4869fans-nikazemaru : "CHAPTER 21! EYESHIELD 21! YA-HAAAA!"

Andre : "Perasaanku, apa ni orang balik rada miring lagi?"

Hi-chan : "Hmm... Salahkan teman-temannya yang mempopulerkan lagi game Yu-Gi-Oh!"

4869fans-nikazemaru : "Kufufu, seneng, deh, melihat wajah shock kawanan cowok itu saat kukalahkan... Jangan remehin cewek, mas bro." (mulai normal) "Hmm... Gawat juga, nih... Sekarang aku udah kelas 12... Ck!"

Hi-chan : "Aku sekarang kelas 6..."

4869fans-nikazemaru + Hi-chan : "Haaaahhh...! Tahun depan kita sama-sama ada ujian kelulusan..." (lemes)

Andre : "Walah? Barengan, dong?"

4869fans-nikazemaru : (angguk-angguk) "Tapi, Hi-chan masih bisa nyantai karena sistem penerimaan siswa baru untuk SMP dan SMA di kotaku cukup praktis, jadi Hi-chan ntar nggak susah-susah amat buat cari SMP. Lha, aku?"

Hitsugaya : "Iya, ya... Si Hi-chan 'kan pintar yah... Nggak seperti kau yang pinter nggak, bego juga nggak."

4869fans-nikazemaru : "KEJAAAAM! SORRY, DEH, KALAU OTAKKU PAS-PASAN!"

Hi-chan : "Ni anak, tuh, sebenernya pinter, kok. Tapi, kalah di aspek rajin dan keseriusan. Makanya keliatan pas-pasan. Baru ntar di akhir-akhir dia serius trus keliatan pinternya."

Byakuya : "Masih mending ya. Dari pada Renji yang dari awal sampai akhir ya tetap segitu..."

Renji : "Huweeee~ Kejaaaam~"

Ichigo : "Trus nasib fanficmu? Kau tinggal lagi?"

4869fans-nikazemaru : "Hmm, pokoknya setelah ini, aku hiatus total. Balik lagi setelah selesai ujian dan dapat universitas. Lho?! Hi-chan, berarti sebentar lagi kita pisah, dong! Aku 'kan mau ambil di Malang!"

Hi-chan : "Hah? Nggak mauuuu! Aku nggak bisa nonton anime baru, dong! Aku belum bisa internetan!"

4869fans-nikazemaru : "Aku jadi nggak ada yang bisa dijahilin!"

Hi-chan : "Yang kau pikirin malah bagian itu?!"

4869fans-nikazemaru : "Kau juga yang dipikir animenya!"

4869fans-nikazemaru + Hi-chan : (debat sengit)

Hitsugaya : "Oke, langsung kalian baca saja, deh..."

NB : Chapter ini lama keluarnya karena kesibukan sebagai anak kelas 12. Hampir tiap minggu ada ulangan, latihan kelompok senam, banyak kegiatan diskusi, dan (yang paling penting) jadwal les saya pada Hari Jum'at dan Sabtu sore. Jadi, maaf, memang sekarang hampir nggak ada waktu. Sehingga ya saya terpaksa mengumumkan bahwa ini update terakhir saya karena saya akan hiatus total untuk fokus ke sekolah. Kalau ingin saya cepat balik dari hiatus dan update, do'akan saja saya bisa lulus dengan nilai baik dan cepat dapat universitas~ ^w^


= Ghost Hunter =

= Chapter 21 : Here We Go! =


Hening.

Para pemuda diruangan itu bermandikan keringat. Wajah mereka serius tidak karuan sambil sesekali menatap kanan-kiri. Atmosfer diruangan itu benar-benar berat seakan-akan sedang ada debat kusir tentang 'mana yang duluan, ayam atau telur?'. Benar-benar tegang.

"Raise 30."

"Call."

"Call."

"Raise 40."

"All in."

"Cih, call."

"Call."

"Um, call."

"Ok. Call."

Srek!

Mata salah satu orang disana terbelalak tak percaya. Senyum langsung menghias wajahnya yang sedari tadi tegang. "YES! FULL HOUSE! GUE MENANG! MENAAANG!" Dia langsung menatap cowok dihadapannya yang nampak memijat dahinya karena shock atas kekalahannya. "Siiiip, jadi kita sepakat buat ngisi liburan ini dengan berburu hantu, kaaan? Gue berhasil ngalahin kamu, lho, Yaaaank~"

"Cih..." gerutu cowok itu sambil membenahi kartu-kartu yang ada di meja.

