Shi: Yeah... setelah bertahun-tahun berlalu (?) akhirnya saia apdet.. UTS Kimia n Matematika di bulan puasa kayak gini bkin saia stress n bkin saia ngga napsu nulis n ngetik. +.+ bahkan saia sempet lupa nulis plotnya dimana. ahahaha...ha...

oia! thx buat yg ngereview! walaupun saia udah bilang di FF Review Reply... -sembah sujud-

Thx juga buat MeL-chan n mimu (M4yura) yang udah ngasih tau ada typo. bodohnya diriku ini... XDD

Chap ini khusus Matt P.O.V. -peluk Matt-


Disclaimer: saia mau bilang apa ya? jadi lupa. -sweatdrop-


Till Death Unite Us

Chapter 4

Tengah malam, waktu sebagaimana dikatakan orang merupakan waktu yang disukai para hantu. Wajar memang, sebagian besar orang sudah terlelap dalam mimpinya di saat seperti itu. Selain itu, kegelapan dan sunyi senyapnya malam membuat suasana jadi mendukung bagi hantu untuk… bergentayangan?

Heh…

Gentayangan…

Aneh rasanya, jika perkataan orang tentang keberadaan hantu dan hal-hal gaib lainnya yang sebelumnya tidak kupercayai sama sekali ternyata terbukti benar. Bahkan sangat nyata. Dan kabar baiknya adalah aku sendiri yang menjadi hantunya. Lucu sekali.

…Aku sendiri meragukan kalau itu adalah kabar baik.

Tetapi memang benar. Di sinilah aku sekarang, berjalan-jalan—oke, melayang—mengitari halaman Wammys House yang gelap, seperti arwah gentayangan yang sedang tersesat. Cahaya rembulan menerangi tempat itu. Angin malam yang dingin terus menerpa tubuhku.

Seperti aku punya tubuh saja.

Kesunyian menguasai tempat ini. Binatang-binatang malam terdengar bersahutan berusaha mengalahkan kesunyian itu, tetapi masih saja, terasa sepi bagiku. Muak terus dibayangi rasa bosan, akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi Mello sekarang. Yah… walaupun aku tahu dia selalu menyibukkan dirinya belajar di saat seperti ini. Aku tidak begitu mengerti kenapa dia dia sebegitu rajinnya sampai mau belajar hingga larut malam seperti ini. Mello memang orang yang sulit dimengerti.

Kini terlihat dalam pandanganku jendela kamar Mello yang sudah tertutup rapat, dihalangi oleh tirai yang berwarna gelap. Cahaya lampu kamarnya yang semula masih menyala menemani Mello yang begitu serius belajar, ternyata sudah tidak ada. Gelap.

Aneh… tidak seperti biasanya…

Kuterobos jendela itu untuk melihat keadaannya. Namun tak kutemukan sosok anak laki-laki berambut pirang yang selalu berpakaian hitam itu di setiap sudut ruangan. Di tempat tidurnya? Di meja belajarnya? Nihil. Satu-satunya orang yang kutemui di situ hanyalah Near yang sudah tertidur pulas dikelilingi mainan-mainannya di sisi lain ruangan. Di manakah Mello?

Kutinggalkan ruangan itu segera untuk mencari tempat keberadaannya. Kutelusuri koridor yang gelap dan sepi itu. Sesekali melayangkan pandang ke arah pintu-pintu kamar dan pajangan dinding yang berjejer sepanjang dinding koridor. Melihat keadaan tempat ini membuatku menyadari betapa berbedanya suasana tempat ini di malam hari. Begitu sunyi, bagai tiada kehidupan. Tak lama setelah itu, terdengar samar-samar gumaman seseorang dari samping ruangan Mello.

"Lenyap."

"Lenyap."

"…Lenyap!"

Bukan suara Mello. Tentu saja. Suaranya terdengar lebih berat dan terasa…

Mendendam.

Untuk suatu alasan yang logis, aku tidak mau masuk ke dalam ruangan untuk melihat siapa pemilik suara itu. Lebih baik mencari Mello. Kuucapkan terima kasih kepada kemampuanku untuk melayang dan menembus tembok, hingga akhirnya aku menemukan Mello di atas atap gedung asrama Wammys House.

