Digital Zakura


Heyya. Fic baru lagi nih! *sambil yang lama ga dilanjut-lanjutin tea… wkwk xD*Gomen yakh, soalnya dua fic lain yg lagi Noiha bikin itu emang lagi mandek pisan idenya. Terus, tiba-tiba dapet ide buat bikin fic lain. Eh, ya udah deh, bikin yang lain. Hehe... Semoga temen-temen suka fic yang ini! Kalao udah baca, jangan lupa ya!

Rating: K+. Cuman buat jaga-jaga aja. No lemon, lime, atao apapun yang sejenis itu.

Disclaimer: Seluruh komponen Digimon & Dragon Zakura (karakter, jalan cerita, adegan, etc.) bukan punya saya, lho!

Peringatan! OOC, ada beberapa adegan yang diambil dari Dragon Zakura (dorama)& ceritanya agak kelam.

R&R please!! ^,^


Here We Are


"Sial," umpat lelaki itu ketika menyadari satu-satunya batang rokok miliknya yang tersisa malah ringsek. Umpatannya itu semakin keras dan kasar (dan sepertinya tidak perlu ditulis karena akan menyebabkan rating fic ini berubah xD) ketika dia merogoh sakunya hanya untuk menemukan beberapa helai kuitansi dan tagihan hutang. Semakin putus asa, lelaki itu beranjak dari sofa bertambalnya, membuka lemari es dan menemukan sekaleng kopi alih-alih makanan untuk mengganjal perutnya. Dia baru saja akan membanting pintu lemari es itu ketika suara bel mengguncang apartemen sewaannya yang kecil.

"Ya…" lelaki itu menyeret langkahnya dengan malas dan membuka pintu dengan wajah ngapain-sih-lo-ganggu-orang-aja.

"Hei, Sakuragi"

"Oh, Ogawa-sensei!" lelaki bernama Sakuragi itu buru-buru "merapikan" wajahnya, memasang senyum dipaksakan yang lebih mirip seringai licik. Melihat kerutan heran di dahi pria itu, Sakuragi menyadari bahwa senyumnya sama sekali tidak manis, malah menyebalkan. "Silakan duduk, Ogawa-sensei. Saya ambilkan dulu minumnya."

"Terima kasih. Hmm… berantakan seperti biasa," lelaki berusia 50an itu mengamati sekelilingnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk di duduk di sofa tempat Sakuragi sebelumnya duduk, satu-satunya tempat yang manusiawi, "kalau begini terus mana ada pelangganmu yang datang."

Sakuragi nyengir pasrah, baru saja kembali dari dapur sambil membawa segelas air yang kemudian diletakkannya dengan asal di depan bosnya itu. "Ini, Ogawa-sensei. Maaf, saya kehabisan teh, kopi atau semacamya." (tentu saja Sakuragi tidak rela menyerahkan kopi kalengnya yang terakhir… xD)

"Hm…" Ogawa mengambil gelas di hadapannya, membauinya sebelum bertanya sambil tersenyum, "air mineral? Sangat baik untuk tubuh dan menyegarkan."

"Air leding, sensei."

Senyuman Ogawa langsung lenyap. Diletakannya kembali gelas tadi dan dengan segera dia mengganti topik. "Bagaimana, Sakuragi? Kau bersedia mengambil pekerjaan yang saya tawarkan tadi di telepon?"

"Gimana, ya?" Sakuragi berpikir, sok-sok jual mahal.

"Soalnya saya lihat, kau sendiri sedang tidak ada kerjaan."

Sial, batin Sakuragi kesal. "Ya, baiklah, tentu saja saya terima!"

"Sebaiknya besok langsung kau datangi saja SMU Odaiba itu dan kau putuskan, apakah sekolah itu masih pantas dilanjutkan atau tidak. Kau tentu tahu kan alamatnya?"

"Hmm… ya…" cari di internet…

"Kalau begitu, tidak ada yang perlu kita diskusikan lagi," Ogawa tersenyum lega, kentara sekali bahwa dia ingin cepat-cepat pergi dari tempat yang sebetulnya kurang layak huni itu, "besok saya akan menghubungimu lagi."

"Baik, sensei," Sakuragi merasa tidak perlu repot-repot mengantarkan bosnya keluar pintu, karena Ogawa sendiri sudah berada di luar bahkan sebelum Sakuragi mengangkat pantatnya dari tempat duduknya. "Nah," gumamnya begitu langkah Ogawa tidak terdengar lagi, "SMU Odaiba tuh yang mana lagi?"


"Hei, Yamato! Jangan lupa tutup lagi pintunya!"

