Biarkan Ini Berakhir

Base : Anime B'T X karya Kurumada Masami

Central Character : Fou (seme) Hokuto (uke) – 18 tahun

Time Line : Saat mereka belum melawan Rafaelo.

PART 4

Sore yang tenang. Para penghuni asrama Utara sudah kembali ke rumah masing-masing. Akan tetapi ketenangan itu harus terusik .

"HOKUTOOOO! HOKUTOOOO!" Fou berteriak-teriak dari ujung koridor asrama sekaligus berlari tergopoh-gopoh dan akhirnya menabrak pintu rumah Hokuto karena tidak bisa mengerem. GUBRAK!

Hokuto berlari di dalam rumah untuk membuka pintu. Setelah dua minggu menunggu kabar, Fou akhirnya mengetahui apa hukuman yang akan dijalaninya.

BRAK! Hokuto membuka pintu lebar-lebar. Fou yang masih menempel di pintu langsung nyungsep ke depan, menubruk Hokuto dan mereka bedua terguling beberapa inci di lantai.

Fou langsung cepat tanggap. Ia melakukan tolakan ke atas dengan tangan kanananya dan bangkit berdiri. Hokuto yang pada dasarnya tidak dilatih beladiri, masih dalam pose terlentang terengah-engah di lantai karena kaget. Hi... hi...

"Aku gak dihukum mati..." Fou akhirnya tertawa.

"Waaaaahhhhh...!" Hokuto langsung bangkit dan loncat memeluk Fou. Setelah itu mereka meloncat-loncat bersama seperti anak kecil sambil berpegangan tangan. Tapi itu tak lama.

"Apa hukuman untukmu Fou? Misha-sama pasti memberi hukuman bukan?" Hokuto menatap Fou was-was.

Fou terdiam. Suasana sepi kembali mencekam mereka. Hokuto merasakan perasan tak enak di hatinya.

"Apa hukuman untukmu Fou? Apa kau dikirim ke Under Hell?"

Fou hanya menggeleng. Hokuto menarik nafas lega. Paling tidak Fou tidak dikirim ke sana.

Fou pun tersenyum. "Pangkatku diturunkan dua tingkat. Dan..." Fou tak melanjutkan kata-katanya.

"Dan?!"

"Aku diusir dari Point ke-6. Dan kini aku ditugaskan menjaga point ke-1. Tujuh puluh ribu mill dari sini."

Hokuto terperanjat. Namun ia berusaha tetap tenang dan membuat ia tampak tegar. "Kapan kau akan pergi Fou?"

"Besok?"

"Begitu cepat?"

Fou mengangguk.

"Sebenarnya aku tak ingin pergi... Namun itu adalah hukuman yang harus aku terima. Jadi..."

Hokuto memegang kedua pipi Fou dengan tangannya. "Tersenyumlah. Hari ini mungkin adalah hari terakhir kita bersama bukan? Jangan bersedih ya! Kita tutup semua dengan tawa ya!"

Fou tertawa. "Baiklah! Tapi maukah kita pergi ke tempat pertama kali kita bertemu?"

"Oh... air terjun itu ya? Ii desu yo...!

Mereka tiba di atas air terjun tepat saat matahari nyaris terbenam. Mereka duduk bersandar pada sebuah pohon rindang yang tepat mengarah pada lembah di mana mereka dapat melihat dengan jelas matahari terbenam yang sangat indah.

"Apa kau sadar Fou? Senja kali ini indah sekali..."

Fou menatap matahari senja yang berwarna kemerahan. Langit berwarna ungu cerah kekuningan membias dengan semburat tipis awan putih. Cantik sekali. "Kau benar..."

Hokuto menyandarkan kepala ke pundak Fou.

"Pernahkah kau berdoa tentang hubungan kita berdua?" Fou membelai rambut coklat Hokuto yang halus dan lembut.

"Iya..." Mereka berbicara tanpa saling menatap. Hanya saling bersandar satu sama lain.

"Apa yang kau doakan?"

"Yang terbaik bagi kita berdua..."

Fou tersenyum. "Sama denganku. Akupun pernah berdoa seperti itu ah... bukan... aku berdoa setiap malam... setiap saat."

"Apa kau merasa ini yang terbaik?" Hokuto balik bertanya.

