The Languange of Flower

Summary: "Pernahkah kau mengerti apa arti dari semua bunga yang kukirim padamu? Jika digabungkan, bisa dijadikan sebuah kisah." SasuSaku. AU.

Disclaimer: I DO NOT OWN ANY OF THESE THINGS!

Oke, jadi Helen lagi baca-baca lagi komik Doraemon dan ada cerita Nobita ama bunga dandelion. Karena terpukau (?) ama perkataan sang dandelion yang ini: "Anak-anak hidup mandiri. Terbang ke dunia yang luas. Mengembangkan bunga yang indah." akhirnya Helen berusaha nyari bahasa bunga malamnya (ngga nyambung ama kisah dandelion..). Helen cuma tau beberapa bahasa bunga doang. Tapi ternyata abis liat di 2 website, wikipedia dan wordpress punya seseorang, bahasa bunga itu bagus banget! Akhirnya yang tadi siang Helen pengen banget bikin fic baru OneShot tapi ga punya ide, sekarang bisa bikin juga!

Ok, on to the story.


"Pernahkah kau mengerti apa arti dari semua bunga yang kukirim padamu? Jika digabungkan, bisa dijadikan sebuah kisah."

"Sebuah.. kisah?"

"Ya. Mau aku beri tahu kau satu-satu arti dari bunga-bunga itu atau kau buka kamusmu sendiri?"

The Languange of Flower

By: Inuzumaki Helen

Inspired by: Unrevealed Mistake Of A One Night Stand by CommitedToKiba and Dandelion Pergi Ke Langit, Doraemon by Fujiko F. Fujio

Main character: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura

Main pairing: SasuSaku

I own nothing but the idea of this story

Enjoy!


First Stem: .. And Then There's Thursday Again

"Hoahm.." Seorang gadis meregangkan tangannya sambil menguap lebar. Matanya sayu, samar-sama kantung hitam matanya bisa terlihat dan rambut berwarna merah muda-nya acak-acakan.

Gadis itu kemudian menengok pada jam kecil diatas meja disamping tempat tidurnya. Jam 07:32. Gadis itu mengangguk-angguk sendiri melihat waktu. Ia duduk diam diatas selimut yang berantakan sebelum berdiri dan berjalan mengambil handuk.

"Duh, punggungku sakit. Semalaman duduk meng-update database, ternyata jumlah anak-anak disana banyak juga ya.." gumam gadis itu. Ia berjalan terbungkuk-bungkuk menuju kamar mandi, sambil mengurut punggungnya yang sakit. "Hari ini aku bisa sarapan apa ya?"

-FLORIOGRAPHY-

Selesai mandi, tampang gadis itu menjadi lebih segar, walau kantung hitam matanya masih bisa terlihat samar-samar. Ia mengeringkan lengannya dengan handuk berwarna merah muda yang matching dengan warna rambutnya. Sesekali, ia menggumamkan lagu-lagu kesukaannya.

Setelah menyisir rambutnya, ia keluar kamar untuk menyiapkan sarapannya. Ketika ia sedang membuka-buka lemari makanan untuk mencari roti, matanya menangkap sebuah objek di teras belakang. Tersenyum, gadis itu berjalan menuju teras belakang -yang gordennya selalu dibuka- untuk mengambil benda tersebut.

GREK!

Gadis itu membuka pintu geser teras belakang rumahnya. Ia kemudian menunduk untuk melihat benda yang ditinggalkan di teras. Setangkai bunga. Violet Rose, lebih tepatnya. Ada sebuah kartu kecil berwarna ungu yang diikat di tangkai-nya. Gadis itu tersenyum dan mengambil bunganya. Ia kemudian melepas ikatan pita ungu yang melilit kartu kecil tersebut dan mulai membaca isi kartunya.

Sakura,

Selamat pagi. Tidur nyenyak? Kali ini aku mengirimimu bunga 'Violet Rose'. Aku membelinya pagi-pagi sekali. Heran juga ada toko bunga yang buka 24 jam. Kukira hanya toko kelontong dan sebagainya.. Bunganya bagus tidak? Kuharap kau menyukainya.