"Yes! Untung Andre jago poker! Males, euy, di rumah terus..." komentar Renji. "Lagi pula tugas kita disini 'kan untuk membasmi hantu Indonesia! Bukan untuk sekolah, Hitsugaya-taichou~"

"Iya! Iya!" gerutu Hitsugaya.

Liburan untuk UAN SMA. Kiamat bagi para anak kelas 12, tapi kabar gembira untuk adik kelas mereka. Jelas disaat para anak kelas 12 mati-matian untuk belajar seKERAS mungkin, para junior ini sibuk memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk menyambut liburan yang lumayan lama itu. Tentunya tidak terkecuali para tokoh fanfic kita yang tercinta ini (yak, minus Byakuya yang masih ada rapat). Pada sore hari yang indah dimana besok merupakan hari terakhir sekolah sebelum libur UAN, para anak muda ini lagi asyik nongkrong di ruang tengah kediaman para shinigami. Nah, ini dialog yang berlangsung beberapa saat yang lalu.

"Eeeh, gimana kalau mengisi liburan kali ini untuk berburu hantu?" usul Renji.

"Liburan? Belajar di rumah, kaleee...!" sindir Ichigo yang asyik membaca komik yang baru ia sewa kemarin.

"Iya, tapi memangnya siapa juga yang beneran mau belajaaaaar?" kata Andre.

"Tuh, ada," ucap Reno sambil menunjuk Hitsugaya yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku biologi.

Hitsugaya mengalihkan perhatiannya dari buku. "Haaah? Kenapa memangnya? Ada masalah? Keberatan? MASALAH BUAT LO?" Hmm, sepertinya Hitsugaya kebanyakan nonton suatu acara sore yang suka ia tonton buat ngisi waktu sambil menyetrika baju atau lainnya. Entah sejak kapan, Hitsugaya bukan lagi mirip ibu-ibu rumah tangga, tapi memang ibu-ibu rumah tangga.

"PLEASE! INI LIBURAN TERAKHIR KITA SEBELUM UJIAAAAN! REFRESHING DIKIT, DONG, YAAAANK~" ucap Andre sambil meloncat ke arah Hitsugaya. Sebuah buku tebal dan bersampul hardcover langsung mencium jidat Andre.

"Whoiii! Setelah ini 'kan kita yang ujian kenaikan! Masa kalian nggak mikir buat persiapan?!" ucap Hitsugaya. Wow, kalau para guru se-Indonesia mendengar ucapan Hitsugaya ini, mereka pasti langsung menangis penuh rasa haru dan koprol. Oooh, ternyata masih ada pelajar yang bisa diharapkan~ 'Ugh, benar-benar pelajar idaman masa kini,' batin Ichigo yang merasa 'silau'.

"Udah, deh, udah... Bagaimana kalau kita putuskan saja dengan suatu permainan?" kata Reno. Yah, kalau anak satu ini, sih, bimbang antara ikut berburu hantu atau belajar selama dirumah. "Umm, lewat voting udah jelas nggak seimbang... Lewat monopoli, kelamaan... Uno terlalu luck banget... Ah, poker! Lewat poker saja!"

Renji mengangguk. "Oh iya, ayo, ayo! Yang menang yang berwenang menentukan!"

Ichigo menggaruk kepalanya. Sejujurnya, cowok ini ingin tinggal dirumah saja selama 'liburan' ini. Malas, euy. Apalagi dia sudah menyewa komik banyak. "Boleh, boleh saja, sih... Tapi, kita main poker ala Indonesia apa Internasional?"

"Aku maunya yang Internasional!" kata Hitsugaya. "Kalau yang Indonesia lebih bergantung pada luck daripada strategi! Kurang adil!"

"Trus? Koin taruhannya bagaimana? Kalau pakai uang beneran jadi judi, kan, namanya? Gawat kalau tiba-tiba Byakuya pulang! Mampus kita dicincang pakai Senbonzakura!"

Andre mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Nih, pakai ini saja!"

Crank!

Reno, Renji, Hitsugaya, dan Ichigo bengong melihat benda yang dikeluarkan Andre. "Ndre, sejak kapan elo mulai jadi pemulung?" kata Renji sambil mengambil salah satu dari bekas tutup-tutup botol minuman bersoda yang berserakan di meja.

