Kantor Hokage…

Tangan tersilang, Gokudaime Kazekage, Sabaku no Gaara, menatap galak ke arah laki-laki berambut pirang di hadapannya, pasirnya bergerak siaga, siap untuk menyerang bila Gaara memerintahkan.

Sementara itu, laki-laki berambut pirang itu, yang tidak lain adalah Rokudaime Hokage Uzumaki Naruto, sedang tertawa, terbahak-bahak. Satu tangan melingkari perutnya, dengan tangan lain memukuli mejanya, dia berkata, "Aku nggak percaya kau…" air mata mengalir dari sudut matanya, dia mencoba untuk bicara disela tawanya. Dia gagal dan tawanya meledak sekali lagi, lebih keras dari sebelumnya.

Tangan Gaara berkedut, betapa dia ingin untuk memerintahkan pasirnya untuk mencekik Naruto, atau lebih baik lagi, untuk melingkarkan jemarinya di leher itu dan… Gaara mengepalkan tangannya erat di pangkuannya. Bukan hal yang baik bila dia tertangkap berusaha untuk membunuh seorang Hokage.

Beberapa menit berlalu, dan akhirnya tawa Naruto mereda, walau sesekali masih terdengar tawa kecil darinya. "Maaf Gaara," katanya dengan senyum lebar di wajahnya, sama sekali tidak tampak merasa bersalah, "Aku tahu kau mengidap sister complex, aku cuma tidak tahu sebelumnya seberapa akut."

Gaara mendelik ke arah Naruto, hal yang sering membuat ANBU Suna lari ketakutan. Tapi Naruto, yang sudah lebih dari terbisaa, hanya melambaikan tangannya dengan santai, mengacuhkannya.

"Belum lagi fakta kalau ternyata seorang Akasuna no Sasori, yang merupakan mantan Akatsuki, ternyata sama overprotektifnya," Naruto menatap ke arah Sasori, menyeringai. Sasori menggeram mengancam dari balik kugutsunya, yang lagi-lagi, tidak dihiraukan Naruto.

Naruto kembali menatap Gaara, "Aku dengar kau bahkan menurunkan peringkat Temari-nee menjadi chuunin hanya karena kau tidak mau dia menjalankan misi berbahaya," Naruto menggelengkan kepala tidak percaya, walau sebuah senyum lembut terulas di bibirnya, "Dan kau juga "memecat","Naruto membentuk tanda kutip dengan jarinya, "Temari-nee sebagai pengawal pribadimu, kan?"

"Jabatan Temari sebagai penyusun strategi dan duta Suna di Konoha sudah cukup penting," balas Gaara, "Lagipula, Kankurou dan Sasori sudah lebih cukup sebagai pengawal pribadiku."

Naruto hanya menggelengkan kepalanya, tersenyum maklum. Dia tahu betapa keras kepalanya Gaara mengenai masalah yang satu ini. "Dasar kau itu, kau tidak bisa melindungi Temari-nee selamanya kau tahu. Dan ada beberapa hal yang bahkan tidak bisa kau cegah. Seperti patah hati. Kau tidak mungkin melindungi Temari-nee dari patah hati kan?"

"Bisa saja," kata Gaara penuh kemenangan.

Naruto mengangkat sebelah alisnya, menetap temannya, skeptik, "Bagaimana?"

Gaara menyeringai, mata hijaunya berkilat penuh kemenangan. Tapi Naruto tidak pernah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya karena pada saat itu, pintu ruangan terbanting membuka dan masuklah objek pembicaraan mereka: Temari.

"Maaf, saya terlambat! Saya—"

Naruto mengangkat sebelah tangannya. Temari terdiam. "Tenanglah, Temari-nee, kau tidak terlambat kok," kata Naruto, memberikan sebuah senyuman yang dia harap menenangkan, "Lagipula…" Naruto melirik ke arah Gaara, yang balas menatapnya dengan wajah impasif. Kalau pun kau terlambat tidak ada yang cukup gila untuk menghukummu, apalagi di depan Gaara, pikir Naruto.

"Lagipula…?" Temari bertanya, memiringkan kepalanya ke samping.

Naruto tersenyum, "Tidak. Bukan apa-apa," dia menggelengkan kepala. Dan sebelum Temari bisa bertanya lebih lanjut, dia cepat berkata, "Nah, karena semua orang sudah di sini, bagaimana kalau kita mulai saja pertemuannya?"

Sesaat sebelum perhatiannya terpusat pada pertamuannya, Naruto sempat berpikir, bagaimana bila ada cowok yang cukup berani –dan cukup bodoh— untuk menyatakan cinta –atau lebih parah lagi melamar— Temari di depan Gaara.