-Anonymous-

Gadis bernama Sakura itu menghela nafasnya. Bunga mulai datang sejak hari Kamis minggu lalu. Bunga dikirim setiap hari Kamis saja. Bunga Kamis lalu adalah sebuket bunga Lilac. Disertai kartu kecil berwarna lilac yang dililit pita berwarna lilac juga.

Ia menutup pintu dan menguncinya. Ia kemudian mengambil sebuah vas bunga ramping berwarna biru metalik yang ia beli tahun lalu saat sedang pergi berwisata dengan teman-temannya ke sebuah gunung. Ia menatap bunga mawar berwarna ungu muda campur pink itu selama beberapa detik sebelum kemudian ia memasukkannya kedalam vas biru di hadapannya. Ia kemudian meletakkan vas biru tersebut di atas meja makan kacanya. Ia duduk di kursi putih tinggi di dekat meja. Matanya tak lepas menatap bunga mawar itu.

"Cantik sekali.." batinnya. Ia memandangi bunga itu sambil tersenyum selama beberapa menit sampai..

TRRT!!

Handphone Sakura bergetar. Sakura tersadar dari lamunannya dan segera bangkit untuk mengambil handphone-nya yang ia tinggalkan di pantry. Ada sebuah SMS masuk.

From: Yamanaka Ino

SAKURA! Kau dmna? Ini udah hampir jam 8 loh! Cpat ksni, anak2 udah hampir dtg smua loh!

Sakura membelalakkan matanya. "Ah iya! Kerja! Tapi aku belum sarapan.. Beli di jalan sajalah!" kata Sakura. Ia kemudian kalang kabut mengambil keperluan untuk kerjanya yang belum sempat ia siapkan semalam. Buku, alat tulis dan dompetnya tak lupa ia ambil. Setelah memakai sepatunya, ia mengambil kunci mobilnya dan keluar dari rumahnya.


Sakura memarkir mobilnya di depan sebuah rumah besar bertingkat 2. Ia mengambil tas-nya dan langsung membuka pintu ketika melihat sudah sedikit anak-anak yang datang tinggal 1-2 orang. Ia menutup pintu mobilnya, menguncinya dan langsung lari menuju pintu masuk rumah itu.

"Sakura-sensei!" seru seorang anak laki-laki. Sakura membalikkan badannya, sesaat sebelum ia membuka pintu rumah itu.

"Oh, Konohamaru! Datang juga kau," jawab Sakura. Anak bernama Konohamaru itu berjalan mendekat pada Sakura sambil tersenyum.

"Iya. Tak ada kerjaan saja. Lagipula ada PR Akutansi yang belum selesai," kata Konohamaru.

"Akutansi? Konohamaru kelas berapa sih? Kok sudah belajar akutansi?" tanya Sakura bingung. Perasaan dulu pertama kali ia mendapat pelajaran akutansi itu waktu kelas 1 SMA. Sementara Konohamaru kan..

"Kelas 2 SMP! Masa' sensei lupa melulu sih!?" tanya Konohamaru gemas.

"Eh iya ya. 2 SMP. Sensei lupa melulu!" Sakura tertawa. Ia kemudian melihat seorang anak perempuan disamping Konohamaru. "Hanabi ada PR apa lagi?" tanyanya.

Anak bernama Hanabi itu mendongak. "Euh.. Lagi ngga ada PR. Aku cuma mau main aja kesini," jawab Hanabi.

Sakura mengangguk-angguk. "Neechan-mu sudah berangkat kerja ya?" Kakak perempuan Hanabi, Hinata, adalah sahabat Sakura sejak SD. Sekarang Hinata bekerja sebagai editor di sebuah kantor surat kabar.

Hanabi mengangguk. "Bagaimana kalau kita masuk saja sekarang?" usul Hanabi.

"Oh iya ya. Ayo, masuk!" Sakura memutar kenop pintu kayu itu. Hal pertama yang Sakura lihat adalah temannya, Tenten, yang sedang berurusan dengan seorang anak TK.

