Disclaimer : Blablabla....Naruto punya seseorang yang bernama....*buka2 buku* Oh Kishimoto Masashi. Yeah, right!!


That Day, I thought I'd seen an angel

I thought the summer came earlier

And Since then I've hated you

For my heart has fallen for you

I hate you for making me love you this much---(by Author of this Fic)


Lelaki itu menghembuskan asap putih itu dari mulutnya, berharap semua masalahnya ikut terbang bersama gumpalan asap itu. Mata lelaki itu kelihatan cekung, ditambah lingkaran hitam di sekeliling matanya membuat orang berpikir bahwa orang itu mungkin sudah kehilangan semangat hidup. Yah, dia memang sudah kehilangan semangat hidupnya, tetapi dia masih saja bertekad untuk menyelamatkan hidup orang lain. Orang-orang mungkin tak percaya jika bertemu dengan lelaki ini beberapa tahun lalu, ketika dia masih jadi anak ceria dan merasa dunia hanya miliknya. Dia masih ceria hingga sekarang, tetapi ketika melihat senyumnya, orang akan langsung tahu bahwa lelaki itu punya masalah yang dipendamnya sendiri.

Bagi Gaara, dia tak tahu kapan tepatnya sepupunya berubah menjadi seperti ini. Awalnya Gaara berpikir, mungkin ini akibatnya jika tiap hari bertemu potongan-potongan organ tubuh manusia atau rutin mencium aroma formalin. Tetapi ketika melihat tingkah sepupunya yang makin hari makin aneh, Gaara berkesimpulan bahwa tak ada mahasiswa kedokteran yang seperti itu.

"Lihat dirimu." Gaara tak bisa menyembunyikan kekesalannya. "Kau berusaha menyelamatkannya tetapi kau bahkan tak berusaha menyelamatkan dirimu sendiri."

Lelaki itu seolah tak mendengar ucapan sepupunya dan kembali menghembuskan asap nikotin itu ke udara. Untung saja mereka berada di beranda, jika tidak asap itu mungkin saja bisa membuat Gaara kesulitan bernapas.

"Aku tak tahu apa alasan Itachi dan Fugaku Uchiha untuk mempercayakan masalah ini padamu." Gaara merasakan keinginan kuat untuk meninju wajah sepupunya itu. "Naruto…kau tak bisa terus begini."

"Apa dia baik-baik saja?" Lagi-lagi Naruto tak mempedulikan kata-kata sepupunya.

"Ya." Gaara menghembuskan napas dengan kesal. "Aku tak tahu mengapa harus aku yang hari ini ke Otto. Sai keparat! Tidak bisakah dia membatalkan rencana untuk pergi ke pameran lukisan itu?"

"Itu pameran lukisannya, Gaara. Dia merencanakan pameran itu sejak SMA." Naruto mematikan rokoknya dan membuangnya ke dalam asbak. "Jadi…apa saja yang kalian bicarakan?"

Gaara mendengus ketika teringat peristiwa sore tadi. Itu adalah satu jam terpanjang dalam hidupnya.

"Aku heran mengapa kau tetap tak bisa akrab dengannya." Naruto tertawa kecil. Harus Gaara akui, sepupunya kelihatan berbeda jika berbicara tentang orang yang ditemuinya sore tadi.

"Aku tak tahu apa yang membuatmu tertarik padanya." Kata Gaara dingin. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia membenci Sasuke Uchiha, orang yang sudah merebut semua perhatian Naruto darinya. Dia terbiasa bersama Naruto. Naruto seharusnya jadi anak normal seperti orang lain, bukannya malah jatuh cinta pada Uchiha sialan itu.

"Dia terlalu sempurna." Naruto seolah berkata pada dirinya sendiri. Ketika ikatan tali sepatunya terlepas di hari pertamanya di SMA, Shikamaru, Gaara dan Sakura sempat kesal karena menunggunya mengikat tali sepatunya dan memutuskan untuk berjalan mendahuluinya. Biasanya dia kesal setiap kali simpul tali sepatunya terlepas tetapi tidak hari itu. Oh my friends, no.

Dia hendak mengejar teman-temannya ketika dia menyadari bahwa ada seseorang di dekatnya, duduk menyendiri di bangku di bawah pohon sakura.

"Ngapain di sini? Nggak ke acara penerimaan murid baru?"