Naruto pikir, untunglah Shikamaru adalah seorang jenius. Dia tidak akan melakukan hal sebodoh itu. Kan?

Naruto tidak berharap banyak, sungguh. Dia tidak berharap Shikamaru akan menyerah untuk mendapatkan Temari, tidak, dia tahu Shikamaru terlalu menyayangi Temari untuk itu, walau jenius Nara itu tidak akan mengakuinya. Naruto hanya berharap kalau Shikamaru tidak akan cukup bodoh untuk menyatakan cinta di depan adik-adiknya, terutama adik bungsunya. Dan mengingat kalau Shikamaru adalah seorang jenius, Naruto pikir harapannya tidak terlalu muluk.

Tapi tentu saja Naruto salah. Dia tidak tahu kalau kejeniusan Shikamaru sama sekali tidak berguna di bidang percintaan. Dan yang terburuk pun terjadi…

Tidak lama setelah Temari masuk, pintu ruangan kembali terbanting terbuka, membuat kelima orang di dalamnya menoleh ke arah pintu.

Dan di sanalah Shikamaru berdiri.

Naruto tahu hal buruk akan terjadi –sangat, sangat buruk, pikirnya mengoreksi—ketika dia melihat mawar merah yang mencuat dari dalam kantong kertas yang dibawa Shikamaru.

Selama ini, Shikamaru terlalu malas –dan cukup pintar— untuk tidak meresmikan hubungannya dengan Temari. Tapi tampaknya, menilai dari determinasi yang terpancar dari wajah Shikamaru, pemuda berambut cokelat itu akhirnya berhasil mengalahkan rasa malasnya dan hendak menyatakan cinta.

Tapi kenapa harus sekarang? pikir Naruto, di depan Kankurou, dan Sasori, dan Gaara!

Shikamaru melangkah ke dalam ruangan, matanya terpaku pada Temari dan Temari seorang. Hal yang romantik sebenarnya, walau melihat keadaan Shikamaru, hal ini juga merupakah hal yang bodoh, mengingat tiga orang keluarga Temari yang, tidak hanya sangat protektif, tapi juga sangat kuat, ada dalam ruangan yang sama. Beruntung, tiga orang tersebut terlalu terkejut untuk bereaksi. Shikamaru aman. Untuk sementara ini.

"Temari," Shikamaru memulai, suaranya tenang, tak bergetar. Temari –merasa malu untuk suatu alasan yang tidak dia mengerti, yang mungkin ada hubungannya dengan kata-kata perpisahan dari Itachi— menunduk, wajahnya terasa panas. "Maaf kalau selama ini aku tidak pernah mengatakan apa-apa, tapi kamu cewek spesial buatku."

Temari mengangkat kepalanya, menatap Shikamaru dengan mata lebar tidak percaya dan jantung berdebar. Shikamaru tersenyum, memberikan bungkusan berisi cokelat dan mawar. Temari menerima bungkusan itu dengan agak kikuk, tampak terkejut, walau sedetik kemudian sebuah senyum mengembang di bibirnya. Senyum yang membuat Shikamaru balas tersenyum, dan mungkin, membuat jantungnya berpacu sedikit lebih cepat.

"Terima kasih," kata Temari pelan, tidak biasanya merasa malu.

Tapi Shikamaru masih belum selesai. Dia merogoh kantongnya, mngeluarkan sebuah kotak kecil berlapis kain beludru berwarna merah, "Sabaku no Temari," Shikamaru memulai, membawa kotak beludru itu ke hadapan Temari, "aku menyayangimu, kamu cewek spesial buatku," Shikamaru meneruskan, suaranya tenang, walau tangannya sedikit gemetar ketika dia membuka kotak kecil itu.

Temari menarik nafas tidak percaya. Di dalam kotak beludru itu, terdapat sebuah cincin.

"Kamu bersedia jadi pacar, ah bukan, tunanganku?" Shikamaru mengakhiri, menatap Temari tepat di mata.

"Ah," tanpa menyadarinya, wajah Temari memerah. Untuk beberapa saat, dia tidak dapat berkata apa-apa. Shikamaru masih menatapnya dengan penuh harap. Sadar kalau dia harus memberikan jawaban, Temari memajukan tangan kanannya, membiarkan Shikamaru memasukkan cincin ke jari manisnya. Shikamaru kembali memasukkan kotak itu ke kantongnya, cincin yang sama persis, hanya berbeda ukuran, melingkari jari manis tangan kanannya.