"Hah! Enak aja dibilang pemulung! Ini tadi titipan dari temannya kakakku! Kakakku 'kan lagi ada proyek untuk membuat kerajinan dari barang bekas! Trus bahannya ya tutup botol ini. Ini pasti cukup, kan? Pas, lho, macam warnanya lebih dari 4. Trus jumlahnya pun masing-masing ada lebih dari 15! Cukup, nih, buat pengganti chips taruhan!"

"Sip! Trus siapa dealernya?" tanya Renji.

Ichigo menunjuk Kon dan Ryuu yang lagi baca majalah bareng. "Mereka aja. Oi, Kon! Ryuu!"

Dan pada akhirnya, terjadilah adegan awal tadi. Pemenangnya Andre. Dan tentu saja Andre berhak penuh untuk memutuskan. "Seeep! Jadi, kita akan berburu hantu! Yeah!" sorak Andre yang langsung tos sama Renji. Ichigo mengangkat bahunya seolah berkata 'whatever'. Reno hanya tertawa garing.

Hitsugaya menghela nafas. "Hh, tahu begini aku terima saja tawaran untuk jadi wakil olimpiade tingkat kota! Biar selama libur UAN ini aku ikutan pelatihan dan nggak perlu ikutan hal nggak jelas begini!" gerutunya.

"Terus udah ada ide mau kemana?" tanya Ichigo rada cuek sambil mulai melanjutkan baca komiknya. "Pokoknya nggak boleh sampai keluar Pulau Jawa, lho! Kalau mau keluar Jawa, itu pas libur panjang aja!"

Renji mengacungkan tangan. "Ke Jakarta aja, yuk! Kebetulan lagi hot isu 'nenek gayung', kan? Kita coba buktikan kebenarannya!"

"Hmm, kalau menurutku, sih, itu hoax," komentar Hitsugaya.

"Nggak masalah, kan, kalau hoax, Hitsugaya-taichou? Di Jakarta 'kan masih ada cukup banyak lokasi yang gossipnya berhantu! Kita bisa coba jelajahi semuanya!"

Andre menjentikkan jarinya. "Ooh! Ide bagus, Renji! Oke, kalau begitu sudah diputuskan buat kesana ya! Ngg, sekarang, yuk, kita rundingkan masalah transportasi dan lainnya."

Reno hanya tersenyum kecil melihat betapa semangatnya kawan-kawannya itu. 'Tak mengapa, asal mereka senang...'


"GOOOOL!"

"YES! YAHUUU! MENANG! MAMPUS LU!"

Semua orang yang ada disitu memandangnya (kecuali Renji yang ngorok ganas). "Cieelah, Yang~ Ngakunya pengin belajar sampai ngambek-ngambekan pas mau berangkat, eh, sekarang malah main 3DS..." celetuk Andre sambil noel-noel pipi Hitsugaya yang bikin gemes itu.

"Habis juga udah terlanjur begini kejadiannya! Ya sekalian aja!" teriak si cowok mungil yang ditangannya ada 3DS warna putih dan stylus. "Udah, jangan ganggu!"

"Jiaaah, gitu aja sewot..." komentar Ichigo.

"Elo tuh yang bikin kesel!"

"Bisa tolong diam? Lama-lama gue tabrakin nih mobil kalau kalian ramai terus," potong seseorang dibelakang roda kemudi dengan muka bad mood setengah mati. Andre, Ichigo, dan Hitsugaya seketika merinding lalu bungkam oleh aura hitam orang itu. Ya, kapten divisi 6 yang kece, ganteng, keren, rupawan, kasep, dan author-bingung-mau-muji-pakai-kata-apa-lagi ini sepertinya bener-bener nggak setuju dengan rencana ini tapi terpaksa melakukannya. 'Padahal hari ini ada OVJ spesial! Tapi, kenapa harus berakhir gini?! SIALAAAAAN!' gerutu Byakuya dalam hati.

Hitsugaya mencoba menenangkan. Gawat juga kalau Byakuya sampai ngambek trus nggak bisa diajak kerja sama. "Ku-Kuchiki, umm, a-aku juga sebenarnya nggak mau, kok... Ya-yaah, apa boleh buat karena soutaichou pada akhirnya malah nyuruh kita begini. Ja-jadi, yaaa, kita tinggal nikmati aja."

