Lama yak? ah, males ngetik sih -digiles- makin gaje aja ni cerita. maap kga ada kissednya. kpn2 aja deh. Insya Allah. ntar kalo ada kesalahan dlm penulisan terutama kata tenggorokan atao apalah itu, ksh tau yg bner yg mna. dasar authr bego saya!

Thank's for all reviewer:

Varanoia-Trinity-, VongoLa-aI, , Nakamura arigatou, NejiDemon, xxx, Sabaku No Kaoru, katana13, Medeline. minta tambah review dong!

Inuzumaki Helen: dalam bahasa inggris forgetting itu nggak ada. ada bbrp kt yg ga bs di tambahin ing. oke thx dh di kritik :D

Disclaimer: Masashi Kishimoto

settings: campur2


Sasuke membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur. Badannya juga lemas, dia mengosok-gosokkan tangannya di mata agar lebih terbiasa dengan sinar matahari yang menyinari kamarnya. Sasuke berjalan ke kamar mandi yang tidak jauh letaknya.

' Kenapa lagi aku hanya mengenakan pakaian kerja untuk tidur?' Sasuke bingung karena dia tidur dengan pakaian kerja. Sasuke memutuskan untuk tidak ambil pusing, dia cepat mengosok gigi dan mencuci muka lalu ganti baju. Kepalanya sangat pusing, tenggorokkannya terasa sakit, dan badannya terasa panas.

Sasuke keluar dari kamarnya dan lansung saja bau wangi tercium. Arahnya dari dapur, Sasuke berjalan menuju ke dapur. Begitu sampai yang dia lihat adalah pria kecil berambut kuning dan hanya mengenakan kemeja Sasuke yang jelas-jelas kebesaran dan juga tanpa celana. Sasuke kaget, kenapa bisa ada makhluk manis ini di apartementnya, dan menggunakan dapur dengan seenaknya.

" Hei!" bisik Sasuke yang berada di pintu dapur, dia tidak bisa berteriak karena tengorokkannya terasa perih.

Laki-laki itupun menoleh," Hei, Sasuke! Sudah bangun rupanya, aku sedang memasakan sarapan. Bagaimana sudah baikan?"

" Naruto? Kenapa ada di sini?" tanya Sasuke bingung.

" Aku mengantarkanmu, kau mun-" belum selesai Naruto bicara begitu ingin bilang kata 'muntah' dia sudah blushing duluan.

" Aku kenapa?" Sasuke mendelik.

" Kau, sakit panas lalu pingsan. Jadi aku mengantarkanmu ke sini, lalu akunya juga tidak tega meninggalkanmu sendiri, akhirnya kuputuskan untuk bermalam di apartementmu. Pagi ini aku akan mengurusmu, mungkin sampai kau sembuh." jelas Naruto sambil terus sibuk dengan pancinya maksudnya panci Sasuke.

Sasuke teringat akan hal yang terjadi kemarin malam, lalu tersenyum jahil," lalu kenapa kau memakai kemejaku? Tanpa celana lagi."

" Aku pakai celanamu semua kebesaran lalu kutemukan ini." kata Naruto sambil menangkat kemejanya lalu memperlihatkan boxer yang sangat pendek. Sedikit blushing.

Sasuke yang niatnya ngejailin begitu melihat Naruto dengan percaya dirinya memperlihatkan boxer itu langsung ikutan blushing," Oh."

Tadinya Sasuke mau tanya-tanya, kok kenapa ganti baju. Nanti kalau sudah dijawab, ditanya lagi, kenapa aku harus muntah di bajumu, dan sebagainya. Tapi karena ulah mengankat kemeja tadi, niatnya dipendam dulu dalam-dalam.

" Kau masak apa?" tanya Sasuke pelan yang sekarang sudah ada di depan pintu kulkas dan bersandar di situ.

