Digital Zakura


Terima kasih Zerou, qonte a.k.a silentknight, NejiDemon, Akatsutsumi Ayayuki, dan Mas, ups, Mbak Dani (^^) untuk reviewnya. Akhirnya ada kalian juga selain Orange-Maple. Btw... Orenji-san!!! Kamu dimana?!

Rating: T untuk beberapa penggunaan bahasa... eh iya ya?

Disclaimer: Akiyoshi Hongo

Peringatan! OOC (…ngg, tapi sepertinya nggak juga deh), alur cerita berbeda dengan DZ, meskipun ada beberapa adegan dari DZ juga yang nanti diselipkan… hehe… ^o^

Wheew... hampir empat bulan saya menelantarkan fanfic ini. Hehe. Benar-benar menelantarkan, lho. Tidak disentuh sama sekali... x3


Money Doesn't Buy


Mimi merasa seperti baru saja kepalanya ditabrak truk ketika akhirnya dia berhasil membuat kelopak matanya membuka, meskipun dia hanya melihat sekelilingnya samar-samar. Ekspresinya berubah kaget ketika dilihatnya tempatnya berbaring sama sekali tidak dikenalnya. Perlahan dia mengangkat tubuhnya dan mendudukkan tubuhnya di atas sofa tempat ia tidur sebelumnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Sebuah TV layar datar dengan dingin menatapnya kosong, begitu pun perabot-perabot lain, semua tampak begitu dingin, meskipun pasti sesungguhnya pemiliknya ingin menampilkan kesan modern dengannya. Mimi bergidik. Bayangan laki-laki hidung belang akan melakukan hal-hal tidak senonoh terhadapnya, atau mungkin sudah melakukannya, membuatnya mual.

"Syukurlah, kau sudah sadar," suara yang sama sekali tidak menyembunyikan kelegaannya itu menghentaknya. Mimi menoleh untuk melihat penyelamatnya yang misterius itu dan kaget ketika menyadari siapa orangnya.

"Kido..."

Jou, pemuda berkacamata itu hanya mengangkat bahu, meskipun dia tidak bisa menjelaskan mengapa wajahnya bersemu merah, kemudian menatap Mimi dengan pandangan meminta maaf. "Aku tidak bermaksud mengusirmu, Mi... eng, Tachikawa. Tapi... kau tahu sendiri, ehm, keluargaku..."

"Mereka tidak mengizinkan satu pun putranya pacaran sebelum hidup mapan kan?" Mimi kaget sekali bahwa fakta yang sudah lama mengendap di kepalanya ini masih diingatnya dengan jelas. Rona pink yang menjalar di pipinya membuatnya tampak lebih manis sekaligus semakin menampakkan kesalahtingkahannya, "aku... eng, lama tidak bertemu, Kido... eh, maksudku, kita setiap hari bertemu, tapi..."

"Ya, ya, aku mengerti," Jou membalas senyum Mimi dengan sama salah tingkahnya, "aku... eng, Tachikawa, tadi melihatmu... di taman..."

Perlahan wajah Mimi mengeras, dia teringat alasannya pergi ke taman saat itu, dan semakin engganlah dirinya melangkahkan kaki dari rumah Jou. "Oh..."

"Kau... menangis..." suara Jou pelan, hati-hati. Dia takut Mimi akan menangis lagi, karena dia sendiri sudah sering mengalami kesulitan ketika menenangkan gadis ini menangis... dulu. Ya, dulu. Jou tampak berpikir-berpikir. Sudah berapa lama kita tidak ngobrol seperti ini, ya? Tiba -tiba sebongkah rasa penyesalan membebani hatinya ketika ia berhasil mengingatnya. Ya... sejak kita berdua putus tiga tahun yang lalu... tapi, waktu itu kita sama-sama masih anak kecil dan belum berpikir matang. Dan dia... dia mencoba bunuh diri waktu itu... dan aku mengabaikannya. Aku marah tanpa alasan padanya... Karena aku tidak diterima di SMU X... Aku...

"Aku pulang dulu, terima kasih untuk semuanya... Kido."