Yup, setelah kemarin memberitahu Byakuya tentang rencana Andre, jelas demi acara paporitnya, Byakuya menolak mentah-mentah. Terjadi debat kusir antara Hitsugaya dan Byakuya vs Andre dan Renji dengan Ichigo dan Reno hanya jadi penonton sambil ngemil kacang kulit. Akhirnya, Byakuya mengeluarkan senjata pamungkasnya, yaitu bertanya kepada Soutaichou. Soalnya secara formal, apabila 4 shinigami ini akan keluar dari daerah patroli mereka harus menghubungi Soutaichou buat minta persetujuan. Hitsugaya dan Byakuya rada PD kalau Yamamoto pasti nggak mengijinkan. Secara gitu, loh... Masa wilayah sendiri belum kelar udah coba-coba cari yang lain. Eh, ternyata...

"Ooh, rencana yang bagus sekali. Kalian semua harus melakukannya. Jangan sampai gagal, kami menunggu hasil laporannya," ucap Yamamoto saat itu yang segera memutus sambungan karena rapat kapten akan dimulai. Ooh, hilang sudah alasan Hitsugaya dan Byakuya untuk tidak ikut kegiatan ala Ghost Bust ini.

Byakuya akhirnya menghela nafas sebelum serius melihat ke arah jalanan kembali. Hitsugaya sedikit lega melihatnya. 'Seenggaknya kita masih bisa selamat sampai Jakarta. Nanggung, euy, kita udah sebentar lagi sampai,' batinnya. Ia melirik ke pemandangan diluar jendela mobil. Hari sudah mulai gelap. Sayup-sayup ia mendengar suara adzan Maghrib yang terdengar seperti bersahut-sahutan.

"Ah, Pak Byakuya! Kebetulan itu ada masjid yang disebelahnya rumah makan!" kata Reno membuyarkan keheningan di mobil.

Byakuya mengangguk lalu melirik Andre. "Ndre, gimana?" tanya Byakuya sambil menurunkan kecepatan mobilnya dan mencari tempat parkir.

"Ya udah. Disini aja, Pak Byakuya!" kata Andre. Cowok itu lantas menggoyang-goyang tubuh Renji yang masih dengan ganas mendengkur ria. "Whoi, Nji! Molor mulu! Bangun!"

"Hueeek... Mual banget...!" kata Renji yang masih diambang batas antara sadar dan tidak. Dengan lemas ia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil disusul oleh Hitsugaya lalu Ichigo dan Andre setelah kursi tengah dilipat.

"Gue shalat dulu sama Reno. Kalian duluan aja ke rumah makannya!" kata Andre.

"Jangan lama-lama ya, ntar keburu makanannya di ludesin Toshiro!" ucap Ichigo yang direspon dengan deathglare, yang sedingin serangan Hyourinmaru dan Sode No Shirayuki kalau menyatukan kekuatan, dari Hitsugaya. Ichigo, yang udah biasa dapat deathglare, cuek. "Nggak mempan, Toshiro! Gue udah kebal deathglare sekarang!"

Akhirnya mereka berpisah. Andre dan Reno segera mengambil air wudhu lalu buru-buru mengambil barisan biar bisa shalat jama'ah. Selesai shalat dan berdo'a, dua cowok itu keluar masjid. "Fiuuuh, emang paling lega kalau ada diluar. Sumpek juga di mobil seharian!" ucap Andre. "Apalagi, tuh, baboon ngoroknya ganas banget."

Reno ketawa. "Ahaha. Ndre, kayak kamu nggak tau gimana pas kau tidur aja..."

"..."

"Nah, lho," ucap Reno makin pengin ngakak lihat Andre yang kini mati gaya.

"A-ah... U-udah, deh. Yuk, kita nyusul. Lapar juga, nih."

"Benar juga... Eh, ada minimarket tuh. Kita mampir bentar, yuk, buat beli camilan. Sekalian kita beli obat anti mabuknya Renji. Kasihan juga lihat dia lemes kayak paus terdampar gitu," ajak Reno sambil menunjuk sebuah minimarket 24 jam yang ada diseberang jalan.

