Cha's Note:
Makasih buat yang udah nunggu fict ini…

Enjoy…


-MY BODYGUARD-

Story by Charlotte.d'Cauchemar

Naruto by Masashi Kishimoto

Warning:

AU. OOC. Yaoi.

Chapter 7

Summary:

"Tugas saya untuk menjaga anda walaupun harus menukar dengan nyawa saya sendiri…"

"Dan kamu pikir, kalau kamu mati, aku masih bisa hidup?"


"Di mana ini…?"

Gelap. Hanya itu yang dilihatnya. Sekelilingnya hitam pekat, tidak ada secercah cahaya pun yang bisa ditangkap matanya.

Pemuda itu berjalan. Terus mengayunkan langkahnya di dalam kegelapan. Namun sejauh apapun dia melangkah, yang ditemuinya tetap sama.

"Jangan-jangan… aku sudah mati?" tanyanya pada diri sendiri. Sebuah senyum pahit muncul di sudut bibirnya. Diingatnya kejadian yang menyebabkannya mengalami hal seperti ini.

Waktu itu, ketika tahu bahwa Tuan Mudanya menghilang, dengan kalut dia menyusuri setiap sudut sekolah untuk mencarinya. Sampai akhirnya kakinya membawanya ke sebuah gudang yang terletak paling jauh dari gedung utama sekolah. Dan di sanalah dia melihat semuanya.

Lima orang pemuda yang tidak dikenalnya sedang berkerumun di satu tempat. Tepatnya di satu tubuh yang dikenalinya sebagai Tuan Mudanya. Saat itu juga, akal sehatnya menghilang entah ke mana. Dia menyerang empat orang dari mereka dengan membabi buta. Dan ketika dia lengah, seorang dari mereka berhasil menusukkan pisau ke perutnya. Tapi saat itu, sakit sama sekali tidak dirasakannya. Keselamatan majikannyalah yang ada di pikirannya.

Dan setelah menumbangkan kelima orang itu, dia hanya bisa mengingat wajah Tuan Mudanya yang berurai air mata berlari dengan tergesa-gesa ke arahnya. Setelah itu… gelap. Tak ada lagi yang bisa diingatnya.

Pemuda itu tertawa kecil. "Setidaknya… aku tahu Tuan Muda baik-baik saja…"

"… me!"

Sebuah suara terdengar samar-samar olehnya.

"Teme!"

Hangat… rasanya hangat bisa mendengar suara yang amat dikenalnya itu. Samar memang, tapi paling tidak di tengah kegelapan seperti ini, dia jadi punya 'cahaya' yang sedikit menenangkannya.

"Baka Teme!"

Perlahan tapi pasti, dirasakannya ada sebuah kekuatan yang menariknya ke dalam suatu pusaran yang penuh dengan cahaya. Pemuda itu memejamkan matanya. Dan ketika membukanya kembali, yang pertama kali menyambutnya adalah sepasang bola mata biru langit yang menatapnya dengan sangat khawatir.

"Jangan menangis, Tuan Muda…" bisiknya. Suaranya amat lemah dan tenggorokannya kering.

"Bodoh… aku nangis juga gara-gara kamu, tau…"

Tanpa aba-aba, Naruto segera memeluk pemuda berambut hitam itu, berhati-hati supaya tidak menyentuh luka di perutnya.

"Jangan. Sekali-kali. Melakukan. Hal. Bodoh. Seperti. Itu. Lagi." Naruto memberi penekanan pada setiap katanya.

Sasuke hanya tersenyum lemah. "Tuan Muda sendiri… anda tidak apa-apa?"

Naruto melepaskan pelukannya, kemudian duduk di tepi ranjang Sasuke. "Sudah kubilang, kau harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri. Nyawamu itu cuma satu…"

"Tugas saya untuk menjaga anda walaupun harus menukar dengan nyawa saya sendiri…"

"Dan kamu pikir, kalau kamu mati, aku masih bisa hidup?"

Sasuke tertegun mendengarnya.

Kemudian Naruto bangkit dan memencet sebuah intercom yang ada di ruangan itu. "Sensei… Sasuke sudah bangun…" dan lalu kembali ke tempatnya semula.