"Ah, Sakura! Lapor dulu sana. Ino ada di lantai 2," kata gadis bercepol dua itu. Tangan kanannya sedang memegang sebuah bola dan tangan kirinya sedang menggenggam lengan seorang anak TK, yang kakinya ada di pipi Tenten. Sakura hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perilaku anak itu.

"Konohamaru, Hanabi, sensei ke atas dulu ya. Kalian gabung saja sama teman-teman yang lain," kata Sakura. Konohamaru dan Hanabi mengangguk. Mereka lalu meninggalkan Sakura dengan Tenten dan anak TK itu.

"Perlu bantuan?" Sakura menawarkan bantuan pada Tenten.

"Ti-tidak usah. Aku.. bisa.. sendi- Chouji! Bolanya jangan dimakan!" teriak Tenten ketika melihat anak TK dihadapannya sudah memegang sebuah bola baru dan berusaha memasukkannya ke mulutnya. Tenten dengan cepat mengambil bola kecil itu dan melemparnya.


TOK TOK!

"Masuk!" seru seseorang dari dalam ruangan. Sakura mendorong pintu terbuka.

"Ino-"

"Ah, Sakura. Kebetulan. Tolong aku merapikan arsip ini sesuai abjad!" kata Ino sambil tetap meletakkan arsip-arsip sesuai abjad.

"Ino, aku hanya-"

"Sesuai abjad lho!" kata Ino, suaranya agak ditekankan sekarang. Sakura menghelas nafas dan berlutut untuk menyusun arsip di rak bagian bawah.

"Ino, aku kesini hanya mau lapor," kata Sakura.

Ino menghentikan pekerjaannya. "Oh. Oh. Oh.. Baiklah. Tapi kau tetap harus menolongku dalam hal ini!" kata gadis berambut pirang itu.

"Iya, iya, nona Yamanaka.."

"Sepertinya hari ini berisik sekali ya. Banyak yang datang?" tanya Ino.

"Sepertinya begitu. Aku belum lihat belakang-belakang. Ngomong-ngomong, aku sudah meng-update database semalam," lapor Sakura. Ino mengangguk.

"Hm. Baguslah. Ada berapa anak semuanya?"

"124 anak total. Dari TK A sampai 2 SMA," kata Sakura. Pandangan matanya tidak lepas dari arsip-arsip ditangannya.

"Kemana 3 SMA?"

"Mereka kan mau ujian, jadi mereka mencari tempat yang lebih tenang dan damai."

"Heh, tapi 124 anak itu banyak juga ya. Apa aku harus membeli rumah baru?"

"Jangan buang-buang uang lah, Ino. Segini juga muat 124 anak, dengan 5 sensei," jawab Sakura.

"Benar juga katamu. Nah, rak kedua sudah selesai! Bagaimana rak ketiga?" tanya Ino.

"Sebentar lagi.. Nah, selesai! Sekarang, boleh aku pergi? Aku harus membantu Konohamaru mengerjakan akutansi. Belum lagi anak-anak lain," kata Sakura.

"Ya sudahlah. Selamat mengajar!" kata Ino.

"Kapan kau keluar dan mengajar?"

"Nanti jam 9."


Sakura sampai di lantai 1. Ia melihat anak-anak SD yang sedang berlari-lari dengan Tenten dibelakang mereka mengejar, dan anak-anak TK yang dengan antusiasnya sedang mendengar seorang pemuda berambut pirang bercerita.

"Naruto memang pintar mengurus anak-anak," batin Sakura tentang temannya itu, Uzumaki Naruto.

Sebenarnya, apa sih pekerjaan Sakura? Sakura bekerja sebagai guru di sebuah tempat penjagaan/penitipan anak milik Ino. Anak-anak yang datang ke sana adalah anak-anak yang ditinggal orangtua-nya pergi bekerja. Ada juga anak-anak yang datang hanya untuk menyelesaikan PR mereka. Tempat penjagaan anak yang Ino beri nama 'Rookie Daycare' itu sudah berdiri sejak 5 tahun lalu. Guru-guru disana tidak berubah-ubah semenjak 5 tahun. Ada Sakura sendiri, Ino, Tenten, Naruto dan seorang lagi, Uchiha Sasuke.