Andre menatap Reno sebentar, alisnya terangkat sebelah. 'Hmm, tumben Reno yang ngajak-ngajak. Biasanya 'kan dia yang diajak-ajak? Mungkin mau ngomong sesuatu? Ah, oh iya ya... Hampir lupa. Paling juga mau tanya hal itu. Oke, deh.' Andre menepuk jidatnya. "Oh iya ya! Tadi aku lupa bawa sikat gigi sama handuk! Iya, deh. Yuk!" Dua sahabat itu menyebrang jalan yang untunglah sedang tidak terlalu ramai. Begitu masuk ke minimarket itu dan berada di bagian camilan, Andre buka mulut. "No, langsung ngomong aja. Elo mau nanya alasannya, kan?"

Senyum pahit tersungging cowok berkacamata itu. "Iya. Mengapa diantara seluruh lokasi yang ada di Indonesia, Jakarta yang kamu usulkan? Masih ada lainnya, kan?"

"Yaaah, soalnya aku penasaran juga dengan nenek gayung itu," kata Andre. "Lagipula, No, elo nggak seharusnya lari dari kenyataan."

"Tapi... Nggak segampang itu, Ndre..."

Andre menghadapkan tubuh Reno ke arahnya. Dipegangnya kedua bahu Reno dengan mantap. Matanya menatap tepat ke arah mata Reno. "No, elo sekarang nggak sendiri. Ada gue. Ada Toshiro, Ichigo, Renji, dan Pak Byakuya! Lalu Hendra dan Heru yang pasti terus mendukung kita. Elo takut apa lagi? Come on, give it a try, man!" Reno hanya mengangguk lemah. Andre hanya menghela nafas. "Pokoknya tenang saja, No... Oya, ayo, buruan ke kasir. Yayang pasti ngamuk kalau kita kelamaan!"


"KUCHIKIIIII! AYOLAH, KITA BERANGKAT SEKARAAAAANG! UDAH MALAM, NIIIIH!"

"NGGAK MAUUUU! NTAR AJA!"

"KITA NANTI BISA KEMALAMAN!"

"BODO! OVJ UDAH MULAI, TUH!"

Ichigo menepuk kepalanya sambil geleng-geleng. Di depannya sekarang ada pemandangan yang luar biasa. Seorang Byakuya yang nemplok di kursi dengan mata tertuju penuh ke TV LCD yang ada di rumah makan lalu di sampingnya ada Hitsugaya yang berkacak pinggang sambil teriak-teriak memarahinya. Pemandangan yang persis dengan pemandangan ibu-ibu saat memarahi anaknya yang nggak mau di ajak pulang dari taman bermain. 'Ugh, udah kuduga bakal gini!' batin cowok itu. "Gimana, nih, Ndre?" tanya Ichigo sambil menatap ke Andre yang masih asyik mencomoti sisa-sisa udang asam manis di piring.

"Ya, mau gimana? Kalau kita seret langsung ke mobil, pasti ntar ngambek, kan?" jawab Andre.

"Tapi, kalau nunggu OVJ selesai, kita sampainya besok pagi. Kita jadi nggak ada waktu istirahat," ucap Reno.

"Uuugh, gue pengin cepet sampai biar nggak tersiksa mual gini..." rintih Renji yang kepalanya tepar di atas meja.

"Dasar, ndeso!" kata Andre ke Renji.

"Hei, ayo, berangkat!" seru Hitsugaya sambil menggebrak meja.

Ichigo menatap bingung. "Lho? Byakuya?"

Seringaian mengiringi jawaban dari pertanyaan Ichigo. "Fuh, sudah kuurus," ucap Hitsugaya sambil menunjuk Byakuya yang kini banjir air mata sambil memeluk dirinya.

"Sa-sayang, ka-kamu apain tuh Pak Byakuya sampai mewek gitu?" tanya Andre.

Tiba-tiba Byakuya berhenti menangis dan berdiri dihadapan Hitsugaya. "ELO! DAN ELO!" teriak Byakuya yang melotot sambil menunjuk jidat Ichigo dan Andre. "NGGAK AKAN GUE BIARIN KALIAN MENYENTUH ANAK GUE, TOSHIRO! NGGAK AKAN! NGGAK AKAN GUE RESTUI! AKU TELAH BERSUMPAH DIATAS MAKAM HISANA UNTUK MELINDUNGI ANAK KAMI DAN MENCARIKANNYA JODOH YANG TERBAIK! YANG BAGUS BIBIT, BOBOT, DAN BEBETNYA!"

Ichigo mangap. 'Le-lebay! LEBAY BANGET!'