Tak sampai lima menit, seorang pria setengah baya masuk ke ruangan itu bersama dengan seorang suster di belakangnya. Dokter itu memeriksa kondisi Sasuke dengan seksama, memastikan bahwa dirinya sudah tidak berada dalam kondisi kritis.

"Kau beruntung, anak muda… tusukan itu tidak mengenai organ dalammu yang penting… kamu hanya tidak sadarkan diri selama 3 hari…"

Dan setelah memberi nasihat untuk banyak beristirahat, dokter itu meninggalkan ruangan.

Baik Sasuke maupun Naruto tidak ada yang berbicara. Naruto sibuk memandangi tangannya yang tiba-tiba saja jadi menarik untuknya. Sedangkan mata onyx Sasuke tak lepas dari sosok majikannya itu. Rambut pirang Naruto yang kelihatannya seperti tidak disisir beberapa hari, kantung mata yang terlihat di bawah matanya, juga wajahnya yang terlihat lelah. Sebuah syal berwarna biru melingkar di lehernya. Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Padahal dari apa yang dilihatnya lewat jendela, hari ini cukup cerah. Lalu untuk apa Naruto mengenakan syal padahal di ruangan ini jelas memakai pemanas ruangan?

Perlahan, Sasuke mencoba bangkit untuk mendapatkan posisi duduk yang nyaman tanpa melepaskan pandangannya.

Naruto yang merasakan pandangan Sasuke pada dirinya menjadi sedikit salah tingkah.

"Kau lihat apa?" tanyanya.

Sasuke menggelengkan kepalanya. "Anda baik-baik saja, Tuan Muda? Mereka… orang-orang itu… tidak melakukan apa-apa pada anda bukan?"

Naruto sepertinya mengerti apa yang dimaksud oleh Sasuke sehingga ia menjawab, "Nggak… mereka nggak sempat berbuat lebih jauh. Untung kamu cepat datang, Sasuke. Kalau nggak… aku sendiri nggak berani bayangin apa yang bakal terjadi…"

Sasuke menarik napas panjang. "Tapi saya sudah gagal menjalankan tugas saya, Tuan Muda. Membiarkan orang-orang itu menyentuh anda, bahkan saya sampai terluka seperti ini… saya tidak akan heran kalau Minato-sama akan memecat saya…"

"Sasuke!" potong Naruto. "Jangan bicara seperti itu! Nggak ada yang bisa mecat kamu, meskipun itu Tou-san… Lagipula, Tou-san maklum kok… ini kan juga bukan salah kamu. Aku juga terlalu gampang percaya sama orang lain."

"Tapi tetap saja, saya sudah gagal melaksanakan apa yang menjadi kewajiban saya. Saya merasa bersalah. Maafkan saya, Tuan Muda…"
"Sudah kubilang nggak ada yang perlu dimaafin. Sebagian juga salahku sendiri kok!"

"Tuan Muda… kalau bisa saya akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan ini…"

"Apapun?" Naruto berusaha memperjelas maksud Sasuke tadi.

"Apapun." Sasuke menjawab dengan yakin. Dia sudah siap akan segala macam hukuman yang akan diterimanya karena lalai menjalankan tugas.

"Tutup matamu."

"Eh?" Sasuke berusaha mempercayai pendengarannya.

"Apapun kan katamu. Sekarang, tutup matamu."

Tanpa banyak tanya lagi, Sasuke melaksanakan perintah majikannya itu walaupun dengan bertanya-tanya.

Beberapa detik kemudian, dirasakannya sebuah tekanan halus di atas bibirnya. Dengan dada yang berdebar, Sasuke memberanikan diri membuka matanya dan mendapati wajah Naruto yang terpejam begitu dekat dengannya. Dan satu kesimpulan yang bisa diambilnya. Naruto's kissing him.

Sasuke kemudian menutup matanya, menikmati ciuman yang diberikan majikannya itu. Tangannya kemudian bergerak melingkari pinggang pemuda pirang itu. Sedangkan tangan Naruto mencengkeram baju rumah sakit Sasuke di bagian dada dengan erat.