Dan Shikamaru memeluk Temari, "Sekarang kamu resmi jadi milikku," dia berbisik lembut, mengelus rambut pirang Temari dengan penuh sayang. Shikamaru menunduk, menatapTemari, yang tersenyum manis ke arahnya. Shikamaru balas tersenyum. Lalu perlahan, dia menundukkan wajahnya. Temari, mengetahui apa yang hendak Shikamaru lakukan, menutup mata.

Dan saat itulah semua menjadi berantakan…

Terjadi beberapa hal bersamaan.

Kankurou mengambil gulungan dimana kugutsunya tersimpan, menggigit jarinya, dia hendak mengeluarkan kugutsu kesayangannya. Beruntung, Sasuke –di bawah perintah Naruto— bergerak cepat dan berhasil menghentikan Kankurou bahkan sebelum dia sempat melepas segel dari gulungan tempat kugutsunya disimpan.

Gaara, yang tersadar ketika melihat Shikamaru berusaha melakukan… The Unthinkable—yang tidak terpikirkan— segera memerintahkan pasirnya untuk menyerang. Tanpa pikir panjang, Naruto melompati mejanya dan segera menahan Gaara, melingkarkan kedua tangannya di sekitar bahu temannya itu. Pasir Gaara berhenti—hanya beberapa inchi dari wajah Shikamaru—dan balik menyerang Naruto. Naruto memaki pelan, berusaha sebisa mungkin menghindari serangan pasir Gaara tanpa harus melepaskannya.

"Bukannya aku mau merusak—" Naruto berkata, menghindari serangan lain, "—momen bahagiamu, Shika, tapi—" Naruto melompat mundur, untuk pertama kali merasa beruntung karena Gaara kurus, sehingga dia dapat dengan mudah menariknya bersamanya dan bukannya melepasnya, "—sebaiknya kamu pergi, secepatnya. Kayak, sekarang!"

Shikamaru tidak membuang waktu. Memegang tangan Temari, dia berlari menuju pintu.

Dimana Sasori berdiri, dalam wujud aslinya, pasir hitamnya bergerak mengancam. Wajahnya tampak seimpasif bisaanya, walau ada kilatan berbahaya dalam mata cokelatnya.

Shikamaru merutuk dalam hati. Otaknya cepat memikirkan jalan keluar lain, tapi otaknya buntu.

"Shikamaru…" Temari berusaha untuk melepaskan tangan Shikamaru. Shikamaru bisa melarikan diri, pikirnya, bila sendiri. Tapi Shikamaru menolak untuk melepaskan tangannya.

"Pasti ada jalan keluar," gumam Shikamaru, lebih pada dirinya sendiri, "pasti ada…"

Dan saat itulah pintu terbanting terbuka untuk ketiga kalinya. Sasori melompat ke samping, menghindari hantaman pintu. Dan Ino melangkah masuk.

"Shikamaru!" Ino memanggil teman masa kecilnya itu, suaranya terdengar marah, walau ada cengiran lebar menghiasi wajahnya, "Berani-beraninya kau tidak bilang padaku kalau kau mau melamar…" kata-katanya terputus ketika dia menyadari keadaan ruangan yang jauh dari suasana romantis. Dia memandang ke sekeliling ruangan, ke arah Sasuke yang masih melawan Kankurou, ke Naruto yang menahan Gaara, ke Sasori dan pasir hitamnya, dan dia diam terpaku, matanya membelalak tidak percaya, "Apa yang terjadi…?"

"Waktu yang sempurna, Ino!" Shikamaru menyeringai lebar, menarik tangan Temari ke arah pintu.

"Eh? Terima kasih…?" Ino berkata tidak yakin, masih belum mengerti sepenuhnya.

"Kalau kau bisa menahan Sasori, aku akan sangat berterima kasih!"

Tanpa pikir panjang –percaya sepenuhnya Shikamaru tahu apa yang dia lakukan— Ino menghalangi Sasori yang hendak mengejar Shika, "Eh, tapi…" dia hendak bertanya kenapa, tapi sebelum dia sempat bertanya, Shikamaru sudah berlari pergi, Temari di sampingnya.

Shikamaru berlari, melompat dari satu atap ke atap lain, tangan Temari dalam genggamannya, dan dia tersenyum. Sekarang dia tidak perlu khawatir lagi akan ada orang lain yang akan merebut Temari. Temari sudah resmi menjadi tunangannya.

Tunangan.

Senyum Shika melebar, kata itu terdengar sangat indah di telinga Shika.

