Nyanyian Setitik Air Hujan

Nyanyian Setitik Air Hujan

Sela Waktu Yang Terbuang

Naruto©1999, Kishimoto Masashi

Nyanyian Setitik Air Hujan©2008, Zerou

Genre, Romance/Tragedy

Rating, T

A/N: Dipersembahkan untuk para fans Gaara dan bagi yang penasaran dengan OC: Shigeru yang sempat muncul di 'Harapan Tahun Baru'

First

'Flashback'

Semilir angin menyejukkan menghembus debu-debu ke udara. Sudah ½ tahun sejak anak laki-laki berambut merah dan cepak ini membantu misi Naruto cs untuk mengejar Uchiha Sasuke. Kini ia telah menjadi chuunin.

Ia berdiri menatap langit biru yang hanya terlihat sedikit awan yang berkumpul. Lalu, ia memandang sekelilingnya yang tak lebih terlihat sekelumit butiran-butiran pasir yang tersebar di penjuru matanya.

"Gaara!" panggil sebuah suara yang melengking.

Anak laki-laki itu menoleh. Ia hanya diam, berdiri menunggu tanpa menunjukkan air muka sekalipun. Yang memanggilnya barusan itu, Temari, bukan orang lain. Cewek berkuncir 4 itu berlari menghampiri Gaara.

"Kita dipanggil guru. Ada misi, katanya," kata Temari mengabari Gaara yang sendirian sedari tadi di tempat itu.

Merekapun pergi ke tempat guru mereka berada.

Di tempat lain, Konohagakure, Sakura sedang menempa dirinya di bawah naungan Tsunade, Godaime-Hokage (bersama Ino, tentunya). Sedangkan Naruto diasingkan bersama Jiraiya untuk meningkatkan kemampuannya dan untuk mampu mengendalikan Kyuubi. Sasuke sendiri masih entah di mana ia berada setelah berhasil kabur dari kejaran Naruto cs. Yang pasti ia mengikuti Orochimaru untuk mendapatkan kekuatan.

Gaara sendiri juga berjuang untuk mencapai tujuannya yang sama dengan Naruto, menjadi pemimpin desa, menjadi Kage. Impian yang telah ia temukan setelah bertahun-tahun ia melupakan apa yang akan ia lakukan setelah dewasa nanti.

"Misi kalian kali ini menangkap hidup-hidup 3 orang pencuri gulungan rahasia milik klan Ryuusen."

"Hanya kami berdua?" sela Temari bertanya.ia khawatir kalau-kalau Shukaku keluar dan ia tidak bisa menghentikannya bila ia sendirian, meskipun sekarang Gaara terlihat lebih manusiawi dibanding dulu.

"Tenang, kalian melakukannya bertiga, tapi tidak bersama Kankurou. Dia sedang melaksanakan misi lain."

"Lalu, siapa penggantinya?" tanya Temari lagi.

"Dia Mizunashi Shigeru," jawab guru mereka, "Ayo, masuk!"

Masuklah cewek itu melalui pintu tepat di belakang Temari dan Gaara. Cewek berkuncir 2, berwajah manis yang sekaligus memperlihatkan garis-garis semu merah di pipinya yang menandakan dia malu-malu. Cewek itu menundukkan kepalanya, "Salam kenal!"

Gaara melihat gadis itu dengan menampakkan raut muka yang tidak tertarik dengan teman 1 timnya itu. Temari menatap gadis itu. Dalam benaknya, ia berpikir, "Apa bocah ini benar-benar bisa membantu? Dia terlihat – seperti tidak berguna – semoga ini hanya pikiranku."

"Aku Temari dan dia Gaara. Semoga kita bisa bekerjasama," ujar Temari sambil mengulurkan tangan kanannya. Shigerupun langsung menjabat tangan Temari, "Baik!"

"Ehm –" Baki melanjutkan bicaranya, "Ini data ketiga orang itu. Mereka diperkirakan kabur ke Hanagakure. Hati-hati, mereka selalu berhasil kabur dari kejaran. Kuharap kalian bisa menangkapnya. Misi kalian lakukan besok pagi. Ingat! Tangkap mereka dan bawa kembali gulungannya itu. Selamat berjuang."