Dia melemparkan pertanyaan itu tanpa berpikir. Dia hanya tahu bahwa anak itu juga anak baru sepertinya. Dan ketika anak itu mengangkat wajahnya, Naruto berpikir tak ada manusia yang seindah itu, tak ada manusia yang sesempurna itu. Walaupun ketika makhluk itu akhirnya pergi meninggalkannya, dia tetap sempurna di matanya. Dia tak pernah berpikir bahwa dia sudah jatuh cinta sampai akhirnya dia menyadari bahwa dia rela bertingkah bodoh demi anak itu. Dia rela menahan diri untuk tak menjawab setiap pertanyaan guru yang ditanyakan padanya. Dia rela menahan diri untuk tak mengisi jawaban yang benar di kertas soal agar bukan dia yang berada di puncak teratas peringkat kelas. Dia rela mengambil kelas Ekonomi agar punya waktu lebih banyak bersama anak itu padahal dia tak menyukai matapelajaran itu, dia rela berjalan pulang ke arah yang berlawanan dengan rumahnya agar lebih lama bersama anak itu. Dan sekarang dia rela untuk tidak menempuh lima jam perjalanan dengan mobil dari Suna ke Otto untuk menemui anak itu hingga dia menyelesaikan kuliah demi perasaan cintanya, demi perjanjian gila yang disetujuinya dan demi nama ibunya.

"Aku tak bisa melihat kesempurnaan itu." Sindiran Gaara membuatnya tersadar dari lamunannya.

"Sama seperti aku tak bisa melihat sesuatu yang menarik dari Sakura." Naruto tersenyum lebar hingga membuat Gaara mempelototinya. "Aku hanya berharap dia tak jatuh cinta pada Sai."

"Kau terlalu paranoid." Gaara tertawa kecil membayangkan Sasuke jatuh cinta pada Sai. "Walau dia pernah mengiris tangannya sendiri, dia belum seputus-asa itu untuk jatuh cinta pada Sai."

"Who knows." Raut wajah Naruto berubah menjadi serius. "Ibuku akhirnya jatuh cinta pada ayahku karena terbiasa bersama. Tetapi aku bersyukur untuk itu, kalau seandainya ibuku akhirnya menikah dengan ayah Sasuke, itu berarti aku dan Sasuke akan jadi saudara kandung. Aku tak bisa jatuh cinta pada saudara kandungku." Naruto sedikit ngeri membayangkan dia dan Sasuke menjadi saudara kandung dan punya ayah seperti Fugaku Uchiha.

"Atau kau dan Sasuke bahkan tak pernah ada." Tambah Gaara santai. Gaara akhirnya paham mengapa Naruto berpesan pada Sai untuk selalu mengucapkan kata-kata "Jangan jatuh cinta padaku!" pada Sasuke. Sepupunya memang sudah gila karena Uchiha itu.

"Ini semua salahku." Naruto makin membenamkan badannya ke sofa hingga Gaara heran dengan posisi duduknya.

"Maksudmu?"

"Jika saja aku tak jatuh cinta padanya dan tetap jadi diriku sendiri."

"Itu bukan sesuatu yang perlu disesalkan." Hibur Gaara. Dia membenci Sasuke tetapi dia menginginkan sepupunya bahagia.

"Kau benar." Naruto kembali tersenyum. "Aku akan bertahan sampai akhir. Aku akan membuktikan pada Uchiha-san bahwa seorang Uzumaki tetap mencintai seseorang walau tak boleh bertemu dengan orang itu selama lima, sepuluh atau limapuluh tahun, bahwa seorang Uzumaki punya kesabaran yang cukup untuk menunggu dan terus mencintai."

"Kau terdengar seperti psikopat." Ujar Gaara datar. "Tetapi aku mendukungmu karena ini soal nama baik keluarga. Uzumaki tak seperti yang dipikirkan Fugaku Uchiha."

"Berarti ayahku hebat." Naruto menyeringai lebar. "Dia bisa membuat ibuku jatuh cinta padanya."

"Wanita tak bisa menunggu sesuatu yang tak jelas, Naruto. Wanita butuh kepastian."

"Apa Sakura juga begitu?"

"Yah, kurang lebih."

"Wow, aku beruntung jatuh cinta pada lelaki. Wanita sepertinya merepotkan."

"Naruto," ujar Gaara hati-hati, "Apa kau yakin Sasuke juga jatuh cinta padamu?"

"Gaara," Naruto tak bisa menahan tawanya. "Kau pikir kenapa aku merokok dan minum-minum dan tidur dengan semua laki-laki dan perempuan yang bisa kutiduri?"

"Karena kau sudah gila?" Jawab Gaara asal.

"Ya, mungkin." Naruto tersenyum getir. "Atau mungkin juga karena aku tak yakin bahwa dia juga mencintaiku. Aku hanya takut ketika ini semua berakhir, hanya aku yang memiliki perasaan itu. Hanya aku…dan ini semua sia-sia."

Naruto menghela napas. Kakuzu-sensei dan Sai tak pernah mengatakan sesuatu yang bisa mengindikasikan bahwa Sasuke juga menyukainya. Sai menelepon dan hanya mengatakan bahwa Sasuke masih menyimpan jacketnya, sementara Orochimaru hanya mengatakan bahwa toko bukunya makin laris sejak Sasuke bekerja di situ. Orang itu hanya memikirkan uang.

"Buat dia jatuh cinta padamu." Gaara mengucapkan itu tanpa sadar. "Buat dia jatuh cinta padamu seperti Ayahmu membuat ibumu jatuh cinta."