Sakura berjalan menuju belakang rumah untuk menemui Konohamaru. Saat sudah sampai, ia melihat Konohamaru sedang tekun mengerjakan PR-nya dengan seseorang. Sakura langsung mengenali orang itu sebagai guru yang paling pintar di Daycare itu. Siapa lagi kalau bukan Tuan Uchiha Sasuke?

"Pagi, Sasuke. Konohamaru PR-nya seperti apa sih?" tanya Sakura. Ia mengambil duduk di sebelah Sasuke. Sasuke hanya menengok sebentar kemudian kembali mengawasi Konohamaru menulis.

"PR praktek. Disuruh buat pembukuan untuk 2 bulan dari soal di buku teks. Biasalah, Anko-sensei kan suka ngasi PR banyak," jawab Konohamaru sambil terus menulis. Matanya tidak lepas dari angka-angka yang ditulisnya.

"Mau ikut kubantu?" tanya Sakura.

"Tidak usah, sensei. Sasuke-sensei sudah membantuku. Tinggal 12 hari lagi kok," kata Konohamaru.

"Oh, baiklah. Kalau begitu, aku mengecek anak-anak lain dulu ya," kata Sakura. Ia kemudian beranjak dari duduknya. Baru berjalan selangkah, ia membalikkan badan.

"Eh, Kiba ada dimana, Sasuke?" tanya Sakura.

Sasuke mendongak. "Kiba? Lagi main di luar sama si bocah Aburame itu," jawabnya.

Sakura mengangguk terima kasih dan keluar untuk menemui Kiba dan Aburame.


"Ah.. Ayah bagaimana sih? Kan sudah kubilang aku sibuk disini.. Terpaksa aku kirim orang deh," keluh Ino sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung. Saat ia sedang bicara sendiri, Sasuke lewat di hadapannya. Seketika, sebuah ide muncul. Cepat-cepat ia memanggil Sasuke.

"Sasuke!" seru Ino. Sasuke berhenti berjalan dan menoleh pada Ino. Ino memberi isyarat agar Sasuke segera ke tempatnya. Sasuke mendekat dengan malas.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Sas, boleh aku minta tolong?" tanya Ino balik.

"Boleh saja sih. Memang ada apa?"

-FLORIOGRAPHY-

"HEEH!? Aku!?" teriak Sakura sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Ayolah, Sakura. Tolong! Ayahku tiba-tiba ada urusan dengan adiknya di Tsuchi dan aku sibuk sekali disini! Tolong!" Ino memohon-mohon.

Sakura tampak berpikir. "Tapi aku tak akan bisa sendirian. Toko bunga milik keluargamu kan akhir-akhir ini sedang banyak pengunjung. Aku bakal kewalahan sendiri," kata Sakura.

Ino tersenyum. "Oh, tenang saja. Aku mengutus Sasuke untuk menjaga toko juga," katanya bangga.

"SASUKE!?" teriak Sakura lebih kencang dari sebelumnya. "Memang dia mengerti apa tentang bunga!?"

"Dia bisa bekerja sebagai kasir. Dia kan ahli matematika dan sebagainya. Sudahlah tak usah khawatir!" ujar Ino santai.

"Tak usah khawatir katamu!? Bagaimana nasibmu, Tenten dan Naruto mengurus anak-anak liar ini!? 5 sensei saja kewalahan..!"

"Sudah kubilang tak usah khawatir! Nah, sekarang.." Ino mendorong Sakura menuju pintu, mengambil sepatu Sakura dan memberikannya pada Sakura. "Kau jaga tokoku saja, ya? Semoga berhasil!" seru Ino sebelum ia menutup pintu, meninggalkan Sakura terbengong sendiri di luar dengan sepatu di tangannya.

Tiba-tiba, pintu terbuka lagi, menampakkan sosok Naruto dengan senyumnya yang biasa. "Ino-chan bilang, kalian jangan merusak toko!" katanya riang.

Alis Sakura terpaut. "Apa-apaan dia!? Loh? Ino mana, Naru?" tanya Sakura sambil memakai sepatunya.