Baki beranjak pergi meninggalkan seorang anak laki-laki yang tak peduli perempuan dan bertampang dingin itu dikelilingi 2 cewek manis yang menemaninya.

Temari yang menerima data itu memeriksa dengan seksama. Yang terlihat adalah 3 orang laki-laki yang seumuran dengannya, namun lebih tua 3 tahun dari Gaara. Masih remaja, rupanya. Shigeru ikut-ikutan melongok kertas data itu.

"Wow – Sugoi...!! Cakep semua, kayak bintang pilem aja!" jerit Shigeru.

"Jangan berteriak begitu! Mereka itu musuh!" kata Temari untuk meredam jeritan Shigeru. Gadis itu justru tersenyum menggoda, "Ah – bilang saja kalau Temari-chan juga berpikir 3 orang itu cakep, ya 'kan?"

"Urusai – !" ujar Temari yang kini memperlihatkan pipi yang kemerahan, "Sebaiknya kita persiapkan saja keperluan untuk besok."

"Itu saran yang bagus," kata Shigeru setuju.

"Kalau begitu, kita pulang," lanjut Temari sambil keluar dari ruangan itu. Disusul Gaara dibelakangnya. Shigerupun mengikuti dari balik punggung mereka. Mereka berjalan keluar dari gedung itu melewati lorong-lorong tanpa batas. Temari dan Gaara melangkah dengan cepat. Susah payah Shigeru menyamai langkah 2 bersaudara itu yang semakin cepat saja.

"Temari-chan, Gaara-kun, tunggu ak – " pinta Shigeru terputus tiba-tiba.

GUBRAK!!

Suara jatuh yang keras. Shigeru terjatuh tanpa sebab.

"Aduh – " rintih Shigeru kesakitan.

"Ceroboh!! Kalau gini, apa dia bakal berguna nantinya?" pikir Temari dalam benak.

"Ceroboh," komen Gaara.

"Dia buka mulut!" teriak suara hati Temari. Kaget ia.

"Hehehe – gomen. Ini keseharianku," balas Shigeru meringis.

Gemerlap cahaya yang dipancarkan bintang di langit musim panas menemani bulan sabit di angkasa sana. Udara dingin berhembus bersama angin. Suhu di tengah padang pasir tak berubah sedikitpun, tetap dingin jika di malam hari. Butiran-butiran pasir ditindih tubuh Gaara yang berbaring di atasnya. Kini ia berada di oase, mata air yang menjadi sumber kehidupan Sunagakure. Letaknya jauh dari rumah Gaara.

Bola mata hijau itu menerawang kerlap-kerlip benda bercahaya di langit yang semakin hilang karena tertutup awan tipis.

Hari yang semakin gelap tidak membuatnya bergegas pergi dari tempat itu. Tempat yang akan semakin dingin. Terdengar suara dari arah semak-semak di belakang Gaara menjatuhkan tubuhnya.

Srak. Srak. Srak. Srak.

"Siapa kau?" tanya Gaara pada suara misterius itu.

Lalu, muncullah sesosok gadis yang sebaya dengan Gaara.

"Lho..., Gaara-kun? Kukira siapa, ternyata Gaara-kun. Sudah deg-degan, nih. Lain kali jangan tanya dengan nada seperti itu, deh. Nyeremin," ujar gadis itu lega.

"Kau – teman 1 tim besok –"

"Yup! Aku rekan 1 tim Gaara-kun. Hahaha... jangan-jangan Gaara-kun lupa namaku, ya? Malangnya nasibku – Aku Mizunashi Shigeru. Panggil saja Shigeru," ujar Shigeru dengan santai. Ia tidak menunjukkan rasa takut seperti halnya orang lain jika bertemu Gaara. Ia justru terlihat senang berjumpa dengan sosokm anak laki-laki yang bertoreh kanji 'ai' di jidatnya itu. Ia pun duduk di samping rebahan tubuh Gaara. Ia memulai membuka kata untuk mengisi kesunyian.