Andre cengok. 'Ka-kalimat yang terakhir ntuh... kayaknya mirip banget sama kalimat di salah satu iklan jadul dulu, deh?'

Renji mendadak makin mual melihat ke OOC-an kaptennya yang overdosis. 'Ru-Rukia, sepertinya karena terlalu lama disini Nii-sama-mu jadi mulai pudar kecoolannya...'

Reno sweatdrop. Hitsugaya berusaha menahan diri untuk tidak menjedukkan kepalanya ke tembok terdekat. 'Mungkin harusnya aku tadi nggak memancingnya dengan bilang 'ya sudah, kau nonton OVJ disini ditemeni Reno dan Renji. Biar aku tidur dimobil sama Ichigo dan Andre...'? Duh!'

"Bya-Byakuya, aku kan belum ngapa-ngapain?" ucap Ichigo.

"Ciussss? Mi apa?" tukas Byakuya.

Renji muntah ditempat. Andre dan Ichigo membatu dengan mulut menganga lebar. Reno makin sweatdrop. Sedang Hitsugaya... Oooh! Dia melompat, saudara-saudara! Apa gerangan yang akan ia lakukan?

"DEMI TUHAN, STOP, KUCHIKIIII! KAU MEMBUATKU GILAAAA!"

DIEEESSSH!

Wow, tendangan yang jedeeeer sekali, saudara-saudara!

Byakuya langsung tergeletak tak bernyawa, ehm, maksudnya, tak sadarkan diri. Hitsugaya mencoba menenangkan diri. "Kurosaki, kau bawa Kuchiki masuk ke mobil! Reno, kau bantu Renji buat masuk ke mobil juga! Trus, Ndre, elo nanti yang nyetir! Nah, ayo sekarang berangkat!"

Hitsugaya and the gank melenggang santai keluar dari rumah makan seakan-akan tadi tidak terjadi apa-apa. Meninggalkan para pegawai restoran, pemilik restoran, dan para pelanggan yang lainnya terlongong-longong. 'A-apa-apaan itu tadi?'


"Hm? Dimana ini?"

Semua bernafas lega mendengar pertanyaan bernada cool keluar dari mulut kapten divisi 6 itu. 'OVJ dan lawakan lain yang ada di Indonesia ini benar-benar sukses mengontaminasi otak Byakuya...' batin Ichigo.

"Di mobil, sebentar lagi sampai di Jakarta," jawab Hitsugaya yang duduk di belakang dengan Ichigo. "Iya, kan, Ndre?"

Andre mengangguk dibalik kemudi. "Yo'i, sayang~ Ah, tuh dah kelihatan! Jakarta, here we go~"

Reno tersenyum getir sambil terus menatap pemandangan diluar jendela. Hiruk pikuk orang sudah tidak banyak. Jelas saja karena sekarang jam menunjukkan tengah malam sehingga jalanan cukup lenggang oleh kendaraan. Terkadang ditrotoar terlihat sosok muda mudi nongkrong. Mereka tertawa-tawa senang. Bukan mereka saja yang menghiasi trotoar. Terkadang ada beberapa sosok pengemis berjalan tertatih sambil menghitung recehan ditangan mereka. Senyuman getir semakin tergambar jelas diwajah pemuda berkacamata itu. 'Jakarta ya... Lama tak jumpa, wahai masa laluku...'

"Nah, ini, nih, yang aku nggak suka di Jakarta! Lampu merahnya itu, lho... Lama banget!" keluh Andre. Lalu ia mendengar suara seseorang tepat disampingnya. Ternyata ada seorang pengemis di luar sana. Andre merogoh tempat yang seharusnya menjadi wadah putung rokok di mobil namun karena Byakuya nggak merokok wadah itu disulap menjadi tempat uang receh. Karena ternyata telah kosong, Andre melambaikan tangannya ke pengemis tanda ia tak punya uang. "Maaf!" ucapnya walau tahu kalau si pengemis mungkin tidak bisa mendengarnya karena kaca jendelanya tidak ia buka.

Si pengemis pun kembali ke trotoar dan duduk. Yaah, memang hanya mobil mereka yang ada terkena lampu merah saat ini. Renji yang sedang sekuat tenaga melawan mual berucap dengan susah payah. "Eh, nggak bisa ya kita trobos gitu? Sepi, kok. Sumpah, gue udah pengin cepet nyentuh tanah!"