Tak lama sampai akhirnya mereka memutuskan ciuman itu untuk mengambil nafas. Lalu Naruto kembali menarik wajah Sasuke untuk ciuman lainnya, kali ini lebih dalam daripada sebelumnya.

Kali ini, lidah Sasuke menjilat lembut bibir bawah Naruto yang menyebabkannya mendesah dan membuka jalan bagi Sasuke untuk memasuki rongga mulutnya. Lidah Sasuke menyusuri setiap bagian mulut Naruto, berusaha mengingat rasa manis yang dimilikinya.

Ciuman itu berlanjut hingga beberapa menit saat keduanya berpagutan untuk memenuhi kebutuhan oksigen mereka. Wajah keduanya memerah. Degup jantung mereka sudah berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Tidak ada yang berani memandang wajah satu sama lain. Keduanya membuang muka.

Sekian menit keduanya tidak ada yang buka suara. Sampai akhirnya Sasuke memutuskan untuk memandang majikannya itu. Tapi, matanya melebar ketika melihat sebuah kiss mark di pundak kiri Naruto yang tadinya tertutup syal. Dirasakannya kemarahannya mulai berkumpul jika mengingat siapa yang memberikan tanda itu. Sekarang dia tahu kenapa Naruto memakai syal di hari secerah ini.

Naruto yang sepertinya menyadari perubahan sikap Sasuke, segera mengambil syalnya yang terjatuh untuk menutupi pundaknya, namun tangan Sasuke menghalanginya.

"Sasuke?"
"Jangan ditutup…"

Dengan itu, Sasuke mendekatkan wajahnya menuju pundak Naruto. Kemudian dia menjilat tanda merah itu sebelum akhirnya menggigitnya dan menghisapnya yang menyebabkan Naruto tidak bisa menahan erangan meluncur dari bibirnya.

"Nnnhh… 'Suke…"

Ketika dirasakannya sudah cukup, Sasuke memandangi hasil karyanya dan menyeringai puas.

"Sekarang… lebih baik…"

"Dan kamu membuatnya jadi tambah jelas, baka…" ujar Naruto dengan jengkel, tapi wajahnya yang tersipu menghianatinya.

'Kriett…'

Suara pintu yang terbuka membuat keduanya segera menjauh dari posisinya semula. Naruto langsung duduk di kursi yang ada di samping ranjang dengan wajah yang tertunduk, sedangkan Sasuke membuang muka ke arah jendela yang menawarkan pemandangan lukisan pagi hari.

"Kau sudah bangun, Sasuke…" Sebuah suara bass membuat Sasuke mengalihkan pandangannya pada si empunya suara.

"Aniki…"
Itachi hanya mengangguk kecil menjawab panggilan adiknya kemudian memamandang Naruto yang masih malah asyik mempermainkan ujung syal yang sudah dipakainya lagi.

"Tuan Muda, Sai sudah menunggu di depan… Anda harus segera pulang…"

Wajah Naruto terlihat sedikit kecewa. "Tapi… Sasuke baru bangun…"

"Anda sendiri yang bilang akan pulang setelah Sasuke bangun. Anda harus istirahat, Tuan Muda, biar saya yang menjaga Sasuke…" jawabnya tegas, jelas sekali tidak ada seorang pun yang bisa membantahnya.

Naruto akhirnya mengalah. Dia segera bangkit dari kursinya dan melambai kecil kepada dua Uchiha yang tertinggal di ruangan itu.

"Sasuke…"

Pemuda berambut hitam itu tidak menjawab panggilan kakaknya, masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai…

'PLAKK'

Otak Sasuke cepat mencerna apa yang barusan terjadi. Pipinya yang terasa panas dan perih, lalu tangan Itachi yang masih menggantung di udara. Itachi baru saja menamparnya.

"Apa-apaan, aniki!"

"Kau! Kau yang apa-apaan, Sasuke!" Itachi menunjuk-nunjuk Sasuke dengan jarinya. Sebelah tangannya yang lain terkepal di samping tubuhnya.

Sasuke menatapnya dengan bertanya-tanya sambil memegangi pipinya yang masih terasa sakit.

"Apa yang barusan kau lakukan terhadap Tuan Muda?"