"Iya…" Yamato menjejalkan potongan roti-tiga-hari-yang-lalu ke dalam mulutnya, melirik jengkel lelaki berwajah kusut yang tidur dengan "apik"nya di depan televisi, kelihatan sekali kalau dia kemarin mabuk semalaman. "Aku pergi, Yah."

"Hngg… kau mau sekolah? Sekolah bodohmu itu? Hahahaha!" tiba-tiba ayahnya tertawa terbahak-bahak, masih dengan mata terpejam. "Bodoh… ya… bodoh… kau memang persis ayahmu ini… bodoh… bodoh!"

Yamato membanting pintu apartemennya, mengatasi ocehan ayahnya yang semakin keras ("Hei, anak bodoh! Jangan banting pintu bodoh itu! Bodoh! Bodoh!"). "Berisik, dasar lelaki tua pemabuk," gumam Yamato kesal.

"Kak Yamato?"

Yamato mendongak, mencari pemilik suara yang sesunguhnya sangat dirindukannya. "Takeru?" Yamato membalas senyuman Takeru sekilas kemudian mengambil bungkusan yang disodorkan adiknya sambil tetap menunduk, "bilang pada Ibu, terima kasih."

"Oh… ya…" Senyuman lebar Takeru lenyap, dia ganti memandangi kakaknya dengan khawatir, "Ayah kenapa?"

"Biasa, mabuk semalaman…"

"Eh, Kak!" Takeru buru-buru melanjutkan sebelum Yamato beranjak pergi, "aku… ngg… tahun ini aku akan ikut ujian SMU."

"Hmmm?" Yamato melangkah meninggalkan Takeru.

"Aku ingin masuk SMU X!" kata Takeru, matanya berbinar-binar penuh semangat sambil mengikuti Yamato dari belakang, "bagaimana menurut kakak?"

"Apapun," Yamato mempercepat langkahnya, membuat Takeru harus bersusah payah untuk mengejarnya, "apapun selain SMU Odaiba…"


"Kak Taichi… bangun… uhuk… sudah… uhuk… siang…"

"Hah!" Taichi berseru kaget ketika melihat jam di dinding kamarnya menunjukan pukul 8 pagi, buru-buru menoleh ke arah gadis yang barusan membangungkannya. "Ya ampun, Hikari! Maafkan kakak! Kenapa kamu kemari? Ayo kembali lagi ke kamar!"

"Kakak… uhuk… jangan khawatir…"

"Bagaimana mungkin kakak tidak khawatir?!" Taichi memapah tubuh adik semata wayangnya itu kembali ke kamar, "jangan sekali-kali keluar kamar, ya. Cuaca sekarang sulit diprediksi, musim semi begini bisa turun salju. Bisa gawat nanti kalau kamu kedinginan."

Hikari menurut saja. Dia berbaring kembali di atas tempat tidurnya, matanya tak lepas dari kakaknya. "Kak Taichi…"

Taichi menyelimuti badan Hikari yang mulai menggigil lagi, memandangnya dengan khawatir. "Kamu nggak apa-apa? Mau aku temani?"

Hikari menggeleng lemah, "nggak usah, kakak sekolah dulu aja…"

Taichi menyeringai. "Hah, apa gunanya sekolah! Sekolah bodoh seperti itu…"

"Ada gunanya," Hikari buru-buru meraih tangan Taichi, menggenggamnya erat, "kakak bisa mengajarkan aku berbagai hal, karena aku sendiri tidak bisa pergi ke sekolah."

"…" Taichi menggigit bibirnya, mati-matian menahan air matanya yang mendesak-desak keluar, "Hikari-chan…"

"Jangan menangis, Kak…" Hikari tersenyum, senyum bercahaya yang menjadi satu-satunya alasan Taichi untuk terus berjuang, "terima kasih buat semuanya ya, Kak. Kakak kemarin bekerja di konstruksi gedung sebelah sampai larut malam kan?"

Taichi menggenggam tangan adiknya lebih erat. "Jangan dipikirkan. Yang penting Hikari bisa sembuh, ya?"

"Iya…"


Sora mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Masih bersih. Kemarin kan baru saja kubersihkan… Sora tersenyum letih. Justru dia berharap ruangan itu kotor, berantakan. Berharap menemukan seorang wanita tertidur di atas ranjangnya, meskipun wanita itu semalaman hanya "melayani tamu" , meskipun wanita itu tidak melakukan apapun di rumah kecuali membentaknya dan menyuruhnya bekerja… "Ibu… kemana?" gumamnya.

