Enigma

Disclaimer: Death Note is the property of Ooba Tsugumi and Obata Takeshi.

Summary: Sebagai bagian terbesar dari mozaik hidup Near, L dan Mello adalah keping-keping yang paling berharga untuk dikenang.

Meski terbentuk koneksi spesial antara Near dan Mello, keduanya masih anak-anak, jadi tidak akan ada kejadian yang provokatif (setidaknya untuk saat ini) ;)

Proudly dedicated for my senpai, Rin-chan a.k.a GoodBoyTobi whom I very fond of. Her optimistic heart and massive sense of humor always brighten my day. Sis, thanks for those insightful rambling we'd shared. They've ignited my spirit to continue this. XD

Para pembaca tercinta, jangan lupa kunjungi infantrumdotcodotnr, rumah semua author fanfiction berbahasa Indonesia, ya! :D

Enjoy!


"Cinta bersifat subjektif. Kita tidak mencintai manusia nyata, hanya manusia yang kita ciptakan dalam benak kita.''

-Marcel Proust-


4th Act: Poisonous Past

"Sepertinya kau sudah bertemu dengan anak itu, L."

L tertegun. Sebelah tangannya masih berada di kenop pintu kamar Near. Dia berbalik dan mendapati seorang pria tua berkumis putih tebal, bibirnya tertekuk dalam senyum ramah penuh pengertian. Tubuhnya yang sudah dimakan usia masih terlihat elegan dalam balutan tuksedo hitam dan dasi kupu-kupu.

"Watari," balas L, kemudian menyusupkan kedua tangannya dalam saku jeans dan berjalan menjauhi kamar Near. Watari mengikutinya tanpa diminta. Keduanya menaiki tangga bersisian, menuju lantai empat di mana kantor Watari berada.

Sekilas, kantor itu terlihat seperti ruang kerja biasa, bercat krem muda dengan perabotan dari kayu mahoni yang dipernis hingga mengilap. Sebuah meja kerja berwarna cokelat tua terletak di tengah ruangan. Di sisi kanan-kiri ruangan terdapat rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga nyaris menyentuh langit-langit. Perapian elektrik langsung menyala setelah Watari menekan remote control dengan satu sentuhan. Suara berderik-derik merambat ke penjuru ruangan, seolah melantunkan nada rintihan kayu bakar yang dilalap api.

Karpet Persia terhampar menutupi lantai marmer. Di sudut ruangan terdapat jendela kaca besar berbentuk oval yang berfungsi sebagai penghubung untuk mengawasi dunia luar, menampakkan pemandangan di halaman belakang panti asuhan. Hamparan padang rumput menumbuhkan semak perdu serta ilalang setinggi lutut. Setelah bentangan area yang biasa dipakai anak-anak untuk bermain itu berakhir akibat dipotong oleh aliran sungai kecil yang mengalir tenang, masih dapat terlihat dengan jelas gereja kuno yang berdiri di puncak bukit. Temboknya kusam dimakan waktu, namun tetap kokoh, bertahan melawan penuaan. Pagaran perisai dari pepohonan membentuk hutan kecil yang tumbuh merayap di lekukan tanah landai perbukitan.

Dari segi eksterior, L tahu, Wammy's House tidak banyak berubah. Nyaris konstan dengan segala keteraturan dan proteksinya dari dunia nyata. Meskipun dia sadar sepenuhnya, tekanan pasti datang—tekanan yang timbul akibat persaingan bisu tanpa kata dari penghuni-penghuninya untuk menduduki puncak dunia spionase yang saat ini berada di dalam kuasanya.

Sejarah selalu menemukan cara tersendiri untuk menyampaikan maknanya. Tak pernah lelah untuk mengulang kenangan lewat seribu tipu daya.

Watari duduk di kursi tegak berpunggung tinggi yang menghadap meja kerja, sedangkan L duduk di sofa bundar empuk di sisi jendela. Kedua lutut ditekuk, rapat menutupi tubuh. Seraya menggigiti ibu jarinya, kepalanya tetap dalam posisi menunduk, berpikir dan menganalisa. Jengah dirantai ganjilnya kesunyian, Watari menyibukkan diri dengan membuka laptop, menelusuri file yang berisikan data personal seluruh jenius yang menjadi kandidat pewaris L. Jari-jarinya yang telah keriput dan berbonggol dengan lincah menari mengetuk-ngetuk keyboard, meski matanya tak mampu berkhianat, tetap tertuju pada L. L masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, sampai-sampai detektif brilian itu tak tergoda oleh aroma cake aneka rasa yang tersaji di meja yang tak jauh dari tempatnya berada. Setelah beberapa saat berlalu dalam keheningan total, Watari memutuskan untuk memulai pembicaraan.

"Bagaimana?" tanya pria tua itu. "Near… bukankah kau sudah bertemu sendiri dengannya di parade Halloween tadi?"

"Anak yang menarik," jawab L ambigu, menolak berkomentar lebih jauh dan membeberkan analisisnya mengenai Near. Belum waktunya. "Sedikit terguncang, tapi Near akan tumbuh dengan brilian begitu dia mendapatkan latihan seperti anak-anak lain yang sudah lebih dulu dididik dengan metode yang kau temukan."

"Aku setuju," Watari berkata sambil tersenyum. "Kelihatannya kandidat-kandidat terbaik mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan, menurut laporan yang dikirimkan Roger beberapa waktu lalu. Near bisa menyaingi posisi tak terpatahkan yang dipegang Mello hanya dalam waktu sebulan. Matt menyusul di tempat ketiga setelah Mello, dan perubahan ini tampaknya menjadi pemicu semangat kandidat lainnya untuk bersikap lebih kompetitif. Sejauh ini semuanya berjalan lancar."

"Sepertinya begitu. Near memang punya kualitas tertentu yang patut dibanggakan—analitikal, akurat, berorientasi logika. Mello pun merupakan aset berharga—cerdas, tangguh, independen. Anak-anak itu masih punya waktu untuk berkembang sebelum pantas mewarisi titel L. Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah menunggu dan mengamati. Saya tidak ingin memasang spekulasi terlalu tinggi sampai semuanya pasti. Tidak ada yang pasti bila berhubungan dengan pribadi seseorang, Watari. Bukannya tidak menghargai semua usahamu, tapi saya tidak ingin terlalu berharap. Cepat atau lambat, kebenaran pasti terkuak juga." L mengakhiri ucapannya, kedua matanya beralih menelusuri lantai, tidak menatap kedua mata Watari.

Kata-kata yang terlontar dari bibir L tampaknya mempunyai dampak tersendiri bagi Watari. Dia berhenti mengetik, memandang L dengan campuran emosi yang teraduk-aduk. Alis lebatnya yang kini memutih bertaut erat. Aura di dalam ruangan yang sesaat tenang dan ringan dalam sekejap berubah menjadi menekan dada. Mencoba memancing L untuk menjabarkan lebih jauh, Watari menukas, "Kau masih saja memikirkan tentang mereka, setelah semuanya usai?"

Tercenung sejenak, kedua pupil mata L melebar kala keping-keping tajam mozaik masa lalu seolah menghunjam nuraninya.

"Keberadaan mereka, bagaimanapun juga, pernah menyita perhatian saya, persis seperti yang terjadi sekarang," papar L. Suaranya menegang, dan dalam usahanya menahan kecamuk kalbu, L mencengkram lututnya begitu dalam hingga buku-buku jarinya semakin memutih. "Dan belum sepenuhnya usai, Watari. Masih ada yang belum saya tuntaskan karena saya kehilangan jejak sepenuhnya. Itulah kesalahan terbesar yang tidak bisa saya maafkan, bahkan hingga saat ini."

