Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


Chapter 1 : Prelude

.

.

Selamat datang di kekaisaran Konoha.

Di tempat ini kau akan menemukan kekaisaran kecil dengan pemandangan yang luar biasa indah. Kau akan disambut oleh burung-burung aneka warna, berkicau di setiap sudut hutan. Ada juga kawanan angsa di pinggir danau, dan juga para tupai serta kelinci hutan kecokelatan yang berubah menjadi seputih salju begitu masuk musim dingin.

Saat ini, kami sedang dalam suasana musim semi, dan angin sejuk akan selalu mengelilingimu. Sambutan hangat dari para penduduk juga akan kau dapatkan, dan juga jangan lupakan puteri kaisar yang ramah...

Tunggu, tunggu.

Saat ini, puteri itu masih tertidur lelap.

"Sakura-hime!" teriak Ino keras sambil membuka pintu ruangan besar itu. Di sana, di salah satu sisi kamar, di atas tempat tidur yang besar, seorang gadis tertidur lelap. Rambutnya yang berwarna merah jambu berantakan, begitu juga dengan selimutnya yang sudah tertendang entah ke mana. Bahkan yukata yang dipakainya pun berantakan. Ino menggeleng-gelengkan kepala. "Ampun," Katanya sambil berdecak, "Sepertinya kita harus menyiramnya dengan air."

"I-Ino-chan," seorang gadis lain muncul di belakangnya, rambutnya berwarna biru gelap dan berkimono putih, senada dengan warna matanya. Ia menggerak-gerakkan telunjuknya dengan gelisah. "Jangan, kalau kau lakukan itu pada Sakura-hime, kau akan..."

"Ha, maksudmu, kita akan dimarahi?" potong Ino cepat. Gadis itu mengangguk. Ino tertawa. "Aduh, Hinata-chan. Kau ingat, kan?" dengan gemas Ino mencubit pipi Hinata, sehingga gadis itu meringis. "Kita semua 'kan berteman sejak kecil," Ino berjalan ke washtafel, mengambil baskom dan mengisinya dengan air. "Jadi..."

BYUUUUURRRR!

"Kita tak akan dimarahi hanya karena ini. Ya, kan?"

Ino nyengir, sambil mengedikkan bahu, melihat Sakura yang (akhirnya) terbangun gelagapan, dengan wajah tak karuan: antara kesal, kaget, mengantuk, marah, dan shock. Tubuhnya basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki, bahkan kasur yang ia tiduri pun ikut kena getahnya. Hinata melompat mundur, wajahnya antara geli dan ketakutan.

"Ino... kau..."

.

Dan selanjutnya, itu cerita lain.

.

"Baiklah, Ino, senang sekali ya... kau bisa membuatku basah seperti ini," kata Sakura, sedikit ketus, sambil mengenakan Kimono berwarna merah marun, dibantu oleh Hinata.

Ino yang sedang menyisiri rambut Sakura mencibir. "Tapi, gara-gara itu 'kan kau jadi bangun dan pergi mandi, Sakura." Kata gadis berambut pirang itu, "Coba, kalau tidak begitu, kapan kau akan bangun?"

Wajah Sakura memerah mendengar itu. Hinata juga terkikik geli. Yang dikatakan dayangnya itu memang benar. Tadi malam ia tidur sangat larut... kalau tak mau dibilang sudah pagi. "Memangnya, apa yang kau lakukan, Sakura-chan?" tanya Hinata. Namun sekejap kemudian ia tampak begitu panik. "E-eh, maksudku, aku..."

Sakura tertawa. "Yah, begitulah, Hinata," ucapnya sambil mematut diri di depan cermin, "Tadi malam, aku..."

"Kau berkencan dengan bulan lagi, kan?" kata Ino gemas. "Ampun, Sakura! Kau ini selalu saja... kalau kau mau meneropong Bulan, dan langit atau sebagainya itu... tidak perlu terlalu lama, kan?" katanya. Ia menunjuk ke arah beranda di mana sebuah teleskop terletak. "Toh, setiap malam bentuk mereka begitu-begitu saja..."

"Aaah, lagi-lagi kau mengatakan hal-hal seperti itu. Aku sudah bosan," komentar Sakura sambil mengibas-ngibaskan tangannya, "Kau tak akan mengerti, betapa menyenangkannya saat kau mengamati perubahan langit dari waktu ke waktu." Ia mengencangkan obi kimononya, lalu menoleh ke arah Hinata. "Hinata, begini cukup, kan? Sudah terlihat rapi?"

Hinata mengangguk sambil mengambil beberapa buah penghias rambut. "Tapi, kau juga harus memperhatikan kesehatanmu, Sakura-chan... Jangan sampai kau jatuh sakit." Kata gadis itu, memasangkan sebuah hiasan berbentuk bunga Sakura ke rambut Sakura.

"Oke, oke."

"Dia tak akan mempan kalau hanya dinasihati seperti itu," Ino mendengus sebal. Dibukanya jendela sehingga sinar matahari masuk dengan bebas ke kamar itu. "Lagipula, kenapa sih kau begitu senang mengamati bulan?"

Sakura tertawa sambil berjalan keluar kamar, "Tuh, kan, kau tak akan bisa mengerti!" katanya, berlalu dari ruangan itu. Senyum tipis muncul dari bibirnya.

Segala hal pasti memiliki kenangan di baliknya, kan?

Pagi di istana memang selalu ramai. Setiap pagi, ratusan orang sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Hampir dua ratus orang yang hidup dan bekerja di istana ini. Belum lagi mess untuk pasukan shinobi di belakangnya. Penuh dengan para ninja yang bertugas sebagai tentara, terbagi menjadi beberapa pasukan, yang siap menyerang kapanpun diperintahkan.

Dari istana terdapat akses langsung untuk pergi ke kompleks tempat tinggal para shinobi itu, sekaligus menjadi tempat latihan mereka. Sekitar seribu orang bekerja di sana, dan lima ratusan orang ninja yang masih belum menikah tinggal pula di sana. Dan seluruh shinobi itu dipimpin oleh lima orang pemimpin pasukan yang masih muda.

Sakura berjalan ke beranda di pinggir lapangan tempat berlatih para shinobi. Masih pukul tujuh pagi, namun suasana di sana sudah agak ramai. Padahal, biasanya latihan bersama baru dimulai pukul sembilan pagi.

"Ada apa?" tanya Ino, melongok lebih dekat. Hinata mengedikkan bahu. "Aneh sekali, masih pagi sudah banyak orang..."

"Aaa," kata Hinata setelah memperhatikan situasi sebentar, "Tampaknya sedang ada yang berlatih... tapi, siapa? Kupikir, kalau Cuma shinobi biasa, tidak akan seramai ini."

"Latihan bertarung, maksudmu?" tanya Sakura. Hinata mengangguk. Ia berhenti berjalan, lalu ikut melihat ke arah lapangan yang penuh sesak dengan para shinobi. Ada empat orang yang sedang berlatih, masing-masing berpasangan. Sakura mengenalinya sebagai empat dari lima pemimpin pasukan.

"Ne-Neji-Niisan!" seru Hinata saat menyadari siapa yang sedang berlatih itu. yang dipanggil berpaling dan melambaikan tangannya ke arah gadis berambut pendek itu.


to be continued.


edited; menghapus authors' note (karena ANnya labil. hahaha)

Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon