Akhirnya Chapter terakhir! Selamat menikmati…


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance / Angst / Tragedy

Rating: T

Pairing: SasuSaku

Otanoshimi yonde kudasai ne minna!


Kimi No Memori

Story by: Akina Takahashi

Chapter 5: Saigo No Hibi

Naruto mengadahkan kepalanya menatap bintang-bintang yang bertaburan di atas langit malam yang terhampar luas. Mata birunya memerah, tubuhnya lelah, hatinya sakit. Kelelahan terus menyerangnya karena tanpa sadar ia terus berlari tanpa henti hingga kedua kakinya terasa sakit. Bukan, lebih tepatnya bukan kakinya yang sakit melainkan hatinya. Hatinya terasa sangat sakit.

Naruto menghentikan larinya kemudian memandang ke sekitarnya. Berharap tak seorangpun yang melihatnya dalam keadaan seperti ini. Menyedihkan… ia tidak ingin orang lain mengasihani dirinya.

Naruto jatuh berlutut. Air mata mengalir dikedua pipinya. Kedua tangannya mengepal.

"Memalukan, seorang calon hokage tidak boleh cengeng seperti ini." Ujarnya lirih.

Ia menundukkan kepalanya menghadap kebawah. Pandangannya kabur karena terhalang oleh air mata yang menggenangi pelupuk matanya. Saru demi satu butiran air mata mengalir di wajahnya karena tak mampu lagi ia bendung. Air mata mengalir di wajahnya hingga jatuh membasahi bumi.

"Hei, Naruto!"

"SHANNARO!"

"Hm kau boleh anggap ini kencan, tapi kau harus mentraktirku ya! Hehehe"

"Naruto… kumohon bawa kembali Sasuke. Ini adalah permohonan seumur hidupku."

"Hei Naruto berhentilah berbuat bodoh!"

" Naruto, Jangan seenaknya bertarung tanpa memperhatikan kondisi tubuhmu! Aku ini mencemaskanmu tahu!"

"Hahaha Naruto, kau lucu."

" Sudah kubilang Ini bukan kencan!"

"Naruto… aku tidak pantas berada disisimu."

"Karena aku hanyalah gadis lemah yang tidak bisa apa-apa."

"Sekarang aku hanyalah gadis lemah yang sedang menunggu kematian datang menjemputku."

"Naruto, aku tidak bisa menjadi istrimu."

"Karena aku menyukai orang lain."

"Gomennasai…"

suara Sakura kembali bermunculan di benaknya. Naruto mengacak-acak rambut pirangnya, pandangannya masih tertuju ke bawah.

"Kenapa kau tidak pernah mau membuka hatimu padaku Sakura?" ujarnya lirih.

Naruto semakin tenggelam dalam kegelapan. Ia berharap ada seseorang yang dapat membantunya bangkit dari kegelapan yang menenggelamkannya itu. Nampaknya harapannya itu terkabul. Dari balik pepohonan terdengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya.

"Siapa itu?" Naruto sedikit kesal, karena sebenarnya saat ini ia sedang tidak ingin diganggu.

"I… ini aku Naruto-kun…" terdengar suara lembut yang berasal dari sesosok gadis pemalu berambut panjang yang muncul dari balik pohon.

"Sedang apa kau di hutan malam-malam begini?" Naruto memandang Hinata dengan tatapan heran. Ia heran karena Hinata yang biasanya adalah anak 'rumahan' tiba-tiba berada di hutan disaat malam seperti ini.

"Ano... tadi sewaktu aku sedang berbelanja bersama Neji-niisan, aku melihat Naruto-kun berlari menuju kesini lalu tanpa sadar aku…" Hinata tak sempat melanjutkan perkataannya.

"Hinata, pulanglah. Neji pasti mencemaskanmu."

"Ta tapi Naruto-kun…"

Naruto bangkit berdiri kemudian berjalan meninggalkan Hinata dibelakangnya. Hinata memandangi punggung Naruto yang bergerak menjauh. Tanpa sadar kakinya bergerak mengikuti langkah Naruto. Semakin cepat, semakin cepat hingga akhirnya ia dapat menyusul Naruto. Hinata memeluk Naruto dari belakang. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Naruto.

Naruto menghentikan langkahnya ketika ia merasakan tubuhnya ditahan oleh dekapan tangan mungil yang melingkar di pinggangnya.

"Hinata?!" Naruto tersentak kaget.