"Bukan salahmu," sangkal Watari tangkas, tersirat nada iba dalam suaranya meskipun roman mukanya masih menyiratkan ketenangan seperti sebelumnya, pertanda terjaganya kontrol mutlak akan diri sendiri. "Mereka yang memilih jalan hidup seperti itu. Kau sudah tahu sedari awal mengenai riset pengembangan kepribadian yang tengah kukembangkan kala itu. Kau bahkan memberiku dukungan penuh untuk melanjutkannya. Tanggung jawab ada padaku sepenuhnya," simpul Watari tegas. Kini raut wajah pria itu terlihat getir menahan dosa masa lampau. "Kau tidak perlu ikut terbebani karena kesalahan fatal yang sudah kulakukan. Aku yang memperlakukan mereka seperti itu—bahkan aku yang mengasumsikan mereka juga akan gagal pada akhirnya."

Selama beberapa saat, L menatap Watari—dalam, menelusuri, mencari, mengeksplorasi berbagai probabilitas yang masih bisa terbaca olehnya. Dia kembali menggigiti jempolnya saat menyadari tak ada kepedihan yang lebih besar lagi selain kembali terbukanya torehan luka yang pernah dijahit secara paksa. Watari pun tak bisa lepas dari jerat setan yang dirancangnya sendiri, apalagi kenyataan membuktikan bahwa pintu masa lalu tak pernah benar-benar tertutup sepenuhnya.

"Keduanya adalah prototip dari diri saya, dua bayangan yang diharapkan bisa berdiri sendiri seutuhnya. Namun, bayangan tidak akan pernah berhasil menjadi tubuh yang sesungguhnya, karena tidak punya identitas nyata untuk memulai. Semua hanya dilabeli berdasarkan kemampuan dan alias. Pribadi yang sesungguhnya dikubur dan hanya boleh tertinggal dalam memori. Karena itulah eksperimen rahasia itu gagal dan merusak keseimbangan mental mereka."

Watari terdiam. L menganggap bungkamnya mulut tulang punggungnya itu sebagai tindakan afirmatif yang menegaskan arti kata-katanya. Pribadi jenius pun mempunyai konflik batin tersendiri yang tidak akan bisa dirasakan dengan jelas kecuali oleh sesamanya. Lelaki muda bermata kelam itu tak keberatan mengakui mereka berpijak di jalan kelabu yang sama. Tak ada hitam dan putih, keduanya berbaur dalam rangkaian aksi dan visualisasi. Pilu namun indah dengan caranya sendiri, kepolosan dan keserakahan bercampur-baur tanpa penghalang berarti ketika manusia mulai dikuasai ambisi.

Berat untuk mengakui kesalahan, apalagi di pihak seorang ilmuwan perfeksionis seperti Watari. Ibarat pil pahit yang harus ditelan si pesakitan setelah menyadari dirinya terjangkit wabah mematikan.

Manusia bukan pencipta, melainkan ciptaan. Bermain-main dalam hal penciptaan dan permainan jiwa manusia setara dengan menginvasi wilayah suci Tuhan.

L tidak percaya Tuhan itu ada. Baginya, gagasan akan kekuatan metafisika yang bertindak sebagai penggerak roda gerigi alam semesta tetaplah absurb, penuh teka-teki dan irasionalitas. Meskipun L juga menelaah dengan cermat berbagai teori-teori agama selama masa kecilnya, namun hatinya tak juga terketuk akan keberadaan Tuhan.

Bila Tuhan memang ada, Dia tetap tidak akan menguak semua rahasia. Semua aspek dibiarkan kabur, abstrak, abu-abu dan pekat, membiarkan manusia tertatih-tatih mencari secercah kebenaran, pikirnya.

L berhenti menggigiti jempolnya, menurunkan kedua tangannya hingga mendarat di tempurung lutut. Setelah keheningan yang menghimpit, dia mengangkat kepala dan menampilkan raut wajah tertegas yang pernah Watari saksikan selama ini.

"Mereka memang bukan saya. Ironisnya, mereka kehilangan diri sendiri justru karena ingin menjadi saya. Kita telah kehilangan dua jiwa paling cemerlang," L memberi penekanan pada kalimat terakhir. Sorot matanya gelap, kelam yang tidak lagi hangat dan sakral, namun dingin. Berkabut kelabu.

Dengan gerakan lincah, L melompat turun dari sofa, berjalan menuju pintu keluar. "Saya ingin berbincang dengan Roger sebentar soal perkembangan anak-anak selama saya absen. Roger pasti punya banyak informasi yang tidak boleh saya lewatkan."

Merasakan tangan kanannya tidak seresponsif biasanya, L menoleh, mengakibatkan kedua pasang mata itu bertemu pandang. Watari masih duduk di kursi, kedua tangannya menopang dagu, postur tegak beraura digdaya, pandangan mata waspada dan agung. Dunia tidak akan tahu guncangan apa yang telah menghantamnya. Cacat dan noda adalah ketidaksempurnaan yang haram untuk tersibak ke permukaan, tunas-tunasnya tidak boleh dibiarkan berkembang, hanya boleh dipendam dalam-dalam hingga membusuk dan mati.

"Selamat malam, Watari."

Watari mengangguk khidmat. "Selamat malam... L."


Babak baru dramatisasi yang dihantui noda masa lalu telah dimulai secara absah.

Waktu telah memberi L dua petarung utama. Ksatria penuh determinasi yang berpijar brilian dan ahli strategi dengan kemampuan deduksi luar biasa. Dunia luar adalah medan perang yang sesungguhnya.

Tangan takdir telah mempertemukannya dalam satu momen penentuan dengan dua pengganti gemilang—penerus yang menjadi mata rantai kokoh penyambung mimpi-mimpinya. Menghadapkannya untuk menyelami lautan harta karun yang bersemayam di dalam diri Mello dan Near.

Bukankah dunia adalah suatu gugusan misteri yang maha sempurna, hingga manusia pun tak kuasa bila terhanyut dan terpikat oleh labirin menyesatkan di dalamnya?


Dibimbing oleh naluri, Near terbangun tepat ketika matahari mulai menembus awan-awan yang bergumpal keperakan di langit. Dia mengucek kedua matanya dengan ujung jemari, lalu menyibakkan gorden linen putih yang menjuntai hingga menutupi sisi tempat tidurnya. Near kemudian membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin pagi mendaratkan kesejukan di kulit wajahnya. Cahaya matahari yang bersinar sontak menyeruak ke dalam kamar, menerangi setiap sudut dengan pendar berkilauan. Near menghirup udara dalam-dalam hingga memenuhi paru-paru, kemudian menghembuskannya, pelan, terkendali. Harum embun dan rumput menyambangi hidungnya, meringankan hatinya.

Melempar pandang pada jam di dinding, Near beringsut turun dari tempat tidur, mengambil handuk, dan berjalan masuk ke kamar mandi, Dia bergegas karena tidak ingin terlambat masuk ke ruang makan, yang pasti akan mendulang perhatian dari kepala-kepala penasaran yang lebih dulu hadir di sana. Perlahan Near membuka kancing bajunya, kedua mata menatap ke cermin wastafel yang dipenuhi bercak air. Dia terkesiap kaget ketika menyadari beberapa kancing lepas, namun segera menentramkan debur hatinya kembali.

Pasti karena insiden tadi malam, pikirnya. Near terlalu kalut saat itu, terlalu dibelenggu kecemasan hingga tak memperhatikan seberapa kacaunya penampilannya di akhir parade. Mengkerut dicengkram kelu, dia merinding. Bibirnya bergetar mengingat sensasi ganjil yang merayap menelusuri kulitnya ketika tangan-tangan kejam itu menggerayangi tubuhnya tanpa ampun. Rasa dingin menjalar di tulang punggungnya, dan selama beberapa saat Near terpaku menatap bayangannya di cermin. Rambut sewarna salju. Kulit pucat, nyaris tanpa sentuhan warna. Lekukan tulang yang menonjol di bahu. Bibir tipis dan mungil, hampir tak pernah melontarkan tawa. Kedua mata yang acapkali terlihat kosong, seolah jiwa pemiliknya tidak lagi berikatan dengan emosi dan gelora rasa.