"Trobos? Gigi lu tonggos, Ji! Sepi, sih, sepi! Tapi, kalau ada polisi, elo mau bayarin dendanya?! Gue yang nyetir pula! Gue nggak mau catatan tilang gue yang bersih ternoda hanya karena nurutin rengekan baboon macam lu! Lagian daerah ini rawan kecelakaan tau!" kata Andre.

Byakuya mengangguk-angguk. "Bagus, bagus... Walau nilaimu galau, ternyata kau jauh dari galau dalam kehidupan berkendara! Keteguhanmu menaati peraturan bagus sekali! Itu baru muridku..." Andre cengar-cengir kesenengan.

Renji tiba-tiba pusing. Ketika meraih botol minyak kayu putihnya, ternyata habis. Kepalanya makin pusing. "Uuh, pengin muntah..."

"Wuaah! Jangan muntah disini, Renji!" teriak Ichigo.

Reno langsung ingat. "Eh, Toshiro, di tas plastik minimarket yang baru kubeli tadi ada obat anti mabuk dan minyak kayu putih! Ada di bagasi belakang!"

Hitsugaya dengan sigap membalikkan badan untuk mengambil benda yang disebut Reno dari bagasi belakang. Saat itu mobil mulai berjalan perlahan sehingga Hitsugaya agak terdorong. Hampir kepalanya terantuk kaca belakang. "Duuh, Ndre, pelan-pelan nginjek gasnya! Nih, Abarai, buruan minum obatnya!"

Renji langsung menyambar obat itu dan buru-buru meminumnya. Hitsugaya bernafas lega melihat pucat di wajah Renji sedikit hilang. Lalu tatapannya menuju keluar jendela. Cukup lama ia memandangi pemandangan kota metropolitan itu hingga akhirnya mobil akan memasuki pintu tol. 'Ah, banyak pengemis ya disini...' batin Hitsugaya teringat seorang pengemis yang tadi ia lihat duduk di trotoar sambil menyantap nasi bungkus. 'Entah aku harus marah karena mereka tak mau berusaha atau kasihan karena penderitaan mereka... Pengemis tadi juga. Bagaimana ya rasa-eh...' Hitsugaya tersadar oleh sesuatu. "UWAAA!"

Renji yang hampir bisa tidur langsung melek. Andre nyaris menabrak pembatas tol karena kaget dengan teriakan Hitsugaya. "Ke-kenapa, Yang?!" tanyanya.

"Ka-kalian tadi sadar nggak kalau pengemis yang tadi sama Andre nggak dikasih uang udah nggak ada? Padahal tadi aku yakin dia duduk-duduk terus sebelum mobil jalan! Dia langsung nggak ada begitu mobil kita jalan! Aku ingat banget karena tadi hampir dicium kaca belakang!"

"Kamu yakin, Toshiro?" tanya Ichigo.

"Yakin!"

Byakuya tertegun. "Berarti itu tadi... hantu?" Mendengar ucapan Byakuya, Renji jadi makin pusing dan ia langsung mendekatkan mulut botol minyak kayu putih ke hidungnya. Mobil langsung hening.

"Ah, tenang... Memang sudah biasa disini. Untuk para pendatang, semacam penyambutan begitu..." kata Reno.

Semuanya mengangguk paham. "Gayamu kayak udah jadi penghuni disini bertahun-tahun, deh, No!" komentar Ichigo. Reno hanya tertawa kecil. Andre meliriknya dengan ekspresi sedikit khawatir. Mengetahui tatapan khawatir Andre, Reno mencoba mengalihkan topik. "Ah, oya, nanti dalam perjalanan ke penginapan, kita akan lewat Terowongan Casablanca, lho!"

"Uwaaa... Terowongan yang katanya kita harus klakson 3 kali sebelum lewat itu?" ucap Ichigo agak semangat. Reno mengangguk.

Renji yang merasa agak baikan berkomentar. "Hei, kita nanti coba nggak nglakson, gimana?"

"Heh! Ngawur!" sergah Hitsugaya.

"Taichou, kan kita memang kesini untuk membasmi hantu-hantu disini? Ayolah!"

Andre menelan ludah. "Sebenarnya, aku juga penasaran, sih... Kita coba, yuk!"

"Eeeh, tapi bagaimana kalau mereka terlalu kuat dan banyak?" tanya Reno.

