WARNING

BOYS LOVE (BL)

This fanfic will be on Indonesian language to. If U don't like BL, don't read this fanfic. THX

Saya membuat ini BUKAN karena saya menyetujui akan hubungan BL. Tapi justru untuk mengenyahkan pikiran bahwa kedua tokoh yang saya sukai dibuat BL (Bahkan YAOI) oleh fansnya di negeri asalnya. Ini hanya cerita yang dibuat oleh pandangan semampunya seorang gadis yang bisa dibilang belum mengenal apa itu BL dengan semestinya. Fanfic ini dibuat tidak bermaksud untuk memojokkan mereka yang memang merupakan kaum homoseksual. Karena bagaimanapun juga, hidup adalah pilihan! Sekali lagi mohon pengertiannya.

Karena panjang banget ; terpaksa dibagi menjadi 4 bagian. Tadinya mau kujadikan 3 bagian. Namun ternyata loadingnya jadi lama banget. Jadi kupotong lagi dech. Harap maklum! Ini semi curhat. Soal usia, aku majuin mereka ke lebih dewasa dari usia mereka sebenarnya. Kan seharusnya usia mereka sekitar 13-14 thn waktu belum ketemu Teppei. Nah...aku maunya mereka 18 tahun. Biar agak dewasa. Maaf kalau sekiranya dianggap maksain!

Ijinkan Aku Mengatakannya

Base : Anime B'T X karya Kurumada Masami

Central Character : Fou (seme) Hokuto (uke) – 18 tahun

Time Line : Saat mereka belum melawan Rafaelo.

PART 1

Hokuto membawa setumpuk buku kedokteran yang begitu tebal dan berat. Agak terhuyung ia berjalan tergesa menuju meja terdekat. Buku-buku itu menumpuk hampir setinggi kepala dan menghalangi pandangannya ke depan. BRUK! Dijatuhkannya buku-buku itu ke meja. Langsunglah ia mendapat pelototan dari penjaga perpustakaan karena ribut.

Ia tak ambil perduli. Diseretnya sebuah kursi ke arah meja. Mengambil buku catatan dari balik saku bajunya dan mulai membuka buku teratas. Sesekali menuliskan memo-memo kecil ke dalam kertas dengan gerakan cepat.

Entahlah, tak ada yang tahu pasti bagaimana dia dengan cepat melahap buku demi buku dan menulis catatan penting dalam buku kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.

Menit demi menit berlalu. Demikian pula jam berganti jam. Perpustakaan besar yang semula dipadati manusia yang ingin belajar atau yang sekedar ingin mendinginkan diri dengan AC di musim panas ini satu-persatu telah pergi.

Hokuto masih meneruskan membaca buku terakhirnya. Delapan jam sudah ia duduk di kursi itu tanpa bergerak sedikitpun. Hanya kepala dan tangannya yang terampil bergerak lincah. Sudah 12 buku ia lahap habis. Dan kini ia memasuki akhir dari buku ke-13 nya. Ditutupnya buku bercover tebal itu dengan keras. GRUSAK! "Sssttt..." Penjaga perpustakaan kembali memperingatkannya.

Ia hanya tersenyum serasa tak bersalah. Diregangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Digeleng-gelengkan kepalanya ke segala arah untuk mengusir kepenatan yang menerpanya.

"Sudah selesai ya?" Sebuah suara lembut mengejutkannya.

Wajahnya bersemu merah kala menyadari siapa yang menyapanya. "Fou?!"

"Kau memang rajin Hokuto!" Fou mengambil posisi duduk di sebelahnya. Mengangkat salah satu buku dan membalik-baliknya. "Tebal juga ya?!" Ia tertawa.

Hokuto mengangguk malu-malu.

"Umh Hokuto, bisakah kita bicara di taman setelah ini?" Fou masih memainkan buku yang sedari tadi ia pegang. Terlihat jelas bahwa ia sangat gugup.

"Ya... boleh saja. Aku sudah selesai kok!" Hokuto tersenyum manis. "Tapi Fou, bukankah jam malam akan berlaku 5 menit lagi?" Ia memandang jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9.55 malam.

"Ah... kau benar!" Tampak sekali bias kecewa terpancar di wajahnya yang tampan.