Near menghela nafas, ingin segera mengenyahkan rasa janggal ini tanpa menunda lagi. Maka dia memutar keran, membiarkan derai air pancuran yang hangat membasuh tubuhnya. Selama beberapa saat Near memejamkan mata, menikmati kehangatan yang mengalir melewati lekukan tubuhnya, namun suatu visi mengerikan menginterupsi kedamaian yang coba dihadirkannya. Daya ingat terkadang bisa berbahaya, membunuh mekanisme pertahanan terhadap masa lalu yang ingin dikuburnya dalam-dalam. Tanpa disadarinya, keningnya berkerut dalam ketika beribu macam pandangan dan tatapan berputar seperti desingan roda di dalam kepalanya.

Kilasan balik memori kembali menghantui jalan pikirannya, meski dia tak menghendakinya sama sekali. Menghadirkan pusaran warna kabur yang mengecoh daya penglihatan.

Merah, hitam, putih.

Hanya ada merah, hitam, putih.

Kemegahan senja dengan semburat warna luar biasa, ditimpali gemericik air, harum masakan rumah dan dua pasang lengan yang merengkuh tubuhnya dengan protektif—ya, itulah yang terakhir kalinya; itulah satu-satunya keping kebahagiaan yang menghinggapi relung kenangannya, karena setelah itu tidak ada lagi senyum, tak ada lagi tawa. Segalanya berganti merah yang membakar, merah yang merusak, merah yang beracun dan menusuk. Berganti menjadi berbagai bentuk keganjilan: kedua pupil yang berat, teduh memayungi dua pasang mata yang merah karena alkohol, menatap nyalang padanya. Kuku-kuku tajam berlapis cat kuku merah murahan yang terkelupas di ujungnya. Gaun merah menyala yang berkibar anggun, ujung-ujungnya menyentuh lantai, membalut tubuh wanita di dalamnya; wanita yang menyanyi-nyanyi kecil setiap malam menjelang, mematut diri secara seksama di depan cermin, sebelum meninggalkan Near hingga fajar merekah.

Hitamnya malam. Hitamnya gelap. Hitamnya penolakan dan keacuhan, mendatangkan sunyi dan sepi. Langit yang menghitam, awan yang bergulung-gulung pekat, menghantarkan badai. Hitamnya hidup setelah kebahagiaan sirna. Kotor karena ternoda. Tak diinginkan, ditatap dengan pandangan remeh dan melecehkan. Bagi mereka, dia hanyalah hitam. Hanyalah onggokan kosong tanpa makna. Eksistensi yang terlanjur rusak dan pantang dibiarkan mengecap sedikit penghargaan tulus. Sosok rapuh yang tak mungkin berpijak sendiri. Cacat yang hidup, nyata, dan bernafas. Seharusnya dienyahkan. Mengapa? Bukan salahnya. Lebih kepada siapa dia berorangtuakan. Tudingan-tudingan tidak sedap kerap menghampiri, menuduh anak yang—menurut mereka—tak jauh bedanya dengan rahim yang melahirkannya. Mereka tidak pernah ingin melihat dengan mata terbuka; menolak melihat keputusasaan dan kegetiran yang membayang di pantulan kedua bola mata kelabu milik Near.

Namun, setelah lama menanti tanpa pernah berharap, putih datang. Meski hanya berwujud secercah cahaya, namun mampu menembus lorong-lorong gelap pikiran. Mampu membawa hatinya kembali percaya pada keajaiban yang nyaris mustahil terjadi. Putih yang bersemayam dalam diri lelaki kurus bermata kelam—kesempurnaan yang bernyawa. Near sesungguhnya tidak ingin terlalu berharap. Tetapi, sukar untuk menyangkal perasaan syukur dan kelegaan yang merebak di rongga dadanya setelah L hadir melengkapi konstruksi mozaik hidupnya. Mustahil untuk tidak mengagumi kecemerlangan pikiran dan keluasan hati yang ditawarkan L padanya. Near, pada akhirnya, takluk mengakui kharisma yang terpancar dari pribadi L. Lebih dari itu, suatu rasa kasih yang lembut perlahan tumbuh semenjak malam pertemuan mereka—kasih tulus karena L memandangnya secara utuh, bukan sebagai wajah tak bernama yang tersesat, namun sebagai Near. Sebagai dirinya yang sesungguhnya.

Sapuan air pancuran yang kini semakin deras menyadarkan Near dari lamunannya. Dia membuka mata, melihat uap panas mulai mengepul menutupi lantai. Akibat terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri, Near baru saja menyadari sengatan rasa sakit yang bersumber dari tempurung lututnya. Terdapat goresan luka kemerahan yang belum menutup sepenuhnya. Bagaimana persisnya urutan peristiwa saat Near berusaha kabur dari kejaran para pria pemabuk itu kembali menerbitkan rasa jijik dalam dirinya. Geram, Near menggosok sekujur tubuhnya hingga meninggalkan rona kemerahan, marah pada ketidakberdayaannya. Dia terus menggerus, kulitnya terasa perih, namun Near tidak berhenti sebelum dia merasa lebih baik. Seandainya saja air dan sabun mampu mengentaskan segala kekotoran yang melekat di dirinya, dia tak perlu bersusah payah membentengi pikirannya dari serangan kenangan buruk.

Nyaris setengah jam dihabiskan Near untuk membersihkan diri sebelum akhirnya dia memutuskan keluar dari kamar mandi. Mengeringkan tubuh dan rambutnya dengan handuk, memakai piyama putih bersih yang sudah terlipat rapi di lemari pakaian, memakai kaus kaki wol dan mengikat tali sepatu putihnya (bagaimanapun, Roger tidak akan menolerir jika dia bertelanjang kaki sepanjang hari tanpa alas kaki—suhu udara sudah mulai menurun mendekati akhir tahun). Near kemudian meraih buku-buku pelajaran yang diperlukannya untuk kelas-kelas hari ini, mendekapnya dengan satu tangan.

Ketika dia menutup pintu kamar, terdengar keriuhan semarak dari kamar sebelah. Juga kamar di sebelahnya lagi. Tampaknya dua penghuninya sedang berusaha melakukan adu teriak. Rentetan balasan terucap silih berganti, dan makin lama dilontarkan dengan nada yang semakin tinggi.

"—sudah kubilang, Matt, aku tidak melihatnya!"

"Tapi seharusnya di sini, aku meletakkannya di meja, dan saat itu cuma kau yang datang ke kamar untuk mengambil bukumu yang kupinjam, Mello—dasar keras kepala…"

"Yang benar saja! Tidak ada untungnya bagiku mengambil game yang baru kau beli seminggu lalu," Mello balas berteriak, berang sekali.

"Ayolah, aku benar-benar tidak bisa menemukannya di mana-mana, mungkin kau lupa lalu—"

Ucapan Matt dipotong seketika oleh bantahan dari Mello. "Idiot, sudah kubilang aku tidak mengambilnya!"

Pintu kamar Mello menjeblak terbuka. Jenius berambut pirang keemasan itu keluar dengan langkah-langkah sigap, sebatang besar cokelat terjepit di mulutnya. Mello sudah berpakaian sebagaimana biasanya—jeans longgar dan kaus hitam panjang—meski rambutnya masih sedikit kusut. Tak lama kemudian, Matt membuka pintu kamarnya, dan Mello berjalan masuk, terus beradu pendapat hingga sulit mengatakan siapa membentak siapa, kemudian terdengar pekikan gembira. Prediksi Near terbukti tepat ketika Mello keluar semenit kemudian, diikuti Matt yang berwajah sumringah, matanya berbinar.

"Nah, sekarang siapa yang lagi-lagi bersikap ceroboh?" tantang Mello, menyeringai penuh kemenangan. Dia menggigit cokelatnya, riuh bergemeretak.

Matt menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sorry, Mello. Rupanya terselip di tumpukan buku lagi." Dia nyengir lebar.

Mello meninju lengan Matt, pelan. "Kau berhutang satu padaku. Sekarang diam di situ dan tunggu aku membereskan kekacauan di kamar," balasnya tangkas, lalu masuk ke kamar.