"Wow. Itu usul yang bagus." Naruto meninju pelan bahu Gaara. "Aku tak mengira kau bisa berpikir sampai ke situ. Sakura banyak mengubahmu."

"Naruto." Gaara memandang tajam sepupunya.

"Ya?"

"Aku tahu kau sudah berhenti minum alkohol dan kegiatan One Night Stand-mu." Gaara menelan ludah, mengingat kebiasaan itu baru berhenti beberapa minggu yang lalu ketika Itachi datang dan memberitahukan keadaan Sasuke. "Tetapi bisakah kau berhenti merokok?"

"Aku berusaha, Gaara." Naruto meyakinkan sepupunya, "Kau tahu, sulit untuk mengubah kebiasaan secara drastis."

"Tetapi Sasuke bisa."

"Karena aku yang membantunya, lewat orang-orang yang terpercaya."

"Kau membantunya, berusaha mati-matian agar dia mengubah kebiasaan itu lewat bantuan Kakuzu-sensei, Sai bahkan Orochimaru-san. Tetapi kau tak berniat untuk membantu dirimu sendiri." Gaara mengepalkan tangannya. Rasanya wajah Naruto kelihatan menggoda untuk ditinju.

"Kau benar, Gaara." Naruto berusaha menenangkan Gaara, setengah ngeri melihat aura membunuh di sekitar sepupunya itu. "Aku akan berusaha lebih keras."

Gaara tersenyum samar dan kemudian pamit pada Naruto untuk beristirahat setelah perjalanan pergi pulang Suna-Otto-Suna yang melelahkan.

"Stop smoking, my ass!" Gerutu Naruto sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong celananya setelah Gaara pergi. "Hanya ini yang bisa menenangkanku, mana mungkin—"

Sebuah tinju mendarat tepat di pipinya, membuat kepalanya dipenuhi bintang. Dengan pandangannya yang terasa berputar-putar, dia masih bisa melihat senyuman psikopat khas Gaara.

"Kau makin mirip Sakura…" Gerutu Naruto lagi sebelum bangkit dan berjalan ke kamarnya dengan langkah sempoyongan.


"Ayah bercanda?" Sasuke memandang ayahnya dengan pandangan tak percaya sementara Fugaku, Mikoto dan Itachi tertawa. Waktu berlalu terlalu cepat dan tanpa terasa musim semi kembali datang dan hampir pergi lagi. Sai tak datang padahal Sasuke ingin berterima kasih pada anak itu karena selalu menemaninya di hari minggu hingga dia tak perlu menelepon Kakuzu jika butuh teman bicara.. Mereka berempat duduk di sebuah restoran, makan dan mengobrol layaknya keluarga normal yang lain. Sasuke berpikir mungkin keluarganya melakukan ini hanya karena hari ini hari wisudanya. Dia lulus dengan predikat summa cum laude dan mungkin itu yang membuat ayahnya terlalu senang dan mengeluarkan lelucon itu.

"Tidak. Aku tidak bercanda." Kata Fugaku setelah tawanya reda. "Bahkan Itachi pun menyangka bahwa dia punya adik perempuan."

"Ayahmu benar." Mikoto mencubit gemas pipi anak bungsunya. "Ayahmu berpikir dokternya keliru memberitahu jenis kelaminmu pada ayahmu."

"Ya." Itachi menambahkan sambil menahan tawa. "Ayah bahkan bilang kau terlalu cantik untuk jadi anak lelaki."

Sasuke memandang tajam ayahnya.

"Aku memang mengharapkan anak perempuan." Fugaku membela diri.

"Hei." Mikoto menyela Fugaku. "Aku pikir kita dulu sepakat bahwa kita tak terlalu merepotkan jenis kelamin ketika Sasuke masih dalam kandungan."

"Ya." Fugaku memandang Mikoto sembari tertawa. "Tetapi aku masih sempat berharap ketika melihat bayi dalam pelukanmu."

Kembali mereka tertawa kecuali Sasuke yang memandang keluarganya dengan pandangan mencela, seolah keluarganya sedang kerasukan sesuatu. Uchiha seharusnya tidak tertawa seperti itu.

"Mungkin Uzumaki itu menyukaimu karena dia kira kau perempuan." Kata Fugaku di sela tawanya. Segera Itachi dan Mikoto menghentikan tawanya sementara Sasuke menggenggam erat garpunya.

"Kenapa?" Tanya Fugaku tanpa merasa berdosa.

"…" Mikoto memandang Fugaku penuh arti.

"Ayah…" Itachi melirik ayahnya. Fugaku segera paham dan menatap Sasuke yang kaku seperti patung.

"Aku pikir ini saat yang tepat untuk membicarakannya." Usul Fugaku santai.

Mikoto segera menggenggam tangan Sasuke agar anak itu tak berpikir untuk bangkit dari kursinya dan pergi.