"Gaara-kun, sedang apa? Apa sedang bersemedi? Atau ingin menyendiri? Atau malah ingin tidur bersama alam?" tanya Shigeru dengan polosnya.

Gaara menjawab dengan dingin, "Mana mungkin aku tidur. Shukaku bisa bangun." sepertinya ia tidak ingin membicarakan tentang Bijuu dalam tubuhnya itu.

"Hahaha, lagipula kalau tidur di luar 'kan bisa masuk angin," lanjut Shigeru tidak mengacuhkan ucapan Gaara. "Tapi, lalu gimana cara Gaara-kun menghimpun tenaga lagi kalau Gaara-kun sudah terlalu lelah dan sekarat karena bertarung? Masa' dengan berbaring seperti itu bisa fit lagi? Bukannya tidur itu istirahat yang paling baik?" terocoh Shigeru penasaran.

Gaara tidak meresponnya, meskipun dalam benak ia berpikir, "Pingin kuhajar cewek bego ini!" Tapi, Gaara 'kan cool, jadi dia selalu ja-im jaga image. Shigeru menghentikan pertanyaannya. Mungkin Gaara-kun tersinggung dengan pertanyaanku tadi, pikirnya. Gaara menghela nafas dan menata kembali keinginannya untuk membunuh gadis itu. Ia memulai pembicaraan untuk memecah sepi.

"Kamu – tidak takut?" tanya Gaara lirih.

"Hmm?"

Gaara mengulangi pertanyaanya lagi, "Apa kamu – tidak takut?"

"Takut apaan? Hantu? Setan lewat? Nggak, tuh. Aku justru ingin melihatnya langsung dengan mataku ini. Mau Yuurei, Oni, atau apa, terserah! Tapi, aku pingin banget liat Sadako yang keluar dari sumur. Hahaha – sayangnya di Suna gak ada sumur. Kalau di sini mah adanya Kappa, ya 'kan?" jawab Shigeru konyol. Penuh sinar pengharapan di bola matanya.

"Bukan itu –"

"Kalau gitu –" pikir Shigeru agak lama, "Jangan-jangan – Gaara-kun akan menyerangku yang masih perawan ini berhubung kita cuma berdua di sini?" ujar Shigeru yang makin ngawur njawabnya dengan tangan menyilang – untuk pertahanan – Gaara justru kaget dengan jawaban Shigeru yang tak sesuai pikirannya. Jangan–jangan dia ini gak peka? Atau emang bego? Pikir cowok yang berbaring di permukaan tanah itu.

"Maksudku – apa kau tidak takut denganku yang monster ini?" tanya Gaara lagi lebih diperjelas.

"Aku sudah banyak melumuri tangan ini dengan darah manusia yang aku bunuh – Kotor – Menjijikan – Menakutkan – karena itulah tubuh yang dihuni monster ini ditakuti orang, tak terkecuali kau –" lanjut Gaara sambil memandangi telapak tangan kanannya yang ia angkat ke atas wajahnya dan menutupi bulan yang menerangi dirinya. Shigeru diam. Ia memandangi rupa Gaara yang masih saja dingin namun tersirat di dalamnya sebuah kesedihan.

Shigeru mengeruk pasir di sekitarnya dan mengambil sejumput pasir dengan genggaman tangan kanannya. Lalu, ia menjatuhkan pasir dalam genggamannya secara perlahan.

"Memangnya dari sebelah mana Gaara-kun terlihat seperti monster?" tanya balik Shigeru. Ia menatap Gaara. Anak laki-laki itu membangkitkan dirinya dari rebahan dan duduk. Tangan kirinya menyangga tubuhnya.

"Kau tahu 'kan kalau aku ini bisa dengan mudahnya melenyapkan manusia. Hanya dengan pasir ini, aku bisa membunuhmu dalam sekejab – hanya menyisakan cipratan darah," kata Gaara dengan nada dingin dan menekan leher Shigeru dengan jari telunjuknya. Tatapan mata gadis itu tidak menunjukkan rasa takut. Tetap tenang memandang Gaara. Jemari Gaara ditariknya lagi. Siapa sangka kalau Shigeru menjawab dan bereaksi tanpa rasa takut.

