Shi: Shi is back!! gyahaha... XD ...maunya sih bikin oneshot terus, tapi ide ini ngga bisa minggat dari kepala!! akhirnya saia tulis juga. ngga yakin sama judulnya sih. pertama kalinya saia nge-post cerita jenis kaya gini, biasanya humor/parody. 0.0"

Disclaimer: oke... Death note punya saia. -digebuk massa-

p.s.: pergilah jauh-jauh writer's block...


Till Death Unite Us

Chapter 1

Wammy's House, panti asuhan tempat di mana anak-anak jenius dari berbagai penjuru dunia dibesarkan. Memang, panti asuhan ini bukanlah panti asuhan biasa. Di bangunan tua bergaya Eropa yang besar dan memiliki area yang sangat luas ini anak-anak itu dididik untuk menjadi penerus L. Selain pelajaran biasa, mereka juga dilatih untuk mengasah kemampuan pribadi. Tak hanya itu, semua yang berada di sana menggunakan alias. Semua, baik penanggung jawab, para pendidik dan seluruh anak asuhan Wammy's House, termasuk Mello.

Dibesarkan di lingkungan seperti ini, anak laki-laki berambut pirang sebahu ini sama sekali tidak ambil pusing. Selain itu, walaupun sifatnya temperamental dan kasar, dia dapat berbaur dengan anak-anak lainnya. Dia sudah menemukan tempatnya dan betah tinggal di sana. Dia pun menikmatinya.

Satu-satunya yang dia benci di panti asuhan itu adalah Near, anak yang menduduki peringkat teratas di semua bidang Near memang lebih muda 2 tahun darinya, tetapi sekeras apapun Mello berusaha, tetap saja tidak mampu menggeser posisinya.Sifat inferiornya yang telah mendarah daging mendorongnya untuk membenci setiap bagian dari Near. Wajahnya, penampilannya, caranya berbicara, kebiasaannya, …semuanya!

Namun sialnya, semenjak Near masuk ke Wammy's House setelah setahun lamanya Mello tinggal, mereka justru ditempatkan sekamar.

Sungguh ironis.

Tak ayal, tinggal dalam satu kamar yang sama dengan orang yang dia anggap rival sekaligus orang yang dia benci membuat keributan kecil kadang tak dapat dihindari. Khusus untuk masalah penempatan kamar ini, Mello sama sekali tidak mengerti apa yang ada di pikiran Roger.

Setiap beberapa bulan sekali, L datang mengunjungi Wammy's House. Semua anak menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita. Tentu saja, karena bagi anak-anak Wammy's House, L adalah sosok yang mereka kagumi. Tak jarang Mello memintanya (atau lebih tepatnya memaksa) untuk mengikutsertakan dirinya dalam penyelidikan. Menjadi L, atau setidaknya bekerja bersama L sudah menjadi cita-citanya sejak lama. Semua ini untuk mendahului Near juga tentunya. Akan tetapi, L selalu menolaknya dengan tegas.

"Tidak, Mello-kun. Saya yakin sekarang bukan saatnya."

Atau

"Tidak. Masih banyak yang harus kau pelajari di sini."

Lebih parah lagi, terkadang L tidak menanggapi perkataannya lalu menyodorkan coklat batangan di depannya.

'Aku bukan anak kecil yang bisa disogok hanya dengan coklat lagi, dammit! Aku sudah 13 tahun!' Begitu pikirnya.

Walaupun begitu, dia tetap menerimanya dan duduk tenang menghabiskan coklat pemberiannya itu.

-

Di balik semua itu, kehidupan Mello terus berjalan seperti biasa, sampai suatu ketika…

-

Matahari bersinar cerah. Angin sore menerpa rambut Mello dengan lembut. Duduk bersandar di bawah pohon maple yang rindang ditemani oleh beberapa bungkus coklat Hershey favoritnya membuatnya betah berlama-lama di situ. Tinggal menunggu waktu sampai akhirnya ia tertidur, terbuai oleh damainya sore hari itu. Tetapi semuanya terhenti saat pukulan keras tiba-tiba menghantam kepalanya.

"AWW!!" Mello mengusap kepalanya lalu menyadari ada bola menggelinding tak jauh di depannya.

"Mello! Sedang apa kau di situ? Ayo ikut kami main bola!" seru Luke, salah satu anak Wammy's House, mengajaknya bergabung dengan anak-anak lain. Di belakangnya terlihat beberapa anak laki-laki tertawa saja melihat Mello yang kesakitan terhantam bola.

"Awas ya! Kubalas kau!" Mello langsung bangkit memungut bola itu dan menendangnya sekuat tenaga hingga menghantam kepala anak berambut coklat itu sampai jatuh tersungkur. Ah, impas.

"Hahahaha…!!"

"Sialan kau, Mello."