" Bubur. Nanti setelah makan, kau istirahat lagi. Kalau masih tidak enak badan, kuantar ke dokter." jelas Naruto dengan nada perhatian.

Sasuke tersenyum tipis," Ah, tidak nan- ehem ehem" Sasuke tidak melanjutkan bicara karena suaranya semakin habis.

" Suaramu habis 'kan, makanya jangan banyak omong!" kata Naruto dengan nada mengejek sambil terus mengaduk bubur.

Sasuke sebenarnya ingin membalas Naruto tapi berhubung tenggorokannya sakit jadi tidak bisa. Malas ngomong. Padahal dia sendiri kepingin nanya yang macam-macam sama Naruto. Tapi tetap tidak bisa, jadinya Sasuke hanya bisa duduk dan mendengar juga melihat.

Melihat? Apa yang dia lihat? Oh, tentu Naruto. Naruto yang hanya mengenakan kemejanya dengan boxer, boxer yang sangat pendek, sama saja boxer itu ketutupan sama kemeja yang dikenakan Naruto. Naruto manis juga. Terlihat pintar memasak, dalam arti belum terbukti 'kan. Mungkin bisa jadi calon istri yang baik.

" Sas?" sahut Naruto yang sudah meletakkan semangkuk bubur hangat buatannya di meja makan.

Sasuke hanya meng 'hn' seperti biasa lalu mengaduk bubur itu. Diaduk terus, tidak di makan.

" Kok buburnya tidaak dimakan?" tanya Naruto yang barusan selesai menelan buburnya.

Sasuke melihat Naruto sebentar. Memastikan bahwa bubur yang Naruto masak tidak berbahaya. Ternyata setelah menelan bubur itu, Naruto tidak mengalami apapun. Dengan terpaksa, Sasuke akhirnya menyantap buburnya.

Reaksinya, ' lumyan.' Selalu hanya lumayan dan buruk. Itu saja.

" Bagaimana?" Naruto langsung meminta komentar.

Sasuke berdehem, " lumayan." bisiknya pelan.

" Kau sakit tenggorokkan ya?" tanya Naruto khawatir begitu melihat Sasuke menelan bubur dengan raut wajah kesakitan.

Sasuke mengangguk pelan, lalu menyendokan satu suap bubur lagi ke mulutnya.

" Makannya sedikit saja. Nanti mandi, lalu tidur lagi. Biar kusiapkan air hangat." kata Naruto, sok bisa. Seperti ibu-ibu saja.

Sasuke hanya bisa menurut. Dia menghabiskan seperemat dari buburnya, lalu dengan hati-hati minum segelas air mineral hangat yang sudah dipersiapkan Naruto, dia menegak air itu hati-hati, karena meresa kesakitan begitu ada benda melintas di tenggorokannya.

Naruto sudah menghabiskan buburnya lebih dulu dan langsung menyiapkan air hangat untuk Sasuke mandi. Sekarang Sasuke menuju ke kamarnya, langsung mendengar suara gemricik air yang di sebabkan oleh Naruto yang sedang mengisi air di bathtub.

Sasuke memasuki kamar mandi lalu meletakkan handuk. Dia melihat Naruto yang sibuk dengan keran dari tadi.

" Menurutmu, ini sudah cukup hangat?" tanya Naruto sambil masih fokus pada air di bathtub itu.

Sasuke memasukan tangannya ke dalam bathtub yang berisi air itu. Sangat panas untuknya.

" Hah, panas sekali." kata Sasuke dengan suara yang serak.

" Oh, aku tambahkan air dingin dulu." ujar Naruto, lalu berdiri dari posisi jongkoknya menjadi berdiri lalu membungkuk membelakangi Sasuke, sehingga paha Naruto terlihat sedikit.

' Wow, amazing.' Sasuke sedikit merona merah.

" Coba, masih kepanasan tidak?" kata Naruto lalu kembali berdiri tegak.