"Hanya Tuhan yang tahu segala rahasia langit dan bumi. Tapi aku ikhlas menerima semua ini."

Matahari senja kembali bergerak merayap di balik awan tipis dibalik bukit.

"Terima kasih..." Hokuto berbisik.

"Untuk apa?"

"Semuanya. Atas apa yang telah kita lalui bersama. Atas rasa dalam jiwa, atas pengorbananmu dan atas segala yang telah kau berikan untukku."

Fou merengkuh Hokuto makin kuat namun tetap lembut. "Justru aku yang berterimakasih kepadamu." Ujarnya juga berbisik.

Langit senja kini berubah menjadi malam dingin yang hitam. Bintang-bintang berpijaran mulai muncul dari persembunyiannya. Bulan baru. Langit tanpa bulan. Suara gemericik aliran sungai dan suara binatang malam berbaur menjadi satu.

"Carilah gadis yang baik jika kau sudah tiba di sana Fou. Tapi jangan lupakan kau! Ingatlah aku sebagai sahabat terbaikmu. Orang yang sangat menyayangi dirimu."

"Kau juga. Carilah gadis yang sesuai denganmu. Karena menurutku, Tuhan ingin kita hanya sebagai sahabat. Tidak lebih!"

Mereka tersenyum dan saling menatap. Mata hijau bening Hokuto begitu bergetar. Demikian mata biru Fou yang bersinar redup.

"SA-YO-NA-RA... F-Fou..." Hokuto akhirnya menrangkul Fou erat-erat.

"Sa-yo-na-ra..." Fou membalas pelukan Hokuto.

Akhirnya mereka mengucapkan kata perpisahan. Kata perpisahan yang sebenarnya sangat sulit untuk diucapkan. Namun kini semua sudah teradi. Malam semakin larut. Namun ke dua insan itu masih duduk di bawah pohon rindang dalam bisu. Mereka akan menikmati indahnya malam itu. Menikmati kebersamaan mereka yang terakhir. Berdua saja... ditempat dimana kisah mereka bermula dan berakhir.

Lima tahun kemudian...

Sosok pria berambut coklat nampak sibuk di sebuah laboratorium raksasa. Mengambil sampel dan melakukan serangkaian penelitian. Begitu sibuknya sampai ia tak memiliki waktu untuk memikirkan hal yang lainnya. Namun tatkala ia memandang foto yang dipasangnya di meja, ia tersenyum.

"Fou... saat ini aku memang belum menemukan gadis yang sesuai denganku. Namun kini aku bisa memandangmu sebagai seorang sahabat terbaikku. Mungkin memang belum seutuhnya. Namun aku akan terus berusaha... Karena ini yang terbaik untuk kita."

Sementara itu, di waktu yang sama, Fou sedang memainkan piano di sebuah Gereja di pinggiran Kikaikou. Masuklah sesosok gadis berambut merah sebahu dengan tergopoh-gopoh untuk memberitahukan sebuah kabar. Tak seberapa lama Fou keluar dari Gereja. Dan tepat ketika melintas di depan gadis itu, ia berkata, "Prajurit Karin, berapa kali aku katakan, aku tak suka melihatmu memakai seragam itu!"

"Maafkan saya Fou-sama. Ini masalah mendesak. Lain kali saya tidak akan mengulanginya." Wajahnya terlihat sangat gugup.

"Tidak apa-apa. Hanya saja kau terlalu cantik untuk memakai seragam itu..." Fou pun tersenyum.

The End

Akhirnya selesai juga fanfic yang agak nyerempet ini. Mungkin sebagian kamu akan merasakan kejengahan ketika membaca fanfic ini. Namun tetaplah mengenang kedua tokoh diatas sebagai tokoh normal sebagaimana karakter aslinya. Dua pria bishounen tampan dan baik hati ini adalah character yang aku sukai (Hokuto is the best!). Mohon maaf bila ada kalimat yang menyinggung hati siapapun. Dengan ini aku putuskan, aku akan mengingat selalu... bahwa hubungan mereka adalah sebagai seorang SAHABAT! Tidak lebih!

Ditulis di buku : 26 Januari 2003 s.d. 20 Februari 2003

Diketik mulai : 24 Februari s.d. 16 Maret 2003

CAPEKNYAAAAA...