Matt mengangguk, dan segera setelah Mello masuk, dia menyadari keberadaan Near selang beberapa meter darinya.

"Pagi, Near!" sapa Matt, kedua mata hijau zamrudnya bersinar ramah. Matt tidak menutupi matanya dengan goggle seperti biasa, hari ini dia membiarkan aksesoris itu bertengger di atas dahi. Poni acak dengan potongan tajam terjatuh luwes membingkai wajahnya. Dia menghampiri Near yang sedang mengunci pintu kamarnya.

"Selamat pagi, Matt," Near membalas sopan, mengangguk sedikit.

Tidak terbiasa berbasa-basi, Near kembali bungkam. Matt menunggu, melempar pandang penuh harap, seakan ingin Near mengatakan sesuatu yang bisa membuka percakapan seru untuk menceriakan suasana pagi.

"Saya akan turun ke ruang makan sekarang."

"Oh! Ya, tentu saja, aku juga akan ke sana, tapi aku menunggu Mello, kau tahu," dia mengedikkan bahu, "dia kadang terlambat karena kecerobohanku." Matt tertawa kecil sesudahnya. "Membuat mood Mello kacau di pagi hari bukan pilihan yang baik."

"Dia tidak tampak terganggu," kata Near datar. "Setidaknya dia masih menghiraukanmu."

"Karena kau belum tahu, gampang ngomong begitu," tukas Matt riang, sama sekali tak ada beban. Dia menatap Near selama beberapa saat, lalu garis tawa perlahan lenyap dari bibirnya. "Begini, Near…," Matt berdehem sedikit, "aku merasa tidak enak karena peristiwa Halloween tadi malam. Sebetulnya aku tak bermaksud meninggalkanmu, tapi Mello benar-benar keterlaluan dan aku harus bicara padanya. Well, singkat cerita, aku baru sadar kau tidak ikut mengerjarnya saat aku menoleh ke belakang beberapa saat kemudian. Aku mencoba membujuk Mello untuk mencarimu kembali, dan meski awalnya menolak, akhirnya dia mengikutiku juga. Ternyata kami tak berhasil menemukanmu di tengah keramaian. Aku sempat khawatir kau tersesat. Sampai parade berakhir, aku tidak melihatmu. Bagaimana caranya kau kembali pulang?" Matt melempar pandang bertanya.

Near bersyukur ketenangan raut wajahnya selalu bisa menyamarkan emosi yang tergurat di baliknya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya, Matt. Saya hanya perlu mengikuti ke mana arus parade berhenti, yang ternyata tak jauh dari Wammy's House."

Tidaklah bijaksana untuk membongkar kedatangan L, apalagi di saat seperti ini. L sudah memintanya untuk tidak berkata apapun malam sebelumnya.

Matt tampak lega. "Wah, syukurlah kalau begitu. Kau punya insting yang bagus untuk pulang, rupanya," Matt berkata.

Sebenarnya dia merasa ada sedikit kejanggalan, namun tidak ingin menyinggungnya. Barangkali Near malu dan tidak ingin menceritakannya secara detil. Yah, memang ada sebagian orang yang mudah panik bila terperangkap dalam arus manusia yang berjubel. Matt tidak menyalahkannya bila memang seperti itu. Dia sendiri enggan keluar dari lingkungan Wammy's House tanpa alasan khusus. Namun Halloween merupakan perayaan favoritnya, dan Matt tidak ingin ketinggalan apapun.

"Mungkin saja," balas Near penuh makna.

Tak lama kemudian, nyaris tanpa jeda waktu, Mello keluar sambil membawa buku-buku pelajarannya. Langkahnya terhenti ketika melihat Near dan Matt berdiri bersisian, menunggunya.

"Selamat pagi, Mello," ucap Near hati-hati, dan akibatnya, suara lembutnya mengalun bagai gumaman samar.

Kontras dengan prediksi Near, Mello tidak membentaknya atau meledak-ledak sama sekali. Kedua belah bibirnya terkatup rapat, tenang hingga nyaris mengerikan. Dia menghampiri mereka. "Ayo, kita bisa terlambat."

Matt bertukar pandang tidak percaya dengan Near di belakang punggung Mello, namun menilik kondisi temperamennya kali ini, dia cuma mengangkat bahu, berjalan mengikuti Mello, lalu menuruni tangga dari lantai dua menuju ruang makan di aula yang terletak di lantai pertama.

Sepanjang perjalanan yang dilalui dalam diam, Near tak hentinya menatap punggung Mello yang kokoh dan tegak. Menatap punggung yang selalu bergegas di depannya, seolah tak pernah ingin disusul atau dikejar. Punggung yang ingin diraihnya, namun selalu tak terjangkau, tak peduli seberapa dekatnya mereka terhubung. Rasa ini memang terus mengendap, dikukuhkan oleh penolakan Mello secara frontal terhadapnya.

Bila rasa tak bernama ini menyerangnya, Near terkadang berharap dirinya buta, sehingga dia tak perlu tersihir oleh magnetisme yang terdapat pada sepasang bola mata sebiru langit milik Mello. Tentu saja itu hanyalah impian kosong, karena pada akhirnya, seolah dibimbing oleh tangan takdir, Near selalu menemukan keindahan yang tak terdefinisi di sana. Sekarang dan seterusnya, Mello tetaplah pribadi yang menyimpan perpaduan misteri dan kecemerlangan pikiran. Daya tariknya tiada tara.

Dia tak bisa lagi berpaling. Benaknya tak kuasa menampik sosok Mello dari relung terdalam. Sesungguhnya, Near sendiri tak ingin, dia tahu itu. Adiksi yang memabukkan ini perlahan memangsanya tanpa ampun, mengalirkan racun mematikan yang telah terlanjur merasuk. Dirinya luruh bersamanya, meski Near masih saja tidak tahu mengapa.

Perlukah alasan untuk membuat sesuatu diakui kebenarannya?

Tak tersangkalkan, lautan emosi tak akan pernah habis direguk oleh jiwa yang haus, bahkan jika waktu bisa berputar selamanya.


Denting-denting gelas yang beradu dengan teko, desis roti panggang yang dibumbui aroma harum aneka selai, serta suara ketukan sendok turut mewarnai keriuhan suasana sarapan di aula pagi itu. Dengan riang gembira, setiap anak menikmati sarapan masing-masing, antusias untuk memulai pelajaran yang akan mereka terima, sembari mendiskusikan keasyikan pesta Halloween malam sebelumnya.

Near memilih diam, menunduk memandang roti panggangnya, duduk dengan satu lutut ditekuk. Dia mengoleskan selai dan mentega di kedua tangkup rotinya dengan tenang, sementara teman-temannya berbincang seru, iri sekaligus penasaran pada Mello yang—entah bagaimana—mendapatkan permen dan manisan terbanyak. Aidan dan Jack sepakat bahwa Mello telah mengembangkan semacam metode rahasia untuk memikat hati tuan rumah, yang dibantah oleh Mello sambil tertawa kecil.

"Jadi bagaimana persisnya? Kami cuma mendapat 1 kantung penuh, namun yang kau dapatkan nyaris dua kali lipatnya! Padahal kalau dibandingkan dengan kostummu, kostumku jauh lebih keren!" protes Daniel.

"Heh, justu karena itu," tukas Mello dengan nada penuh kemenangan,"setiap orang punya cara sendiri. Kau dan aku melakukannya dengan cara yang berbeda, hanya itu." Mello lebih memusatkan perhatiannya pada makanan, sibuk melapisi pancake dengan sirup cokelat, kemudian menuangkan jus jeruk dari teko dan meminumnya.

"Hmph,'' Matt berusaha menahan tawa, ekspresinya geli ketika mengulangi kata-kata Mello, "melakukannya dengan cara yang berbeda… sebenarnya sederhana saja, kawan. Yang dilakukannya hanya tersenyum, satu senyum penentuan yang mengubah segalanya."

Mello langsung tersedak dan terbatuk-batuk, dan Near yang duduk di sebelah kirinya segera mengambil serbet dan menyodorkannya kepadanya. Mello menyambarnya seketika dengan satu sentakan sembari berusaha menenangkan deru nafasnya. Matanya berair.