Kembali ke Kantor Hokage…

"UZUMAKI NARUTO!" Gaara berteriak, teriakan paling kencang seumur hidupnya, mengingat, selama sembilan belas tahun hidupnya, jangankan berteriak, berbicara saja dia jarang, "LEPASKAN AKU SEKARANG JUGA!" perintahnya, yang diacuhkan oleh Naruto, "ATAU AKU AKAN MENDEKLARASIKAN PERANG!" ancamnya. Tapi Naruto bergeming, cengkramannya tidak melemah sedikit pun.

"AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU!" Naruto balas berteriak, tidak kalah kencang, "TIDAK SAMPAI KAU BERJANJI AKAN MERESTUI HUBUNGAN MEREKA DAN TIDAK AKAN MEMBUNUH SHIKA!"

"Au…" Gaara meringis, "Gendang telingaku yang malang," dia menggerutu, mengusap kedua telinganya, yang kini berdenging. Gaara melotot, melempar tatapan paling galaknya, tapi mengingat Naruto sudah kebal –dan ada di belakangnya— Naruto sama sekali tidak terpengaruh. Hal yang membuatnya semakin sebal. Matanya berkedut kesal, dia tidak terbiasa berada dalam posisi tidak berdaya.

Gaara menghela nafas, mengetahui Naruto bisa menjadi sangat keras kepala, yang berarti dia tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia menghela nafas lagi. Tampaknya memang tidak ada jalan lain selain menyerah. Setidaknya untuk sementara.

"Baiklah, kau menang," kata Gaara, bahunya turun, "Aku merestui hubungan mereka," lanjutnya, giginya menggeratak, seolah dia memaksa dirinya untuk mengatakan itu, "Sekarang, lepaskan aku."

"Apa?" Naruto tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dia menatap belakang kepala temannya dengan tidak percaya, "kau… merestui hubungan mereka?" tanyanya, matanya melebar, terkejut.

"Iya!" jawab Gaara galak.

"Begitu saja?" tanya Naruto, masih tidak percaya betapa mudahnya Gaara menuruti keinginanya dan memberi restu, sementara beberapa detik lalu, dia masih ingin membunuh Shika dengan cara yang paling brutal dan berdarah.

"Iya, begitu saja," Gaara memutar bola matanya dengan tidak sabar.

Naruto menggigit bibir bawahnya, tidak tahu harus melakukan apa. Dia merasa ada sesuatu yang salah, Gaara menyerah terlalu mudah, dan itu jelas bukan sifatnya. Tapi…

Dalam kebingungannya, cengkraman Naruto pada Gaara melemah. Hal yang dengan segera disadari oleh Gaara. Dia menyeringai. Dia memang menyerah, tapi hanya untuk sementara, hanya sampai kewaspadaan Naruto mengendur, seperti sekarang ini. Dan ketika penjagaan Naruto sudah turun…

Gaara menyikut rusuk Naruto, tidak cukup kuat untuk menyebabkan luka serius, hanya cukup untuk membuat Naruto terkejut dan melepaskan cengkramannya. Gaara menyeringai penuh kemenangan, "Ha! Aku akan merestui hubungan mereka kalau cowok sial itu sudah mati di tanganku!" kata Gaara, tertawa maniak sebelum berlari mengejar kakaknya.

Naruto terdiam, tidak tahu harus berbuat apa dalam keterkejutannya. Dan ketika rasa terkejutnya luntur dan dia menyadari sepenuhnya kalau temannya –teman baiknya yang dia kira tidak akan pernah menipunya— baru saja menipunya, matanya berkedut, "KEMBALI KE SINI GAARA!" teriakan Naruto membahana.

Hening.

Lalu kepala Gaara mencuat dari balik pintu, "Kau kira aku cukup bodoh untuk kembali?" katanya, dengan kekanakannya menarik sebelah kelopak matanya dan menjulurkan lidah. Lalu dia berlari pergi.

Untuk beberapa saat Naruto hanya bisa berdiri diam, menatap ke arah pintu, shock. Dia tahu Gaara punya sisi kekanakan yang jarang –atau malah tidak pernah?— dia tunjukkan. Tapi tindakannya barusan… Itu bukan hanya sekedar kekanakan, hal itu sangat teramat sangat kekanakan.

Dan Naruto masih juga tidak bisa menangkap Gaara —yang dengan kekanakannya kembali hanya untuk meledeknya.

Mata Naruto berkedut kesal. Kepalanya tertunduk, bayangan poninya menutupi matanya, bahunya mulai bergetar.

"Na-Naruto…" panggil Ino dari balik Sasori takut-takut.

Hening untuk sesaat. Lalu…

"GAARA!" teriakan Naruto terdengar hingga ujung Konoha.

