Malam itu hujan baru saja reda saat Kobayashi memutuskan untuk berjalan pulang. Dan dia terhenti di sebuah gang ketika mendengar suara.

"Ha..ha..ha.."

"Ayolah manis…."

Kobayashi mengerutkan alisnya dan menghampiri pemilik suara tadi.

"HEY!"

Dua orang yang sepertinya sedang mabuk itu berhenti tertawa dan menatap Kobayashi dengan acuh,

"heh…mau apa kau?! Pergi sana! Bukan urusanmu!", dan laki-laki itu kembali memalingkan wajahnya.

BRAKK….!!

Tiba-tiba saja laki-laki tadi sudah mendarat di tong sampah sambil meringis menangisi pinggangnya yang keseleo.

"JACK!", laki-laki kedua melepaskan tangan tawanannya dan menatap temannya dengan terkejut, lalu dia berpindah menatap Kobayashi dengan bengis.

"Kau cari masalah ya..!", dia mencabut pisau dari balik jaketnya dan berlari menerjang Kobayashi, tetapi sekali lagi orang itu terlempar dan mendarat di tong sampah seperti temannya yang bernama Jack.

Dan kaburlah mereka setelah mendapat serangan tatapan mata pembunuh Kobayashi. Sekarang dia mengalihkan pandangannya pada tawanan yang mereka tinggalkan. Dia terduduk di pojok gang dan sedang berusaha berdiri.

"Kau tidak apa-apa?"

"ya…terima kasih…"

suara orang itu lirih…dia berjalan ke arah Kobayashi keluar dari bayangan gedung yang gelap. Sepintas menatap wajah Kobayashi dan cepat-cepat menunduk lagi seakan berusaha menutupi wajahnya dengan rambutnya yang panjang. Kobayashi menangkap wajahnya sepintas di bawah cahaya lampu jalan…"manis..", pikirnya tetapi cepat-cepat dia memalingkan wajahnya.

xxx

Malam itu sudah yang ke-4 kalinya dalam minggu ini Kobayashi melewati gang itu. Walaupun dia tidak mau cewek yang malam itu ditemuinya mengalami hal yang sama, tetapi Kobayashi merasa akan melihatnya kalau dia melewati jalanan itu lagi. Dan malam itu mungkin malam keberuntungannya. Mungkin..

Tepat saat Kobayashi memalingkan wajahnya, dia melihatnya berbelok di ujung gang. Kobayashi mengikutinya dengan jantung berdebar seakan dia sedang menjalankan misi memata-matai penjahat besar. Gadis itu berhenti di sebuah bar dan berjalan menuju pintu belakang sambil menggerutu. Kobayashi berjalan mendekat hingga dia bisa mendengar gerutuannya..

"..dasar Kosuke sialan! Kenapa dia memberiku pekerjaan seperti ini?? Bayarannya lumayan sih, tapi kalau harus pakai rok mini begini, bisa-bisa aku masuk angin…dasar!..", dan kemudian dia menarik rambut panjangnya hingga lepas dan masuk ke dalam.

Di ujung gang, Kobayashi membatu.

xxx

Siang itu latihan seperti biasa. Sawamura merasa sedikit lega karena beberapa hari ini kaptennya bersikap sangat lunak pada mereka. Mungkin dia sedang jatuh cinta, bisik-bisik Isomura dan yang lain.

"baguslah, aku bisa sedikit santai..", Sawamura dengan malas meletakkan tasnya dan mulai stretching. Tiba-tiba punggungnya merinding, dan seperti ada yang menusuk-nusuk punggungnya. Saat dia berbalik, Kobayashi menatapnya dengan bengis.

"Kau! Apa yang kau lakukan?! Kenapa belum mulai latihan?! Kita sudah mau mulai kejuaraan daerah tapi fisikmu masih saja payah!"

"eh?!"

"kelompok latihan fisik, lari sampai ke Tokyo Tower!!"

"HYAAAAAAAH…..??"

Penyiksaan pun dimulai, hari-hari neraka tim basket Johnan pun dimulai…yah, inilah nasib malang sang kapten yang cintanya tak terbalas….

hehehe...