Sejak tadi dia tidak mengamati sekelilingnya dan melihat Mimi berdiri di depannya dengan tenang, merapikan seragamnya yang kusut dan mengambil tasnya yang tergeletak di lantai, membuat Jou mau tidak mau kaget. Kecuali wajah pucat dan pipinya yang masih menyisakan jejak air mata, Mimi tampaknya sudah tidak apa-apa. "Kau sudah mau pulang?"

"Kan kau yang meminta?" Mimi tersenyum geli melihat Jou yang wajahnya panik karena merasa bersalah. "Bukan kok, aku memang sudah mau pulang. Lagian kan sudah malam."

"Begitukah?" Jou menundukkan wajahnya. Mimi yang sedang tersenyum ke arahnya membuat jantungnya berdegup tidak karuan.

"Ya... bye bye..."

Jou memandangi punggung Mimi yang menjauh darinya. Menghela nafas panjang. Maafkan aku, Mimi...


"Hoi."

Koushiro tersentak dari lamunan panjangnya. Diam-diam diliriknya jendela yang menggelar pertunjukan warna-warni lampu malam, meski sebetulnya yang diamatinya adalah pantulan wajahnya sendiri. Pipinya masih menyisakan jejak-jejak air mata, tapi Koushiro bersyukur karena wajah kusutnya bisa dipakai sebagai alasan kalau dia baru saja bangun tidur. Ketika didengarnya suara grasak-grusuk dari dapur, Koushiro akhirnya melongokkan kepalanya dengan ingin tahu. "Sakuragi?"

"Hm?" Lelaki dengan rambut kusut masai itu kini mengaduk-ngaduk isi kulkasnya sambil menggerutu, "punya uang?"

"Kan sudah kupakai untuk membayar sewa apartemen..." Koushiro mendengus kesal. Orang dewasa macam apa sih yang sebegitu bergantungnya dengan anak SMA?

"Cih!" Sakuragi membanting pintu kulkasnya dengan frustasi, kemudian menyeret langkahnya untuk mengambil kembali jas satu-satunya yang barusan sudah dilemparnya ke sofa.

Koushiro mengangkat alis, "kau mau kemana?"

"Kerja!" Sakuragi mengumpat pelan sebelum dibantingnya pintu apartemen itu.

"Benar-benar contoh orang dewasa yang baik," gumam Koushiro sambil tangannya meraih tas laptopnya. Dia menghela nafas panjang ketika tangannya dengan enggan menekan tombol power. Ya... harus kerja kalau mau makan...


"Selamat pagi, semuanya! Namaku Takenouchi Sora!"

Yagami Taichi, umur 7 tahun, memandang gadis kecil itu tak berkedip. Rambut merah gadis itu membingkai manis wajahnya yang mungil. Sebuah senyum merekah di wajahnya ketika kedua anak itu bertatapan. "Hei," gumam Taichi gugup. Takenouchi Sora adalah teman sekelasnya dahulu di Hikarigaoka. Sungguh tidak terduga bahwa hanya berselang dua bulan sejak kepindahannya ke Odaiba ini mereka bertemu lagi, dalam satu kelas.

"Hmm..." wanita jangkung yang ramah di samping Sora itu kini memandang berkeliling, kemudian matanya berhenti ketika melihat sosok mungil Taichi yang tenggelam di antara kawan-kawannya yang bertubuh lebih besar. Menyadari apa yang sedang dilakukan gurunya, Taichi melemparkan pandangan penuh arti ke arah Sora. Sora tersenyum riang.

"Bu guru, bolehkah aku duduk di sana?" Sora menunjuk bangku kosong di samping Taichi, setengah memaksa. Awalnya wanita itu hendak menolak, tetapi ketika bertemu dengan pandangan memohon Sora, wanita itu hanya bisa mengangguk.

Taichi tersenyum lebar, memandang gadis kecil yang melangkah riang ke arahnya. "Yo!" Taichi memamerkan cengiran khasnya.