"Dia tidak jatuh cinta padaku." Desis Sasuke. Sekilas dia berpikir untuk menancapkan garpu itu ke tubuh ayahnya.

"Dia mencintaimu, Sasuke. Atau paling tidak dia menganggapmu lebih dari seorang teman." Fugaku mengatakan itu dengan tenang seolah-olah itu adalah hal yang biasa terjadi dan normal. Dia kembali teringat bagaimana paniknya anak itu ketika berbicara dengannya di telepon sewaktu dia tahu keadaan Sasuke, mengatur rencana agar anak bungsunya tak lagi bertingkah seperti anak emo atau masokis.

"Dari mana ayah tahu?" Garpu di tangan Sasuke mulai bengkok. Dia merasa ayahnya sedang mengejeknya.

"Aku tahu banyak hal." Fugaku memandang Mikoto yang tampak cemas. "Dan walaupun aku masih belum sepenuhnya menerima itu, kau juga mencintainya."

Saat itu, Sasuke merasakan suatu keinginan kuat untuk melarikan diri dari tempat itu, lari dari peristiwa memalukan itu. Dia merasa telinganya memanas, menyadari bahwa dia satu-satunya anak yang tak normal di keluarga itu dan keluarga besar Uchiha, bahwa keluarganya mengetahui dan menerima bahwa dia tak seperti anak kebanyakan, bahwa dia mencintai seorang lelaki dan tak bisa membantah kenyataan itu di depan keluarganya.

"Lalu, kenapa…" Sasuke menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering. "Kenapa dia tak pernah datang?"

Fugaku tahu, itu bukan suatu pertanyaan. Itu lebih ke pernyataan.

"Aku hanya ingin mengujinya dengan perjanjian itu." Entah mengapa Fugaku merasa dia perlu menggenggam tangan istrinya ketika mengatakan itu dan dia melakukannya. "Jika dia mampu tetap bertahan dengan perasaannya tanpa menemuimu atau menghubungimu hingga kau selesai kuliah, aku akan mengijinkan kau berhubungan dengannya."

Sasuke memandang ayahnya dengan perasaan tak percaya.

"Apa itu berarti ayah…" Sasuke tak mampu melanjutkan kata-katanya.

"Terpaksa. Aku hanya tidak ingin berbuat hal yang sama seperti yang pernah dilakukan ayahku." Fugaku memandang istrinya dengan lembut. "Walaupun aku tetap bersyukur ayahku melakukan itu karena akhirnya aku bisa memiliki istri yang sempurna dan anak-anak yang luar biasa."

"Ayah," Itachi menyela. "Jika ingin merayu Ibu, jangan di tempat umum atau di depan kami."

Mikoto dan Fugaku tertawa, Itachi tersenyum paksa sementara Sasuke masih saja melongo tak percaya. Otaknya lagi-lagi bekerja dengan lambat.

"Ayah tidak mabuk, 'kan?" Sasuke merasa perlu untuk memastikan hal itu.

"Tidak." Fugaku menggeleng mantap. "Lagipula dulu ketika aku masih bersahabat dengan Minato, kami pernah berjanji untuk menjodohkan anak-anak kami. Seharusnya kami juga menambahkan bahwa itu jika anak-anak kami berlawanan jenis kelamin."

Mikoto tak bisa menahan senyumnya. "Kau masih sering menemuinya." Katanya pada suaminya. "Kalian masih bersahabat tetapi kau berusaha menyangkalnya."

"Kau yang paling memahamiku." Fugaku tersenyum pada Mikoto hingga membuat Itachi merinding dan segera berdehem keras-keras.

"Siapa itu Minato?" Sasuke merasa terlalu banyak hal yang tidak dia ketahui.

"Minato Namikaze." Jelas Itachi. "Ayah Naruto."

"Namikaze?" Sasuke mengerutkan dahinya, dia pernah mendengar nama itu entah di mana. "Nama keluarga Naruto itu Uzumaki. Bukan Namikaze." Tiba-tiba saja dia ketakutan kalau ayahnya salah orang.

Fugaku, Mikoto dan Itachi memandang Sasuke dengan iba.

"Kenapa?" Sasuke tak tahan dipandang oleh keluarganya seperti itu.

"Kau tidak tahu apa-apa soal Naruto?" Tanya Mikoto prihatin.

"Kau menyukai seseorang tanpa tahu tentang latar belakang keluarganya?" Tanya Itachi heran.

"Kau mencintainya dan kau tidak tahu apa-apa tentang dia?" Fugaku mengerutkan dahinya.

Sasuke tak pernah melihat keluarganya mengajukan pertanyaan sekompak ini.