Sementara itu dengan Shikamaru dan Temari…

Shikamaru dan Temari, sepasang kekasih yang baru saja meresmikan status mereka, kini sedang duduk berdampingan di puncak Monumen Hokage. Tangan Shikamaru melingkari pundak Temari, merengkuh cewek pirang itu dalam pelukannya. Sementara Temari menyandarkan kepalanya di pundak Shikamaru, sebuah senyum terulas di bibirnya. Mereka duduk dalam diam, membiarkan angin membelai lembut wajah mereka, menikmati pemandangan Konoha di bawah mereka dan tentu saja, menikmati keberadaan satu sama lain.

Keduanya sudah melupakan kejadian beberapa belas menit lalu, dimana mereka berdua –Shikamaru lebih tepatnya— dikejar oleh keluarga overprotektif Temari, terutama oleh adik bungsunya.

Adik bungsu Temari yang merupakan Kazekage, shinobi terkuat di Suna.

Adik bungsu yang sampai beberapa tahun lalu, adalah host Ichibi.

Adik bungsu yang kuat dan berbahaya, yang sampai beberapa menit yang lalu, mengejar Shika dengan niat untuk membunuhnya.

Tapi seperti kata pepatah, yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Shika bukan orang yang pendendam kok. Balas dendam itu adalah hal yang terlalu merepotkan baginya. Lagipula, tidak mungkin Gaara akan berkeras untuk membunuhnya mengingat sekarang dia adalah, bukan hanya pacar, tapi tunangan Temari, secara resmi.

Shikamaru menatap ke arah Temari, sebuah senyum terulas di bibirnya. Temari balas tersenyum ke arahnya. Hari masih siang dan matahari masih tinggi di langit, tapi banyak awan berarak di langit, meredupkan sinar matahari, melembutkan wajah Temari.

Dia memang sangat cantik, pikir Shika, sebelum menundukkan kepalanya, menutup jarak diantara mereka. Mata hijau Temari melebar, semburat merah mewarnai pipinya ketika dia menyadari apa yang hendak Shika lakukan. Dia menutup mata dan menunggu.

Jarak di antara keduanya terus menipis, dan ketika jarak antara bibir mereka hanya tinggal beberapa senti lagi…

"BRUAKK!"

Shikamaru terbanting beberapa meter ke belakang. Untuk beberapa saat, dia membiarkan dirinya terlentang, menatap langit, matanya berkedut kesal. Kenapa setiap kali dia hendak mencium Temari –yang merupakan tunangan resminya— selalu, selalu, selalu saja ada yang mengganggu?

Ketika Shika bangkit duduk, dia menyadari pasir Gaara bergerak defensif disekitar Temari, seperti hendak melindungi kunoichi berrambut pirang tersebut. Dia menoleh ke samping, dan di sana, beberapa meter di depannya, berdiri Gaara, tangan tersilang di depan dadanya, dengan senyum –atau seringai?— pemangsa di bibirnya, mata hijaunya berkilat berbahaya.

Bila tadi cahaya redup matahari membuat paras Temari menjadi lebih lembut, maka hal itu justru mempunyai efek sebaliknya pada Gaara, karena cahaya redup hanya membuatnya tampak lebih berbahaya.

Shikamaru menelan ludah. Dia tahu bahaya ketika dia melihatnya.

Gaara tidak mungkin melukai –atau lebih parah lagi, membunuhnya, kan?

Shikamaru ragu. Gaara berjalan ke arahnya, pelan tapi pasti, seperti seorang pemangsa yang hendak menerkam mangsanya, seringainya tetap terulas di bibirnya.

Shikamaru melangkah mundur, "Ga-Gaara…" panggilnya ragu. Gaara adalah salah seorang yang tindakannya tidak bisa dia prediksi.

Gaara berhenti, beberapa kaki di depannya. Wajahnya tampak tenang, seringainya sudah terhapus dari wajahnya.

Shika bernafas lega.

Tapi lalu bibir Gaara terangkat, membentuk seringai lain, lebih lebar, lebih berbahaya.

Dan saat itulah, Shika tahu dia. Harus. Lari!

-end-

Akhirnya selesai juga! *sujud sukur*

Terima kasih buat semua yang udah nungguin dengan (sangat) sabar (jangan bunuh saya!), buat semua yang udah nge-review, thanks guys, review kalian buat aku termotivasi untuk nyelesain fic ini! Buat yang nge-fave, makasih banyak! Dan yang udah nge-alert juga, aku nggak enak banget sama kalian! Maaf ya! Dan yang ngebaca tentunya! Sekali lagi, thanks guys!

See you again! Walau nggak tahu kapan… XD