"Hei, tak kusangka kita sama-sama pindah ke sini," Sora berbisik pelan sambil meletakkan ranselnya di atas meja. Beberapa anak yang mendengar ucapan Sora menoleh, memandanginya heran. Sora tampak salah tingkah sebelum dia menyunggingkan senyuman termanis yang dimiliki anak-anak seusianya. "Aku dan Taichi dahulunya satu kelas dan satu sekolah," katanya mencoba menjelaskan.

"Ooh..." beberapa anak manggut-manggut mengerti, kemudian satu persatu mengajaknya berkenalan. Sora melempar pandangan tanda tanya ke arah wanita jangkuk berparas ramah yang menjadi wali kelas barunya. Wanita itu hanya tersenyum sembari mengangguk. Artinya, dia mengizinkan pelajarannya hari ini diambil alih sesi perkenalan Sora.

"Hei..." Sora menyapa pemuda cilik berambut pirang yang duduk di sampingnya juga. Pemuda itu tidak menyapanya terlebih dahulu, dan alih-alih berbaur dengan teman-teman yang lain, pemuda itu termenung-menung sendirian di mejanya. "Siapa namamu?" tanya Sora ramah.

"Ah, anak itu juga anak pindahan dari Hikarigaoka!" Taichi menghampiri Sora dan anak berambut pirang yang sebetulnya selama dua bulan ini duduk di sampingnya. Yah, sekarang bangku kosong yang menjadi pemisah mereka sudah terisi Sora. "Kalau tidak salah namanya..."

"Ssst, Taichi. Aku bertanya padanya!" Sora melempar pandangan mencela ke arah Taichi, kemudian tersenyum ramah ke arah pemuda satunya, "namamu siapa?"

"Yamato. Ishida Yamato."


"Hei, Taichi! Cepat bawa pasir itu kemari!"

Taichi tersentak dari lamunannya. Dia mempercepat langkahnya yang semakin lama terasa semakin berat. Mendorong gerobak roda satu berisi penuh pasir bukan perkara mudah, terutama jika kau sudah mengantuk dan lelah. Taichi diam-diam mengutuk kebiasaan mandor barunya itu untuk berkata: "Cepat" untuk setiap perintahnya, yang diulang-ulang setiap setengah menit sekali. Tapi, memangnya aku punya pilihan apa lagi?, Taichi memandang tumpukan pasir di depannya dengan pasrah. Lagipula, kenapa juga aku malah teringat hari itu? Hari pertama Sora dan Yamato berkenalan...

"Boss besar! Sungguh kehormatan bagiku kau bisa datang ke tempat kerja kami yang kumuh ini!"

Tempat kerja yang kumuh... tentu saja, masa kau mau terlihat necis sebagai pekerja konstruksi bangunan?, Taichi melempar pandangan mencela ke arah mandor barunya itu sebelum menyadari suatu keanehan. Boss? Bukankah yang tadi berkata itu boss?, Taichi melirik ke arah sosok gempal yang kini terlihat sangat girang. Salah seorang pekerja konstruksi bersiul pelan ketika melihat sosok yang dihampiri mandor mereka. "Wah, hari ini Danchou datang rupanya," Taichi mendengar ucapan lelaki tegap di sampingnya ketika dilihatnya sosok tegap yang sedang berbicara dengan mandor mereka hari itu mulai tampak...

"SAKURAGI?!"

Sakuragi tampak kaget, tapi berusaha menguasai diri ketika dilihatnya sosok remaja tanggung yang dikenalinya. "Hei."

Mulut Taichi menganga lebar. Dipandanginya lelaki yang pagi tadi berbicara panjang lebar tentang Todai dan orang-orang bodoh dengan tidak percaya. "Sedang apa kau di sini?"

Kalau Sakuragi tenang-tenang saja, mandor Taichi kini menghampiri Taichi dengan geram, "heh! Jangan seenaknya ya kau memanggil ketua!"

"Betul! Betul!" Taichi yang sebelumnya terkejut melihat Sakuragi kini lebih terkejut lagi dan mengkeret di tempatnya berdiri ketika melihat beberapa orang lelaki mengerikan, dengan tato di bahu mereka, memandangnya dengan tatapan marah.