"Ya kita jadi shinigami dulu beberapa meter sebelum masuk terowongan itu! Jadi kita siap kalau ada apa-apa!" usul Renji. Byakuya dan Hitsugaya yang ingin melarang jadi bingung bagaimana melarangnya karena usulan Renji yang cukup bagus dan dari dalam hati sebenarnya mereka sangat penasaran.

"Oke, oke... Let's do it," ucap Hitsugaya yang lantas mengambil sebungkus besar kripik kentang untuk dimakan. 'Buat isi tenaga. Siapa tahu beneran kuat lawannya nanti...'

Andre dan Renji nyengir lebar. Ichigo cuek dan mulai memakai headsetnya. Reno kembali tersenyum getir sambil memandang jalanan. Setelah beberapa lama, mulai kelihatan mulut terowongan yang terkenal itu. Keempat shinigami itu langsung keluar dari gigainya dan bersiap.

"Here we go..." bisik Andre sambil menggenggam roda kemudi lebih erat.

Mobil pun masuk ke terowongan tanpa menglakson...

Saat itulah mereka merasa ini pilihan yang salah...


= TO BE CONTINUE =


4869fans-nikazemaru : "Hwai, mhinnah-san~ Akhwirnyah hupdhet jhuga yah!" (ngomong sambil nutupin mulut)

Ichigo : "Ngapain lu ngomongnya ditutupin gitu. Baru makan jus jengkol sama petai?"

4869fans-nikazemaru : (tatap Ichigo, dkk) "Mwau thahu?" (tangannya dipindah) "Nih." (seringai)

Renji : "GYAAAAA! DA-DARAH! DI-DIGIGI DAN MULUT ELO ADA DARAHNYAAAA! VAMPIR! DRAKULA! POCOOOOONG (?)!"

Hitsugaya + Byakuya + Ichigo : "Halah, paling juga saus."

4869fans-nikazemaru : "Emang darah, kok..." (ambil tisu buat ngelapin gigi) "Lihat aja tisu ini."

Byakuya + Hitsugaya : (shock n merinding) "I-ini... memang darah..."

Renji + Ichigo : "APAAAAAA?!" (menjauh dari 4869fans-nikazemaru)

Hi-chan : "Please, jangan lebay dulu... Itu cuma gusi berdarah, kok."

4869fans-nikazemaru : "Cih, gaya lu sok cool aja, Hi-chan. Padahal kemarin langsung jejeritan ngeliatnya."

Hi-chan : "SI-SIAPA YANG KAGAK JERIT KALAU MALEM-MALEM ELO BANGUNIN DENGAN PENAMPILAN GITU?!"

Hitsugaya : "Ke-kenapa elo bisa gitu?"

4869fans-nikazemaru : "Entah~ Pas itu aku lagi enak-enak begadang sambil ngetik fanfic (mumpung ulangan semester udah selesai dan nganggur), eh, aku ngerasain ada cairan aneh dimulut. Gue pikir ludah, tapi pas ditelen kok ada rasa 'besi'nya. Pas kulihat ke cermin ternyata gusiku berdarah. Trus pas itu Hi-chan malah terbangun dan... you know lah..."

Reno : "Chapter depan tentang aku ya?"

4869fans-nikazemaru : "Yup, soalnya aku nggak ingin OC-ku hanya OC. Aku ingin agar readers bisa lebih merasa mengenal kalian."

Andre : "Ok, jadi ini update terakhir kalian?"

Hi-chan + 4869fans-nikazemaru : "Yup. Minna, sekian dari kami~ Sampai jumpa di chapter depan yang pasti telat karena kami ambil hiatus total~ Love you all! Berjuang juga ya buat kalian yang lagi akan ujian akhir juga!" (kiss bye dan lambai-lambai)

N.B : Maaf, karena pada akhirnya tetap nggak mengadakan acara balas review. Ehehe. Soalnya kalau dijawab bisa lebih panjang dari fanficnya... Saya memang author nggak guna karena molor terus... Hiks... Silakan kalian marah dalam review nanti. Iya, saya sadar kalau saya memang salah karena terkesan menelantarkan fanfic dan mengacuhkan penantian readers. Sungguh, setiap membaca review kalian, saya bawaannya pengin update~ Tapi, karena sekolah harus diutamakan... So, here we go again, guys! Sampai jumpa saat nanti saya berhasil mendapat universitas nanti~