"Kau bercanda, Matt," Aidan menanggapi, skeptis. Jack melempar pandang penuh keraguan, mengangkat sebelah alisnya. Near menatap Matt, menunggu meski dibarengi dengan sikap tak peduli.

"Aku serius," sergah Matt. Dia lalu memasang mimik ramah dalam sekejap mata, menyunggingkan senyum tipis yang dipadukan dengan sorot mata ceria. Senyum yang tergurat bukanlah senyum lepas khasnya, namun senyum yang melukiskan kepercayaan diri dan keberanian; senyum yang menantang, sedikit sombong, namun tetap tidak kehilangan sisi inosennya.

Kedua mata Near sedikit melebar ketika dia menyadari maksud Matt. Seperti itulah senyum yang ditunjukkan Mello, dan yang hampir membuatnya terkejut bercampur kagum, Matt menirukannya dengan cukup baik. Bisa dibayangkannya bagaimana kedua bola mata milik Mello bersinar dengan keyakinan yang tak terpatahkan—kharisma alami yang melekat sempurna di dirinya.

"Paham sekarang? Bahkan senyumku sendiri belum mampu menandingi pesona Mello," sambung Matt merendah. "Bisa ditebak, dia menang dengan mudah, memenangkan hati orang-orang tepat di muka pintu rumah mereka. Ayo, Mello, tunjukkan trik ampuh itu sekali lagi!"

Linda dan Cecilia terkikik geli, menggumamkan sesuatu yang kedengaran seperti, "Yang benar saja…" sedangkan Near segera berlindung dalam diamnya dan memilih tidak terlibat dalam keriuhan itu, meski tak bisa dipungkiri bibirnya melengkung samar, merasa sedikit terhibur.

"Sialan, Matt, kau benar-benar hiperbolis… senyumku tidak sesinting itu," Mello mencibir, melayangkan tinju kecilnya di bahu kiri Matt yang kini tertawa tergelak-gelak bersama Aidan, Jack, dan Daniel. Tidak terima Matt mengolok-ngolok senyumannya. Lagipula, siapa yang merencanakan hal sepele seperti itu? Oke, kalaupun dia memang melakukannya, segalanya dilontarkan secara spontan saja. Jadi, bukan salahnya bila dia sedikit lebih beruntung, bukan?


Senjakala sudah menandai langit dengan alur-alur merah lembayung cerah ketika lonceng menara jam berdentang enam kali, menandakan waktunya pelajaran usai. Semua anak bergegas membereskan buku-buku, melengkapi catatan yang tersalin di papan tulis, kemudian keluar kelas dengan perasaan lega. Satu lagi hari yang melelahkan telah usai. Tidak heran, karena tidak ada waktu untuk bermalas-malasan selama hari belajar aktif berlangsung dari Senin sampai Jumat. Dimulai dari jam 8 pagi dan berakhir pada jam 6 sore, ditambah dengan PR yang harus dikumpulkan keesokan harinya.

Namun, ada pengecualian khusus untuk hari Sabtu. Pada hari ini, setiap individu diwajibkan mengikuti kelas lanjutan dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Sebenarnya kelas lanjutan ini merupakan pendalaman dari kelas dasar yang mereka ikuti dari hari Senin sampai Jumat, hanya saja untuk memasuki kelas khusus ini harus melalui serangkaian psikotes dan analisa kecerdasan secara bertahap. Tujuannya untuk memetakan kekuatan setiap individu secara terperinci, kemudian mengarahkan kelas-kelas apa saja yang harus diikuti demi mempertajam bidang-bidang yang paling mereka kuasai. Walaupun begitu, prosedur ini tidak bersifat mutlak sepenuhnya. Setiap anak juga berhak memilih tiga kelas lanjutan yang ingin mereka ikuti secara bebas, asal diimbangi dengan kemampuan yang cukup memadai.

Meski penuh tekanan persaingan dan jadwal yang padat, tidak berarti hal itu akan menyurutkan tekad Near dan yang lainnya. Biasanya setelah waktu makan malam, mereka yang mendapat PR segera mengulang pelajaran, mengerjakan esai dan soal-soal latihan di kamar masing-masing. Sedangkan yang mendapatkan tambahan tugas ulasan yang cukup panjang akan langsung bergegas ke perpustakaan setelah makan malam bersama di aula, menempatkan diri mereka di antara tumpukan buku-buku tebal bersampul kulit, membolak-balik lembarannya dengan penuh tekad, mengguratkan tulisan di atas kertas dengan cermat, sedikit tambahan di sana, sekelumit informasi di sini. Menerapkan prinsip fleksibilitas demi kemudahan anak-anak asuh, perpustakaan baru ditutup menjelang tengah malam, ketika lampu-lampu kamar mulai dipadamkan dan kepala-kepala mungil mereka sudah rebah di bantal empuk, terbaring di tempat tidur, berselimut tebal untuk menangkal dinginnya malam.

Kesibukan yang hampir tanpa jeda berhasil mengalihkan perhatian Near dari absennya L. Dia tidak pernah lagi bertemu dengan L semenjak malam Halloween beberapa minggu lalu, dan entah kenapa hal itu membuatnya bertanya-tanya sendiri dalam hati, kapan L akan kembali? Near acapkali berbalik menegur dirinya sendiri, sungguh egois jika senantiasa berharap L akan terus berada di tempat ini. Tentunya detektif itu harus menyelesaikan kasus-kasus yang lebih urgen, memastikan keadilan dan hukum tetap ditegakkan. Mencoba menghibur diri, Near menyibukkan diri dengan bermain di ruang rekreasi setiap ada waktu luang, atau membaca satu-dua buku yang menarik minatnya di perpustakaan, bahkan belajar hingga larut malam di kamarnya, ditemani sayupnya desir angin dan orkestra kerikan jangkrik yang bercengkrama di padang rumput.

Pernah, sekali waktu, Near benar-benar tidak bisa tidur. Dia hanya bisa berbaring diam, kedua mata memandang langit-langit. Lampu kamar belum dipadamkan. Sunyi, suara bersembunyi. Ketika matanya hampir tertutup (setelah beberapa jam berlalu, dia tidak tahu), Near mendengar langkah-langkah samar menapak di koridor yang dilapisi karpet. Near bangkit dengan jantung berdebar. Dia tahu ini terlalu konyol, bahkan absurb, mengharapkan kedatangan L lagi, hanya untuk mendengar suaranya, berbincang dengannya—apa saja untuk membantu Near memahami teka-teki yang hidup di dalam dirinya—tapi bukan salahnya bila kehadiran L menawan pikirannya, bukan?

Seperti sebelumnya, bukan langkah kaki L yang menyanyikan nada-nada enigmatis kala malam gulita menyambangi dunia. Melainkan Mello. Dia berjalan sambil menahan kuap, mata birunya berair. Kelelahan tergurat jelas di raut wajahnya. Ini bukan pertama kalinya terjadi, dan Near masih belum bisa menemukan alasan kenapa Mello berkeliaran di waktu larut. Near tidak pernah mengusiknya, teringat resiko yang harus dibayar untuk itu. Mello tidaklah mudah untuk diprediksi, dan jika mencoba terlalu dekat, entah apa yang akan dihadapinya. Near kembali menutup pintu kamar saat Mello mendekat. Bukan waktu yang baik untuk mengajukan pertanyaan.

Tak lama kemudian terdengar bunyi kunci diputar, lalu bantingan pintu yang menandakan Mello sudah masuk ke kamarnya sendiri. Lampu kamarnya tak pernah dipadamkan hingga fajar menjelang. Dalam beberapa hal, Near lega. Setidaknya mereka punya persamaan mendasar, meski dalam hal-hal janggal seperti saat ini. Letih menunggu L dalam kehampaan tanpa petunjuk berarti, Near merosot pelan hingga tungkainya mendarat mulus di lantai, punggung bersandarkan pintu. Dia melengkungkan tubuh, menundukkan kepala, kedua tangan memeluk lutut, tertidur tanpa mimpi, hingga akhirnya terbangun oleh pantulan cahaya mentari yang terbias di kaca jendela keesokan harinya.