"Naruto-kun… kumohon jangan pergi lebih jauh lagi…" Hinata tak sanggup lagi menahan tangis yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Ia menangis tersedu-sedu.

Sejenak mata biru Naruto melebar. Ia merasa ada sedikit cahaya yang bersinar menerangi hatinya. Senyum tipis tersungging di wajahnya. Naruto membalikkan tubuhnya menghadap Hinata. Lalu menatap mata lavender gadis itu. Mata indah yang basah karena tergenang air mata.

"Jangan menangis Hinata…" Naruto menghapus air mata Hinata dengan ibu jarinya.

"Kumohon Naruto-kun, kembalilah seperti dulu…"

"Terima kasih Hinata-chan…" Naruto tersenyum lembut.

"Aku… aku…" Hinata tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

"Aku?" Naruto sedikit penasaran.

"Menyukaimu… Naruto-kun" Hinata berbisik.

"Terima kasih."

"Aku…" Hinata tak mampu berkata-kata.

"Yuk, kita pulang." Naruto menarik lengan Hinata.

Naruto berjalan melintasi gerbang Konoha. Tangannya masih menggenggam tangan Hinata.

"Aku masih menyukai Sakura-chan. Apa kau mau menungguku hingga aku dapat melupakannya?" tanya Naruto. Matanya masih menatap lurus ke depan.

"Tentu saja Naruto-kun"

"Arigatou… Hinata-chan."

.

.

.


Kimi No Memori


.

.

.

Ilalang-ilalang menari seirama dengan hembusan angin. Langit biru terhampar luas dengan beberapa awan putih yang menyembul dari balik bukit. Matahari bersinar malu-malu dari balik awan.

Dari kejauhan nampak seorang gadis berambut merah muda sedang duduk di tengah hamparan rerumputan hijau yang bagaikan permadani alam. Rambutnya bergerak seiring tiupan angin. Ia mengenakan short dress putih tanpa lengan sepanjang lutut . Wajahnya yang cantik membuatnya terlihat bagaikan bidadari yang datang dari surga.

Di sebelah gadis itu nampak seorang pemuda tampan berambut hitam yang mengenakan kemeja berwarna hitam, senada dengan celana jins yang dikenakannya. Pemuda itu memejamkan matanya. Seakan menikmati melodi yang dimainkan oleh hembusan angin yang sejak tadi berhembus di telinganya.

Sakura mendekap kedua kakinya. Matanya menatap rerumputan hijau yang ada di bawahnya kemudian mengadahkan kepalanya menatap langit yang terbentang luas diatasnya.

"Langitnya indah ya kangofu-san?" Sakura masih mengadahkan kepalanya kearah langit.

Sasuke membuka matanya perlahan lalu bergumam "Hn."

Sebenarnya ia merasa aneh, "apa yang terjadi hingga Sakura mengajaknya pergi ke tempat seperti ini?"

Sakura memalingkan wajahnya menghadap Sasuke lalu menatap mata hitam Sasuke dalam-dalam seakan memberikan suatu isyarat pada mata hitam itu. Sasuke membalas tatapan itu dengan tatapan heran, Sakura hanya tersenyum tipis melihat tatapan Sasuke yang nampak keheranan itu.

"Kenapa kau mengajakku kesini Haruno-san?" akhirnya Sasuke angkat bicara.

Sakura hanya tersenyum tipis dan terus diam. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain menatap beberapa ekor kupu-kupu yang berterbangan.

"Jawab aku Haruno-san." Sasuke nampak sedikit kesal karena Sakura mengacuhkannya.

"Maaf, bisakah kau berhenti memanggilku Haruno-san? Namaku Sakura dan aku ingin dipanggil dengan namaku."

"Baiklah, jadi apa kau bisa jelaskan apa tujuanmu membawaku kesini Sakura?"

"Karena aku ingin kau menemaniku disini." Sakura tersenyum lembut.

"Kenapa?"

"Karena… UHUK UHUK" Sakura tak sempat melanjutkan perkataannya. Cairan merah mengalir dari mulutnya membasahi kedua tangannya.

"Ayo kita kembali ke RS!" Sasuke nampak khawatir, ia bangkit dari duduknya dan menarik lengan Sakura. Sakura melepaskan genggaman tangan Sasuke.

"Tidak perlu kangofu-san, aku ingin menghadapi kematianku disini." Sakura tersenyum. Mata hijaunya melembut.