Ya, di atas atap. Di situlah Mello terduduk diam memandangi langit. Kaus lengan panjang hitam dan jeans biru gelap kumal yang dikenakannya ternodai oleh debu yang berasal dari atap, namun tampaknya dia tak mempedulikannya. Bungkus-bungkus coklat yang sudah habis dimakan berserakan di sampingnya. Terhanyut oleh keindahan bintang-bintang yang menghiasi langit malam, dia tidak menyadari kehadiranku sama sekali sejak tadi..

"Kupikir kau bukan tipe orang yang suka memandangi bintang." ujarku tiba-tiba, membuyarkan lamunannya. Mello pun menoleh.

"Memang tidak, tapi aku suka di sini. Tempat ini sudah seperti tempat rahasia bagiku." gumamnya pelan. "Setiap aku ingin menyendiri, aku naik ke sini." Kedua tangannya memeluk kakinya yang tertekuk. Angin sepoi-sepoi membelai rambut pirangnya.

"…Begitukah? Seperti kucing saja, senang naik ke atap." kataku sambil tertawa kecil. "Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kau naik ke sini? Ini kan lantai dua."

"Jangan bodoh, tentu saja lewat tangga kecil itu." Tangannya menunjuk ke arah tangga besi yang terpasang permanen di tembok, tak jauh darinya. Tampaknya tangga itu memang dibuat supaya orang bisa mencapai atap dan membersihkan cerobong asap. Tapi terlihat jelas bahwa tangga itu jarang digunakan orang lain, begitu melihat tak terawatnya cerobong asap yang ada di situ.

"Oh…"

Keheningan tiba-tiba membatasi percakapanku dengan Mello. Dia kembali terdiam memandangi langit. Aku pun menempatkan diriku di sampingnya. Sejenak kupandangi wajahnya yang serius. Mello yang kukenal selalu berisik kini begitu tenang dan sunyi, membuatku merasa sedikit canggung. Tak ma uterus dibayangi oleh kesunyian yang serasa menghimpit ini, aku pun mengajaknya bicara lagi.

"Hey Mel," Suaraku memecah keheningan. "Tadi kau bilang kau ke sini jika ingin menyendiri. Lalu, apakah ada suatu masalah hingga kau ingin menyendiri seperti ini?"

"…Tidak begitu penting… aku hanya teringat ibuku." jawab Mello tanpa menoleh.

"Ibumu? Seperti apa dia? Apakah dia mirip denganmu?"

Mello tertawa kecil melihatku begitu tertarik. "…Ya. Tentu. Dia mempunyai rambut pirang yang sama sepertiku. Begitu cantik. Ibuku selalu menyayangiku. Begitu juga sebaliknya. Tetapi semua berakhir setelah ibuku meninggal karena kecelakaan."

Tiba-tiba aku merasa tidak enak membicarakan hal ini. "..Maaf."

"Sudahlah, kenapa kau meminta maaf?" Mello mencoba menepuk punggungku namun tangannya hanya bisa menembusku, menepuk angin. "……"

"Lalu, ayahmu?"

"Ibuku sudah berpisah dengan ayahku sejak aku masih kecil sekali. Jadi, aku tak punya ingatan sama sekali tentang ayahku. Karena itulah, setelah ibuku meninggal, aku tak punya siapa-siapa lagi dan akhirnya aku dipindahkan ke panti asuhan ini."

Aku mengangguk pelan tanda mengerti. "Bicara soal Wammys House, setelah beberapa hari aku menetap di sini, kuperhatikan tempat ini lebih mirip sekolah asrama daripada panti asuhan. Sebenarnya tempat ini tempat apa?" tanyaku penasaran.

Mello berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Begini…Tempat ini sebenarnya dibangun untuk membesarkan anak-anak jenius agar bisa menjadi penerus L, detektif terhebat di dunia saat ini. Kami, anak-anak Wammys House, dididik sebaik-baiknya hingga akhirnya diputuskan siapa yang akan menjadi penerus L, dilihat dari peringkat yang didasari oleh nilai-nilai yang kami peroleh."

"Wow, terdengar hebat." Aku berdecak kagum.

"Memang." Dia pun meneruskan penjelasannya. "Menurut data yang dimiliki Roger, yang menduduki peringkat pertama saat ini adalah Near, kedua aku, dan ketiga Linda. Sebagai anak yang memperoleh peringkat satu dan dua, aku dan Near selalu bersaing. Sementara Linda tidak terlalu memusingkan posisinya, dan lebih senang menyibukkan dirinya dengan melukis."