Near menjalani hari-harinya di Wammy's House sebaik mungkin, senormal yang dia bisa, sambil tetap memasang telinga mencari kabar berita tentang L. Minggu berganti bulan, waktu berjalan bagai terbang, namun tak ada perkembangan sama sekali. Near pun semakin mahir melawan kegelisahan hatinya. Beberapa gangguan kecil terkadang disambutnya tanpa mengeluh, bahkan nyaris sukarela, seperti ajakan konstan Matt untuk bermain game melawan Jack dan Aidan, berdiskusi dengan Linda tentang maestro seni rupa seperti Vicent Van Gogh, Picasso dan Salvador Dali, sampai menerima tantangan Mello untuk bermain catur 10 babak non-stop, yang berujung pada omelan ketidakpuasan yang meluncur dari bibir Mello; geram luar biasa karena Near telah menguasai teknik untuk mematahkan pertahanannya dengan langkah yang apik.

"Skak mat," ucap Near datar untuk yang kesekian kalinya.

"Ugh," Mello mengepalkan tangan, kesal. Manuver mematikan dari Ratu milik Near telah menghabisi Raja-nya. "Sekali lagi, Near! Aku tidak akan menyerah!"

Matt tertawa kecil. "Wah, langkah seperti itu tidak terpikir olehku, Near," komentar Matt yang menonton duel intelektual itu di samping Mello. "Sekilas, Mello kelihatan di atas angin, tapi ternyata itu taktikmu untuk menjebak Menteri dan Ksatria di area ini sekaligus," dia menyusurkan jari telunjuknya, menandai area di papan catur sambil berdecak kagum.

"Analisis yang bagus, Matt," puji Near, yang membuat Mello semakin jengkel.

"Hey, Mello, Matt, mau ikut main bola? Kami kekurangan orang!" pekik Daniel dari luar. Dia memantul-mantulkan bola dengan satu lututnya, nyengir.

"Aku ikut!" Matt berteriak girang. "Mello?"

Mello membuka bungkus cokelat ketiganya, menggigit bagian atasnya dengan gusar. "Duluan saja," Mello berkata tegas,"aku belum selesai memberinya pelajaran."

Near tersenyum tipis, bola matanya berpendar. "Saya menantikannya, Mello."

"Jangan meremehkanku!" bentak Mello kesal, menyusun bidak-bidak hitamnya kembali, mengambil posisi siap bertarung.

Matt yang sudah terbiasa akan persaingan konstan ini pun menggelengkan kepala pertanda maklum, mengenakan goggle-nya, kemudian menepuk punggung Mello penuh canda. "Semoga beruntung."

Sisa sore itu berlangsung menyenangkan bagi Near. Mello duduk di hadapannya, dahi berkerut memikirkan setiap langkah seraya mengulum cokelat hingga meleleh sempurna. Bila tidak sedang bersikap agresif, Mello adalah lawan tangguh yang mampu menyedot perhatiannya, membuatnya benar-benar tertarik. Mello sanggup melipur hatinya dengan cara yang ganjil. Semangatnya yang begitu menyala berhasil memercikkan tetesan emosi ke dalam diri Near, menggugahnya untuk mengabadikan setiap detil terkecil entitas Mello ke dalam memorinya.

Kehidupan di Wammy's House pun tidak banyak berubah semenjak saat itu.

Tenang dan damai di permukaan, namun menggelegak dan intens di dalam, dikobarkan oleh tekad penuh persaingan antar individu demi menduduki singgahsana tertinggi dalam dunia ilmu dan seni, begitulah aura yang melingkupi Wammy's House selama bertahun-tahun. Semua kompetitor—tak terkecuali Near—merasakan tekanan berat untuk berusaha sebaik-baiknya, mengharamkan diri sendiri untuk tertinggal jauh di belakang, karena area ini adalah medan perang, arena adu ketangkasan dan kecerdasan bagi petarung-petarung pilihan. Pecundang tidak mendapat tempat. Tidak akan diperhitungkan—atau bahkan dilirik—oleh sang raja di balik bayangan, penguasa dunia virtual yang secara berkala memantau perkembangan bibit-bibit muda yang kelak tumbuh menjadi pewaris nama sekaligus takhtanya.

Untuk memaksimalkan proses belajar, keseluruhan anak jenius yang berjumlah 50 orang itu disebarkan ke dalam 5 kelas dasar yang berbeda. Berhubung rentang umur mereka tidak terlalu jauh—paling banyak jeda 3 tahun—tidak heran bila satu kelas berisikan anak-anak dengan tingkat umur dan kematangan emosi yang berbeda satu sama lain, meski hal itu tidaklah terlalu menganggu. Di kelas dasar ini mereka mempelajari pelajaran-pelajaran yang biasa dipelajari di sekolah umum: Matematika, Sains, Pengetahuan Sosial, Seni, Musik, Teknologi Informasi, tak ketinggalan dengan Olah Jasmani. Bagaimanapun, Roger tak ingin anak-anak asuhnya lemah dalam hal fisik. Kekuatan pikiran tak ada artinya bila tubuhmu tidak terlatih, begitu prinsipnya.

Near sendiri tidak termasuk kalangan murid yang membenci pelajaran olahraga, namun dia harus mengakui betapa menyiksanya saat mencoba menyamai kecepatan lari teman-teman sebayanya yang berlari bebas di lintasan. Nafasnya yang awalnya stabil dengan cepat berubah menjadi hembusan-hembusan pendek, tersengal-sengal, dan setelah tiga setengah putaran, Near sudah hampir kehabisan udara untuk dihirup. Keringat mengalir menyusuri lekukan wajah dan lehernya, dadanya naik turun, dan dia memegangi sisi perutnya.

Tepukan singkat di bahu menyentaknya dan Near mendapati Matt sudah berlari jauh di depannya, bocah bermata hijau zamrud itu tersenyum memberi semangat, lalu mempercepat larinya untuk menjajari Aidan dan Jack. Tidak sampai beberapa detik kemudian, tubuh Mello berdesing melewatinya, rambut pirang keemasannya berkibar, dikobarkan semangat tanpa akhir untuk menyusul Matt, Aidan dan Jack yang kini berlari dalam satu baris, sejajar dengan kecepatan seimbang di lintasan masing-masing. Near menghela nafas, berlari-lari kecil hingga dia menyelesaikan lima putaran penuh. Tentu saja kumpulan bocah lelaki dengan tubuh berisikan limpahan energi itu sudah terlebih dulu mencapai garis finis, peluh membanjiri kulit mereka.

Harus diakui, rekornya dalam pelajaran satu ini memang bisa dibilang pas-pasan. Near tidak mempermasalahkannya, tentu, dia hafal dan mengerti bagaimana mekanisme tubuh dan proses pembakaran energi menjadi gerak secara kimiawi dan biologis, hanya saja dalam kehidupan nyata, dia tak punya cukup kekuatan fisik untuk membuat tubuhnya berbicara dengan daya yang sama seperti otaknya. Kalau sudah mencapai taraf pemahaman dan penerimaan seperti ini, tidak sedikit pun Near mengeluh. Paling tidak dia hanya akan menjawab lugas bila Mello menggodanya dengan perolehan skor yang jelas-jelas lebih tinggi, menyeringai penuh kemenangan. Tetapi tetap saja, Near tidak suka kalah, dan jika dia tahu dirinya sudah berada dalam zona aman di mana kekuatan bisa dihimpun, dia akan balik menggempur habis-habisan, dengan cara halus namun tangkas.