"Apa maksudmu?" Sasuke membalikkan badannya kemudian kembali duduk disamping Sakura.

"Aku ingin menghabiskan hari terakhirku bersamamu disini."

"Sakura…" suara Sasuke terdengar khawatir. Ia bahkan tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

"Sst, jangan diteruskan kangofu-san." Sakura menaruh telunjuknya di bibir Sasuke.

"Tapi…"

"Kau sudah tahu kan kalau hidupku tidak lama lagi?" Sakura memotong perkataan Sasuke.

"…" Sasuke hanya terdiam seribu bahasa.

"Setidaknya aku ingin meninggalkan dunia ini dengan tidak ingin lari dari kematianku sendiri. Aku ingin menghadapinya dengan gagah berani." Sakura tersenyum lembut sementara mata hijaunya menatap mata Sasuke dalam-dalam.

"UHUK UHUK" Sakura kembali terbatuk. Darah kembali mengalir dari mulutnya membasahi gaun putih yang dikenakannya.

"Sakura!"

"Ah, bajuku jadi kotor. Padahal setidaknya hari ini aku ingin terlihat cantik." Sakura mengelap noda-noda darah di wajahnya dengan telapak tangannya.

Ia menatap Sasuke dengan lembut. Kemudian berkata, "Jangan khawatir…"

"Aku…" Sasuke tak mampu berkata-kata.

"Kangofu-san, boleh aku bersandar di bahumu?"

"Hn." Sasuke mengangguk. Sakura menyenderkan kepalanya di bahu Sasuke. Sasuke menggenggam tangan Sakura yang perlahan-lahan mulai mendingin.

"Terima kasih." Sakura memejamkan matanya.

"Sakura, aku… aku…" Sasuke menundukkan wajahnya.

"Katakanlah kangofu-san." Sakura membuka mata hijaunya perlahan.

"Aku mencintaimu." Sasuke akhirnya mengatakan kata-kata yang dipendamnya sejak lima tahun yang lalu. Kata-kata yang ia pendam hanya demi harga diri seorang Uchiha.

"Terima kasih kangofu-san." Sakura tersenyum.

"Kau tahu kangofu-san? Selama ini aku merasakan hal yang berbeda pada dirimu. Entah kenapa setiap kali bersamamu hatiku menjadi sakit tapi juga senang disaat yang bersamaan. Benar-benar aneh ya? Entah kenapa aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya. Yah, perasaanku tidak mungkin salah, karena aku benar-benar yakin akan hal itu. Tapi sepertinya Naruto, Tsunade-sama bahkan dirimu merahasiakan hal itu dariku. Entah kenapa akupun tak tahu." ujar Sakura panjang lebar. Matanya masih menatap langit.

Mata hitam Sasuke membelalak lebar. Ia tidak menyangka Sakura telah mengetahui hal ini.

"Sakura… hal itu…" Sasuke tak sempat melanjutkan perkataannya karena Sakura memotongnya.

"Sst, jangan diteruskan. Kangofu-san."

"Kenapa?"

"Karena aku takut, bila aku mengingatnya aku tidak akan bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang. Karena mungkin nanti aku tidak bisa melepaskanmu" Sakura memalingkan wajahnya menatap mata hitam Sasuke.

"Sakura…" wajah Sasuke nampak sedih.

"Hm setidaknya beri tahu aku namamu…"

"Uchiha Sasuke."

Seketika Sakura merasakan sakit yang hebat di kepalanya. Jantungnya berdebar keras. Napasnya tak beraturan. Namun ia berusaha mengendalikan tubuhnya. Ia mengatur cakra ditubuhnya agar tak terjadi reaksi yang lebih parah.

"Terima kasih Sasuke-kun."

"Terima kasih untuk apa?"

Terima kasih karena telah mencintaiku. Dan menemaniku hingga saat-saat terakhirku." Sakura berusaha tersenyum. Namun suaranya tak bisa dibohongi. Suaranya bergetar menahan tangis.

Sasuke memandang mata Sakura yang basah. Wajahnya nampak sedih. Penyesalan datang terus menerus memenuhi kepalanya.