"Lagi perang mulut dengan Shikamaru. Sebenarnya yang banyak omong sih Ino.. Shika hanya menjawab dengan malas. Heran deh, padahal sudah mau UN tapi kok masih santai begitu ya si Shika?" Naruto bertanya-tanya.

"Shika kan jenius, Naru. Sudah ya, aku mau ke toko Ino dulu. Ja!" Sakura melambaikan tangannya dan berbalik.

"Ja, Sakura-chan!" seru Naruto. Ia kemudian menutup pintu, diiringi dengan teriakan, "Shino! Kumbangmu berserakan dimana-mana!" dari Naruto.

Sakura geleng-geleng kepala dan berjalan menuju mobilnya.

"Apa iya mereka bertiga bakal baik-baik saja?" batin Sakura. "Anak-anak TK dan SD kan-". Gumaman Sakura terputus oleh sebuah klakson mobil. Sakura menoleh.

"Hoi! Ayo cepat naik!" kata Sasuke dari dalam mobilnya.

"Sasuke? Kukira kau sudah kesana duluan?"

"Aku bakal kelabakan kalau tidak ada kau," jawab Sasuke.

"Baiklah.." Sakura memasukkan kunci mobilnya kedalam tas-nya dan membuka pintu mobil BMW M3 Sedan berwarna silver milik Sasuke. Sakura tak pernah heran dengan bagaimana Sasuke bisa mempunyai BMW dengan gaji hanya dari Daycare. Sasuke anak orang kaya.. Yang membuat Sakura bertanya-tanya, apa yang anak orang kaya lakukan di Daycare? Maksudnya, kenapa ia bekerja di Daycare? Seingat Sakura, Sasuke itu laki-laki yang tidak suka dengan anak-anak, beda dengan sahabat sekaligus rivalnya, Naruto. Naruto gampang dekat dengan anak-anak.


"Um.. Sasuke?" panggil Sakura ketika ia sudah selesai memilih bunga untuk seorang anak kecil.

"Hn?"

"Kau dipaksa Ino untuk menjaga toko ya?" tanya Sakura.

"Hn."

"Sasuke seperti biasa.. Minim bicara! Sudahlah, toh sudah kodratnya dia seperti itu," pikir Sakura. Ia kemudian merapikan tatanan bunga-bunga di depannya.

"Aku jadi terpikir lagi tentang pengirim bunga itu.." gumam Sakura. Tiba-tiba, seseorang menepuk bahu Sakura, membuatnya kaget.

"I-iya?"

"Ah, saya mengangetkan Anda ya? Maaf!" kata seorang pria muda.

"Ti-tidak apa-apa. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sakura ramah.

"Itu, saya mau mencari bunga yang pas untuk pacar saya. Kami sedang bertengkar dan saya mau minta maaf. Saya payah dalam hal begini jadi saya minta tolong untuk mencarikan bunga yang cocok," kata pria berambut silver itu.

"Aduh, aku sendiri tidak paham soal begitu!" batin Sakura.

Melihat Sakura bingung, Sasuke segera meninggalkan meja kasir dan menghampiri Sakura.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Orang ini sedang bertengkar dengan pacarnya dan mau meminta maaf dengan bunga. Tapi aku tidak tahu sama sekali soal bunga yang pantas untuk meminta maaf! Aku hanya tahu soal mawar merah saja.." bisik Sakura. Sasuke mengangguk-angguk mengerti.

"Untuk meminta maaf.." Sasuke menjulurkan kepalanya melewati bahu si pria. ".. Bagaimana kalau Purple Hyacinth?" tanya Sasuke. Sakura tercengang. Dia saja tidak tahu yang mana yang namanya Purple Hyacinth!

Pria itu tampak berpikir. "Seperti apa bunganya?" tanyanya.

Sasuke berjalan melewati pria itu dan mengambil setangkai bunga berwarna ungu yang bentuknya mirip dengan bunga terompet kecil. Satu tangkai berisi kira-kira 8 bunga.

Sasuke memberikan bunga itu pada pria tersebut. "Hanya bunga itu yang saya tahu memiliki arti 'Maafkan aku'," ucap Sasuke.

Pria itu meneliti bunga itu selama beberapa detik sebelum kemudian ia tersenyum.