Perlahan ditutupnya kembali pintu kamar ibunya. Sudah tiga hari… Sora menghela nafas panjang, mengenyakkan tubuhnya ke atas sofa, memandang nanar meja di depannya yang semula berhiaskan televisi. Disita… semuanya disita… Sora memeluk dirinya sendiri, hal yang sejak kecil selalu ia lakukan untuk meredakan kesedihannya. Beberapa menit yang hening berlalu, dan Sora menyadari bahwa hal itu kini sama sekali tidak berpengaruh untuknya. Semakin lama ia berada di apartemen itu, semakin ia merasa sendiri, semakin ia merindukan ibunya…


"Mimiii… Banguuun!"

"Sebentar lagi, Ma!" Mimi membenamkan dirinya ke dalam selimut ketika sinar mentari menyeruak menerangi kamarnya, "aduh, Mama…"

"Ayo, Mimi!" Wanita dengan senyum riang yang selalu menghiasi wajahnya itu menarik selimut yang menyelubungi putri tunggalnya. "Pagi! Pagi!"

"Huhhhh… Mamaaa…"

"Ayo, Putri cantik."

"Iya, iya. Aku bangun!" Mimi menggerutu pelan ketika beranjak dari kasurnya, tapi kemudian tersenyum dan mencium pipi ibunya dengan lembut, "Selamat pagi, Ma! Aku sayang Mama!"

Mama tersenyum, membalas ciuman putrinya dengan sama lembutnya, "Mama juga sayang padamu. Ayo cepat, sayang, sarapan dulu dengan ayahmu."

"Ya!" Mimi tersenyum, mengambil handuknya dan bergegas menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, dia sudah siap dengan seragam SMU Odaibanya dan menghampiri papanya di meja makan. "Selamat pagi, Pa!"

"Selamat pagi, Putriku cantik!" Papa melemparkan senyum, sebelum akhirnya kembali menekuni kembali koran di tangannya, "Mau Papa antar ke sekolah?"

"Hng… Nggak deh. Nggak guna juga sih sebetulnya ke sekolah. Sekolah kayak gitu…" Mimi nyengir, menyantap nasi goreng krim stroberi (???) buatan mamanya dengan lahap.

"Iya, tapi kamu harus tetep sekolah juga, sayang… Papa tau kamu nggak suka sekolahmu sekarang, tapi itu kan sekolah paling deket dari sini."

"Iya…"

"Papa pernah cerita kan tentang ikan laut?"

"Iya, biarpun laut asin, ikan laut nggak ikut asin…" Mimi tersenyum, menyambung nasihat papanya setiap pagi, "Kita juga, biarpun sekolahnya gimana juga, yang penting adalah kita… ya kan?"

"Pinter banget sih anak Mama!" Mama mencium putrinya dari belakang, wajahnya masih dihiasi senyumannya yang biasa, "Ayo cepat berangkat, sayang!"

Mimi melempar senyum, kemudian bergegas keluar sambil melambaikan tangannya, "dah, Papa! Mama!" Tapi, senyumannya hanya berhenti sampai di depan pintu. Begitu tiba di luar, Mimi melirik ke dalam, menemukan kedua orang tuanya tanpa senyuman, bertukar pandang dingin.

"Dengar ya, Pa. Ini untuk kebaikan Mimi," Mama membuka suara, dingin, tanpa kehangatan seperti sebelumnya.

"Iya, Ma," balas Papa tidak kalah dingin, matanya tetap tidak lepas dari koran di genggamannya.

Mimi menahan air matanya, melirik hiasan "Tachikawa" (chibi figure Mimi, Papa dan Mama) di depan pintu apartemennya dengan pedih. Mereka berpura-pura lagi… tapi semuanya untuk kebaikanku… Mimi menelan ludah, menelan kalimat yang sudah berulang-ulang ia latih, tapi tidak pernah dapat ia katakan…

"Ma, Pa, kalau kalian ingin bercerai, bercerai saja…"


Koushiro memandangi layar komputernya sambil tangannya bergerak lihai di atas keyboard. Setelah entah apa yang dilakukannya dengan digit-digit angka itu, dia mematikan komputernya. Dipandanginya apartemennya yang kosong, hanya ada buku-buku pelajarannya dan baju-bajunya yang berserakan.

Kriing kriing…

Koushiro melirik telepon yang barusan berbunyi. Bodoh, mestinya kulepas saja kabelnya…

"Di sini Koushiro. Silakan tinggalkan pesan," Koushiro nyengir ketika mendengarkan suaranya sendiri.

"Koushiro, ini Ayah!"

Lagi-lagi… Koushiro mengenyakkan tubuhnya ke atas sofa, yang sudah diberi label oleh pemilik apartemen, memandang langit-langit kamarnya dengan hampa.

"Koushiro, Ayah hanya ingin memintamu untuk…" suara Ayah terhenti sejenak, "tapi kamu pun pasti sudah bosan mendengarnya."