Sasuke menyadarkan diri dari lamunannya, kemudian memasukan tangannya ke dalam bathtub, " sudah, sudah cukup hangat."

" Baiklah, selamat mandi." kata pria rambut kuning itu lalu beranjak keluar dari kamar mandi cepat-cepat, sebelum melihat Sasuke membuka bajunya.

Saat Naruto berjalan melewati Sasuke, Sasuke memegang pergelangan tangan Naruto," tunggu!"

" Ada apa?" Naruto berusha untuk bersikap manis.

" Kau, sudah mandi?" entah apa maksud Sasuke bertanya begitu. Mungkin mengajak Naruto mandi bersama?

" Eh? Belum, nanti saja." jawab Naruto lalu dengan cepat dia keluar dari kamar mandi.

Sasuke mengunci pintu kamar mandi lalu melepas bajunya. Dengan lekas seluruh badannya sudah merasakan hangatnya air, matanya terpejam, otaknya sedang berpikir macam-macam, mulai dari pekerjaan, keluarganya, dan juga Naruto. Berendam air hangat tidak terlalu Sasuke suka, dia lebih suka air dingin. Tapi sepertinya dia sedang membutuhkan air hangat sekarang.

Pekerjaan, yah, karirnya akhir-akhir ini membaik, tapi dia masih belum bisa akrab dengan Gaara patnernya yang aneh itu. Gaara selalu diam, tp saat diskusi dia paing hebat berbicara dibanding dengannya, tidak beda jauh sih. Tapi tetap saja dia sepert dikalahkan oleh Gaara. Oh, iya, dia juga belum telphone ke kantor kalau dia tidak bekerja. Urusan nanti lah.

Keluarga, tentu saja, kakaknya yang punya masalah besar dengan keluarganya. Kabur begitu saja membawa pacarnya pergi ke Tokyo, Itachi Uchiha, itu namanya yang dulu, sekarang menjadi Naburo Matsuda. Dia mengganti semua identitas itu sendiri, repot-repot mengganti identitas hanya untuk, cinta. Hanya Sasuke yang tau semua itu. Hanya dia, dan Naruto. Naruto, karena dia keceplosan saja, jadinya dia tahu.

Naruto, entah kenapa jadi memikirkan dia. Sasuke tau kejadian kemarin malam itu dikarenakan dia mabuk. Tapi terasa menyenangkan, tentu menyenangkan, semua kalau melakukan itu terasa menyenangkan. Tapi Sasuke merasa bahwa saat itu, Naruto hanya miliknya. Miliknya seorang. Pagi ini juga, sikap Naruto berubah total-mungkin-padanya. Terlihat lebih peduli. Apa itu karena ciuman mautnya tadi malam?

" Uwaaa, hah, haah. Uhuk, uhuk. Akh!" tanpa sadar Sasuke tertidur dan kepalanya masuk ke dalam air tanpa sadar. Ketiduran kok di bathtub.

Sasuke melihat kedua telapak tangannya yang sudah mulai berkerut. Dia memutuskan untuk bilas lalu ganti baju, tidur lagi deh.

Setelah bilas, dia mengambil handuk yang di gantungkannya tadi di handle pintu, lalu mengelap semua bagian tubuhnya, dari kaki sampai kepalanya yang basah, setelah merasa kering dililitnya handuk itu di pinggulnya.

Sasuke keluar kamar mandi, pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah, Naruto sedang tidur di ranjangnya. Sasuke tersenyum kecil.

#

" Kau, sudah mandi?" entah apa maksud Sasuke berntanya begitu. Mungkin mengajak Naruto mandi bersama?

" Eh?" Belum, nanti saja." jawab Naruto lalu dengan cepat dia keluar dari kamar mandi.

Terdengar Sasuke menguci pintu kamar mandi, membuat Naruto bernafas lega, karena dia tidak perlu melihat Sasuke melepas baju. Pemandangan macam apa itu?