"Jadi itu sebabnya kau selalu bersikap tidak ramah terhadap Near?"

"Kenapa? Aku memang benci dia. Kau sendiri tahu kami tidak pernah bisa akrab kan?" Nada bicaranya meninggi. "Selalu… aku menjadi nomor dua. Berusaha sekuat apapun…berjuang sekeras apapun…"

Aku hanya bisa terdiam mendengar pernyataan Mello. Kini aku mengerti mengapa ia begitu terobsesi untuk mengalahkan Near. Dia ingin diakui. Dia ingin lolos dari bayang-bayang Near yang selalu lebih baik darinya. Sungguh ironis jika dihadapkan kepada kenyataan bahwa Near lebih muda dua tahun darinya.

"Walau kau tidak mendapat peringkat satu, kau tetap istimewa, Mel." ucapku tiba-tiba.

"Apa?" Mello menoleh ke arahku mendengar ucapanku barusan.

"Ya, kau istimewa. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu, Mello. Jika tidak ada kau, mungkin aku sudah terkatung-katung sendirian sekarang. Tak ada yang menyadari keberadaanku. Sendirian..."

Benar.

Kesepian itu menyakitkan…

Sendirian itu…

Menakutkan.

"…Terima kasih sudah mau menerimaku."

Mello terdiam sejenak mendengar pernyataanku itu. "Kau tahu, ada kalanya aku berfikir seandainya kau ini juga anak Wammys House. Entah kenapa aku merasa kau ini enak diajak bicara. Jika seandainya kita ini tinggal sebagai teman sekamar, mungkin akan menyenangkan. Bukankah begitu, Matt?" katanya sambil tersenyum.

Entah kenapa, perasaan aneh menjalari hatiku. Untuk pertama kalinya, Mello memanggilku 'Matt' bukan 'kau' ataupun 'hantu-bergoggle-aneh'.

"Terima kasih Mel.." gumamku pelan. Lagi.

"Kau tak usah mengucapkan itu dua kali. Ayolah, apa gunanya teman?"

Teman. Betapa kata yang menyentuh bagiku. Walau satu kata saja.

"…untuk bermain 2 player game?" jawabku spontan.

"Bukan, bodoh." Tanggapnya sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa. Kami tertawa bersama , di bawah naungan bintang-bintang yang bertebaran indah menghiasi langit malam. Sungguh menyenangkan.

"Hey lihat, bintang jatuh!" seruku sambil menunjuk ke arah langit. "Ucapkan permohonanmu!"

"What the--, Matt, kau masih percaya hal seperti itu?" gerutu Mello tidak percaya.

"Apa salahnya?" kataku sambil menyeringai.

Mello menghela nafasnya sebentar. "Baiklah, permohonanku… aku ingin menjadi nomor satu!! Melebihi Near dan L!" serunya lantang seraya bangkit berdiri, tidak peduli akan membangunkan anak-anak lain yang sedang terlelap.

"Bagaimana denganmu?" tanyanya kepadaku. "Permohonanmu?"

"Permohonan ya… cita-citaku--" Ucapanku tiba-tiba terhenti memikirkan cita-citaku. Masa depanku.

Apalah gunanya cita-citaku sekarang? Masa depanku sudah tiada. Sirna. Waktuku sudah terhenti, terkalahkan oleh kematian. Walaupun hari esok masih ada, waktuku tetap terhenti. Semuanya sia-sia.

Keputusasaan mulai menguasai hatiku.

"Apa?" Mello memiringkan kepalanya, memandangiku heran. Menunggu jawaban dariku.

Aku tidak menjawab. Tetapi, memandangi Mello yang kini masih ada di sampingku, terbesit sesuatu yang kuinginkan saat ini.

Hanya satu.

…Biarkan aku bersama Mello lebih lama lagi.


To be Continued…


Shi: maunya chap ini dipanjangin sedikit tapi kayaknya bersambungnya enakan di sini. hoho..

ada yang aneh kah? typo? kritik n saran?

RIPIU!! XD

Klo ngga, bkal kupanggil Mikami buat meng-sakujo kalian semua!! Lenyap!! huahuahuahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaohokohokohok! -keselek tiba"-