"Untuk apa takut pada yang sama-sama manusia? Zaman sekarang nggak ada diskriminasi soal gender –"

"Hah?!"

"Oh, maaf, sorry, gomen – maksudku, tiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing yang tak dimiliki orang lain. Meskipun Gaara-kun kelihatan sangar saat bertarung, sebenarnya Gaara-kun itu baik, 'kan?" ujar Shigeru penuh senyuman.

Bocah berambut cepak itu kaget. Shigeru benar-benar mengeluarkan reaksi tak terduga.

"Gaara-kun mencap diri sebagai monster, tapi dalam hati Gaara-kun sendiri menyangkalnya, 'kan? Mana mungkin ada orang yang mencap dirinya monster dengan tenang. Yah – kecuali untuk orang yang emang sinting," lanjutnya.

"Yang monster itu bukan Gaara-kun. Gaara-kun hanyalah seorang shinobi Sunagakure. Gaara-kun adalah seorang manusia. Shukaku dalam tubuh Gaara-kun menurutku juga bukan monster. Itu hanya sebuah kekuatan yang harus ditanggung oleh Gaara-kun –"

"Jangan mengasihaniku –" sela Gaara.

Shigeru melirik Gaara, ia pun meneruskan ucapannya, "Aku tidak mengasihani Gaara-kun. Siapa bilang?! Aku hanya kagum dengan kemampuan Gaara-kun yang lebih dibanding orang lain. Kadang aku menginginkan kekuatan itu. Menurutku keren, sih."

"Aku mendapatkan ini bukan karena keinginanku," ujar Gaara, "Kalau aku bisa melepas kekuatan ini semauku, pasti sudah kulenyapkan semenjak dulu."

Shigeru membiarkan sisa butiran pasir di tangannya dihempas angin. Digenggamnya lagi pasir di sekitarnya. Ia bergumam, "Gaara-kun menggunakan kekuatan itu tidak benar, sih. Gaara-kun menggunakannya sewaktu lagi kesal dan membunuh, makanya orang-orang melabeli Gaara-kun monster, kayak barang dagangan aja, pakai dilabeli segala. Hehehe –harusnya Gaara-kun memakainya untuk membantu orang lain atau juga melindungi orang yang Gaara-kun anggap penting. Kalau begitu 'kan, Gaara-kun pasti bersyukur memiliki kekuatan itu saat berhasil melindungi seseorang."

Gaara merebahkan tubuhnya lagi. Ia membuka mulutnya, "Aku – tidak bisa melindungi orang yang kuanggap penting."

"Hee? Kok?"

"Aku – justru membunuhnya dengan kekuatan ini."

"Nani?!" teriak Shigeru kaget. Gaara diam, lalu ia meneruskan lagi.

"Ayahku menyuruhnya untuk membunuhku. Tanpa tahu kalau itu dia, aku membunuhnya," cerita Gaara dengan suara lirih. Terdengar sedikit gemetar soal ucapan barusan.

Shigeru diam. Ia berpikir sejenak. Lalu, ia bicara lagi.

"Maksudnya, dia itu siapa? Gaara-kun atau ayahku?" tanya Shigeru dengan bodohnya dan tidak mengerti. Gaara terkejut lagi dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan Shigeru. Sekarang Gaara berpikir lagi, dia ini memang benar-benar bego, ya? Gaara menjawab dengan tenang, meskipun dalam benaknya ia cukup geli, sih. Ia bangun dari rebahannya lagi.

"Dia adik dari ibuku."

"Oh, paman – bilang, dong kalau dia pamanmu! Bikin orang bingung segala!"

Gaara melanjutkannya lagi, "Aku sudah kehilangan orang yang kuanggap penting –"

"Jadi, paman Gaara-kun mengkhianati Gaara-kun?"

Tatapan Gaara kini tertuju pada gadis polos itu.

"Tidak – semenjak awal dia membenciku. Sebenarnya dialah yang mengajariku tentang luka hati dan cinta untuk pertama kalinya," ujar Gaara sembari menutupi wajahnya dengan jemari-jemarinya.