Naruto duduk di ranjang Sasuke yang, menurutnya empuk itu. Maklum lah, " nyaman sekali tidur di sini. Pasti bantal, guling, kasur, dan sprei ini kalau ditotal lebih dari sepuluh juta."

Lalu Naruto merebahkan diri di ranjang itu tanpa sepengetahuan yang punya. Lalu dia mulai meratapi lagi nasibnya, mulai dari ayah, tempat tinggal dan Sasuke. Sungguh beban yang berat.

Ayah, mau makan apa dia kalau hanya bekerja sebagai pemotong rumput. Tentunya Naruto harus membantu Ayahnya, dengan cara mengirim separuh gajinya. Berapa gajinya? Tidak cukup untuk biaya hidupnya di Jakarta. Sementara, Ayahnya berpikir bahwa kerjaan Naruto lumayan, jadi tidak apa merepotkannya sedikit. Haah, Naruto, dia harus berbohong. Kasihan.

Tempat tinggal, di kolong jembatan, kalau Ino dan Sai tidak bersedia menampungnya. Sujud syukur kalau teman yang baru di kenalnya ini berbaik hati kepadanya. Kata Ino sih, untuk berbalas budi karena Naruto sudah menyelamatkan hidupnya. Oh, Ino pernah mau bunuh diri karena salah paham. Lalu Naruto menceritakan yang sebenarnya disertai bukti-bukti, coba kalau tidak, sudah tidak ada lagi Ino sekarang.

Sasuke, terkejut Naruto, tiba-tiba ada Sasuke dalam otaknya, berkeliaran kesana-kemari. Semenjak Naruto ditolong Sasuke waktu itu, dia jadi lebih sering memikirkannya. Sekarang juga dia sedang merawat Sasuke, maunya sih untuk balas budi, tapi entah maksud hatinya. Mungkinkah?

Haah, Naruto tidak mau ambil pusing, jalani saja semua perlahan-lahan. Lama-kelamaan Naruto menutup matanya dan nafasnya mulai teratur, menandakan bahwa dia tertidur.

#

' Tertidur? Sembarangan sekali dia tidur di ranjangku. Ah, mungkin dia lelah.' batin Sasuke. Dia lalu mengganti bajunya dengan baju yang sudah dia persiapkan sebelum mandi lalu mengambil laptop, untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia lalu mengambil remote AC lalu menyalakannya. Setelah itu mengambil posisi di sebelah Naruto yang sedang tertidur, memandangnya sejenak. Lalu menyelimutinya dan mengecup kening Naruto.

Sasukepun melanjutkan pekerjaanya tanpa peduli bahwa dia sedang sakit bukannya beristirahat tapi malah kerja. Dasar workaholic.

#

Tik tik tik

Naruto mendengar suara ketikan, dia menggeliat perlahan. Akhirnya Naruto mulai tersadar dari tidurnya. Menatap orang di sebelahnya yang sedang sibuk mengetik.

" Sudah bangun rupanya." kata pria itu dengan suara seperti orang tercekik.

Naruto membulatkan matanya begitu melihat Sasuke sedang sibuk bekerja, bukannya tidur, " hei kau! Kenapa tidak beristirahat saja?"

Sasuke tidak membalas pertanyaan Naruto, karena malas bicara, mau bunuh diri memangnya.

" Bukannya dijawab!!" Naruto makin kesal, karena Sasuke terlihat seperti mengacuhkannya.

" Oke, aku tahu, kau tidak bisa bicara. Tapi kau 'kan sudah dewasa, masa' tidak bisa mengerti keadaan badan sendiri!" maki Naruto.

Sasuke menarik nafas tanpa bicara dia menutup laptopnya. Daripada nanti laptopnya dibanting Naruto. Lalu mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu di situ.

kau tadi tidur dimana?

Naruto membaca tulisan itu lalu menjawabnya," di sini, hehehe.

sopan?