Koushiro tersenyum sinis. Kalau udah tahu kenapa nanya?

"Dengar, Koushiro. Ibumu yang sudah meninggal tentu tidak mengharapkanmu hidup seperti ini. Tentu ia ingin kamu… hidup bersama kami."

Kau? Kau dan wanita kurang ajar yang membuat Ibu sakit hati? Maaf saja, ya!

"Paling tidak… berhentilah mengembalikan uang yang sudah Ayah kirim untukmu."

Dulu, kau tidak pernah mengirimi Ibu dan aku uang sedikit pun.

"Pikirkan ini sekali lagi, Koushiro. Kamu sudah dewasa, tentu tahu mana yang terbaik untukmu. Jangan pakai emosimu, berpikirlah logis. Tinggal bersama kami, atau paling tidak menerima uang yang Ayah kirimkan, dan kamu tidak perlu bekerja mati-matian seperti sekarang."

Koushiro mengambil ransel yang tersembunyi di bawah tumpukan baju kotor, menjejalkan buku-buku pelajaran dan tumpukan baju itu juga ke dalamnya dengan asal.

"Koushiro… Ayah tahu… kamu masih ada di sana kan? Bicaralah pada Ayah, Koushiro…"

Koushiro mengerang, malas-malasan menekan tombol answer. "Baik, Yah, aku bicara. Tentu aku akan bilang tidak untuk semua tawaran Ayah. Dan mungkin juga ini percakapan kita yang terakhir."

"Koushiro?"

"Aku akan pindah mencari apartemen yang lebih murah. Aku tidak akan memberi alamatnya pada kalian, tentu saja."

Lelaki di seberang telepon itu menghela nafas. "Baik. Itu keputusanmu, Koushiro. Tapi kamu selalu bisa meminta bantuan ayahmu ini, kamu masih punya alamat Ayah yang dulu Ayah berikan padamu kan?"

"Tentu saja…" Koushiro nyengir, "aku sudah membuangnya."

"Apa?"

Koushiro mencabut kabel teleponnya, kemudian melangkah keluar apartemennya. Sebelum menutup pintu, Koushiro melihat sekali lagi ke dalamnya. Dia bisa melihat ibunya tersenyum, mengantarkan kepergiannya sampai ke depan pintu.

"Hati-hati di jalan, Kou-chan!"


Jou memandang raport di tangannya, dan seperti raport-raportnya dahulu, dia menemukan jejeran angka-angka yang semuanya di atas 8. Dia menggigit bibirnya dengan frustasi sebelum akhirnya raport itu berakhir di tempat sampah. "Kurang, masih kurang," gumamnya kesal. Dia melirik piagam "Siswa Terbaik SMU Odaiba" yang tiap tahun dikoleksinya. "Odaiba? Tentu saja, SMU paling terkenal di Jepang," gumamnya sarkastik. Dia meraih tasnya dan melangkah enggan keluar kamar.

"Selamat pagi, Jou!"

Ini dia… lagi-lagi. "Pagi," Jou berusaha menghindari cengiran lebar kakak-Todai-nya. Dia menjejalkan bekalnya ke dalam tas, melirik sekeliling ruangan, "Mana Ibu?"
"Lagi di dapur," jawab sang kakak sambil mengunyah sarapannya, masih nyengir, "wah, siswa terbaik SMU Odaiba mau berangkat sekolah. Memang SMU itu masuknya jam berapa sih? Apa nggak terlalu pagi ya kalau berangkat sekarang?"

"Diam," Jou menghabiskan sarapannya sekejap, kemudian berseru lantang, "Ibu. Aku berangkat dulu ya."

"Lho, nggak bareng saja dengan kakakmu?"

Jou merengut kesal ketika didengarnya sang kakak tertawa terbahak-bahak. "Yang benar saja! Odaiba dan Todai!"

"Berisik," Jou meraih ranselnya, kemudian bergegas keluar.

"Odaiba dan Todai! Lihat perbedaan derajatnya!" Jou masih dapat mendengar ocehan kakaknya ketika dia berada di luar.

Dia berhenti melangkah, menatap langit pagi yang setiap harinya menghadirkan warna biru yang berbeda, dalam pandangannya. Dia memenuhi paru-parunya dengan udara pagi sebelum akhirnya kembali melangkah menjauhi tempat yang paling dibencinya, rumahnya sendiri.


I can mayowazu ni susumou

negai ni chikazukeru yo

I see the light

wake up, stand up

mou ichido asu e try

...............................

I can go forward without losing my way

I'm getting closer to my wish

I see the light

wake up, stand up

I'll try going towards tomorrow once again


Yeaaa! Gimana? Tolong yap! Makasih! x)

/edited some EYD-error.