Sasuke memasuki halaman asramanya setelah mobil yang membawa keluarganya kembali ke Konoha menghilang di tikungan jalan. Dia masih perlu mengurus beberapa hal di Otto seperti membereskan barang-barangnya di asramanya dan mengepaknya. Dia menaiki tangga dengan bersemangat, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan senyum lebar yang bertengger di wajahnya sejak tadi. Baru kali ini dalam lima tahun terakhir dia merasa bahwa dia tak sabar menunggu datangnya musim panas. Seumur hidupnya, baru kali ini dia bersyukur bahwa Uchiha punya semacam penyakit bahagia berlebihan ketika musim panas tiba. Ya, dia tak sabar menunggu musim panas, tetapi ketika dia mengangkat wajahnya, musim panas telah menunggunya di depan kamarnya.

"Teme." Kata itu keluar bersama kepulan asap.

Ketika mendengar suara itu, Sasuke tak tahu sudah berapa kali dia jatuh cinta pada lelaki itu, tak peduli aroma rokok yang biasa dibencinya.

"Dobe." Sasuke sudah bertekad, dia akan membuat keadaan menjadi sulit untuk Naruto. Jika lelaki itu betul-betul mencintainya, lelaki itu harus mengatakannya terlebih dahulu. Sasuke tetaplah Sasuke. Dia masih memiliki harga diri sebagai seorang Uchiha, harga diri yang menahannya untuk tidak memeluk laki-laki itu dan mengatakan betapa dia merindukan sosok itu.

Naruto membuang rokoknya dan menginjaknya.

"Kenapa?" Naruto mengangkat alisnya ketika Sasuke memandangnya tajam.

"Buang sampah pada tempatnya, Dobe."

"Oke." Naruto memungut kembali puntung rokoknya dan membuangnya di tempat sampah plastik di depan kamar Sasuke. "Asshole." Gerutu Naruto setengah berbisik. Sasuke tetap tak berubah banyak di matanya. Tetap seorang keparat yang mungkin punya OCD, keparat yang membuatnya jatuh cinta.

"Aku bisa dengar itu." Kata Sasuke datar sebelum membuka pintu kamarnya. "Dari mana kau tahu ini kamarku?"

"Aku tahu banyak hal." Jawab Naruto dari belakangnya. Sasuke memutar bola matanya. Mungkin saja idiot itu bertanya ke sana kemari untuk sampai di kamar yang tepat. Ketika berdiri berdekatan seperti itu, Sasuke tersadar kalau Naruto lebih tinggi beberapa senti darinya. Lagi-lagi. Mungkin itu hal yang tidak bisa dikalahkannya.

"Kau tidak mempersilahkan aku masuk?" Tanya Naruto ketika Sasuke masuk ke kamarnya tanpa mempedulikannya.

"Kau perlu ijin untuk masuk?" Sasuke berseru dari dalam kamarnya. Naruto tersenyum lebar sebelum masuk.

"Untuk apa kau ke sini?" Sasuke duduk di meja belajarnya.

Senyum dari bibir Naruto menghilang. "Kau bahkan belum mempersilahkan aku duduk."

"Silahkan duduk." Sasuke memutar bola matanya, berusaha menahan senyumnya.

"Duduk di mana?"

"Terserah." Sasuke mulai kesal.

"Di tempat tidur boleh?"

"Terserah, Dobe!" Sasuke benar-benar kesal sekarang. "Untuk apa kau ke sini?"

"Untuk memberi selamat karena ini hari wisudamu." Naruto tersenyum. "Ayahmu meneleponku dan memberitahu aku sudah boleh bertemu denganmu." Dia akan mengikuti alur permainan Sasuke ini, walau dia berusaha menahan keinginan untuk menarik anak itu ke tempat tidur dan…oke, mungkin otaknya sedikit terpengaruh buku-buku kakeknya.

"Hn." Sasuke merasakan suatu kekecewaan dalam dadanya. Ayahnya salah. "Kalau hanya itu kau bisa pergi sekarang." Lelaki ini tak mungkin jatuh cinta padanya. Lelaki ini tetap bodoh seperti dia tahu, yang melakukan dan mengucapkan sesuatu tanpa berpikir bagaimana perasaan orang lain. Shikamaru jelas-jelas keracunan sesuatu hingga bisa melepaskan predikat lulusan terbaik ke tangan anak itu.

"Sebenarnya masih ada."

Harapan dalam diri Sasuke mulai bertumbuh lagi. "Apa?" Dia berusaha agar suara terdengar sedatar mungkin.

"Aku datang mengambil jacketku."

Sasuke mengatupkan rahangnya keras-keras, berusaha menahan diri untuk tidak mencekik leher lelaki itu atau mendorongnya dari jendela dan membuatnya seolah-olah seperti kecelakaan. Sasuke membuka lemarinya dan membuang jacket itu ke wajah Naruto.

"Sekarang pergi!" Sasuke tak mengerti mengapa dia tak bisa membuat ini semua jadi lebih mudah. Dia bisa saja berkata dengan gaya coolnya bahwa dia menyukai lelaki ini. Tetapi sikap Naruto membuatnya mengurungkan niatnya. Bagaimana jika ayahnya salah? Dia tak siap ditolak. Dia tak pernah sanggup ditolak. Sasuke bersandar di tepi meja belajarnya dan melipat tangannya.