"Baiklah. Saya ambil bunga ini 2 batang!" ujarnya. Sakura tersenyum dan mengambil sebatang lagi. Sedikit lega karena Sasuke telah membantunya keluar dari permasalahan 'bunga yang pas'.

"Saya juga ingin bunga yang mengatakan bahwa saya rindu padanya," kata pria itu.

"Saya tahu 1 bunga," kata Sasuke. Ia kemudian berjalan menuju sebuah rak berisi berbagai macam bunga berwarna pink dan mengambil setangkai. Ia kemudian menyerahkannya pada pria itu.

"Pink Camellia. 'Aku rindu padamu'," kata Sasuke.

Pria bermasker itu mengamati bunga yang ukurannya agak besar itu sambil mengangguk-angguk. "Baiklah, saya ambil setangkai saja," katanya.

Sasuke mengangguk dan berjalan menuju meja kasir, diikuti pria tersebut.

"Semuanya 31 ryo," kata Sasuke. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan mengambil bunga-bunga-nya, yang sudah Sakura tata rapi di sebuah buket.

"Terima kasih ya. Omong-omong, nama saya Kakashi. Hatake Kakashi. Mungkin saya akan kesini lebih sering lagi, memandang pacar saya suka sekali dengan bunga.." kata pria bernama Kakashi itu. Sasuke dan Sakura mengangguk bersamaan.

"Terima kasih. Semoga hari Anda menyenangkan!" seru Sakura ketika Kakashi sudah ada di depan pintu. Kakashi berbalik sedikit dan melambaikan tangannya. Ia kemudian keluar toko.

Ditinggal sendiri, tak ada pengunjung, toko sunyi sepi, Sakura berusaha untuk mencari bahan bicara yang pas untuk dibicarakan dengan Sasuke. Tak perlu berpikir keras, Sakura sudah menemukannya.

"Sasuke, kenapa kau bisa tahu banyak tentang bunga?" tanya Sakura.

"Memang kenapa?" tanya Sasuke balik.

"Aneh saja. Uchiha Sasuke tahu tentang bahasa bunga. Darimana kau belajar bahasa bunga?" tanya Sakura lagi.

"Tanteku juga buka usaha bunga. Waktu aku kecil, aku suka dijejali bahasa-bahasa bunga," jawab Sasuke.

"Hoo..". Hanya itu yang keluar dari mulut Sakura. Aneh juga, Sakura sudah mengenal dan berteman dengan Sasuke semenjak mereka SD, tapi ternyata masih banyak yang Sakura tidak tahu tentang Sasuke.

"Kau juga.." kata Sasuke. Sakura menoleh. ".. Kau kan perempuan. Kenapa kau tidak tahu apa-apa tentang bunga?" tanya Sasuke datar.

Sakura menyipitkan matanya. "Hei, kau ini! Aku bukan perempuan yang benar-benar clueless soal bunga! Aku tahu beberapa jenis bunga, hanya saja aku tidak begitu tertarik dengan bahasa bunga. Diberi bunga saja aku sudah senang, kok!" ucap Sakura.

"Hn."


Sakura baru saja memasuki halaman rumah slash Daycare itu -diikuti Sasuke- ketika 2 sosok pirang tiba-tiba muncul di depannya, membuatnya terlonjak kaget.

"Teme!"

"Sakura!"

"Bisa bicara sebentar?" seru Naruto dan Ino bersamaan. Sakura hanya bisa melongo melihat kekompakan duo onar itu. Sasuke, tanpa di aba-aba sudah mengikuti Naruto ke arah halaman belakang rumah. Setelah Naruto dan Sasuke sudah tidak terlihat, Ino menyeret Sakura menuju sebuah pohon. Mereka berdiri di bawah pohon besar tersebut.

"Kudengar kau punya secret admirer, ya?" tanya Ino langsung, membuat muka Sakura memerah.

"Da-darimana kau tau i-itu?" tanya Sakura gagap. Tidak biasanya ia gagap seperti itu. Ino kenal benar dengan sahabatnya itu. Mereka sudah berteman sejak mereka lahir (kira-kira begitulah yang Ino deklarasikan). Ia tahu benar apa saja yang bisa membuat Sakura memerah mukanya.