Di saat ia datang dan tersenyum padamu

Kau berkata padanya "Kau mengganggu"

Ketika ia mengajakmu bicara

Kau berkata padanya "Berisik"

Di saat ia berusaha membuatmu tersenyum

Kau berkata padanya "Pergi! Aku tidak ingin diganggu"

Ketika ia menangis dan memohon padamu untuk tidak pergi

Kau memukulnya dan meninggalkannya sendirian di taman

Disaat ia berkata "Aku mencintaimu Sasuke-kun"

Kau menyia-nyiakannya dan membuatnya menderita

Di saat kau jatuh cinta padanya

Kau mengingkari perasaanmu hanya karena harga diri bodoh yang selalu kau junjung tinggi itu

Ketika kau berusaha mendapatkannya kembali

Kau hanya terdiam karena ia tak mengingatmu lagi

Di saat kau mengutarakan perasaanmu padanya

Ia telah berada pada batas kehidupannya yang terakhir

Tuhan kumohon, izinkan aku memutar waktu kembali…

Aku tidak ingin kisah kami berakhir seperti ini

Kisah indah yang ternoda hanya karena kebodohanku

Tuhan kumohon, izinkan aku memutar waktu kembali…

"Sasuke, apa aku masih terlihat cantik?" suara Sakura membangunkan Sasuke dari lamunannya.

"Hn." Sasuke hanya bergumam. Ia menatap wajah Sakura yang pucat. Ia memang nampak cantik walaupun bibirnya sudah sangat pucat. Gaun putihnya tertiup angin. Ada sedikit noda darah di gaun itu.

"Kau sangat cantik."

"Ah, terima kasih… aku ingin terlihat cantik di depanmu."

"…" Sasuke kembali terdiam. Ia merasa dadanya kembali sesak seakan ada yang membelenggunya.

"Kau masih ingat apa yang kukatakan kemarin?" tanya Sakura.

"Apa?"

"Jiwa orang yang telah mati akan terbang ke langit dan menjadi bintang yang menyinari bumi."

"Iya."

"Dan kau berkata padaku, bila hal itu terjadi aku harus menjadi bintang yang bersinar paling terang di banding bintang-bintang yang lain." Sakura menatap mata Sasuke dalam-dalam.

Sakura mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke. Ia mencium lembut bibir Sasuke. Sasuke tersentak kaget ketika Sakura menciumnya. Namun akhirnya ia menutup matanya dan memeluk tubuh lemah Sakura dengan erat sementara bibirnya masih bersentuhan dengan Sakura.

Sakura melepaskan ciumannya lalu tersenyum.

"Aku akan menjadi bintang yang selalu menyinari hatimu. Sasuke-kun…" ujarnya lemah. Mata hijaunya perlahan meredup dan akhirnya terpejam. Senyuman masih tersungging di wajah cantiknya.

"Sakura… maafkan aku…" Sasuke mendekap erat tubuh Sakura yang telah tak bernyawa. Air mata mengalir dari mata hitamnya membasahi rerumputan.

Benar-benar menyedihkan. Bahkan hingga saat-saat terakhir kehidupannya, Sakura tetap tidak mengingatnya. Mungkin inilah hukuman tuhan karena Ia telah menyia-nyiakan cinta Sakura selama ini.

Sasuke terus mendekap erat tubuh Sakura. Angin kembali berhembus memainkan melodi alam yang kini terdengar sedih. Di samping Sasuke nampak sosok Sakura yang transparan. Sosok itu memperhatikan Sasuke dengan tatapan sedih.

"Sakura-san, sudah waktunya aku menjemputmu." Tiba-tiba sosok shinigami datang.

"Ah, shinigami-san. Boleh aku minta izin sebentar untuk melampiaskan emosiku dulu disini? Aku ingin pergi ke akhirat dengan tenang." Pinta Sakura.

"Baiklah… apakah kau tidak mau mengetahui siapa sebenarnya pemuda yang memelukmu itu?" shinigami menunjuk Sasuke yang sedang memeluk tubuh Sakura yang telah tak bernyawa.

"Lebih baik memoriku tentangnya tetap terkubur dalam kenanganku yang hilang. Aku takut seandainya aku mengetahuinya, aku tidak akan bisa melepaskannya lagi." Ujar Sakura.

"Baiklah kalau itu maumu."

"Terima kasih." Sakura melayang mendekati Sasuke. Ia melingkarkan lengannya yang transparan di leher pemuda itu. Mata hijaunya menatap mata hitam Sasuke yang basah. Air mata terus menerus keluar dari mata hitam itu.