"Sudahlah... aku sudah bukan danchou kalian lagi," Sakuragi melepas jas-nya, kemudian menggulung lengan kemejanya sambil nyengir, "aku di sini untuk kerja."

"Tapi, Danchou tidak perlu..." mandor itu baru saja hendak mengucapkan serangkaian kata-kata pujian ketika matanya bertemu dengan mata elang Sakuragi. Lelaki itu menelan ludah dengan gugup, "eh, ya... silakan, Danchou."

Sakuragi hanya melempar senyum cool-nya, sebelum matanya menatap galak Taichi yang berpura-pura muntah di belakangnya, "apa?"

"Hm... tidak ada apa-apa kok, Sakuragi, eh, Danchou," Taichi nyengir, meskipun kakinya kebas ketika muatan pasir yang baru membuat gerobak yang didorongnya sepuluh kali lebih berat.

"Anak di bawah umur..." gumam Sakuragi, "memangnya ayah dan ibumu tidak meninggalkan warisan?"

Wajah riang Taichi seketika berubah pucat. Pemuda itu menghentikan langkahnya dan berbalik untuk memandang Sakuragi dengan bingung. Bagaimana dia tahu?

"Jangan bodoh, aku sudah mempelajari arsip kalian," Sakuragi mengangkat bahunya cuek kemudian beranjak untuk mengisi muatan gerobaknya penuh-penuh, "adikmu juga perlu operasi kan?"

Taichi berusaha bersikap tak acuh, meski setengah mati ia ingin melumat lelaki kurang ajar di sampingnya ini. "Kau sudah tahu kan?" Taichi kini mempercepat langkahnya. Entah kenapa rasanya Sakuragi terus-terusan menguntitnya sejak tadi. "Aku tak punya waktu untuk Todai-mu itu," Taichi menumpahkan muatan pasir dalam gerobaknya, masih merasakan pandangan Sakuragi mengikutinya.

"Satu juta yen," Taichi mendengar gumaman Sakuragi. Dipandanginya lelaki itu dengan heran.

"Apa?"

"Satu juta yen. Untuk operasi adikmu," Sakuragi memamerkan seringainya ketika bertemu dengan pandangan bingung Taichi, "dan kau dan Todai-mu."

"Jangan melawak," Taichi memperbaiki kegagalannya untuk mengabaikan Sakuragi dengan mempercepat langkahnya lagi, meskipun sisi hatinya yang lain bergetar ketika mendengar tentang operasi adiknya. "Kau tidak punya uang kan? Makanya bekerja di sini."

"Oh, ya? Sejak kapan uang menjadi tolak ukur harus tidaknya bekerja?" Sakuragi mengangkat bahu dengan cuek, "aku bekerja untuk kesehatan."

Taichi memandang Sakuragi lama, tentu saja tidak percaya dengan kata-katanya. Dia memang baru mengenal Sakuragi hari itu, tapi entah kenapa dia bisa langsung menilai kalau Sakuragi ini jago bohong nomor satu di dunia. Yang sayangnya, tanpa disadari Taichi, sudah mempelajari sifat Taichi juga sehingga yakin kalau pemuda ini lama kelamaan akan percaya juga padanya (^^). "Jadi?"

"Besok datanglah ke kelas 3-F di lantai 3," Sakuragi tersenyum riang. Dikenakannya lagi jas yang tadi tergeletak begitu saja di atas tumpukan pasir dan berbalik untuk pergi, "lihat? Aku tidak butuh uang. Aku bekerja untuk kesehatan."

Dan Taichi pun hanya bisa menatap punggung lelaki itu menjauh...


Wanita itu tampak begitu payah. Rambut hitamnya acak-acakan menutupi wajahnya dan wajahnya basah oleh keringat dingin. Berulang kali wanita itu menggumamkan serentetan kata yang tidak bisa dipahami oleh Sora, membuat wajah pucat gadis itu semakin pucat.

Kau dan ibumu sama saja, murahan.