Sasuke tersentak. Jadi… aniki lihat yang tadi…

"Ya, aku lihat semuanya. Kukira kau bisa menjaga sikapmu. Ternyata…" Pria berusia 27 tahun itu berusaha menahan amarahnya dengan perlahan-lahan menarik napas panjang.

Hening. Kedua kakak beradik itu tak ada yang mengeluarkan suara.

"Aku mencintainya, aniki…" ujar Sasuke setelah beberapa menit berlalu. Sasuke memandang tepat ke dalam mata onyx kakaknya. Hitam bertemu hitam. "dan aku rasa dia juga…"

"Sasuke…" potong Itachi, suaranya sudah lebih tenang dibanding sebelumnya, "… dia majikanmu dan kau hanya pengawalnya, kalian berdua…

"Tapi nggak ada yang melarang hubungan seperti itu kan? Lagipula aku yakin aku bisa membuatnya bahagia!"

Itachi memandang adiknya dengan iba. Tidak pernah Sasuke menampakkan begitu banyak emosi seperti ini. Tapi, dia tidak bisa membiarkannya.

Itachi menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara, "Minato-sama membutuhkan penerus untuk melanjutkan perusahaannya. Kau tahu itu kan, Sasuke."

Tentu saja, Sasuke tahu semua itu. Tahu bagaimana Minato-sama dengan bangganya memperkenalkan Naruto sebagai penerusnya kepada kolega-koleganya, bagaimana dia selalu bercerita bahwa dia selalu bermimpi untuk mendapatkan cucu dari anak semata wayangnya itu. Dan jauh dalam hati, Sasuke tak ingin menghancurkan harapan orang yang sudah membiayai dirinya dan kakaknya sejak orang tua mereka meninggal.

Itachi melihat perubahan air muka adiknya itu dan yakin bahwa pemuda bermata onyx itu sudah bisa menangkap apa yang dimaksudnya. Ada sedikit sesal di hatinya ketika melihat Sasuke menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Dan kalau Tuan Muda bersamamu, Minato-sama pasti akan kecewa…"

Hening.

Kedua Uchiha itu sibuk dengan segala yang berkecamuk di dada mereka masing-masing.

"Aku tidak akan melaporkan hal ini kepada Minato-sama. Dia sudah cukup khawatir dengan kejadian kemarin dan aku tidak mau menambah beban pikirannya lagi. Karena itu Sasuke…" Itachi berjalan mendekati adiknya dan menepuk pelan pundaknya, "… kumohon, jaga sikapmu… kau harus bisa menjaga jarak dengan Tuan Muda. Sebatas atasan dan bawahan."

Sasuke tidak merespon perkataan kakaknya itu, tapi dia menyimak dengan pasti setiap kalimatnya, meresapinya, dan sungguh… semua itu terasa menyakitkan untuknya.

"Baiklah…" jawabnya lemah, suaranya terdengar sedikit bergetar, "… aku… akan melakukannya…" Tangannya mencengkeram erat selimut yang menutup tubuhnya.

Itachi tersenyum pahit. Tanpa banyak bicara lagi, dia melangkah pergi meninggalkan adiknya itu, memberinya kesempatan untuk meratapi takdir yang sepertinya tidak berpihak padanya.

Pemuda berambut hitam itu menutup pintu dengan perlahan, sambil mencuri pandang ke dalam kamar. Sasuke masih menundukkan wajahnya dan sepertinya ada yang mulai menggenang di sudut matanya.

Setelah pintu itu tertutup dengan sempurna, dia bisa mendengar isakan halus dari dalam sana. Tak tega, Itachi segera menjauh dari tempat itu. Sejauh yang dia ingat, belum pernah sekalipun dia melihat pemuda keras kepala itu menitikkan airmata setelah kedua orang tua mereka meninggal.

Sebetulnya, dia tidak mau mengucapkan kata-kata itu kepada adiknya. Dia bisa tahu bahwa adiknya berubah setelah bertemu Naruto 8 tahun yang lalu. Dia jadi lebih… menghargai hidupnya sendiri. Tapi dia harus mengatakannya. Cepat atau lambat, Sasuke harus menyadari bahwa Naruto dan dirinya… tak akan bisa jadi satu kesatuan.