Sakura menunduk menempelkan dahinya ke dahi Sasuke. Air mata mengalir dari matanya. Mengalir terus mengalir. Air mata dari mata hitam bercampur dengan air mata dari mata hijau menimbulkan muara air mata kesedihan yang mendalam.

"Biarlah memoriku tentangmu tetap terkubur selamanya… karena tanpa memori itupun aku tetap mencintaimu." Bisik Sakura. Air mata terus mengalir di matanya.

Sasuke tetap tidak bergeming, karena ia tidak bisa melihat sosok Sakura yang tengah memeluknya itu.

"Mungkin suatu saat nanti. Di kehidupan yang lain. Kita ditakdirkan bersama."

"Aku mencintaimu selamanya. Aku akan menjadi bintang yang selalu menerangi hatimu."

"Jangan menangisi aku lagi, karena aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku ingin melihatmu tersenyum."

"Sayonara… Sasuke-kun." Sakura tersenyum lalu bangkit dan melayang kearah shinigami yang menjemputnya.

"Ayo kita pergi shinigami-san!" Sakura tersenyum.

.

.

.


Seandainya saja kau membuka hatimu padaku lebih awal, apakah kita dapat berakhir bahagia?


.

.

.

Tokyo Daigaku, Tokyo. Jepang.

Pohon Sakura bermekaran di seluruh penjuru kota Tokyo. Musim semi telah tiba pertanda dimulainya tahun ajaran baru.

Calon-calon mahasiswa berbaris mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru. Raut wajah mereka nampak bangga karena mereka telah berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di jepang. Tokyo Daigaku atau lebih sering disebut Todai.

Di barisan paling belakang nampak sesosok lelaki berambut pirang yang menguap karena bosan akan upacara penerimaan ini. Disebelahnya nampak seorang pemuda berambut hitam yang nampak terganggu oleh kelakuan temannya itu.

"Hei, jangan menguap seperti itu!" lelaki berambut hitam itu nampak jengkel.

"Sasuke, apa kau tidak bosan hah?" Lelaki berambut pirang mengucek-ngucek matanya.

"Apa benar kau ini mahasiswa Todai?" sindir Sasuke.

"Hei begini-begini aku peringkat 5 di Koshino gakuen." Naruto menunjuk dirinya dengan bangga.

"Terserah kau lah…" Sasuke nampak tidak berminat dengan pembicaraan ini.

"Maaf, apakah kalian mahasiswa fakultas kedokteran?" tanya seorang gadis berambut pink yang tiba-tiba saja muncul.

Naruto memandangi gadis itu dengan takjub. Benar-benar seorang gadis sempurna. Kulit putih mulus, mata indah berwarna emerald, bibir merah muda, dan yang paling membuatnya menarik adalah rambutnya yang berwarna pink.

"Iya." Jawab Sasuke. Ia memandangi gadis itu, entah kenapa ia merasa pernah bertemu dengan gadis itu entah kapan.

"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" gadis itu sedikit heran. Karena ia merasa pernah bertemu dengan Sasuke.

"Sepertinya tidak." Jawab Sasuke. Sementara ia masih mengingat-ngingat wajah gadis ini.

"Hei, kenalkan aku Uzumaki Naruto!" Naruto tiba-tiba menyeruak diantara mereka berdua.

"Ah, aku Haruno Sakura. Salam kenal." Sakura membungkukkan badannya member hormat.

"Dan, si rambut ayam ini namanya Uchiha Sasuke!" Naruto menunjuk Sasuke dengan penuh semangat.

"Sasuke? Kenapa sepertinya aku pernah mendengar nama itu?" pikir Sakura.

"Ah, mohon bantuannya Sasuke-kun." Sakura tersenyum.

Sasuke merasakan sensasi aneh di kepalanya saat mendengar kata "Sasuke-kun" karena entah kenapa kata itu menusuk hatinya.

"Sama-sama Sakura…" Sasuke tersenyum pada teman barunya ini.

Mungkin suatu saat nanti, di kehidupan yang lain kita ditakdirkan bersama

Saat itu tak ada yang bisa memisahkan kita…

Aku berharap saat itu kau masih mencintaiku…

Karena aku akan tetap mencintaimu di kehidupan yang bagaimanapun…

Saat itu aku akan menjaga memoriku tentangmu baik-baik.

Karena saat itu aku ingin memilikimu seutuhnya.

-OWARI—


GImana? Hehehe kalian puas? Jawab dengan review ya!

Arigatou Gozaimashita

With Love,

Akina Takahashi