Shigeru menyela, "Tunggu – apa benar Gaara-kun yang membunuh – pamanmu – itu? Gaara-kun pasti nggak tega membunuh orang yang berharga untuk Gaara-kun, 'kan?"

Gaara terdiam. "Jawab Gaara-kun!"

" – dia meledakkan dirinya. Ia membakar bom kertas yang suadh dilekatkan pada tubuhnya – untuk membunuhku sekaligus mengorbankan nyawanya. Tapi aku tetap hidup karena perlindungan pasir ini," jawab Gaara bergetar. Ia tidak tahan untuk menguingat kenangannya yang menyedihkan. Lidahnya kelu untuk melanjutkan cerita masa lalunya.

Tangan kecil Shigeru memegang tangan Gaara yang disandarkan di tanah. Hangat. Itu yang dirasakan Gaara. Kehangatan yang telah lama ia inginkan.

"Jadi, sebenarnya Gaara-kun tidak membunuhnya 'kan?"

"Tapi, dia terluka karena aku –"

"Paman Gaara-kun – cuma – terluka. Gaara-kun tidak membunuhnya. Gaara-kun tidak salah. Pamanmu – bunuh diri –"

"Tetap saja – perasaan bersalah itu ada –"

Shigeru mengerutkan alisnya dan menghela nafas.

"Jelas-jelas Gaara-kun tidak bersalah! Pamanmu yang salah! Kenapa harus membunuh Gaara-kun segala?! Itu jelas melanggar hak asasi manusia, hak Gaara-kun untuk hidup," tutur Shigeru masih memegang tangan Gaara.

"Gaara-kun juga terlalu lama melihat ke belakang, sementara yang lain menatap ke depan. Kalau terpaku pada masa lalu, gimana Gaara-kun bisa maju?"

"Diamlah."

"Kalau Gaara-kun ingin maju, Gaara-kun harus melupakan masa lalu, membiarkannya mejadi kenangan dan pengalaman bagi Gaara-kun. Gaara-kun kini harus menatap ke depan. Kita tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Entah itu baik atau buruk, kita yang menentukan," oceh Shigeru tanpa menghiraukan Gaara.

"..."

"Gaara-kun juga terlalu lama sendiri, kalau lebih lama lagi mungkin bisa lumutan. Gimana kalau Gaara-kun jadi temanku saja?!" ujar gadis itu. Ia berdiri, melepas pegangannya. Ia membungkukkan badannya. Gaara menengadahkan pandangannya dan kedua pasang mata itu saling bertemu. Shigeru penuh senyum pengharapan. Bayangannya menutupi air muka Gaara yang penuh dengan kaget hari ini.

"Bukan sekedar rekan dalam misi tapi juga teman baik yang siap membantu kalau salah seorang dari kita mengalami kesulitan."

"Aku akan mendukung Gaara-kun sampai kapanpun. Aku akan membuat Gaara-kun gembira, merasakan kesenangan selayaknya manusia biasa. Oh – berarti dulunya Gaara-kun manusia luar biasa, ya! Hehehe – Gaara-kun pasti akan tersenyum lagi, senyum bahagia, bukan senyum penuh nafsu membunuh, kalau bersamaku. Aku tidak akan mengkhianati dan akan terus besama Gaara-kun, eh – kok jadi kayak lamaran nikah, sih –" ujar gadis itu.

"Itu tidak mungkin," balas Gaara dengan dingin.

"Itu pasti! Seperti yang kubilang tadi, kita tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Suatu sa –" ujar Shigeru terputus lagi. Pijakan kakinya yang tidak kokoh membuat keseimbangannya hilang. Ia terpelet dan berguling seperti bakso yang digiling. (bukan baksonya yang digiling, dagingnya 'kan? Lagian bakso itu nglinding!)

Glundung – Glundung –

Gaara cuma melihat kejadian unik itu, yang jarang terjadi di sekitarnya.

BYUURRR!!