"Kau benar-benar ingin aku pergi?" Tanya Naruto dengan tenang.

"Hn." Gumam Sasuke melawan hatinya yang menjerit agar lelaki itu tetap tinggal.

"Kau berpikir aku akan pergi begitu saja?" Naruto tersenyum kecil. "Aku sudah di sini, Sasuke. Akhirnya aku bisa berada di sini. Kau pikir mudah untuk menahan diri selama lima tahun untuk tak menemuimu?"

"Kau tahu aku di sini?" Sasuke tak butuh jawaban untuk pertanyaannya itu. Sasuke tak percaya Naruto akan mengikuti permainan bodoh ayahnya. Bukankah Naruto yang dia kenal tak pernah patuh pada peraturan? Bukankah Naruto yang dia kenal sering menyelinap keluar dari lingkungan sekolah hanya untuk makan ramen di Ichiraku's?

"Maafkan aku."

"Untuk apa?" Sasuke memandang keluar jendela. Bukan kata-kata itu yang ingin didengarnya sekarang.

"Kau terlibat masalah hanya karena teka-teki bodohku itu."

"Hn." Sungguh, bukan itu yang ingin didengar Sasuke. Harapannya perlahan-lahan pupus.

"Kau jatuh cinta pada Sai?"

"Apa??!!" Sasuke membelalakkan matanya.

"Kau sering bersamanya di akhir minggu dan—"

"Dia datang ke sini karena dia sedang patah hati!" Kemudian Sasuke tersadar. "Dari mana kau tahu Sai selalu ke sini tiap akhir minggu? Dia bilang dia tidak tahu kau berada di mana…" Sasuke menatap Naruto dengan curiga. Darimana Naruto tahu jika dia masih menyimpan jacket itu?

"Kau benar-benar percaya dia patah hati?" Naruto tersenyum lebar. "Kau percaya dia jatuh cinta pada Ino?" Bayangan Sai jatuh cinta pada Ino membuatnya ingin tertawa. Sai benar-benar pandai berakting hingga Sasuke percaya bahwa dia patah hati.

"Tidak!" Desis Sasuke. "Darimana kau tahu dia selalu datang di akhir minggu? Kau belum menjawab pertanyaanku."

"Karena aku yang meminta pada Itachi agar Sai ke sini tiap hari minggu. Kau punya banyak waktu senggang di hari minggu yang bisa membuatmu berpikir untuk menyayat tanganmu lagi." Naruto langsung menyesali kata-katanya sesaat setelah mengucapkannya.

Sasuke mencengkeram erat pinggiran meja, menahan emosi yang meledak-ledak di dadanya.

"Kau pikir aku melakukan itu untukmu??" Suara Sasuke bergetar menahan amarahnya. "Kau merasa bertanggungjawab karena kau pikir aku melakukan itu untukmu?? Kau tidak seistimewa itu, Naruto Uzumaki!! Aku tidak mengiris tanganku demi kau jadi kau tak perlu merasa bertanggungjawab. Aku tak butuh belaskasihanmu." Kata-kata itu terlontar keluar sebagai pembelaan diri yang tersisa dalam dirinya, bercampur dengan penyangkalan, kebencian dan seluruh rasa cintanya.

"Hei." Naruto bangkit dan memeluknya tak peduli lelaki itu berusaha melepaskan pelukannya. "Aku hanya berusaha menolong orang yang kucintai." Bisik Naruto.

"Kau hanya kasihan padaku!" Sasuke berusaha mendorong tubuh Naruto. "Kau hanya kasihan padaku!" Dia merasa dia akan menangis karena kemarahan yang tak dapat ditahannya lagi. Dia benci jika orang melakukan kebaikan hanya karena kasihan padanya. Dia tak butuh rasa iba Naruto.

"Aku mencintaimu." Naruto mendekap erat tubuh itu, memperat pelukannya, tak peduli Sasuke menginjak kakinya untuk melepaskan diri. "Aku mencintaimu." Dia berusaha mengucapkannya dengan seluruh perasaannya agar lelaki itu mengerti. "Aku mencintaimu, Sasuke." Dia terus mengucapkan kalimat itu walau Sasuke menendang kakinya. "Aku mencintaimu." Dia terus mengucapkan kalimat itu hingga Sasuke tenang dalam dekapannya. "Aku mencintaimu." Mengatakannya hingga semua beban yang selama ini dia pendam menguap pergi.

"Kau berharap aku akan percaya dengan kata-katamu?" Tangan Sasuke terkulai lemas di sisi tubuhnya. "Kau tak tahu apa yang sudah kualami." Dia merasa kesulitan bernapas karena eratnya pelukan Naruto, tetapi dia tak keberatan. Betapa dia merindukan kata-kata itu keluar dari mulut Naruto.

"Maafkan aku."

"Aku membencimu."

"Aku tahu."