"Jangan anggap remeh, ya. Aku punya sumber terpercaya!" kata Ino bangga.

"Siapa?"

"Tenten."

Sakura mendengus. "Lalu kau sebenarnya mau ngomong apa?" tanyanya.

Ino terlihat berpikir sesaat. Dahinya berkerut. Ia lalu tersenyum. "Aku hanya mau konfirmasi saja. Sudah ya!" katanya. Ia melambai pada Sakura dan langsung pergi menuju pintu masuk rumah. Sesaat sebelum ia masuk, ia melongokkan kepalanya.

"Terima kasih sudah menjaga tokoku, ngomong-ngomong," katanya.

"Ah. I-iya. Sama-sama," balas Sakura. Ino tersenyum dan langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Sakura sendiri. Sakura menghelas nafas. Ia kemudian menengok ke arah perginya Naruto dengan Sasuke tadi.

"Sepertinya pep-talk mereka lebih panjang daripada punyaku.." pikir Sakura.

Ia mengangkat bahu dan langsung berjalan menuju mobilnya. Hari sudah malam. Ino berjanji padanya, jika tokonya sudah selesai diurus dan sudah ditutup, Sakura dan Sasuke boleh langsung pulang. Tapi mereka pikir mereka akan ke Daycare dulu. Ada beberapa anak yang biasanya disitu sampai pukul 8.30 malam. Tapi hari itu orangtua anak-anak tersebut pulang lebih awal, jadi mereka tak perlu menitipkan anak-anak mereka sampai semalam itu.

Saat Sakura sudah di dalam mobilnya, handphone-nya berdering. Ia mengeluarkan handphone Sony Ericsson K750i-nya dari dalam tas dan membaca sebuah SMS dari Ino.

From: Yamanaka Ino

Boleh aku tbak-tbak siapa secret admirer-mu itu? :D

"Ukh, Ino! Kukira dia hanya konfirmasi saja! Masih ada chapter selanjutnya toh!" Sakura lalu mengetik balasannya.

Di dalam Daycare, handphone Sony Ericsson S500i-nya berdering. Cepat-cepat ia menyambar handphone-nya itu, meninggalkan sup yang sedang dimasak.

From: Haruno Sakura

Terserah..

Ino tersenyum penuh kemenangan. Tanpa ragu, ia mengetik balasan dan 'hipotesa'-nya.

Sementara di sisi Sakura, ia tak begitu peduli pada apa yang akan dibilang Ino seterusnya. Ketika ia sedang memindah perseneling, handphone-nya berbunyi. Dengan diiringi helaan nafas, Sakura membuka SMS dari Ino. Tapi, SMS dari Ino kali ini bukan SMS biasa, yang biasanya Sakura jawab ogah-ogahan. SMS Ino yang satu ini langsung membuat Sakura membelalakkan matanya begitu membaca kalimat pertama dari SMS-nya.

To Be Continue~Pour Etre Continuer~Para Ser ContinĂșa~Per Essere Continuare

Intinya: BERSAMBUNG!!


EheheheHEHEHEHE..!!! *dilempar pipa* Akhirnya chappie 1 kelar juga! Abis lama cuti (??), akhirnya Helen balik lagi dengan fic satu ini! Hahaha..! Helen tadinya mau bikin ini OneShot, trus berubah jadi TwoShots, trus berubah lagi jadi ThreeShots. Akhirnya, Helen diambang TwoShots dan ThreeShots. Liat aja deh ntar..

Dari chapter 1, main pairing dan summary-nya, ceritanya bisa ketebak banget ya? Duh Helen.. kalo buat fic ya mbok yang unpredictable gitu loh..

Maap sebelomnya salah! Setting disini iya Hari Kamis. Tapi hari ini, anak-anaknya lagi pada libur. Ada libur nasional gitu.. Gomen!

REVIEW, pretty please? How many pretties do I have to add before I put the word 'please'? And how many sprinkles and cherries do I have to put on top of it?

November 25, 2008, 19:00 pm

This story belongs to Inuzumaki Helen.