Sora memejamkan matanya, menahan perih yang meradang di ulu hatinya. Sia-sia saja usahanya sejak tadi untuk tidak menangis, karena sekarang gadis itu mulai sesenggukan lagi, menumpahkan seluruh perasaannya pada sebidang bantal yang urung mengucapkan kata-kata penghibur.

"So...ra..."

Gadis itu mengangkat wajahnya dengan bingung. Rasanya tadi ibu memanggilku... Sora menatap dada ibunya yang naik turun dengan lebih teratur kini. Beberapa menit Sora hanya tercenung, entah melamunkan apa, hingga akhirnya suara bel yang berdentang menyadarkannya.

"Permisi..."

Sora mengangkat alis dengan bingung ketika mendengar suara lelaki yang tidak dikenalnya lewat interkom. Sambil menghapus sisa-sisa air matanya, Sora menyeret langkahnya ke arah pintu. Ketika akhirnya sampai di depan pintu, gadis itu sesaat ragu-ragu. Bagaimana kalau ini penagih hutang yang kemarin? Tapi, ah, pemilik apartemen ini kan ibu-ibu... tapi bagaimana kalau...

"Selamat malam?"

Sora menggelengkan kepalanya tandas. Siapapun itu, aku tidak boleh takut, dihirupnya sebanyak mungkin udara untuk memenuhi paru-parunya sebelum gadis itu membuka pintu apartemennya sambil memasang senyumnya yang biasa. "Ya, ada apa?"

"Kau..." lelaki di hadapan Sora tercenung, sementara mata Sora membelalak kaget demi melihat sosok di depannya. Lelaki itu...

Ayahnya Mimi! Sora bersusah payah tidak menampakkan kekagetannya, "Hm, ya, saya... ada apa ya, Pak?"

"Kau temannya Mimi kan?" lelaki setengah baya itu tampak cemas, terlihat dari telapak tangannya yang terus menerus berkeringat dan wajahnya yang pucat pasi, "saya... err... ayahnya..."

"Sekaligus pacar ibuku, ya..." Sora melanjutkan dengan, agak mengagetkan juga bagi Sora karena dia bisa, tenang. Tapi, kemampuannya untuk bersikap sinis sudah terasah tanpa disadarinya karena sejak kecil diasuh oleh wanita yang sekarang terlelap di atas sofa. "Jadi ada a..."

Belum selesai kalimat Sora, lelaki itu mengangsurkan setumpuk uang ke dalam genggaman Sora, "ambil ini."

Sora memandang jijik tumpukan uang di hadapannya, meskipun sejatinya dia membutuhkan semua itu untuk membayar sewa apartemen dua bulan ke belakang. "Apa ini?"

"Jangan..." lelaki itu tampak ragu-ragu sebelum melanjutkan, "bilang pada Mimi tentang apapun."

Sora mengangkat alisnya dengan heran, "kau tidak lupa dengan Nyonya Tachikawa kan?"

"Cih, dia sih sudah tahu sejak dulu," lelaki itu mengangkat bahunya dengan tidak peduli, kemudian ketika melihat gelagat Sora yang ingin mengembalikan uangnya ia buru-buru menjauh. "Jangan, jangan kembalikan uang itu. Lagipula aku belum membayar ibumu."

Kasihan Sora. Gadis itu sekarang berjuang menahan air matanya yang melesak-lesak keluar. Dipandanginya lelaki itu dengan geram. "Apa maksudmu?"

"Jangan salah paham," lelaki itu berbalik memunggungi Sora dan berjalan menjauhinya, "aku dan ibumu tidak pacaran. Dia hanya menyediakan jasa"

Sora tak dapat menahan air matanya lagi. Dilemparnya tumpukan uang dalam genggamannya itu. Dan satu per satu lembaran uang itu jatuh... bagaikan sakura...


"Aku pulang!"