"Aku benar-benar membencimu."

"Sepertinya kau masih harus belajar membedakan antara benci dan cinta."

"Aku tidak mencintaimu." Mereka berdua tahu itu kebohongan paling besar abad ini. Sasuke merasa nyaman membenamkan kepalanya di leher Naruto, dia merasa seakan-akan tempatnya memang di situ.

"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." Naruto melepaskan pelukannya dan menatap Sasuke sambil tersenyum. "Dan kau masih menyimpan jacketku jadi aku punya sedikit harapan kau juga akan mencintaiku."

"Dobe." Sasuke menghindari tatapannya. "Sai bicara banyak padamu?" Tiba-tiba saja dia merasa ketakutan jika Sai berbicara terlalu banyak pada Naruto.

"Tidak. Dia hanya sekali meneleponku dan bilang kau baik-baik saja." Kata-kata Naruto membuat Sasuke lega. Dia tak ingin Naruto tahu dia pernah tidur ditemani jacket itu. Dia sudah cukup malu ketika Sai tahu hal itu.

Naruto meraih kedua tangan Sasuke dan menyibak lengan kemejanya. Dia menelusuri luka-luka itu dengan jemarinya, mengirimkan sensasi aneh ke tubuh Sasuke. Cepat-cepat Sasuke menarik tangannya dan menoleh ke arah jendela. Mereka terdiam beberapa saat, menikmati setiap detik yang berlalu.

"Apa itu cuma teka-teki?" Tanya Sasuke tiba-tiba, memecah kesunyian di antara mereka. Naruto segera paham apa yang dimaksud Sasuke.

"Menurutmu?"

"Hn."

"Itu perasaanku."

"Hn." Sasuke berusaha menahan agar bibirnya tidak membentuk senyuman.

"Dan itu juga ciuman."

"Apa?" Sasuke memandang Naruto heran, berusaha memahami kata-kata lelaki di depannya.

"Itu bukan sekedar mengambil kembali makananku." Wajah mereka hanya terpisah beberapa senti. "Aku hanya mencari alasan untuk menciummu."

"Aku tahu." Sasuke tak ingin berdebat lagi. Dia merasa mereka sudah terlalu banyak bicara padahal bibir mereka sudah sedekat itu. Dia tak bisa…tak mau mengambil inisiatif terlebih dahulu. Ini permainannya.

"Kau punya rencana di liburan musim panas ini?" Dan Naruto mengikuti permainan itu pada alur yang tak diinginkan Sasuke.

"Tidak." Sasuke mendorong tubuh Naruto, berjalan menjauh dan duduk di tepi tempat tidur. Naruto tetap idiot yang dikenalnya.

"Let's go to Canada."

"Untuk apa?" Tanya Sasuke malas. Mungkin seharusnya dia yang mengambil inisiatif. Tetapi lagi-lagi dan untuk kesekian kalinya, harga dirinya menahannya untuk melakukan itu. Dan untuk pertama kalinya dia mengutuk Uchiha yang punya harga diri sebesar ini.

"Menikah."

"Apa?" Sasuke berpikir pendengarannya sudah terganggu.

"Menikah." Jelas Naruto dengan seringai lebarnya. Sasuke kembali merasa kemarahan di dalam dirinya.

"Kau manusia paling bodoh yang pernah kutemui!!"

"Kenapa?" Naruto mengangkat alisnya walau dia tahu apa penyebab kemarahan itu. Dia hanya ingin memastikan bahwa dia tak salah. "Kau tidak ingin menikah denganku?"

"Kau tidak bisa mengajak seseorang menikah dengan cara seperti itu!" Sasuke memijit dahinya, heran mengapa dia jatuh cinta pada orang yang tak peka seperti ini.

"Sasuke." Naruto tersenyum lebar, kini Sasuke yang akan mengikuti permainannya.

"Cukup, Naruto!" Sasuke menunduk dan menutup wajahnya dengan salah satu tangannya, merasa putus asa dengan sikap Naruto. "Kau bahkan tidak bertanya padaku."

"Kita berdua laki-laki. Kita berdua menginginkan ini. Kita tak perlu drama seperti di film-film."

"Tetapi kau seharusnya tetap bertanya padaku." Gumamnya, nyaris seperti bisikan. Dia tak pernah menyangka Naruto akan berpikir sejauh itu, walau dia juga menginginkan itu. Tetapi seharusnya—

"Sasuke." Suara Naruto terdengar serius. "Aku tahu akan ada saatnya kita berselisih pendapat seperti ini. Akan ada saatnya kau berpikir bahwa aku tak mengerti apa keinginanmu. Akan ada saatnya kita bertengkar dan kau akan menyuruhku tidur di sofa. Mungkin juga kau akan jatuh cinta pada wanita atau pria lain."

"Aku—" Sasuke mengangkat wajahnya dan terkejut ketika melihat Naruto berlutut di depannya. "Dobe!"