Melihat bola itu terpental jauh ke luar pagar, Mello pun bergegas mengambilnya. "Biar kuambil." Ujarnya.

Dipanjatnya pagar setinggi dua meter itu. Baginya ini bukanlah hal yang sulit, mengingat dia sudah beberapa kali melakukannya. Yah, walaupun itu ilegal. Disingkirkannya tanaman rambat yang menghalangi pijakannya, hingga akhirnya dia berhasil mencapai atas lalu turun dengan hati-hati.

Terlihatlah pemandangan bagian luar selatan Wammy's House yang dipenuhi pepohonan rindang. Dekat dari perumahan, akan tetapi daerah ini jarang dilewati penduduk sekitar. Tak memakan waktu lama sampai dia menemukan bola yang dicari tergeletak beberapa meter darinya. Tetapi sebelum dia kembali membawa bola itu, sekejap langkahnya terhenti seiring pandangannya tertuju pada sosok anak yang asing baginya.

Seorang anak laki-laki berambut mousy green berpakaian kaus lengan panjang bercorak stripes hitam-putih dan jeans biru sepanjang betis duduk santai di bawah salah satu pohon. Goggle melingkar di lehernya. Tangannya yang diselubungi sarung tangan hitam kebesaran sibuk menekan-nekan tombol videogamenya. Perhatiannya tidak teralihkan sama sekali, bahkan dengan keberadaan Mello di dekatnya sekalipun. Sound effect dari videogame sedikit terdengar.

"Hoi, sedang apa kau di sini?"

Anak itu langsung tersentak kaget mendengar sapaan tiba-tiba dari orang yang tidak dikenalnya. Akhirnya dia tersadar juga dari dunianya sendiri. Dia pun menoleh ke arah lawan bicaranya itu.

"Sudah jelas kan? Aku sedang sibuk main."

"Bukan itu maksudku, bodoh. Untuk apa main videogame di tempat seperti ini?"

"Ooh, tempat tinggalku tak jauh dari sini. Aku sering datang ke sini untuk mencari ketenangan."

"…dan bermain videogamemu itu?" tambah Mello.

"Yo! Betul sekali!"

Anak itu kembali memainkan videogamenya dan menghiraukan keberadaan Mello. Kembali ke dunia game.

Penasaran, Mello akhirnya duduk di sampingnya dan mengajaknya ngobrol lagi, melupakan teman-temannya yang sedang menunggunya kembali mengembalikan bola. "Ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku Mello."

"Ng… Matt." Disodorkan tangan kanannya di depan wajah anak itu, mengajaknya bersalaman sebagai tanda perkenalan. Namun, mereka tiba-tiba terpaku setelah tangan anak itu menyentuh tangannya. Otak Mello seakan berhenti berfikir sesaat. Diusap-usap matanya berkali-kali, tak percaya apa yang telah dia lihat.

Yang dirasakannya bukanlah sentuhan tangan yang hangat, melainkan hawa dingin tanpa aura kehidupan sama sekali. Tangannya pun sedikit transparan, membuat rumput-rumput di bawahnya bisa terlihat oleh Mello.

Apa--?

"--HANTU!" teriak Mello tiba-tiba, antara terkejut dan takut. Memang, Mello mungkin tidak mau mengakuinya, tapi keringat dingin keluar dari tubuhnya. Wajar saja, ini pertama kalinya ia melihat sesuatu yang…

di luar akal sehatnya.

Videogame yang semula terus di genggamnya terjatuh seketika. "Apa?! Hantu? …aku?" kata Matt, memandangi tangannya dan sekujur tubuhnya.

Meninggalkan bolanya, Mello langsung kembali memanjat masuk ke pekarangan Wammy's House dengan sangat tergesa-gesa. Teman-temannya pun heran dengan tingkah lakunya.

"Kenapa kau, Mello? Wajahmu pucat begitu. Kenapa lama sekali? Mana bolanya?" tanya anak berkacamata yang berdiri paling dekat dengannya.

"I-itu, tadi…" Mello masih terengah-engah. Dia membungkuk, rambutnya yang pirang menutupi sebagian wajahnya.

"Seperti baru melihat hantu saja. Hahaha…" canda anak yang lain.

...Ya!! Ingin sekali dia menjawab seperti itu, akan tetapi akhirnya dia menyadari bahwa 'makhluk' itu telah mengikutinya sampai sini.

"Tunggu!! Aku harus bagaimana?! A-aku sudah mati?" ujar Matt bingung. Dihampirinya Mello yang terus melihatnya dengan tampang tak percaya.

"Kalian bisa lihat dia?" tanya Mello kepada teman-temannya sambil menunjuk Matt.

"Apa maksudmu, Mello? Tak ada siapa-siapa di situ."

Ah, aku pasti sudah gila. Begitu kesimpulan Mello saat itu.


to be Continued...


Shi: gimana? review!