XxXxX

SASUKE'S POV

"Sasuke…"

"Hn." Tanpa menengok pun, aku sudah tahu siapa yang memanggilku.

"Kamu nggak lagi ngapa-ngapain kan? Bisa anterin aku ke…"

"Maaf, saya sibuk, Tuan Muda…" Aku segera bangkit dari dudukku di ruang keluarga. Bisa kulihat cengiran Naruto sempat menghilang dari bibirnya sebelum dia mengembangkan cengiran lainnya lagi.

"Oh iya… Sasuke kan harus banyak istirahat ya… baru seminggu keluar dari rumah sakit…" Dia juga segera bangkit dan menghampiriku. "Kalau gitu, bisa bantu aku ngerjain PR?"

"Saya sibuk, Tuan Muda…" ulangku.

Naruto menggembungkan pipinya kesal. "Ya udah, aku mau minta bantuan Sai-niisan aja!" dan dia segera berjalan menuju sisi lain rumah megah itu.

Aku tersenyum pahit. Aku sudah berjanji kepada aniki, dan satu-satunya cara adalah dengan menjaga jarak dengannya. Bahkan, mungkin membuatnya membenciku.

"Sasuke…"

"Ada apa, aniki?" Jujur, aku masih marah kepadanya. Aku tahu, dia hanya mengingatkanku bahwa sikapku sudah kelewat batas. Dan walaupun aku tahu semua itu, tetap saja sakit jika aniki dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu.

"Minato-sama ingin bicara denganmu."

Aku segera menatap aniki yang berdiri sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. Bukankan aniki sudah berjanji tidak akan bicara apa pun kepada Minato-sama?

"Jangan khawatir. Bukan hal 'itu' yang akan beliau bicarakan." Dia segera berbalik dan berjalan menuju ruangan kerja Minato-sama, memberi isyarat dengan tangannya agar aku mengikutinya.

Kalau bukan 'itu'… lalu untuk apa?

-

-

"Duduk, Sasuke…"

Tanpa banyak tanya, aku segera melaksanakan perintah Tuan Besar itu. Seorang pria berambut pirang dan bermata biru seperti Naruto, namun dengan garis wajah yang lebih mencerminkan kedewasaan. Usianya baru menginjak kepala 4, namun wibawanya tak perlu diragukan lagi. Minato-sama mengambil tempat di sofa single di seberangku. Aniki mengikuti gerakannya dan duduk di sampingku.

"Kau masih ingat penculikan Tuan Muda, Sasuke?" Aniki yang pertama menyuarakan pendapatnya. Aku hanya mengangguk. Aniki pun balas mengangguk. "Yang akan kita bicarakan ini menyangkut hal itu."

Aku mengangkat sebelah alisku heran. "Bukannya, kelima orang itu sudah tertangkap?"

Minato-sama dan aniki bertukar pandang, sepertinya sedang berdebat tanpa suara untuk memberitahuku atau tidak.

"Tapi… kau tahu siapa 'Tuan' yang mereka maksud?"

Aku menjawab dengan gelengan.

"Orochimaru. Kau tahu nama itu?"

Aku terkesiap, tapi berusaha untuk tetap tenang. Tentu saja aku tahu guru Biologi yang sepertinya sangat terobsesi dengan ular itu. "Dia… dalangnya?"

Minato-sama berpikir sebentar sebelum menjawab, "Bisa ya, bisa juga tidak…"

Dan jawabannya betul-betul membuatku bingung. "Apakah dia sudah ditangkap?"

"Hampir…" ujar aniki, "… tapi tadi pagi saat polisi menggerebek tempat tinggalnya…"

"… dia sudah tidak bernyawa…" sambung Minato-sama.

"Eh?" hanya itu yang bisa kukeluarkan.

"Dua tembakan di tubuhnya, dan salah satunya tepat menembus tengkoraknya. Tepatnya… dia dibunuh…"

Mata onyxku semakin melebar. "Siapa…"

"Sepertinya, orang yang mengutusnya memutuskan kalau dia tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, maka dia 'dibebastugaskan'." Aniki sepertinya bisa membaca pikiranku.