Hokuto mendekatkan bibirnya ke telinga Fou. "Datanglah ke asramaku sekarang! Kita bisa bicara di sana!" Bisik Hokuto lembut dan samar. Fou mengangguk.

"Bagi para pengunjung perpustakaan, waktu berkunjung sudah habis. Harap segera meninggalkan ruangan!" Suara peringatan terdengar cukup keras.

Hokuto bangkit dari duduknya dan mengamit tangan Fou untuk ikut bersamanya. Dua laki-laki tampan berusia 18 tahun itu berjalan beriringan menuju "Asrama Utara". Tempat di mana para guardian wilayah Utara tinggal.

Fou memasuki koridor utama asrama. Diedarkannya pandangannya ke sekeliling. Ah... tak jauh berbeda dengan asramanya di Selatan. Tapi meski di katakan asrama, ini adalah suatu wilayah yang luas sekali. Setiap guardian mendapatkan rumah mungil yang modern seluas 10 m²!

Hokuto meletakkan telapak tangannya ke touch screen di depan pintu rumahnya. "Identifikasi sukses. Hokuto, 18 tahun, Kita no Reishou. Silahkan masuk!" Suara mesin pengaman terdengar. Pintupun terbuka secara otomatis.

"Silahkan!" Hokuto tersenyum mengijinkan Fou memasuki rumahnya yang ditata bernuansa hijau. Rumah mungil itu terbagi 6 ruangan. Ruang tamu, dapur, kamar, laboratorium, ruang tengah dan tentu saja toilet.

Fou duduk di sofa ruang tamu yang berwarna hijau tosca. Meja ukiran coklat ditutupi tamplak sulaman dengan latar hijau daun. Dindingnya berwarna hijau muda keputihan. Lampu neon putih terang menyinari ruangan itu. Fou mengerjap-ngerjapkan matanya memandang semua 'kehijauan' ini. Dia jadi ingat rumahnya yang bernuansa biru-merah. Ia tersenyum sendiri.

Tak lama Hokuto kembali dari dapur membawakan dua gelas kristal putih berisi jus jeruk dingin yang berwarna kuning segar. Dengan hati-hati diletakkannya satu di depan Fou, dan satu di depannya.

Hokuto duduk di sofa tunggal, sementara Fou duduk di sofa untuk 2 orang. Mereka duduk dalam posisi 90° berhadapan. "Terima kasih Hokuto, aku suka sekali jus Jeruk."

Kembali wajah Hokuto bersemu merah. Ia tertunduk.

Fou menyesap minumannya sedikit. Kemudian ia berdehem. Ia berusaha menenangkan dirinya sebelum akhirnya ia berkata, "Hokuto, umh, sebenarnya tujuanku mengajakmu bicara... karena... umh..." Ia tak melanjutkan kata-katanya. Hokuto hanya menatapnya bigung.

"Sudah berapa lama kita berteman ya?" Fou menghitung jari jemarinya. "Hmm... hampir 10 tahun bukan?"

"Wah... tak terasa ya?" Hokuto tersenyum manis. Fou terpana memandang wajah manis di hadapannya. Jantungnya berdegup makin kencang. Ia menggelengkan kepala perlahan. Berusaha menghilangkan rasa gugup yang terus melandanya.

"Ada apa?"

"Ti-tidak apa-apa...!" Fou berusaha untuk tidak terlihat gugup dan salah tingkah. "Selama ini... kau 'sahabatku' yang paling baik..."

Hokuto terperanjat. "Benarkah kau menganggapku begitu Fou?" Kembali ia menyunggingkan senyuman yang mampu meluluhkan hati siapapun yang melihatnya. "Terima kasih Fou... kau juga sahabatku yang terbaik!" Mata hijau bening itu berbinar-binar.

Fou merasa semakin bimbang. Haruskah ia mengatakan itu semua? Ah... tapi ia harus mengatakannya. Meski dunia akan menertawakan pengakuannya.

"Hokuto... aku mau kau berjanji tak akan marah bila aku mengatakan ini." Nada bicara Fou penuh dengan kecemasan dan ketakutan.

"Memang kau mau bicara apa Fou?" Hokuto terlihat khawatir.

"Berjanjilah dulu...!"

"Ah..." Hokuto bimbang sebelum akhirnya menyetujuinya.