Hal ini dibuktikannya di kelas Matematika keesokan harinya. Seperti biasa, Mr. Thompson yang bermata cerdas dan tegas memberi mereka kuis saat mendekati akhir pelajaran, dan tidak seperti biasanya, Mello gagal mendapatkan nilai sempurna. Alhasil, skor tertinggi lagi-lagi berada di tangan Near, dan walaupun menjadi orang kedua, dengan perolehan skor berselisih satu poin, tetap saja Mello tidak terima. Terhenyak di kursinya, mengamati hasil kuis dengan geram, Mello kemudian menyusul gurunya ke luar kelas, membombardirnya sepanjang koridor ketika bel pertanda akhir pelajaran berdering nyaring.

"Tapi, Sir, saya yakin sudah mengerjakannya dengan benar—lihat, rumusnya sesuai dan perhitungannya juga…"

"Mello, sudah saya tekankan, jawaban terakhirmu kacau, Nak."

"Tapi—"

Near menyela, "Mello, hasil akhir perhitunganmu salah. Lihat, mulai dari bagian ini hitunganmu meleset… seharusnya dikalikan 7, bukan 6…"

Koreksi tanpa diminta itu berhasil Mello terdiam sesaat, menatap rincian jawabannya dengan seksama, sebelum akhirnya mengumpat, "Sial!"

Mr. Thompson memberinya pandangan penuh simpati dan berkata, "Telitilah di lain waktu, oke?" Dia menepuk bahu Mello yang menekuk kalah dengan sikap kebapakan dan berjalan menuju ruang guru, map dan buku pelajaran terkepit di tangannya.

Keduanya tidak bertukar kata selama beberapa saat. Near menatap Mello, menunggunya bereaksi, sementara Mello mencengkram kertasnya, kesal. "Nah, puas?" tantang Mello, matanya menyipit berbahaya.

"Saya cuma mengatakan yang sebenarnya," Near menukas, jemari menari di rambutnya yang putih keperakan. "Mr. Thompson benar, seharusnya Mello lebih teliti jika tidak ingin hal seperti ini terjadi."

"Near, kau sungguh…," Mello menggigit bibir, untuk pertama kalinya kehilangan perbendaharaan kata, tercabik antara jengkel dan malu.

"Ya, Mello?" pancing Near, kedua mata menatap polos, menyelami mata Mello.

Mello balas menatap, intens, lekat. Menyerah pada hitungan ketiga. "Oh, lupakan," desah Mello frustasi, memutar tubuh menuju aula di lantai satu.

Near mengikutinya dengan langkah tersaruk-saruk, sebagian karena ujung piyamanya yang longgar hingga menyapu lantai, sebagian lagi karena lututnya masih nyeri, berdenyut-denyut, menyentak saraf-saraf perasa. Arus sekumpulan anak-anak kelas lain merangsek menaiki tangga, dan bahunya berbenturan dengan bahu-bahu lain ketika Near menuruni tangga, memeluk buku pelajarannya erat-erat seolah tameng.

Tiba-tiba, tanpa peringatan sebelumnya, keseimbangannya oleng ketika seorang bocah laki-laki yang kira-kira setahun di atasnya berlari menerobos antrian, menghantam bahu Near—keras dan cepat, kali ini—dan Near terhuyung, nyaris jatuh, dan sebagai usaha penyelamatan darurat, menubruk punggung Mello yang kebetulan berada di bawahnya. Mello mengaduh, namun segera setelah menyadari apa yang terjadi, dia langsung menumpukan tangan kanannya pada pegangan tangga, sedangkan satu tangan lagi menahan pergelangan tangan Near, mencegahnya jatuh tersungkur. Jika bukan karena tindakan preventif itu, Near pasti sudah rubuh, berguling-guling ke lantai bawah.

Terdengar pekikan kaget anak-anak perempuan di tangga, disusul bentakan garang Mello, mencela, "Hei! Pakai matamu, idiot!" Dia mengepalkan tinjunya kepada bocah itu.

"Sudahlah, Mello," pinta Near pelan. Cengkaraman Mello di pergelangan tangannya tidak juga mengendur.

Dalam sekejap saja, anak itu sudah mencapai puncak tangga, menjulurkan lidah. "Salah sendiri dia begitu lamban, menghalangi jalanku," jawabnya santai.

"Sedangkan kau terlalu tolol untuk memikirkan cara yang lebih sopan," Mello menukas, masih belum mau kalah. Keningnya berkedut, berang.

Near menghela nafas, berkata, "Biarkan saja. Mello, jangan buang waktu."

Kedua mata Mello beralih padanya. "Aku tidak melakukannya karenamu, tahu. Aku marah karena ketololannya berimbas padaku."

"Saya tahu."

Mello melepaskan cengkramannya, mendengus remeh. "Keseimbanganmu buruk."

"Faktanya, hal itu tidak menghalangi Mello untuk menolong saya," Near tersenyum tipis, kedua matanya melembut. "Terima kasih."

"Bodoh," rutuk Mello dari sudut mulutnya. Dia menggigit bibir dalam usaha menahan diri. Tampaknya Near selalu menemukan cara memporak-porandakan sikap defensifnya. Tercipta dari apakah hatinya? Karang yang tidak retak dihempas abrasi ombak? Eksteriornya yang rapuh ternyata menyimpan kekuatan yang tidak terukur. Bukankah sudah berkali-kali Mello tidak menggubrisnya, bahkan meninggalkannya dalam arus keramaian? Apakah pemaaf memang sifatnya? Atau sikap ini dibarengi dengan keteguhan hati untuk memenangkan permainan pikiran di antara mereka berdua?

Mello benar-benar bungkam selama sisa perjalanan menuju aula. Near tidak keberatan. Kali ini mereka berjalan bersisian, tanpa harus mengejar punggung Mello yang menjauh pergi.

Tidak ada yang namanya kebetulan. Tiap peristiwa menyimpan makna tersendiri di balik selubungnya.

Inilah momen krusial dimana Near menyadari bahwa misteri abadi dunia adalah kemampuannya untuk dimengerti. Membuat manusia berhasrat menyingkap rahasia terdalamnya, mereguk kenikmatan pemahaman demi kepuasan jiwa. Tak ingin berhenti sebelum rasa dahaga sirna.

Mello tidak lagi berlari tergesa, melainkan terhubung dengannya di satu waktu, ketukan kaki stabil berjalan, mengukuhkan eksistensinya secara nyata.

Berpijar dengan sinarnya, Mello hadir membawa rajutan warna disertai beribu untai asa. Hati kecil Near pun berkata, itu sudah cukup.


Sudah pukul 9 malam ketika akhirnya Near menyelesaikan esai Sejarahnya.

Perpustakaan sudah agak lengang, kesunyian menenangkan melingkupi ruangan besar itu. Hanya ada sekitar sepuluh orang yang masih bertahan di sana, Near salah satunya. Sesekali terdengar gesekan pena yang beradu dengan kertas, suara ketukan kaki dan derak kursi, diselingi percakapan singkat, mendiskusikan jawaban dengan kepala tertunduk memandangi uraian-uraian detil di buku-buku panduan.

Mengoreksi kalimat-kalimat yang ditulisnya dengan cermat, kedua mata Near bergerak cepat menelusuri baris demi baris kata-kata yang tercetak, mengecek ulang apakah ada bagian yang masih belum ditambahkan, memeriksa apakah ada yang terlewat. Beberapa menit kemudian, setelah puas dengan hasil kerjanya, dia bangkit berdiri. Near merapikan kertas-kertas dan alat tulisnya, lalu berjalan ke arah rak-rak buku yang berderet rapi, bermaksud mengembalikan buku-buku perpustakaan ke tempatnya semula. Kedua kaki mungilnya berjinjit sedikit ketika mengembalikan buku terakhir—rak terakhir agak terlalu tinggi baginya—tapi pertolongan segera datang, berwujud seorang wanita tua berkacamata dengan senyum lembut.

"Oh, dear Near, biar aku saja," ucapnya riang, tergopoh-gopoh berjalan mendekati Near dan membantunya.