"Akan ada saatnya ketika kita merasa bahwa kita sudah membuat suatu keputusan yang salah, akan ada saatnya kau merasa bahwa kau jatuh cinta pada orang yang salah. Aku tidak bisa menjanjikan bahwa hari-hari yang kita lalui akan selalu bahagia tetapi aku bisa berjanji bahwa aku akan selalu mencintaimu dan tak mau kehilanganmu lagi. Aku tahu bagaimana rasanya. Lima tahun sudah cukup bagiku. Aku hanya ingin terus bersamamu. Sasuke Uchiha," Naruto menarik napasnya, "Will you marry me?"

Sasuke tak ingat jelas kejadian selanjutnya, apakah dia menganggukkan atau menggelengkan kepalanya, atau kapan Naruto memakaikan cincin itu di jarinya. Dia hanya ingin mendengar kata-kata itu dari mulut Naruto. Kata-kata yang mampu menenangkannya seperti aroma ramen yang bercampur dengan aroma rokok dari ciuman Naruto saat ini. Dia tak ingat kapan Naruto melepaskan kancing-kancing kemejanya, yang dia tahu dia bisa merasakan ciuman Naruto di bibirnya, di lehernya, di—

"Sasu…ke??"

Sasuke mendorong Naruto dengan kaget dan segera menoleh ke arah pintu yang terbuka. Tampak Kabuto berdiri seperti patung batu, seolah-olah dia baru tersambar petir.

"Kabuto." Sasuke segera mengancing kemejanya dan mengutuk dalam hati ketika tahu beberapa kancing menghilang entah kemana.

"Kabuto." Naruto bangun dari lantai sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.

"Na—Naruto…" Kabuto masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Kau kenal dia?" Sasuke mengerutkan dahinya ke arah Naruto yang masih meringis kesakitan. Seketika dia teringat dua nama. Jiraiya Namikaze dan Minato Namikaze. Sepertinya banyak hal yang belum dijelaskan Naruto tetapi dia sudah mulai paham.

"Semalam aku menginap di rumahnya." Jawab Naruto singkat. "Ada apa Kabuto?" Naruto menepuk pundak Kabuto agar roh anak itu kembali ke badannya.

"Ayahku…" Kabuto menelan ludah. "Ayahku ingin agar Sasuke makan malam di rumahku malam ini."

"Hn."

"Itu artinya dia akan datang." Ujar Naruto, merasa iba pada Kabuto yang sepertinya hampir terkena serangan jantung.

"Naruto…" Bisik Kabuto. "Tidak bisakah kalian menutup pintu? Jika aku tadi tidak datang, kalian akan terus melakukan itu dengan pintu terbuka seperti ini?"

"Maaf." Naruto balas berbisik. "Sepertinya kami terlalu terbawa suasana."

"Aku tahu kalian tak bertemu selama lima tahun tetapi—"

"Ehem!!!" Sasuke berdehem keras-keras.

"Bye, Sasuke." Kabuto segera melarikan diri dari tempat itu. Naruto menutup pintu dan berbalik menatap Sasuke yang sedang memandangnya dengan tajam.

"Lanjut??" Tanya Naruto dengan senyuman lebarnya.

"Dalam mimpimu!!"


"APA????!!!!"

Teriakan Sasuke bisa terdengar sampai ke lantai dasar Sharingan Corp. Naruto memegang telinganya yang berdenging. Dia tak tahu kalau lelaki yang kini berdiri dari kursinya itu bisa berteriak sekeras ini.

"Apa kata-kataku belum jelas?" Tanya Fugaku santai tanpa melepaskan pandangannya dari dokumen-dokumen yang butuh ditandatangani di depannya.

"Tetapi ayah bilang ayah menyetujui hubungan kami!" Seru Sasuke kesal sementara Naruto menarik tangannya agar dia duduk kembali.

"Tetapi aku tak pernah bilang aku menyetujui kalian untuk menikah." Fugaku memandang anaknya dengan malas. "Setidaknya sampai Naruto menyelesaikan kuliahnya. Kalian sudah menunggu selama lima tahun. Apa susahnya menunggu dua sampai tiga tahun lagi?"

Dan beberapa jam selanjutnya dihabiskan Naruto dengan memeluk Sasuke erat-erat, tak peduli rambutnya dijambak agar anak itu tak melemparkan kursi pada ayahnya. Hari-hari yang penuh warna itu baru saja dimulai.


I'm lucky I'm in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again—Lucky by Jason Mraz ft. Colbie Caillat


Ada keinginan untuk membunuh saya??? *kabur*

Rasanya lega fic ini akhirnya selesai...Hmmm...Semoga saja tidak bosan membaca tiap chapter yang isinya sepanjang itu LOL. Lalalalala...Hidup Insomnia!!! Fic ini sebagian besar saya ketik saat tengah malam, jadi feel GJnya dapat *digeplak*

Baca juga sekuelnya yah, Judulnya "Love" dan "Something in Between"