" Maaf, tapi 'kan tadi aku sangat lelah."

berapa jam?

" Hm.. dua jam." jawab Naruto sambil melihat jam dinding.

kau belum mandi.

" Hua, iya, ya. Pantas saja, bau."

mandi sana! dan masak makan siang, sudah jam 12 ini.

" Ah, iya. Tunggu", Naruto lalu dengan lekas turun dari ranjang tapi berbalik lagi," tidur dulu, Sasuke!"

Sasuke tersenyum,' sungguh aku tersenyum bahagia baru kali ini, setelah kepergian Itachi.'

Lalu Sasuke meletakkan kepalanya di bantal dan memejamkan matanya.

#

" Bagaimana?" tanya Naruto.

Sasuke mengangguk kecil. Tandanya 'ya, lumayan'.

" Maaf tadi aku banguninnya kasar. Apa abis ini mau tidur lagi?" Naruto khawatir.

Sasuke menggelengkan kepala.

" Lalu, kau mau ngapain?" tanya Naruto bingung.

Sasuke berdehem, " Nonton DVD saja."

" Mau nonton yang mana?" Naruto mulai semangat.

Sasuke menuju ruang TV lalu membuka laci dan mengeluarkan DVD original yang berjudul Mr and Mrs Smith. Sasuke memasukan keeping DVD itu ke dalam player. Naruto menyusul Sasuke dan duduk manis menonton film itu dengan. Melihat adegan Angelina Jolie dengan handalnya bertarung. Film yang bagus menurut Sasuke, lebih bagus lagi kalau jadi Mr and Mrs. Uchiha, mungkin bakal lebih keren.

" Sasuke, maksud film ini apaan sih?" tanya Naruto dengan muka tak berdosa.

Sasuke diam saja, males ngejelasinnya. Capek. Makan ati. Pasti nggak ngerti-ngerti juga kalo dijelasin.

" Sas, maksudnya apaan?" Naruto terus bertanya.

Sasuke tetap diam, berhubung males banget ngomong.

" Ssst." hanya itu yang dikatakan Sasuke.

" Tapi nanti jelasin!" ancam Naruto.

" Hn."

Mereka melanjutkan acara menonton dalam hening. Naruto kelihatannya belum mengerti sama sekali tentang film ini. Sasuke sdar nanti Naruto pasti minta dijelasin. Akhirnya Sasuke mengambil kertas dan menulis ini dari cerita ini.

#

Film pun berakhir, sebelum Sasuke direcokin Naruto minta jelasin, dia sudah menyiapkan kertas,"nih!"

" Ah, iya, iya. Kau tahu juga. Tidur saja, kau 'kan harus banyak istirahat." nasehat Naruto.

Sasuke berdehem, " Kau, mau tidur dimana?"

" Di sofa." jawab Naruto disertai cengiran lebar khasnya.

" Aku masih ada tiga kamar tidak terpakai. Yang satunya buat maid sih." jelasnya dengan suara menyedihkan.

" Oh, ya, sudah. Gampang lah. Kau tidur saja dulu!" kata Naruto.

Sasuke langsung berjalan menuju kamarnya, kali ini dia bena-benar mengantuk. Begitu Sasuke sudah setengah tertidur G 900nya bergetar. Dengan malas dia mengambil Handphonenya.

Berdehem dulu," Halo."

" Sasuke ini aku." kata orang itu. Yang sepertinya sudah saling kenal.

" Hah? Itachi!" spontan Sasuke kaget.

Chapter seven [Finish]


hue ada itachi, aneh gaaa??? ah, minta reviewnya doong, plissss... yyyaayaya... spii nih, malah ramean yg The Legend of Vampire, br bwt chap 2nya, kaga niat -ditendang-

eh, FFn tmabh keren yak, mau submit reviewnya.. hhe

yg mau ficnya saya review bs blg kok... arigatou!