"Terima kasih, Mrs. Stewart," kata Near sopan. Petugas perpustakaan yang satu ini memang terkenal ramah pada anak-anak. Suaminya meninggal bertahun-tahun silam karena kecelakaan mobil, dan dia tidak pernah menikah lagi. Mrs. Stewart tidak mempunyai anak, mungkin karena itu dia mencurahkan kasih sayangnya sepenuhnya kepada anak-anak di tempat ini tanpa diminta. Near mengetahui hal ini dari Linda, yang tampaknya mempunyai kecerdasan interpersonal bertaraf tinggi, selain talenta melukisnya yang luar biasa mengagumkan.

"Sama-sama, Nak. Sepertinya PR-mu hari ini sudah selesai? Bagus sekali! Sekarang kau bisa ke kamarmu dan beristirahat. Melelahkan bukan, hari-hari seperti ini?"

Near tersenyum tipis. "Ya, tentu. Sampai besok, Mrs. Stewart," balas Near.

"Sampai besok, Nak. Selamat beristirahat." Mrs. Stewart kembali merapikan susunan buku-buku, bersenandung kecil. Dia melempar senyum penuh sayang kepada Near sebelum berjalan menuju meja kerjanya.

Near tiba di ambang pintu tepat ketika Aidan muncul, terengah-engah, rambut cokelatnya melekat di keningnya yang lembab karena keringat.

"Near! Syukurlah, aku sudah mencarimu dari tadi. Mr. Roger menyuruhmu datang ke kantornya sekarang."

Near mengangguk. "Baiklah, saya segera ke sana. Terima kasih, Aidan."

Dia mulai melangkahkan kaki, tetapi Aidan menahannya. Senyum nakal tergurat di bibirnya.

"Hei… sepertinya kau sudah menyelesaikan esai Sejarah untuk besok. Boleh aku lihat?" pintanya penuh harap.

Jelas sekali, tabiat pelupa Aidan sering membuatnya luput dari rutinitas sepele seperti mengerjakan esai Sejarah. Near sampai tak habis pikir, tapi untuk saat ini kepalanya dipenuhi hal-hal lain. Lagipula, kalau memang Aidan tidak ingin ketinggalan, dia harus bisa mengejar laju pelajaran yang bertempo cepat. Tidak ada waktu untuk menunggu, pikir Near.

Near mengabaikannya dan berkata datar, "Buku panduan yang lengkap ada di rak C. Uraian rinci tentang sejarah Inggris di Abad Pertengahan ada di halaman 375 sampai 412. Mrs. Stewart masih di dalam dan bisa membantumu kapanpun diperlukan. Sampai nanti, Aidan."

Near mempercepat langkahnya menuju kantor Roger, meninggalkan Aidan yang melengos dengan tatapan kecewa.

Lorong-lorong sudah sepi, rata-rata semua anak sudah masuk ke kamar masing-masing, meringkuk dalam kehangatan selimut. Malah sudah ada yang memadamkan lampu, tidur lelap tanpa terganggu. Sebagian kamar-kamar lain masih terang-benderang, mungkin pemiliknya belum menyelesaikan PR yang diberikan hari itu, atau sedang merilekskan diri sebelum beranjak tidur. Terdengar keriutan kaki-kaki tempat tidur yang terbebani tubuh-tubuh mungil yang meringkuk di atasnya, berpadu dengan suara gemerisik selimut yang ditarik hingga sebatas dada.

Near mengabaikan nada-nada malam dan terus melaju, menaiki tangga menuju lantai tiga, dan ketika dia berbelok ke kanan setelah mencapai bordes kedua, dia mendapati Mello berjalan cepat dengan jarak hanya beberapa langkah di depannya. Mello berhenti ketika mendengar langkah halus Near mengetuk lantai. Dia membalikkan tubuh dengan luwes.

"Near?" tanyanya kaget. Kedua bola mata biru langitnya berpendar dalam temaram lampu lorong. Mello mengenakan piyama berwarna cokelat tua dengan motif garis-garis putih vertikal sebagai aksennya dan sandal kamar berbulu putih dengan gambar bola sepak di ujungnya.

"Selamat malam, Mello. Apa Mello juga dipanggil menghadap Mr. Roger?" Near melempar pertanyaan balik sembari bermain dengan rambutnya.

Tenggorokan Mello mengering. Intuisinya menandakan ada sesuatu yang tidak biasa sedang berlangsung—meski dia belum tahu jawabnya. "Ya. Kau juga?"

Near mengangguk. "Sebaiknya kita bergegas."

Keduanya tak lagi membuka suara. Mello mencuri-curi pandang pada Near yang berjalan di sisinya, tidak percaya begitu saja. Matanya menyipit—apa artinya ini? Apakah Near melaporkan perbuatan-perbuatan usilnya tempo hari? Bila memang demikian, kenapa baru sekarang Roger bertindak? Atau ada rencana lain—hukuman lain yang tidak terpikirkan olehnya? Selama memikirkan ini, Mello semakin jengkel. Dia harus mengejar ketertinggalan prestasi akademis dari Near, dan tidak ingin dirugikan dengan hukuman disiplin yang mungkin bisa berefek negatif terhadap kalkulasi penilaian di tes uji kemampuan bulan berikutnya.

Ketukan pelan Near di pintu membuyarkan lamunannya. "Mr. Roger, kami datang," kata Near. Near kembali mengetuk berulang kali, lebih cepat. Keras dan mendesak. "Mr. Roger, Sir?" dia mengulangi, agak ragu-ragu karena tidak ada sahutan dari dalam.

Mello mengambil inisiatif terlebih dulu dengan membuka pintu, jelas sekali tak sabar menunggu lebih lama lagi. Dia menerobos masuk, Near menyusul di belakangnya setelah menutup pintu. Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Meja Roger kosong. Pria tua dengan kacamata presbiopi yang senantiasa bertengger di hidung bengkoknya itu tak ada di kantornya saat ini.

"Roger?" panggil Mello, mendesak.

Detik-detik berlalu. Mata bertemu mata, kebingungan terpancar dengan intensitas yang sama.

Tak diduga, pintu ruangan berderak terbuka. Refleks, Mello dan Near menolehkan kepala, fokus atensi tertuju pada asal suara.

Sesosok lelaki muda bertubuh jangkung berdiri di ambang pintu, kedua tangan menyusup dalam saku jeans biru pudar, punggung membungkuk seolah menanggung beban. Rambut hitam kusut berderai menutupi kelopak mata gulita penuh kedalaman tak terjabarkan. Kulit pucat tanpa rona membungkus konstruksi tulang-belulang, sepenggal kaki kurus dan pucat menyembul dari ujung jeans biru tua yang kedodoran.

Near tetap membisu, meski kedua matanya melebar karena kaget. Tubuhnya menegang tanpa disadarinya. Di sebelahnya, Mello terperanjat, nafasnya tercekat. Mengamati figur di hadapannya dari ujung kepala sampai kaki dengan mata nyalang, bagai dikuasai kaburnya delusi.

"Saya sudah menunggu kalian… Mello, Near."


Author's note: Banzaii! –naburin confetti- Akhirnya selesai juga! Chapter terpanjang sejauh ini, nih. Saya harap gak ada yang protes, ya! XD Hitung-hitung sebagai permintaan maaf karena penundaan selama 2 bulan, termasuk proof reading berkali-kali selama dua minggu yang benar-benar menguras waktu dan tenaga.

Walau lama absen dari dunia fanfic, saya begitu bersemangat mengerjakan chapter ini karena todongan dan tagihan yang gak habis-habisnya dari pihak-pihak tertentu, you know who you are –hugs-. Kalian benar-benar memacu semangat saya, teman-teman! Saya merasa sangat dihargai oleh orang-orang yang—meski tidak pernah saya temui di dunia nyata—sangat antusias berbagi minat dan kesenangan yang sama.

Sekilas info, saya juga sedang mengerjakan Dear Mello, hohoho… silahkan mampir di sana juga, ya… –promosi gak kenal waktu-

Seperti biasa, komentar tetap ditunggu lewat review. Kritik juga diterima dengan senang hati, jadi jangan ragu berbagi pendapat dengan saya, ya. Thank you for reading, see you soon in the next chapter!

~Azureila