Fou tersenyum lega. "Sebelum aku mengatakan apa yang ingin aku katakan," Fou memandang Hokuto lekat-lekat. "apa pedapatmu tentang aku?"

Hokuto sempat kaget mendapat pertayaan seperti itu. Namun ia tak butuh waktu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Fou. Karena baginya, jawaban itu sudah terukir jelas di relung hatinya. "Fou, kau adalah Reishou yang hebat. Sosok yang selalu ingin aku tiru. Sosok yang selalu ada di saat aku sedang membutuhkan bantuan. Kau adalah orang yang paling mengerti aku. Mau mendengarkan segala keluh kesahku. Menemaniku melewati saat-saat yang sulit di Kikaikou. Meski aku ingat betul perjumpaan pertama kita, kau berusaha membunuhku!" Hokuto tertawa.

"Uh... iya... aku ingat... maaf ya!" Fou benar-benar terlihat kikuk. Hokuto tertawa melihat wajah Fou yang memerah seperti kepiting rebus.

"Lalu?"

"Lalu?" Fou mengulang pertanyaan Hokuto bingung.

"Lalu apa yang hendak kau katakan?"

Fou akhirnya meneguk minumanya dengan tergesa. Tersedak kecil. Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri, "A-ku... uhuk..."

"Sshh... nafas dulu nafas...!" Hokuto ikut membantu menepuk-nepuk punggung Fou perlahan.

Suatu yang tak diduga sebelumnya terjadi. Fou menangkap tangan Hokuto dan menyeretnya pelan untuk duduk tepat di sebelahnya. Hokuto pun menuruti kemauan Fou.

Fou menggenggam erat kedua tangan Hokuto dengan kedua tangannya. Ia menunduk, menarik nafas pendek yang cepat berulang-ulang. Tiba-tiba ia mendongak, menatap Hokuto dan dengan kecepatan tinggi berkata, "Hokuto, aku menyukaimu!"

DEG! Jantung Hokuto berdegup kencang. Seiring semburat merah yang merona di wajahnya yang putih. Mata hijau itu tak berkedip memandang Fou. Memastikan apa mata biru yang ada dihadapannya itu berbohong. Namun yang ia lihat hanya kejujuran.

"Ke-kenapa?" Hokuto bertanya lembut dan miris.

Fou melepaskan pegangannya dan bangkit berdiri. Ia berjalan menghadap tembok dan membelakangi Hokuto. "Sudah sejak lama aku senang bila kau berada disisiku. Aku selalu berusaha menjadi pelindung dan membuatmu bahagia. Tadinya aku pikir kau kuanggap seorang saudara ata sahabat yang terbaik. Tapi teryata aku SALAH!" Fou terdiam.

"Salah?" Masih dengan suara pelan Hokuto bertanya.

"Karena... aku ingin selalu berada dekat denganmu. Tiap kali kau tersenyum, tiap kali aku memandangmu, ada getaran tak terjelaskan dalam dada. Keinginanku untuk memelukmu, memilikimu... ah... tidak mungkin!" Fou memukul dinding perlahan. Namun itu cukup membuat cekungan kecil di dinding.

"Aku tahu ini bukan suatu hal yang dibenarkan! Tapi... tapi..." Lanjutnya tertahan. Fou menampar pipinya keras-keras satu kali. Berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang terus-menerus menghantuinya.

Hokuto terperanjat. Ia berlari ke arahnya dan menahan tangan Fou sebelum melakukan tamparan ke wajahnya untuk yang kedua kalinya.

"HENTIKAN Fou!"

"Maafkan aku Hokuto... Maafkan aku yang telah memiliki perasaan ini!" Fou mendekap Hokuto erat. Memeluknya kuat-kuat seolah mereka adalah 2 orang yang tak pernah bertemu dalam kurun waktu yang lama.

Hokuto hanya terdiam. Dibiarkannya Fou memeluknya erat.

"Apakah sekarang kau membenciku?" Fou berbisik lambat-lambat.

Hokuto merasakan sesuatu yang hangat menetes di pundaknya. Hokuto memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke pundak Fou. "Tidak Fou... karena aku pun merasakan hal yang sama."

Fou terbelalak dengan butiran air yang menetes dari kedua matanya. Namun akhirnya ia juga memejamkan mata dan tersenyum, "Terima kasih..."

BERSAMBUNG...