Yamato menghela nafas panjang ketika didengarnya suara langkah-langkah sembrono yang sudah dikenalnya dengan baik. Dengan enggan ditekannya tombol power untuk mematikan televisi di depannya dan mendengarkan keluhan-keluhan sahabatnya itu soal bosnya yang baru, sembari pemuda itu bolak-balik ke kulkas mengambil air. Ketika akhirnya sosok pemuda berambut acak-acakan itu akan melongokkan kepalanya lewat pintu kamar dengan ingin tahu, Yamato buru-buru mencegahnya, "Hikari sudah tidur sejak dua jam yang lalu. Jangan ribut"

"Benarkah? Trims ya, Yamato!" Taichi tersenyum lebar, memandangi piring-piring yang berserakan di depannya, "makan enak, nih?"

Yamato mengangkat bahu. Meskipun sudah berjam-jam berlalu sejak mereka berdua makan malam, Yamato masih bisa merasakan enaknya masakan Hikari di lidahnya. "Aku sudah boleh pulang?"

"Ya... ya... terima kasih banyaaak, Yamato!" Taichi mengangkat kedua tangannya lebar-lebar, "sungguh, kau orang paling tampan yang pernah kulihat seumur hidupku!"

"Sudah, cukup!" Yamato bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Taichi terhadapnya jika ia tidak cepat-cepat pergi, kemudian bergegas mengambil ranselnya dan beranjak pergi, "bye bye!"

"Eh, eh, kau tidak mencuci piringnya dulu?" Taichi berseru kesal, apalagi Yamato dengan cueknya melangkah ke arah pintu.

Yamato nyengir, menoleh untuk memberikan pemuda acak-acakan itu pandangan mengejek sebelum melangkah keluar, "kau kuberi kehormatan untuk mencuci bekas makanan orang paling tampan yang pernah kau kenal."

"Sialan kau!" Taichi balas nyengir, melemparkan bantal kursi ke arah pintu yang tertutup kini. Dia terdiam cukup lama sebelum berbisik lirih, "ya, sangat tampan hingga berhasil membuat Sora mencintaimu..."

Ting Tong!

Taichi menghela nafas, lelah. Apa sekarang dia mau membantuku mencuci piring? Sebodo amat deh... Sambil menggerutu, dibukanya pintu apartemennya dengan enggan. Mulutnya yang setengah terbuka, hendak mengomel panjang lebar, kini menganga heran. Alih-alih Yamato, seorang gadis berambut coklat berdiri di hadapannya dengan wajah tegang. Jejak-jejak air mata begitu nyata di pipinya yang pucat dan Taichi bisa melihat bahunya yang mungil gemetar kedinginan. "Mimi?!"

Mimi menelan ludah gugup. Dia melempar tatapan memohon ke arah pemuda yang kini tampak jauh lebih gugup itu. "Kumohon, izinkan aku tinggal di sini, paling tidak untuk malam ini. Jangan khawatir, aku bersedia membayar berapapun," pintanya.

"Tapi, Mimi..."

"Ayolah, Taichi..." gadis itu kini sudah berlinangan air mata dan hendak menangis lagi, "biarkan aku menginap di sini... akan kubayar dengan... apapun."

"Jangan bercanda." wajah Taichi memanas. Kata "apapun" rupanya membuatnya panik juga, karena pikirannya sekarang malah sulit dikendalikan. Perlahan dibimbingnya gadis itu masuk dan diulurkannya pada gadis itu selimut yang tergeletak di lantai kamarnya – jangan kaget, kamar Taichi memang sangat berantakan. "Kau kenapa sih?"

Mimi menggeleng lemah. Wajahnya masih pucat, tapi dia sudah tidak terlihat sehisteris tadi. Ditatapnya Taichi dengan sungguh-sungguh, "kau mau membiarkanku menginap di sini beberapa hari? Kubayar, tentu. Aku..."

"Dengar, Mimi. Aku tidak tahu apa masalahmu," Taichi memotong ucapan Mimi, kentara sekali kalau dia kesal, "seharian ini orang-orang berbicara tentang uang padaku. Memangnya kalian tahu apa?"

Mimi mengangkat alis. "Kalian?"

Taichi mendengus pelan. Memandang langit-langit apartemennya dengan hampa...