"Ino?"

Aniki menggelengkan kepala. "Dia hanya berniat menggunakan Orochimaru untuk menghancurkan Tuan Muda, tapi dia tidak tahu kalau Orochimaru punya maksud lain…"

"Gadis itu hanya digunakan oleh Orochimaru sebagai batu loncatan saja, sebagai alasan baginya untuk memulai tugasnya," jelas aniki, "… dan orang yang ada di belakang semua ini… 'dia' licin."

"Maksud…"

"Sudah hampir 13 tahun 'dia' menghilang, kebanyakan mengira 'dia' sudah mati. Tapi, kejadian kali ini jelas membuktikan bahwa 'dia' masih eksis di dunia ini. Di Konoha."

Aku masih terus memandang aniki yang tampaknya masih belum selesai dengan penjelasannya.

"Ingat pistol 9mm yang digunakan Kabuto? Well… tanda awan merah yang diukir di gagang pistol itu… hanya 'dia' yang mungkin memilikinya…"

"Intinya, Sasuke…" Minato-sama menyambung, "… aku minta kamu untuk memperketat pengawasanmu terhadap Naruto. Jangan biarkan dia berkeliaran sendiri. Aku juga sebisa mungkin akan menambah penjagaan di sekitar rumah dan sekolah."

"Tapi… sebenarnya siapa 'dia' yang kalian maksud?"

Keduanya terdiam dan kembali bertukar pandang.

"Pein dan Akatsuki…" aniki memandang tajam kepadaku, "… they're back…"

Well… sepertinya tugasku akan semakin berat sekarang…

-TO BE CONTINUED-


Cha's Note:

Satu chapter selesai…

Alurnya kecepetan nggak?

Cha ingin cepet sampai klimaksnya nih…

Review key??!

Gimme Support…

Review Reply:

# 5 Sekawan: Nggak apa-apa. Nggak login, yang penting review, hehehe… XD Si Kabuto canggih ya bawa pistol segala… tadinya malah mau di bikin bawa AK-47 –digetok-.

# : Udah liat kan Sasu mati atau nggak… Lemon mah tungguin di fict Cha yang lain atuh… Cha udah sekuat hati, jiwa, dan raga menahan keinginan untuk naikin ratenya ke M, jangan goyahkan tekadku… -lebay-

# D1aNdr4_g0n: Huhu… kurang ya… Cha kurang bisa bikin scene pertarungan kaya kemarin sih… tu yang pertama kali… Makasih ucapannya… Belum Cha bales commentnya, masih males buka FS… Cha jadi tambah tua nih… T.T

# Nazuki. Rinchan: Naruto itu selalu bikin iman orang lain turun sih… Nih Chap selanjutnya. Udah dapet jawabannya kan…

# BrunoNadhgravanoMemangSableng~: sama… Cha juga kalo udah sekarat pulsa males banget login…Jadi intinya… Naruto sama Sasuke sama-sama bego ya? Hm… -ngangguk-ngangguk nggak jelas-

# Chiaki Megumi: "Yay! Udah di ripiu, baca dulu ah…" semenit kemudian… "Cha benci Sasu gara-gara ada dia Naru nggak bisa ama Sai!" –dihajar-. Sembuh kan Sasunya… Cha masih bae hati ternyata. Megu… fict Cha ini nggak tamat-tamat, padahal yang punya Megu udah tamat… T.T

# Lovely Lucifer: Dipikir lagi, kenapa Cha ngluarin Sasuke di saat-saat kritis ya? Padahal kalau dikeluarin lebih lama dikit, kayaknya nasibnya Naru… -dichidori Sasuke-

# Chiba Asuka: Nggak apa-apa lewat PM juga… yang penting review… -rakus review nih-

Thanks for all reviewers:

5 sekawan, Niero-SilvaUchiSa, Sefa-sama, Deeandra Hihara, D1aNdr4_ g0n, Nazuki. Rinchan, BrunoNadhGravano, Chiaki Megumi, yue asahi, lovely lucifer, Akasuna no Azura.

With Love

_Charlotte.d'Cauchemar_