Suara benda jatuh ke dalam kolam yang terdengar keras. Cipratan air mengenai tubuh Gaara. Sekujur tubuh Shigeru terguyur air yang begitu dingin, basah kuyub tentunya. Gaara geli melihat – adegan – yang sekilas itu. Ia menampakkan senyum tipis di wajahnya yang selalu saja sama. Shigeru mengetahui itu dan mengikuti senyuman itu. Lebih lebar lagi dan menunjukkan giginya yang kinclong karena disikat tiap hari. (yang jelas – nggak sekinclong punya Lee). Shigeru pun berargumen.

"Akhirnya tersenyum 'kan?"

Gaara terkejut. Matanya terbelalak. Ia tidak tahu kalau wajahnya sudah menampakkan senyum yang berkembang. Ia menghela nafas, "Aku kalah."

Gaara memperlihatkan bahwa dirinya menyerah. Shigeru menampakkan senyuman anak kecil yang memenangkan sesuatu dan mengacungkan jari tangannya yang membentuk V (peace!). Gaara berdiri menghampiri Shigeru. Ia mengulurkan tangannya untuk menawarkan bantuan. Shigeru menerima itu dan dibantunya ia keluar dari air yang dingin itu.

Tiba-tiba tubuh Gaara mengingat suatu hal. Ia pernah merasakan kejadian ini sebelumnya. Rekaman masa lalunya terlintas sekilas dalam otak Gaara. Yang terlihat hanyalah samar-samar rekaman itu. Ia telah melupakan satu kenangan yang menurutnya dulu itu bukan hal penting.

"Gaara-kun, ada apa?"

"– tidak."

Gaara menatap gadis itu. Aku sepertinya pernah bertemu dengan dia, pikir Gaara. Ia mencoba mengingat lagi. Mengingat jauh ke masa lalunya. Lalu, tertancap satu kepingan ingatannya. Semasa ia masih bocah. Ia ingat, ia pernah bertemu dengan seorang anak perempuan. Tapi, ia tidak ingat bagaimana sosok anak itu, namanya pun ia tidak mengenalnya. Gaara membiarkan ingatan itu. Ia tidak mau memikirkannya lebih jauh.

"Ternyata kalau berendam air dingin di waktu malam hari itu dingin juga, ya?" kata Shigeru.

"Bego," ejek Gaara.

"Gaara-kun cerewet. Katanya pendiam, nyatanya banyak omong."

"Urusai – !" kata Gaara sambil meninggalkan Shigeru yang kebasahan itu.

"Gaara-kun, tunggu!"

Gaara tidak peduli. Aku sudah terlalu banyak bicara. Kenapa aku harus menceritakan hal itu pada gadis bodoh ini? Pikirnya dalam benak. Gaara melangkah lebar dan dibuntuti Shigeru.

Tes. Tes. Tes.

Suara berisik tetesan air yang terjatuh terdengar dari tubuh Shigeru. Gaara penasaran dengan rekan setimnya itu. Ia membuka mulut dan berbicara lirih.

"Sebenarnya, kau ini siapa?" gumam Gaara.

"Hem?"

Malam ini terasa sangat panjang bagi Gaara. Detak jam berjalan lebih lambat dari biasanya. Suara malam terdengar makin keras. Hari telah semakin menjulang. Tinggal menunggu fajar yang datang di hari esok.

"Sudah siap?" tanya Temari.

"Siap, bos!" jawab Shigeru semangat, badannya ditegapkan dan mengangkat tangannya untuk hormat.

"Kita berangkat."

Pagi telah menjelang. Hari tidak akan lari. Tugas telah menunggu. Misi dilaksanakan!

First "Flashback" – end –

To be continued to second

Author's Note:

Yuhuu!! Jumpa lagi dengan Zerou! Ini fanfic Narutoku yang kedua. Kali ini genrenya Romance dan Tragedy. Pairing Gaara OC, tapi nggak keliatan kayak Romance, ya? Lagian aku juga nggak bisa buat yang Romance apalagi Humor (T x T).

Baca kelanjutannya, ya. Baca juga fanfic yang SD Kyo – yang lebih ancur keyimbang fanfic Narutoku – (Promosi ).

Silahkan review kalo kamu emang pingin review. Ja, ne –