Koushirou tersenyum puas. Jual belinya via internet hari ini sukses besar. Deretan angka yang tertera di buku tabungannya yang baru – karena ayahnya selalu mengirimkan uang bulanan ke rekening sebelumnya – cukup untuk menggambarkan kesuksesannya. Ini bukan yang kali pertama untuknya, tentu saja. Koushiro sudah berpengalaman dalam jual beli semacam ini. Hanya saja... Bukan ini yang kuinginkan, batin Koushiro pilu. Ya, hidup Koushiro tak akan bisa disebut hidup seandainya anak itu tidak mengenal programming. Memecahkan kode, membuat kode, menghasilkan karya... ya, Koushiro tahu itu semua mungkin menghasilkan sedikit uang dengan kemampuan negosiasinya sekarang. Pemuda tanggung itu menghela napas. Tapi paling tidak aku sudah makan... Koushiro tersenyum jika mengingat percakapannya dengan Sakuragi beberapa jam yang lalu. Dari jendela besar kafe itu – ya, kafe tempat Sora bekerja – Koushiro bisa mengamati serombongan pemuda-pemudi yang lalu-lalang, tak peduli malam telah menjelang. Ah, pemuda itu rupanya teringat akan sahabatnya yang sebetulnya berarti lebih baginya dari sekadar sahabat. Wajah Koushiro memanas. Apaan sih... bukankah aku yang menolak tawarannya untuk tinggal di apartemennya?, Koushiro menggelengkan kepalanya dengan tandas.

"Hei!"

Koushiro mengangkat wajahnya. Mengangkat alis kaget ketika melihat Sakuragi sedang menatapnya marah dari balik jendela, kemudian tergesa-gesa masuk ke dalam kafe. "Ada apa sih?" tanya Koushiro bingung ketika Sakuragi mengenyakkan tubuhnya di bangku seberangnya.

"Kau bilang kau tak punya uang!" Sakuragi menggerutu, sebetulnya untuk menutupi suara gemuruh yang datang dari perutnya.

"Yah..." Koushiro mengangkat bahu, "kau bilang kerja kan. Ya aku kerja. Kau sendiri tadi kan mau kerja?"

Sakuragi menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. "Sudahlah... aku-mau-pinjam-uang-dulu," gumamnya tepat saat cacing-cacing dalam perutnya berteriak kelaparan.

Koushiro pun tak dapat lagi menahan tawanya.


Lembayung fajar menghampar di langit, mengguyur langit dengan merah keunguan. Menambah keindahan lukisan fajar, sehelai kelopak sakura melayang berputar-putar layaknya arah induksi medan magnet pada kawat yang dialiri listrik sebelum mendarat dengan cantik di telapak tangan seorang gadis. Sang gadis mengamati kelopak sakura itu lama-lama. Seperti bunga sakura… Dia tersenyum, kemudian menutup jendela kamarnya dan mengencangkan syal yang melilit lehernya, mengatasi lambaian angin yang menusuk kulitnya. Aku tahu, aku tidak akan sembuh… dia tersenyum, meraih bingkai foto di atas meja. Paling tidak aku tahu kalau aku tidak akan sendirian… aku akan menyusul kalian, ayah… ibu… Gadis itu memandang foto itu lama, sebelum akhirnya mulutnya membentuk seulas senyum. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta di saat seperti ini?


Here I am hitomi tojitara

Hitori ja nai koto ni kidzuita

Kawaite ita kokoro ga ureshii namida ni somaru once again

······

Here I am. When I closed my eyes,

I realized that I wasn't alone

My dry heart is stained with tears of happiness once again


Angst, angst, angst. Yuhuu... senangnya. Ideku kembali muncul lagi!! Jadi lebih semangat! :D Sebentar lagi berlalu masa-masa kritis (what the?) dan dimulailah masa-masa yang lebih kritis alias perjuangan mereka menuju ujian! Eh, sepertinya momennya pas betul nih. Bentar lagi UAN & SNMPTN kan? Hahaha... *tertawa penuh kemenangan* xD Yosh, review yak! :D

-- Next chapter: Be Brave!