAAAAAAAAA??!!!!!" Ia menjerit histeris. Melompat, menerjang, menghindar dari serbuan peluru-peluru yang diarahkan ke tubuhnya. Kecepatan tombaknya yang luar biasa, sanggup menebas lawan-lawannya. Banyak yang sudah tewas di tangannya saat itu. Ia berhasil membuat senapan para prajurit itu terlepas dari tangan mereka. Namun kesadarannya makin lemah. Darah yang keluar terlampau banyak. Ia berdiri terengah-engah. Keringat bercucuran dari dahinya.

"Maafkan aku..." bisiknya lemah. Aku tak sanggup bertahan hidup lagi. Maaf kan aku ayah... ibu... Ryoko... sebentar lagi aku akan menyusul kalian di surga. Tempat dimana tidak ada perang dan kekacauan seperti di bumi. Tempat dimana kita bisa tenang... selama-lamanya.

"Seandainya ada pihak yang benar-benar murni tanpa ditunggangi pihak manapun mau menjaga perdamaian dunia, aku pasti akan ikut serta di dalamnya dan menjadi pengikutnya yang setia!"

Ron pun memejamkan matanya.

"Menyusahkan saja!" Salah seorang prajurit yang selamat dari amukan Ron mendengus kesal.

"Jangan bunuh dia! Dia memiliki kekuatan bertarung yang luar biasa. Kita bisa menggunakan dia untuk kepentingan Kikaikou!" Prajurit yang lain mencegah.

Mereka tertawa berasama, "Ya... biar Misha-sama yang akan mengatakan bahwa ia telah di selamatkan oleh Dewa yang akan menjaga perdamaian dunia. Dan dia akan menjadi pengikut Kikaikou yang setia!"

"Ha... ha..."

END

Dedicated buat pecinta Ron di Indonesia (Specialnya WK Sari). Entah kenapa aku membayangkan bahwa ia memiliki masa lalu yang gak kalah suram dengan Reishou yang lainnya. Karena dia yang bersifat paling dingin, harusnya dia yang punya masa lalu paling kelam kan? Entahlah... tapi ini yang ada di pikiranku. Buat fansnya, gak usah khawatir, Ron tetap single kok! He... he...

Sebenarnya aku pikir kisah cinta antara Ryoko ama Ron itu hambar juga ya? Maaf... aku kurang pandai bikin cerita romantis. Kalau ada yang mau membantuku menambah kisah romantis antara mereka, aku bersedia menerimanya dengan senang hati. Ditunggu lho!

Kalau mau cemburu sama karakter rekaan boleh kok! Aku juga cemburu ama OPAL waktu dijodohkan paksa ama Hokuto! He... he... Tapi Kayanya Ron memang lebih cocok ama Aramis. (Siap-siap dipukul)

Kamar Kos-2003

Bekasi, 30 July 2003, Melamun sambil denger BGM nya B'T X