The White Butler

by Kiyohara

rating: M in the future

language: Indonesia-English

pairing: sebastianxciel, Ocxciel

genre: supranatural – humor

AN: bagi yang belum pernah baca nih komik, isa diliat di onemanga . Com, cari yang judulnya KUROSHITSUJI

Chapter I : pembukaan

Dream

A gloved hand touched his hair, the other one cupped his cheek. And the younger little human panted harshly. Then pair of soft lips touch the younger human pink lips, the demon kissed him, lovingly. The human wondered, since when Demon could loving someone?

Black Hair hung on his face, he could feel the heat. Lust and passion into one. He never go through this before, never in his ETERNAL life he felt like this, so wanted to hug him close and protect the human and kept him for himself. He never this possessive.

His eyes stared at his demon, he really, really wanted his demon to finish what he started, so he thrust his to him. He need more than kisses and touches, he need love, he need fuck. No, He WANT it. "..ple..please..."

The demon smirked at his master, "Please what, my lord?" His voice still steady and firm.

"A..ah..." Ciel Blushed. "ple..please...f...fu-"

-END DREAM-

Ciel terbangun sambil tersenggal. What the hell?? Ciel langsung menyeka mukanya dengan permukaan selimutnya. Mimpi...yang...memalukan... dan mukanya memerah. Dia tidak menyangka bahwa dia akan bermimpi 'seperti itu' dengan pemimpin pelayannya seperti itu. "Argh...kacau...."

Matanya menyapu ruangan dan berhenti pada jam tua di kamarnya. Masih pagi sekali...jam 4. Ciel mengambil posisi duduk dan langsung turun dari tempat tidurnya. Ia mengambil jubah sutra putih dan membuka pintu kamarnya. Ia menyusuri koridor gelap tersebut dengan lilin. Pelan-pelan, Ia berjalan sampai ke arah dapur, Ia melihat terdapat beberapa potong roti dan selai dan susu dingin di meja dapur. Mungkin, itu bisa menjernihkan pikiranku....

Ia mengambil pisau dapur dan segera mengambil posisi di dekat meja tersebut. Duduk tentunya. Gimana cara motongnya? Ia berpikir sesaat, lalu langsung aja maen potong dan tanpa sengaja...Ach! Jarinya teriris, tidak panjang, tapi dalam. Aduh...shit, sial...perban! Ciel menoleh kanan kiri, mencari perban, tapi dia tidak menemukannya. Shit, gimana ini? Darahnya sudah berceceran di bajunya dan lantai. Kalau sebastian-

"Young Mater....apa yang anda lakukan?"

Ciel langsung membeku, ia menoleh pelan. ".....Sebastian."

Sebastian menatapnya, lalu menatap luka di jarinya. "Oh dear, kau terluka..."

"Bukan masalah besar kan?"

Sebastian frowned. This brat...erm, young master. "...well, kalau itu tidak sedalam ini, tidak masalah. Tapi dengan luka sedalam itu, anda bisa mati kehabisan darah." Ciel berkedip. Dia tahu itu. Tiba-tiba saja, badannya langsung pusing dan dia terjatuh. Tapi tepat sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang tangan melindunginya dari lantai tersebut. "Biar ku bereskan. Ok?"

Ciel mengangguk dan membiarkan Sebastian mengurusnya.

"Jadi, ada apa? Kau tidak pernah berjalan ke dapur tengah malam sebelumnya, Heck, kamu tidak pernah ke dapur sebelumnya!"

Ciel termangu. "...aku....lapar."

"Kau bisa memanggilku. Jadi pasti bukan itu."

".........mimpi...buruk."

Sebastian terdiam. Dia tersenyum sinis. "buruk ya? Tapi kenapa wajahmu memerah?"

Ciel kalap. "Bu...BUKAN urusanmu!" ia menarik tangannya dari Sebastian. Jarinya sudah di perban dengan baik dan rapi.

Sang butler pun terkekeh. "baiklah...Ciel..."

"Sebastian..." Ciel memandang sebastian geram, tapi sang demon itu hanya tersenyum dan mendekat ke dirinya. "what are-"

Dan Sebastian menciumnya.

Ciel shock.

"Aku tahu mimpi mu, Ciel, ingat, Aku tahu segalanya tentangmu...itu masuk dalam kontrak kita...dan..." dia tersenyum, "kontrak keluarga, bukankah kita sudah membahasnya?"

Damn......aku lupa. Dan Ciel hanya dapat meratapi nasibnya selanjutnya.